
Mereka semua sarapan bersama, Arsyad dan Annisa hari ini tidak ke kantor. Setelah selesai sarapan mereka mengantar anak-anak ke sekolah, dan mereka sekalian pergi jalan berdua.
Arsyad mengajak Annisa melihat rumahnya yang akan di huni nanti.
Arsyad membelokan mobilnya ke sebuah halaman rumah yang cukup luas. Di samping rumah itu di hiasi oleh taman bunga yang berwarna-warni, terdapat gazebo di sudut taman. Di samping gazebo ada pos satpam, setiap hari ruang Arsyad hanya di jaga oleh satu satpam dan satu tukang kebun. Rumah mewah bernuansa klasik itu terletak tidak jauh dari rumah Annisa. Annisa tidak menyangka rumah itu milik Arsyad. Bukan hanya Annisa saja yang tidak tau, rumah itu yang tahu hanya Arsyad dan Almira. Namun, Almira tidak pernah mau menempati rumah suaminya. Dia ingin di rumah impiannya sendiri.
"Kak, rumah siapa?"tanya Annisa.
"Rumah kakak, ayo turun." Arsyad mengajak Annisa turun dari mobilnya.
Arsyad menyapa satpam yang selalu menjaga rumahnya itu.
"Pak, bagaimana, sudah beres semua?"tanya Arsyad pada Pak Jais satpam yang menjaga rumah Arsyad itu.
"Sudah, pak,"jawabnya.
"Oke, saya masuk dulu, pak,"pamit Arsyad.
"Iya, pak, silahkan,"jawab Pak Jais.
Arsyad berjalan mendahului Annisa. Annisa masih tidak menyangak kalau rumah yang ia sering lihat ini adalah rumah Arsyad.
"Rumah ini terlalu mewah sekali, apa ini benar rumah Kak Arsyad?"gumam Annisa dalam hati.
"Nis, kamu tidak pakai heels saja jalannya lambat sekali!"teriak Arsyad yang sudah berada jauh dari Annisa.
"Iya, sebentar." Annisa mempercepat langkahnya menuju Arsyad.
"Kak,"panggil Nisa.
Arsyad menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam rumah, dia menoleh ke belakang.
"Apa lagi, Nis?"tanya Arsyad.
"Ayo buruan masuk!"titah Arsyad.
"Iya kak, sabar, ih!"tukas Annisa.
Arsyad menarik tangan Annisa untuk masuk ke dalam rumahnya. Arsyad menggandeng tangan Annisa dan berjalan di sampingnya. Mereka menulusuri setiap ruangan di dalam rumahnya.
"Kak, ini benar rumah, kakak?"tanya Annisa lagi.
"Bukan, rumah Mas Joko,"tukas Arsyad.
"Kak, aku tanya serius,"ucap Annisa.
"Iya, kakak serius, lagian kamu, dari awal sudah tau ini rumah kakak malah tanya lagi,"ucpa Arsyad.
"Siapa tau bukan rumah kakak,"ucap Annisa.
"Kalau bukan rumahku, rumah siapa,hah?"tanya Arsyad sambil mengangkat dagu istrinya.
"Rumahnya Mas Joko."ucap Annisa sambil manarik hidung Arsyad dengan kencang.
"Nisa! Sakit tau!" Arsyad meringis kesakitan sambil memegang hidungnya.
"Sakit,kan?" Annisa menggoda suaminya itu.
"Iya, sakit,"ucap Arsyad.
"Duh, kasihan, sakit ya?" Annisa mengusap lembut hidung Arsyad.
"Ayo, ke kamar." Arsyad menarik tangan Annisa menuju ke kamar utama.
"Mau apa ke kamar?"tanya Annisa.
"Mau tidur, masa mau makan,"jawab Arsyad.
Mereka menuju kamar utama, kamar yang sangat luas, dengan tempat tidur bernuansa klasik, terdapat meja rias dan lemari pakaian, semua bermotif ukiran dan terbuat dari kayu jati dengan kualitas terbaik. Mata Annisa di manjakan oleh pemandangan di dalam kamar yang benar-bemar klasik dan modern.
"Ini kamar?"tanya Annisa.
"Kamar kita,mau kamar siapa lagi? Apa kamu mau tidur di gudang?"tukas Arsyad.
"Oh, kirain kamar Mas Joko, kalem saja kali, gak usah ngegas."ucap Annisa dengan mendudukan dirinya di ranjang yang cukup luas itu.
"Kak, kamu bohong ya,"ucap Annisa.
"Bohong bagaimana?"tanya Arsyad.
"Bilangnya rumah kakak gak sebesar rumah Nisa, tapig kenyataannya?" Annisa berkata dengan menatap wajah suaminya itu yang dari tadi menatap dirinya.
Arsyad tersenyum dan duduk di samping Annisa, dia merangkul Annisa dan mengusap kepala Annisa.
"Memang ini tidak besar, kan?"tanya Arsyad.
"Kak, seperti ini kamu bilang tidak besar? Ini terlalu besar dan terlalu mewah sekali,"ucap Annisa.
Mereka terdiam sejenak, Arsyad masih saja mengusap kepala istrinya itu.
"Sejak kapan kakak punya rumah ini?"tanya Annisa.
"Sebelum menikah dengan Almira,"ucapnya.
"Kok Kak Mira tidak mau tinggal di sini?"tanya Annisa lagi.
"Kakak kan bilang, Kak Mira ingin di rumah impiannya itu,"ucap Arsyad.
__ADS_1
"Rumah ini belum pernah aku huni, yang menempati rumah ini, Mas Joko dan Pak Jais,"tutur Arsyad.
"Mas Joko?"tanya Annisa.
"Iya, dia tukang kebun di sini, yang setiap hari membersihkan rumah ini, dia tinggal di sini dengan istrinya, Mba Lina,"jelas Arsyad.
"Oh, lalu Pak Jais? Dia sendiri atau dengan istrinya?"tanya Annisa.
"Pak Jais rumahnya dekat dari sini, jadi istrinya di rumah,dia juga sering bolak-balik pulang ke rumah,"jelas Arsyad.
"Kamu suka dengan kamarnya?"tanya Arsyad.
"Kamar ini?" Annisa balik bertanya.
"Iya, lah,"ucap Arsyad.
"Katanya aku di suruh tidur di gudang?"tanya Annisa.
"Mau tidur di gudang? Ayo aku antar,"ucap Arsyad.
"Gak mau, lebih baik aku pulang,"tukas Annisa.
"Makanya, aku tanya serius, Nisa. Suka tidak dengan kamarnya?"tanya Arsyad lagi.
"Iya, suka."jawab Annisa dengan beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke toilet.
Annisa memutar handle pintu kamar mandi, dia membukanya. Kamar mandinya juga sangat luas sekali.
"Nis, keluar yuk, lihat kamarnya anak-anak,"ajak Arsyad.
Annisa dan Arsya keluar, Arsyad menunjukan kamar untuk Dio, Shifa, Raffi dan Najwa. Kamar yang saling berhadapan, kamar Dio dan Raffi berdampingan, sedangkan kamar Najwa dan Shifa di seberang kamar Dio dan Raffi.
"Kak, memang ada berapa kama?"tanya Annisa.
"Di lantai dua ada tiga kamar lagi, kamu tau kan, keluargaku banyak, lihat saja kalau berkumpul di rumah papah, sampai rumah seluas rumah papah saja sepertinya masih kurang luas,"jelas Arsyad.
"Iya, ya. Senang ya kak, punya saudara banyak,"ucap Annisa.
"Kamu jangan seperti itu, kamu juga punya banyak saudara Nis, jangan merasa sendiri." Arsyad kembali mengusap kepala Annias.
"Orang yang aku cintai semuanya pergi, kak. Papah, mamah, Arsyil, mereka pergi ninggalin Annisa. Kadang Annisa merasa, dunia ini tidak adil, kak."ucap Annisa dengan tatapan sendu.
"Jangan bicara seperti itu, kamu masih punya Dio, Shifa, Najwa, Raffi, papah, dan kamu juga punya aku." Arsyad memeluk istrinya yang sudah terlihat berkaca-kaca matanya.
"Jangan sedih, kita semua satu keluarga, jangan menangis, Annisa." Arsyad menyeka air mata Annisa yang sudah mulai menetes di pipinya dengan ibu jarinya.
Arsyad menatap kedua mata Annisa, mereka saling menatap. Arsyad menarik Annisa lagi ke dalam pelukannya.
"Nisa, kamu sekarang menjadi istriku, apa aku harus bahagia? Atau bersedih? Karena hati ini masih berada di hati Almira, maafkan aku, Nis. Sebenarnya sebelum Arsyil membuatkan rumah untukmu, rumah ini sudah berdiri kokoh. Aku selalu memimpikan tinggal bersamamu di dalam rumah ini, tapi kenyataannya berbeda, kamu memilih adikku, dan aku menikahi Almira. Almira juga belum tau, soal rumah ini. Karena setelah aku tau kamu milik Arsyil, aku sudah tidak ingin lagi melihat rumah ini. Maaf aku berbohong, Nis," gumam Arsyad.
"Kak, lepaskan, aku tidak bisa bernapas,"ucap Annisa.
"Bagaimana, kamar anak-anak?"tanya Arsyad.
"Bagus, cocok kamar ini untuk anak gadis kita, dan yang ini juga cocok untuk Raffi dan Dio,"ucap Annisa.
Annisa dan Arsyad mengeliling setiap sudut ruangan di dalam rumahnya. Arsyad tak melapas tangan Annisa dari tadi. Mereka saling menggenggam erat tangannya. Annisa juga membiarkan Arsyad menggandeng tangannya dan tidak melepaskannya.
"Apa aku harus belajar mencintai Kak Arsyad? Aku tau dia juga tidak mencintaiku, sama seperti aku, yang juga tak mencintainya, tapi aku nyaman saat dipeluk Kak Arsyad. Syil, maafkan aku, aku sedikit membagi hati ku untuk kakakmu. Dia suamiku sekarang, Syil. Aku mempunya kewajiban melayani dia, tak mungkin aku melayaninya tanpa cinta. Walau sekarang belum bisa menumbuhkan cinta untuk Kak Arsyad, tapi aku sudah di berikan rasa nyaman saat berada di dekatnya,"gumam Annisa.
Annisa menuju ke belakang, dia masuk ke arah dapur. Dapur yang tertata sangat rapi sekali. Mini bar yang ada di dekat dapur bergaya klasik dan modern, juga ruang makan untuk keluarga yang sangat luas.
"Nis ayo ke belakang rumah,"ajak Arsyad.
Annisa berjalan di belakang suaminya itu, di lagi-lagi di kejutkan dengan pemandanan indah. Taman di halaman belakang serta kolam renang dengan pemandangan yang sangat sejuk di mata.
"Kak, kamu beli rumah ini dari seseorang, atau memang buat sedemikian rupa? Kakak hanya membeli tanahnya saja?"tanya Annisa.
"Dulu tanah ini milik seseorang yang kaya raya, rumahnya juga sudah tua. Kakak membelinya dari dia dan kakak renovasi sendiri, kolam renang ini juga sudah ada dari dulu. Tapi berbeda dengan sekerang. Semuanya sudah kakak renovasi sesuai keinginan kakak,"jelasnya.
Annisa masih mengelilingi taman di belkang rumahnya, dia mendudukan dirinya di kursi yang ada di taman itu. Arsyad mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Kak, sebesar ini rumahmu, tapi tidak ada cinta untuk apa? Sekecil rumah yang kita tinggali tapi terdapat cinta di rumahnya, sungguh lebih indah, kak. Aku bukan berharap kamu mencintaiku, aku tau, itu tidak akan pernah, mungkin sampai kapanpun tidak akan pernah. Begitu juga dengan aku, aku juga tak bisa mencintaimu, kak. Tapi aku selalu berusaha menjadi istri terbaik untukmu,"gumam Annisa.
"Nis, melamun lagi." Arsyad mengagetkan Annisa yang duduk sambil melamun hingga dia terjingkat.
"Ah, iya kak, maaf,"ucap Annisa.
"Nis, boleh kakak jujur sama kamu?"tanya Arsyad.
"Iya, jujur aja, kak,"jawab Annisa.
"Sebenarnya rumah ini aku beli setelah dulu aku mengenalmu, aku selalu berpikir, kalau aku dulu bisa menikahimu dan tinggal di rumah ini. Tapi kenyataannya berbeda, kamu ternyata kekasih adikku, kamu mencintainya. Dan setelah itu, aku biarkan rumah ini begitu saja, tanpa siapapun yang tau, hanya aku, dan sekarag kamu. Almira pun sebenarnya tidak tau soal rumah ini,"ungkap Arsyad.
"Aku ingin menjualnya lagi, tapi sia-sia, karena tidak ada yang berani membeli dengan harga yang aku tawarkan. Sekarang kenyataannya berbeda. Aku sudah menikahimu, tapi hati ini sudah tidak seperti dulu lagi,"ucap Arsyad.
Annisa terdiam dengan penuturan Arsyad, dia begitu tersentuh dengan penuturan kakak iparnya itu. Sebesar itu cinta kakak iparnya pada dirunya waktu dulu. Tapi seketika runtuh karena wanita yang ada di sampinya memilih adik nya. Dan karena adanya wanita berhati malaikat mengisi hati Arsyad. Iya, Almira, cinta Almira begitu kuat, hingga Arsyad tak bisa berpaling dari hatinya. Cinta Almira masih melekat di lubuk hatinya. Bahkan hati dia masih penuh dengan Almira.
"Kakak bilang tadi, Kak Mira tau rumah ini?"tanya Annisa.
"Tidak, Almira tidak pernah tau rumah ini, setelah kamu memlih Arsyil, aku langsung menyerahkan semua pada Mas Joko dan Pak Jais, mereka yang merawat rumah ini selama aku menikah dengan Almira. Kakak baru melihat rumah ini kembali saat Almira sudah meninggal. Itu juga karena ada yang menawarnya kemarin, tapi tidak jadi,"ucap Arsyad.
"Kamu mau jika aku mengajakmu tinggal di sini?"tanya Arsyad.
"Lalu papah?"tanya Annisa.
"Papah, nanti akan ikut ke sini, atau di rumah Shita,"ucap Arsyad.
__ADS_1
"Aku belum membicarakan soal ini sih dengan papah atau Shita. Semua tidak tau keberadaan rumah ini,"imbuh Arsyad.
"Kak, kenapa kamu membeli rumah ini?"tanya Annisa.
"Karena dulu, aku sangat mencintai seorang wanita dan aku ingin membahagiakannya,"ucap Arsyad.
Annisa hanya terdiam, dia mengingat dulu bagaimana Arsyad sangat mencintainya. Berulang kali Arsyad menyatakan cinta pada Annisa saat dia menjadi mahasiswanya, tapi dia selalu menolaknya. Karena dia memilih Arsyil dan sangat mencintai Arsyil. Ternyata dia menghancurkan mimpi Arsyad untuk hidup dengannya.
"Apa wanita itu aku, kak?"tanya Annisa.
Arsyad menoleh ke arah Annisa, mereka saling bertatapan. Arsyad mengurai senyumnya dan dia menganggukan kepalanya.
"Iya, wanita itu kamu, Annisa,"ucap Arsyad.
"Tapi maaf, aku belum bisa mencintaimu lagi, Nis. Entah kapan aku bisa mencintaimu,"ucap Arsyad.
"Aku tau, kak. Bukankah kita menikah karena mereka, bukan kita, dari awal kesepakatan kita seperti itu kan?"tanya Annisa.
"Iya, Nis. Mungkin aku belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai suami, dan aku tidak tau kapan aku bisa, maafkan aku, Nisa,"ucap Arsyad.
"Aku mengerti apa yang kakak rasakan, melupakan orang yang kita cintai, tidak mudah, kak. Apalagi kita sudah lama hidup bersama, seperti aku juga, aku masih belum bisa menerima orang lain di hatiku. Namun, aku selalu berusaha, agar aku bisa menjadi yang terbaik untuk suamiku sekarang, bukankah seorang wanita surganya ada pada suami, kak? Dan untuk meraih surga itu, aku harus berbakti pada suamiku,"tutur Annisa.
"Iya, Nis. Kakak tau, kakak juga akan berusaha menjadi suami yang baik dan abah yang baik untuk anak-anak,"ucap Arsyad.
"Maafkan kakak ya, Nis,"ucap Arsyad.
"Iya, kak, aku tau perasaan Kak Arsyad." Annisa menggenggam erat tangan suaminya, dia mencium punggung tangan suaminya.
Arsyad mengusap kepala Annisa dan menyandarkan di bahunya. Mereka terdiam, Annisa merasa nyaman berada di pelukan suaminya. Entah mengapa Arsyad tidak bisa mencintai Annisa seperti dulu, dia hanya menganggap Annisa sebagai adiknya, tidak lebih dari itu, dia menyayangi Annisa seperti dia menyayangi Shita dan Rachel.
Mereka masih berapa di taman belakang. Mas Joko baru saja datang ke rumah Arsyad karena baru saja mengantar istrinya ke pasar.
"Maaf Pak Arsyad, saya baru datang, tadi habis mengantar istri saya ke pasar,"ucap Mas Joko.
"Iya, mas, tidak apa-apa,"ucap Arsyad.
"Oh, iya. Ini istri saya, Annisa, dan mulai minggu depan saya, istri saya dan anak-anak akan menempati rumah ini, saya minta Mas Joko biar membersihkan setiap ruangan di rumah ini,"ucap Arsyad.
"Alhamdulillah, akhirnya setelah berpuluh-puluh tahun, Pak Arsyad akan menempati rumah ini." Mas Joko senang sekali karena sebentar lagi rumah mewah dan besar ini akan berpenghuni. Tidak hanya dia dan istrinya saja yang tinggal di rumah Arsyad.
"Ya sudah, nanti saya minta bersihkan rumah ini, karna nanti bakal rame, mas. Anakku sudah 4,"ucap Arsyad.
"Lho bukannya dua?"tanya Mas Joko.
"Saya menikah lagi kemarin, dan istri saya sudah memiliki dua anak,"ucap Arsyad.
"Oh, jadi gitu, ya sudah pak, saya permisi, bapak mau makan siang di sini kan? Biar Lina memasak untuk bapak dan ibu,"ucap Joko.
"Boleh, sambil menunggu anak-anak pulang sekolah, nanti kita makan siang di sini,"ucap Arsyad.
Annisa dan Arsyad kembali masuk ke dalam, Annisa sibuk membenahi kamar, mengelap meja rias yang sedikit berdebu.
"Kak, ini belum ada seprei nya?"tanya Annisa.
"Belum, lemari saja masih kosong,"ucap Arsyad.
"Sayang sekali rumah sebesar ini, dengan perabotan yang lengkap tapi semuanya berdebu,"ucap Annisa.
"Yah, mau bagaiman lagi, Nis. Aku saja sudah menyerah dengan rumah ini, di jual juga gak laku-laku,"ucap Arsyad.
"Yah, memang ingin di tempati rumah ini kak,"ucap Annisa.
"Kak, rumah Kak Mira bagaimana?"tanya Annisa.
"Rumah Almira selalu ramai, Alina dan Naila dia yang mengurus taman baca Almira, sedangkan rumahnya, asisten rumah tangga Almira yang merawatnya selama aku di rumah papah,"tutur Arsyad.
"Kamu tidak ingin tinggal di sana saja?"tanya Annisa.
"Kalau aku tingga di sana, bagaimana aku bisa belajar menerima kamu sebagai istrimu, kalau di sana hanya ada Almira yang hidup di setiap ruangan rumahnya,"ucap Arsyad.
"Coba kalau kamu, apa kamu ingin tingga di rumah kamu saja?"tanya Arsyad
"Biarlah, rumah itu untuk Dio atau Shifa setelah nanti dia menikah,"ucap Annisa.
"Kita perlu suasan baru, Nis. Bukan untuk melupakan pasangan kita dulu, tapi untuk membiasakan diri kita bersama,"tutur Arsyad.
"Iya kak,"jawab Annisa.
Annisa dan Arsyad menata kamarnya dan membersohakn kamarnya. Mereka juga membersihkan kamar anak-anak mereka sebelum mereka menjemput anak-anak pulang sekolah.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1
sekali-kali ah, Author minta vote, like dan komentar yang banyak.😁