
Arsyad dari tadi masih bersama Najwa. Tidak bisa ia pungkiri, ia sangat merindukan anaknya yang sudah hampir satu tahun tidak pulang karena dia yang mengusirnya. Rasa bersalah masih saja bersemayam di hati Najwa. Dia selalu menangis saat menatap wajah abahnya yang sudah menampakkan lipatan-lipatan halus di kantung matanya.
“Abah, maafkan Najwa.” Najwa memeluk Arsyad dan mencium pipi Arsyad.
“Iya, maafkan abah juga, nak. Selama kamu di sana apa kamu baik-baik, saja?” tanya Arsyad.
“Iya, Najwa di sana baik-baik saja, Abah. Di sana banyak orang yang baik dengan Najwa,” jawab Najwa.
“Kenapa abah bisa kurus seperti ini?” tanya Najwa.
“Abah menyesal, abah sudah membuang putri abah. Harusnya abah menjaganya, bukan malah menyuruhnya pergi.” Arsyad memeluk Najwa dengan erat.
“Abah, sudah jangan seperti ini, Najwa sudah pulang, Najwa sudah di sini,” ucap Najwa.
“Apa kamu akan meninggalkan abah lagi?” tanya Arsyad
“Kalau Najwa menikah dengan Akmal, Najwa sementara akan ikut ke sana abah, menunggu Akmal selesai pekerjaannya di sana,” jawab Najwa.
“Yah, abah kesepian lagi,” ucap Arsyad.
“Kan, ada Rania, Shifa, Raffi, Dio, Arkan, mereka kan masih di sini, Abah. Najwa paling satu tahun lagi kok, di sana,” jelas Najwa.
“Iya, sih. Lalu kapan kamu akan menikah dengan Akmal?” tanya Arsyad.
“Tiga hari lagi orang tua Akmal ke sini, dan mungkin bulan depan kami akan menikah,” jawab Najwa.
Arsyad sebenarnya masih ingin melepas rindu dengan putrinya. Dari tadi tak henti-hentinya mereka mengobrol berdua di teras belakang hingga lupa dengan yang lainnya.
Tidak sengaja Dio ke teras belakang dengan langkah yang sedikit gontai. Dia memang sedang tidak enak badan, karena tadi habis mengeluarkan isi di dalam perutnya. Dia baru saja menyuapi rania makan. Entah kenapa Rania memaksa meminta Dio untuk menyuapi dirinya.
Dio duduk di kursi yang agak jauh dari abahnya dan Najwa,. Dia juga tidak sadar kalau ada Najwa dan abahnya d teras belakang. Dio memijat keningnya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
“Dio, kamu sedang sakit?” tanya Arsyad dengan mendekati Dio yang sedang duduk dan memijit keningnya.
“Tidak, abah. Hanya mual saja, tadi habis nyuapi Rania makan,” jawab Dio.
“Di bawa istirahat, yang hamil istrinya kamu yang ngidam,” ucap Arsyad.
“Biarlah, yang penting Rania dan anakku sehat, abah,” jawab Dio.
“Abah kok di sini?” tanya Dio.
“Abah dari tadi di sini sama Najwa, tapi duduk di sana,” jawab Arsyad.
“Mana Kak Najwanya?”
“Dia ingin bertemu opa,”
Dio terdiam sejenak, mengatur rasa mual dalam dirinya. Ingin sekali dia mengeluarkan isi dalam perutnya lagi. Tapi, kalau di paksakan dia akan lemas tak bisa apa-apa.
“Dio, bunda kan beli apel merah tadi,” ucap Arsyad.
“Iya, tadi Dio sudah makan, tapi karena tadi, Rania minta di suapi jadi gini rasanya,” jawab Dio.
“Kamu mau apel lagi? Biar abah ambilkan.”
“Nanti abah, masih mual sekali,” jawab Dio.
Arsyad meninggalkan Dio ke dalam. Dia tahu, bagaimana rasanya jika mengalami hal seperti Dio. Semenjak Rania hamil, Arsyad semakin perhatian dengan Rania, terutama dengan kesehatan Dio. Dio sama sekali tidak mau makan nasi. Melihat saja tidak mau, apalagi dia memakannya.
Arsyad sering menyuruh Rania dan Dio tidur di rumahnya, tapi mereka tidak mau, jadi kalau ada waktu, Annisa dan Arsyad pasti yang menginap di rumah mereka. Beruntung Rania tidak mengalami morning sickness yang parah, tapi Dio malah yang mengalaminya. Hanya bau wangi yang menyengat saja, Rania pasti mual, selain itu dia baik-baik saja.
“Ran, tadi kamu minta di suapi Dio?” tanya Arsyad pada Rania yang sedang bersama Najwa dan Shifa.
“Iya, abah,” jawabnya.
“Lihat suamimu, langsung dia seperti itu,” ucap Arsyad.
“Habisnya Rania ingin di suapi Dio, abah,” ucapnya dengan manja.
Arsyad mengusap kepala Rania dan tersenyum padanya, dia merasa memiliki anak perempuan lagi setelah Najwa dan Shifa. Arsyad juga tidak heran dengan sikap Rania yang manja pada suaminya. Memang wanita hamil memang seperti itu. kadang Arsyad menyesal, saat Annisa hamil Arkan dia tidak bisa mendampinginya. Saat-saat Annisa ngidam, dia harus terbaring di rumah sakit karena koma. Dan, papahnya juga adik perempuannya melarang Annisa menemuinya.
Jika mengingat itu semua Arsyad benar-benar merasa semakin bersalah sekali. Dia ingin mengulang waktu, saat Annisa hamil muda dulu, dan ingin mendampinginya, di saat-saat ngidam, seperti yang di rasakan Rania sekarang.
Arsyad menghampiri Annisa yang sedang sibuk di dapur untuk membuatkan salad buah untuk Dio, dan sedang memotong puding yang baru ia ambil dari kulkas. Dia memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya.
“Abah... mulai deh gini.”
“Sayang, kamu tahu, hari ini aklu bahagia sekali,” ucap Arsyad.
“Iya, bunda juga. Najwa sudah kembali, bunda bahagia sekali,” ucap Annisa.
“Tidak hanya itu, sayang.”
“Lalu apa?” tanya Annisa.
“Karena Najwa sebentar lagi akan menikah?” imbuh Annisa.
“Bukan itu,” jawab Arsyad.
“Lalu?” tanya Annisa lagi.
__ADS_1
“Karena kita akan di panggil opa dan oma. Aku bahagia sekali, sayang. Kita akan punya cucu, nanti Shifa sebentar lagi pasti hamil, kalau Najwa sudah menikah, pasti dia juga akan hamil, cucu kita akan banyak, sayang,” ucap Arsyad dengan raut wajah bahagia.
“Bunda juga bahagia sekali, anak-anak kita sudah menemukan kebahagiaannya. Dan, kita akan menimang cucu, bermain dengan cucu kita,” ucap Annisa.
“Hangat sekali rasanya memiliki banyak cucu,” ucap Arsyad sambil memeluk Annisa.
“Kamu sedang buat salad buah?” tanya Arsyad.
“Iya, untuk Dio. Dan, ini puding untuk Rania, Najwa, dan Shifa,” ucap Annisa.
“Kasihan Dio, dia sedang mual-mual tadi.”
“Iya, makanya ini aku buatkan dia salad buah. Ya sudah, bunda mau membawa puding dan saladnya ke luar,” ucap Annisa.
Annisa dan Arsyad ke luar dengan menemui Rania, Najwa dan Shifa yang sedang bercerita di ruang tengah.
“Kalian sedang asik cerita rupanya, ini bunda buatkan puding untuk kalian,” Annisa membawakan puding untuk mereka yang sedang asik mengobrol
“Nanti bunda, Rania masih kenyang,” ucap Rania.
“Enak nih, Najwa kangen puding buatan bunda,” ucap Najwa yang langsung mengambil sepotong puding dan menaruhnya di piring kecil.
“Iya dong, bunda sengaja buatkan untuk kalian yang suka sekali dengan puding tiramisu,” ucap Annisa.
“Memang masakan bunda tiada duanya, coba deh Ran ini enak banget,” ucap Shifa.
“Iya Ran, ini enak lho,” sambung Najwa.
“Nanti, aku masih kenyang sekali,” ucap Rania dengan mengusap perutnya.
“Ya Sudah, kalian nikmati saja pudingnya, bunda mau mengantarkan salad buah untuk Dio.” Annisa berlalu ke kamar Dio untuk memberikan salad buah untuknya.
Perhatian Annisa pada Dio dan Rania benar-benar berlebih saat ini. apalagi dia melihat anak laki-lakinya sekarang kurus, karena sudah hampir 2 bulan dia jaranga makan nasi. Bukan jarang, bahkan dia tidak mau makan nasi sama seklai, hanya buah dan roti saja yang ia makan.
Annisa membuka pintu kamar Dio. Dia melihat putranya sedang tertidur dengan wajah sedikit pucat. Annisa memegang kening Dio dengan punggung tangannya. Dia mencoba mengecek suhu badan Dio. Dio tidak demam, mungkin dia hanya merasakan mual dan lemas saja.
“Nak, salad buahnya dimakan dulu,” ucap Annisa dengan membangunkan Dio.
“Nanti bunda, taruh kulkas saja biar dingin sekali,” pinta Dio.
“Kamu pucat sekali, sayang. Kamu mau makan roti, atau bunda buatkan susu, atau mungkin yang lainnya? Apa yang kamu inginkan, nanti bunda buatkan.” Annisa menawari Dio makanan yang dia inginkan.
“Bunda, Dio pingin di peluk bunda,” ucapnya dengan manja.
Annisa menggelengkan kepalanya, ada saja yang dia minta. Kemarin, minta dibuatkan jus Alpukat, dan dia minta agar bundanya yang membuatkan, bukan lainnya.
Annisa merebahkan dirinya di samping anak laki-lakinya. Meskipun akan menjadi seorang Ayah, Dio masih terlihat anak kecil untuk Annisa. Dia memeluk Dio dari belakang dan mengusap kepalanya.
“Sudah kamu di bawa istirahat, jangan ngebayangin nasi terus. Kalau seperti ini, kamu mana bisa melawan rasa mual kamu,” tutur Annisa.
“Iya, bunda. Jangan pergi, peluk Dio sampai Dio tertidur,” pinta Dio.
“Iya, tidurlah anak bunda, yang mau jadi seorang ayah, jangan manja gini,” ucapnya sambil mencubit lirih pipi Dio.
“Ih bunda, sekali-kali Dio gini. Terakhir Dio tidur sama bunda kan pas Di Berlin,” ucap Dio
“Iya sayang, sudah istirahat, bunda memelukmu.” Annisa mengeratkan pelukannya pada Dio.
“Bunda, Paman Leon sama Tante Rere gimana ya kabarnya?” tanya Dio.
“Kemarin sih ngabarin bunda, anaknya yang ke dua baru saja keluar dari Rumah Sakit,” jawab Annisa.
“Kok gak pernah pulang, ya?” tanya Dio lagi.
“Kenapa? Kamu kangen sama Paman Leon?” tanya Annisa.
“Iya, sih. Kan terakhir ketemu saat Dio masih di Berlin. Dio banyak belajar bisnis dengan Paman Leon, beliau hebat sekali bunda,” jawab Dio.
“Memang Paman Leon orang yang hebat. Paling Tante Rere pulang kalau ingin menjenguk orang tuanya saja. Dan, kadang dia sendiri atau dengan anaknya saja yang pertama,” ucap Annisa.
“Sama Thalia? Dia seumuran Arkan, kan?” tanya Dio.
“Iya, Thalia. Satu tahun lebih muda dari Arkan. Sudah istirahat, tidurlah,” jawab Annisa dengan menyuruh Dio tidur.
Selama Dio dewasa, dia tidak lagi manja dengan dirinya. Apalagi saat Dio mengenal cinta, dan mencintai Najwa. Dia semakin jauh dari Annisa. Dan, sekarang, dia mersakan lagi Dio bermanja dengan dirinya.
^^^^^
Akmal bergabung dengan Najwa, Shifa, dan Rania, setelah tadi mengobrol dengan Raffi, Fattah, dan Opa Rico. Dia ingin berpamitan dengan Najwa untuk pulang, karena sudah menjelang sore. Bagaimanapun dia memiliki rumah, jadi tidak mungkin menginap di rumah Arsyad.
Dia duduk di samping Najwa dan langsung mengambil sepotong puding yang ada di piring kecil milik Najwa.
“Sayang, kamu tahu? Ada yang pengen pegang jambang kamu,” ucap Najwa pada Akmal.
“Siapa?” tanya Akmal.
“Nih, ibu hamil yang ada di sampingku,” ucap Najwa.
“Rania? kamu ngidam pengen pegang jambang milikku? Aduh... ibu hamil aneh sekali, untung saja hanya pegang jambang,” ucap Akmal.
“Sudah, mau saja kenapa? Dulu Nih, istrinya kakaknya Omanya Najwa, ngidamnya megang hidung opa,” ujar Rico yang juga berada di samping Akmal.
__ADS_1
“Siapa, pah? Tante Iva?” tanya Arsyad.
“Iya, Tante Iva. Jauh-jauh hanya minta megang hidung papah, dan Om kamu sampai setiap hari mengantar Tante Iva ke kantor buat megang hidung papah,” jawab Rico.
“Lucu ya, orang hamil itu,” sambung Arkan.
“Ya seperti itu, kadang emosinya juga tidak stabil, baru saja adem ayem, ketawa, tiba-tiba melow, manja, marah-marah. Kudu sabar pokoknya kalau ngadepin istri sedang hamil,” ucap Arsyad.
“Ini yang lucu itu Dio, istrinya yang hamil dia yang morning sickness,” imbuh Raffi.
“Ini jadi mau pegang jambangku?” tanya Akmal sambil mengusap jambang tipisnya.
“Mau, boleh ya, Najwa?” tanya Rania.
“Iya, boleh, kalau gak boleh nanti bayimu ileran,” ucap Najwa dengan tertawa.
“Yeay...makasih Najwa,” ucap Rania dengan bahagia.
“Enggak....Enggak... Gak boleh!” Dio ternyata mendengar apa yang sedang di bicarakan mereka karena dia baru saja keluar kamarnya.
“Ih...nyebelin kamu!” tukas Rania.
“Gak boleh genit ih, kamu lagi hamil kok genit sih?” ucap Dio dengan mendekati istrinya.
“Ini kan anakmu yang minta, kok kamu marah,” ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
“Sudahlah Dio, apa salahnya, ini kan yang minta calon keponakanku juga,” ucap Akmal.
“Iya sudah, iya boleh, tapi sekali saja ya, sayang? Jangan setiap hari. Kamu sudah nyiksa ayah, masa masih saja ngambek,” ucap Dio.
“Iya sekali saja,” ucap Rania dengan manja.
Dengan senang Rania memegang jambang milik Akmal. Semua tertawa melihat keanehan Rania. Dan, Dio sedikit kesal melihat istrinya seperti itu.
“Untung lah Cuma megang bewoknya saja, kalau minta di cium gimana urusannya,” ucap Dio dengan kesal.
“Terima kasih sayang,” ucap Rania setelah memegang jambangnya Akmal.
Dio yang dari tadi merasa mual, kali ini dia sudah tidak merasakannya lagi karena kesal dengan Rania yang.
Hari sudah semakin sore. Matahari sudah berada di ufuk barat di hiasi lembayung senja. Akmal berpamitan dengan semuanya. Dia sudah ingin pulang dan istirahat karena sudah merasa sangat lelah. Padahal Arsyad dan Rico menyuruhnya untuk menginap di rumahnya.
Setelah berpamitan dengan semuanya, Najwa mengantar Akmal sampai di dekat mobil Akmal.
“Aku pulang ya, sayang. Besok pagi aku jemput kamu,” pamit Akmal pada Najwa.
“Memang mau ke mana?” tanya Najwa.
“Aku ingin mengajakmu ke rumah sakit,” jawab Habibi.
“Dan, ke suatu tempat,” imbuhnya.
“Oke, besok kabari saja,” jawab Najwa.
Najwa kembali ke teras bergabung dengan keluarganya setelah mobil Akmal keluar dari halaman rumahnya. Najwa masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.
Kamar yang sudah satu tahun tidak ia tempati. Semua masih utuh dengan tatanannya dulu. Dia melihat ponselnya dulu tergeletak di atas meja riasnya. Najwa mengambil ponsel yang sudah mati karena mungkin tidak pernah diisi daya. Dia mencoba mencharge ponselnya yang dulu. Dan, masih bisa di hidupkan.
Dia membuka ponselnya, dan yang ia tuju pertama adalah galeri. Dia membuka galeri yang menampakan foto-fotonya dulu saat masih bersama Dio. Kenangan itu muncul lagi. Bayang-bayang masa lalunya kembali muncul karena ponsel lamanya ia hidupkan.
“Harusnya aku tidak membuka ini,” ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca melihat gambar dirinya bersama Dio.
“Aku sudah punya Akmal yang lebih baik dari segalanya. Aku harus membuang semua ini, aku harus bisa melupakannya. Aku sudah melupakan, tapi dosa dan penyesalan ini masih saja bersemayam di hidupku. Dan, dengan membuka semua ini, sama artinya aku mengingat dosaku kembali, dan aku semakin larut dalam penyesalan,” ucapnya.
Najwa membuka lemarinya. Banyak baju-bajunya yang berhubungan dengan Dio. Barang-barang pemberian Dio juga masih ada. Foto-foto bersama dia juga ada di dalam lemari yang dulu sempat ia cetak.
Najwa keluar dari kamarnya, dia menemui mbak pelayan di rumahnya. Karena semua pelayan di rumah sudah ganti semua. Dia meminta beberapa kardus kosong untuk mengepak semua barang-barang yang dulu berhubungan dengan Dio. Semuanya, dari baju-bajunyapun ia keluarkan semuanya. Dia benar-benar mengosongkan lemarinya hingga bersih.
Lima tumpukan kardus besar berisi semua barang yang berhubungan dengan dio masih berada di sisi tempat tidurnya. Annisa memanggil Najwa untuk sholat maghrib berjamaah saat Najwa baru saja selesai mengemasi barang-barangnya.
“Najwa ini kardus apa?” tanya Annisa.
“Ini barang-barang Najwa yang sudah tidak terpakai, Bunda,” jawab Najwa.
“Nak, ini barang-barang di lemari kamu, kan? Masa iya ini mau di buang semua?” tanya Annisa dengan heran.
“Iya, bunda. Sudah ah, ayo sholat maghrib dulu. Nanti Najwa pinjam mobil, ya?” ucap Najwa.
“Mau ke mana?” tanya Annisa.
“Mau membuang ini semua,” jawab Najwa.
“Di buang?” tanya Annisa lagi.
“Iya, untuk apa di simpan kalau tidak di pakai lagi. Kalau di kasih orang? Ahh... pokoknya ini mau Najwa buang semua,” jawab Najwa.
“Apa ini ada hubungannya dengan Dio?” tanya Annisa.
“Iya,” jawab Najwa dengan santainya dan berjalan menuju ke tempat sholat.
Annisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat najwa seperti itu. Dia memahami Najwa yang ingin sekali melupakan Dio dan membuka lembaran baru dengan Akmal. Jadi Annisa hanya diam saja dengan apa yang Najwa lakukan.
__ADS_1