
Mereka masuk ke dalam mobil, Dio duduk di samping Leon yang mengemudika mobil, dan Annisa dengan Shifa duduk di belakang. Leon memasangkan seat belt pada Dio, dan dia segera melajukan mobilnya ke toko perhiasan yang paling besar dan terkenal.
Tak lama kemudain mereka sampai di toko perhiasan, Leon mengajak mereka turun dari mobilnya. Leon mengajak mereka masuk ke dalam toko dan memilihkan cincin untuk pertunanagan mereka. Leon memilihkan cincin dengan model terbaru denga beetahtankan berlian untuk Annisa. Annisa hanya menuruti saja apa yang Leon inginkan, Annisa merasa sesak dadanya mengingat kenangan bersama Arsyil saat dia memberikan cincin kawinnya. Mata Annisa berkaca-kaca mengingat semua itu. Leon dari tadi memerhatikan Annisa yang diam dengan mata yang merah karena menahan air matanya.
"Aku tau, hati kamu sakit, Annisa, aku tau kamu masih sangat mencintai mendiang suami mu, maafkan aku, karena aku egois untuk memilikimu."gumam Leon.
"Nis, Nisa..." Leon mengagetkan Nisa yang melamun, Annisa dengan segera mengusap air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya.
"Ahh..iya Leon. Ada apa?"tanya Nisa.
"Kok ada apa? Ini cincinya bagus kan?"tanya Leon demahn menunjukan cincin yang cantik dengan bertahtakan berlian.
"Cantik sekali Leon."ucap Annisa dengan tersenyum manis.
"Boleh aku mencobanya."tanya Annisa.
"Iya, di coba saja, Nis."ucap Leon dengan mengambilkan cincin dari kotak cincinnya. Annisa mencobanya, dia melepaskan cincin tunangan dari Arsyil terlebih dahulu dan mencoba cincin dari Leon itu. Dia meletakan Cincin dari Arsyil di jari tengahnya. Karena di jari manis sebelah kanannya masih ada Cincin kawin dari Arsyil. Cincin dari Leon sangat pas sekali di jari manis Annisa, dan sangat cantik sekali.
"Bagus tidak?" Annisa menunjukannya pada Leon, Shifa dan Dio.
"Bagus, cantik."ucap Leon.
"Bagus sekali, bunda."ucap Dio.
"Wah…cantik sekali cincinya."ucap Shifa.
"Shifa mau?"tanya Leon.
"Mba ambilkan beberapa model untuk cincin anak seusia dia."ucap Leon pada pelayan.
"Baik pak."ucap pelayan itu. Pelanyan itu mengambilkan beberapa model cincin untuk Shifa.
"Coba Shifa, kamu pilih yang mana?" Leon memperlihatkan semua model cincin pada Shifa.
"Leon, tidak usah repot-repot membelikan cincin untuk Shifa."ucap Annisa.
"Iya, paman, tidak usah."ucap Shifa.
"Tidak, paman ingin membelikannya untukmu, coba ini, pasti cantik di pakai kamu." Leon mengbilkan cincin untuk Shifa dan memakaikannya di jari manis Shifa.
"Lihat, bagus kan?"tanya Leon.
"Iya bagus, paman, cantik sekali, tapi tidak usah repot-repot paman."ucap Shifa sambil melepas cincinnya.
"Mba, saya ambil ini dengan yang ini ya." Leon memberikan cincin Shifa dan cincin pertunangan mereka pada pelayan.
"Baik, pak. Tunggu sebentar saya buatkan nota."ucapnya.
Setelah milih cincin mereka menujunke sebuah butik terkenal di Berlin, Leon mengajak Annisa memilih gaun untuk pertunangannya. Mereka sudah sampai di depan butik, Leon mengajak semaunya turun dan masuk ke dalam butik. Mereka di sapa hangat oleh pemilik butik. Annisa diajak oleh pelayan dan pemilik butik untuk memilih gaun yang akan digunakan nanti saat pertunangannya. Annisa memilih gaun yang simple dan elegant, gaun itu dipilihkan oleh Dio.
"Bunda, ini saja ya, bagus sekali, pasti bunda cantik."ucap Dio.
"Iya, bunda. Ini cantik sekali gaunnya, pasti bunda anggun dan cantik memakai ini."imbuh Shifa.
"Paman, bagaimana? Bagus tidak gaun yang Dio pilihkan untuk bunda?"tanya Dio pada bunda.
"Bagus, cantik sekali, kamu jago sekali memilih baju untuk bundamu."ucap Leon.
"Semenjak Ayah mereka wafat, Dio lah yang selalu memerhatikan fashion ku setiap hari. Dia seperti ayahnya, sangat mirip sekali, wajah dan perlakuannya juga mirip. Dan satu lagi, dia juga jago gombal sama bundanya. Persis dengan ayahnya."tutur Annisa.
"Benarkah? Wah….paman harus belajar gombal nih sama Dio, biar bunda selalu tersenyum."ucap Leon.
"Paman bisa saja."ucap Dio.
"Kamu masih sangat kecil, tapi kamu sangat dewasa pemikirannya, Dio."gumam Leon dalam hati.
"Shifa, Dio, lihatlah, ini bagus tidak?"tanya Leon.
"Emmm…bagus, buat siapa paman?"tanya Shifa.
"Ini buat Shifa dan ini buat Dio." Leon memberikan baju untuk Dio dan Shifa. Dia juga memilih stelan jas, kemeja dan celana untuk nanti di gunakan pada acara pertunangannya.
"Leon, kamu tidak usajmh repot-repot membelikan Dio dan Shifa."ucap Annisa.
"Tidak apa-apa Nisa. Dia anakmu, nanti juga akan menjadi anakku."ucap Leon. Hati Annisa bagai tertusuk sembilu mendengar perkataan Leon tadi.
"Syil, maafkan aku, aku tidak bermaksud menggantikan kamu dengan yang lain, aku tidak bisa, Syil. Sungguh tidak bisa, tapi bagaimana lagi. Andai ada pilihan menikah dengan Leon atau mati, aku memilih untuk mati saja menanimu, Arsyil. Tapi lihat, anak kita, aku menjadi kuat untuk menjalani semua ini."gumam Annisa. Dia menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong. Tak terasa air matanya memenuhi sudut matanya, dan buliran air mata keluar dari sudut matanya. Annisa sadar dan merasakan basah di pipinya. Dia segera menyeka air matanyanya karena Leon melihat dia menangis. Leon sebenarnya tidak tega melihat Annisa seperti itu. Dia sadar, perbuatannya membuat hati Annisa sangat hancur.
__ADS_1
"Annisa, sudah selesai kan memilihnya?"tanya Leon.
"Iya, Leon sudah."jawab Nisa dengan menyunggingkan senyumannya.
"Kamu tidak mencoba gaunnya terlebih dahulu, Annisa?"tanya Leon.
"Iya akan aku coba, Leon."ucap Annisa. Annisa diantar pelayan ke kamar pas untuk mencoba gaunnya, dia semakin teringat Arsyil, dia teringat saat mencoba gaun untuk pernikahannya dengan Arsyil. Annisa semakin tidak kuat menahan air matanya, dia menangis di kamar pas saat mencoba gaun untuk pertunangannya nanti dengan Leon.
"Mba, mba baik-baik saja?"tanya salah satu pelayan dan pemilik butik.
"Tidak, mba. Saya tidak apa-apa."jawab Annisa. Mulutnya berkata tidak apa-apa, tapi hatinya meronta ingin berteriak dan berkata aku "sakit sekali". Annisa semakin menangis, hingga ia sesegukan menangis mengingat Arsyil.
"Mba, saya panggilkan Tuan Leon, ya?"tanya pemilik butik.
"Jangan, jangan panggil dia."ucap Annisa.
"Maaf mba. Bukan saya ikut campur dengan masalah pribadi mba, apa mba terpaksa menikah dengan Tuan Leon?"tanya pemilik butik .
"Aku hanya ingat dengan mendiang suamiku, saja."ucap Annisa.
"Oh..maaf, sudah tenangkan hati mba dulu, saya ambilkan air putih dulu."ucap pelayan butik. Pelayan butik keluar dari kamar pas, dan mengambilkan air putih untuk Annisa.
"Arsyil maafkan aku."ucap Annisa lirih dalam Isak tangisnya.
"Mba, sudah, jangan dipaksa kalau mba tidak ingin menikah lagi."ujar Pemilik butik.
"Iya, tapi itu tidak mungkin."jawab Annisa. Pelayan itu masuk ke kamar pas lagi, dan memberikan segelas air putih untuk Annisa. Annisa segera meneguk air putih yang di berikan pelayan butik.
"Terima kasih ya, mba. Maaf merepotkan. Maaf saya membuat anda khawatir."ucap Annisa.
"Tidak apa-apa, sekali lagi, jangan dipaksa kalau mba tidak menginginkan pernikahan ini."ucap pemilik butik
"Iya, mba, nanti akan aku pikirkan lagi."ucap Annisa. Annisa selesai memakai gaunnya, pemilik butik membantu Annisa mencoba gaunnya. Setelah selesai, Annisa keluar dari kamar pas, matanya terlihat sendu dan sembab.
"Bagaimana? Bagus tidak, tuan Leon?"tanya pemilik butik.
"Wah…bagus sekali, cantik sekali. Tapi, kenapa matamu sembab, Annisa?"tanya Leon.
"Ahh..tidak apa-apa Leon, lupakan mata sembabku. Bagaimana bagus tidak?"tanya Annisa.
Annisa kembali ke kamar pas, dia mengganti bajunya kembali. Dia memberikan gaun pilihan Dio pada pelayan butik agar membungkusnya. Annisa keluar dari kamar pas, dia melihat Leon yang masih duduk di sofa dengan tatapan kosong seperti memikirkan sesuatu. Leon dari tadi memikirkan mata Annisa yang sembab saat mencoab gaunnya. Dia tau, Annisa pasti mengingat mendiang suaminya lagi.
"Annisa, begitu kuat sekali rasa cintamu untuk mendiang suamimu, aku tau hati kamu hancur, Annisa, aku tau itu. Tapi aku mencintaimu Annisa. Apa aku egois dengan semua ini? Apa aku harus rela melepasmu, Annisa. Aku tidak tega melihat kamu tersiksa seperti ini."gumam Leon dalam hati.
"Leon…Leon…" Annisa menepuk bahu Leon yang dari tadi di panggilnya tapi tidak menyahut.
"Ahh…iya, Annisa. Maaf aku melamun."ucap Leon.
"Melamun siapa?"tanya Annisa.
"Tidak melamun siapa-siapa. Itu lihat Dio dan Shifa saja dari tadi mondar-mandir melihat-lihat baju."ucap Leon.
"Tidak bohong?"tanya Annisa.
"Tidak."ucap Leon.
"Sudah kan, aku bayar bajunya, lalu kita makan siang, setelah makan siang kita cari es krim."ucap Leon.
"Kak Mira."tiba-tiba Annisa menyebutkan nama Almira, saat mendengar kata-kata es krim. Dia juga merasa detak jantung yang sangat cepat, seperti akan ada sesuatu. Detak jantung itu semakin cepat, dia meremas bajunya dan mengeluarkan air matanya, dia sungguh ingin bertemu Almira saat itu juga.
"Kak Mira? Siapa Kak Mira?"tanya Leon. Namun pertanyaannya tak di tanggapi Annisa. Annisa menangis hingga sesegukan.
"Annisa, Annisa…kamu kenapa?"tanya Leon. Annisa sadar karena telah menangis, dia menghapus air matanya dan menenangkan dirinya.
"Maaf Leon, aku ingat kakak ipar ku."ucap Annisa.
"Kakak ipar?"tanya Leon.
"Iya, kak Mira, istri kakak iparku, dia istri dari kakak suamiku, dia sedang sakit keras, gagal ginjal, dan aku tiba-tiba mengingatnya."ucap Annisa.
"Kamu tidak meneleponnya saja?"tanya Leon.
"Tidak, nanti akan aku hubungi di rumah saja."ucap Annisa.
Mereka keluar dari butik setelah selesai membeli gaun untuk Annisa dan baju untuk Dio dan Shifa. Leon melajukan mobilnya menuju restoran untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, seperti janji Leon pada Shifa dan Dio, dia membelokan mobilnya ke kedai es krim. Shifa dan Dio langsung turun dan berlari masuk ke dalam kedai, mereka menarik Leon juga agar segera masuk ke kedai es krim
"Leon terlalu baik dengan anak-anakku, hingga dia lupa kalau dia juga tidak suka dengan Leon."gumam Annisa yang melihat mereka memilih es krim.
__ADS_1
"Bunda….tidak memilih es krim?"tanya Dio dari kejauhan.
"Iya, sebentar."ucap Annisa, dia mendekati Leon, Dio dan Shifa.
Mereja sudah memilih es krim, Leon memilih di bungkus es krimnya, dan dia memakan es krimnya di taman dekat dengan kedai es krim.
"Kita makan di sana saja ya?"tanya Leon pada Dio.
"Iya, paman."ucap Dio.
Mereka berjalan ke taman yang dekat dengan kedai es krim. Dio dan Shifa memilih makan es krim dia ayunan yang ada di taman tersebut. Annisa duduk bersebelahan dengan Leon. Mata Annisa menatap ke segala arah dengan tatapan kosong, dia kembali teringat Arsyil. Di saat hari-hari menjelang pertunangannya, dia sering mengingat Arsyil. Leon melihat Annisa yang sedang melamun dan dan matanya menatap ke segala arah dengan tatapan kosong. Leon menyentuh bahu Annisa, Annisa terjingakat kaget karena Leon menyadarkan lamunannya.
"Apa yang di pikirkan?"tanya Leon. Annisa tidak menjawab dan hanya menundukan kepalanya.
"Kamu ingat mendinang suamimu?"tanya Leon
"Iya, aku mengkhianatinya Leon."jawab Annisa tanpa sadar.
"Maafkan aku, aku memaksa kamu menerima ku."ucap Leon.
"Kalau kamu belum siap kita bisa undur pertunangan kitaz hingga kamu siap."imbuh Leon.
"Sampai kapanpun aku tak pernah siap, Leon. Maaf aku berkata seperti ini."ucap Annisa.
"Iya, aku tau perasaanmu, Annisa." ucap Leon.
"Kalau tau, kenapa memaksaku, kenapa kamu menghancurkan hatiku, Leon."gumam Annisa.
"Annisa , maafkan aku, aku mencintaimu, aku ingin memilikimu, aku tau, aku egois Annisa. Maafkan aku."gumam Leon dalam hati.
"Annisa, aku akan mengundur pertunanagan ini, jika kamu belum siap."ucap Leon.
"Mau di undur sampai tahun depanpun, kita akan tunangan kan? Karena itu mau kamu, dan tidak mungkin aku menolaknya, karena perusahaan adalah taruhannya. Bukankah begitu, Leon?"ucap Annisa dengan sinis. Leon hanya terdiam mendengar perkataan Leon.
"Pernikahan yang akan kita jalani nanti adalah pernikahan bisnis, jadi jangan harap akan ada hati dan cinta, Leon. Karena tidak akan pernah."ucap Annisa.
"Bukankah dulu kamu dengan suamimu juga menikah karena bisnis, dan karena keluarga kalian menjalin kerjasama."ucap Leon.
"Dengar Leon, aku dan Arsyil pacaran sebelum orang tua kami mengenal dan saling kerjasama. Pernikahanku murni karena saling mencintai satu sama lain."tukas Annisa
"Maaf aku tidak tau, aku tadi dari…."ucapan Leon terhenrti karena Annisa memotong pembicaraannya.
"Dari paman Diki kan? Dia memang taunya seperti itu, lama Diki salah besar berkata seperti itu."ucap Annisa.
"Aku ingin pulang."Annisa meminta pulang pada Leon.
"Aku akan panggil anak-anak."jawab Leon.
Leon memanggil Dio dan Shifa, mereka akhirnya pulang ke rumah, dari tadi Leon dan Annisa hanya terdiam, Leon merasa bersalah sekali berkata seperti itu, dan dia sadar apa yang dia lakukan kemarin, ternyata dia salah, bukan seperti itu cara mendapatkan hati Annisa.
"Mau di ancam seperti apapun, hati kamu tetap untuk suami kamu, Annisa. Maafkan aku, aku salah, mengancam menghancurkan perusahaan mu. Sepertinya aku harus mencari tau banyak tentang kamu, dan mungkin, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah mencintai laki-laki lain selain suamimu."gumam Leon dalam hati.
Leon sudah sampai di depan rumah Annisa, dia hanya mengantarkan Annisa saja, dan tidak ikut masuk ke dalam rumah. Leon langsung berpamitan pada Annisa untuk pulang.
Leon terus memikirkan Annisa, dia semakin merasa bersalah pada Annisa, tak seharusnya dia mengancam Annisa. Bayang-bayang Annisa masih jelas di depan matanya. Berkali-kali dia melihat Annisa meneteskan air matanya saat dia memilih cincin, gaun dan saat makan es krim. Dia tau kalau hati Annisa sangat sakit sekali. Leon memikirkan kembali, mau melanjutkan bertunangan dengan Annisa atau diundur jadwal pertunanangannya dengan Annisa.
"Aku harus bagaimana, aku mencintai Annisa, tapi dia tidak akan pernah bisa membalas cintaku, aku baru merasakan sakitnya mencintai orang tanpa balasan. Iya, aku harus mengundurkan hari pertunangan ku, aku tidak mau melihat Annisa terus menangis seperti itu."gumam Leon.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1