THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 49


__ADS_3

Annisa sudah berhasil melakukan sidang skripsinya, selesai sudah dia bergelut dengan buku-buku tebalnya. Begitu pula dengan Vera.


Annisa dan Vera sangat senang sekali, mereka berlari ke arah Rere sahabatnya yang sudah menunggunya di depan ruangan.


"Selamat tuan putriku, selamat Ver." mereka berpelukan sangat bahagian.


"Terima kasih Re." jawab mereka.


"Kita duduk di sana yuk." ajak Nisa.


Mereka duduk di bangku yang ada di depan ruangan.


Annisa dan kedua sahabatnya masih mengobrol dengan sedikit candaan.


"Nis, mau kemana kita hari ini?" Tanya Rere.


"Aku mau langsung pulang, papahku menjemputku hari ini. Mau mengajak aku membeli buku." jawab Nisa.


"Ahh..Nisa, gak asik banget beli buku lagi buku lagi. Ayolah kita ke Caffe."ajak Vera.


"Vera,Rere aku sudah janji sama papah, pumpung papah masih senggang waktunya, aku harus bisa memanfaatkan waktu dengan papah dan mamah sebelum mereka kembali sibuk."jelas Nisa.


"Ya sudah kalau begitu."jawab Rere.


Setelah mereka lama mengobrol Arsyad keluar dari ruangan dan melihat Annisa sedang bersama kedua sahabatnya. Arsyad berjalan ke arah mereka karena dia juga akan kembali keruangannya dan harus melewati mereka.


"Nisa, Vera,Rere kalian masih disini?" tanya Arsyad.


"Iya pak." jawab mereka bersama.


"Selamat ya buat Nisa dan Vera."ucap Arsyad.


"Iya pak, terima kasih ini semua juga berkat bimbingan dari Pak Arsyad."jawab Nisa.


"Iya sama-sama Nisa, ya sudah saya keruangan dulu, mari..."


Arsyad meninggalkan mereka ke ruangannya. Ada yang aneh dari Arsyad yang biasanya nampak sedikit bahagia saat bertemu Nisa namun saat ini dia terlihat ada Sesuatu yang mengganjal di hatinya.


♥Arsyad♥


Iya aku egois, aku masih menginginkan Nisa untuk aku miliki. Tapi, Nisa tidak mau membalas rasa ini. Memang sakit saat melihatnya apalagi menatap wajahnya. Semakin aku sering bertemu dia semakin sakit hati ini.


"Ya Allah, kuatkan hatiku untuk melalui ini semua."ucapku lirih.

__ADS_1


Aku kembali membaca novel milik Shita, iya novel ini Mira lah penulisnya. Aku semakin menyukai cerita novel yang sedang aku baca ini. Terkadang benar juga, mencintai seorang manusia yang tidak mencintai kita akan merasakan sakit yang amat dalam di hati.


Aku berniat ke toko buku untuk mencari buku Mira yang lainnya. Karena, setiap kali aku meminjam Shita dia terus berbicara padaku kalau aku mulai suka dengan Mira.


"Shita, kamu itu aneh, aku saja belum pernah berbicara lama dengannya, mengenal saja tanpa sengaja, mana mungkin kakak suka dengan Mira Ta." Kataku lirih sambil membaca novel.


Tak terasa sudah dua jam aku membaca novel ini, aku mengahiri membaca dan bersiap-siap untuk pulang. Aku berniat mampir ke toko buku saat nanti pulang.


Aku mencari buku karya Mira yang lainnya, aku mengambil tiga buku, iya itu semua kerya Mira. Entah kenapa sekarang aku suka dengan karyanya, bahasa dalam novelnya sangat mudah di fahami dan sangat menyentuh hati.


Aku sudah berada di kasir, aku membayar beberapa buku yang aku beli. Seorang laki-laki memanggilku ku saat aku membayar buku yang ku beli.


"Arsyad."


Aku menengok ke sumber suara tersebut, ternyata Om Rizal yang memanggilku, iya beliau adalah papahnya Annisa.


Aku berjalan ke arahnya dan membari salam pada Om Rizal.


"Selamat siang Om, Om Rizal dengan siapa om di sini?" Tanyaku.


"Siang Syad, itu Annisa, dia minta di antar om untuk membeli buku." Om Rizal menunjukan Annisa yang sedang memilih milih buku.


"Oh, cuma berdua saja om?


"Oh tidak Om, Arsyad mau langsung pulang saja, sepertinya Annisa juga sedang serius memilih buku. Salam buat Annisa om. Arsyad pamit pulang dulu ya om." Aku pamit dengan Om Rizal.


Sebenarnya aku ingin menghampiri Annisa. Tapi, aku takut jika sering bertemu dan bertatap muka dengannya membuatku semakin sulit untuk melupakannya.


"Maafkan aku Ya Allah, sungguh aku belum bisa menepiskan rasa ini. Aku masih ingin sekali memilikinya." Aku berkata lirih sambil berjalan menuju mobilku.


*******


Annisa sudah selesai membeli buku, dia sekarang sudah berada di dalam mobil dengan papahnya. Annisa langsung membaca novel yang baru saja dia beli.


"Nisa, tadi papah lihat Arsyad di toko buku."ucap Papah Rizal.


"Oh ya? Kok Nisa tidak lihat?"jawabnya sambil membaca buku.


"Dia sudah selesai membayar buku nya di kasir tadi, papah suruh nyamperin ke kamu tapi dia tidak mau, kalian tidak ada masalah kan?"


"Oh, seperti itu? Masalah apa pah? Aku sama Pak Arsyad hanya sebatas Dosen dan Mahasiswa saja pah, jadi masalahnya ya cuma di kampus saja. Dan, oh iya pah Alhamdulillah Annisa sudah lulus sidang skripsi pah."


"Alhamdulillah, selamat sayang. Ya barangkali kamu dengan dia ada sedikit masalah tentang hati kalian berdua."

__ADS_1


"Masalah tentang hati? Papah itu lucu, aku tidak pernah menyukai Pak Arsyad pah, walau semua wanita di kampus Nisa menyukai Pak Arsyad dan mengidolakannya. Iya sih kemarin Pak Arsyad bilang menyukai Annisa, tapi Annisa jawab yang sejujurnya pah. Mungkin karena itu Pak Arsyad menghindari Annisa."jelasnya.


"Yah, mungkin juga sayang, mana katanya mau ngenalin siapa pacarmu itu ke papah, nanti kalau Pak Arsyad meminang kamu duluan gimana?" ucap papah Rizal.


"Arsyil pah? Dia sedang sibuk pah, iya pasti nanti Nisa kenalin ke papah kok. Pah....jangan bilang seperti itu, Annisa tidak mau dengan Pak Arsyad pah, pah jangan jodohin Nisa dengan Pak Arsyad lho. Nisa gak mau." jelas Nisa sambil memonyongkan bibirnya.


"Nisa....papah cuma bercanda saja sayang, wajar sayang orang tua seperri itu, papah lihat Arsyad sudah mapan, dia Dosen, dan Punya perusahaan juga." ucap Papah Rizal.


"Pah, iya memang pah Pak Arsyad ibarat kata itu pria yang perfect pah, dia pintar mengaji, lulusan dari Al-Azahar Kairo, wanita mana yang tak mau pah menikah dengan Pak Arsyad, dia memang calon imam sempurna pah. Tapi bukan lelaki yang seperti itu yang Nisa inginkan, Arsyil juga tak kalah dengannya pah, dia punya usaha sendiri, sama wanita benar-benar menghargai, dan satu lagi pah, dia kalau mengaji bikin hati Nisa adem.....sekali pah." jelas Nisa.


Papah Nisa hanya senyum-senyum saja mendengar curhatan anak gadisnya.


"Papah, kok senyum- senyum saja?" tanya Nisa manja.


"Lalu anak gadis papah milih siapa? Arsyad atau Arsyil?" tanya Papah Rizal dengan menggoda Nisa.


"Papah, jelas Arsyil yang Nisa pilih." jawab Nisa dengan semangat.


"Semoga pilihan kamu yang terbaik nak, Papah dan Mamah hanya bisa mendo'akan yanh terbaik buat kamu." ucap Papah Rizal sambil membelai kepala Nisa.


Nisa dan papahnya mengobrol dan saling bertukar fikiran di dalam mobil, tidak terasa mereka sudah sampai di depan Butik untuk menjemput mamah Dewi yang dari tadi sudah menunggu di Butik.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥Happy Reading♥


Maafkan Author lama tidak update.


terima kasih yang masih setia menunggu.

__ADS_1


__ADS_2