
Pagi ini Arkan kembali ke sekolah, setelah semalam dia menemani Thalia di rumah sakit dengan abahnya dan Leon. Keadaan Thalia semakin membaik, tapi masih harus menjalani perawatan intensif.
Arkan melihat Angel dan kawan-kawannya masih berangkat ke sekolah. Mungkin hari ini mereka berangkat sekolah untuk yang terakhir kalinya. Kepala sekolah memutuskan mereka semua akan di keluarkan dari sekolahan, karena tindakan mereka yang sudah melampaui batas.
Hari ini juga orang tua mereka diundang ke sekolahan untuk meminta maaf pada orang tua Thalia. Arkan duduk di bangkunya dan menatap Lily yang dari memandang Arkan. Arkan membiarkannya, dia tahu apa yang dirasakan Lily saat ini. Nasibnya sedang terancam akan dikeluarkan dari sekolahan.
Lily beranjak dari bangkunya, dia mendekati Arkan yang dari tadi menatapnya. Entah apa yang akan dikatakan Lily pada Arkan. Angel dan Vanya hanya melihat saja Lily menghampiri Arkan.
“Kan, boleh aku duduk di sini? Aku mau bicara dengan kamu sebentar,” tanya Lily.
“Silakan,” jawab Arkan dengan mempersilakan Lily duduk di sampingnya.
Lily diam mengatur kata-kata yang akan di ucapkannya. Dia memang salah ikut menyiksa Thalia kemarin, meskipun dia sudah tahu kalau papahnya Thalia bukan orang biasa. Lily ikut menyiksa Thalia karena dia takut pada Angel dan Vanya, juga Sisil teman sebangkunya.
“Aku minta maaf, Kan. Kenapa kamu tidak membalas chatku semalam. Aku mohon, jangan keluarkan kami semua. Aku masih butuh sekolah di sini. Hanya sekolah ini yang biayanya tidak terlalu tinggi di kota ini, dan dekat dengan rumah, kalau aku harus keluar dari sini, aku mau sekolah di mana?” ucap Lily.
“Itu urusan kamu bukan urusan aku, toh kamu yang melakukan itu. Ya, kamu harus terima konsekuensinya,” ucap Arkan.
Lily hanya terdiam dan menundukkan kepalanya, bukan Arkan kejam bicara seperti itu pada Lily, tapi dia sudah keterlaluan sekali menurut Arkan.
“Sudah mau bicara itu? silakan kembali ke bangku kamu, itu Rangga sudah datang,” ucap Arkan dengan menunjuk ke arah Rangga yang berjalan ke bangkunya.
Lily pergi dari bangku Arkan dan duduk kembali ke bangkunya. Dia hanya terdiam membuka buku tugasnya yang masih kosong, karena dia belum mengerjakan tugas Bahasa Inggris. Sisil menatap Lily yang dari tadi hanya membolak-balik lembaran buku tugasnya itu.
“Ly, lo sudah bilang dengan Arkan?” tanya Sisil.
“Percuma gue bilang kepada dia, ini keputusan dari papahnya Thalia, kalau kita harus keluar dari sekolahan ini. Dan, jika orang tua kita tidak menerima keputusan ini, katanya orang tua Thalia akan menggunakan jalur hukum,” jawab Lily.
Memang Arkan tadi bicara seperti itu pada Lily. Arkan semalam mendengar percakapan abahnya dan papahnya Thalia soal kejadian kemarin.
“Nasib kita bagaimana, Ly? Kenapa lo enggak bilang kalau mereka anak dari donatur di sini, dan orang tua mereka bukan orang sembarangan. Gue tahu dari Sandi, kalau abahnya Arkan adalah bos besar di perusahaan yang papahnya Sandi bekerja di sana. Alfarizi, kan? Papahnya Sandi dari muda bekerja di sana, ikut opanya Arkan,” jelas Sisil.
“Benarkah Sandi bicara seperti itu?” tanya Lily.
“Ini lihat sendiri chatnya.” Sisil memberikan ponselnya pada Lily.
Lily baru percaya setelah membaca chat dari Sandi. Dia tidak menyangka kalau Papahnya Sandi bekerja di perusahaan Arsyad, hanya sebatas pegawai biasa, dan tidak memiliki jabatan.
Angel dan Vanya menghampiri Lily dan Sisil yang sedang bingung dengan nasibnya yang akan datang, setelah nanti keputusan di berikan pada mereka.
“Ly, lo tadi bicara dengan Arkan soal apa?” tanya Angel.
“Soal kita, Njel. Papahnya Thalia meminta kita semua keluar dari sekolah ini,” jawab Lily.
“Gue gak nyangka akan seperti ini kejadiannya,” ucap Angel dengan menundukkan pandangannya dan menyeka air matanya.
Angel sebenarnya anak dari keluarga yang sederhana. Hanya memiliki usaha yang tidak begitu besar. Ya, dia memiliki beberapa minimarket di kotanya, dan hidupnya tergolong sederhana, hanya saja dia anak satu-satunya yang terlalu dimanja jadi seperti itu.
“Njel, jangan nangis, bukan lo saja yang seperti ini, gue juga,” ucap Vanya dengan merangkul Angel.
“Papah lo kerja di perusahaan yang sama dengan papahnya Sandi kan, Nya?” tanya Sisil.
“Iya, kenapa, Sil?” tanya Vanya.
“Berarti papah lo anak buahnya Abahnya Arkan, dong,” jawab Sisil.
“Papahku sudah di pindahkan tugas di cabangnya, dan masih satu perusahaan yang sama, katanya ikut anaknya,” jawab Vanya.
“Mungkin saja perusahaan milik kakak-kakaknya Arkan, mereka pengusaha muda semua kata Sandi. Tapi, papah Sandi masih ikut dengan Pak Arsyad, abahnya Arkan,” ucap Sisil.
Sisil memang tetangganya Sandi, dan orang tua Sisil hanya bekerja sebagai pegawai biasa saja. Mungkin karena pergaulan dan zamannya banyak anak yang seperti itu, jadi mereka tidak memandang kebelakang, asal suka dan terlihat wow di mata siswa lain, ya sudah, apapun mereka lakukan tanpa memandang apa yang akan terjadi nanti di belakangnya.
^^^^^
Sepulang sekolah, Angel dan kawan-kawan berkumpul di ruang kepala sekolah lagi dengan di dampingi orang tua mereka masing-masing. Arsyad dan Leon juga sudah ada di sana. arsyad tidak menyangka salah satu orang tua dari siswa yang melakukan tindakan kekerasan pada Thalia itu adalah anak buahnya yang sudah puluhan tahun ikut bekerja di perusahaannya.
“Pak Arsayd,” sapa ayahnya Vanya.
“Lho kok Pak Dwijo?” ucap Arsyad dengan sedikit kaget karena ada anak buahnya di ruang kepala sekolah juga.
“Iya, saya mendampingi anak saya, Pak,” jawabnya.
“Ini anak bapak? Ikut melakukan pada keponakanku juga?” tanya Arsyad.
__ADS_1
“Iya, saya tidak menyangka dia akan seperti itu. Salah apa saya, saya tidak pernah mendidik anak seperti ini, Pak,” ucap Pak Dwijo dengan penuh rasa malu pada Arsyad.
“Ya, beginilah kenakalan remaja, kalau anak kita salah bergaul, ya sudah akan mempermalukan keluarga,” jawab Arsyad.
“Bukankah anak bapak masih ada yang seumuran anak saya?” tanya Pak Dwijo.
“Iya, dia sekolah di sini juga. Dan, di sampingku ini orang tua dari Thalia, keponakan saya yang sekolah di sini juga, dan dia murid baru di sini,” jwab Arsyad.
“Ya sudah, kita mulai saja untuk membahas semua ini supaya cepat clear,” uajr Leon.
Semua mendengarka kepala sekolah memberikan keputusasn pada Angel dan kawan-kawannya. Semua di kagetkan karena yang akan memutuskan nanti adalah Thalia, dan sekarang mereka semua harus menemui Thalia di rumah sakit.
^^
Thalia tadi sempat mendengar percakapan mamah dan papahnya yang sedang berbicara soal Angel dan kawan-kawan pada Arsyad dan Annisa sebelum Leon dan Arsyad ke sekolahannya. Dia mendengar bahwa Angel dan kawan-kawan akan di keluarkan dari sekolahannya dan tidak akan di terima di sekolahan manapun hingga akhir tahun ajaran. Intinya dia akan berhenti sekolah selama satu tahun dan boleh sekolah lagi tahun ajaran baru nanti dan masih tetap di kelas 2.
Thalia tidak tega mendengar papahnya memutuskan hal seperti itu. Walau bagaimanapun, tatap saja temannya yang jahat itu butuh untuk sekolah. Dia memohon pada papahnya agar Angel dan lainnya hanya di skorsing saja selama 1 atau 2 bulan. Kalau sampai satu tahun, besar kemungkinan dia akan tambah nakal dan tidak mementingkan sekolah. Tapi, Leon menganggap perbuatan Angel dan lainnya sudah melebihi batas kenakalan remaja.
Dan, Leon memutuskan terserah Thalia akan bagaimana. Memang Thalia sungguh berbeda dengan adiknya. Meski dia galak, hatinya tidak sekejam dan setega itu pada orang yang jelas-jelas menyakitinya.
^^
Arkan sudah berada di rumah sakit menjenguk Thalia. Dia memastikan keadaan Thalia sekarang, sudah lebih baik dari kemarin atau belum. Ada Annisa, Rere, dan Vera di ruang perawatan Thalia. Arkan masuk ke dalam ruang perawatan Thalia dan memberi salam pada bundanya juuga Rere dan Vera. Dia mendekati Thalia yang sedang membaca buku dan bersandar di Bed pembaringannya. Arkan menarik kursi dan duduk di samping Thalia.
“Bagaimana keadaanmu, Lia?” tanya Arkan
“Ya seperti ini, Kan. Sudah agak baikan, sih,” jawab Thalia.
“Kamu sudah makan?” tanya Arkan.
“Baru saja makan,” jawabnya dengan menutup bukunya dan menaruhnya di meja.
“Arkan, apa papah dan Om Arsyad sudah di sekolahan?” tanya Thalia.
“Sepertinya sudah, saat aku pulang, aku melihat mobil Om Leon di tempat parkir,” jawab Arkan.
Arkan mengbrol dengan Thalia cukup lama. Baru kali ini dia mengobrol dengan Thalia cukup lama, dan tidak beradu mulut seperti biasanya. Tak lama kemudian Leon dan Arsyad datang. Leon mendekati Thalia dan mencium kening Thalia.
“Nak, ada Angel dan teman-temanya datang, katanya kamu akan berbicara pada mereka,” ucap Leon.
Arkan bingung kenapa semua ke sini, dan apa yang akan Thalia bicarakan pada mereka semua. Arkan pikir mereka sudah fix dikeluarkan dari sekolahan.
“Kenapa dia ke sini?” tanya Arkan pada Thalia.
“Aku akan bicara padanya,” jawab Thalia.
Angel dan lainnya masuk ke dalam ruang perawatan Thalia. Mereka juga di dampingi orang tuanya, dan ada Kepala Sekolah dan Wali Kelas Thalia juga.
“Thalia, saya atas nama ketua dari mereka, saya minta maaf atas semua kejadian kemarin yang kami lakukan padamu. Dan, sekarang terserah kamu, hukuman apa yang pantas kami dapatkan dari kamu,” ucap Angel.
“Oke, aku terima permintaan maaf dari kalian semua, dan kalian baca ini. Ini ada surat perjanjian yang harus kalian tanda tangani di atas materai. Jika kalian melanggar perjanjian ini, hukum yang akan menindak lanjuti,” ucap Thalia dengan memberikan surat perjanjian untuk mereka.
Surat perjanjian itu dia buat dengan papahnya tadi dan di dampingi pengacara juga. Meski Thalia tidak memberikan hukuman yang berat bagi mereka, tapi sekali mereka melanggar perjanjian itu, mereka akan berurusan dengan hukum.
Isi perjanjian itu adalah, jangan ada penindasan siswa baru dan tidak ada lagi geng yang merujuk pada kekerasan. Dan, jika itu terjadi lagi, maka mereka semua akan berurusan dengan hukum. Thalia juga memberi hukuman pada mereka selama 3 minggu mereka diskorsing. Bukan diskorsing tanpa tugas dan pelajaran. Mereka tetap akan menerima tugas dan di kumpulkan saat berangkat, jika melanggarnya, mereka juga akan di beri hukuman sesuai prosedur dari pihak sekolahan.
“Bagaimana, kalian menyanggupinya?” tanya Thalia.
“Terima kasih, Thalia. Kamu tidak menyuruh kami semua keluar dari sekolah. Terima kasih, aku terima perjanjian ini, aku akan menandatanganinya dan aku janji tidak akan melanggar perjanjian ini,” ucap Angel dengan berlinang air mata.
“Baiklah, bagaimana Pak Aris, Bu Siwi, dengan perjanjian yang Thalia buat ini?” tanya Thalia dengan Kepala Sekolahnya dan wali kelasnya.
“Baiklah, kami akan memantau mereka semua, Thalia,” ucap Pak Aris.
“Iya, kami akan memantaunya, dan kalian, harusnya kalian bersyukur, Thalia masih besar hati memaafkan dan memberi keringanan untuk kalian semua. Ibu mohon, jangan ada hal seperti ini lagi,” ucap Bu Siwi.
Setelah menandatangani surat perjanjian itu, mereka meminta maaf pada Thalia dan Arkan juga. Mereka tidak menyangka, orang seperti Thalia yang memiliki segalanya, masih saja merendah dan tidak semena-mena meski dengan orang yang menyakitinya.
Mereka masih berada di ruangan Thalia, Angel mencoba menetralkan suasana dengan mengajak ngobrol Thalia. Thalia dengan senang hati mengobrol dengan Angel meski dia menyakiti Thalia dengan keterlaluan sekali.
“Kak Arkan...!” Tita langsung memeluk Arkan saat melihat Arkan ada di dalam ruangan kakaknya.
Dio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Tita yang seperti Kiara saat bertemu Arkan, senangnya bukan main. Tita memang dijemput Dio, karena dia ingin menjenguk Thalia juga. Dia sengaja dari kantor untuk menjenguk Thalia. Saat Dio kuliah di Berlin, Thalia dekat sekali dengan Dio, jadi tidak salah, Dio pun demikian, sudah menganggap Thalia dan Tita seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
“Tita...ini di rumah sakit, rame sekali kalau ada kamu,” ucap Arkan sambil mencubit pipinya.
“Aku suka kalau Kak Arkan di sini nemenin nenek gayung,” ucapnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya memandang ke arah Kakaknya yang sedang duduk bersandar di bed pembaringannya.
“Kamu bilang apa tadi? Dasar nenek lampir!” tukas Thalia dengan menghunuskan tatapan kesal pada adiknya.
“Cocok kalau gitu, kalian nenek-nenek semua,” ledek Dio.
“Kan, Kak Dio ikut-ikutan,” ucap Thalia.
“Sudah, kalian jangan ribut. Kamu bagaimana, masih ada yang sakit?” tanya Dio.
“Tidak, sudah mendingan, nanti sore paling pulang,” ucap Thalia.
“Kata siapa pulang? belum sembuh sudah mau pulang saja,” sambung Leon.
“Pah, Lia jenuh di sini, ketemunya novel terus...” ucap Thalia.
“Iya, nanti kalau dokter memperbolehkan kamu pulang, ya pulang,” jawab Leon.
Tita dari tadi cerewet sekali bertanya pada kakanya dan Arkan. Dia memang seperti itu, kadang juga dia over protektif sekali dengan kakaknya. Ada saja yang di omongin Tita saat bersama Arkan. Itu yang membuat Arkan suka kalau ngobrol dengan Tita, apalagi Tita bisa menjaga rahasia yang kadang Arkan menceritakan hal pribadinya saat dia akan mendekati Lily.
“Kak, cari es krim yuk,” ajak Tita.
“Gak ah, jaug keluarnya, panas,” tolak Arkan.
“Aku yang traktir, atau ke cafe Kak Rana, yuk? Aku ingin di buatkan cupcake sama Kak Rana,” pinta Tita.
“Kak Rana sekarang jarang di Cafe, Tita. Dia sudah buka cabang lagi di luar kota. Ayo ke depan cari es krim saja,” ajak Arkan.
“Ya sudah, yuk. Kak Lia mau?” tanya Tita.
“Iya, kakak ma....”
“Kakakmu tidak makan Es krim!” Leon menukas kata-kata Thalia.
“Papah...!” kesal Thalia pada papahnya.
“Kamu sedang sakit.”
“Yang sakit kan kaki, pah.”
“Tetap saja, biar sembuh dulu, baru makan Es krim, nanti Kak Dio dan Kak Rania akan mengajak kamu makan es krim sepuasnya kalau kamu sembuh,” ujar Dio.
“Ya sudah, aku mau susu coklat dong, Kan,” pinta Thalia pada Arkan.
“Oke, aku keluar dulu,” ucapnya dengan mengusap kepala Thalia.
Dio melihatnya hanya tersenyum, begitu juga Leon. Dia tidak menyangka akan seperti itu pada Thalia. Lily dan lainnya juga melihat Arkan begitu oerhatian denga Thalia. Arkan keluar dengan Tita menuju ke cafetaria yang ada di rumah sakit. Angel dan lainnya pamit untuk pulang, dan mulai besok Angel dan teman-temannya mulai belajar di rumah, dan di haruskan mengerjakan tugas dari setiap mata pelajaran.
^^^
Thalia sudah membaik keadaanya, dia hari ini sudah kembali ke sekolah lagi. Sekarang Arkan yang mengantar jemput Thalia untuk ke sekolah. Karena janjinya kemarin tidak ia tepati, dan ada kejadian seperti itu, Arkan semakin over protektif pada Thalia, jadi dia yang antar jemput Thalia untuk ke sekolah. Itu juga permintaan dari Tita, adiknya Thalia.
“Sudah siap?” tanya Arkan dengan memberikan Helm pada Thalia.
“Sudah,” jawabnya.
“Gak apa-apa, kan? Aku pakai sepeda motor jadul?” tanya Arkan.
“Kamu itu, ini jadul hanya covernya saja, mesin menurutku 100 persen oke,” jawab Thalia.
“Kenapa bicara seperti itu?” tanya Arkan lagi.
“Ya, karena yang pegang ini motor mekanik andal,” jawab Thalia.
“Kamu bisa saja, Lia. Sudah buruan naik,” ucap Arkan.
“Pegangan nanti jatuh,” imbuhnya.
“Iya, ini udah pegangan,” ucap Thalia dengan mencubit perut Arkan.
“Aduh... gak usah nyubit, dong....” ucap Arkan.
__ADS_1
“Iya, maaf, sudah cepat, nanti terlambat, Tita juga sudah berangkat dari tadi,” ucap Thalia.
Arkan melajukan sepeda motornya menuju ke sekolahan. Sekarang Arkan menjadi sopir pribadi Thalia. Tidak keberatan bagi Arkan untuk mengantar jemput Thalia, mungkin hingga mereka lulus sekolah. Meski terlihat galak dan jutek, Thalia ternyata berbeda dengan cewek lainnya. Banyak cewek yang berlomba-lomba memiliki wajah yang glowing, dengan berbagai skincare mahal, tapi Thalia tetap dengan wajah aslinya dan tidak pernah mencolok penampilannya.