THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 61 "Tamu Tak Diundang"


__ADS_3

Malam hari di rumah, Arsyad merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarganya bersama papah Rico. Shita dan Vino juga masih di rumah Arsyad. Karena tadi dia harus keluar kota, jadi Rana dan Farrel di rumah Arsyad bersama Rico.


"Bagaimana, Syad. Aman kan?"tanya Rico.


"Aman, pah. Perusahaan juga aman, tapi tetap saja Arsyad masih sedikit khawatir,"ucap Arsyad sambil tiduran di sofa dengan berbantal ke dua tangannya.


"Masalah Lintang juga sudah selesai, pah,"ucap Arsyad.


"Syukurlah, semoga semua akan baik-baik saja ke depannya,"ucap Rico.


"Annisa di mana?"tanya Rico.


"Tuh di ruang tamu sama Shita,"jawab Arsyad.


Rana berlari ke arah Arsyad dan langsung tiduran di atas tubuh Arsyad.


"Pakde, Rana kangen." Rana menciumi pipi Arsyad hingga berkali-kali dan menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad dengan manja.


"Pakde juga kangen, cium pakde lagi," pinta Arsyad.


Rana mencium Arsyad berkali-kali, Arsyad juga bergantian mencium pipi Rana yang Chubby.


"Pakdemu berat, sayang,"ucap Rico sambil menepuk punggung cucunya yang paling kecil dan cerewet itu.


"Gak Pakde gak berat. Bagaiman, kamu senang sekolahnya?"tanya Arsyad.


"Menyenangkan sih, tapi ada teman yang jahilin Rana,"ucap nya sambil mengerucutkan bibirnya dia depan wajah Arsyad.


Arsyad mencium bibir mungil keponakannya yang lucu itu. Rana menepuk-nepuk pipi Arsyad, dan bermain bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu dan sekitar pipi Arsyad.


"Siapa yang jahilin, ponakan Pakde yang lucu ini, hah?"tanya Arsyad.


"Bima namanya, Pakde. Dia nakal dan suka jahil sama Rana,"jawab Rana.


"Kami lucu sih, jadi di jahilin teman kamu,"ucap Arsyad sambil mencium pipi Rana dan menggelitik perut Rana.


Tawa renyah Rana terdengar hingga ruang tamu. Arsyad terus menggoda keponakan nya yang lucu itu.


"Kakak, ampun deh kalau sudah bercanda dengan Rana, aku kira dia nangis tadi,"ucap Shita yang mendekati Arsyad dan Rana yang sedang bercanda.


"Pakde yang mulai, mah. Tolong Rana, mamah!" teriak Rana dengan tertawa.


"Kak, ihh lepasin, kakak kalau bercanda gitu banget, sih,"ucap Shita.


Arsyad menghentikan bercandanya dengan Rana, dia memeluk erat Rana dan mencium pipinya.


"Mamah, malam ini Rana bobo sama Pakde, ya?"pinta Rana.


Arsyad tersenyum ke arah Shita dan Annisa yang sedang duduk di karpet bersama Vino juga.


"Pakde mau buat dedek, jangan di ganggu,"ucap Shita.


"Kamu itu, Ta, kalau bicara," tukas Vino.


"Masa pakde bisa buat adek?"tanya Rana penasaran yang masih belum beranjak dari atas tubuh Arsyad.


"Bisa, makanya, Rana bobo sama Kak Najwa atau Kak Shifa ya?"jawab Arsyad.


"Nanti besok adeknya sudah ada, kan? Nanti adeknya cewek ya, Pakde? Biar main dengan Rana,"ucap Rana dengan lucu dan menggemaskan.


"Besok?"tanya Arsyad sambil terkejut dan menggapit pipi Rana dengan kedua telapak tangannya.


"Iya, besok ya pakde?"pinta Rana dengan manja.


"Nanti nunggu Tante Nisa hamil, baru ada dedek,"ucap Arsyad.


"Tapi perut Tante Nisa gak besar, kalau hamil kan besar, Pakde,"ucap Rana dengan lucu.


"Kamu itu bawel sekali, nak. Sini turun, itu pakde kan berat, sayang, kamu itu sudah gede, Rana,"ucap Vino sambil mengelus punggung Rana.


"Gak mau, Rana masih kangen sama Pakde,"ucap Rana.


"Ya sudah, nanti Rana bobo sama Pakde sama Tante ya," ucap Annisa sambil mendekati Rana dan mengambil Rana dari atas tubub Arsyad.


Annisa memangku Rana yang tubuhnya semakin tinggi dan berat sekali. Annisa memang suka sekali dengan Rana, dia sangta cerewet dan menggemaskan. Annisa menciumi pipi Rana dan mencubitnya denan lembut.


"Ahh…lepas, Tante...geli..!" teriak Rana sambil tertawa renyah saat Annisa mencium dan menggelitik lehernya.


"Ehh…kamu cepet gede ya, Tante kangen kamu bayi, gemesin banget,"ucap Annisa sambil bermain pipi Rana yang chubby.


Rana sekarang sudah kelas 3 SD, tapi memang dia masih terlihat menggemaskan sekali. Sudah lama sekali Rana tidak bergelayut manja dengan Arsyad. Rana tiba-tiba saja menunjukan wajah sedihnya, entah apa yang di pikirkan Rana saat itu.


"Kenapa wajahmu di tekuk gini, hah?"tanya Arsyad yang duduk di samping Annisa dan mengangkat wajah Rana.


"Iya, nanti bobo sama Pakde, udah jangan cemberut,"imbuh Arsyad.


"Rana kangen sama Om Arsyil." semua yang ada di ruang tengah menjadi diam semua karena Rana berkata seperti itu.


"Hmmmhh…." Annisa mengembuskan napas dengan berat mendengar Rana berkata seperti itu.

__ADS_1


Iya, Rana memang dekat sekali dengan Arsyil, bahkan saat kecil dia sering sekali di ajak jalan-jalan dengan Annisa dan Arsyil. Rana masih terlihat murung wajahnya. Annisa mencium pipi Rana dan menghadapkan Rana pada Annisa.


"Rana kangen, Om Arsyil?"tanya Annisa dengan mengangkat wajah Rana dan mencium kilas bibir Rana.


"Iya, kangen sekali." Rana memeluk erat Annisa dan terisak lirih di pelukan Annisa.


"Rana, kalau Rana kangen Om Arsyil, Rana berdo'a, ya. Biar Om Arsyil bahagia di surga, sudah jangan nangis seperti ini, nanti Om Arsyil juga sedih." Annisa mengusap punggung Rana yang semakin terisak, tangisan Rana semakin jelas terdengar.


"Sini sama Pakde." Arsyad memeluk Rana dan menenangkan keponakannya yang masih sangat merindukan Arsyil.


"Rana sayang, Om Arsyil sudah tenang di sana. Rana harus mendoakan Om Arsyil setiap habis sholat, biar Om Arsyil bahagia di sana, kalau Rana nangis seperti ini, nanti Om Arsyil juga ikut sedih, oke." Arsyad menyeka air mata Rana yang masih menetes di pipi Chubby nya.


"Iya, pakde,"ucap Rana sambil terisak.


"Sudah, jangan nangis lagi, ayo tidur sudah jam 9 lebih, kakakmu juga sudah tidur semua,"ucap Arsyad.


"Jadi mau bobo sama Pakde?"tanya Arsyad sambil mencium pipi Rana dan kelopak mata Rana.


"Gak jadi, maunya sama mamah, tapi di gendong pakde sampai kamar mamah," pinta Rana.


"Pintar sekali ini anak, aku masih ingin menikmati malam panjang bersama Annisa,"gumam Arsyad sambil melirik Annisa.


"Menang nih pakdemu, Ran," ucap Rico sambil tersenyum meledek Arsyad.


"Asiiikk…mau lanjut nih, yang tadi kata Rayhan sempat tertunda," tambah Vino.


"Rayhan? Dia bilang?"tanya Arsyad.


"Sudah, jangan malu, gendong anakku ke kamar, nanti langsung lanjut lagi, kasihan papah ingin cucu lagi, papah sudah gak kuat gendong Rana,"ucap Vino.


"Ayo, pakde gendong ke kamar, sudah jangan nangis lagi." Arsyad menggendong Rana ke kamar yang di tempati Shita dan Vino di rumahnya.


Annisa masih duduk di samping Rico bersama Shita. Annisa menahan sesak di dadanya, dia juga sangat meridukan Arsyil. Apalagi melihat Rana yang tadi menangis karena merindukan Arsyil, dia semakin sesak sekali dadanya.


"Syil, kamu bahagia kan di sana?gumam Annisa dalam hati.


"Nis…."panggil Shita, dia dari tadi melihat Annisa melamun memandang ke segala arah dengan tatapan kosong.


Shita merangkul Annisa dan menyandarkan kepala Annisa ke bahu Shita.


"Aku tau, kamu juga ingat Arsyil, sudah jangan seperti ini. Kamu bahagia, kan?"tanya Shita.


"Aku sangat bahagia, Kak. Iya, aku sangat merindukan Arsyil. Kak Shita, papah, kenapa orang yang aku sayang pergi meninggalkan aku satu persatu. Dulu Andra, papah, mamah, ibu, Arsyil, dan kak Mira," ucap Annisa dengan tataoan kosongnya.


"Annisa, kamu jangan seperti itu, semua sudah kehendaknya. Jangan berkata seperti itu lagi, sekarang masa depan di depanmu. Bahagialah dengan Arsyad,"ucap Rico.


"Tidak, kak,"jawab Annisa.


"Syukurlah, kalau begitu. Sudah jangan sedih lagi, tidak hanya kamu yang merindukan Arsyil, aku lebih-lebih. Hanya berdoa untuk Arsyil yang Kak Shita bisa lakukan, saat Kak Shita rindu sekali dengan dia. Kakak tidak menyangka, Allah lebih sayang dengan Arsyil dan ibu, mereka di panggil lebih dulu," ucap Shita


"Allah punya rencana lain yang labih indah untuk kita semua, setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan, Annisa, Shita,"ucap Rico.


"Kalian istirahat sana, papah mau lihat cucu papah yang sudah berada di kamarnya,"ucap Rico.


Rico memang selalu seperti itu, sebelum tidur dia lebih dulu masuk ke kamar Najwa, Shifa, Raffi, dan Dio. Rico belum lega jika mau tidur belum melihat mereka. Kadang hanya memeluk dan mencium saja, setelah itu Rico ke kamarnya dan tidur.


Shita dan Annisa masuk ke kamarnya masing-masing. Annisa masuk ke dalam kamarnya dan belum melihat Arsyad di dalam kamar. Dia tau, Arsyad masih di kamar Shita dengan Rana dan Vino. Arsyad sedang menidurkan keponakannya itu.


Annisa melihta foto Arsyil yang ada di album kecil miliknya. Dia membuka setiap lembar halaman album foto miliknya itu. Sesekali Annisa menyeka air matanya saat melihat foto kenangannya bersama Arsyil, dari saat dia pacaran hingga dia menikah dan memiliki dua anak.


"Syil, maafkan aku, aku masih mengingatmu. Maafkan aku, aku sangat mencintai Kak Arsyad. Aku sangat mencintainya, Syil. Tenanglah di surga, sayang. Aku mencintaimu, Arsyil." Annisa memeluk erat album miliknya dan menangis. Annisa sadar, dia tak mau membuat suaminya cemburu atau tak enak hati karena masih mengingat Arsyil.


Annisa menaruh kembali album foto itu di tempat semula, dia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan membersihkan diri sebelum tidur. Annisa melihat bercak kemerahan di celana dalamnya. Dengan sedikit mendengus kesal Annisa mencuci celana dalamnya.


"Yah, kamu datang di saat yang tidak tepat. Kan, aku masih ingin sekali menikmatai malam panjang dengan Kak Arsyad. Huh…." Annisa mendengus kesal saat mencuci celana dalamnya yang ada bercak merah. Iya, dia malam ini kedatangan tamu bulanan.


Annisa keluar dari kamar mandi, dan mendekati lemari kecil di pojok kamarnya yang ia gunakan untuk menaruh pembalut.


"Aiihh….habis pembalutku, aduuhhh." Annisa menggerutu kesal, karena kehabisan stok pembalut.


Arsyad masuk ke dalam kamarnya melihat Annisa sedang mengambil jilbabnya untuk pergi ke supermarket terdekat untuk membeli pembalut.


"Sayang, kok pakai jilbab?"tanya Arsyad.


"Mau beli pembalut, anterin, yuk,"anak Annisa.


"Kamu datang bulan?"tanya Arsyad dengan sedikit kecewa.


"Emm..i..iya..kak,"ucapnya dengan menundukkan kepalanya.


"Maaf, malam ini libur dulu, kak,"ucap Annisa.


"Sudah, tidak apa-apa, memang sudah jadwalnya datang bulan, kakak harus bagaimana?" Arsyad memeluk Annisa dan mencium keningnya.


"Tunggu sini, kakak akan belikan kamu pembalut,"ucap Arsyad.


Annisa memeluk erat tubuh suaminya yang akan pergi membeli pembalut. Dia benar-benar kecewa sekali malam ini, di saat dia ingin melakukannya lagi dengan suaminya, malah datang bulan menghalanginya.


"Eh…ini meluk terus, sebentar kakak belikan pembalut untuk kamu dulu,"ucap Arsyad.

__ADS_1


"Kamu hati-hati, minta di antar sopir kak, "ucap Annisa.


"Iya, sayang. Sudah tunggu kakak,"ucap Arsyad.


Arsyad keluar mengambil kunci mobil dan memanggil satu pengawalnya untuk mengantarkan dia ke supermarket untuk membeli pembalut. Dia berangkat bersama pengawalnya ke sebuah mini market yang buka 24 jam di dekat ruamhnya. Tanpa bertanya Annisa, pembalut yang seperti apa, dia sudah tau pembalut seperti apa yang nyaman di gunakan wanitanya itu. Karena dia sering melihat pembalut yang Annisa beli.


Arsyad sampai di rumahnya setelah membeli pembalut di mini market. Rico melihat anak sulungnya masuk ke dalam ruang membawa kantong plastik, Rico berjalan mendekati Arsyad.


"Kamu dari mana?"tanya Rico.


"Ini beli roti bulanannya Annisa," jawab Arsyad.


"Pembalut, kah?"tanya Rico lagi.


"Ya, seperti itu, pah,"ucap Arsyad sambil sedikit kecewa.


Rico terkekeh melihat raut wajah Arsyad sedikit kecewa karena istrinya malam ini datang bulan. Rico juga pernah merasakan seperti itu, saat ingin sekali menikmati dan menghabiskan malam panjang dengan istrinya, tiba-tiba istrinya datang bulan.


"Sudah jangan kecewa, memang kenyataannya seperti itu, mau bagaimana lagi,"ucap Rico sambil tertawa meledek anaknya.


"Ah…papah, seperti gak tau rasanya seperti ini,"ucap Arsyad.


"Iya papah tau rasanya bagaimana, sudah sana ke kamar, kasihan Annisa menunggumu,"titah Rico.


Arsyad masuk ke kamarnya dan memberikan pembalut untuk Annisa. Arsyad membuka bungkus pembalutnya dan mengambilkan satu untuk Annisa. Annisa tak menyangka, suaminya tau pembalut seperti apa yang biasa ia pakai. Annisa tersenyum bahagia, suaminya begitu tau apa yang selalu ia butuhkan.


"Kak, kok kakak tau pembalut ini yang biasa Annisa pakai?"tanya Annisa.


"Tau lah, masa apa yang di pakai istri sendiri gak tau,"ucap Arsyad.


"Makasih sayang," Annisa mencium pipi Arsyad dan berlari kecil ke kamar mandi untuk memakai pembalut.


Arsyad menunggu Annisa keluar dari kamar mandi, ia juga ingin membersihkan diri sebelum tidur, dan ingin buang air kecil. Annisa keluar dari kamar mandi, dia melihat Arsyad yang berdiri di depan kamar mandi menunggu Annisa yang lumayan lama di kamar mandi.


"Kakak, ngagetin saja, ih…"ucap Annisa.


"Kamu lama sekali, kakak sudah tidak tahan ini,"ucapnya.


"Sudah gak tahan apa?"goda Annisa.


"Nis, jangan menggoda kakak, kamu lagi datang bulan, sayang,"ucap Arsyad sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Annisa hanya tersenyum dan berjalan ke arah tempat tidur, dia tau suaminya sedikit kecewa karena dia tiba-tiba datang bulan. Arsyad sudah selesai membersihkan diri di kamar mandi, dia melihat cermin yang ada di kamar mandi. Sebenarnya dia malam ini sagat menginginkan sekali, menghabiskan malam panjang bersama istrinya.


"Gara-gara tamu tak diundang aku harus berlibur dulu malam ini,"ucap Arsyad lirih sambil bercermin.


Arsyad keluar dari kamar mandi, dia melihta Annisa yang sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Arsyad merangkak naik ke tempat tidurnya dan tidur di samping Annisa. Arsyad memeluk istrinya dari belakang. Annisa memegang tangan Arsyad yang ada di atas perut Annisa dan mengusapnya dengan lembut.


Tangan Arsyad merayap naik ke atas dada Annisa, Annisa menepisnya perlahan dan mengingatkan suaminya kalau dirinya sedang datanga bulan.


"Kak, aku sedang datang bulan,"ucapnya sambil menghadap suaminya.


"Nis, bisa kan kita lakukan tanpa menyentuh milikmu?"tanya Arsyad.


"Hmm.…baiklah. Lakukanlah, kak,"ucap Annisa.


Tangan Arsyad membuka kancing piyama Annisa. Ya saat ini tubuh Annisa hanya menggunakan celana piyamanya saja. Dengan lincah tangan Arsyad menyentuh setiap inci tubuh bagian atas istrinya dan mengecupnya dengan lembut. Arsyad menuntun tangan Annisa menyentuh miliknya yang sudah meronta ingin keluar dari dalam penutupnya.


Tangan Annisa dengan lembut menyentuh dan memijat milik suaminya. Arsyad merasakan dan menikmtainya, Annisa juga sebaliknya, menikmati apa yang suaminya lakukan. Wajah Arsyad sudah berada di depan apa yang ia sukai. Bibirnya mengecup bagian tubuh Annisa yang ia sukai. Annisa meraskan lembutnya kecupan suaminya itu hingga lenguhan sedikit keras keluar dari mulut Annisa.


Arsyad semakain mengerang menikmati apa yang Annis lakukan, gerakkan tangan Annisa semakin cepat, dia juga berani mencium apa yang sedang Annisa pegang, dan sesekali dia memasukan ke dalam mulutnya. Arsyad merasa melayang di atas awan, saat Annisa memainkan dengan mulutnya.


"Annisa….." erang Arsyad saat di rasa sudah diantas puncak kenikmatan.


Arsyad semakin keras memilin apa yang ada di dada Annisa hingga Annisa sedikit menjerit sakit.


"Kakak, nakal ih," ucap Annisa.


"Kamu nggemesin sekali, sini di samping kakak, pakai tangan kamu saja, sayang,"bisik Arsyad di telinga Annisa dan setelah itu dia mencium bibir Annisa dengan lembut.


"Kak, jangan keras-keras kalau meleguh, nanti papah dengar,"bisik Annisa.


"Mau kakak dan kamu teriak-teriak di sini, tidak akan ada yang mendengar, sayang. Kamar ini sengaja kakak kasih peredam suara, agar kita bebas menikmati malam panjang bersama, tanpa terdengar orang yang di luar,"ucap Arsyad sambil mencium bibir Annisa.


"Dasar nakal,"ucap Annisa dengan mengusap kepala suaminya.


"Kakak nakal karena kamu, sayang. Ayo lanjutkan,"titah Arsyad.


Mereka melanjutkan kegiatan malamnya. Ciuman Arsyad merambat ke bawah hingga ke dada Annisa. Dengan lembut Arsyad mencium dada Annisa dan bermain bebas di sana juga. Annisa juga tidak mau kalah, tangan Annisa semakin nakal, hingga Arsyad mencapai puncak dan mengeluarkan hasratnya dengan di iringi erangannya yang sedikit parau.


"Arrghhtt…Annisa…." leguh Arsyad sambil menggigit lembut apa yang dari tadi ia kecup.


"Kakak….hmmm…."leguh Annisa.


Arsyad membersihkan diri di kamar mandi, Annisa juga membersihkan tangannya yang terkena cairan sedikit lengket yang keluar dari milik Arsyad. Leher dan dada Annisa penuh dengan jejak tanda merah yang di tinggalkan suaminya.


Arsyad semakin gila di buat melayang oleh istrinya, dia semakin suka dengan apa semua permainan yang Annisa lakukan, walaupun hanya dengan sentuhan tangan Annisa yang lembut.


Arsyad memeluk Annisa, dengan nyaman Annisa menenggelamkan wajahnya di bawah ketiak suaminya dan terlelap hingga pagi.

__ADS_1


__ADS_2