THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 12 "Kesalahpahaman" The Best Brother


__ADS_3

Tiga hari setelah Shifa menikah, dan hari ini adalah hari kepindahan Shifa ke rumah barunya bersama suaminya. Semua melepaskan kepindahan Shifa ke rumah barunya. Annisa sebenarnya tidak rela, tapi Shifa sudah menjadi haknya suami karena sudah menikah. Akhirnya Annisa dan Arsyad merelakan putrinya hidup dengan suaminya.


"Abah, bunda, Shifa pamit, Shifa akan tinggal di rumah Mas Fattah. Minta Do'a restunya, semoga Shifa bisa menjadi istri yang baik buat Mas Fattah," ucap Shifa sambil berpamitan dengan Annisa dan Arsyad.


"Iya sayang, kita masih dekat, dan kalau ada waktu, kalian ke sini," ucap Annisa.


"Jangan sekali-kali melawan suamimu, jadilah istri yang taat, Nak," tutur Arsyad.


"Itu pasti, Abah," ucap Shifa.


"Fattah, Abah titip Shifa, jangan sesekali kamu menyakitinya, Abah percaya kamu laki-laki yang baik, yang bisa membimbing Shifa kelak menuju Jannah-Nya." Arsyad berkata sambil menepuk pundak Fattah.


"Iya, Abah, itu pasti," jawab Fattah dengan tegas.


Shifa masuk ke dalam mobil mewah milik Fattah. Ya, Fattah adalah putra tunggal dari pengusaha kaya raya di Malaysia. Tak heran rumah yang akan ia tempati bak istana megah. Beruntung Shifa memiliki suami baik seperti Fattah, dan ibu mertua serta ayah mertua yang baik pula.


Setelah melepas kepindahan Shifa, Najwa berpamitan pada Abah dan bundanya untuk pergi menemui Wulan di rumah sakit. Entah kenapa Arsyad sedikit tidak percaya kalau Najwa akan pergi dengan Wulan.


"Abah, Najwa mau menemui Wulan di rumah sakit, karena ada pasien Wulan yang ingin mendengar Najwa mendongeng," pamit Najwa.


"Di rumah sakit mana?" tanya Arsyad.


"Di rumah sakit S, Abah," jawab Najwa.


"Oh, kebetulan, sekalian dengan Abah, Abah mau besuk teman di rumah sakit itu." Arsyad langsung mengambil kunci mobilnya.


"Ayo pakai mobil Abah, sekalian Abah antar kamu ke sana," ajak Arsyad.


Lagi dan lagi, Dio gagal mengajak kencan Najwa, dari kemarin ada saja penghalangnya, kalau tidak bundanya, abahnya, bahkan opa dan Raffi.


"Kan, susah sekarang mau ajak Najwa jalan, padahal setelah menemui Wulan aku akan mengajak dia ke suatu tempat," gumam Dio.


"Maaf, Dio. Aku tidak bisa membantah Abah, aku juga takut, aku tidak bisa melepaskan jerat cintamu, yang semakin hari semakin dalam. Dan, kita sudah melampaui batas, Dio," gumam Najwa.


"Ya sudah yuk Abah, kita berangkat, nanti Wulan lama menunggunya," ajak Najwa.


Arsyad mengemudikan mobilnya untuk ke Rumah Sakit yang ia tuju. Sesampainya di sana, Arsyad memarkirkan mobilnya. Najwa segera turun untuk menemui Wulan.


"Abah, aku menemui Wulan dulu, Abah mau membesuk teman Abah, kan?" tanya Najwa.


"Iya, kamu duluan, Abah mau tanya dia ada di ruangan mana," jawab Arsyad.


Najwa masuk mendahului abahnya dan langsung menemui Wulan. Setelah bertemu Wulan, dia langsung masuk ke dalam ruangan anak yang sedang di rawat karena sakit tumor otak.


"Hai, Adek..." Najwa menyapanya dengan sumringah.


"Hai kakak cantik," ucapnya dengan lemah.


"Nih, dokter Wulan bawain Kak Najwa lagi, katanya Riska mau dengar Kak Najwa mendongeng lagi," ucap Wulan.


"Iya, dongeng seekor rusa yang terluka lagi, Kakak. Yang seperti kemarin," pinta Riska.


"Oke, sekarang kakak mulai, ya." Najwa mulai mendongeng di depan Riska dan pasien anak yang lainnya, karena ruangan itu ruangan bangsal.


Semua anak antusias dengan dongeng yang di bawakan Najwa. Saat Najwa sedang mendongeng, dua suster yang berada di dalam ruangan memerhatikan Najwa dengan seksama. Dia mengingat-ingat, seperti pernah melihat Najwa di mana. Salah satu suster itu membuka ponselnya dan membuka story' WA milik Dokter Akmal yang memosting foto Najwa yang ia ambil saat bertemu di mini market. Di story itu tertulis, "Ainun bidadari surgaku,"


"Lihat, itu kan calon Dokter Akmal sama ya wajahnya dengan kakak itu, yang sedang mendongeng?" tanya salah satu suster itu.


"Eh, iya, sama. Jangan-jangan itu benar dia," ucap suster satunya..


"Wah tenyata, dia calon menantu pemilik Rumah Sakit ini," ucap mereka.


Wulan berpamitan pada Najwa karena akan ada seminar, jadi dia meninggalkan Najwa terlebih dahulu. Ya, Najwa tidak keberatan, karena memang sudah tugas Wulan juga, dan dia juga senang bisa membuat semua anak-anak tersenyum di sini.


"Aku ada seminar, aku tinggal tidak apa-apa?"tanya Wulan.


"Oke, setelah ini sudah kan?"tanya Najwa.


"Iya, ya sudah aku tinggal, ya?" Wulan keluar dari ruang pasiennya. Dan Najwa melanjutkan mendongeng nya dengan di temani dua suster tadi.


^^^^^

__ADS_1


Arsyad masuk ke dalam rumah sakit untuk mencari Najwa karena belum juga ke luar. Ponsel Najwa juga tidak aktif. Najwa memang seperti itu, saat sedang bekerja, dia mematikan ponselnya.


"Ups, maaf, Pak, saya tidak sengaja, karena saya gugup," ucap seorang pemuda yang menabrak Arsyad di depan pintu masuk.


"Iya, mas, tidak apa-apa. Ini bukunya.", Arsyad memberikan bukunya pada pemuda berseragam putih dan sepertinya dia dokter.


"Mas, Dokter di sini?" tanya Arsyad.


"Iya, pak. Sekali lagi saya minta maaf. Saya ke dalam dulu ya, Pak? Ada pasien yang harus segera saya tangani," pamit pemuda itu dengan mencium tangan Arsyad.


Arsyad tidak menyangka ada Dokter seramah itu dan sesopan itu. Dia terus memandang punggung pemuda itu hingga tak terlihat lagi olehnya.


^^^^


Najwa selesai mendongeng, dia pamit dengan semua keluarga pasien, dan berpamitan dengan dua suster yang juga berada di situ.


"Mari saya pamit dulu," ucap Najwa.


"Sus, terima kasih, nanti sampaikan Dokter Wulan, ya, aku pamit pulang, karena harus segera ke butik," ucap Najwa dengan sopan.


"Ah iya, kak Ainun," ucap mereka.


"Ainun?" tanya Najwa.


"Iya, ini Kak Ainun calon istri Dokter Akmal, bukan?" tanya suster tersebut.


"Dokter Akmal?"tanya Najwa.


"Iya, ini orangnya." Suster itu menunjukan foto Dokter Akmal yang ia maksud dan menunjukan story' nya yang memasang foto Najwa dengan caption "Ainun, bidadari Surgaku."


"Dia? Berani sekali dia post fotoku di story' WA-nya. Bisa gempar seisi rumah sakit ini, semoga Wulan tidak tahu, Ya Allah. Mana ada Abah lagi. Benar-benar Dokter gila dia." Najwa sedikit kesal karena Dokter Akmal yang Najwa kenal dengan nama Habibi itu, karena mencuri fotonya saat bertemu di mini market.


"Oh, iya. Bisa antar saya ke ruangan Dokter Habibi, eh maksudku Akmal," pinta Najwa.


"Iya, mari, kak," ucap suster itu.


Najwa mengikuti suster itu ke ruangan Habibi. Dia geram sekali dengan kelakuannya, dan ini tidak bisa di biarkan, karena ini adalah pencemaran nama baik.


"Hai," sapa Najwa dengan santainya.


Suster itu kemudian keluar dan meneruskan gosip itu pada suster lainnya dan juga para dokter cantik yang masih single yang mengidam-idamkan Dokter Akmal yang tampan itu.


"Kita ketemu lagi, silakan duduk Ainun," ucap Akmal.


"Hapus story WA kamu! ini pencemaran nama baik. Kamu berani mengambil fotoku?" Najwa berkata dengan kesal.


"Ainun, apa salahnya, aku tidak mau di kejar-kejar suster dan dokter cantik di sini, jadi aku terpaksa seperti ini, dan ayahku juga sudah tau," ucapnya tanpa rasa bersalah.


"Dasar dokter gila, psycopat!" umpat Najwa.


"Jangan seperti itu, nanti jatuh cinta. Maaf-maaf. Aku melakukan ini cuma sampai besok kok, dan syukur aku bisa bertemu kamu lagi Ainun. Maafkan aku, iya aku hapus, dan aku tidak akan mengganggu kamu lagi," ucapnya.


"Hapus sekarang!" titah Najwa.


"Iya, Ainun, jangan marah. Ini sudah aku hapus." Akmal menunjukan ponselnya kalau dia sudah menghapus foto Najwa.


"Oke, terima kasih, aku pulang," pamit Najwa.


"Hati-hati, Ainun. Ingat, Ainun itu cinta sejati Habibi," ucapnya sebelum Najwa keluar dari ruangannya.


"Dasar gila!" umpat Najwa.


Najwa keluar dari ruangan Dokter Akmal dengan rasa kesal masih melekat pada dirinya. Dia tidak menyangka bertemu dengan dokter yang terobsesi dengan dirinya. Najwa berjalan keluar melewati setiap lorong rumah sakit dengan mengatur moodnya kembali agar baik. Semua suster yang kenal dengan dokter Akmal menunduk pada Najwa karena mereka mengira Najwa benar-benar calon menantu pemilik rumah sakit.


"Siang Kak Ainun," sapa suster-suster dengan ramah pada Najwa.


"Siang sus," ucap Najwa dengan ramah juga dan senyum manisnya.


Lagi- lagi setiap berpapasan dengan suster atau dokter, Najwa di sapa layaknya orang penting. Najwa semakin tidak mengerti, memiliki masalah dengan dokter gila itu, menjadi di segani hari ini.


"Wah, calon menantu pemilik rumah sakit ini cantik sekali, anggun lagi, pantas saja, Dokter Akmal tidak mau melirik dokter-dokter cantik di sini." Clentingan itu terdengar di telinga Najwa. Betapa kagetnya kalau dokter gila yang membuat mood Najwa hari ini berantakan adalah pemilik rumah sakit S yang sekarang Najwa sedang menginjakan kakinya di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Dia anak pemilik rumah sakit ini? Bagaimana kalau berita ini benar-benar sampai ke orang tuanya. Aku harus bagaimana?" gumam Najwa.


Najwa berjalan menghampiri laki-laki yang sudah menunggunya sejak 1 jam yang lalu. Dia mendekati abahnya yang sedang duduk di kursi tunggu dekat taman.


"Abah," sapa Najwa.


"Kamu lama sekali, nak," ucap Arsyad.


"Iya abah, tadi ada urusan lagi sebentar," ucap Najwa.


"Siang Kak Ainun," sapa seorang suster lagi.


"Siang, Sus," jawab Najwa dengan sopan dan senyum merekah di wajahnya.


Najwa melihat ekspresi wajah abahnya karena para suster dengan sopan menyapa putrinya dan dengan sebutan Ainun.


"Ainun?" tanya Arsyad.


"Ya, mereka semua memanggil aku Ainun, Abah. Entahlah, sudah yuk pulang,"ajak Najwa.


Lagi-lagi dia bertemu suster yang menyapanya dengan menunduk sopan sekali. Arsyad semakin penasaran, kenapa putrinya begitu disegani di rumah sakit ini. Bahkan semua suster dan dokter sopan terhadap anaknya.


"Abah ambil mobil, kamu tunggu di sini," ucap Arsyad menyuruh Najwa menunggu, dan dia mengambil mobil di tempat parkir.


Najwa menganggukkan kepalanya. Arsyad mengambil mobilnya, dan sesekali dia juga di sapa ramah oleh suster dan dokter.


"Senang ya, mau jadi menantu pemilik rumah sakit ini, apalagi dokter Akmal tampan sekali, dan Kak Ainun juga cantik sekali." Arsyad mendengar celentingan ucapan dari para suster yang berjalan di samping Arsyad.


"Maaf sus, apa yang suster maksud Aniun dia?"tanya Arsyad menunjuk ke arah Najwa yang sedang berdiri menunggu dirinya mengambil mobil.


"Iya, benar, Pak. Dia calon menantu pemilik rumah sakit ini, mari pak," jawab suster itu sambil berlalu.


Arsyad begitu kaget, bagaimana bisa anak nya memiliki hubungan dekat dengan pemilik rumah sakit ini. Sedangkan putrinya itu hanya mencintai Dio.


"Ini tidak mungkin, pasti ini salah paham," gumam Arsyad.


Arsyad mengambil mobilnya dan menyuruh Najwa naik ke dalam mobil. Arsyad masih bertanya-tanya pada dalam hatinya. Kalau putrinya akan menjadi menantu pemilik Rumah Sakit yang baru saja ia kunjungi.


Arsyad mencoba membuka percakapan dengan putrinya. Dia perlahan bertanya soal Ainun yang menggemparkan jagat rumah sakit tadi.


"Nak, Abah mau tanya, kenapa kamu di panggil Ainun di rumah sakit tadi?" tanya Arsyad.


"Oh, tadi Najwa mengenalkan diri Najwa pada anak-anak, mereka pingin tahu nama lengkap Najwa. Ya Najwa kasih tau, nama Najwa kan Ainun Najwa Salsabila," jawab Najwa.


"Oke, lalu, soal calon menantu pemilik rumah sakit itu, apa itu kamu?"tanya Arsyad lagi.


"Abah kenapa tanya itu? lupakanlah," ucap Najwa.


"Kamu tidak mau jujur dengan Abah?"


"Abah, ini kesalahpahaman, Abah,"ucap Najwa.


Najwa akhirnya menceritakan semua tentang Habibi, yang tidak lain adalah Dokter Akmal, anak dari pemilik Rumah Sakit S.


"Oh, jadi seperti itu? Wah, Do'a opamu terkabul, Sayang," ucap Arsyad.


"Abah, jangan seperti itu, Najwa juga tidak tahu itu, Habibi atau Akmal lah, dia gila Abah, masa seperti itu sekali, menakutkan seperti psycopat saja," ucap Najwa.


"Ya, siapa tahu jadi jodohmu beneran, Abah hanya bisa mendoakan, semoga menjadi kenyataan," ucap Arsyad.


"Abah kok malah gitu."


"Apa salahnya orang tua ingin yang terbaik buat putrinya. Abah juga senang, kalau kamu bersuami seorang dokter. Apalagi Dokter itu tampan, ramah, sopan, itu menantu idaman, nak," ucap Arsyad.


"Do'akan saja, Abah," ucap Najwa.


"Itu pasti, nak." Arsyad mengusap kepala Najwa.


"Abah hanya tidak ingin kamu dengan Dio, Nak. Dia adik sepupumu. Walaupun bukan mahram kamu, Abah tidak menyetujuinya kamu menikah dengan Dio," gumam Arsyad.


Arsyad langsung mengantar Najwa ke butik, sebelum ke butik, mereka makan siang terlebih dahulu di restoran favorit Najwa.

__ADS_1


__ADS_2