THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 8 "Tidak Usah Ngegas" The Best Brother


__ADS_3

"Ya Allah, sudah sore sekali, kemana Dio? Apa aku pulang pakai taksi saja? Aku sudah menunggu dia dari sehabis sholat dhuhur, dan ini aku selesai sholat ashar dia belum kembali juga? Ke mana dia sebenarnya? Apa dia menemui Najwa? Ehh…kok Najwa? Kenapa aku kepikiran nya ke Najwa? Tidak wanita lain?" Rania bertanya-tanya dalam hatinya.


Dia tidak berani menelepon Dio atau mengirim pesan pada Dio. Dia masih setia menunggu Dio berjam-jam di lobi hotel, tempat di mana dia menemui kliennya tadi.


Rania gusar menatap ponselnya, tidak ada kabar dari Dio sedikitpun. Dia juga bolak balik melihat jam di tangannya. Jam sudah menunjukan pukul 16.30 WIB, dan belum ada tanda-tanda Dio kembali menjemputnya


"Manusia batu ini ke mana, Ya Allah. Jika memang ada apa-apa di jalan, pasti orang rumah mengabari ku, jika tidak, lantas ke mana dia pergi?" Sebuah pertanyaan terus-menerus menghinggapi hati Rania.


Dia duduk lagi sambil memandangi dokumen yang ia bawa. Dia telah berhasil melakukan kerja sama dengan kliennya tadi. Rania menutup kembali dokumennya, dan melihat ke arah depan. Belum ada tanda-tanda Dio menjemputnya.


"Apa aku kirim pesan saja, kalau aku masih menunggu di lobi hotel?" gumam Rania.


Akhirnya Rania mengirimkan pesan pada Dio, memberitahukan dia kalau dia sudah menunggu di lobi hotel.


"Dio, aku menunggu di lobi hotel." ~Rania.


Dia meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Tiba-tiba ada seorang pria yang memanggil Rania, entah itu siapa. Rania menoleh ke arah suara pria itu.


"Evan?" Rania bangun dari tempat duduknya.


"Kamu di sini?" tanya Evan.


"Iya, sedang menunggu temanku, dari tadi belum menjemput," jawab Rania.


"Teman atau laki-laki yang kamu suka itu?" tanya Evan.


"Bukan urusan kamu, Evan!" tukas Rania.


"Maaf, jangan marah lagi, boleh aku duduk di sini?" tanya Evan dengan lembut.


"Silakan," ucap Rania dengan terpaksa.


"Kamu ada perlu apa di sini?" tanya Evan.


"Habis menemui klien," jawabnya singkat.


Evan dengan sabar mengajak Rania berbicara meskipun Rania menjawab dengan cuek. Tak lama kemudian ponsel Rania berbunyi, ada pesan masuk dan dia membukanya.


"Keluar, aku sudah di tempat parkir." ~Dio.


"Emang dasar manusia batu! Gak ada halus-halusnya kalau bicara," gumam Rania. Rania membalas pesan Dio.


"Y." ~Rania.


Hanya jawaban itu yang sekaligus mewakili rasa kesalnya dengan Dio.

__ADS_1


"Cepat! 30 detik dari sekarang!" ~Dio.


Rania mendengus kesal dengan balasan pesan Dio. Dia semakin kesal dengannya.


"Dia kira jarak lobi dengan tempat parkir 1 atau 2 meter? 30 detik udah sampai. Benar-benar kepala batu, tidak punya sopan-santun sedikitpun!" gumam Rania sambil bersiap- siap untuk keluar dari lobi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Evan.


"Pulang, temanku sudah menunggu di tempat parkir. Aku pulang dulu, Van." Rania langsung keluar dari lobi dan berjalan menuju ke tempat parkir dengan cepat.


Dia agak susah berjalan karena memakai heels. Dan terpaksa dia melepas heelsnya. Karena dia tidak mau mendengar ucapan yang pedas dari Dio. Napas Rania terengah-engah, berjalan setengah berlari dari lobi ke tempat parkir paling depan.


"Dia membuat aku menderita seperti ini, Ya Allah. Masih mending tempat parkir yang agak dekat dengan lobi. Ini jauh sekali di tempat parkir paling depan. Sial sekali hari ini," gumam Rania dengan kesal.


Rania sudah sampai di depan mobil Dio, dia melihat Dio yang sedang menunggunya di depan mobil dengan memasukan ke dua tangannya di dalam saku celananya.


"Aku bilang 30 detik! Kenapa hampir 3 menit sampainya?" bentak Dio sambil menajamkan matanya.


Rania tidak mau kalah dengan Dio, dia juga sedikit berbicara dengan nada tinggi pada Dio.


"Kamu kira jarak lobi ke sini 1 atau 2 meter, hah? Lihat, lobi sebelah sana! Dan aku juga tidak protes menunggu kamu dari jam 1 siang sampai jam 5 lebih." Rania terbawa oleh emosinya. Sudah lelah sekali berjalan, dan melepas heelsnya sampai agar bisa berlari dan cepat sampai ke mobil Dio, sekarang dia harus di bentak-bentak oleh Dio.


"Tidak usah ngegas, masuk!" titah Dio dengan nada kasar.


"Ya Allah, dia yang ngegas, aku yang kena semprot. Luluh Kan hati manusia batu ini, Ya Allah. Apa salahku di bentak-bentak gini. Kalau tidak mau jemput atau tidak mau mengantar, aku tidak masalah. Salah sendiri nurut apa kata Abah dan ayah," gumam Rania.


"Bilang apa kamu?" tukas Rania.


"Dasar tukang nguping!" ucap Dio.


"Pendengaran ku masih berfungsi dengan baik, Tuan Dio yang terhormat," ucap Rania dengan kesal.


"Jangan banyak bicara, atau aku turunkan kamu di tengah hutan!" ucapnya dengan keras hingga gendang telinga Rania sakit.


"Silakan saja turunkan," ucap Rania dengan ucapan datar.


"Iya, nanti aku turunkan kamu di tengah hutan," ucap Dio.


Rania hanya diam tidak berbicara apa-apa. Dia tahu laki-laki yang berada di sampingnya masih tidak enak hati dan terpaksa untuk mengantar dan menjemput dia.


Hari sudah mulai petang, perjalanan kala itu di selimuti kabut yang turun agak tebal di petang itu. Hawa dingin sudah mulai merasuk di sekitar tubuh Rania, walaupun AC mobil Dio sedikit ia kecilkan. Dio tiba-tiba mengehentikan mobilnya. Entah apa yang akan dia lakukan. Rania memandang wajah Dio yang masih terlihat menakutkan di matanya.


"Turun!" titah Dio.


"Ehh … benar, nih? Dia tidak bohong mau menurunkan aku di tengah hutan? Mana kabut tebal dan sudah petang lagi. Jalanan juga sepi. Ya Allah, teganya dia," gumam Rania dengan rasa takut.

__ADS_1


"Aku bilang turun, ya turun!" titah Dio dengan menajamkan matanya.


"Maksud kamu apa? Nyuruh aku turun di sini?" tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tidak merasa ban belakang oleng, hah?" tanya Dio dengan nada penuh penekanan.


Rania hanya menggelengkan kepalanya saja, karena dia benar-benar tidak merasakannya. Dia hanya merasakan sakit hati pada Dio, karena kata-kata dia terlalu menyakitkan. Rania dan Dio turun dari dalam mobil. Dio melihat ban belakangnya kempas. Dio menendang ban mobil ha dengan kasar. Dia marah sekali karana ada acara ban kempes.


"Sial! Pakai acara kempes bannya." Dio berkata dengan kasar dan menendang bannya.


Dio mengambil dongkrak dan ban serep di dalam mobil, dia bersiap mengganti ban mobilnya yang kempes itu. Rania hanya memandangi Dio yang sedang mengganti ban mobilnya. Hari semakin gelap, cuacanya mendung dan banyak sekali kilat yang menyambar. Dio belum selesai mengganti ban mobilnya.


Rania merasakan air dari langit berjatuhan di kepalanya. Ya, hujan mulai turun, jalanan sedikit sepi, tak banyak kendaraan yang lewat, hanya beberapa saja. Dio masih gusar dengan ban mobilnya. Hujan semakin deras, Dio juga belum selesai memasang bannya.


"Masuk ke dalam, ini hujan!" titah Dio dengan menajamkan matanya.


"Tapi kamu," ucapan Rania terhenti saat dia melihat mata dia semakin menajam.


Rania masuk ke dalam mobil, hujan semakin deras sekali, dia melihat dio masih gusar memasang ban. Rania mengambil payung yang ada di belakang jok. Dia keluar membawa payung dan memayungi Dio yang sedang memasang ban. Sayang sekali hanya ada 1 payung di dalam mobil Dio. Dia memayungi Dio, dan dia rela hujan-hujanan di samping Dio.


Dio sudah selesai memasang bannya. Mereka masuk ke dalam mobilnya. Dio melihat Rania basah kuyup hingga menggigil. Dio juga manusia yang mempunyai rasa peduli, walaupun dia kasar dengan Rania, dia juga ada sedikit rasa iba pada Rania.


"Pakai jasku, kamu kedinginan seperti itu." Dio mengambilkan jas miliknya yang selalu ia bawa di dalam mobil.


"Terima kasih," ucap Rania.


Dio mematikan AC mobilnya, karena dia juga merasakan dingin. Padahal dia tidak sebasah Rania badannya. Mereka terdiam lagi, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka hingga sampai di rumah Rania.


"Dio terima kasih," ucap Rania sambil turun dari mobil Dio.


"Iya, sama-sama. Sampaikan salam ku pada Om Reno dan Tante Ana, bilang aku tidak bisa mampir karena bajuku basah," ucap Dio.


"Iya, sekali lagi terima kasih," ucap Rania.


Dio segera melajukan mobilnya dengan cepat untuk pulang ke rumahnya. Rania berjalan masuk, dan dia baru menyadari jas milik Dio masih melekat menghangatkan tubuhnya.


"Eh, ini jasnya Dio? Yah dia sudah pergi. Biarlah, nanti aku cuci dulu," gumam Rania.


Rania masuk dengan di sambut ayah dan ibunya. Mereka khawatir hingga jam 8 malam mereka belum sampai rumah.


"Ya Allah, Nak. Kamu dari mana saja? Kamu basah kuyup seperti ini? Mana Dio?" tanya Reno.


"Maaf ayah, kami pulang terlambat. Dio juga menemui kliennya mendadak, lalu waktu kami pulang, ban mobil Dio kempes. Sewaktu Dio menggantinya hujan lebat. Aku terpaksa memayungi Dio, seperti ini jadinya. Dia juga basah kuyup, makanya langsung pulang," jelas Rania.


"Ya sudah, kalian bikin ayah dan Abah khawatir. Sekarang bersihkan badanmu," ucap Reno.

__ADS_1


"Iya ayah." Rania naik ke atas menuju kamarnya.


Rania menggantung jas Dio yang dari tadi menutupi tubuhnya. Dia memandangi jas milik Dio yang ia gantung dengan tersenyum.


__ADS_2