THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 25 "Gaun Pernikahan"


__ADS_3

Anak-anak sudah masuk ke kamar masing- masing, begitu juga Rico, dia masuk ke kamarnya. Annisa menta kembali gelas dan piring yang tadi di gunakan. Arsyad ikut membantunya menata di nampan. Setelah tertata semua di nampan Annisa membawanya ke dapur.


Annisa mencuci gelas dan piring kotor yang tadi di gunakan. Dia masih mengingat Arsyil, memori bersama Arsyil kembali mengisi otak Annisa. Air mata Annisa jatuh dari sudut matanya, mengalir semakin deras hingga terdengar isak tangis dan sesegukan.


"Arsyil, maafkan aku,"ucpanya lirih.


Arsyad mendengar Annisa yang sedang menangis sambil mencuci piring, dia mendekatinya dan mencoba menenangkan Annisa.


"Nis, aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, rasanya aku mengkhianati adik ku sendir, Nis,"ucap Arsyad yang sudah berada di belakang Annisa.


Annisa menaruh gelas dan piring yang sudah bersih di rwk piring. Arsyad menarik tangan Annisa dan menyuruh dia duduk di kursi.


"Minumlah," ucap Arsyad sambil memberikan segelas air putih untuk Annisa.


Annisa meminum air putih yang Arsyad berikan tadi, ada rasa sedikit lega dalam hatinya, tapi tetap saja, matanya masih mengeluarkan air mata.


"Sudah jangan menangis, Nis. Ayo tidur, sudah malam, besok kamu ke kantor, kan?"


"Iya, kak,"ucapnya sambil menahan tangis.


"Sudah jangan nangis gini,"ucap Arsyad.


"Kakak kalau mau tidur, tidur saja, Nisa masih pingin di sini,"ucap Nisa.


"Aku tinggal, ya,"pamit Arsyad.


"Iya, kak,"jawab Annisa.


Arsyad masuk ke kamarnya, Annisa masih berada di dapur, dia masih saja teringat Arsyil.


"Syil, benar kata kamu, kalau salah satu dari kita pergi, rasanya jantung ini akan berhenti. Syil, haruskah aku hidup dengan lelaki yang tidak mencintaiku?"tanya Annisa dengan lirih.


Annisa mengingat Arsyil, dia suami yang sangat humoris, jago membuat suana hati menjadi berbunga-bunag setiap hatrinya. Annisa tersenyum sendiri sambil menangis saat mengingat Arsyil yang selalu menggombal tiap harinya.


*Flashback on*


"Sayang tau ini apa?"tanya Arsyil dengan menunjukan satu sparepart yang di pegang nya.


"Ehm ..tidak tahu,"awab Nisa yang masih mengelap kaca etalase yang agak berdebu.


"Ini namanya Piston sayang, ibarat kata ini adalah jantungnya sepeda motor. Kalau ini tidak ada, sepeda motor tidak bisa hidup. Sama seperti kamu, kamu adalah jantungku. Kalau kamu tidak ada, entahlah aku bagaimana. Mungkin seperti sepeda motor yang tanpa Piston,"jelas Arsyil dengan memainkan mata genitnya


"Ih....jago gombal ya sekarang kamu,"ucap Nisa sambil mencubit pipi Arsyil.


"Gombal sama calon istri sendiri sah-sah saja kan? Aku tidak gombal Nisa, itu kenyataannya. Aku tidak mau jauh-jauh dari kamu,"jelas Arsyil.


"Sudah, jangan macam-macam itu banyak customer kamu yang lihat lho,"ujar Nisa.


*Flashback Off*


"Syil bagaimana bisa aku hidup dengan kakak kamu yang dingin dan angkuh? Sedangkan dulu setiap hari kamu selalu memberikan candaan setiap hari, dari awal bertemu hingga ajal akan menjemputmu,"ucap Annisa lirih.


Annisa kembali menyeka air matanya. Dia mencoba ikhlas untuk menjalani hidup baru bersama kakak iparnya.


^^^^^


Ke esokan harinya, Rico, Arsyad dan Annisa sudah berkumpul di meja makan unuk sarapan. Anak-anak masih di dalam kamarnya belum keluar. Sebelum sarapan, Rico bertanya pada Arsyad kapan mereka akan menikah.


"Syad, rencana kapan kalian akan menikah?"tanya Rico.


"Nis, itu di tanya papah,"ucap Arsyad.


"Kan Kakak yang di tanya bukan aku,"tukas Annisa.


"Minggu depan, pah,"jawab Arsyad.


"Kak, kenapa secepat itu?"tanya Annisa.


"Lebih cepat lebih baik, tadi papah tanya kamu gak maunjawab, ya sudah aku jawab dan kami harus nurut, aku calon suamimu, jadi kamu nurut saja,"ucap Arsyad.


"Iya sudah terserah kakak,"ucap Annisa.


"Yakin kalian akan menikah minggu depan?"tanya Rico kembali.


"Yakin, pah,"ucap Arsyad.


"Kalau kamu, Nis?"tanya Rico.


"Nisa ikut apa kata Kak Arsyad,"ucapnya.


"Baiklah, nanti papah akan hubungi semuanya agar mempersiapkan pernikahan kalian, papah minta kalian menikah di rumah ini,"ucap Rico.


"Iya, terserah papah saja gimana ngaturnya,"ucap Arsyad.


Semua sudah berkumpul untuk sarapan. Setelah selesai sarapan, Arsyad mengantar anak-anaknya ke sekolah. Selesai mengantar mereka Arsyad mengantar Annisa ke kantornya.


Di dalam mobil mereka saling diam, mereka sama sekali tak salaing sapa atau mengobrol. Arsyad sudah sampai di depan kantor Annisa, dia menghentinha mobilnya.


"Kak, Nisa masuk ya?"pamit Annisa.


"Iya,"jawabnya singkat.


Annisa keluar dari mobil Arsyad. Dia tak menyapa Arsyad lagi.


"Nis, nanti sore aku akan mengajak kamu pergi,"ucap Arsyad sebelum Annisa turun dari mobilnya.


"Mau kemana?"tanya Annisa.


"Ya ikut saja nanti sore,"ucap Arsyad.


"Ya sudah aku turun, kak,"ucap Annisa.


"Hmm," jawab Arsyad.


Arsyad melajukan mobilnya ke kantor. Sesampainya di kantor dia masuk ke dalam ruangannya.


"Pak Arsyad,"panggil seseorang. Arsyad menoleh ke arah sumber suara.


"Lintang? Ada apa dia pagi-pagi sudah memanggil ku,"gumam Arsyad dalam hati.


"Ada apa, Lin?"tanya Arsyad.


"Emm, ini pak, ada kue, semalam aku buat kue ini." Lintang memberikan kue untuk Arsyad. Yulia dan Rayhan yang melihatnya hanya saling menatap dan mengangkat bahu mereka.


"Kue?"tanya Arsyad.


"Iya, ini buat Pak Arsyad,"ucap Lintang.


"Ehem…pagi-pagi Pak Arsyad sudah dapat kiriman kue, nih. Wah…sepertinya enak nih kue nya. Kamu buat sendri, Lin?'tanya Yulia


"Iya, mba, semalam coba buat kue, dan ini hasilnya,"ucoa Lintang.


"Boleh aku mencobanya?"tanya Yulia.


"Tapi ini untuk Pak Arsyad, Mba Yulia,"ucap Lintang yang agak sewot.


"Ini untuk saya, kan?"tanya Arsyad.


"Iya, pak,"ucap Lintang.


"Ya sudah, Yulia, kamu mau?" Arsyad menawari kue yang Lintang berikan tadi

__ADS_1


"Mau, pak, sepertinya enak,"ucap Yulia.


"Nis mau coba?" Arsyad menawarinya


"Mau dong," Yulia langsung menyambar kue yang ada di dalam toples kecil.


"Hmmm…enak sekali, lain kali kalau buat yang banyak dong, Lin, jangan untuk Pak Arsyad saja, kita kan di sini satu tim dan saling berdekatan ruangannya,"ucap Yulia.


"Iya, Lin, enak juga kue buatanmu, lain kali yang banyak ya bawanya,"ucap Rayhan sambil memakan kue yang Lintang bawa.


"Syad kamu gak mau nyicip kue nya?"tanya Rayhan.


"Aku masih kenyang, ini di bawkan sandwich Annisa malah,"ucap Arsyad sambil menunjukan kotak makan berisi sandwich yang Annisa buat.


"Asik, di buatkan calon istri tuh, Mba Yul," ucap Rayhan.


"Senangnya, kapan nih hari jadinya?"tanya Yulia


"Minggu depan, aku dan Annisa akan menikah, ya sudah aku masuk dulu,"ucap Arsyad.


Hati Lintang seperti tertusuk seribu pisau, sakit sekali rasanya, matanya mulai berkaca-kaca, dia segera pergi ke ruangannya.


"Lintang, bodoh sekali kamu, Pak Arsyad jelas tidak suka lab dengan kamu,"rutuk Lintang di dalam hatinya. Tanpa sadar air matany jatuh memmbasahi pipi.


^^^^^


Rayhan masuk ke dalam ruangan Arsyad dia masih tak menyangka secepat itu Arsyad memutuskan untuk menikah dengan Annisa.


"Syad, kamu seriusan mau nikah dengan Annisa?"tanya Rayhan.


"Iya lah serius,"ucap Arsyad.


"Kamu tidak bohong?"tanya Rayhan lagi.


"Iya lah tidak,"ucpa Arsyad sambil memakan sandwich dari Annisa dan mengecek pekerjaannya.


"Itu benar Annisa yang buatin"tanya Rayhan lagi.


"Iya, tadi bawain bekal buat Najwa dan Raffi, katanya buatnya kebanyakan, jadi aku bawa ini, kamu mau?" Arsyad menawari Rayhan sandwich buatan Annisa.


"Udah kenyang tadi makan kue nya Lintang,"ucap Rayhan.


"Makin hari makin semena-mena itu, cewek,"ucap Rayhan.


"Biarkan saja, sudah jangan bahas Lintang,"ucap Arsyad.


"Gimana ceritanya kamu manu menikah dengan Annisa?"tanya Rayhan.


"Karena anak-anak, itu saja yang membuat kami akhirnya mau menikah,"ucap Arsyad.


"Lalu hati kalian?"tanya Rayhan.


"Hatiku dan hatinya Annisa masih terpaut dengan pasangan kita dulu,"jelas Arsyad.


"Kalian tidak salah menikah tanpa ada cinta?"tanya Ray.


"Semua demi anak-anak, Ray,"ucap Arsyad.


"Ya sudah kalau ini sudah keputusan kalian,"ucap Rayhan.


Rayhan kembali ke ruang kerjanya setelah mengintrogasi Arsyad. Arsyad kembali dengan pekerjaannya.


"Jago buat sandwich juga, Annisa,"ucap Arsyad dengan menikmati sandwich buatan Annisa.


"Dulu mencintainya, bahkan berusah merebut dia dari kekasihnya, tapi sekarang, rasa itu tidak ada lagi. Apa mungkin aku bisa berumah tangga dengan seseorang yang tidak ku cintai?" Arsyad bertanya-tanya dalam hatinya.


^^^^^


"Satu minggu lagi, waktu yang sangat cepat, aku akan menjadi istri orang,"gumam Annisa dalam hati.


"Nis, melamun saja kamu!"sapa Rere yang baru saja masuk ke ruangan Annisa.


Annisa terjingkat karena kaget Rere masuk denga tiba-tiba.


"Kamu mengagetkanku saja, Re,"ucap Annisa.


"Salah siapa melamun,"tukas Rere.


"Kamu kenapa murung gitu?"tanya Rere.


"Re, satu minggu lagi aku akan menikah,"ucap Annisa


"Menikah?"tanya Rere.


"Iya, dengan dosenku yang dulu mencintaiku,"ucap Annisa.


"Lucu ya, Re, dulu dia sangat mencintaiku, sekarang, setelah sudah mencintai wanita lain, dan tidak bisa di hilangkan rasa cinta itu, malah kita mau menikah, kadang semesta tidak adil, Re. Aku dengan Arsyil saling mencintai, Tuhan menghendaki kita berpisah, begitu juga sebaliknya, Kak Arsyad dan Kak Mira saling mencinta, Tuhan juga memisahkan mereka. Dan aku dan Arsyad di satukan. Semua tidak adil, Re,"jelas Annisa.


"Nis ini bukan tidak adil, ini sudah jalan kamu dan Pak Arsyad, nikmati saja, Nis. Ini semua warna kehidupan, kadang cerah, karang buram. Sudah, aku lega akhirnya kalian akan menikah,"ucap Rere.


"Sebenarnya aku belum siap menikah, hatiku masih ada Arsyil dan hati Kak Arsyad masih ada Kak Mira. Kita akan hidup satu atap tapi tidak memiliki cinta, bukankah itu sulit, Re?"tanya Annisa.


"Nis, cinta datang karena terbiasa, pasti suatu saat nanti kalian bisa saling mencintai,"ucap Rere.


"Iya, mungkin. Yang terpenting anak-anak, Re,"ucapnya.


"Iya itu paling utama, Nis. Sudah dong, semangat, mau menikah dua kali kok cemberut gini,"goda Rere.


"Kamu kapan, Re?"tanya Nisa.


"Gak tau, Nis. Masih pingin menikmati sendiri dulu,"ucap Rere.


"Jangan kelamaan sendiri, Re, tidak baik,"ucap Annisa.


"Mau dengan siapa coba, aku saja jomblo,"ucap Rere.


"Nanti juga dapat jodoh, aku mau pergi dulu, Re, pengen ke rumah, aku kangen rumahku,"ucap Annisa.


"Oke, hati-hati, salam buat Vera,"ucap Rere.


"Oke." Annisa pergi dari kantornya. Dia memesan taxi untuk ke rumahnya.


Annisa sampai di rumahnya, dia membayar taxi yang ia tumpangi tadi dan segera masuk ke rumah, dia masuk lewat pintu yang dari bengkel. Bengkel Arsyil terlihat sangat rame sekali. Annisa menyapa semua karyawannya.


"Mba Annisa,"sapa Mas Wahyu.


"Iya, Mas, bagaimana bengkel?"tanya Annisa


"Alhamdulillah lancar terus mba, mba pulang kapan?"tanya Mas Wahyu.


"Kemarin, saya masuk ke dalam dulu, mas,"ucap Annisa.


Annisa masuk ke dalam rumahnya, dia mengembuskan napasnya dengan kasar, kembali dia mengingat memory bersama Arsyil di rumahnya. Annisa merasakan sesak di dadanya saat dia masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat setiap pojok kamarnya, semua ada Arsyil. Dia masih merasakan hadirnya Arsyil di sisinya.


*Flashback on*


"Ayo ke kamar."ajak Arsyil.


"Mau apa?"tanya Nisa.


"Aku kengen kamu Nisa."

__ADS_1


"Kangen? Gak ntar kamu macam-macam di kamar, di sini saja berani meluk-meluk."ucap Nisa dengan wajah cemasnya


Arsyil terkekeh melihat calon istrinya memasang wajah cemas seperti itu.


"Ayo ikutlah ke kamar, sebentar saja."Arsyil menarik tangan Annisa dan memaksa masuk ke dalam kamar. Arsyil menutup pintu kamarnya.


"Kenapa di tutup?"tanya Nisa yang semakin cemas.


"Biar gak ada yang lihat."jawab Arsyil dengan santai dan tersenyum manis.


"Syil, jangan macam-macam ya."ucap Nisa yang semakin menjauh dari Arsyil.


"Emang aku mau apa, aku mau menunjukan itu lemari sama meja riasnya bagus tidak, aku kemarin baru saja membelinya r di meuble langganan papah."ucap Arsyil sambil terkekeh.


"Ih....kamu, gak lucu tau, aku kira mau apa." jawab Nisa dengan kesal.


"Emang mau apa, makanya pikirannya jangan mesum dulu, Bu. Bagaimana bagus tidak?"tanya Arsyil sekali lagi.


"Ih,,,ibu lagi, emang aku udah ibu-ibu."ucap nya sambil melihat setiap sudut lemari dan meja rias yang Arsyil baru beli.


"Kan kamu calon ibu dari anak-anakku kelak sayang, sudah jawab dulu pertanyaan ku bagus tidak?"tanya Arsyil lagi.


"Bagus sekali, aku suka. Terima kasih Syil, kamu sudah menyiapkan ini semua untuk aku." Annisa memeluk Arsyil.


"Iya sama-sama, sudah jangan meluk-meluk ini di kamar. Jangan menggodaku Nisa."ucap Arsyil.


"Ih,,, siapa yang menggodaku. Ayo ah keluar, takutnya Arsyil macam-macam."ujar Annisa yang berlalu.


*Flashback Off*


Annisa menangis di depan meja riasnya. Dia mengingat kembali Arsyil, hampir setiap detik bayangan Arsyil selalu menghampiri Annisa setelah dia memutuskan untuk menikah dengan Arsyad.


"Aku tidak bisa, Syil, aku tidak bisa!"ucap Annisa sambil menangis.


"Aku tau kamu tidak bisa, Nisa. Aku juga, aku juga sama seperti kamu, apa yang kamu rasakan aku juga merasakan. Ini semua untuk mereka, untuk Najwa, Shifa, Dio dan Raffi. Kita menikah untuk mereka, jangan terbebani perasaanmu, Nis. Aku tidak memaksa kamu mencintaiku, aku juga tak memaksa diriku untuk mencintaimu, karena itu tidak bisa. Menikahlah denganku, karena untuk mereka, bukan untuk kita. Kita bisa melalui ini,"ucap Arsyad yang tiba-tiba datang di belakang Annisa. Arsyad memegang bahu Annisa dan membalikan tubuhnya agar menghadap dirinya.


Arsyad memberanikan diri menyeka air mata adik iparnya itu. Dia memang menyayangi Annisa, tapi sebatas adik saja. Dia memeluk tubuh Annisa, membiarkan adik iparnya itu menangis di dadanya karena mengenang adik kandungnya.


"Aku tidak bisa, kak, aku mencintai Arsyil,"ucap Annisa dengan suara serak.


"Iya, aku tau itu, aku juga tidak bisa, kamu tau betapa kuatnya cinta ini untuk Almira, aku juga tidak bisa menggantikan dengan siapapun, Nis. Sakit memang menerima kenyataan ini, tapi ini semua demi anak-anak kita, kita harus bisa, kita harus kuat,"ucap Arsyad yang semakin mengeratkan pelukannya pada Annisa. Annisa membalas pelukan kakak iparnya itu.


"Sudah, jangan menangis, kamu boleh mengingat Arsyil, tapi Jagan seperti ini, kasihan Arsyil, di sana juga sedih melihat kamu menangis terus, mata kamu dari pagi sudah sembab sekali, Nis, sudah jangan nangis lagi,"Arsyad mengahlis air mata Annisa.


"Kakak kok tau aku kesini?"tanya Nisa.


"Tadi kakak ke kantormu, Rere bilang baru saja kamu berangkat pergi ke rumahmu, ya sudah aku susul kamu ke sini, aku kan sudah bilang akan mengajakmu ke suatu tempat,"ucap Arsyad.


"Kemana?"tanya Annisa yang masih berada di depan Arsyad. Arsyad juga masih melingkarkan tangannya di pinggang Annisa.


"Nanti kamu tau, kamu cuci muka dulu, aku tunggu kamu di bengkel,"ucap Arsyad.


"Iya, kak. Em…maaf lepasin tangan kakak, ini,"ucap Annisa dengan menyumipulkan senyumannya.


"Oh iya, maaf, sudah sana kamu cuci muka, jangan nangis lagi"ucap Arsyad sambil menarik hidung Annisa dan melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang Annisa.


"Sakit, kak,"ucap Annisa sambil mengusap hidungnya. Dia ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Arsyad menunggu di bengkel Arsyil di temani oleh Mas Wahyu mereka berbincang-bincang sambil menunggu Annisa keluar dari rumahnya.


"Kak, ayo. Jadi pergi, kan?"tanya Annisa.


"Iya, jadi, Mas Wahyu, Mas Donni, pamit dulu, ya,"pamit Arsyad.


"Iya, mas, hati-hati," jawab mereka.


Annisa dan Arsyad masuk ke dalam mobilnya, Arsyad melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.


Mobil Arsyad sudah sampai di depan toko perhiasan. Mata Annisa terbelaklak melihat Arsyad menghentikan mobilnya di depan toko perhiasan.


"Mau apa, kak, ke sini?"tanya Annisa.


"Mau beli cincin untuk pernikahan kita nanti,"ucap Arsyad.


"Ayo, turun,"ajak Arsyad.


Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam toko perhiasan. Arsyad menyuruh Annisa memilih cincin pernikahan, tapi Annisa di bingung kan banyak model yang bagus-bagus dan cantik-cantik.


"Aku bingung, kak,"ucap Annisa.


"Kalau yang ini, bagaimana?" Arsyad memeprlihtakan cincin yang yang sangat cantik sekali.


"Bagus, kak,"ucap Annisa.


"Di coba dulu, Nis,"ucap Arsyad


"Bagus tidak,kak?"tanya Annisa dengan menunjukan cincinnya.


"Bagus, ambil ini saja, ya?"ucap Arsyad.


"Oke,"ucap Annisa.


Arsyad sudah membayar cincin yang ia pilih. Arsyad akan mengajak Annisa ke butiknya untuk memilih gaun pernikahannya.


"Nis, ke butik kamu, ya?"ajak Arsyad.


"Mau apa, kak?"tanya Annisa.


"Memilih gaun untuk kamu,"ucap Arsyad.


"Kak, boleh tidak aku pakai gaun aku waktu dulu menikah dengan Arsyil?"tanya Annisa.


"Boleh, tapi…"ucapan Arsyad terhenti saat melihat tubuh Annisa sekarang sudah agak gemukan di Bandung waktu masih gadis.


"Tapi, apa kak? Gak boleh, ya? Ya sudah,"ucap Annisa yang agak kecewa.


"Boleh, Nis, tapi apa masih muat ya? Dulu waktu kamu masih gadis agak kurusan dikit, ini sudah lumayan, emm…"ucapan Arsyad terhenti karena Annisa memotongnya.


"Gendut maksudnya?"potong Annisa.


"Ya seperti itu, ya sudah, kalau masih muat, pakai saja, kalau sudah tidak muat, ya cari yang lain,"ucap Arsyad.


"Oke,"ucap Annisa.


Arsyad dengan cepat melajukan mobilnya menuju butik Annisa. Memang gaun Annisa waktu menikah dengan Arsyil masih di pajang di showcase butiknya.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2