THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 32 "Maukah menjadi Pacarku?"


__ADS_3

Mereka sudah sampai di depan rumah. Mobil Arsyad berhenti di halaman rumahnya yang luas itu. Arsya dan Annisa turun, mereka mengajak anak-anak untuk turun dan masuk ke dalam rumah.


"Abah, ini rumah siapa?"tanya Raffi.


"Rumah abah, Raf,"jawab Arsyad.


"Abah nanti kita tinggal di sini?"tanya Najwa.


"Iya, apa kamu suka?"tanya Arsyad.


"Iya, suka,"jawab Najwa.


"Ayo masuk, kita makan siang di sini,"ajak Arsyad.


Mereka masuk ke dalam rumah, Annisa mengambil barang belanjaan yang tadi ia beli. Dia membelikan baju ganti untuk anak-anaknya.


"Bunda, sini Dio bantu." Dio mengambil kantong plastik dan paper bag yang Annisa bawa.


"Dio, kamu suka tinggal di sini?"tanya Annisa.


"Suka, bunda suka?" Dio balik bertanya pada Annisa.


"Kalau Dio suka, Kak Shifa juga suka, dan kalian bahagia, bunda ikut bahagia dan suka, sayang,"ucap Annisa.


"Apa bunda bahagia menikah dengan Abah?"tanya Dio yang menghentikan langkah Annisa untuk masuk ke dalam rumah.


Annisa menghadap ke arah Dio, dia memegang bahu Dio dan mengusapnya pelan.


"Bunda bahagia, sayang. Kalau tidak bahagia, bunda tidak mau pindah ke sini, ayo masuk, bunda tunjukin kamar Dio." Annisa merangkul Dio dan masuk ke dalam rumah.


"Bunda, kapan kita akan tinggal di sini?"tanya Dio.


"Minggu depan, sayang,"jawab Annisa.


Dio menghampiri Arsyad dan lainnya yang sudah berada di depan kamar mereka.


"Dio, ini kamar kamu,"teriak Raffi.


"Ini kamar Dio, Abah?"tanya Dio.


"Iya, kamu suka?"tanya Arsyad.


"Iya, suka sekali, terima kasih, Abah." Dio masuk ke dalam kamarnya, dia sangat menyukai desain kamarnya.


Najwa dan Shifa juga menyukai kamarnya. Mereka bahagia memiliki kamar sendiri-sendiri.


"Ini kalian ganti baju dulu, bunda tunggu di meja makan." Annisa memberikan paper bag berisi baju untuk anak-anaknya.


"Terima kasih bunda,"jawab mereka.


Annisa meninggalkan mereka, dia berjalan ke arah kamarnya, Annisa juga membeli baju untuk ganti, dari pada pulang dan ambil baju untuk ganti, jadi dia memilih membeli baju.


"Kak, kamu ganti bajumu dulu, ini sudah kotor, tadi kan buat bersih-bersih." Annisa memberikan kaos yang tadi ia beli untuk suaminya.


"Kamu jadi ambil kaos ini?"tanya Arsyad.


"Iya, untuk ganti kakak, ganti duli, gih,"titah Annisa.


"Iya, bawel." Arsyad menarik hidung Annisa.


"Kak, kebiasaan sekali kamu,"teriak Annisa.


"Salahkan hidungmu itu, salah sendiri menantang untuk di tarik."teriak Arsyad dari dalam kamar mandi.


"Huh, dasar, kakak ipar jahat,"tukas Annisa.


"Ehh, dia suami sekarang, bukan kakak ipar lagi,"lirih Annisa.


Annisa menutup pintu kamarnya, dia menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Lama menunggu membuat Annisa tidak sabar untuk berganti baju, dia segera mengganti bajunya. Annisa membuka bajunya dan mengambil baju ganti yang ada di atas tempat tidur. Dia memilih baju santai untuk di rumah, dress lengan pendek motif bunga. Dia memakak bajunya, baru saja dia akan memakai baju, Arsyad keluar dari kamar mandi.


Annisa tidak peduli suaminya keluar dari kamar mandi, dia melanjutkan memakai bajunya. Arsyad hanya memandang istrinya yang sedang berganti pakaian. Dia mendekatinya, dan merangkul pinggang Annisa. Dia mendudukan Annisa di tempat tidur. Arsyad mengambil gunting yang ada di atas meja rias Annisa. Arsyad mendekatinya dan duduk di samping Annisa. Arsyad melaingkarkan tangannya ke bahu Annisa.


"Kak, kami mau apa?"tanya Annisa yang sudah agak takut karena Arsyad memegang gunting.


"Hang tag nya di lepas dulu, Annisa. Kamu mau pakai baju masih ada hang tag nya gini?"ucap Arsyad sambil menggunting hang tag yang ada di baju Annisa.


"Oh, iya aku lupa."ucap Annisa dengan wajah yang memerah.


"Kenapa wajahmu memerah?" Arsyad mengusap lembut pipi Annisa.


"Gak apa-apa, ayo makan," ajak Annisa.


"Iya,"ucap Arsyad.


Annisa beranjak dari tempat tidurnya, dia mengikat rambutnya berbentuk bun. Setelah selesai Annisa keluar dari kamarnya. Langkah Annisa terhenti seketika saat Arsyad memamggilanya.


"Nis, sebentar,"panggil Arsyad.


"Ada apa kak?"panggil Annisa sambil menoleh ke arah Arsyad


Arsyad berjalan mendekati istrinya, dia menatap Annisa lekat, memerhatikan wajahnya yang cantik dengan gaya rambutnya. Wajahnya terlihat dewasa sekali, tidak seperti Annisa yang dulu arsyad kenal.


"Kamu terlihat dewasa sekali dengan gaya rambut seperti ini,"ucap Arsyad.

__ADS_1


"Kakak kira aku masih ABG? Lihat aku anaknya dua, dan kalau dua kali tidak keguguran aku anaknya empat, kakak,"ucap Annisa.


Annisa menatap Arsyad dengan mengigit bibir bawahnya.


"Iya, tau. Jangan seperti ini, biasa saja bicaranya. Jangan gigit bibirmu, apa aku yang akan menggigitny?"ucap Arsyad sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Annisa.


Arsyad mengusap lembut bibir Annisa, Annisa hanya diam dan menyapa suaminya itu, detak jantung Annisa sudah tidak beraturan lagi. Annisa merasakan lembutnya napas Arsyad di wajahnya. Annisa memejamkan matanya saat bibir Arsyad sudah mendekati bibir Annisa. Arsyad menatap wajah Annisa yang sudah memejamkan matanya, dia menatap lekat wajah istrinya.


"Annisa begitu cantik sekali, tapi kenapa aku tidak bisa, aku tidak bisa, maafkan aku Annisa." Arsyad menjauhkan wajahnya dari wajah Annisa, dia mengusap lembut pipi Annisa.


Annisa membuka matanya, melihat suaminya yang mengurungkan niatnya untuk menciumnya. Annisa terseyum menatap wajah suaminy itu.


"Maaf, aku belum siap menyentuhmu,"ucap Arsyad.


"Hmm, tidak masalah, ayo keluar, kasihan anak-anak pasti sudah menunggunya,"ucap Annisa.


Annisa keluar mendahului Arsyad, dia menata kemabali detak jantungnya. Annisa menarik napas dalam-dalam, dia memejamkan matanya dan mengembuskannya perlahan.


"Ini baru hari pertama Annisa, kamu akan melewati beribu-ribu hari lagi dengan suami barumu, sudah jangan pikirkan itu, semua akan indah seiriang berjalannya waktu,"gumam Annisa.


"Annisa maafkan aku, aku belum bisa melakukannya. Mengapa akan mencium Annisa saja sulit sekali hati ini, Ya Allah, aku harus bagaimana? Dulu aku sangat menginginkannya, sangat mencintainya. Tapi sekarang, aku tidak bisa, sungguh tidak bisa,"gumam Arsya dalam hati.


Arsyad melohta istrinya berlalu meninggalkan dia di dalam kamar. Arsyad tau apa yang Annisa rasakan, mungkin dia kecewa dan marah pada Arsyad. Arsyad melihat wajah Annisa berubah menjadi kecewa saat dia berkata belum bisa menyentuhnya.


Annisa berjalan dengan mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia melihat meja makan masih kosong, belum ada anak-anak di sana. Annisa berjalan menuju kamar Shifa, dia membuka pintunya tapi tidak ada mendapati Shifa di dalam kamarnya. Begitu juga kamar Dio, Raffi dan Najwa, semua kosong, tidak ada mereka di dalam kamarnya.


"Anak-anak di mana?"gumam Annisa.


Annisa berlari ke arah Arsyad yang sudah berada di meja makan, dengan wajah paniknya dia bertanya pada suaminya.


"Kak, kamu lihat anak-anak?"tanya Annisa.


"Bukannya mereka di kamar?" Arsyad balik bertanya pada Annisa.


"Kalau di kamar, Nisa gak bakal tanya kakak, gimana sih,"tukas Annisa.


"Kita cari mereka di belakang,"ajak Arsyad.


Annisa berjalan di belakang suaminya. Arsyad dan Annisa sampai di belakang rumahnya. Arsyad menarik tangan Annisa dan merangkulnya. Dia menunjukan anaknya sedang bermain di samping kolam renang.


"Itu, mereka di sana, kami sudah panik saja,"ucap Arsyad.


"Aku takut mereka pergi ke mana, sejak kejadian Shifa hilang dulu, aku selali over protektif dengan anak-anak,"ucap Annisa.


"Untung kamu tidak pingsan, seperti waktu dulu, waktu Shifa hilang,"ucap Arsyad.


"Kakak, apaan sih,"ucap Annisa.


"Kan memang kamu pingsan, aku yang membawamu ke kamar, berat tau,"ucap Arsyad.


"Ya kali, manggil Arsyil, kamu jatuhnya saja di badan kakak,"ucap Arsyad.


"Bilang saja curi kesempatan mau gendong, Nisa."ucpa Annisa sambil berjalan ke arah anak-anaknya.


Arsyad menarik tangan Annisa, hingga Annisa hilang keseimbangan dan jatuh ke pelukan Arsyad.


"Kakak!"teriak Annisa.


"Jangan berisik,"ucap Arsyad.


"Kak, lepasin, Nisa mau panggil anak-anak,"ucap Annisa dengan mencoba melepaskan tangan Arsyad yang melingkar di pinggangnya.


"Sebentar, tadi kamu bilang apa? Curi kesempatan? Kamu mau tau yang namanya curi kesempatan gimana?"tanya Arsyad dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Annisa.


"Gak, aku gak mau tau."ucap Annisa sambil menahan wajah Arsyad yang masih terus mendekat ke wajah Annisa.


Arsyad berhasil menepiskan tangan Annisa yang menahan wajah Arsyad. Arsyad mencium kilas bibir Annisa ya g dari tadi sudah ingin ia cium, tapi karena bayang wajah Almira masih lekat di matanya, dia mengurungkan nya. Entah kenapa Arsyad berani mencium bibir Annisa walau kilat sekali.


"Ini yang namanya mencuri kesempatan, Annisa,"ucap Arsyad.


"Kakak, lepasin, nanti mereka lihat." Annisa mencoba melepaskan tangan Arsyad


"Ehemm…kalau mau ciuman jangan di sini, Abah, kan kita jadi lihat." Dio tiba-tiba berada di samping Annisa dan Arsyad.


"Dasar anak nakal." Arsyad mencubit lembut pipi Dio.


"Abah sih, di sini mesra-mesraannya, kan Dio lihat, untung yang lain gak lihat,"ucap Dio.


"Sudah, panggil kakakmu, kita makan siang dulu,"titah Arsyad.


"Oke, ya sudah lanjutin lagi dong mesra-mesraannya,"ledek Dio.


Arsyad dan Annisa saling melempar senyum. Arsyad mencubit gemas pipi istrinya itu yang semakin Chubby.


"Sakit kak,"ucap Annisa


"Maaf, lihat pipi kamu gemas sekali,"ucap Arsyad.


"Huh, kamu sih, ketahuan Dio lagi, kan?"ucap Annisa.


"Anak kamu itu, persis seperti ayahnya,"ucap Arsyad.


"Kamu tau, Annisa. Saat kamu pergi ke Berlin, aku benar-benar seperti kehilangan Arsyil lagi, tidak ada Dio yang bisa menghapus rinduku pada Arsyil." Arsyad berkata sambil melihat Dio berlari memanggil kakaknya.

__ADS_1


"Iya, banyak yang bilang Dio sama seperti Arsyil, dari cara bicaranya, suka bercandanya, pokoknya sama persis seperti Arsyil,"ucap Annisa.


"Dia pengobat rinduku, saat aku merindukan sosok Arsyil di sampingku,"imbuh Annisa.


"Iya dia benar-benar seperti Arsyil, Nis. Ya sudah makan dulu, itu anak-anak sudah ke sini,"ucap Arsyad.


Mereka menikmati makan siang bersama, Annisa masih saja merasakan kecupan kilat Arsyad tadi waktu di belakang rumah. Dia tidak menyangak Arsyad akan melakukannya. Padahal tadi Arsyad bilang belum bisa menyentuh Annisa.


"Huh, kenapa masih mikirna tadi sih! Suami aneh, bilangnya belum bisa menyentuh, tapi apa, selalu saja membuat jantung ini serasa akan lepas,"gumam Annisa sambil menikmati makan siangnya.


"Kenapa aku tadi berani menciumnya? Aku merasa ada yang berbeda dari Annisa, saat menikah dengan Arsyil dia tidak pernah mengenakan dress seperti daster itu, aku sering melihatnya memakai stelan baby doll seperti anak remaja. Sekarang dia beda sekali, terlihat dewasa dan keibuan, wajahnya juga menggemaskan,"gumam Arsyad sambil mencuri pandang pada Annisa.


Mereka sudah selesai makan siang. Dio, Shifa, Raffi, dan Najwa kembali melanjutkan bermain di belkang. Annisa membanyu Mba Lina mengemasi piring kotor dan gelas kotor. Dia menaruh piring di tempat cuci piring. Annisa akan mencuci piring dan gelas kotor, tapi Mba Lina tidak memperbolehkannya. Akhirnya Annisa keluar menghampiri Arsyad yang sedang duduk di ruang keluarga.


Annisa duduk di samping Arsyad yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dia memandangi suaminya dari samping, dia masih tidak percaya kalau dia sekarang sudah menikah dengan kakak iparnya itu.


"Dulu, aku menolak di ajak nikah Kak Arsyad, dan sekarang, aku menikah dengannya, masih belum percaya saja. Aku menikah dengan Kak Arsyad. Kakak kandung mendiang suamiku,"gumam Annisa sambil memandangi suaminya.


"Ada apa lihat aku seperti itu, aku memang tampan Annisa,"ucap Arsyad.


"Siapa yang lihat kakak." Annisa mengelaknya.


"Tidak usah bohong, memang aku tampan Annisa,"ucap Arsyad.


"Iya, tau. Tampan tapi angkuh,"ucap Annisa.


"Kamu bilang apa?"tanya Arsyad.


"Kakak angkuh, sombong, dingin, ya gitu lah sikapnya,"ucap Annisa.


"Kamu itu, aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Annisa." Arsyad membalikan tubuhnya, dia menghadap Annisa dan memegang tangan Annisa.


"Itu yang membuat kamu memilih Arsyil kan, di banding aku?"tanya Arsyad.


"Bukan, aku memilih Arsyil karena aku memang jatuh cinta pada Arsyil terlebih dahulu, bukan dengan kakak terlebih dahulu, saat bertemu pertama dengan kakak aku juga sudah pacaran dengan Arsyil,"ucap Annisa.


"Lalu, sekarang mau tidak pacaran dengan kakak? Maukah menjadi pacarku?" Arsyad menggenggam tangan Annisa dan menciumnya.


Wajah Annisa bersemu merah seperti ABG yang baru saja ditembak pacarnya. Detak jantung Annisa kembali tidak beraturan. Arsyad masih memandangi wajah Annisa dan berharao jawaban dari istrinya itu.


"Kak, kita sudah menikah, bukan pacaran lagi,"ucap Annisa.


"Kan pacaran setelah menikah,"ucap Arsyad.


"Sudah mau tidak jadi pacar kakak?"tanya Arsyad lagi sambil mengusap pipi Annisa.


"Gak mau ah, aku maunya jadi istri kakak saja,"ucapnya.


"Kan kita pengenalan dulu, pacaran dulu, baru jadi istri,"ucap Arsyad.


"Memang kakak belum kenal Annisa?"tanya Annisa.


"Sudah, kakak belum mengenal kamu lebih dalam, kakak tidak tau kakak harus bagaimana memulainya dengan kamu, kakak takut saja kamu tidak nyaman dengan perlakuan kakak, karena kakak berbeda, kakak bukan Arsyil, Nis,"jelas Arsyad.


"Kak, kakak ya kakak, Arsyil ya Arsyil. Annisa juga mencoba untuk bisa menerima kakak. Setiap orang berbeda kak. Annisa ya Annisa, kak Mira ya kak Mira. Annisa juga tidak bisa menjadi seperti Kak Mira. Begitu juga kakak, gak akan bisa menjadi seperti Arsyil. Kita harus bisa menerima keadaan ini kak, menerima orang yang berbeda untuk hidup kita selanjutnya. Aku istri kakak, bukan pacar kakak. Aku juga ingin kakak memperlakukan Annisa sebagai istri, bukan sebagai pacar," ucap Annisa.


Annisa meninggalkan Arsyad, dia masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya masih memikirkan ucapan Arsyad tadi. Annisa tidak menyangka suaminya masih sangat mencintai mendiang istrinya. Dia juga masih merasakan hal yang sama, masih sangat mencintai Arsyil. Bahkan perasaannya masih sangat kuat untuk mencintai Arsyil. Tapi dia berusaha, berusaha menjadi istri Arsyad dengan baik, dan ibu yang baik untuk anak-anaknya.


"Kak, aku tau, kenapa kakak memilih menjadi pacarku. Menurut aku, pacar hanya di jaga saja dan boleh di sentuh tanpa menyentuh ke hal yang intim. Aku istri kakak, bukan pacar kakak. Aku tau kakak belum bisa menerima ini. Sama kak, aku pun iya, belum bisa melupakan Arsyil. Tapi aku berusaha, tidak seperti kakak, yang masih belum bisa mencobanya,"gumam Annisa.


Annisa mencoba memejamkan matanya, mencoba melupakan apa yang suaminya tadi katakan. Dia tertidur dengan hati yang tidak nyaman itu.


Arsyad masih duduk di ruang keluarga, dia memikirkan kata-katanya tadi pada Annisa. Dia memang belum bisa menerima Annisa menjadi istrinya. Oleh karena itu, dia mengajak Annisa layaknya seperti pasangan yang masih pacaran, agar saling mengenal terlebih dahulu. Arsyad sadar, dia memang salah berkata seperti itu dengan Annisa tadi. Arsyad merebahkan tubuhnya di sofa dengan berbantal lengan sofa.


"Nis, bukan maksud aku seperti itu. Kakak butuh pendekatan lebih dengan kamu. Kakak akui, kakak masih sangat mencintai Almira, dan kakak tidak bisa, tidak bisa melupakannya. Setiap kali kakak ingin bermanja dengan kamu, bayangan Mira selalu ada, itu yang kakak tidak bisa menyentuhmu. Kakak hanya ingin mengenal kamu lebih dekat lagi, agar kakak bisa lupa dengan Almira,"gumam Arsyad.


^^^^^^


Hari semakin sore, Arsyad, Annisa dan anak-anaknya kembali pulang ke rumah Rico. Anak-anak merasa bahagia tinggal di rumah barunya. Apalagi di belakang ada kolam renang,embuat mereka semakin betah berada di rumah. Raffi juga sangat senang, karena rumah baru Abahnya memiliki halaman rumah yang luas, sama seperti rumah Almira. Jadi dia bebas bermain sepak bola.


Annisa dan Arsyad masih saja saling diam, dia masih bergelut dengan perasaannya masing-masing. Annisa masih memikirkan ucapan Arsyad tadi, yang ingin menjadikan Nisa sebagai pacaranya. Lucu saja menurut Annisa, dia sampai berdebar-debar hatinya saat Arsyad bicara seperti itu. Dia merasakan muda lagi, seperti waktu di tembak pacar.


"Kalau aku pikir-pikir ada benarnya juga Kak Arsyad bicara seperti itu, biarlah, biar aku bisa flashback masa-masa pacaran,"gumam Annisa.


Arsyad melirik istrinya yang masih saja diam seribu bahasa di sampingnya. Arsyad merasa tidak enak sekali dengan Annisa karena ucapannya tadi.


"Iya, aku salah, dia istriki, seharusnya aku memperlakukan dia layaknya seorang istri, bukan pacar,"gumam Arsyad.


Mereka sudah sampai di kediaman Rico. Rico menunggu mereka pulang dari tadi. Rico menyambut kedatangan cucu-cucunya. Rico tau kalau mereka baru saja mengunjungi rumah baru yang akan mereka tempati.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2