THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 54 "Memendam Cinta" The Best Brother


__ADS_3

Dio menemani Rania yang masih duduk di ruang tamu seusai pemakaman ibunya. Rania tak henti-hentinya menangis. Dia tidak tahu, hidupnya akan sehancur ini. Rasanya ingin mati saja daripada hidup sendiri. Semua orang yang ia sayangi dan ia cintai sudah pergi. Ayah dan ibunya sudah ke surga terlebih dahulu. Dio, suami yang sangat di cintanya juga pergi, karena dirinya menginginkan perceraian.


"Ran, makan ya?" Evan membawakan sepiring nasi untuk Rania. Dio hanya melihatnya saja. Tapi, hatinya begitu sakit karena Rania langsung mau di tawari Evan makan. Padahal dia dari tadi membujuknya, tapi Rania tidak mau untuk makan.


"Ran, sudah jangan siksa dirimu. Kamu lihat, banyak orang yang sayang dengan kamu." Evan berkata sambil telaten menyuapi Rania.


"Aku sendirian, Van," ucap Rania dengan lirih.


"Kamu tidak sendirian, Rania." Evan mengusap bahu Rania.


"Van, sudah aku kenyang." Rania meminta Evan menyudahi menyuapi dirinya.


Evan menaruh kembali piring yang masih ada sisa nasi milik Rania. Dio masih tak bergeming. Dia masih terpaku duduk di kursi yang sama di samping Rania yang agak jauh. Dia hanya diam dan melihat Evan yang begitu dekat dengan Rania. Dio akhirnya pergi meninggalkan Rania. Saat hendak melangkahkan kakinya, suara lirih terdengar memanggilnya.


"Dio." Rania memanggilnya dengan lirih.


"Iya, Rania," jawab Dio tanpa melihat Rania.


"Ran, maaf malam ini aku tidak bisa menemanimu, aku ada urusan. Nanti bunda dan abah yang akan di sini," ucap Dio, dan masih tanpa melihat Rania.


"Iya Dio, tidak apa-apa," jawab Rania.


"Aku pamit pulang, Ran." Dio melangkahkan kakinya untuk pulang dari rumha Rania.


Dio sebenarnya masih ingin berada di rumah Rania. Tapi, dengan melihat kedekatan Evan, rasanya hati Dio semakin sakit sekali. Dia masuk ke dalam mobil, dan pulang tanpa pamit pada keluarganya yang masih berkumpul di rumah Rania. Menurut dia, percuma saja pamit, semuanya masih menyalahkan dirinya dalam masalah yang bertubi-tubi menimpa Rania dan menimpa keluarganya.


"Aku tidak ada gunanya di sana. Lebih baik aku pulang, aku semakin sakit melihat Evan dan Rania dekat seperti itu. Apalagi Abah yang masih mendiami ku sejak pulang dari rumah sakit," gumam Dio sambil melajukan mobilnya menuju rumahnya.


°°°°°


Habibi mengajak Ainun untuk makan malam. Setelah tadi siang mengajak Ainun ke rumah sakit dan menemui opanya. Sekarang dia mengajak Ainun untuk dinner romantis. Ya, menurut Habibi adalah dinner romantis malam ini. Karena baru kali ini juga Habibi mengajak Ainun pergi makan malam.


Habibi menunggu Ainun yang sedang bersiap-siap dengan di temani Nuri di ruang tamu.


"Ehem … Jalan terus .... Udah lamar saja Ainun, jangan lama-lama, nanti keburu di ambil orang. Dia banyak yang suka lho," ledek Nuri saat Habibi sudah sampai di rumahnya untuk menjemput Ainun.


"Sabar, butuh waktu. Aku juga menunggu Ainun benar-benar siap hatinya, Nuy. Aku tahu, walaupun dia selalu tersenyum dan tertawa, tapi dalam hatinya masih ada rasa takut, trauma, dan sakit. Dia bukan tipe wanita seperti kamu, ketika putus dengan seseorang, cepat mendapat pengganti," jelas Habibi.


"Ya seperti yang ngomong juga. Kamu juga butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan Yas ...." Ucapan Nuri terpotong karena Habibi menukasnya.


"Jangan bahas itu lagi. Aku sudah mencintai Ainun, tidak ada wanita lain di hatiku selain dia. Sampai kapan pun aku akan menunggu dia siap menata hatinya, Nuy." Habibi memotong ucapan Nuri dan menjelaskan isi hatinya yang sekarang.


"Ya, syukur lah, kalau kamu sudah melupakannya. Buka lembaran baru. Ainun masih menjadi wanita yang seutuhnya. Aku selalu bilang pada Ainun, kalau dia bisa mendapat orang yang baik dan menerimanya. Hanya bingkainya yang sudah di rusak oleh butanya cinta pada Dio." Nuri menceritakan apa yang Ainun alami.


"Aku juga tidak menyangka, Ainun akan dibutakan oleh cinta, Nuy," ucap Habibi.


"Ya, sama seperti kamu dulu," tukas Nuri.


"Sudah jangan bahas itu, Nuy. Aku mencintai Ainun. Sangat mencintainya.. Kamu tahu kan, waktu itu dua bulan Ainun tidak menghubungiku, rasanya aku ingin pulang ke Indonesia menemuinya, Nuy." Habibi menceritakan apa yang ia rasakan saat Ainun tidka menghubunginya selama dua bulan karena Dio melarangnya.


"Kalau kamu mencintai Ainun. Tolong jangan permainkan perasaannya. Jika dia belum siap, bersabarlah. Dia juga sedikit demi sedikit membuka hati untukmu. Jika suatu saat aku mendengar kamu menyakiti Ainun, aku orang pertama yang akan menghukum mu karena menyakiti Ainun," tutur Nuri.


"Iya, aku janji, aku akan bersabar menunggu Ainun siap. Aku mencintainya, Nuy. Sangat mencintainya," ucap Habibi dengan serius dan penuh keyakinan.


"Aku pegang janji kamu, Ki." Nuri menepuk pundak Habibi.


"Iya, jika aku ingkar, silakan hukum aku. Bila perlu bunuh aku, Nuy," ucap Habibi.


"Jiah … ini serius banget, Bang," ucap Nuri.


"Aku tidak pernah bercanda, Nuy." ucap Habibi dengan penuh keyakinan.


Habibi meneruskan mengobrol dengan Nuri hingga wanita yang ia tunggu keluar dari kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Ainun. Wanita yang ia cintai, dan malam ini, dia akan menyatakan cintanya setelah makan malam. Ainun mendekati Habibi yang sedang duduk bersama Nuri. Dia duduk di samping Nuri.

__ADS_1


Ainun memakai gamis berwana mint, dengan jilbab senada dengan gamisnya. Ya, penampilan Ainun berubah menjadi Syar'i. Dirinya ingin berubah menjadi lebih baik, setelah Habibi menuturkan pada dirinya kemarin untuk tetap semangat dan jangan pernah takut untuk melangkah menuju hal lebih baik.


"Kamu tidak salah memakai?" tanya Nuri dengan menunjukan pakaian yang Ainun kenakan.


"Iya, aku benar memakai ini," jawab Ainun.


"Sudah mau pakai apapun kamu tetap cantik, ayo berangkat," lerai Habibi dan mengajak Ainun berangkat dinner.


^^^


Di dalam mobil, mereka tak henti-hentinya bercerita. Mereka tidak kehabisan kata-kata untuk bercerita. Selalu ada bahan untuk cerita tanpa mengungkit masa lalu mereka.


"Ainun," panggil Habibi saat Ainun mulai terdiam, mungkin dia lelah tertawa karena dari tadi Habibi membuat lelucon.


"Apa?" Jawab Ainun.


"Kamu ingat waktu pertama kita bertemu?" tanya Habibi


"Iya ingat," jawab Ainun.


"Nama mbak siapa? Kita belum kenalan." Habibi mengulang kata-kata itu saat dia bertanya nama Ainun.


"Ainun, namaku," ucap Ainun dengan menyunggingkan senyumannya.


"Aku Habibi," ucap Habibi dengan tersenyum manis.


"Aku tidak tanya." Najwa semakin tertawa mengingat itu semua.


"Eh, nama kita cocok ya? Habibi - Ainun, jodoh kita, mba," ucap Habibi yang membuat Ainun semakin tertawa.


"Jodoh? Mimpi kamu," kelakar Najwa dengan meninju lengan Habibi dan terkekeh.


"Sudah, sudah. Kalau di pikir kocak juga ya pertemuan kita. Kamu jutek sekali, makanya aku suka," ucap Habibi.


"Suka bagaimana?" tanya Ainun.


"Sampai bilang aku calon istrimu?"


"Ya, aku sengaja, biar kamu tambah marah, habis jutek sekali kamu," ucap Habibi.


"Sekarang?" tanya Ainun.


"Sekarang, kocak juga," ucap Habibi.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan restauran mewah. Ainun berjalan di samping Habibi masuk ke dalam rastauran.


^^^


Seusai makan malam, Habibi mengajak Ainun berjalan-jalan di Jembatan Rantai Széchenyi. Jembatan gantung di Sungai Donau yang menghubungkan Buda dengan Pest, atau bagian barat dan timur Budapest, ibu kota Hongaria. Jembatan ini dirancang oleh insinyur Inggris William Terney Clark pada tahun 1839 atas inisiatif István Széchenyi pada tahun yang sama, sementara pembangunan jembatan ini diawasi oleh insinyur Skotlandia Adam Clark. Dibuka pada tahun 1849, jembatan ini merupakan jembatan pertama di ibu kota Hongaria dan jembatan permanen pertama di Sungai Donau. Pada waktu itu, dengan span / bentangan 202 m, jembatan ini merupakan salah satu jembatan terbesar di dunia. Sepasang singa di batas jembatan didirikan pada tahun 1852.


Habibi menggandeng tangan Ainun dan berjalan sambil menikmati Kopi yang ia beli. Mereka berjalan menikmati kesunyian malam di jembatan yang membentang di atas Sungai Danube. Chain Bridge / Jembatan Rantai dihiasi lampu-lampu kuning yang membuatnya terlihat gemerlap ditengah gelapnya sungai Danube. Keindahan icon Budapest ini memang membuat orang yang menyebrang saja serasa berada di dalam film romantis.


"Aku masih menggandeng tangan Ainun sambil berjalan di bawah lampu taman yang bersinar terang menuju sisi Pest dari sisi Buda. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Andai aku dan Ainun adalah sepasang kekasih. Itu akan membuat aku lebih bahagia," gumam Habibi.


"Ainun, berhenti sebentar," ucap Habibi


"Mau apa?"


"Ainun, boleh aku bertanya?"


"Iya silakan,"


"Aku ... Emm … aku ingin hubungan ini, melangkah ke lebih serius," ucap Habibi.

__ADS_1


"Maaf Habibi. Bukan aku menolak, aku hanya belum siap saat ini, dan kamu tau sendiri, kan?" jawab Ainun.


"Aku mengerti, baiklah, aku akan tunggu hingga kamu siap, Ainun." Habibi mengusap kepala Ainun.


Hati Ainun berdegup kencang, baru pertama kali dia merasakan degup jantung secepat ini. Dan Ainun sedikit berpikir, saat dengan Dio, dia hanya merasa ingin dekat dan ingin menikmati tubuh Dio saja. Bukan rasa seperti ini yang Ainun rasakan sekarang.


"Ainun, kok diam?" tanya Habibi.


"Eee ... Tidak apa-apa," jawab Ainun dengan gugup dan wajah bersemu merah.


"Ainun," panggil Habibi.


"Iya," jawab Ainun.


"Ainun, aku ... A--aku mencintaimu, sungguh aku tidak bisa menahan rasa ini lagi. Maaf aku terlalu cepat mengatakan ini" ucap Habibi dengan gugup. Kali ini Habibi terlihat lebih serius, di bandingkan dengan dulu saat Habibi baru bertemu Ainun.


Ada rasa gugup pada diri Habibi saat mengatakan cinta pada Ainun. Tidak seperti dulu, saat dia sering mengatakan Ainun adalah calon istrinya.


Wajah Ainun semakin merah merona, mendengar pernyataan cinta dari Habibi. Dia tidak bisa memungkiri, ada rasa nyaman saat bersama Habibi, dan itu Ainun rasakan sejak dulu, saat sebelum Habibi meninggalkan Indonesia untuk bertugas di Budapest.


Ainun tidak tahu harus menjawab apa. Hati yang kosong, rasanya mulai sedikit terisi lagi oleh rona cinta dari Habibi. Semenjak dekat dengan Habibi lagi, Ainun tak merasa hampa lagi pada hidupnya. Hidupnya berwarna, karena Habibi bisa mengimbangi hati Ainun yang kadang cepat berubah mood nya. Dan, menurut Ainun, Habibi lah yang paling mengerti kondisi hatinya saat ini setelah Nuri.


"Aku tahu, kamu masih bimbang. Aku tidak butuh jawaban itu sekarang, Ainun. Aku akan menunggu hingga hati kamu benar-benar tertata lagi, Ainun. Sudah jangan pikirkan omonganku yang tadi. Aku hanya ingin kamu tahu saja, kalau hatiku sudah tidak sanggup untuk memendam cinta ini," ucap Habibi lagi.


"Beri aku waktu Habibi. Jujur saja, baru pertama kali aku senyaman ini dengan laki-laki. Rasanya hidupku tidak ada beban saat bersama kamu. Ya, mungkin beban ku adalah masa laluku yang pahit. Aku wanita yang bodoh dan dengan mudahnya termakan oleh butanya cinta," jelas Ainun.


"Sudah jangan di ingat lagi hal yang menyakitkan, Ainun. Buka lembaran baru. Meski sulit melangkah, aku akan selalu memegangi mu, membimbing mu, hingga kamu bisa mendapat cinta yang nyaman dalam hidupmu," tutur Habibi.


"Terima kasih, Habibi." Ainun menatap lekat wajah Habibi. Mereka saling menatap hingga akhirnya mereka tertawa bersama.


Mereka melanjutkan bercerita lagi, entah apa yang mereka bicarakan. Hingga mereka lupa akan waktu yang sudah semakin malam.


"Pulang yuk," ajak Ainun.


"Oke," jawab Habibi.


Ainun melingkarkan tangannya di lengan Habibi. Ya , mereka layaknya seperti sepasang kekasih bagi siapa saja yang melihatnya. Tapi, mereka adalah dua insan yang sama-sama ingin mengubah nasibnya karena masa lalu yang pahit, yang pernah melanda hidupnya.


°°°°°


Malam hari, Dio tidak tahu entah akan ke mana melajukan mobilnya. Malam sudah semakin larut. Hawa dingin semakin menusuk dalam pori-pori kulitnya.


Mata Dio terbelalak, kala melihat sosok wanita berjalan di tengah malam sendirian menyusuri jalanan sepi. Wanita yang sangat ia kenal. Paras wajah yang lusuh dan mengenakan piyama warna biru tua.


Mobil Dio berhenti di depan wanita itu. Dio menarik wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


"Apa yang kamu lakukan di tepi jalan ini? Apa kamu tidak sadar, ini sudah tengah malam." Suara bariton Dio terdengar keras di dalam mobil.


"Untuk apa aku hidup. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Untuk apa kamu menolongku, bukankah, kamu senang kalau aku hilang?" Suara wanita itu terdengar serak dan melemah.


Dio memeluk erat wanita tersebut. Dia mengusap kepalanya yang terbungkus oleh jilbab berwarna mocca.


"Jangan seperti itu bicaranya. Kamu wanita yang kuat. Kamu wanita hebat, kamu pasti bisa melewati semua ini, Rania." Dio memeluk erat tubuh Rania yang lemah itu.


Ya, wanita itu adalah Rania. Rania keluar dari rumah dan tak ada seorang pun yang tahu, kalau Rania pergi dari rumah.


"Dio, untuk apa aku hidup? Sudah tidak ada yang menyayangi aku lagi, Dio." Rania terisak di pelukan Dio.


"Jangan bicara seperti itu. Siapa bilang tidak ada yang menyayangi kamu, bunda, Abah, opa, dan Evan. Semua sayang kamu, Rania. Jangan berkata seperti itu lagi." Dio memegang pipi Rania dan mencium keningnya.


"Dio ... kamu ke mana saja, kenapa tidak hadir di pengajian tadi?" tanya Rania.


"Aku ada urusan," jawabnya.

__ADS_1


"Ayo aku antar kamu pulang." Dio melajukan mobilnya menuju rumah Rania.


Rania hanya terdiam. Seperti menemukan kekuatan kembali saat Dio mendekapnya tadi. Rania merasa nyaman saat berada di samping Dio. Walaupun Rania tahu, Dio tidak pernah mencintainya.


__ADS_2