
"Aliran darah kita adalah satu. Sehingga, saat ada salah satu dari kami yang tersakiti, maka hati yang lain akan ikut terluka. Dan aku tak akan rela kamu menangis seperti ini, tak akan aku biarkan seseorang menyakitimu, walaupun itu seseorang yang sangat kamu cintai melebihi apapun."
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Almira mengajak Shita menginap di rumahnya. Dia sangat tau sekali kalau adik iparnya sedang menyimpan masalah. Walaupun belum cukup lama mengenal Shita, dia tau apa yang dirasakan Shita.
"Ta, kamu ikut mobil kakak saja ya, jangan nyetir sendiri."tutur Almira.
"Aku pakai mobil sendiri saja kak, aku akan mengambil baju dulu di rumah."ucap Shita.
"Oh…ya sudah, kamu hati-hati, kakak pulang dulu, kasihan Najwa belum minum ASI."ucapnya.
"Papah, ibu, Arsyil dan Nisa, aku dan Mira pamit dulu." Arsyad pamit dengan mereka semua untuk pulang.
"Keponakan pakde yang cantik dan ganteng, pakde sama bude pulang dulu ya, kasian Kakak Najwa di rumah belum Mimi susu dari tadi."ucap Arsyad sambil mencium Dio dan Shifa secara bergantian. Begitu juga Almira.
Mereka pulang, dan Shita masih berada di ruangan Annisa, dia duduk sambil memandang Arsyil dan Shita yang sedang berbahagia dengan bayinya.
"Syil, Kak Shita sepertinya ada masalah. Coba ajak bicara kakakmu."ucap Annisa lirih pada Arsyil.
"Iya, nanti aku ajak bicara Kak Shita, memang dia dari tadi lebih banyak diamnya."ucap Arsyil di dekat telinga Annisa.
"Kalian berdua bisik-bisik apa sih?"tanya Andini. Annisa tersenyum pada ibu mertuanya.
"Itu Annisa Bu, katanya nanti minta bikin anak kembar lagi."ucap Arsyil yang membuat pipi Nisa memerah dan semua tertawa. Hanya Shita yang tersenyum saja, dan itupun berat sekali untuk tersenyum. Arsyil sengaja menjawab pertanyaan ibunya seperti itu, agar bisa tau Shita sedang baik-baik saja atau tidak.
"Kak, ayo ke cafetaria, temani Arsyil mau beli minum, buat nanti malam nemenin Annisa di sini."ajak Arsyil pada Shita. Arsyil sengaja mengajak kakaknya keluar untuk berbicara.
"Boleh, di cafetaria ada es krim kan, kakak pingin beli juga."ucapnya.
"Ya sudah yuk. Nis, aku ke cafetaria dulu ya."pamit Arsyil pada istrinya. Tidak lupa dia mencium bayi kembarnya dan istrinya.
"Jangan lama-lama, nanti ibu dan papah mau pulang, mau ambil baju kamu untuk ganti."ucap Rico.
"Iya papah, siap."ucap Arsyil.
Arsyil dan Shita keluar ke cafetaria yang ada di rumah sakit, Shita dari tadi hanya terdiam berjalan di samping Arsyil.
"Kak, kamu ada masalah?"tanya Arsyil.
"Tidak, kenapa tanya seperti itu?"ucap Shita dengan suara datarnya.
"Tidak apa-apa, aku lihat dari tadi kakak lebih banyak diamnya, tidak seperti biasanya."ucap Arsyil.
"Kamu saja yang berlebihan, aku tidak apa-apa kok."tutur Nisa.
"Ya sudah kalau tidak mau cerita, dan belum siap mau cerita, tidak apa-apa. Aku hanya tak ingin kakak di sakiti seseorang saja. Kak, tak akan aku biarkan seseorang menyakitimu, walaupun itu seseorang yang sangat kamu cintai melebihi apapun."ucap Arsyil. Ucapan Arsyil membuat Shita meneteskan air matanya. Ternyata adiknya peka sekali dengan dirinya yang sedang memilki masalah.
"Tuh kan nangis. Iya kan bener kakak ada masalah? Apa Kak Vino menyakitimu?"tanya Arsyil. Shita hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Sudah, jangan bahas ini."ucapnya sambil masuk ke dalam cafetaria.
"Aku tak akan rela kamu menangis seperti ini, tak akan aku biarkan seseorang menyakitimu, walaupun itu seseorang yang sangat kamu cintai melebihi apapun."gumam Arsyil dalam hatinya sambil berjalan masuk ke dalam cafetaria menyusul kakaknya.
Shita mengambil es krim yang ia suka, dan mengambil beberapa cemilan untuk Arsyil dan beberapa minuman. Dia tau adik laki-lakinya sangat suka ngemil, jadi Shita membelikan banyak cemilan dan minuman.
"Kak, banyak sekali, untuk siapa lagi?'tanya Arsyil.
"Untukmu lah, siapa lagi. Kan barangkali papah juga nemenin kamu sampai malam di sini, Syil "ucapnya.
"Oh gitu." Arsyil mengeluarkan dompetnya, dia mengambil beberapa lembar uang untuk membayarnya.
"Kakak saja yang bayar, sudah duduklah di sana, kakak ingin makan es krim juga di sini. Temani kakak sebentar."ucap Shita
"Ya sudah, aku tunggu di sana."Arsyil menunjukan kursi yang ada di pojokan cafetaria.
Mereka berdua duduk saling berhadapan. Shita dari tadi hanya terdiam sambil memakan es krimnya, Arsyil memandangi wajah kakaknya dalam-dalam.
"Tidak seperti biasanya Kak Shita seperti ini. Apa aku tanya Kak Vino dan langsung, mereka pasti ada masalah."gumam Arsyil dalam hatinya.
"Syil, setelah ini kakak langsung pamit pulang ya, kakak mau ambil baju dulu di rumah untuk di bawa ke rumah Kak Mira."ucpanya.
"Iya, kakak hati-hati ya, Kak, kalau sedang ada masalah, cerita denganku, dengan Kak Arsyad, jangan di pendam sendiri kak. Kakak punya kami yang menyayangi kakak lebih dari apapun." Arsyil menggenggam tangan Shita, dia mencoba membujuk kakaknya agar bercerita dengannya. Tapi Shita masih saja membungkam, tak mau cerita dengan Arsyil.
"Huh…." Shita membuang nafasnya kasar.
"Syil, nanti kalau sudah saatnya kakak cerita denganmu."ucapnya.
"Kak, mau sekarang atau nanti sama saja. Semakin lama kakak memendam, semakin sakit, kak." Arsyil terus membujuk kakaknya.
"Kakak, tidak apa-apa Syil. Sudah yuk, kembali ke ruangan Annisa, kakak juga mau pamit dengan ibu dan papah." Annisa beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Arsyil untuk kembali ke ruangan Annisa.
"Kalau sudah begini, urusannya sama Kak Arsyad, nih. Baru dia mau jujur kalau Kak Arsyad sudah maksa. Kak, itu yang aku tidak suka dengan Kak Shita, selalu saja merasa baik-baik saja di hadapan ku."gumam Arsyil dalam hati sambil berjalan di belakang Shita dengan membawa dua kantung plastik berisikan cemilan dan minuman.
"Ingat Kak, Aliran darah kita adalah satu. Sehingga, saat ada salah satu dari kami yang tersakiti, maka hati yang lain akan ikut terluka."ucap Arsyil lirih
__ADS_1
Shita berpamitan denah Rico dan Andini, juga Arsyil dan Nisa sebelum ia pulang. Tak lupa dia mencium keponakannya yang sangat lucu-lucu sekali. Shita pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian dan mengambil beberapa pakaian untuk di bawa ke rumah Mira. Rico dan Andini juga berpamitan untuk pulang mengambilkan baju ganti untuk Arsyil.
Di dalam ruangan hanya tinggal Arsyil dan Nisa saja. Si kembar masih tertidur pulas sekali di box bayi. Arsyil membelai lembut kepala istrinya dan mencium kening istrinya yang sedang membaringkan tubuhnya.
"Bagaimana, Kak Shita cerita kalau dia ada masalah?"tanya Nisa.
"Dia tidak mau cerita, biar nanti aku kirim pesan ke Kak Arsyad. Dia pasti mau cerita pada Kak Arsyad."ucapnya.
"Aku yakin Kak Shita memiliki masalah dengan Kak Vino."tutur Nisa.
"Aku juga menebak seperti itu, sayang. Semoga saja tidak terjadi apa-apa di antara mereka."ucap Arsyil.
"Ya sudah cepat hubungi Kak Arsyad, agar dia tau kalau Kak Shita seperti itu."tutur Nisa.
Arsyil segera mengirim pesan pada Arsyad, agar nanti Arsyad mengajak bicara Shita.
[ Kak, nanti ajaklah bicara Kak Shita, sepertinya dia sedang memiliki banyak masalah. Tadi sudah aku coba ajak dia bicara, tapi tetap saja tak mau bicara jujur padaku.]
Begitu isi pesan Arsyil untuk Arsyad. Dia menunggu balasan dari kakaknya, tapi lama tidak di balas-balas, karena belum di baca oleh Arsyad.
Almira sudah menunggu Annisa di rumahnya. Dia belum saja datang ke rumah Almira. Arsyad pun demikian, dia yang dari tadi juga melihat adiknya seperti memilki masalah, kini dia sangat mengkhawatirkannya.
"Sayang, kenapa Shita belum datang, aku khawatir dengan dia. Aku lihat dari tadi dia menyembunyikan suatu masalah."ucap Arsyad pada istrinya.
"Mas, kamu tau, aku juga dari tadi khawatir dengannya. Pikiran kita sama, dia memang memiliki masalah sepertinya, mas."ucap Mira.
"Ajaklah dia bicara baik-baik nanti, mas."imbuh Mira.
"Iya pasti."jawab Arsyad.
Mereka duduk di meja makan untuk melakukan makan malam. Sudah lebih dari pukul 8 malam, Shita belum juga sampai di rumah Almira.
Arsyad membuka ponselnya untuk menelfon Shita, tapi dia melihat pesan masuk dari Arsyil, di membacanya dan membalas pesan dari Arsyil.
[ Iya, pasti aku ajak Shita bicara, aku juga merasakan seperti itu dari tadi, Syil.]
Arsyad membalas pesan dari adik laki-lakinya. Dia segera mencari kontak Shita untuk meneleponnya. Belum sempat menelepon Shita, Shita sudah datang ke rumahnya. Arsyad bernafas lega, melihat adik perempuannya sudah datang ke rumahnya.
"Ta…Ta… kamu dari mana saja, lama sekali kakak tunggu. Kamu sudah makan malam?"tanya Arsyad.
"Sudah tadi, tadi Shita mampir ke kedai bakso dulu kak, Shita ingin sekali makan bakso itu."jawabnya. Shita memang pergi ke kedai bakso langganan dia dan Vino. Dia sengaja kesana karena dia ingin sekali bertemu Vino. Barangkali Vino di sana juga, dia tidak mau menghubungi Vino dulu. Terakhir chat, tadi pagi saat dia mau berangkat ke cafe.
"Syukurlah kalau kamu sudah makan, taruh dulu tas kamu di dalam kamar, nanti kakak mau bicara denganmu. Kakak tunggu di gazebo teras belakang."ucapnya.
"Iya kak."jawab Shita sambil berlalu masuk ke dalam kamar tamu yang sudah di siapkan oleh Asisten Rumah Tangga Almira.
*****
Sementara di rumah sakit, tempat Vino di rawat, Vino masih saja memandangi ponselnya, berharap Shita meneleponnya, tapi harapannya sirna. Dia kembali teringat istrinya, teringat akan perlakuan dia yang sangat menyakiti istrinya. Tangannya mencengkram kuat seprai bedanya.
"Ta, maafkan aku. Aku sangat merindukan mu. Merindukan senyuman hangat darimu yang setiap malam kau berikan untukku, merindukan semua yang ada pada dirimu. Maafkan aku Shita, maafkan aku. Aku berharap kamu akan kembali padaku. Jika waktuku sanggup untuk menunggumu kembali padaku, aku akan menunggumu di sini. Jika tidak, mungkin Tuhan akan menghadirkan sosok yang lebih baik dari aku. Maafkan aku."ucap Vino lirih sambil melihat foto istrinya.
Andrew yang melihat Vino lemah seperti itu, dia ikut sedih sekali. Dia berusaha menenangkan Vino yang dari tadi masih saja meneteskan air matanya.
"Pak Vino. Ini di makan dulu buburnya. Sudah lebih dari jam makan malam. Kalau ingin bertemu Shita, Pak Vino harus sembuh. Aku yakin, Shita masih sangat mencintai Pak Vino. Dia hanya kecewa saja, lihat saja nanti dia pasti kembali pada Pak Vino."ucap Andrew pada Vino, dia mencoba menenangkan Vino.
"Apa mungkin dia memaafkan ku, Andrew?"tanya Vino.
"Pasti, itu pasti."ucap Andrew.
Vino mencoba memaksakan dirinya untuk makan bubur. Pahit rasanya, tapi tak sepahit hatinya saat ini.
"Habiskan, Pak Vino. Demi anak Pak Vino. Pak Vino harus kuat. Pasti Shita kembali padamu."ucap Andrew agar Vino menghabiskan buburnya.
Setelah habis buburnya, dia merebahkan kembali tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Vino sudah tertidur karena efek obat yang di berikan oleh Dokter.
Andrew mencoba mencari kontak Shita, dia mencoba menelfon Shita dengan ponsel Vino, tapi tak ada jawaban dari Shita. Dia mencoba mengirim pesan dan mengirim foto Vino yang terbaring di rumah sakit pada Shita lewat WhatsApp.
*****
Shita sudah berada di gazebo belakang rumah Mira. Dia duduk di samping kakaknya yang sudah menunggunya dari tadi.
"Kak, pinjam bahumu. Aku ingin bersandar di bahumu."ucap Shita manja pada kakaknya.
"Iya, bersandar lah, Shita."ucap Arsyad. Arsyad memeluk adiknya dari samping dan menyandarkan kepala Shita pada bahunya. Tempat yang sangat nyaman bagi Shita sesudah suaminya, yaitu, Papahnya , Arsyad dan Arsyil.
"Ta, kamu ada masalah dengan Vino?"tanya Arsyad. Shita hanya terdiam dan meneteskan air matanya.
"Ta, jawab kakak. Jangan diam saja. Jangan menangis."ucap Arsyad sambil membelai rambut panjang adiknya.
"Kak, Kak Vino."ucap Shita sambil terisak.
"Kenapa Vino? Apa Vino menyakitimu?"tanya Arsyad.
"Janji, jangan bilang papah dan ibu kalau Shita cerita ini ya, kak?"ucap Shita.
__ADS_1
"Iya, kakak janji, kakak tidak akan cerita pada papah dan ibu. Ceritakan, kenapa Vino. Kalau dia menyakitimu kakak tidak segan-segan memberi pelajaran untuknya."ucap Arsyad.
"Kak Vino, ternyata dia selama ini menyimpan seorang perempuan, kak. Dia membelikan dia rumah, dan mempekerjakan wanita itu di kantor cabang Kak Vino. Dan yang lebih menyakitkan, Kak Vino menyimpan itu semua sebelum aku dan dia menikah. Dan satu lagi, dia juga berjanji akan menikahinya."ucap Shita sambil terisak.
"Tapi, wanita itu menyadari semua kesalahannya, dan dia sudah pergi lagi ke Paris. Aku tau itu semua dari ponsel Kak Vino, aku melihat semua isi chat Kak Vino dengan dia. Selama ini aku dibohongi oleh suamiku selama satu tahun lebih."imbuh Shita.
"Lalu, dimana Vino sekarang?"tanya Arsyad dengan geram.
"Shita tidak tau, Shita sudah menyuruhnya pergi dari rumah tiga hari yang lalu, dan hari ini dia hanya mengirim pesan pada Shita untuk menanyakan kabar Shita saja, dan mengirim surat ini." Shita memberikan surat dari Vino pada Arsyad.
"Vino, aku sudah memercayai mu, tapi apa, kamu mengkhianati adik kesayangan ku."ucap Arsyad dalam hati dengan penuh amarah.
Arsyad membaca isi surat Vino tadi siang yang ia kirimkan lewat karyawannya. Arsyad sedikit mereda emosinya setelah membaca surat dari Vino itu. Arsyad tau, mungkin Vino memiliki alasan tersendiri melakukan itu dan dia juga tau kalau Vino sangat mencintai adiknya.
"Bolehkah kakak menelepon Vino?"tanya Arsyad pada Shita. Shita hanya menganggukkan kepalanya saja. Arsyad langsung mengambil ponselnya dan menelepon Vino.
•panggilan terhubung•
{Hallo, Vin.}
{Maaf, Pak Vino nya baru saja tertidur. Apa ini Kak Arsyad kakaknya Shita?}
{Iya benar, kamu siapa? Di mana Vino?}
{Saya Andrew, Asisten pribadinya Pak Vino. Dia di rumah sakit, dan baru saja tertidur.}
{Di rumah sakit? Dia sakit? Sakit apa?}
{Pak Vino terserang gastroesophageal reflux disease (GERD), atau bisa di sebut juga asam lambung. Dia sudah tiga hari tidak makan, yang aku lihat hanya mengonsumsi kopi saja.}
{Di rumah sakit mana?}
{Di rumah sakit xxxx ruang xxxx.}
{Baik besok aku akan menemuinya.}
Arsyad menutup telepon nya, dia mengeratkan kembali pelukannya pada Shita.
"Kenapa Kak Vino?"tanya Shita.
"Vino terserang gastroesophageal reflux disease (GERD), atau bisa di sebut juga asam lambung. Dia di rawat di rumah sakit."ucap Arsyad
"Sakitnya belum melebihi sakitku ini, kak."ucap Shita.
"Jangan bicara seperti itu, apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan sekali lagi untuknya?"tanya Arsyad. Shita hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak dan tidak akan pernah aku memberikan kesempatan kedua kalinya untuk seorang pengkhianat."ucapnya dengan tegas.
"Jangan egois, semua bisa di selesaikan dengan baik-baik."ucap Arsyad dengan nada lembut pada adiknya.
"Yang terbaik adalah nanti, setelah aku melahirkan, aku akan segera menceraikan Kak Vino."ucap Shita
"Jaga bicaramu, jangan bicara sembarangan. Kamu tidak memikirkan anakmu?"ucap Arsyad.
"Itu yang terbaik kak. Sudah Shita mau tidur, jangan bahas Vino lagi." Shita pergi meninggalkan Arsyad di gazebo. Arsyad memahami apa yang Shita rasakan saat ini. Tapi dengan mendengar kabar Vino, Arsyad juga merasa iba dengan Vino, terlebih lagi saat membaca surat dari Vino tadi untuk Shita.
Arsyad mencoba menghubungi Arsyil dan menceritakan semua masalah Shita, dan dia bilang pada Arsyil agar dia tak memberitahukan masalah Shita pada Papah dan Ibunya. Arsyil juga tidak menyangka kalau Vino bisa melakukan itu pada kakak perempuannya.
Shita duduk di tepi ranjang, dia membuka ponselnya, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Vino. Dan sebuah chat dari Vino yang ternyata Andrew lah yang mengirim chat dan mengirim foto Vino yang terbaring lemah di bed Rumah Sakit.
[Shita, jika ada waktu jenguk lah Vino. Dia sangat merindukanmu, dia sangat menyesali perbuatannya, please Shita, aku tidak kuat melihat Vino seperti ini. Setiap detik menangis hanya karena memikirkan kamu dan anak di dalam kandungan mu.]
Begitu isi dari pesan yang dikirim Andrew lewat ponsel Vino. Shita melihat Foto Vino yang tidak berdaya di atas bed Rumah Sakit, dia menangis dan memeluk ponselnya
"Maafkan aku Kak Vino, maafkan aku, aku juga sakit sekali hatinya. Aku masih sangat mencintai mu, kak. Tapi hati ini sulit sekali melupakan perbuatan kakak itu."ucap Shita lirih
Shita tertidur dengan memeluk ponselnya, yang masih menampilkan foto Vino terbaring di rumah sakit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️ happy reading♥️