
Suara ponsel Annisa berbunyi, dia melihat ada panggilan Video masuk. Senyum Annisa mengembang seketika melihat nama kontak yang memanggilnya via Video call. Iya, Arsyad yang meneleponnya. Annisa langsung mengangkat panggilan Video Arsyad dan mengarahkan wajah manisnya ke arah layar ponselnya.
"Assalamualaikum Sayang, aku sudah di kantor,"ucap Asyad dalam layar ponsel Annisa.
"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah,"jawab Annisa.
"Aku rindu…."ucap Annisa manja.
"Baru di tinggal sebentar sudah merindu seperti ini?"tanya Arsyad.
"Iya, kakak…." jawab Annisa denahn senyuman manja.
"Jangan seperti itu, nanti aku balik lagi ke kantormu tidak jadi kerja,"ucap Arsyad.
"Ya sudah, kakak kerja yang semangat, nanti sore kan bertemu lagi, sayang,"ucap Annisa.
"Hmmm…kamu juga, jangan memikirkan sesuatu yang membuat kamu gelisah,"ucap Arsyad.
"Aku cuma mikirin kakak saja,"sahut Annisa.
"Kamu bisa saja, ya sudah kakak lanjutkan bekerja dulu, kamu baik-baik di kantor,"ucap Arsyad.
"Oke, kakak juga, Love You,"
"Love You too, sayang,"
Arsyad mengakhiri panggilan Videonya dengan Annisa. Annisa meletakan ponselnya kembali, dia melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk. Seperti mendapat amunisi setelah melihat wajah suaminya walaupun dari balik layar ponselnya.
"Aku tak tau, aku jadi se bucin ini, benar kata Rere. Ahh…biarlah, mungkin ini cara Tuhan menyatukan cinta yang dulu sempat tertunda. Dulu aku menolah Kak Arsyad, sekarang aku benar-benar membutuhkannya. Dan, aku sangat takut kehilangannya. Jaga selalu suamiku di luar sana, Ya Allah. Aku sangat mencintainya," gumam Annisa.
Annisa berhadapan lagi dengan laptopnya. Dia sedikit menoleh ke arah meja, Annisa melihat bingkai foto yang menampakan Foto Arsyil dan dirinya di meja kerjanya. Annisa mengambil foto itu dan menciumnya sambil memejamkan matanya.
"Syil, apa ini cara kamu agar aku bersatu dengan orang yang sanga kamu sayangi, yaitu Kak Arsyad. Syil, kamu tau, aku sangat bahagia hidup dengan kakak kamu. Aku merasakan kamu hidup kembali di diri Kak Arsyad, hanya saja, maaf, Kak Arsyad lebih agresif. Syil, aku merindukanmu, aku ingin memelukmu, terima kasih kamu membuat indah hidupku dari pertama bertemu hingga sekarang kamu pergi ke surga meninggalkan aku. Aku selalu mencintaimu, cintamu akan ku simpan di relung hatiku yang paling dalam, Syil," gumam Annisa.
Tak terasa air mata Annisa menetes membasahi pipi, mengingat semua tentang Arsyil dari awal dia bertemu dan hingga akhir hidup Arsyil. Annisa memeluk foto Arsyil, dia memejamkan matanya cukup lama, mengingat apa yang telah di lalu bersama mendiang suaminya.
"Mungkin harus aku taruh foto satu lagi. Iya,fotomu dengan Kak Arsyad, nanti aku akan membeli bingkainya dan mencetak foto ku bersama Kak Arsyad,"gumam Annisa.
^^^^^^
Di kantor Arsyad sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia mulai membuka komputernya, terlihta foto Almira dan dirinya di layar komputer miliknya. Arsyad tersenyum melihat foto almarhumah istrinya. Almira wanita yang membuat dirinya dulu cepat melupakan cintanya pada Annisa. Dan membuat dia mencintai Annisa kembali, walaupun lama sekali dia bisa mencintai kembali Annisa.
"Sayang, kamu tau? Kamu yang membuat aku cepat melupakan cinta untuk Annisa dulu, saat kamu hadir di kehidupanku. Dan, kamu juga yang membuat aku bersatu kembali dengan Annisa, meski sulit aku kembali mencintainya. Terima kasih, sayang. Kamu mengembalikan warna dalam hidupku lagi setelah kamu pergi memberi kesan abu-abu dalam hidupku selama dua tahun lamanya,"
"Kamu tenang di surga, sayang. Cinta untukmu tetap ada dan selalu ada di hatiku, aku simpan di dalam paling hatiku yang terdalam. Semoga kamu bahagia di sana, seperti aku yang bahagia di sini dengan Annisa,"gumam Arsyad.
Arsyad mengganti foto di layar komputernya dengan Foto Annisa dan dirinya. Bukan untuk melupakan Almira, tapi itu semua karena dia tidak mau terlalu masuk ke dalam masa lalu nya lagi. Memang sulit sekali bagi Arsyad tidak mengingat Almira, setiap detik pasti Arsyad masih ingat dengan Almira. Walau hanya sekedar ingat saja, dan sekedar terlintas di pikirannya. Mungkin itu semua masih berada di tahap normal, selama dia tak mengabaikan Annisa dalam hidupnya yang baru.
Rayhan masuk ke dalam ruangan Arsyad dan sedikit membuat Arsyad terjingkat dari temapat duduknya. Memang Rayhan suka seperti itu saat masuk ke ruangan Arsyad. Dia tidak mengetuk pintu dulu, tapi langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan Arsyad.
"Ray, kamu suka sekali mengagetkanku,"ucap Arsyad sambil memandang Rayhan yang menarik kursi di hadapan Arsyad.
"Ahh…maaf, makanya jangan melamun,"ucap Rayhan.
"Siapa yang melamun, aku sedang kerja, ngawur aja ngelamun," ucap Arsyad.
"Kali aja melamun, ingat kejadian di Vila kemarin. Gimana rasanya?" ledek Rayhan.
"Rasanya? Rasanya manis,"ucap Arsyad sambil tersenyum.
"Sekarang saja kamu bilang manis, kemarin ke mana saja!"tukas Rayhan.
"Namanya juga penyesuaian, Ray,"ucap Arsyad.
"Penyesuaian kok lama sekali, sampai berbulan-bulan,"ucap Rayhan.
"Ya, seperti itu, gimana urusan Lintang? Kapan kita menemui pihak bank yang menyita tempat usaha Lintang?"tanya Arsyad.
"Ini aku mau bicara soal itu, Syad. Jadi, pihak bank mau bertemu nanti siang, kami ada waktu?"tanya Rayhan.
"Oke, nanti siang, kamu ikut kan?" Arsyad kembali bertanya pada Rayhan.
"Ikut, lah. Aku takut Lintang macam-macam dengan kamu, buat jaga-jaga saja, sih. Kan kalau berdua yang ketiganya setan, Syad. Jadi, biar aku jadi setannya saja,"ucap Rayhan.
"Pantas juga sih, kamu jadi setan. Sukanya ngagetin aku terus. Ya sudah kamu siapkan saja apa yang harus di persiapkan saat menemui pihak bank. Biar aku selesaikan pekerjaanku dulu," tutur Arsyad.
"Oke. Oh iya, Syad. Proyek yang di luar kota itu harus segera kita tangani, sepertinya kita harus ke luar kota untuk beberapa hari,"ucap Rayhan.
"Jangan minggu ini, paman Diki akan datang bersama anak-anaknya, juga Leon,"ucap Arsyad.
"Leon? Wah….sepertinya akan ada drama ini, sang mantan datang," ledek Rayhan.
"Itu dia, masa iya, aku akan ninggalin Annisa dengan posisi ada Leon di rumah,"ucap Arsyad.
"Gak, aku gak mau!"tukas Arsyad.
"Cie…sepertinya ada bau-bau hati terbakar cemburu, nih...."ledek Rayhan lagi.
"Bagaimana tidak cemburu, istrinya di panggil pria yang dulu mencintainya dengan panggilan Sweet Mom,"ungkap Arsyad.
"Sweet Mom? Memang Annisa manis, kan?" Rayhan semakin meledek saudara sepupunya.
"Memang manis sekali, Ray, tapi aku cemburu sekali, Ray. Anh sudah lah, sana kamu kembali ke ruangan. Aku selesaikan dulu semua pekerjaan ini. Setelah jam makan siang, kita bertemu pihak bank," tutur Arsyad.
"Siap, boss!"ucap Rayhan.
__ADS_1
Rayhan keluar dari ruangan Arsyad. Dia kembali ke ruangannya. Rayhan menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri mengingat Arsyad yang sekarang semakin bucin sekali karena istrinya. Apalagi saat dia bicara soal Leon. Dia terlihat benar-benar cemburu sekali.
"Huh, kemarin saja dia nolak, gak bisa cinta Annisa. Giliran sudah tau rasanya, ada yang bilang sweet mom sama Nisa saja sudah memerah wajahnya karena cemburu. Emang manusia satu itu, manusia super labil kalau menurutku. Ya semoga saja, Arsyad dan Annisa akan langgeng sampai kakek-nenek. Mereka juga pasangan yang cocok sekali menurutku," gumam Rayhan.
Rayhan dari tadi senyum-senyum sendiri karena mengingat wajah Arsyad saat cemburu dengan Leon. Hingga Yulia heran melihat Rayhan yang senyam-senyum sendiri setelah keluar dari ruangan Arsyad.
"Kenapa itu orang, senyum-senyum sendiri," gumam Yulia.
"Pak Ray, sepertinya bahagia sekali baru keluar dari ruangan Pak Arsyad?"tanya Yulia pada Rayhan saat Rayhan melintasi meja kerja Yulia.
"Bukan bahagia, tapi lucu. Eh…bahagia juga, sih,"ucap Rayhan sambil berdiri didm depan meja Yulia.
"Lucu? Apa yang lucu?"tanya Yulia.
"Itu bos kamu, lagi cemburu sama istrinya, wajahnya lucu," jawab Rayhan.
"Maklum lah, pak. Mereka kan baru saja pulang bulan madu, ya pantas dikit-dikit cemburu, pak,"ucap Yulia.
"Ya, memang seperti itu. Ya sudah, lanjutkan kerjamu, aku juga mau melanjutkan kerajaanku lagi." Rayhan berjalan menuju ruangannya.
^^^^^
Arsyad memberitahu Annisa kalau hari ini dia akan pergi menemui pihak bank bersama Lintang dan Rayhan, untuk mengurus tempat usaha Lintang yang di sita oleh pihak bank. Dia mengirim pesan untuk Annisa. Sebenarnya Arsyad ingin mengajak Annisa. Namun, karena Annisa hari ini ada meeting dengan klien, dia tidak jadi mengajaknya.
"Sayang, setelah makan siang nanti, aku dan Rayhan juga Lintang akan menemui pihak bank yang menyita tempat usaha Lintang, boleh, kan?" ~Arsyad.
Annisa belum membalas pesan Arsyad. Arsyad tau, dia pasti sangat sibuk karena baru pertama kali berangkat kerja. Arsyad menunggu balasan pesan dari Annisa sambil menyelesaikan pekerjaannya. Arsyad mendengar bunyinnitofikasi pesan di ponselnya, dia langsung meraih ponselnya dan membukanya. Setelah setengah jam menunggu akhirnya Annisa membalas pesan darinya.
"Maaf sayang, aku sibuk sekali. Iya, boleh. Kamu hati-hati ya? Aku sayang kamu," ~Annisa.
"Iya, gak apa-apa, kamu gak mau ikut? Aku juga sayang kamu, Annisa." ~Arsyad.
"Aku akan menemui klien, sayang. Kamu sama Rayhan saja," ~Annisa.
"Oke, aku habis makan siang berangkat dengan Rayhan dan juga Lintang," ~Arsyad.
"Jaga jarak ya, sama Lintang?" ~Annisa.
"Itu pasti. Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu, jangan lupa makan siang, Love You," ~Arsyad.
"Oke. Kakak juga jangan lupa makan siang. Love You too," ~Annisa.
Arsyad sudah lega mendapat balasan dari Annisa. Jam istirahat pun tiba, Arsyad akan bersiap untuk sholat dan makan siang. Namun, saat Arsyad akan keluar dari ruangannya, Lintang masuk ke dalam ruangan Arsyad dengan membawa beberapa dokumen.
"Maaf, mengganggu, pak. Ini dokumen yang Pak Arsyad butuhkan." Lintang meletakan dokumen yang di minta Arsyad tadi di meja kerja Arsyad.
"Oh, iya terima kasih. Lintang, nanti sehabis makan siang kita menemui pihak bank, aku mau usaha ayah kamu berjalan lagi seperti dulu," ucap Arsyad.
"Emmm…baik pak, terima kasih untuk semuanya, pak,"ucap Lintang dengan menundukan kepalanya.
"Baik, pak." Lintang keluar dari ruangan Arsyad.
Lintang merasa senang sekali, dia akan pergi bersama Arsyad siang ini setelah makan siang,dia tidak tau, kalau Rayhan akan ikut bersamanya. Lintang bergegas masuk ke dalam ruangannya. Jantung nyaasih bedegup kencang, wajah Arsyad masih terbayang di lensa matanya.
"Aku mau pergi dengan Pak Arsyad siang ini? Aku tidak percaya, akhirnya aku akan pergi berdua dengan Pak Arsyad. Jantungku, kenapa masih berdegup sekencang ini? Tenang, Lintang, tenang. Walaupun dia suami orang, kamu juga setidaknya bahagia, karena Pak Arsyad mau pergi dengan mu, apalagi mau membantu melunasi hutang-hutangmu,"gumam Lintang.
"Ahhh…tidak, aku sudah janji dengan Pak Arsyad untuk menjadi wanita baik, dan aku juga ingat pesan Ayah, ayah selalu melarang aku mengambil hak orang lain, seperti dulu, aku ingin sekali mempertahankan rumah ibu di desanya yang di rebut oleh semua saudara ibu,"ucap Lintang lirih.
Lintang bersiap untuk ke masjid dan melaksanakan sholat dhuhur, seusai sholat dia ke kantin untuk makan siang. Lintang melihat Yulia yang makan di kantin. Lintang merasa heran, tidak biasanya Yulia makan di kantin, biasanya ibu dua anak itu selalu membawa bekal makan siang dari rumahnya. Lintang berjalan menuju meja Yulia dengan membawa nampan yang berisi pesanannya.
"Mba, boleh aku gabung di sini?"tanya Lintang.
"Iya, boleh," jawab Yulia dengan ramah.
"Mba tumben makan di kantin?"tanya Lintang.
"Aku kesiangan, lupa bibi tidak datang, jadi tidak masak, dan sarapan seadannya,"jawab Yulia.
Mereka sudah semakin akrab, dan setelah dari kantin Lintang kembali ke ruangannya. Dia bersiap-siap untuk pergi bersama Arsyad menemui pihak bank yang menyita temaot usaha ayah Lintang.
Arsyad keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Lintang, memasatikan dia sudah siap atau belum. Lintang dengan bergegas mengambil tas saat Arsyad memanggilnya di ambang pintu ruangannya.
"Kamu sudah siap?"tanya Arsyad.
"Ah…sudah, pak, sebentar saya ambil tas dulu, pak," jawab Lintang.
"Ya sudah, aku tunggu di luar,"ucap Arsyad.
Arsyad hanya bicara di balik pintu ruangan Lintang, tidak masuk ke dalam ruangannya. Arsyad juga menunggu Rayhan yang sedang menyiapkan beberapa dokumen yang di butuhkan untuk menemui pihak bank.
Lintang keluar dari ruangannya, melihat Arsyad yang sedang mengobrol asik dengan Yulia. Arsyad sekarang semakin enak di ajak bercanda, tidak seperti dulu saat dia belum menikah dan saat bersama Almira. Dia bicara dengan karyawan selain Rayhan saja seperlunya, tidak seperti sekarang, dia dengan Yulia juga bisa sedikit bercanda.
"Pak, saya sudah siap,"ucap Lintang.
"Oh, ya. Sebentar nunggu Rayhan, dia sedang menyiapkan semua dokumen yang harus di bawa,"ucap Arsyad.
"Oke," jawab Lintang.
Rayhan keluar dari ruangannya, dia membawa map dan berjalan ke arah Arsyad dan Lintang yang sudah menunggunya.
"Sudah, Ray?"tanya Arsyad.
"Sudah," jawabnya.
"Ayo, Ray kita berangkat, kamu sudah menghubungi pihak bank, kan?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Sudah, ayo berangkat. Pakai mobil siapa?"tanya Rayhan.
"Pakai mobil saya, dengan pengawal saya juga,"ucap Arsyad.
"Oke, sudah seperti Raja Arab Saudi saja kamu, Syad. Di kawal mau ke mana-mana,"ucap Rayhan.
"Demi keamanan," jawab Arsyad.
"Lalu, Annisa? Kan pengawalnya ikut kamu?"tanya Rayhan.
"Ada, aku tingga di kantor Annisa satu orang," jawab Arsyad.
"Emm..Pak Rayhan ikut?"tanya Lintang.
"Iya, saya ikut. Kan memang saya yang mengurusnya dari kemarin, Lin," jawab Rayhan.
"Oh…" Lintang hanya ber oh saja.
"Aku kira hanya aku dan Pak Arsyad. Ahhh…sudahlah, yang penting usaha ayah bisa kembali seperti semula,"gumam Lintang.
Mereka berangkat dengan menemui pihak bank. Lintang duduk di sebelah pengawal sekaligus sopir Arsyad. Arsyad dan Rayhan duduk di jok belakang sambil sedikit bercanda seperti biasanya
^^^^^^^
Sore harinya, Arsyad sudah kembali ke kantor. Urusan dengan pihak bank, sudah selesai. Dan, sekarang usaha Lintang sudah kembali di tangannya. Arsyad lega sekali, karena sebentar lagi Lintang akan kembali mengurus usaha ayahnya.
"Aku sedikit tenang, Annisa tidak cemburu lagi, dan sekarang hanya Farina. Aku takut, dia datang lagi dan mengusik rumah tanggaku," gumam Arsyad.
Arsyad kembali menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang. Pintu ruangan Arsyad terbuka dan menampakan seorang yang ia rindukan walaupun sehari saja dia tak bertemu. Annisa tersenyum di ambang pintu ruangan Arsyad. Arsyad berdiri dan berjalan mendekatinya. Seperti mimpi istrinya datang ke kantornya.
"Annisa, kamu ke sini?"tanya Arsyad
"Iya, aku sudah selesai di kantor, dari pada aku nunggu kakak, aku ke sini saja," jawab Annisa dengan menutup pintu ruangan Arsyad.
Annisa berlari kecil dan langsung memeluk suaminya. Dia benar-benar merasa rindu sekali dengan suaminya.
"Kangen….."ucap Annisa manja dengan memeluk erat suaminya dan mendengus aroma tubuh suamiany yang menjadi candu.
"Kakak juga kangen, coba kakak lihat wajah cantikmu." Arsyad mengangkat wajah Annisa dan memandang lekat wajah istrinya.
Arsyad mendaratkan ciuman mesra di bibir Annisa dan kening Annisa. Annisa mengusap wajah suaminya, dia benar-benar sangat merindukan suaminya, baru saja 8 jam tidak bertemu, sepertinya rindu sudah memenuhi diri Annisa.
Arsyad mendaratkan bibirnya ke bibir Annisa, dengan lembut Arsyad mencium bibir Annisa, ciuman mereka semakin dalam, hingga kecapan sedikit terdengar di ruangan Arsyad karena lidah mereka beradu lembut.
"Hmmmpp…"leguh Annisa lirih, yang membuat Arsyad semakin semangat memainkan lidahnya di mulut Annisa.
Mereka terbawa suasana, dan semakin dalam ciuman mereka, semakin nakal juga tangan Arsyad bermain di tempat yang ia sukai. Sedang asiknya mereka melepas rindu yang terhalan waktu selama 8 jam. Pintu ruangan Arsyad terbuka, Rayhan yang seperti biasa tanpa mengetuk pintu, dia langsung nylonong masuk ke dalam ruangan Arsyad.
Rayhan terbelaklak melihat saudaranya sedang menikmati ciuaman bersama istrinya, dengan tangan nakalnya menempel di dada Annisa.
"Syad….aduh….kamu gak ingat ini di kantor?"ucapan Rey membuyarkan kegiatan mereka.
Annisa langsung bersembunyi di belakang Arsyad dengan wajah yang memerah karena malu. Arsyad tersenyum dengan wajah yang memerah, dia langsung membawa Annisa ke dalam pelukannya. Karena dia tau, Annisa sangat malu sekali kepergok Rayhan.
"Kebiasaan kamu, Ray…kalau masuk asal nylonong. Ketuk pintu dulu, kenapa Ray," ucap Arsyad sambil mengusap kepala Annisa di pelukannya.
"Sorry, aku tidak tau, maaf ya, Nis,"ucap Rayhan.
Annisa masih belum mau menampakan wajahnya karena malu sekali, wajahnya masih bersembunyi di dada suaminya.
"Kakak, sih,"ucap Annisa yang malu di pelukan Arsyad.
"Ya sudah, jangan seperti ini, mau kakak cium lagu di depan Rayhan?"ucap Arsyad sambil mengangkat wajah Annisa.
"Gak mau, nakal kamu, kak,"ucap Annisa sambil mencubit dada Arsyad.
"Kamu yang mulai," ucap Arsyad.
"Kakak juga," ucap Annisa gak mau kalah.
"Kalian malah berdebat, oh iya Syad, Lintang tadi memberitahuku sebelum dia pulang, katanya besok mau cuti mengurus usahanya dan setelah itu, dia akan mengajukan Resign sesuai prosedur perusahaan,"ucap Rayhan.
"Bagus lah kalau seperti itu, usahaku tidak sia-sia,"ucap Arsyad.
"Ya, itu semua demi Annisa, bukan?" ucap Rayhan.
"Iya, semua ini demi istriku yang satu ini, aku takut dia keseleo lagi, kalau cemburu,"ucap Arsyad sambil mencubit pipi Annisa.
"Kakak…"Annisa merajuk dan memukul lirih dada suaminya.
"Iya, ini demi kamu, biar gak cemburu terus,"ucap Arsyad sambil mendaratkan ciumannya di bibir Annisa.
"Sosor terus, Syad," tukas Rayhan.
"Sosor istri sendiri, Ray. Halal kan?"ucap Arsyad.
"Ya…yaa…yaaa…ya sudah aku pulang, lanjutkan lagi sana, kunci pintunya, atau ke kamar saja, kan ada kamar tuh,"ucap Rayhan sambil meledek saudara sepupunya.
"Sudah sana pulang, iya ini mau lanjut, iya kan, sayang?" tanya Arsyad pada istrinya.
"Udah ah, pulang saja, di rumah saja lanjutnya," jawab Annisa.
"Sudah aku pamit pulang dulu, Syad," pamit Rayhan.
Rayhan keluar dari ruangan Arsyad. Arsyad menata meja kerjanya dengan di bantu Annisa. Annisa melihat fotonya bersama Arsyad berada di atas meja, di taruh di samping foto Almira dengan Arsyad. Annisa tersenyum bahagia melihat fotonya terpampang di bingkai love yang sama dengan bingkai foto Almira dan Arsyad.
__ADS_1