
Annisa merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dia merasa tubuhnya lemas sekali, dan hidungnya berkali-kali mengeluarkan cairan bening yang membuat kepalanya menjadi pusing dan berat.
"Tumben dia baik sekali, ap ada setan yang merasuki dia?" Annisa berkata dalam hatinya sambil berusaha memejamkan matanya.
Arsyad masih memikirkan mimpi tadi siang di kantornya, dia memang merasa bersalah dengan Annisa. Dia menyia-nyiakan Annisa sebagai istrinya selama kurang lebih tiga bulan.
"Maaf Syil, aku sudah membuat Annisa sakit,"gumam Arsyad.
"Mira, maaf, aku akan mencoba mencintai Annisa, aku akan menerima keadaan ini, semoga kamu bahagia di surga. Maafkan aku,"ucap Arsyad lirih.
Arsyad sudah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan melihat Annisa sudah tertidur pulas. Arsyad segera berganti pakaiannya. Setelah selesai dia mendekati istrinya.
"Mau maghrib malah tidur, dia,"ucap Arsyad sambil berjalan mendekati istrinya.
Dia mencium kening istrinya dan duduk di samping Annisa. Dia menunggui Annisa yang tertidur pulas di sampingnya. Arsyad menatap wajah istrinya yang masih agak pucat.
"Maafkan aku Annisa, aku akan mencoba menjadi suami untuk kamu,"gumam Arsyad.
^^^^^^
Annisa tertidur lelap di samping Arsyad. Dia benar-benar demam. Badannya panas, hingga dia mengigau memanggil Arsyad dan Arsyil secara bergantian. Arsyad yang sedang fokus dengan loptop di pangkuannya, dia mendengar Annisa berbicara lirih memanggi Arsyil dan bergantian menyebut namanya.
"Arsyil, Kak Arsyad,"lirih Annisa.
"Nis, ini kakak di sini, badan kamu panas sekali." Arsyad menyentuh kening Annisa.
Arsyad juga ingat wkatu dia nekat hujan-hujannan ke makam Arsyil malam-malam. Annisa mengigau memanggil nama Arsyil. Tapi kali ini beda, dia menyebut nama Arsyad berkali-kali berbeda dengan dulu, dia hanya menyebut nama Arsyil hingga dia sadar. Arsyad mengambil air hangat untuk mengompres Annisa, dia bergegas menuju ke dapur. Arsyad bertemu Dio yang sedang mengambil air putih di dapur, Dio melihat Abahnya gugup menyiapkan air hangat dia bertanya pada Abahnya.
"Abah, kok kelihatannya gugup sekali?"tanya Dio.
"Bunda badannya panas sekali Dio, dia demam,"ucap Arsyad.
"Bunda sakit?"tanya Dio sedikit panik.
"Iya, tadi bunda hujan-hujanan di makam ayah, untung Abah ke sana juga dan lihat mobil bunda,"jawab Arsyad.
"Oh iya Dio, Abah minta tolong panggilkan Pak Ali ya, suruh tinggu Abah di ruang tamu." Arsyad meminta Dio memanggil sopir yang biasa mengantar dia ke sekolahnya.
"Iya, pah,"jawab Dio.
"Kalau sudah kamu ke kamar bunda, ya," titah Arsyad.
"Siap, Abah!"jawab Dio.
Dio keluar menemui Pak Ali yang masih berada di pos satpam bersama Pak Jais. Arsyad kembali masuk ke kamarnya, dai membawa air hangat untuk mengompres istrinya. Annisa masih saja mengigau memanggil namanya. Arsyad merasa sangat bersalah sekali, Annisa sampai sakit seperti ini.
"Kak Arsyad…" Annisa terus memanggil lirih nama Arsyad, tapi foa masih memejamkan matanya.
"Nis, ini kakak. Kakak kompres dulu, ya. Kamu jangan sakit, Nis,"ucap Arsyad.
Arsyad mengompres kening Annisa, dia mengusap rambut istrinya, menggenggam tangan Annisa dan mencium tangan Annisa.
"Maafkan kakak, maafkan kakak, Nis,"ucap Arsyad lirih.
Arsyad terus memandangi wajahn istrinya yang pucat, dia mengingat mimpinya tadi siang, bertemu adik kesayangannya dan menitipkan Annisa padanya untuk ia jaga dan ia bahagiakan.
"Kalau itu maumu, Syil. Aku akan turuti, maaf selama hampir tiga bulan kakak menyia-nyiakan wanita yang sangat kamu cintai dan kamu sayangi, mulai detik ini, kakak akan menjaganya, dan akan berusaha mencintai Annisa. Maafkan kakak,"ucap Arsyad lirih.
Dio masuk ke kamar Arsyad, dia memanggil abahnya, karena sudah mamanggil Pak Ali dan sekarang Pak Ali berada di ruang tamu sedang menunggunya.
"Abah, Pak Ali sudah di ruang tamu,"ucap Dio.
"Oh, iya. Abah titip bunda, jaga bunda, ya." Arsyd menepuk pundak Dio dan dia segera keluar dari kamarnya menuju ruang tamu dengan membawa kunci mobil Annisa dan beberapa lembar uang.
"Abah, itu kunci mobil bunda? Abah mau kemana?"tanya Dio.
"Tadi bunda ke makam bawa mobil sendiri, dan Abah akan menyuruh Pak Ali mengambilnya di makam. Tadi Abah sudah menitipkan pada juru kunci makamnya. Abah titip bunda, ya,"jelas Arsyad.
"Siap, Abah!"ucap Dio dengan semangat.
Dio menjaga bundanya, sementara Arsyad sedang menuju ke ruang tamu menemui Pak Ali. Dio dari tadi memandang bundanya yang wajahnya terlihat pucat. Dio mencium tangan Annisa dan mencium pipi Annisa.
"Dio sayang bunda, bunda jangan sakit, dan siapapun yang akan menyakiti bunda, Dio akan membalasnya. Bunda sembuh, ya." Dio berkata lirih di samping bundanya. Dia memang anak yang paling dekat dengan Annisa. Dan sangat kuat ikatan batinnya dengan Annisa.
"Dio tau kok, bunda tiap malam tidur di kamar tamu, kadang Abah yang tidur di kamar tamu. Dio tau, bunda dan Abah tidak mencintai. Tapi jangan seperti itu, bunda. Jangan menyakiti diri sendiri. Dio tidak kecewa dengan Abah, Dio tau, Abah sebenarnya sayang bunda. Dio berharap, Abah bisa menjadi pengganti ayah yang sempurna untuk Dio, Kak Shifa dan bunda,"ucap Dio lirih.
Dio mendengar ponsel bundanya berdering di atas meja, Dio mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon bundanya. Ternyata ada video call masuk dari Leon.
"Paman Leon? Ngapain paman Leon Video call bunda? Lebih baik aku angkat, mungkin penting. Selama ini yang membantu perusahaan bunda di sana kan, paman Leon,"ucap Dio lirih.
Dia mengangkat video call Leon di ponsel bundanya.
"Hai paman..!" sapa Dio pada Leon yang terlihat di layar ponsel Annisa.
"Hai, kenapa kamu yang mengangkat, sayang?"tanya Leon.
"Bunda sedang tidur, paman. Bunda sedang tidak enak badan, kata bunda, paman akan ke sini dengan Paman Zi dan Pama Al?"tanya Dio.
"Iya, nanti paman akan menemui kamu, Shifa, bunda dan tentunya abah kamu,"ucap Leon.
"Mana tuan putriku?"tanya Leon.
"Maksud paman?" Dio bertanya balik pada Leon.
"Shifa, dia tuan putriku, di mana dia?"tanya Leon.
"Kak Shifa di kamarnya. Dio sedang menemani bunda di kamarnya. Abah sedang menemui sopir di depan,"ucap Dio.
Dio masih mengobrol dan bercanda dengan Leon. Dia juga rindu bercanda dengan Leon, yang sebenarnya juga humoris, jadi Dio suka jika Leon berteman dengan bundanya. Saat Dio bercanda dengan Leon lewat video call, Arsyad masuk ke dalam setelah selesai urusannya dengan Pak Ali.
__ADS_1
"Paman, itu Abah, paman mau bicara dengan Abah?"tanya Dio pada Leon.
"Boleh, mana Abah kamu,"ucap Leon.
"Siapa Dio?"tanya Arsyad.
"Paman Leon, Abah. Ini katanya mau bicara dengan Abah." Dio memberikan ponsel Annisa pada Arsyad.
Arsyad mengarahkan ponsel ke wajahnya, dia juga penasara seperti apa Leon itu, karena dia tau hanya dar Annisa dan anak-anaknua saja.
"Hai, Tuan Alfarizi, wah…..senang sekali bisa melihat anda, walaupun hanya sebatas lebat Video Call,"ucap Leon.
"Tuan Leon bisa saja,"ucap Arsyad sambil menyunggingkan senyumannya.
"Annisa sedang tidak enak badan kata Dio, benarkah itu?"tanya Leon.
"Iya, Annisa sedang tidur, dia terkena hujan tadi,"ucpa Arsyad.
"Ya, dia memang sensitif dengan air hujan, jaga dia baik-baik tuan Alfarizi, jangan sampai kamu menyakitinya, kalau tidak mau menjaganya dan anda menyakitinya, saya akan mengambilnya dari sisi tuan,"ancam Leon.
Raut wajah Arsyad tiba-tiba berubah seperti cemburu.
"Hahaha…..saya bercanda, tuan." Leon tertawa lebar melihat ekspresi wajah Arsyad seperti takut Annisa di ambil olehnya.
"Annisa tidak mungkin mau dengan saya, kalau mau, sudah dari dulu saya menikah dengan istri anda, tuan,"imbuh Leon.
"Tuan bisa saja, jangan ambil istriku, masa mau di ambil, aku akan menjaganya tenang saja, aku juga tidak akan menyakitinya,"ucap Arsyad.
"Bisa di pegang janji anda, tuan Alafrizi?"tanya Leon.
"Pegang saja janjiku, tuan Leon,"jawab Arsyad.
"Oke, saya pegang janji anda, kalau anda mengingakarinya, jangan harap anda bisa bertemu dengan Nisa lagi,"ancam Leon.
"Iya, pegang saja janji saya, tuan Leon," ucap Arsyad .
"Oke, saya mau bicara dengan tuan putriku,"pinta Leon.
"Tuan putri?"tanya Arsyad bingung.
"Iya, Shifa, tuan putriku,"ucap Leon.
"Dia di kamarnya, nanti biar Dio membawa ponselnya ke kamar Shifa,"ucap Arsyad.
"Oke, tinggu kedatangan saya, tuan, saya belun secara langsung memberikan selamat pada kalian, semoga kalian bahagia, dan memiliki keturunan baik,"ucap Leon.
"Baiklah, berikan ponsel Annisa pada Dio, saya mau bicara dengan tuan putriku,"pinta Leon.
Arsyad memberikan ponselnya pada Dio, dan Dio segera membawanya ke kamar Shifa. Arsyad masih terdiam setelah Dio keluar dari kamarnya. Dia memikirkan kata-kata Leon barusan. Dia bisa-bisanya berjanji pada Leon, padahal sampai saat ini dia menyia-nyiakan istrinya. Tidak memberi nafkah batin, tidur terpisah, jarang memberi perhatian. Pikiran Arsyad sangat kacau mengingat kata-kata Leon.
"Seperi itu rupanya Leon, kenapa Annisa di ajak menikah dia tidak mau? Padahal dia baik dengan Dio dan Shifa? Dia orang kaya raya, dan tampan sekali kalau menurut perempuan. Kenapa dia di suruh menikah dengan aku langsung mau?" Arsyad bertanya-tanya dalam hatinya.
Dia menatap wajah Annisa yang masih tertidur, dia kembali mengompres Annisa. Dan suhu badan Annisa juga sudah menurun. Arsyad sadar istrinya belum makan, dia ke dapur membuatkan bubur untuk istrinya. Sebelum ke dapur dia memanggil Dio untuk menemani bundanya lagi. Namun, Dio dan Shifa sedang asik mengobrol dengan Leon, dan akhirnya dia menyuruh Najwa menjaga Annisa.
"Minta tolong apa, Abah?"tanya Najwa.
"Jagain bunda, bunda sedang demam, abah mau membuatkan bubur untuk bunda,"ucap Arsyad.
"Oke." Najwa langsung keluar kamarnya dan masuk ke kamar Annisa.
Arsyad membuatkan bubur untuk Annisa di dapur. Dia masih terngianga dengan kata-kata Leon tadi. Arsyad melun sambil mengaduk-aduk bubur yang ia buat.
"Apa Leon akan benar-benar mengambil Annisa jika ia tau, selama ini aku dan Annisa seperti ini keadaannya. Dan, apa Annisa masih sering berhubungan dengan dia, lalu menceritakan semua apa yang terjadi dengan aku selama ini?" Arsyad masih bertanya-tanya dalam hatinya.
Sejak tadi siang bermimpi bersama Arsyil, Arsyad semakin sadar dengan perlakuannya pada Annisa selama ini. Arsyad merasa bersalah dengan adiknya dan juga dengan mendiang istrinya. Tak seharusnya dia mementingkan egonya, hanya karena tulisan-tulisan Almira.
"Benar kata Annisa, aku sia-sia saja mempelajari agama kalau tidak menghargai isteinha sendiri"gumam Arsyad.
Arsyad di kagetkan oleh Dio yang tiba-tiba berada di dapur, dia memberikan ponsel Annisa pada Arsyad
"Abah, ini ponsel bunda." Dio memberikan ponselnya pada Arsyad.
"Kenapa tidak memberikan pada bunda?"tanya Arsyad.
"Dio ingin minum, haus, eh…ada Abah, ya sudah Dio kasih saja ke Abah,"ucap Dio.
"Sudah bicara dengan paman Leon mu itu?"tanya Arsyad.
"Sudah, katanya paman Leon minggu-minggu ini mau ke sini, Abah,"ucap Dio.
"Oh, ya?"tanya Arsyad.
"Iya, paman Leon baik Abah, walaupun dulh jahat dan memaksa bunda untuk menikah dengan bunda. Namun, setelah paman Leon tau, bunda hanya mencintai ayah, paman Leon ikhlas melepas bunda,dan paman Leon semakin baik dengan Dio,"jelas Dio.
Arsyad hanya terdiam dengan penuturan Dio. Dia kembali mengingat kata-kata Leon tadi.
"Abah, jangan melamun, tenang saja, paman Leon cuma bertan dengan bunda. Abah cemburu ya? jangan cemburu gitu, Abah." Dio menggoda Abahnya yang wajahnya berubah menjadi murung.
"Abah tidak cemburu, sudah sana sholat mghrib. Ajak kakak-kakakmu, Abah mau mengantarkan bubur ini pada bunda,"ucap Arsyad.
"Oke, ingat, jangan cemburu,"ucap Dio sambil berlalu meninggalkan dapur.
Arsyad hanya tersenyum, dia melihat ponsel Annisa. Dia mencoba membukanya, beruntungnya tidak di password ponselnya, jadi dia leluasa membuka ponsel istrinya.
"Maaf Annisa aku membual ponselmu,"gumam Arsyad.
Dia membuka pesan di ponsel Annisa, dan yang ia tuju adalah pesan dari Leon. Iya, Arsyad membuka pesan dari Leon. Dan ternyata Annisa sering sekali berbalas pesan dengan Leon. Meskipun isinya cuma candaan dan hanya menanyakan kabar saja, Arsyad merasa sedikit tergores hatinya.
"Dia perhatian sekali dengan Annisa, pantas saja, aku cuekin dia, dia baik-baik saja. Ternyata karena di perhatikan oleh Leon, jadi dia biasa saja,"gumam Arsyad.
__ADS_1
Arsyad meletakan buburnya ke dalam mangkuk, dia membawa bubur yang ia buat ke kamar Annisa. Najwa terlihat rebahan di samping Annisa yang sudah bangun dari tidurnya. Annisa dan Najwa terlihat sedang bercanda.
"Bunda sudah bangun?"tanya Arsyad.
"Sudah, baru saja,"ucap Annisa.
"Tumben bicara manis,"ucap Annisa dalam hati.
"Kamu sudah mendingan Annisa?"tanya Arsyad.
"Sudah,"jawabnya singkat.
"Najwa, sholat dulu, nak. Abah mau menyuapi bunda makan bubur dulu,"titah Arsyad.
"Iya, Abah, bunda cepat sehat ya, nanti kita main lagi." Najwa mencium pipi Annisa dan meluknya.
"Iya, sayang." Annisa membalas pelukan Najwa dan menciumnya.
Najwa keluar dari kamar Annisa, dia merasa senang sekali, abahnya perhatian dengan bundanya. Najwa juga sering melihat Annisa tidur di kamar tamu. Najwa pura-pura tidak tahu saja soal masalah Abah dan Bundanya.
"Abah, semoga dengan bunda sakit, Abah tidak cuek dengan bunda lagi,"gumam Najwa sambil berjalan ke kamarnya.
Suasan kamar Arsyad dan Annisa seketika menjadi hening. Arsyad meletakan buburnya di atas meja, dia menyentuh kening Annisa dengan punggung tangannya.
"Sudah mendingan?"tanya Arsyad.
"Iya, tinggal pusingnya saja,"ucap Annisa.
"Makan buburnya dulu, ya." Arsyad menyendokan bubur dan mengarahkan ke mulut Annisa. Annisa membuka mulutnya dan memakan bubur yang di buatkan Arsyad.
"Nis, jangan hujan-hujanan lagi,"ucap Arsyad.
"Iya, aku gak hujan-hujanan, tidak tau mau hujan tadi, kak,"ucap Annisa.
"Ya sudah habiskan buburnya, setelah itu minum madunya lagi, dan kita sholat Maghrib,"ucap Arsyad.
"Iya,"jawab Annisa.
Arsyad sudah selesai menyuapi Annisa. Arsyad memberikan ponsel Annisa, dan Annisa sangat kaget, karena ponselnya ada pada suaminya.
"Ini ponsel kamu." Arsyad memberikan ponselnya pada Annisa..
"Kok ada pada kakak?"tanya Annisa.
"Tadi waktu Dio di sini menemani kamu, Leon video call kamu, dan Dio mengangkatnya, kata Leon ingin berbicara pada Shifa, jadi Dio membawanya ke kamar Shifa,"jelas Arsyad.
"Oh, seperti itu,"jawab Annisa.
"Ada apa dia video call? Biasanya hanya mengirim pesan saja,"gumam Annisa.
"Ayo sholat, kalau kamu masih pusing,kamu bisa sholat sambil duduk,"ucap Arsyad.
"Iya, kak,"ucap Annisa.
"Ayo, kakak papah kamu ke kamar mandi untuk ambil air wudhu." Arsyad memapah istrinya ke kamar mandi. Namun, Annisa menolaknya dan masuk sendiri ke kamar mandi.
^^^^
Setelah mereka selesai sholat, Arsyad duduk di samping istrinya dan bertanya sesuatu pada Annisa. Namun sebelum itu, Annisa dulu yang membuka pembicaraannya.
"Kak,"panggil Annisa.
"Iya, Nis, gimana?"tanya Arsyad.
"Kak, sudah hampir tiga bulan, kita seperti ini, menjalani ruamh tangga tapi tidak selayaknya suami istri. Apa akan seperti ini terus, kak? Jika iya, dan itu memang pilihan kakak untuk seperti ini terus, ada baiknya kita berpisah saja, kak. Percuma bersama, dalam satu rumah, aku mencoba memenuhi kewajibanku, tapi kakak tidak. Ini akan menumpuk dosa saja, kak." Annisa memberanikan diri mengatakan seperti itu, padahal dalam lubuk hatinya, dia tidak bisa berpisah dengan Arsyad. Sedetik saja tak melihat suaminya, dia akan merasakan rindu sekali.
"Kamu kenapa berkata seperti itu?"tanya Arsyad.
"Kak, apa pantas suami istri tidur terpisah, tanpa mencintai dan tanpa mencoba meneriam layak untuk di pertahankan? Bertahan pun kalau seperti ini, ya sama saja, kak,"jawab Annisa.
"Kakak tidak akan mengabulkan permintaanmu untuk berpisah, bagaimana dengan anak-anak nanti?"tanya Arsyad.
"Kita sudah biasa seperti ini, kak. Anak-anak pasti tau, buat apa di lanjutkan? Toh, kakak tidak akan mau menerima keadaan ini, kan?"tanya Annisa.
"Tidak, kakak tidak akan mau berpisah dengan kamu!"tukas Arsyad.
Annisa terdiam sejenak, dia tidak tau kenapa dia berkata seperti itu, padahal jauh di lubuk hatinya, dia tidak menginginkan itu.
"Apa semua ini karena Leon?"tanya Arsyad.
"Leon? kenapa bawa-bawa dia?" Annisa balik bertanya pada Arsyad.
"Kakak sendiri yang memulai. Kak, memang sulit melupakan orang yang sangat kita sayangi. Iya, kakak mencintai kak Mira, begitu pula aku, aku sangat mencintai Arsyil, tapi tidak begini caranya, kak. Kita sudah menikah, kehidupan kita masih berjalan,"jelas Annisa.
"Kakak tau, rasanya saat aku kehilangan Arsyil? Hati ini sakit kak, hancur. Hati aku hancur dan sakit, dunia ku runtuh seketika, tapi aku sadar di luar duniaku masih ada kehidupan yang harus aku lalui lagi,"ucap Annisa.
Arsyad hanya terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Memang dia yang salah, dia egois dan tidak mau menerima kenyataan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️