
Annisa terbangun karena merasa tubuhnya berat seperti tertindih sesuatu. Iya, tangan Arsyil masih memeluk erat tubuh Annisa. Annisa tersenyum melihat wajah Arsyil yang berada persis di depan wajahnya. Annisa mencium kening suaminya, mata Arsyil mengerjap karena merasa ada yang menciumnya.
"Pagi suami ku sayang." Annisa mencium kilas bibir Arsyil.
"Pagi Istriku yang cantik. Bagaimana tidurmu, nyaman?" Arsyil berkata sambil membelai wajah istrinya.
"Nyaman sekali, maafkan aku, Syil. Semalam harusnya aku,..."belum selesai Nisa berbicara, Arsyil mengecup bibir Annisa dengan mesra.
"Harus apa? Aku tau, kamu kelas sekali, bagaimana kakimu, masih sakit?" Arsyil bertanya sambil membelai kepala Annisa.
"Sudah tidak, kan sudah di pijat oleh tukang pijat spesial." Annisa tersenyum menggoda Arsyil.
"Kami bisa saja, sayang. Ayo, bangun terus sholat subuh." Arsyil mengajak istrinya untuk Sholat subuh bersama.
"Aku mau mandi, sekalian menyiapkan air hangat untuk mu, Syil." Annisa beranjak dari tempat tidurnya, dia langsung memasuki kamar mandi.
Sementara Arsyil masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia merindukan ibunya yang setiap pagi pasti mengetuk pintu kamarnya mengajak sholat bersama di rumah.
"Ibu, Arsyil merindukan ibu, baru semalam di rumah Nisa kenapa aku sangat merindukan ibu." Arsyil bergumam dalam hati. Dia meraih ponselnya untuk menelfon ibunya. Tapi, dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk di tempat tidurnya.
Annisa sudah selesai mandi, dia mendekati suaminya dan memberikan handuk suaminya untuk segera mandi karena sudah hampir jam 5 pagi.
"Mandilah, Syil. Ini handuknya, sudah aku siapkan air hangat juga di bak." Annisa memberikan handuk untuk suaminya. Arsyil langsung beranjak ke kamar mandi.
Annisa menyiapkan baju sholat untuk suaminya, dan mengambil mukenah miliknya. Annisa menunggu Arsyil keluar dari kamar mandi. Dia menata tempat tidur terlebih dahulu sambil menunggu Arsyil keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Arsyil mendekati istrinya dan memakai baju untuk sholat. Annisa tidak melihat suaminya yang sedang memakai baju, Arsyil yang melihatnya, dia hanya tersenyum. Dia tau istrinya malu melihat dia memakai baju di depannya.
"Aku sudah selesai, sayang. Sudah dong jangan menghadap ke sana terus." Arsyil mendekati istrinya yang masih membelakanginya.
Annisa menoleh ke arah Arsyil berdiri, Arsyil sudah memakai baju Koko dan sarung.
"Jangan melihat aku seperti itu, iya aku memang tampan. Ayo sholat, pakai mukenah mu, sayang."Arsyil menggelar sajadah untuknya dan untuk Annisa. Annisa hanya tersenyum Arsyil berkata seperti itu. Mereka melakukan sholat subuh bersama. Setelah selesai sholat subuh, Annisa menicium tangan Arsyil dan Arsyil mencium kening Annisa.
Annisa menata mukenah nya kembali, dan melipat sarung milik Arsyil juga menggantung baju milik Arsyil. Arsyil memakai kaosnya, dia mendekati istrinya yang sedang menguncir rambutnya di depan cermin. Dia memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang." Arsyil berkata lirih di telinga istrinya.
"Apa, Syil. Aku mau ke dapur dulu, mau memasak untuk sarapan kamu." Annisa membalikan badannya, Arsyil menatap dengan tatapan yang penuh arti. Iya, pagi ini Arsyil sudah merasakan hasratnya membuncah saat memeluk istrinya.
"Jangan keluar kamar dulu, sayang."ucap Arsyil.
"Lalu?"tanya Annisa. Arsyil mendekati Annisa, dia membelai bibir Nisa dengan lembut dan menciumnya kilas.
"Aku menginginkannya, Nisa."ucapnya lirih di telinga Nisa.
"Syil, tapi." ucapan Nisa terhenti, Arsyil langsung mencium kembali bibir Nisa. Nisa merasakan nyaman saat Arsyil menciumnya dengan lembut sekali. Hasrat mereka beradu, Annisa mulai menikmati setiap sentuhan lembut yang di berikan suaminya. Arsyil menggiring tubuh Annisa ke arah ranjang, dia merebahkan tubuh istrinya dan dia menindihnya.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah menanggalkan pakaiannya satu persatu.
"Syil, aku belum siap. aku takut."ucap Nisa dengan nafas yang tak beraturan.
"Nisa, jangan takut, aku akan melakukannya dengan lembut." Arsyil meyakinkan istrinya. Annisa hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya.
Annisa memekik kesakitan, tapi Arsyil masih saja melanjutkan aksinya.
Annisa sudah benar-benar menjadi milik Arsyil seutuhnya. Begitu juga Arsyil.
"Sayang, terima kasih, kamu sudah menyerahkan semuanya untukku."ucap Arsyil dengan memiringkan tubuhnya menghadap Nisa, dia mencium kening Annisa.
"Iya, Syil. sama-sama." Annisa memeluk erat Arsyil dan menenggelamkan wajahnya di dada Arsyil.
"Ayo mandi, bersihkan badan kita dulu, nanti aku bantu kamu memasak." Arsyil mengajak Annisa mandi, dia menggendong tubuh Annisa ke kamar mandi, karena Annisa kesakitan untuk berjalan. Mereka mandi bersama, setelah itu mereka kembali ke kamar. Arsyil menggendong tubuh Annisa, dia menurunkan Istrinya di pinggir ranjang Annisa melihat bercak darah di seprai nya.
"Syil, itu ada darah."ucap Nisa. Arsyil hanya tersenyum, dia menggulung seprai nya.
"Sudah ganti dengan yang baru saja. Biar aku cuci nanti."ucap Arsyil. Dia mengambilkan baju untuk istrinya.
"Pakailah, sayang. Nanti keburu dingin. "Arsyil memberikan baju untuk istrinya. Annisa memakai baju yang di ambilkan suaminya.
"Aku ke belakang dulu ya, mau bantu bibi masak." Annisa keluar dari kamarnya menuju dapur. Dia membuatkan teh hangat untuk suaminya terlebih dahulu. Dia membawa teh untuk semua suaminya ke dalam kamar.
"Sayang, ini tehnya."Annisa meletakan teh untuk suaminya di atas meja.
"Terima kasih, sayang." ucap Arsyil. Annisa tersenyum dan kembali ke dapur untuk membantu bibi memasak.
********
Almira menata sarapan paginya di meja makan. Tidak seperti biasanya dia memasak, padahal selama hamil dia lebih sering bermanja pada suaminya. Arsyad melihat Almira begitu aneh dari semalam.
__ADS_1
"Apa ini bawaan bayi yang ada di dalam perut Mira ya, kemarin dua minggu membuat aku begitu kerepotan sekali, manjanya bukan main. Dari semalam dia benar-benar menunjukan sikap dewasanya lagi, seperti pertama aku mengenalnya." Arsyad masih memandangi istrinya dari kejauhan. Almira sebenarnya sudah tau, kalau suaminya dari tadi memerhatikan dia yang sedang menata sarapan pagi. Almira tersenyum ke arah suaminya, dia mendekati suaminya dan mengajaknya untuk sarapan.
"Mas, kenapa dari tadi memandangiku seperti itu?"tanya Almira sambil mencium punggung tanam suaminya.
"Kamu terlihat sexi, sayang." Arsyad mulai menggoda istrinya.
"Kamu bisa saja, mas, Ayo sarapan, aku sudah masak kesukaanmu." Almira mengajak suaminya untuk sarapan pagi. Dia mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.
"Kamu tumben masak, sayang?"tanya Arsyad.
"Iya, kan biasanya seperti itu, mas. Tapi, tidak untuk kemarin, entah kenapa aku merasa malas sekali mau apa-apa. Sampai tau sendiri kan, mas, kemarin aku selalu merepotkan mu, membuatkan aku sarapan, menyuapi aku sebelum ke kantor. Hingga ke kantor pun aku membuntutimu." Almira membayangkan minggu kemarin dia benar-benar merepotkan semua orang.
"Wajar, sayang. Kamu kan sedang hamil, jadi hormon kamu tidak stabil, bersyukurlah, kamu tidak di beri mual, sakit, dan harus bedrest seperti wanita hamil lainnya, lihat Naura, mau makan pun susah, sampai dia terlihat kurus waktu hamil muda."jelas Arsyad.
"Tapi aku lebih suka kamu yang manja, seperti kemarin."imbuh Arsyad sambil menggoda istrinya.
"Hmmm...mulai menggoda, mas, sebisa mungkin aku tidak ingin terlalu merepotkan mas. Kalau aku bisa sendiri, kenapa aku harus bermanja dengan suami, iya kan?"ucap Almira.
"Iya juga sih, tapi tetap saja, aku lebih suka kamu yang manja dan selalu membutuhkan aku." Arsyad mencium kilas pipi Almira.
"Bukankah, aku sering bermanja denganmu, jika di ranjang." Almira menggoda suaminya. Dia membelai lembut pipi suaminya yang mengembang karena mengunyah makanan. Arsyad hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu manis sekali, dan pipinya semakin menggemaskan karena berubah menjadi chubby setelah hamil.
"Jangan menggodaku, nanti kalau setelah sarapan aku memakan kamu, bagaimana?" ucap Arsyad.
"Biarkan saja, aku suka." Almira malah menantang suaminya. Arsyad semakin gemas melihat istrinya yang seperti itu, dia mencubit pipi Almira dan menciumnya. Setelah selesai sarapan Arsyad bersiap-siap untuk ke kantor. Dia berpamitan dengan istrinya, Almira mencium tangan Arsyad dan Arsyad mencium kening Almira.
"Mas."panggil Mira saat Arsyad akan melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
"Apa, sayang." Arsyad menoleh ke arah istrinya, Aira tersenyum manis di hadapan suaminya.
"Katanya setelah sarapan mau memakanku."goda Almira.
"Isshh....jangan menggodaku, sudah aku berangkat ke kantor. Kasihan Rayhan sendirian di kantor, Arsyil kan masih libur satu Minggu. Nanti malam saja, oke." Arsyad membelai rambut istrinya yang masih tergerai.
"Kamu, suka sekali menggeraikan rambutmu, di kuncir dulu sana, apa mau aku kepangkan lagi rambutmu?"tanya Arsyad.
"Tidak usah, aku bisa sendiri, lagian masih agak basah, mas."ucap Mira
"Ya sudah, aku berangkat ya, kamu hati-hati di rumah, jaga diri baik-baik, jangan terlalu capek. Ingat ada anak kita di perutmu."ujar Arsyad.
"Iya, mas. kamu hati-hati ya." Almira mengantarkan suaminya ke depan, dia memerhatikan suaminya yang sudah masuk ke dalam mobil, Arsyad melambaikan tangan pada Mira dan Mira membalasnya. Mira memandangi mobil Arsyad yang sudah berlalu dan menghilang dari pandangannya.
********
"Kak, hari ini mungkin aku pulang agak sore, kamu jemput aku sehabis Maghrib saja tidak apa-apa?"tanya Shita.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga jam 4 sore mau menemui klien ku dulu, sayang."ucap Vino.
"Oke, ya sudah ayo kita berangkat, sudah lumayan siang ini kak."ucap Shita. Vino dan Shita keluar dari kamarnya, mereka berpamitan dengan Rico dan Andini.
Vino dan Shita sudah berada di dalam mobilnya, Vino memerhatikan wajah istrinya yang terlihat begitu cantik sekali memakai makeup natural.
Vino mencium pipi Shita kilas, Shita terkejut dengan apa yang Vino lakukan.
"Kak, sedang menyetir, fokuslah dulu."ucap Shita.
"Kamu cantik sekali hari ini, sayang." Vino memuji istrinya yang memang terlihat sangat cantik pagi ini.
"Memangnya biasanya tidak cantik?"tanya Shita dengan nada yang agak kesal
"Cantik, tapi kali ini sangat cantik."ucap Vino.
"Huh...pagi-pagi sudah gombal kamu, kak." Shita yang gemas dengan suaminya, dia mencubit pipi suaminya yang semakin tembem.
"Sakit sayang." Vino mengusap pipi yang dicubit istrinya.
"Habis, kamu gemesin, kak."ucap Shita sambil tersenyum.
"Ya sudah aku cium, biar sakitnya hilang." Shita mencium pipi Vino yang tadi di cubitnya.
Mereka sudah sampai di depan AR Caffe. Shita turun dari mobilnya, dan Vino juga ikut turun dari mobil. Shita berpamitan suaminya untuk bekerja.
"Kak, aku kerja dulu ya."pamit Shita.
"Iya sayang, kamu baik-baik ya? nanti aku kabari kalau akan menjemputmu."ucap Vino. Shita mencium tangan Vino, dan Vino mencium kening istrinya.
"Hati-hati, kak. Kalau sudah sampai, kabari aku."ucap Shita.
"Oke." Vino masuk ke dalam mobilnya, di segera melajukan mobilnya menuju ke kantor.
__ADS_1
******
Annisa dan Arsyil juga orang tua Annisa sedang menikmati sarapan pagi. Suasana di rumah Annisa sangat hangat pagi ini. Orang tuanya berkumpul di rumah, dan ada Arsyil juga yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Tidak seperti biasanya, Annisa sarapan dengan rambut yang tergerai. Papahnya melihat seperti agak berbeda pada putrinya.
"Nak, kenapa rambutmu tidak di kuncir?'tanya Papah Rizal.
"Masih agak basah, pah, kalau di kuncir kepala Annisa sakit."ucapnya.
"Papah, pura-pura tidak tau saja, lihat yang di sebelah Annisa siapa?"ucap Mamah Dewi.
"Arsyil lah mah, suami Nisa."
"Itu tau, rambut Nisa pagi-pagi basah masa papah tidak tau."
"Oh iya mah, papah lupa, kalau putri papah sudah ada yang menggangu nya kalau tidur." ucapan Papah Rizal membuat pipi Nisa dan Arsyil memerah karena malu.
"Papah, mamah, jangan seperti itu lah, kan papah dan mamah juga merasakan dulu."ucap Arsyil.
"Iya, iya. Oh...iya, kalian tidak pergi bulan madu?"tanya Papah Rizal.
"Rencana kami, bulan madunya akan ke Villa Arsyil, pah. Kami ke sana ingin memakai sepeda motor saja, ya itung-itung touring berdua."ucap Arsyil.
"Wah...seru itu, pah, ayo ikut mereka touring." pinta Mamah Dewi.
"Masa mau ganggu dia berbulan madu,mah."ucap Papah Rizal.
"Tidak apa-apa, biar ramai, kan di sana ada Villa yang lain, nanti mamah dan papah pakai Villa Kak Shita atau Kak Arsyad saja."ucap Arsyil.
"Iya mah, pah, ikut ya, biar ramai."imbuh Nisa.
"Bagaimana, pah?"tanya Mamah Dewi.
"Boleh, papah juga rindu touring. Baiklah, kita berangkat Minggu depan, oke." ujar Papah Rizal.
"Yeay....akhirnya kita touring bersama." Nisa begitu senang sekali, karena akan touring bersama-sama. Arsyil yang melihatnya begitu bahagia sekali.
Arsyil dan Annisa sudah selesai sarapannya, mereka kembali masuk ke dalam kamarnya, Arsyil mulai menggoda istrinya lagi, dan mereka kembali melakukannya pagi ini.
Arsyil masih menindih tubuh istrinya yang terkulai lemas, dia mencium kening istrinya berkali-kali.
"Sudah?"tanya Annisa.
"Sudah, apa kamu mau lagi?"Arsyil menggoda istrinya lagi.
"Kamu tidak lelah?"
"Tidak, kamu?" Annisa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum malu, dia menenggelamkan wajahnya di dada Arsyil.
Arsyil memulai lagi permainannya, Annisa kini sudah terbiasa dengan apa yang di lakukan suaminya, dia hanya bisa menikmatinya.
Mereka mencapai puncak bersama lagi untuk kedua kalinya. Arsyil merebahka tubuhnya di samping istrinya dan membelai lembut kepala Annisa.
Mereka membersihkan tubuhnya di kamar mandi, setelah itu mereka di sibukan oleh kado-kado yang masih ada di atas meja yang berada di pojok kamar Nisa. Annisa dan Arsyil membukanya satu-persatu. Annisa membuka sebuah kado kecil yang isinya benar-benar mengejutkan dirinya.
"Ih...apaan sih, masa ada yang ngasih ini, Syil." Annisa memberikan isi Kado tersebut pada suaminya. Arsyil hanya tertawa melihatnya.
"Semangat...! semoga cepat berhasil." Begitu tulisan yang ada di balik bungkus Testpack. Iya, itu kado dari teman-teman Arsyil.
"Dasar, selalu saja mereka seperti itu."ucap Arsyil.
Annisa tersenyum bersama Arsyil membaca tulisan yang ada di bungkus Testpack tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️