THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 39 "Terungkap" The Best Brother


__ADS_3

"Itu bukannya Dio dan Najwa? Mereka masih bersama?" gumam Arsyad yang melihat Dio dan Najwa keluar dari mini market membawa dua kantong belanjaan.


"Aku harus ikuti mereka, ke mana mereka pergi, pasti mereka masih berhubungan." Arsyad dengan geram mengikuti mobil Dio melaju.


Arsyad menelepon Annisa dan Rico untuk menyusul di mana dia sedang mengikuti Dio dan Najwa. Arsyad tidak menyangka, Dio mulai berulah lagi dengan Najwa. Padahal sudah jelas mereka tidak bisa bersatu.


Dio membelokan mobilnya ke sebuah halaman rumah yang luas. Arsyad hanya melihat Dio dari kejauhan yang nampak turun bersama Najwa dan masuk ke dalam rumah tersebut.


"Mau apa mereka?" Arsyad diliputi tanda tanya di hatinya.


Saat Arsyad hendak turun dari mobil terlihat mobil Rania berhenti di belakang mobil Arsyad, dan terlihat Rania nampak turun dari mobilnya.


"Abah." Panggil Rania.


"Rania." Arsyad menghampiri Rania yang matanya terlihat sembab.


"Abah sedang apa di sini?" tanya Rania.


"Emmm … Abah sedang menunggu seseorang," jawab Rania.


"Siapa?" tanya Rania lagi.


"Ehmm … itu, emmm …."


" Dio, kan?" tukas Rania.


"Kamu, kamu tahu kalau Dio dan Najwa …."


"Rania tahu semua," tukas Rania lagi.


"Abah, bisa kita bicara?" pinta Rania.


"Iya masuklah ke mobil Abah," jawab Arsyad.


Rania masuk ke dalam mobil Arsyad. Dia tidak bisa membendung air matanya lagi di hadapan mertuanya.


"Ran, ada apa?" tanya Arsyad.


Sebelum bicara dengan abahnya, Rania mengingat lagi kejadian tadi di rumah sebelum Dio meninggalkan rumah dengan alasan pergi ke kantor.


Rania padahal sudah membaca chat Dio pada Najwa kalau hari ini akan bertemu di vilanya lagi. Ya, sudah hampir satu Minggu ini mereka bertemu. Rania terus memergoki Dio dan Najwa, tapi dia tidak berani masuk dan memergoki langsung pada mereka.


Sudah 15 bulan Dio dan Rania menikah, mereka hidup satu atap dan sudah tidur satu kamar. Namun, Dio masih tidak mau menyentuh Rania, karena dia tidak mau menyakiti Rania. Alasan Dio selalu seperti itu. Sebelum bisa mencintai Rania dan melupakan Najwa, dia tidak akan menyentuh Rania.


"Abah, restui mereka, nikahkan Dio dengan Najwa. Jangan sakiti batin Rania. Rania mohon, restui mereka, Abah. Rania akan mengajukan gugatan cerai," ucap Rania dengan terisak pada Arsyad.


"Kamu tahu hubungan mereka?" tanya Arsyad.


"Rania tahu sejak malam resepsi pernikahan Rania dan Dio. Rania sudah berulang kali menegur Dio dan Najwa secara langsung, tapi apa yang Rania dapat, hanya kemurkaan Dio yang Rania dapatkan. Jadi, Rania tidak mau menegur lagi soal hubungan Dio dan Najwa," jawab Rania.


"Mereka bisa menikah, Abah, mereka sepupu, katanya bisa menikah. Restui mereka, Abah. Rania rela melepaskan Dio untuk Najwa. Daripada mereka semakin menjadi. Rania juga sering memergoki dia di sini. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana," ungkap Rania lagi.


"Mereka satu susuan, Ran. Bagaimana Abah bisa menikahkan mereka, Rania," ucap Arsyad.

__ADS_1


"Apa mereka tahu itu?" tanya Rania.


"Mereka tahu, Ran. Ayo turun, Abah sudah geram dengan kelakuan mereka." Arsyad turun dari mobilnya, Rania langsung turun dan mencegah abahnya.


"Abah … abah … jangan gegabah, nanti dulu, kita harus mencari cara untuk menjebak mereka, Rania ingin tahu apa yang mereka lakukan di sini, Abah," ucap Rania.


"Kamu yakin?" Arsyad meyakinkan Rania.


"Yakin, Abah. Memang Rania sudah merencanakan hari ini untuk menjebak mereka di sini. Dan, Abah kok tahu mereka di sini?"


"Tadi Abah melihat mereka di depan mini market lalu Abah ikuti mobil Dio, Ran,"


Tak lama kemudian, Raffi, Annisa, dan Rico datang menemui Arsyad. Mereka kaget karena ada Rania juga di sini.


"Abah, Rania," ucap Raffi. Raffi ikut karena tidak ada sopir di rumah. Sopir pribadi Opa Rico sedang libur, dan satunya sedang menjemput Arkan.


"Jangan berisik, kita masuk mobil Abah," ajak Arsyad.


"Ini ada apa, Syad?" tanya Rico.


"Iya, ini ada apa, Kak? Kok ada Rania juga," tanya Annisa.


"Sudah nanti kalian akan tahu," jawab Arsyad.


Mereka masuk ke dalam mobil Arsyad untuk merencanakan memergoki Dio dan Najwa. Rania sebenarnya dari kemarin sudah ingin memergokinya sendiri. Saat dia menemukan kunci di saku celana Dio. Dia tahu kalau kunci itu adalah kunci vila milik Dio. Rania langsung menduplikat kunci milik Dio dan setelah berhasil menduplikat kunci vila milik Dio, Rania mengembalikan lagi ke tempat semula.


Rania sebenarnya sudah 1 Minggu ingin merencanakan itu semua, tapi karena masih sibuk dengan urusan kantor dan ayahnya yang sedang sakit-sakitan, jadi Rania belum sempat menemukan hari untuk memergoki Dio.


"Jadi kamu sudah tau semua Rania?" tanya Rico.


Annisa tak kalah sakitnya dengan Rania. Mendengar penuturan Rania yang begitu menyakitkan selama menikah Annisa menangis dan memeluk erat menantunya.


"Benar-benar keterlaluan mereka. Mana kuncinya," pinta Arsyad dengan memaksa pada Rania.


"Abah, nanti dulu. Rania ingin menenangkan hati Rania. Abah jangan gegabah untuk menjebak mereka. Aku kasian dengan Najwa. Kenapa dia seperti itu. Apa cinta membutakan segalanya? Hingga mereka juga tuli untuk mendengarkan semua yang aku katakan," ucap Rania.


"Sudah, jangan menangis, setelah ini, kamu boleh mempertimbangkan pernikahan kamu dengan Dio. Maafkan Abah, Rania. Abah gagal mendidik anak-anak Abah." Arsyad mencengkeram erat kemudi mobilnya dan memukul dengan keras.


"Syad, tenangkan dirimu, jangan terbawa emosi, selesaikan semua di dalam bersama mereka. Ayo turun sebelum mereka keluar dari sini," ujar Rico.


"Mereka tidak akan keluar dari sini, sebelum jam 4 sore, opa," ucap Rania.


"Jadi kamu sering memergoki mereka di sini?" tanya Rico.


"Iya, Opa. Dio menemui Najwa seminggu 3 kali. Dan, Rania pasti memergokinya," jawab Rania.


"Kenapa kamu masih bertahan di samping Dio, Nak. Ini sungguh menyakitkan. Bunda mendengar kamu cerita saja sakit sekali, Sayang. Apalagi kamu yang menjalani semua ini?" Annisa semakin menangis hingga sesegukan memeluk Rania.


"Bunda, aku mencintai Dio, sangat mencintai Dio. Aku melihat Dio tidak marah saja sehari aku senang, Bunda," ucap Rania.


"Cinta juga menggunakan logika, Ran," sahut Raffi.


"Raf, memang cinta kadang tak mengenal logika," ucap Rania.

__ADS_1


"Ayo kita turun, sebelum mereka melakukan hal yang lebih jauh," ucap Raffi.


"Ini sudah kelewat batas, Raff. Abah tidak akan mengampuni mereka!" ucap Arsyad dengan geram.


"Jangan memakai emosi, Syad," tutur Rico.


"Kesabaran Arsyad sudah habis untuk menghadapi mereka, Pah!" ucap Arsyad dengan marah.


"Abah, jangan seperti itu. Ayo kita turun, tapi Abah jangan emosi. Please, ikuti apa kata Rania, Abah jangan menggunakan emosi," ujar Rania.


"Iya, ayo turun," ajak Arsyad.


Rania perhalan terlebih dahulu masuk ke dalam Vila. Mereka mengendap berjalan di belakang Rania. Dengan pelan Rania membuka kunci vila milik Dio. Namun, ternyata tidak di kunci, dan mereka masuk. Terdengar suara Dio dan Najwa di sebuah kamar. Sedikit suara kecapan layaknya seseorang sedang berciuman. Rania mendengarkan dari balik pintu bersmaa Arsyad dan lainnya.


"Dio, please jangan lakukan ini. Aku tidak mau," terdengar suara Najwa yang menolak pada Dio. Mungkin, karena Dio mengajak ke hal yang lebih dari sekedar berciuman.


"Najwa, please. Aku ingin," pinta Dio.


Rania meneteskan air matanya, dia memberanikan diri memasukan kunci ke dalam lobang kunci pintu kamar Dio. Dan ternyata, pintu kamar juga tidak di kunci.


"Dio, kamu memiliki Rania. Aku tidak mau," terdengar Najwa menolak lagi ajakan Dio.


"Najwa, aku tidak mencintai Rania, mana bisa aku melakukannya," ucap Dio.


Semua mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam kamar. Arsyad semakin germa dan akan mendobrak pintu kamar tersebut. Namun, Rania menghalangi.


"Biar kita dengar dulu, apa yang mereka katakan, Abah. Abah atur emosi Abah. Rania mohon Abah jangan menggunakan emosi di saat seperti ini," ujar Rania dengan tegar.


Arsyad akhirnya mau menuruti apa yang Rania katakan. Rico dan Raffi merangkul Arsyad yang benar-benar lemah dan terpukul saat itu. Mereka kembali mendengarkan apa yang Dio dan Najwa katakan dari balik pintu.


Ya vila itu tidak memiliki peredam di dalam kamarnya. Jadi apa yang di bicarakan Dio dan Najwa semua terdengar sampai luar.


"Dio, cukup aku tersakiti karena mencintaimu. Jangan menambah sakit lagi padaku, Dio. Jika aku memberikan ini, apa kita akan menikah, tidak kan? Kamu masih bersama Rania, sedang aku? Aku juga ingin menikah Dio. Kalaupun aku bisa menikah denganmu, aku menikah dengan kamu. Tapi, kita satu susuan, Dio. Apa tidak cukup seluruh cinta ini aku berikan pada kamu? Aku mengkhianati Rania, bunda, Abah, Opa, dan semuanya Dio. Aku tidak bisa. Jangan paksa aku." Najwa terdengar menolak ajakan Dio untuk berhubungan intim.


"Aku tahu Najwa, aku tahu itu. Tapi aku ingin itu," ucap Dio.


"Ada yang lebih berhak melakukan itu denganmu, Dio. Yaitu Rania istrimu," ucap Najwa.


"Tidak, aku tidak bisa. Bahkan 15 bulan aku menikah dengan dia, aku sama sekali tidak menyentuhnya," ucap Dio.


Semua yang di depan mendengar apa yang di ucapkan Dio. Semua menatap Rania dengan penuh tanda tanya. Memang Rania tidak menceritakan Dio belum menyentuhnya sama sekali.


"Apa benar yang di katakan Dio, Rania?" tanya Arsyad.


"Iya, abah. Sudah jangan bahas ini dulu," ucap Rania. Mereka kembali mendengarkan apa yang dikatakan Dio dan Najwa lagi.


"Aku tidak yakin, Dio," ucap Najwa lagi.


"Sumpah, Demi Allah, aku belum menunaikan kewajibanku menggauli istriku, Najwa," ucap Dio.


Arsyad semakin tidak kuat mendengarkan mereka berbicara. Arsyad membuka pintu kamar mereka. Terlihat tubuh polos mereka tertutup oleh selimut tebal. Arsyad semakin murka dengan mereka karena melihat mereka dalam keadaan polos.


"Plak….!" Arsyad menampar Najwa berkali- kali.

__ADS_1


"Abah, hentikan!" Dio teriak menghalangi Najwa yang sedang di tampar oleh Arsyad.


"Pakai baju kalian, Abah tunggu di depan! Kalian benar-benar memalukan!" Arsyad keluar dari kamar merkeka dan duduk di ruang tamu. Raffi dan Annisa mencoba menangkan Arsyad dan Rico memeluk Rania yang dari tadi menangis.


__ADS_2