THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 116


__ADS_3

"Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam."


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Sudah tiga hari Arsyil belum pulang dari luar kota. Annisa masih menantikan Arsyil untuk pulang. Dia sudah sangat merindukan suaminya, walaupun baru saja di tinggal tiga hari. Hari sudah semakin sore, Annisa bahagia sekali mendapatkan kabar dari suaminya bahwa dia sudah selesai dengan tugasnya di luar kota. Dia merasa lega, akhirnya suaminya sekarang dalam perjalanan pulang. Dan, saat dia akan keluar dari kamarnya, dia melihat tempat tidurnya basah, baju Annisa juga basah, kaki jenjangnya juga merasakan ada sesuatu yang mengalir. Dia berteriak memanggil Andini dan Rico yang masih ada duduk di ruang tengah, beruntung ruang tengahnya dekat dari kamar Annisa


"Ibu….papah….!"teriak Shita dari dalam kamarnya. Andini dan Rico bergegas menghampiri menantunya.


"Papah, ibu, lihatlah, air ketuban Nisa keluar." Annisa berkata sambil menangis.


"Ayo cepat ke rumah sakit."tak tanggung-tanggung Rico langsung membopong tubuh menantunya dan membawanya ke mobil.


"Ibu, bukakan pintu mobil. Dan bawa tas yang kemarin sudah di siapkan."ucap Rico. Andini menuruti apa kata suaminya. Iya, Rico dan Andini sengaja mempersiapkan semua keperluan untuk di bawa ke rumah sakit agar tidak gugup. Karena perut Annisa sudah terlihat seperti akan melahirkan. Annisa meronta kesakitan dalam mobil.


"Nak, tunggulah ayahmu pulang."ucap Annisa disela-sela rintihan kesakitannya.


"Sayang, jangan bilang seperti itu, lebih ada kami yang menemanimu."ucap Andini.


"Ibu, tapi Arsyil dia sedang dalam perjalanan."ucapnya.


"Sudah tenangkan dirimu, nak."ucap Rico sambil menyetir mobilnya menuju rumah sakit.


Rico memarkirkan mobilnya di depan UGD, dia memanggil perawat yang berjaga di UGD. Semua perawat berlari ke arah mobil Rico dan menurunkan Annisa dengan pelan, Rico membopong menantunya untuk di rebahkan di atas brankar. Perawat mendorongnya menuju ruang persalinan karena Annisa sudah mengalami pembukaan.


"Pah, tolong hubungi Arsyil, bilang kalau Annisa akan melahirkan, tapi hati-hati, Annisa tidak apa-apa Arsyil tidak mendampingi Annisa, pah. Asal ada papah dan ibu mendampingi Nisa."ucap Nisa sambil menahan rasa sakitnya.


Andini segera menghubungi Arsyil, juga Arsyad dan Shita.


Arsyil mendengar kabar seperti itu, dia tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah sakit. Dia langsung melakukan Video call dengan ibunya agar dia melihat Annisa yang sedang berjuang melahirkan buah hatinya.


{Sayang, maafkan aku, aku masih di jalan. Kamu yang kuat ya, kamu pasti bisa. Maafkan ayah nak, ayah masih dalam perjalanan pulang. Jangan buat bundamu sakit ya, sayang.}


Ucap Arsyil yang masih berada di perjalanan menuju rumah sakit. Tak terasa air matanya ikut menetes karena melihat Annisa meringis kesakitan.


{Kamu hati-hati sayang, aku ada papah dan ibu di sini. Aku kuat demi anak kita dan kamu, jangan menangis, jangan khawatir. Okey…aku baik-baik saja. Love You.}


Annisa mencoba tersenyum agar Arsyil tidak menangis lagi.


{Love You too, sayang. Aku usahakan cepat pulang. Aku di sini mendoakan mu selalu. Berjuanglah untuk anak kita dan aku sayang.}


Annisa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum melihat suaminya dari balik ponselnya. Arsyil mengakhiri Video call nya. Dia masih saja meneteskan air matanya. Dia merasa berdosa sekali tidak bisa menemani istrinya yang sedang berjuang melahirkan buah hatinya.


"Ya Allah berikanlah kelancaran pada istriku untuk melahirkan buah hatiku. Maafkan aku yang tak bisa menemanimu, sayang."gumam Arsyil dalam hatinya.


Paman Eric melihat Arsyil yang dari tadi gelisah sekali. Sesekali Arsyil menyeka air matanya yang jatuh di sudut matanya.


"Annisa pasti baik-baik saja, tenanglah." Paman Eric mencoba mendamaikan hati Arsyil yang dari tadi gelisah.


"Aku lelaki macam apa, paman. Istri melahirkan aku tak ada di sampingnya."ucap Arsyil sambil terisak.


"Kamu pergi karena tugas dari kantor papah mertuamu, itu juga ibadah dan amanah, Arsyil. Jangan seperti itu. Do'akan Annisa agar dia kuat menjalaninya."tutur Paman Eric.


Arsyil mengusap wajahnya kasar, dia selalu meminta sopir agar mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Arsyad dan Almira datang ke rumah sakit, Najwa sementara di titipkan dengan Ummi Rahma. Shita juga langsung menyusulnya di rumah sakit. Andini dan Rico masih di dalam ruang persalinan. Annisa masih meronta kesakitan.


"Ibu, sakit sekali, sakit pah…"rintih Annisa.


"Sabar sayang, berdoalah."tutur Rico. Rico membisikan doa dengan lirih pada Annis di samping telinganya. Annisa mengikuti apa yang Rico bacakan.


Andini keluar menemui Arsyad, Mira dan Shita. Shita berjalan mendekati ibunya, dan memeluk ibunya erat sekali seperti ingin menumpahkan keluh kesahnya pada Andini.


"Bagaimana Annisa, Bu?"tanya Shita.


"Seperti itu, menunggu pembukaan lagi."ucapnya.


"Arsyil belum pulang?"tanya Arsyad.


"Masih di perjalanan. Ibu tinggal ke dalam dulu menemani Annisa. Andini masuk ke dalam dan kembali menemani menantunya.


"Apa nanti aku seperti ini, melahirkan anak ku tanpa Vino di sampingku?"gumam Shita yang tiba-tiba mengeluarkan air matanya.


Arsyad melihat adik perempuannya menangis, dan merenung di kursi tunggu yang ada di depan ruang persalinan. Arsyad mendekati Shita dan menyandarkan kepala Shita pada bahunya.


"Ada apa? Kenapa menangis?"tanya Arsyad.


"Kasihan Annisa, Kak. Dia melahirkan tidak di dampingi suaminya."ucap Shita.


"Ta, kan Arsyil di luar juga karena pekerjaan dan amanah dari alm papahnya Nisa. Jadi ya menurut kakak tidak apa-apa, kan ada papah sama ibu di dalam."tutur Arsyad.


"Tapi tetap, kak. Kasihan."ucapnya. Shita semakin terisak. Sebenarnya dia meratapi nasibnya nanti jika melahirkan anaknya tanpa Vino di sampingnya.

__ADS_1


"Sudah jangan menangis." Arsyad menyeka air mata adiknya dan mencoba menenangkan hati Shita.


"Shita sepertinya mempunyai masalah, dia sepertinya tidak menangisi Annisa saja, tapi seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. Aku melihat dari sorot wajahnya dari tadi."gumam Almira.


Andini menggenggam tangan Annisa sebelah kanan, dan Rico menggenggam tangan Annisa sebelah kiri. Perawat dan dokter masuk ke dalam ruang persalinan. Dokter segera melihat sudah ada pembukaan lagi atau belum. Dan, ternyata sudah. Dokter mengarahkan instruksi pada Annisa untuk mengedan, Annisa mengikuti apa kata dokter dan perawat. Kedua tangannya menggenggam erat tangan kedua mertuanya. Rico dan Andini memberi semangat pada Annisa untuk berjuang melahirkan cucunya.


"Ibu, papah…..Nisa tidak kuat. Sakit sekali."rintih Annisa.


"Ayo…ibu….sedikit lagi, harus kuat, apalagi baby twins ini lho. Ayo ibu Nisa, semangat…" Dokter yang menangani Annisa memberi dorongan semangat pada Annisa.


"Iya sayang, ayo kamu pasti kuat."ucap Rico dan Andini bersama.


Dan akhirnya suara tangis Bayi Perempuan terdengar, di susul dengan tangis Bayi Laki-laki. Annisa menangis dan tersenyum melihat bayinya. Kedua perawat meletakan bayi Annisa di dadanya. Kedua tangan Annisa memegangnya. Bayi itu mencari payudara Annisa. Baby Twins yang lucu sekali, Rico menangis terharu melihat bayi kembar Annisa begitu juga Andini. Sementara di luar, Arsyad,Mira dan Shita merasa lega, anak Annisa sudah lahir dengan selamat dan sehat, Annisa juga keadaannya sangat baik.


Perawat membersihkan bayi kembar Shita dan memberikan pada Rico dan Andini. Rico menggendong Bayi laki-laki Annisa dan Andini menggendong Bayi perempuan Annisa.


"Selamat sayang, bayi kamu lucu-lucu sekali, bayi laki-lakinya mirip Arsyil sekali."ucap Rico


"Ini yang cewek juga mirip kamu, Nisa."ucap Andini


"Terima kasih, ibu, papah, sudah menemani Annisa di sini."ucap Annisa.


"Nak, Arsyil belum sampai, bolehkah papah yang mengadzani kedua bayi kamu?"tanya Rico.


"Iya pah, tidak apa-apa. Arsyil juga masih dua jam lagi baru sampai."ucapnya.


Rico segera mengadzani kedua bayi Annisa dengan lirih di telinga sebelah kanan, lalu mengucapkan iqomah di telinga kiri bayinya. Lalu membaca surat al-Ikhlash pada telinga bayi sebelah kanan 3 kali, membaca surat al-Qadr pada telinga bayi sebelah kanan satu kali, seperti dulu dia saat mengadzani anak-anaknya waktu baru lahir.


Annisa meneteskan air matanya. Mau bagaimana lagi, Arsyil ke luar kota juga karena tugas dari kantor Alm. Papahnya. Andini mengerti apa yang Annisa rasakan saat ini. Dia mencium kening Annisa dan mencoba menenangkan nya.


"Maafkan putra ibu yang tidak mendampingi mu saat berjuang. Sudah jangan menangis lagi."ucap Andini menyeka air mata menantunya.


"Iya ibu, Annisa menangis bahagia sekali, Annisa beruntung sekali memiliki mertua sebaik ibu dan papah. Terima kasih ibu." Annisa mengeluarkan air matanya lagi.


Rico membawa bayi kembar Annisa dan menaruhnya di pangkuan Annisa. Sebelah kanan memegang bayi perempuannya dan sebelah kiri memegang bayi laki-lakinya. Annisa menciumnya secara bergantian. Andini memfoto Annisa dengan Bayinya, lalu mengirimkan kepada Arsyil melalui pesan WhatsApp.


*****


Di dalam mobil, Arsyil selalu menunggu kabar dari ibu dan papahnya tentang Annisa. Ponsel Arsyil berdering karena ada notifikasi pesan WhatsApp masuk. Dia membuka pesan dari ibunya, Arsyad dan Shita yang ramai mengucapkan selamat atas kelahiran bayi kembarnya. Arsyil melihatnya sangat bahagia. Melihat Annisa berfoto dengan bayi kembarnya. Dia menangis bahagia melihatnya.


"Alhamdulillah, akhirnya aku memiliki bayi kembar."ucapnya sambil memeluk Paman Eric dengan senang.


"Terima kasih Ya Allah, telah memberi kabahagiaan dalam hidupku ini."gumam Arsyil dalam hati.


*****


Arsyad dan Mira menggendong bayi kembar milik Annisa, mereka bahagia sekali memiliki keponakan kembar yang lucu.


"Yeay…teman Kak Najwa ini udah lounching, nanti nunggu Kakak satu lagi, tuh di perut Budhe Shita."ucap Mira sambil mencium bayi laki-laki Annisa.


"Ih…mirip Arsyil sekali kamu, sayang."imbuh Almira.


"Iya dong kak, kan Arsyil ayahnya."ucap Nisa.


"Kak, gantian dong, Shita pingin gendong."pinta Shita pada Arsyad.


Arsyad memberikan bayi perempuan Annisa pada Shita, Shita senang sekali memiliki keponakan yang lucu-lucu, tidak Najwa dan anak kembar Annisa, semua lucu-lucu sekali.


"Ih…cantiknya Budhe ini, cantik sekali kamu, sayang. Seperti bundamu."ucap Shita.


Semuanya bahagia dengan kelahiran bayi kembar Annisa dan Arsyil. Rico dan Andini bergantian menyuapi Annisa. Dan tak lama kemudian, perawat datang untuk memindahkan Annisa ke ruangan pasien. Annisa di dorong perawat dengan kursi roda, Andini membawa bayi perempuan Annisa dan Bayi laki-laki Annisa masih saja di gendong Almira.


"Mas, satu lagi ya, buat teman Najwa, aku pingin bayi laki-laki."pinta Almira.


"Nanti nunggu Najwa umur 4 tahun."ucapnya


"Ih…kelamaan."ucap Mira manja. Rico yang mendengar anak dan menantunya beradu ingin memilki bayi lagi, dia tertawa di samping Almira.


"Tiap malam bikin yang rajin."ucap Rico pada Arsyad dan Almira.


"Ih…papah kok dengar."ucap Mira manja.


"Kamu bilangnya di samping papah ya jelas papah dengar lah."ucap Rico sambil tersenyum.


Mereka sudah sampai di dalam ruangan pasien. Annisa merebahkan tubuhnya di bed yang ada di dalam ruangannya. Shita mengirim pesan pada Arsyil kalau Annisa sudah di pindahkan di ruang pasien, jadi kalau Arsyil sudah sampai di rumah sakit langsung ke ruangan Annisa.


Tak lama kemudian, suara pintu ruangan Annisa terbuka. Arsyil datang dengan penuh kebahagiaan, dia membawa sebuket mawar merah untuk istrinya.


"Assalamualaikum."ucap Arsyil sambil melangkahkan kaki menghampiri istrinya yang masih di temani oleh keluarganya.


"Wa'alaikumsalam."ucap Mereka semua.

__ADS_1


Arsyil langsung memeluk istrinya mencium istrinya berkali-kali, dia menargetkan air matanya, menandakan penyesalan yang amat dalam di dalam hatinya karena tidak menemani istrinya berjuang melawan maut untuk melahirkan buah hatinya.


"Maafkan aku, maafkan aku sayang tidak bisa menemanimu. Maafkan aku." Arsyil memeluk istrinya erat, dia lagi-lagi mencium Annisa dengan lembut.


"Iya sayang, tidak apa-apa, lihatlah semua di sini menemaniku. Sudah jangan menangis lagi, lihat anak kita itu." Annisa menunjukan Arsyil bayinya yang masih di gendong Mira dan Shita. Shita memberikannya pada Annisa dan Mira memberikannya pada Arsyil.


"Anak ayah, maafkan ayah sayang. Tidak menemanimu saat bundamu memperjuangkan kalian." ucap nya sambil mencium bayi perempuannya yang di gendongnya.


Arsyil mencium bayi yang ada di pangkuan Annisa juga. Dia bahagia sekali, dan lagi-lagi dia meneteskan air matanya.


"Syil mau di beri nama siapa bayi kembarmu?"tanya Rico.


"Dio dan Shifa."ucap Arsyil dan Nisa bersamaan.


"Kalian sudah mempersiapkan nama untuk mereka?"tanya Rico


"Iya pah, Dio Alfarizi dan Shifa Aulia Alfarizi. Bagaimana menurut kalian?" Arsyil meminta pendapat semuanya.


"Nama yang bagus, iya kan pah?"ucap Arsyad dan bertanya pada papahnya. Rico hanya menganggukkan kepalanya saja


"Bagaimana sayang?tanya Arsyil pada Annisa.


"Bagus, aku suka. Oh iya, ini bunga untuk siapa, Syil?"tanya Annisa.


"Untukmu. Ini Bungan untuk istriku tercinta."ucpanya.


"Cie…romantisnya….tumben ngasih bunga."ucap Annisa.


"Hmm…ingin saja, kan dari dulu memang aku tak pernah memberimu bunga, hanya cinta yang aku beri untukmu."ucap Arsyil sambil mencium pipi istrinya.


"Oh…seperti itu rupanya."jawab Nisa sambil tertawa.


"Kok tertawa, lihat tuh bundamu, di kasih bunga ketawa sendiri."ucap Arsyil pada Shifa dan Dio.


"Habis ayahnya itu dari dulu tidak pernah ngasih bunga, ya lucu saja, makanya bunda tertawa. Tapi, bahagia, aku senang dapat bunga darimu, sayang." Annisa mencium pipi suaminya.


Semua melihat Annisa dan Arsyil sedang bermesraan di hadapan orang tuanya dan saudaranya.


"Ehem…."mereka berdehem bersama.


"Waduh Bu.…kita semua jadi obat nyamuk di sini."ucap Rico.


"Dua sijoli sedang melepas rindu maklum lah, pah."ucap Arsyad sambil memeluk istrinya dari samping.


Shita melihatnya hanya tersenyum getir, disaat bahagia seperti ini, Vino tak ada di sampingnya.


"Eh…Ta, mana Vino?"tanya Arsyad.


"Kak, Vino sedang keluar kota, mengurus kantor cabang, mungkin selama satu bulan."ucapnya. Tapi Almira bisa menebak raut wajah adik iparnya itu, dia tidak percaya Vino di luar kota. Pasti ada yang di sembunyikan dari Shita.


"Shita, berarti dari kemarin ibu dan papah di rumah Nisa kamu sendirian?"tanya Mira.


"Iya kak."jawabnya singkat.


"Nanti malam tidur di rumah kakak saja. Jangan sendirian di rumah, bibi sedang pulang kampung juga kan?"tanya Mira.


"Iya, bibi sedang di kampungnya. Ya sudah nanti malam Shita tidur di rumah Kakak, kan ibu dan papah masih di rumah Arsyil sampai Annisa 40 hari."ucap Shita


Shita mencoba menutupi kesedihan hatinya. Dia berusaha tersenyum agar semua tau kalau dirinya baik-baik saja.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


Jangan nangis-nangis terus lah, bahagia dulu kali ini, nanti aku kasih nangis lagi ya...😁😘

__ADS_1


__ADS_2