THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 73 "Satu Atap Tiga Cinta" The Best Brother


__ADS_3

Rania dan Dio sudah sampai di Villa milik keluarga Alfarizi. Empat Vila yang berjajar dengan gaya klasik, membuat Rania nyaman sekali berada di sana. Dio memilih memakai vila utama milik opanya. Ada 3 vila lagi, yaitu milik Arsyad, Arshita, dan Arsyil.


Rania memandangi pigura berukuran besar yang terpajang di dinding Villa milik Opa Rico. Foto keluarga Alfarizi terpampang di dinding. Ada foto Opa dengan dua istrinya yang membuat Rania memikirkan bagaimana jika dirinya yang berada di posisi salah satu istri dari Opa Rico. Ada beberapa foto yang terpajang di dinding. Semua momen spesial sengaja Rico abadikan dalam sebuah Foto.


"Kenapa? Ada apa dengan foto itu?" Tanya Dio.


"Aku tidak menyangka saja, opa memiliki dua istri dan saling akur seperti itu," jawab Rania.


"Itulah hebatnya kedua Omaku. Meskipun aku tak pernah tahu Oma Dinda seperti apa, tapi aku yakin, beliau wanita yang sangat hebat. Rela berbagi suami, hanya karena agar opa bisa memiliki keturunan," jelas Dio.


"Kalua misalnya aku tidak …."


"Stop! Jangan bicara macam-macam. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan tidak akan pernah ada yang kedua. Hanya kamu, cukup kamu, yang mengisi hidupku hingga aku tua nanti." Dio langsung memotong pembicaraan Rania.


"Belum selesai bicara, sudah nyerocos aja," ucap Rania.


"Kamu mau bicara macam-macam, ya jelas aku nyerocos. Kalau kamu bicara seperti itu, berarti kamu tidak percaya aku, sayang," ucap Dio.


"Iya aku percaya. Ya, mudah-mudahan jangan ada yang beristri dua, atau jangan sampai ada yang di madu. Aku tidak bisa membayangkan jika hidup satu atap tiga cinta," ucap Rania.


"Aku jadi ingat kata-kata opa saat bicara dengan cucu-cucunya. Opa selalu menasihati semua cucunya, katanya, jangan pernah mendua, atau memiliki dua hati dalam rumah tanggamu, jika tidak bisa memperlakukan adil pada dua hati yang kalian miliki, karena sejatinya menyatukan tiga hati dalam satu atap sungguh menyiksa hati masing-masing dari kalian. Itu yang sering opa katakan pada kami semua," jelas Dio.


"Tapi kenapa kamu menduakan aku dulu dengan Najwa?" Tanya Rania.


"Oke aku jelaskan, dan aku sepertinya menjelaskan ini sudah berkali-kali. Saat aku dengan Najwa, aku sudah tidak mencintaimu, Rania. Hati aku benar-benar tertutup untuk kamu. Aku tidak menduakan. Ini suatu keadaan di mana aku sangat mencintai Najwa saat itu. Hanya Najwa, aku tidak mau yang lain. Itu dulu, bukan sekarang. Sekarang berbeda. Hanya kamu dan aku tidak mau yang lain selain kamu." Dio menjelaskannya pada Rania.


Rania sejenak berpikir, memang membuka masa lalu sama saja membuka luka yang sudah mengering. Rania sadar, mengingat masa lalu malah menjadi boomerang dal hatinya sendiri. Dan, dia yakin dengan suaminya sekarang. Kalau Dio tidak mencintai Najwa lagi. Hanya dirinya yang Dio mau. Dan, yang Rania rasakan hanya sedikit ketakutan jika Dio bertemu Najwa kembali.


"Semoga selamanya kamu seperti itu, Dio," ucap Rania.


"Itu pasti, sayang," jawab Dio.


Dio mengajak Rania duduk di sebuah kursi kayu jati pada zaman dulu. Dia mengusap kepala Rania dan menyelipkan rambut Rania yang tergerai ke belakang telinga.


"Ran, aku tahu, kamu masih takut, kamu masih khawatir jika nanti Najwa kembali lagi aku akan berubah pikiran. Mencintai seseorang tidak sebercanda itu, Ran. Mungkin aku pernah mencintai Najwa, dan itu adalah sebuah kesalahan. Namun, saat itu aku menepiskan semua kesalahan itu. Aku tidak peduli kalau cintaku dengan Najwa adalah cinta yang benar-benar terlarang. Tapi, saat aku menjalaninya. Hati ini semakin terluka, karena aku sadar, sampai kapanpun aku tidak bisa bersatu dengan Najwa." Dio terdiam sejenak melihat Rania yang masih mendengarkan dirinya bicara.

__ADS_1


"Berbeda saat aku mencintaimu, dulu aku jatuh cinta denganmu, ya mungkin cinta itu bisa di sebut cinta monyet atau apalah istilahnya lagi. Rasa cemburu menjadi suatu hal yang merusak cintaku, hingga aku tidak bisa merasakan cintamu lagi, cinta itu berubah menjadi benci. Lalu aku mencintai Najwa, yang aku yakini dia akan menjadi cinta terakhirku. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Aku dan Najwa satu susuan, aku mencoba menolak takdir itu. Aku terus berusaha meyakinkan dia untuk tetap berada di sisiku. Hingga kamu hadir kembali, hingga aku menikah dengan kamu. Saat itu, amarahku benar-benar memuncak, semua memojokkan aku untuk menikahi kamu, semua tidak tahu perasaanku dulu saat aku di buat cemburu kamu dengan Yohan. Aku belum terima itu, hingga aku memutuskan untuk terus bersama Najwa. Dan, disitulah aku tahu, ada seseorang yang masih menyimpan cinta untukku. Walaupun aku menyakitinya berkali-kali, dia tetap ingin mendapatkan secebis hatiku untuk mencintainya. Dia adalah kamu, Rania. Dan, sekarang. Jangankan secuil, seluruh hatiku, seluruh hidupku, hanya untuk kamu. Jadi, jangan pernah takut lagi aku akan meninggalkan kamu atau kembali lagi dengan Najwa. Itu tidak akan pernah terjadi, Rania." Dio kembali menjelaskan semuanya.


"Aku percaya, aku tidak akan takut lagi, Dio," ucap Rania.


"Jika aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu, untuk apa aku menyerahkan semua untukmu, untuk apa aku meminta kamu melayaniku sebagai istri aku. Itu sebabnya saat pernikahan pertama kita, aku tidak meminta kamu. Karena aku tidak mau menambah luka di hatimu, Rania. Aku tidak mau, aku menikmati tubuhmu, tapi aku tidak mencintaimu. Bukankah itu akan lebih menyakitkan? Sekarang, aku mau melakukannya, karena kamu wanitaku, aku mencintaimu, kamu milikku selamanya, tidak ada yang lain. Itulah aku, aku tidak ingin melakukannya tanpa cinta," jelas Dio.


Rania sadar, saat pernikahan pertama dengan Dio, belum ada cinta di hati Dio untuk Rania. Cinta Dio hanya untuk Najwa. Itu sebabnya Dio sering melakukannya dengan Najwa. Dan, tidak pernah menyentuh dirinya sama sekali. Memang Dio orangnya peduli, meskipun tidak mencintai Rania, dan tidak ingin melakukannya dengan Rania, Dio masih menganggap baik dengan Rania.


"Aku mohon, jangan buka lagi luka ini. Bukan hanya kamu yang sakit ketika mengingat itu, Rania. Aku bahkan lebih sakit saat mengingat itu. Karena, aku menyakiti banyak orang, terutama kamu, dan Najwa. Aku juga tidak tahu saat nanti Najwa kembali aku harus bagaimana, apa yang harus aku katakan? Maaf? Atau apa? Aku tidak tahu, dia di luar cukup menderita, dan itu semua karena aku. Apa kata maaf cukup untuk menebusnya? Aku kehilangan kakak, aku akan kehilangan saudaraku, dan itu semua aku yang menyebabkan. Hanya itu yang ada di pikiranku jika Najwa pulang. Bukan yang lain, apalagi mencintai Najwa, tidak Rania. Dan satu yang harus kamu tahu, Rania. Dalam masalah ini, aku sudah merusak keharmonisan keluargaku sendiri. Aku sudah merusak itu. Aku sudah mengecewakan semua orang, tidak hanya kamu yang kecewa, semuanya Rania. Dan, hingga saat ini, aku masih merasakan betapa kecewanya keluargaku pada diriku." Dio menjelaskan semuanya dengan suara parau. Dia tidak bisa membendung rasa sakit dan sedih dalam dirinya.


Hanya Rania, seseorang yang mampu membuat dia tertawa lagi. Hanya Rania yang bisa menerimanya lagi. Dio menggenggam tangan Rania dan menciumnya. Dio menangis mengingat saat dirinya begitu melukai semua keluarganya. Najwa yang di usir dari rumah, abahnya yang mendiami dirinya berbulan-bulan, bunda dan kakak kandungnya juga mendiaminya. Kekecewaan Rico pada dirinya, juga dari Raffi dan Arkan. Apalagi Shita dan Rana yang sempat membencinya.


"Hanya kamu dan ibu yang masih mau menerimaku saat itu. Hanya ibu yang bisa mengerti posisiku, Rania. Ibu yang sering menasihatiku saat itu. Saat semuanya membenciku, hanya ibu yang membuat aku bertahan berada di sini." Dio semakin terisak di pelukan Rania. Rania merasakan apa yang Dio rasakan. Dan, ternyata di balik dari sikap Dio yang baik-baik saja, dia menyimpan banyak luka di hatinya. Dia menyimpan sejuta sesal. Rania merengkuh tubuh suaminya yang masih menangis.


"Dio, Najwa pasti mau memaafkan kamu, aku yakin itu. Percaya sama aku," ucap Rania.


"Aku butuh kamu, Rania. Aku butuh kamu untuk menghadapi semua ini. Aku ingin mengembalikan semuanya seperti dulu. Seperti saat aku belum mengenal cinta pada Najwa. Najwa kakak yang paling bisa mengayomi adik-adiknya. Dan, aku yang merusak dia. Aku membuat dia menjadi seperti ini. Aku merusak hatinya dan ...." Dio berhenti tidak melanjutkan ucapannya lagi.


"Sudah, aku akan membantu kamu bicara dengan Najwa jika nanti Najwa kembali. Kamu jangan khawatir, semua akan seperti dulu lagi. Dia pasti bisa mengerti, Dio. Sudah jangan menangis lagi." Rania menyeka air mata Dio dan mencium kelopak mata Dio.


"Iya aku tahu, tapi aku yakin, Abah tidak seperti itu. Abah dan opa sayang kamu, Dio. Dan, untuk Najwa, jika dia kembali, dia pasti akan memaafkanmu, Dio. Namun, orang seperti Najwa, dia pasti ada trauma dalam hatinya. Entah itu tidak mau menikah, atau mungkin saat menikah dia akan sulit di sentuh dengan suaminya. Karena dia selalu ingat masa lalu dengan kamu," jelas Rania.


"Maksud kamu?" tanya Dio.


"Maaf aku tanya lagi, mungkin ini lebih ke privasi kamu dan Najwa. Aku harap kamu bisa jujur," ucap Rania.


"Iya aku akan jujur, kamu mau tanya apa?" Jawab Dio.


"Jadi gini, kamu benar belum pernah melakukan hubungan suami istri dengan Najwa, kan? Maksudnya belum sampai melakukan itu, hanya melakukan sentuhan saja atau yang lain," tanya Rania.


"Iya aku belum melakukannya. Aku memaksanya tapi dia tidak mau, dan aku hanya menyentuh miliknya dengan jariku saja," jawab Dio.


Rania memejamkan matanya sejenak mendengar penuturan Dio. Dia merasakan hatinya di hujam oleh pisau tajam. Sakit sekali mendengar penuturan Dio. Tapi, yang lebih sakit di sini adalah Najwa. Rania sejenak berpikir, bagaimana Najwa sekarang, apa dia masih mengingat hal itu? Dan , jika nanti memiliki suami, apa dia bisa melupakan hal bersama Dio, apa Najwa mau melayani suaminya? Karena yang Rania tahu, banyak wanita yang trauma akan hal seperti itu. Apalagi wanita seperti Najwa yang lemah lembut hatinya. Pasti kejadian itu membekas sekali di hatinya, dan biasanya menjadi trauma yang mendalam bagi dirinya jika nanti memiliki suami.


"Semoga saja dugaan ku ini meleset. Semoga Najwa bisa menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya dan mengerti masalalunya. Juga dia tidak menyimpan trauma yang mendalam dalam dirinya," ucap Rania.

__ADS_1


"Maksud kamu, sayang?" Tanya Dio.


"Aku takut, Najwa akan trauma dengan apa yang kamu lakukan padanya. Aku takut saja dia tidak bisa menerima laki-laki lain dan masih trauma dengan kejadian saat bersama kamu," jawab Rania.


"Aku melakukan itu suka sama suka dulu, Sayang. Tidak memaksa seperti orang yang mau, maaf, mau memerkosanya," ucap Dio.


"Iya, aku tahu, Sayang. Tapi, wanita seperti Najwa biasanya sulit melupakan masa lalunya. Dia tipe wanita pendiam. Bisa jadi kalau dia menikah nanti, dia mencintai suaminya, tapi dia takut kalau akan melakukan hubungan suami istri. Karena terngiang kejadian yang dulu. Ya, semoga saja dugaan ku meleset. Dan, dia akan baik-baik saja," jelas Rania.


"Iya, dia memang pendiam. Semoga saja tidak, jika iya seperti itu. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri, Ran," ucap Dio.


"Sudah, yang lalu biarlah berlalu, sayang. Kita sudah memiliki lembaran baru kita. Jalan kita masih panjang untuk melangkah ke depan. Dan, aku akan terus mendampingi mu. Apapun yang akan terjadi di kemudian hari. Kita akan hadapi bersama. Kamu jangan bersedih lagi." Rania mencoba menenangkan hati Dio yang masih di selimuti rasa bersalah pada keluarganya.


Dio memang semakin menjauh dari keluarganya, semenjak kejadian di vila itu. Dia merasa semua orang mengucilkan dirinya meskipun dia tidak di usir seperti Najwa. Beban hati dia tampung sendiri saat itu. Saat semua keluarganya mendiamkan Dio sendiri. Hadirnya Dio di acuhkan, dan saat menunggui Arsyad sakit juga semua mengacuhkannya. Tapi, dia berusaha tetap tegar dengan keadaan. Memang dirinya yang salah, jadi sudah sepantasnya Dio di perlakukan seperti itu.


Hingga dia bercerita dengan ibu mertuanya, saat Rania di kantor dan Dio yang menjaganya. Dia menceritakan semuanya apa yang dilalui bersama Rania. Dia berlutut memohon ampun dengan Anna kala itu. Hanya Anna yang mau dengan ikhlas memaafkan Dio. Karena bagi Anna, tidak ada satupun manusia yang tak luput dari kesalahan. Sesuci apa pun manusia, dia tetap memiliki kesalahan, kecuali bayi yang baru lahir. Benar-benar suci, tanpa dosa.


Bagi Dio, hanya ibu mertuanya yang mengerti Dio kala itu. Hingga dia membiarkan Dio tinggal di rumahnya walaupun Dio dan Rania sudah bercerai saat itu. Karena Anna menganggap Dio lebih dari seorang menantu. Anna menganggap Dio seperti anaknya sendiri.


"Kamu seperti ibu, Ran. Tutur katamu selalu menentramkan hati. Allah Maha Baik, Dia memberikan wanita yang benar-benar sempurna untukku. Terima kasih, Sayang." Dio memeluk Rania dan mencium setiap inci wajahnya.


"Aku kan anaknya ibu, ya jelas seperti ibu lah," ucap Rania dengan menarik hidung Dio.


"Terima kasih sayang, mau mendengar ceritaku, mau menerima masa laluku, dan mencintaiku," ucap Dio.


"Iya, aku juga terima kasih, kalau tidak ada kamu, apa jadinya aku saat Evan akan ...."


"Jangan bahas itu. Sudah, kita buka lembaran baru kita. Dan, katanya kamu pingin punya bayi?"


"Lalu?" tanya Rania.


"Kita buat lagi, yuk?" Ajak Dio.


"Mauna ...."


"Ya maulah, ayo ke kamar," ajak Dio dengan menggendong tubuh Rania.

__ADS_1


Rania tidak bisa menolaknya. Dia juga menikmati setiap permainan yang Dio berikan pada dirinya. Semua terjadi lagi. Berkali-kali, dan kali ini Rania benar-benar ingin lagi dan lagi. Seakan tubuh Dio sudah menjadi candu baginya. Rania tidak peduli dengan bagian intinya yang masih sakit, karena semua akan hilang ketika Dio melakukannya dengan kelembutan dan penuh gairah.


__ADS_2