THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 35 "Keluar Kota" The Best Brother


__ADS_3

Dio melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rania. Dia mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi dari rumah. Rania melihat dari jendela kamarnya, mobil Dio melaju kencang keluar dari halaman rumahnya. Entah Dio akan pergi ke mana saat ini Rania tidak tahu.


"Pasti mau menemui Najwa. Hmm … biarlah, memang kalau sudah cinta ya seperti itu," ucap Rania lirih.


Rania merebahkan tubuhnya. Dia masih merasa pusing kepalanya. Memang semalam Rania kurang tidur. Dia hanya tidur 1-2 jam saja semalam. Dia bangun jam 03.00 untuk Sholat malam seperti biasanya hingga waktu subuh dia tidak tidur lagi. Lalu seusai sholat subuh dia memasak, dan setelah itu menyetrika baju-bajunya. Rania memejamkan matanya karena media merasa mengantuk setelah meminum obat dari dokter.


Dio menghentikan mobilnya di depan rumah bundanya. Dia ingin menemui Annisa. Dio langsung masuk ke dalam rumahnya mencari Annisa.


"Bunda … bunda …." Panggil Dio sambil berjalan ke arah teras belakang.


Dia melihat Annisa, Arsyad, dan Rico yang sedang berbincang-bincang di teras belakang.


"Kalian aku cari ternyata di sini," ucap Dio.


"Dio, kamu ada apa ke sini?" tanya Annisa.


"Rania sakit, Bunda," ucap Dio.


"Sakit apa?" tanya Rico.


"Mungkin kecapean," jawab Dio.


"Kamu istri sakit malah di tinggal ke sini," tegur Arsyad.


"Abah, Dio ke sini karena mau minta bantuan bunda," ucap Dio.


"Bantuan apa?" tanya Annisa.


"Buatkan bubur untuk Rania. Dio tidak bisa, tadi Dio cari tukang bubur sudah tidak ada bunda," pinta Dio.


"Mungkin tukang buburnya lagi naik haji, Dio," celah Rico.


"Ya kali, sinetron tukang bubur naik haji," sahut Arsyad.


"Kalian kok malah ribut. Ya sudah bunda buatkan," ucap Annisa.


"Kasihan Rania, dia sudah capek dari pagi, Dio di rumah tidak ada Asisten rumah tangga, jadi Rania semua yang mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Dio.


"Cari asisten rumah tangga, kasihan Rania kalau sedang sakit mengerjakan pekerjaan rumah sendiri," tutur Arsyad.


"Iya, nanti aku cari, Abah," ucap Dio.


"Ya sudah, bunda ke dapur, mau buatkan bubur untuk Rania," pamit Annisa.


Dio mengobrol dengan abah dan opanya saat Annisa membuatkan bubur untuk Rania. Arsyad merasa kalau Dio masih menyimpan rasa cinta pada Rania, walau itu sudah terpendam di dasar hatinya. Namun, Dio gagal untuk menggalinya dan memulai cintanya lagi dengan Rania, karena Najwa sudah ada di permukaan hatinya dan melekat erat.


"Abah, jangan bilang Ayah Reno kalau Rania sakit, Rania tadi melarang Dio bilang soalnya. Dan, melarang juga bilang pada bunda dan abah," ucap Dio.


"Kenapa seperti itu?" tanya Arsyad.


"Entahlah, dia yang mau," jawab Dio.


"Kamu bahagia bersama Rania?" tanya Arsyad.


"Ya, seperti yang abah lihat," jawab Dio.


Dio beranjak dari tempat duduknya. Dia beralih duduk di ruang tamu sendirian. Memikirkan keadaan Rania yang ia tinggal tanpa pamit. Dia juga bingung dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya hari ini. Dari semalam Dio juga tidak bisa tidur, karena rasa bersalahnya pada Rania yang membuat tangan Rania sampai terkilir. Di tambah hari ini Rania sakit dan hingga pingsan di kantornya.


"Kenapa aku bisa seperti ini? Tak henti-hentinya otakku memikirkan Rania di rumah. Apa dia baik-baik saja? Bodohnya aku tidak pamit dengan dia," gumam Dio.


Dio mendengar ponselnya berbunyi, ada notifikasi pesan di ponselnya. Dio membukanya, dia mengulas senyumnya saat melihat nama kontak pengirim tertera di layar ponselnya.


"Baru saja di pikirkan, dia mengirim pesan, tumben sekali," gumam Dio yang melihat nama Rania di layar ponselnya.


"Dio, aku tahu kamu sedang menemui Najwa. Maaf aku menggangu waktumu berkencan. Bisa aku minta tolong? Aku ingin makan apel merah, bisa setelah pulang menemui Najwa kamu belikan apel merah untukku? Kalau tidak bisa ya tidak apa-apa, terima kasih." ~Rania.


Dio tersenyum melihat pesan dari Rania yang mengira dirinya sedang menemui Najwa. Dio langsung membalas pesan Rania.


"Iya, nanti aku belikan, kamu mau apalagi selain apel merah?" ~Dio.


Dio menaruh ponselnya di meja dan merebahkan dirinya di sofa sambil menunggu balasan dari Rania. Dio memikirkan kata-kata Najwa semalam yang akan meninggalkan Dio dan menjauh dari Dio. Dio pun berkata akan menjadi suami Rania seutuhnya. Tapi, kata-kata itu hanya sebatas di mulut Dio saja. Dia tidak akan bisa menyentuh Rania, karena tidak mencintainya.


"Najwa, kamu benar-benar akan melupakan aku? Dan, hari ini kamu benar-benar tidak mengirim aku chat sama sekali. Padahal setiap hari kamu tidak lupa mengirim pesan padaku, dan selalu cepat membalas pesanku. Tapi, sekarang, aku mengirim pesan saja hanya kamu baca," gumam Dio.


^^^^


Rania selesai sholat Dzuhur, dia merapikan mukenah nya dan kembali membuka ponselnya yang dari tadi sudah terdengar beberapa notifikasi pesan. Dia melihat chat dari Dio. Rania langsung membukanya dan membacanya. Rania tersenyum, ternyata Dio langsung membalas pesannya tadi. Namun, karena setelah mengirim pesan dia ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dia tidak memerhatikan ponselnya ada balasan dari Dio.

__ADS_1


"Sudah, apel merah saja. Apa kamu masih lama pulangnya?" ~Rania.


Rania membalas pesan dari Dio. Dan langsung terdengar balasan dari Dio.


"Sebentar lagi, selesai sholat Dzuhur aku akan pulang, ini sedang tanggung." ~Dio.


"Tanggung apa? Dengan Najwa? Dio, jangan melakukan hal macam-macam lagi. Maaf aku jadi bahas ini. Tolong kalau mau melakukan hal yang lebih, kamu nikahi Najwa, Dio." ~Rania.


"Hmmm … iya, Ran, sudah tunggu aku pulang, sebentar lagi aku pulang, tidak usah masak. Jangan kecapean dulu. Aku bawakan makan siang untuk kamu." ~Dio.


"Iya. Kamu hati-hati." ~Rania.


Rania meletakan ponselnya. Setidaknya ada sedikit bahagia di hatinya. Karena Dio tidak marah saat menyinggung Najwa. Dia malah menyuruhnya istirahat dan jangan kecapean. Rania duduk di depan meja kerjanya sambil membuka-buka surat dari Dio dulu.


^^^^^


Dio mencerna kata-kata Rania dalam Chatnya yang menyinggung hubungannya dengan Najwa tadi. Dio sedikit berpikir, soal ucapan Rania tadi.


"Bagaimana aku akan menikahi Najwa. Hubungan kita benar-benar terlarang, Rania. Dia haram untuk kunikahi. Dan, aku memang sudah melampaui batas berhubungan dengan Najwa. Meski belum seutuhnya Najwa menyerahkan dirinya padaku. Aku tidak bisa jika dekat dengan Najwa tidak melakukan itu, Ran. Aku tidak tahu, dan aku harus bagaimana. Saat bersama Najwa yang aku inginkan hanya berdua saja. Menikmati hari-hari bersama Najwa," gumam Dio.


"Dio, ini cepat bawa pulang buburnya. Kasihan Rania kamu tinggal lama," ucap Annisa yang mengagetkan Dio yang sedang melamun.


"Ah, iya bunda. Dio mau sholat Dzuhur dulu," ucap Dio.


"Oke, ini juga ada masakan buat kalian. Jaga Rania, setelah pulang, jangan pergi-pergi lagi," tutur Annisa.


"Iya, bunda ratu, iya …." ucap Dio sambil mencium Annisa dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Seusai sholat, Dio langsung berpamitan untuk pulang. Dio melajukan mobilnya ke kedai buah dekat dari rumahnya. Dia membelikan apel merah pesanan istrinya.


Sesampainya di rumah, Dio langsung menaruh bubur dan apel di meja makan dan menghampiri Rania yang masih berada di kamarnya.


"Ran, makan yuk, kamu belum makan siang, kan? Di bilangin jangan kerja dulu, malah kerja di rumah," ucap Dio.


"Kamu sudah pulang?" tanya Rania.


"Iya, matikan laptop kamu, kita makan siang," titah Dio.


"Iya, iya, ini aku matikan," ucap Rania.


Rania mengekori Dio berjalan menuju ke meja makan. Dia melihat sudah ada makannan yang tertata di meja makan.


"Iya, untuk kamu. Dan, aku tadi meminta bunda untuk membuatkannya," jawab Dio.


"Jadi kamu tidak menemui Najwa?"


"Tidak, jangan bahas dia. Kamu tahu kan, semalam dia berkata apa. Sudah kita makan, jangan bahas itu dulu." Dio berkata sambil menata makanannya dan mengambilkan bubur ke mangkuk yang tadi ia ambil.


"Sedikit saja Dio, aku tidak biasa makan siang," ucap Rania.


"Jadi kamu jarang makan siang?" tanya Dio.


"Iya, kalau aku sudah sarapan, makan siangku paling dengan buah, atau salad sayur dan buah," jawab Rania.


"Kenapa seperti itu? Pantas sakit," ucap Dio.


"Aku sudah biasa makan seperti itu, Dio. Aku sakit karena aku semalam tidak bisa tidur," ucap Rania.


"Ya sudah, makan dulu, setelah itu minum obatnya," titah Dio.


Mereka makan siang bersama. Rania tidak menyangka tadi Dio ke rumah bundanya hanya untuk meminta bundanya membuatkan bubur untuk dirinya.


"Kalau saja selamanya kamu seperti ini, Dio. Aku akan merasa bahagia. Dan, ini semua tidak mungkin, karena kamu mencintai Najwa. Ah ... Sudahlah Rania, anggap ini bonus, hari ini Dio tidak marah-marah dengan kamu," gumam Rania.


^^^^^


Genap usia 6 bulan Dio dan Rania menikah. Selama itu pula mereka sudah lebih dekat lagi. Dio jarang menemui Najwa dan Najwa pun jarang merespon chat dari Dio. Namun, mereka sesekali tetap bertemu untuk melepas rindunya. Dio menemui Najwa saat dia benar-benar merindukannya, dan diam-diam dari Rania. Pernikahan Dio dan Rania terlihat baik-baik saja, tapi itu semua hanya baik di luar. Di hati Dio sama sekali tidak baik-baik saja, karena setiap hari yang Dio pikirkan adalah Najwa, Najwa, dan Najwa.


Apalagi hati Rania, hati dia semakin hancur, karena sudah berulang kali mencoba mengambil hati Dio dan meluluhkannya, tapi tetap saja tidak bisa ia dapatkan hati Dio. Dio menyibukan diri selama 6 bulan, di samping menemui Najwa, dia juga sibuk di kantor. Bertemu dengan Rania hanya sebatas di meja makan dan di dalam rumah setelah kembali dari kantor. Tempat tidur mereka juga masih terpisah.


Dio hari ini pergi bersiap untuk pergi ke luar kota untuk menemui klien beberapa hari ke depan. Beruntung di rumah sudah ada asisten rumah tangga yang bisa menemani Rania. Namun, dia juga sedikit khawatir kalau Rania di rumah sendirian hanya dengan Bi Sari, asisten rumah tangganya. Bagaimanapun Rania perempuan. Jadi, Dio ada sedikit rasa khawatir pada Rania, walau dia sering menyakitinya hatinya.


"Ran, kamu baik-baik di rumah. Apa kamu akan menginap di rumah ibu?" tanya Dio.


"Emmm … boleh jika aku menginap di sana?"


"Boleh, aku antar, ya? Aku 5 hari di luar kota. Kamu sendirian di rumah dengan bibi mending menginap di rumah ibu," ucap Dio.

__ADS_1


"Lalu bibi?" tanya Rania.


"Biar bibi pulang saja, libur 5 hari, dia juga lama tidak libur," jawab Rania.


"Baiklah, aku akan mengambil baju ganti," ucap Rania.


Rania akhirnya menginap di rumah ibunya. Karena Dio tidak tega Rania sendirian dengan asisten di rumah. Mereka berangkat ke rumah Reno. Dio dari tadi hanya diam saja. Memang sekarang Dio bicara dengan Rania kalah penting-penting saja. Dan jika tidak ada yang di bicarakan Dio memilih diam. Begitu juga dengan Rania. Mereka seakan memiliki dunia sendiri-sendiri walaupun tinggal dalam satu rumah.


Mereka sampai di rumah Reno. Dio mengajak istrinya turun dan masuk ke dalam rumah mertuanya. Rania meraih tangan Dio dan menyilangkan tangannya pada tangan Dio.


"Maaf, kita harus seperti ini di depan ayah dan ibu," ucap Rania.


"Hmmm … iya," jawab Dio.


Mereka terlihat mesra sekali berjalan masuk ke dalam rumah Reno. Rania bahagia jika di dalam situasi seperti ini. Karena dengan seperti ini, dia bisa dekat dengan Dio, dan Dio berlaku mesra dengannya. Walau dalam kepura-puraan.


"Assalamualaikum ... ayah … ibu …," panggil Rania.


"Wa'alaikumussalam, Dio, Rania, kalian ada apa pagi-pagi sekali datang ke sini, Nak?" tanya Anna.


"Ibu, Dio titip Rania, Dio lima hari mau keluar kota, jadi Rania biar di sini, kasihan di rumah adanya cuma bibi saja," jawab Dio.


"Ibu senang sekali Rania menginap di sini." Anna memeluk putrinya itu yang wajahnya semakin tirus.


"Kamu masih diet, Ran? Jangan terlalu ketat dietmu, gini kan pipi chubby kamu hilang," ucap Anna.


"Ibu, Rania tidak diet, hanya mengatur pola makan saja," ucapnya.


"Dia bandel, Bu. Kalau siang dan sore jarang makan nasi," ucap Dio.


"Tuh kan, kamu mulai lagi, makan seperti itu," ucap Anna.


"Rania putri ayah, kamu pagi-pagi ke sini, ada apa? Apa ada kabar baik, kamu sedang hamil?" Reno yang baru saja turun dari kamarnya langsung memeluk putrinya.


"Ayah, Rania belum hamil, do'akan saja, semoga secepatnya," ucap Rania.


"Rania mau menginap di sini, ayah. Dio mau keluar kota," imbuh Rania.


"Bagaimana aku bisa hamil? Di sentuh saja tidak?" gumam Rania.


"Dio pamit dulu, ayah, ibu." Dio mencium tangan mertuanya berpamitan untuk keluar kota.


"Kamu hati-hati, Nak," ucap Reno dan Anna.


"Iya, ayah, ibu,"


"Ran, aku berangkat. Kalau mau ke kantor minta antar sopir saja, oke," ucap Dio dengan mengusap kepala Rania.


"Iya, Dio. Kamu hati-hati." Rania mencium tangan Dio dan Dio mencium keningnya.


Seperti itulah mereka, saat di hadapan orang tua mereka pasti menampakkan kemesraan. Dan setelah berdua di rumah, jangankan bermesraan, tegur sapa saja jarang sekali.


Rania dan kedua orang tuanya melihat Dio yang akan pergi ke luar kota di terasnya. Ada rasa sepi dalam diri Rania saat Dio pergi. Walaupun tanpa tegur sapa kalau di rumah, dan hanya menyapa jika ada kepentingan saja, tapi bagi Rania itu sangat berarti. Melihat Dio baik-baik saja di hadapannya adalah hal terindah dalam hidupnya.


"Kenapa hati ini sepi, Dio lima hari pergi ke luar kota. Aku tidak akan melihat dia selama lima hari, itu teramat sakit di bandingkan dengan ucapan kasarnya dia. Mungkin karena aku sudah terbiasa melihat Dio marah-marah. Jadi aku merindukan hal itu," gumam Rania.


Reno melihat putrinya gelisah di tinggal Dio ke luar kota. Reno merangkul Rania dan mengajak dia masuk ke dalam rumah.


"Ayo masuk. Sudah, Dio kan sedang ada tugas kantor. Jangan sedih, paling lima hari kok," ucap Reno.


"Sepi ayah, tidak ada teman untuk berdebat setiap hari," ucap Rania.


"Kamu sama suami kok berdebat," ujar Anna.


"Biasa, Bu. Dia kan seperti itu orangnya. Ya, tapi Dio baik kok," ucap Rania.


"Itulah suami istri, bisa jadi teman, bisa untuk bertukar pikir, bercanda, berdebat, dan tentunya saling melengkapi dan mencintai," ujar Reno.


"Iya, yah. Kadang dalam rumah tangga memang tidak hanya mengandalkan cinta saja, kadang suami istri juga harus bersahabat atau berteman untuk sehari-harinya, yah," ucap Rania.


"Iya betul Rania. Kamu setelah menikah semakin dewasa saja, nak," ucap Reno.


"Iya, lah. Masa mau manja terus," ucap Rania.


"Rania mau ke kantor yah, bu," pamit Rania.


"Ya sudah ayo berangkat dengan ayah saja," ajak Reno.

__ADS_1


Rania dan Reno berpamitan untuk ke kantor pada Anna. Ini adalah hal yang di rindukan Rania, berangkat bekerja dengan ayahnya, dan bercanda bersama ayahnya di dalam mobil.


__ADS_2