THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 80 "Itu Bukan Cinta" The Best Brother


__ADS_3

Akmal menghampiri seseorang yang memanggilnya dan ingn mengajak bicara dirinya. Akmal tidak tahu ada Fattah di dekat kamar Ainun. Akmal dan  Fattah memilih bercerita di teras depan. Entah apa yang ingin Fattah bicarakan pada Akmal malam itu.


“Ada apa, Tah?” tanya Akmal.


“Ki, aku mau tanya sama kamu, dan tolong jawab yang jujur,” jawab Fattah.


“Iya, aku akan menjawabnya, kamu mau tanya apa?” ucap Akmal. Akmal tahu, Fattah pasti akan membahas masa lalunya.


“Kamu benar-benar mencintai, Najwa?” tanya Fattah.


“Iya, aku tulus mencintainya, aku sangat mencintainya,” jawab Akmal.


“Lalu apa kabar hatimu untuk dia?” tanya Fattah lagi.


“Dia siapa?” Akmal balik bertanya pada Fattah, seakan pura-pura tak tahu.


“Dia ...Yas ...”


“Aku sudah melupakannya. Sudah jangan bahas dia.” Akmal menukas ucapan Fattah.


“Yakin? Kalau misalnya dia kembali?” tanya Fattah lagi.


“Kembali? Mana mungkin dia kembali ke sini dan menemui ku lagi? Tidak mungkin, Fattah. Dia sudah melupakan aku. Kalau pun dia kembali, aku tidak akan kembali dengannya. Terlalu dalam luka yang ia torehkan di hatiku. Apa kamu tidak ingat? Semua sudah aku siapkan, tinggal menunggu hari, dan dia dengan entengnya membatalkan karena impiannya. Apa tidak bisa di tunda hingga kita bersatu dulu?” jelas Akmal.


“Iya, aku tahu itu. Opa dan Om Elang juga sangat malu dengan kejadian itu. Dan, tante hingga sakit-sakitan karena memikirkan kamu. Untung saja bisa bertahan hingga kamu wisuda. Kalau ingat itu, bukan kamu dan keluarga kamu saja yang sakit karena masalah itu, aku pun merasakan sakit dengan apa yang keluarga mereka lakukan pada keluargamu,” ucap Fattah dengan membayangkan masalah yang dulu menimpa sahabat dan keluarganya.


“Sudah, aku juga sudah melupakannya. Papah dan Opa juga sudah melupakan itu, semenjak aku menemukan Ainun, mereka bahagia sekali. Semangat mereka hidup lagi. Opa dan papah sangat menyayangi Ainun seperti anak perempuannya sendiri. Apalagi karena masalah Ainun dengan keluarganya. Semenjak Ainun cerita semuanya pada papah dan opa, mereka begit perhatian dan sangat menyayangi Ainun.”


“Apa Ainun menceritakan semuanya pada opa dan Om Elang?” tanya Fattah.


“Semua Ainun ceritakan tanpa di tutup-tutupi,” jawab Akmal.


“Aku juga melihat Opa dan Om Elang sangat tulus menyayangi Najwa, sama seperti dia menyayangi Nuri,” ucap Fattah .


“Ya memang seperti itu, mereka memang menyayangi Ainun,” jawab Akmal.


“Satu pesanku, Ki. Kalau kamu benar-benar mencintai Najwa. Jangan pernah sakiti hatinya. Dia sudah cukup menderita karena kejadian dengan Dio. Jika kamu menyakitinya, sama saja kamu mengulang kejadian Dio. Aku tahu, hati Najwa masih berpihak pada Dio. Tapi, itu bukan cinta, itu karena sebuah penyesalan. Aku tahu, Najwa menyesalinya, karena cinta Dio dari dulu untuk Rania. Hanya karena kesalahpahaman nya dengan Rania, dia mengusik hati Najwa.” Fattah menjeda ucapannya. Dia memang tahu tentang Najwa dari Raffi dan Alina, juga dari istrinya.


“Bagaimana Najwa tidak hanyut pada rayuan Dio. Dia belum pernah jatuh cinta dengan pria mana pun. Dio yang pertama membuat dia jatuh cinta. Jadi wajar, hingga sekarang Najwa masih merasakan sedikit kenangan dengan Dio,” jelas Fattah.


“Iya aku tahu itu. Aku juga pernah merasakan itu, melupakan seseorang yang kita cintai memang sulit, apalagi Najwa, seorang wanita yang baru merasakan jatuh cinta pada satu pria,” ucap Akmal.


“Aku tidak akan menyakiti Najwa, aku janji itu,” imbuh Akmal.


“Janji butuh bukti, bukan sekedar ucapan,” ucap Fattah dengan tegas.


“Aku akan buktikan itu, Fattah,” jawab Akmal dengan tegas.


“Buktikan kamu bisa membuat bahagia Najwa, dan tidak menyakitinya.”


“Lalu kapan kamu akan menceritakan semua pada Ainun soal masa lalumu dulu, Ki?” tanya Fattah.


“Aku akan mencari waktu yang tepat, Tah,” jawabnya.

__ADS_1


“Harus kamu sampaikan pada Ainun, sebelum dia mengetahui dari orang lain, jangan sampai dia tahu dari seseorang, dan kamu akan menyesal,” ujar Fattah.


“Aku akan menceritakannya, tapi Ainun bilang, tidak usah menceritakan hal yang sudah terkubur lama, asal aku ada di sampingnya,” jawan Akmal.


“Walau Ainun bicara seperti itu, kamu harus menceritakannya, Ki. Karena, dia akan menjadi istrimu,” tutur Fattah.


“Iya, pasti akan aku ceritakan,” jawab Akmal.


Memang Fattah yang tahu kehidupan Akmal dulu, dia juga yang menjadi saksi cinta Akmal dan kekasihnya dulu, semenjak SMA hingga dia menempuh pendidikan kedokteran bersama. Namun, karena suatu masalah, dan demi cita-cita, wanita yang dicintai Akmal rela melepas Akmal karena sebuah impian dan cita-citanya, dan dorongan dari orang tua wanita itu.


Akmal pernah terpuruk dalam hidupnya. Lama sekali dia menyembuhkan luka karena wanita itu. Hingga 2 tahun lebih dia baru bisa melupakan dia. Dan, bagi Akmal nama wanita itu sudah hilang dan lenyap dari ingatannya. Karena itu, setiap ada yang akan menyebut namanya, Akmal langsung menghentikannya. Jangankan untuk kembali pada wanita itu, mendengar namanya akan di sebut saja dia tidak ingin.


“Ya sudah, aku ingin istirahat dulu, Ki,” pamit Fattah dan dia langsung berlalu masuk ke dalam menuju kamarnya.


Akmal masih duduk terdiam di teras depan. Dia mencerna lagi kata-kata Fattah tadi. Akmal memang harus menceritakan semua pada Ainun, tapi saat dia mau menceritakan, Ainun malah membahasa yang lain. Akmal tidak tahu, kenapa Ainun sedikit menghindar saat dirinya akan menceritakan masa lalunya.


Akmal tahu, kalau Ainun hanya tidak ingin mengungkit masa lalunya yang dulu. Mungkin karena dulu Ainun belum mengenal dirinya. Dan, sekarang yang Ainun butuhkan adalah perhatian dan kehadiran Habibi untuk selalu di sisinya. Dia tidak mau tahu apa masa lalu Habibi seperti apa, asal Habibi tidak kembali lagi pada masa lalunya. Itu yang Ainun katakan pada Habibi.


“Aku akan mengatakannya Ainun, pasti suatu saat akan aku ceritakan, dan aku tidak akan kembali lagi pada masa laluku itu. Aku janji itu,” gumam Habibi.


Habibi masuk ke dalam dan mengunci pintu depan. Dia masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang saat ini Habibi tempati adalah kamar di mana dulu pernah di pakai wanita yang pernah hadir dalam hidupnya. Rumah ini menjadi saksi saat mereka berada di Budapest.


Habibi membuka lemari yang lama sekali tidak pernah ia buka lagi dari dulu, setelah hubungannya dengan wanita itu berakhir. Dia melihat dua gaun yang cantik di lemarinya, dan dua setel Jas pria. Ya, gaun itu milik wanitanya dulu. Gaun yang di pakai untuk tunangan, dan satunya adalah gaun yang sudah di persiapkan Habibi untuk wanitanya, untuk di pakai saat hari bahagianya, yaitu pernikahannya.


Habibi memejamkan matanya saat mengingat itu. Habibi tidak ingin lagi mengingatnya, dia menutup lemarinya dan menguncinya kembali. Dia merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia mencoba memejamkan matanya.


“Ainun, maafkan aku, aku belum bisa cerita semua ini.” Habibi berkata lirih, hanya wajah Ainun yang muncul saat ini. Saat memejamkan matanya, hanya Ainun yang terlihat dalam bayang-bayangnya.


Habibi hanya mencintai Ainun saat ini dan selamanya. Dia menginginkan Ainun untuk menjadi pendamping hidupnya. Bagi dirinya, Ainun adalah sosok yang mengubah dirinya dan sosok yang bisa membuatnya kembali hidup.


Rania terbangun dari tidurnya, dia melihat jam pada ponselnya. Seperti biasa, dia selalu bangun di sepertiga malam. Dia mencium kening suaminya, memang Rania selalu seperti itu. Saat ia terbangun lebih dulu, dia selalu mencium kening suaminya yang masih tertidur pulas. Dan, itulah cara Rania membangunkan suaminya.


“Sayang bangun, kamu tidak Sholat malam?” ucap Rania dengan lirih untuk membangunkan suaminya.


Dio menggeliat, mengerjapkan matanya dan menyesuaikan dengan cahaya lampu yang temaram di dalam kamar. Dia mengecup tangan istrinya dan tersenyum pada istrinya.


“Iya, aku akan Sholat, kamu ambil air wudhu dulu sana,”ucap Dio dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


“Oke,” jawab Rania dengan berlalu meninggalkan Dio untuk ke kamar mandi.


Dio bangun dari tempat tidur, dia duduk di tepi ranjang dan setelag itu dia bergantian mengambil air wudhu dengan istrinya.


Seusai Sholat, Dio beranjak ke tempat tidur lagi. Dia masih merasakan kantuk yang begitu hebat. Biasanya dia menemani Rania mengaji, tapi kali ini, dia benar-benar tidak bisa menahan kantuknya.


Rania melepaskan mukenahnya seusai mengaji. Dia melihat sesuatu yang semalam di beri Opa Wisnu. Ya, testpack. Rania mengambil benda itu. Dia segera ke kamar mandi lagi. Dia mencoba untuk tes urine pagi itu. Perlahan dai mencelupkan benda yang panjangnya tak lebih dari jari telunjuknya ke dalam cawan yang berisi urine nya. Dia mengangkatnya kembali, dan dia melihat garis merah yang mulai terlihat.


“Satu garis,” ucapnya sambil melihat petunjuk di bungkus testpacknya.


“Yah, belum rezeki, tidak apa-apalah, baru saja 3 minggu aku melakukan itu dengan Dio. Masa iya langsung hamil,” ucapnya lirih.


Dia meletakan benda itu di samping wastafel. Rania langsung mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Dia keluar dari kamar mandi dan membangunkan Dio yang sudah kembali terlelap lagi. Dio segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Dio melihat bungkus testpack dan benda panjang berada di sisi wastafel setelah mengambil air wudhu. Matanya membeliak saat melihat garis yang tampak di benda pipih dan panjang itu.

__ADS_1


“Dua garis? Rania hamil? Kenapa dia taruh di sini dan tidak bilang denganku? Saat membangunkan aku juga tidak menampakkan wajah bahagianya?” ucap Dio lirih dengan bertanya-tanya.


Dio keluar dari kamar mandi dengan membawa benda pipih dan panjang itu. Dia melihat Rania yang sudah menunggunya untuk sholat subuh. Rania sudah nampak menggunakan mukenah, dan dia juga sudah menyiapkan baju sholat Dio dan menggelarkan sajadah milik Dio.


“Sayang, ini bajuku?” tanya Dio.


“Kamu kenapa murung?” tanya Dio lagi.


“Tidak apa-apa, ayo sholat,” ajak Rania.


Dio sengaja tidak memberitahukan testpack yang bergaris dua itu pada Rania. Dio tahu, pasti Rania tahunya garis satu saja. Karena semua itu butuh proses, agar dua garis terlihat jelas. Itu yang Dio baca dari artikel semalam saat istrinya sudah terlelap tidur.


Mereka sudah selesai Sholat. Dio mengganti bajunya lagi, lalu dia memanggil Rania untuk duduk di sampingnya. Rania dari tadi terlihat murung karena hasil testpacknya menunjukkan satu garis.


“Sayang, kamu kenapa murung seperti itu?” tanya Dio dengan membenarkan rambut Rania ke belakang.


“Aku ... ehmm ... Sayang, maafkan aku,” ucap Rania.


“Maaf? Kenapa minta maaf?” tanya Dio.


“Aku belum bisa membuat kamu bahagia,” jawabnya dengan memeluk Dio.


“Kata siapa? Aku bahagia bisa hidup dengan kamu,” ucap Dio.


“Maaf aku belum bisa memberikan kamu keturunan, Dio,” ucap Rania dengan terisak di pelukan suaminya.


“Hei, kok nangis. Coba lihat ini.” Dio menunjukkan benda pipih dan panjang itu pada istrinya. Tapi, Rania masih saja menyembunyikan wajahnya di dada Dio.


“Coba lihat,” ucap Dio lagi.


Rania meregangkan pelukannya dan melihat benda yang ada di tangan Dio. Matanya membeliak melihat benda pipih itu menunjukkan dua garis.


“Ini? Kok bisa dua garis? Padahal tadi kan?” ucap Rania seperti tidak percaya.


“Makanya, kalau lagi tes, jangan di tinggal, tunggu beberapa menit. Baru kelihatan hasilnya," tutur Dio.


“Sayang, jadi aku?”


“Iya, kamu hamil, Sayang. Ada calon anak kita di perutmu. Selamat sayang, kamu akan jadi ibu,” ucap Dio dengan bahagia. Dia menghujani Rania kecupan di setiap inci wajah Rania.


“Kamu juga akan jadi ayah, Sayang. Terima kasih.” Rania memeluk suaminya dengan erat.


“Mulai sekarang, kamu jangan kecapean, jangan terlalu sibuk di kantor. Biar aku saja yang melakukan pekerjaan itu, kamu harus jaga anak kita,” tutur Dio.


“Tapi kan kamu yang ngidam, Sayang. Lihat, aku tidak apa-apa, kan? Malah kamu yang sering sakit,” ujar Rania.


“Itu kalau aku makan nasi, kalau tidak aku akan baik-baik saja,” ucap Dio.


Dio berjongkok di depan Rania, dia mengusap lembut perut Rania yang masih terlihat datar, lalu mencium perut Rania.


“Assalamualaikum, anak ayah, sehat-sehat selalu di perut ibu ya, Nak?” ucap Dio dan mencium perut Rania.


“Wa'alaikumussalam, ayah ... Iya, ayah. Ayah juga harus sehat,” ucap Rania dengan menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


Pagi ini adalah pagi bahagia untuk Dio dan Rania. Cinta mereka menjadi semakin kuat karena ada benih cinta yang tumbuh di rahim Rania.


__ADS_2