THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 50 "Zombie"


__ADS_3

Malam hari di kediaman Arsyad, di dalam kamar Arsyad, dua insan sedang bercumbu mesra setalah mereka melakukan sholat dua rakaat bersama seusai sholat isya. Arsyad menuruti apa anjuran Dokter Haikal, bahwa dirinya akan sembuh karena istrinya dan karena dia sangat yakin, akan sembuh dan bisa melakukannya.


Annisa menikmati apa yang suaminya lakukan. Dia ingin sekali suaminya sembuh dan bisa melakukan kewajibannya. Namun, lagi-lagi Annisa harus merasakan kecewa karena suaminya. Walaupun dia sangat kecewa, tapi dia tak menampakkan pada Arsyad, di tetap memberikan semangat pada suaminya agar tidak menyerah.


"Sayang, maafkan kakak, kamu kecewa lagi,"ucap Arsyad.


"Tadi kakak nyebut Aku apa?"tanya Annisa.


"Sayang, boleh kan sekarang kakak panggil kamu dengan sebutan, sayang,"ucap Arsyad.


"Iya, boleh, Dosen ganteng ku." Annisa mencium pipi Arsyad.


Kali ini Annisa yang agresif memulai apa yang ia inginkan, dia ingin mengikuti saran dari dokter Haikal. Kemungkinan dengan wanita yang memulai dahulu, akan berhasil membuat suaminya bergairah. Dan, Annisa akan membuktikan kata-kata dokter Haikal tadi.


Entah apa yang ada di pikiran Arsyad, dia sangat menikmati apa yang Annisa lakukan. Malam ini Arsyad bisa merasakan lagi hasrat yang selama ini menghilang entah kemana. Annisa berhasil membuat Arsyad kembali merasakannya.


"Kak, aku bilang apa, kakak pasti sembuh,"ucap Annisa lirih di telinga Arsyad.


Tanpa aba-aba Arsyad menindih tubuh Annisa. Arsyad yang dari kemarin ingin sekali melakukannya dengan Annisa, malam ini dia bersiap melakukan tugasnya sebagai suami Annisa.


"Tok…tok…tok…"suara ketukan terdengar di pintu kamar Arsyad.


"Abah, bunda….!"entah siapa yang berteriak memanggil Arsyad dan Annisa


"Oh…..siapa yang mengganggu, dasar anak nakal, abahnya baru saja mau memulai, dia mengganggu,"ucap Arsyad


Annisa terkekeh melihat suaminya sedikit kecewa. Annisa kembali mengenakan piyamanya dan beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu kamarnya.


"Sudah, nanti kita lanjut lagi, kak. Kita lihat dulu, siapa yang ganggu kita." Annisa tersenyum dan mencium kilas bibir suaminya.


"Kamu tau kak, sayang. Aku baru pertama akan melakukannya, dan tidak jadi,"ucap nya sambil cemberut.


"Jangn cemberut, sudah aku bukakan pintu dulu." Annisa mencium bibir suaminya lagi.


Demi apa Arsyad kecewa sekali, baru saja dia akan menikmati apa yang ingin ia rasakan setelah sekian lama tertunda, tapi harus terhenti karena anaknya memanggil. Annisa membukakan pintu, dia melihat Raffi dengan wajah yang ketakutan dan pucat. Annisa berjongkok menghadap Raffi dan menyeka keringat yang jatuh di dahinya.


"Raffi, kamu kenapa, nak?"tanya Annisa.


"Bunda……" Raffi menangis memeluk Annisa.


"Ada apa?" tanya Annisa pelan-pelan.


"Raffi mimpi, di kejar zombie." Raffi ketakutan dan semakin erat memeluk Annisa.


"Dikerja Zombie? Ada-ada saja kamu, nak." Annisa mengusap pungging Raffi karena dia menangis dan ketakutan.


Arsyad turun dari ranjang setelah menidurkan kembali sesuatu yang sudah lama ia ingin bangunkan. Arsyad berjalan ke arah pintu kamarnya yang lumayan jauh dari tempat tidur, karena kamarnya terlalu luas sekali. Dia mendekati Raffi dan Annisa yang sedang berpelukan.


"Raffi, kenapa kamu menangis, nak?"tanya Arsyad sambil berjongkok di sebelah Raffi dan Annisa.


"Abah, Raffi mimpi di kejar zombie, Raffi takut." Raffi memeluk Arsyad dan menangis dalam pelukannya.


Arsyad dan Annisa saling menatap, dia tertawa kecil mendengar penuturan Raffi. Arsyad memijit dahinya dengan jari telunjuknya sambil tersenyum ke arah Annisa.


"Ya sudah, ayo Abah temani kamu tidur,"ucap Arsyad.


"Raffi mau tidur sama bunda dan Abah, Raffi takut." Raffi mengeratkan pelukannya pada Arsyad.


Arsyad dan Annisa tertawa dan mengangkat bahunya. Arsyad menggendong Raffi menuju tempat tidurnya. Dan malam ibu Raffi tidur di kamar Arsyad. Sungguh hal yang lucu sekali bagi mereka bedua, mereka saling menatap dengan melempar tawa kecil sambil mengusap punggung Raffi yang di peluk Annisa.


"Raf, kamu tau, Zombie nya masuk ke kamar Abah tadi,"ucap Arsyad.


Raffi tak mengindahkan kata-kata abahnya karena dia sudah tidur di pelukan Annisa.


"Kak, sudah tidur Raffi, jangan ngomong terus,"ucap Annisa.


"Dasar anak nakal, mau di buatkan adek, malah seperti ini,"ucap Arsyad smabil tertawa.


"Sudah, besok lagi,"ucap Annisa dengan menahan tawanya.


"Tidur Nis, ada zombie,"ucap Arsyad sambil memeluk bantal guling dan tertawa.


Mereka tak habis-habis nya tertawa karena kelakuan Raffi. Annisa mengusap kepala suaminya dengan lembut.


"Sudah jangan ngambek, ngalah sama anaknya, sini pindah di sebelahku,"ucap Annisa.


Arsyad merangkak tidur di sebelah Annisa. Raffi perlahan-lahan melepaskan pelukan Annisa.


"Kak, jangan macem-macem, ada Raffi. Dia sudah gede, kalau lihat bagaimana?"ucap Annisa.


"Nis,ternyata kalau sudah ingin sekali terpotong kaya gini rasanya,"ucap Arsyad.


"Gimana rasanya?"tanya Annisa menggoda


"Ah…sudahlah Annisa." Arsyad menenggelamkan wajahnya di punggung Annisa.


Annisa terpaksa membelakangi Arsyad, karena di memeluk Raffi yang tadi ketakutan mimpi dinkejar zombie.


"Nis, apa seperti ini yang kamu rasakan, saat sedang ingin sekali aku menghentikannya?"tanya Arsyad.


"Ya seperti itu,"ucap Annisa.


"Nis, pindahkan Raffi ke kamarnya, yuk?"ajak Arsyad.


"Sudah biar dia di sini, nanti malah bangun lagi dia,"ucap Annisa.


"Hmm…ya sudahlah aku akan tahan sampai besok,"ucap Arsyad.

__ADS_1


Annisa melepaskan pelukan Raffi perlahan, dia berbalik memeluk suaminya yang dari tadi sangat menginginkannya.


"Tidur, kenapa masih melek saja,"ucap Annisa.


"Bagaimana mau tidur, kalau masih merasa seperti ini,"ucap Arsyad.


"Sini aku peluk, jangan macem-macem, ada Raffi." Annisa menepis tangan Arsyad yang sudah mulai menyentuh bagian sensitifnya.


"Iya, iya, bawel banget kamu, tanggungjawab ini,"ucap Arsyad dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya besok." Annisa memejamkan matanya yang sudah lumayan mengantuk, padahal dia juga masih ingin melakukannya dengan Arsyad.


"Raffi, ada-ada saja kamu, nak. Bunda baru saja bisa membangunkan singa yang tertidur lama, kamu malah seperti ini, tuh Zombie ngapain pakai mampir di mimpi Raffi, sih. Ternyata Kak Arsyad lebih manja, kalau keinginannya belum tercapai, bagaimana aku bisa tidur, ini orang tangan gak bisa diam," gumam Annisa dengan merasakan sentuhan yang Arsyad berikan.


"Annisa, ternyata kamu melakukan semua apa yang dokter Haikal suruh, dan memang hasil tidak mengecewakan, aku bisa merasakannya lagi. Namun, kendala ada-ada saja, kamu bikin abahmu sakit kepala, Raf. Ini tidak bisa di biarkan, besok pagi aku tidak akan ke kantor, aku akan ajak Annisa ke suatu tempat untuk menikmati hari berdua saja denganku," gumam Arsyad.


Entahlah, di pikiran Arsyad hanya ada Annisa, Annisa dan Annisa. Dia sudah ingin sekali merasakan apa yang selama ini tertunda. Arsyad sudah bisa mengikhlaskan keadaan. Dia sudah tidak mau lagi larut dalam masa lalu.


"Benar kata Annisa, sekarang adalah masa depan. Bukan untuk melupakan masa lalu, tapi belajar menata masa depan dengan orang baru, karena hidup ini berputar, dan kematian itu hal pasti,"gumam Arsyad.


Arsyad melihat istrinya sudah tertidur pulas, dia tidur dengan menenggelamkan wajahnya di dada Annisa. Annisa mengusap lembut kepala suaminya. Mereka tertidur hingga pagi bersama Raffi juga.


^^^^^


Keesokan harinya, setelah mereka melihat anak-anaknya berangkat sekolah di antarkan oleh sopir, Arsyad duduk di teras dengan papah Rico dan Annisa. Arsyad duduk di samping papahnya, sedangkan Annisa dia pamit untuk ke dalam karena ingin segera mandi. Arsyad berbincang-bincang sedikit dengan Papahnya. Rico terlihta sudah menua, walaupun sudah ada keriput di wajahnya, tatap saja ketampanannya masih menyelimutinya.


"Pah, semalam Raffi tidur di kamar Arsyad,"ucap nya.


"Kenapa tidur di kamarmu?"tanya Rico.


"Semalam dia mimpi buruk, pah, mimpi di kejar zombie ktanay. Ada-ada saja dia, dan ketakutan, dia langsung ke kamar Arsyad,"ucap Arsyad.


"Papah tau semalam Arsyad sedang apa?"tanya Arsyad pada papahnya.


"Mana papah tau,"jawabnya.


"Arsyad sedang mencoba saran dari dokter Haikal, kemarin Arsyad dan Annisa ke klinik, dan mencoba konsultasi dengan dokter masalah sakitnya Arsyad ini. Semalam aku dan Annisa sedang mencoba saran dari dokter, dan Alhamdulillah berhasil, tapi karena Raffi mengetuk pintu kamar Arsyad, ya sudah tidak jadi,"jelas Arsyad.


Rico terkrkrh mendengar pernyataan anak sulungnya, dia baru melihat anaknya seperti itu. Dulu dia agak tertutup, jika belum di pancing dengan pembicaraan, dia tak bicara. Tapi, klpagi ini dia berbeda sekali.


"Papah malah ketawa. Pah hari ini Arsyad bolos ke kantor, ya. Arsyad mau mengajak Annisa ke suatu tempat,"ucapnya.


"Kemana?"tanya Rico.


"Aku ingin berdua saja dengan Annisa," jawab Arsyad.


"Ke villa?"tanya Rico lagi.


"Pah, di villa Arsyad, banyak kenangan dengan Mira. Begitu juga Annisa, dia banyak kenangan bersama Arsyil. Rencana Arsyad sih ingin mengajaknya ke Hotel, pah,"ucap Arsyad.


"Papah punya Villa, kalian pasti tidak tau, ibu juga tidak tau. Vila itu milik mamah Dinda. Ya itu tempat favorit kami berdua, tapi setelah papah menikah dengan ibumu, kami jarang ke sana, karena mamah Dinda juga sakit-sakitan. Dan sudah, saat itu papah hanya menitipkan saja pada penjaga Vila hingga sekarang. Kamu mau ke sana? Nanti papah menyuruh penjaga vila menyiapkan dan membersihkannya,"jelas Rico.


"Jauh vila ibumu. Vila mamah nda lebih dekat, paling satu sampai dua jam dari sini,"ucap Rico.


"Kalau mau papah akan menghubungi penjaga vila,"imbuh Rico.


"Iya, pah, boleh,"ucap Arsyad.


"Bermalamlah di sana beberapa hari, biar papah dan Shita menjaga anak-anak. Dia sudah pulang dari luar kota,"ucap Rico


"Lalu kantor?"tanya Arsyad.


"Ada Rey, papah juga kangen kantor, papah akan handle pekerjaanmu,"ucap Rico.


"Kamu belum berbulan madu dengan Annisa, anggap ini hadiah bulan madu dari papah,"imbuh Rico.


"Baiklah, nanti Arsyad akan ajak Nisa,"jawab Arsyad.


Rico menelepon penjaga vila milik Dinda. Vila milik Dinda berada di dekat pegunungan. Vila yang sangat mewah dengan fasilitas yang mewah juga seperti hotel berbintang. Meskipun Rico jarang ke sana, dia sering menyuruh penjaga vila merenovasinya, karena vila milik Dinda sering di sewakan keluarga yang berlibur di sana. Selain mewah, di dalamnya juga ada kolam mata air panas di dalam ruangan. Jadi bisa berendam di sana tanpa ada yang menggangu dengan menikmati nuansa pegunungan yang asri.


"Papah sudah meneleponnya, beruntung hari ini vila kosong, tidak ada yang menyewa. Kamu ke sana saja, nanti papah kasih alamatnya,"ucap Rico.


"Memang kadang di sewakan?"tanya Arsyad.


"Setiap hari banyak keluarga yang menyewa, kadang ada yang menyewa untuk berbulan madu, jadi di vila Maman Dinda menawarkan paket bulan madu juga,"ucap Rico.


"Papah kenapa baru bilang?"tanya Arsyad.


"Vila itu papah sengaja di sewakan, biar bermanfaat lah,"ucap Rico.


"Lalu uang hasil sewanya bagaiman?"tanya Arsyad.


"Uang hasil sewa, papah papah alokasikan untuk merenovasi dan untuk membayar para penjaga vila di sana,"ucap Rico.


"Pokoknya kamu ke sana saja, pasti kamu tau sendiri, vila nya seperti apa, dan berapa penjaga vila di sana, papah terakhir ke sana waktu kamu baru lahir, dan waktu ibumu sudah pergi dari rumah sebelum mamah Dinda meninggal. Itu semua permintaan mamah Dinda, vilanya untuk di sewakan,"jelas Rico.


"Pasti vila itu punya kenangan tersendiri dengan mamah Dinda,"ucap Arsyad.


"Ya, itu vila impian Mamah Dinda dan papah, vila peninggalan neneknya mamah Dinda, dan di renovasi papah saat sebula papah akan menikahi mamah Dinda. Ya seperti itu, pokoknya tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata,"ucap Rico.


Rico terlihat berkaca-kaca matanya saat mengingat Adinda nya, walau bagaimanapun, Dinda juga istrinya, Dinda yang membawa kebahagian Rico hingga sekarang meskipun lewat Andini.


"Papah ingat mamah?"tanya Arsyad.


"Yah, papah selalu ingat, dua wanita papah, dua istri papah, dan dua bidadari papah, jika papah ingat, papah hanya bisa berdoa untuk mereka,"ucap Rico.


"Sudah, sana mandi, bersiap-siaplah. Beri kebahagian yang tertunda untuk Annisa. Dia wanita yang sabar dan penyayang. Kamu harus bisa menyayangi Annisa, dan harus bisa mencintainya,"ucap Rico sambil menepuk punggung anaknya.

__ADS_1


"Iya, pah. Arsyad sudah janji pada diri Arsyad, akan membahagiakan Annisa,"ucap Arsyad.


"Arsyad ke kamar dulu, mau mandi, pah,"pamit Arsyad.


"Iya, buatkan papah cucu satu atau dua lagi, dari kamu dan Annisa,"pinta Rico.


"Siap, pah,"ucap Arsyad sambil berlalu meninggalkan Rico di teras.


Rico bahagia sekali, akhirnya putra sulungnya bisa membuka hati untuk Annisa, dia tidak sia-sia menyatukan mereka.


"Terima kasih Ya Allah, akhirnya doaku terkabul dan hati keras anakku sudah luluh, semoga mereka selalu bahagia, tanpa ada kesedihan hingga anak-anak mereka menikah dan hidup bahagia,"gumam Rico.


Arsyad sudah berada di kamarnya, Annisa terlihat sudah bersiap-siap dengan pakaian kerjanya. Arsyad memeluk Annisa dari belakang yang sedang memakai jilbabnya.


"Aww…kakak, jari Annisa ketusuk jarum ini,"ucapnya sambil ******* jarinya yang berdarah tertusuk jarum saat akan mengacing jilbabnya.


"Maaf, sini kakak obati." Arsyad menarik jari Annisa dan melumatnya.


"Sudah sembuh, sekarang ganti pakaian biasa, kita bolos ngantor ya tiga hari, aku mau mengajaknya ke suatu tempat, dan siapkan pakaian ganti untuk tiga hari,"ucap Arsyad.


"Memang mau ke mana?"tanya Annisa.


"Nanti kamu tau, kakak mandi dulu." Arsyad mencium pipi Annisa yang masih terlihat bingung lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Apaan sih maksudnya. Mau ke mana coba? Ada-ada saja dia." Annisa berkata lirih sambil mengambil koper untuk menata baju gantinya.


Annisa juga mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai. Dia masih bertanya-tanya dalam hatinya dan masih bingung dengan apa yang suaminya katakan tadi.


Arsyad sudah selesai mandi, dia berjalan ke arah Annisa yang sedang sibuk menata baju di kopernya.


"Kak, sebenarnya kita mau ke mana?"tanya Annisa.


"Honeymoon,"jawabnya.


"Kakak, aku serius,"tanyanya dengan manja.


"Kakak serius, sayang, kita akan bulan madu,"ucapnya sambil memakai kaos yang sudah di ambilkan Annisa.


Arsyad meneliti baju ganti yang Annisa bawa, dia melihat tidak ada baju sexy yang di bawa Annisa. Arsyad melihat lemari pakaian, melihat baju-baju Annisa. Hanya beberapa dia miliki gaun sexy untuk tidur. Dia mengambilnya dan memberikannya pada Annisa. Entah kenapa Arsyad jadi seperfect itu mempersiapkan bulan madunya.


"Baju ini di bawa, Nis,"pinta Arsyad.


"Kak, untuk apa?"tanya Annisa.


"Kakak ingin lihat kamu pakai baju ini,"ucapnya.


Dengan terpaksa Annisa memasukan baju itu ke dalam kopernya. Mereka sudah siap, Arsyad keluar membawa kopernya. Rico juga sudah mengirimkan alamat vilanya pada Arsyad. Mereka berpamitan dengan Rico untuk pergi berbulan madu.


"Pah, kami berangkat dulu, ya,"pamit Arsyad.


"Iya hati-hati, nikmatai bulan madu kalian, papah dengan Shita di sini menjaga anak-anak, jadi kalian tidak usah khawatir,"ucap Rico.


"Iya, pah,"ucap Arsyad.


"Papah, maaf merepotkan papah,"ucap Annisa.


"Tidak apa-apa, kamu harus bahagia, jangan kecewakan papah, kalian harus memiliki anak lagi,"ucap Rico.


"Pasti pah," jawab Arsyad.


"Ingat pesan papah, Syad,"ucap Rico.


"Iya, papah. Papah sehat-sehat di rumah." Arsyad dan Annisa memeluk Rico dengan bergantian.


Mereka berangkat menuju vila, Arsyad mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mengobrol dengan Annisa.


"Kak, kita mau ke mana?"tanya Annisa.


"Vila,"jawab Arsyad.


"Vila milik ibu?"tanya Annisa.


"Milik Mamah Dinda,"jawab Arsyad.


"Aku tau, kita punya kenangan masa lalu di vila ibu, jadi aku tidak mau masa lalu itu mengganggu aktivitas kita, dan papah menyarankan kita ke vila mamah Dinda,"jelas Arsyad.


"Syukurlah, kalau kakak tau,"ucap Annisa.


Arsyad dan Annisa menikmati perjalanan yang melewati jalanan berliku dan nuansa sejuk dengan pemandangan hijau di sekitarnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


jangan lupa like dan votenya sayangkuh.


maaf baru bisa up lagi, kemarin benar-benar sedang tidak enak badan. semoga semakin suka dengan cerita ini.


__ADS_2