
Mereka menikmati pizza yang Arsyad pesan tadi. Ini semua di luar dugaan Annisa. Suaminya begitu lahap sekali makan pizza. Tidak seperti biasa, yang kadang makan satu potong saja barengan dengan Annisa. Kali ini 1 porsi mau habis di makan sendiri. Annisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat suaminya dengan lahap makan pizza.
"Kakak, tumben sekali, mau habis 1 porsi, aku sama Kevin saja belum habis," ucap Annisa.
"Ini enak sekali, sayang," ucap Arsyad dengan mulut yang penuh dengan pizza.
"Hati-hati makannya," tutur Annisa.
Setelah selesai mereka berjalan ke arah mobil. Arsyad berjalan di belakang Annisa. Dan tidak tau kenapa di jalan yang sedikit padat, mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah depan Annisa. Arsyad reflek mendorong tubuh Annisa yang sepertinya di incar oleh mobil itu.
"Ciiiittt……brak….!!!"
"Kakak……!!!!!"teriak Annisa yang melihat suaminya terpelanting jauh tertabrak mobil yang hampir menabraknya.
Mobil itu langsung melesat jauh, beruntung banyak saksi mata dan salah seorang pengendara sepeda motor mengejar mobil tersebut, dan segera menelepon polisi. Pengendara sepeda motor tersebut juga salah satu yang jelas menyaksikan mobil itu seperti dengan sengaja ingin menabrak annisa. Semua panik melihat darah yang mengucur deras dari kepala Arsyad. Annisa berlari mendekati suaminya yang terbaring di aspal dengan berlumuran darah.
"Kakak….!" Annisa menangis histeris di samping Arsyad. Kevin memegangi tubuh Annisa yang melemah melihat suaminya seperti itu.
"Annisa…sakit…"lirih Arsyad.
"Kakak, kakak yang kuat, kakak jangan seperti ini, kakak harus kuat," Isak Annisa sambil memegang tangan suaminya.
"Nis, jaga anak kita, aku sangat mencintaimu, kakak tidak kuat, sayang," ucap Arsyad dengan terbata-bata karena menahan sakit.
"Kakak, jangan bicara seperti itu, kakak pasti kuat," ucap Annisa dengan sesegukan.
"Love you Annisa." Arsyad melepaskan genggaman tangan Annisa dan menutup matanya.
Annisa bersimpuh di samping suaminya, tak peduli darah suaminya mengenai bajunya. Dia semakin menangis histieris di samping suaminy. Ambulance dan polisi datang ke tempat kejadian perkara. Ambulance membawa Arsyad ke rumah sakit terdekat. Annisa terus menangis di samping Kevin. Kevin tidak tau harus berbuat apa selain menghubungi Rico dan lainnya.
Mereka sampai di rumah sakit. Dokter dan perawat langsung melakukan tindakan yang terbaik untuk Arsyad. Annisa masih saja menangis sambil menunggu suaminya ditangani oleh dokter.
"Kakak harus kuat, Ya Allah, jangan Engkau ambil lagi orang yang aku cintai. Aku mohon," Isak Annisa sambil duduk di bawah dengan memegang lututnya.
Rico, Rayhan, Shita dan Vino datang ke rumah sakit. Mereka menghampiri Annisa yang duduk di bawah sambil memegang lututnya dan menangis sesegukan. Terlihat Kevin sedang menangkan Annisa.
"Apa yang terjadi, hingga Arsyad seperti ini, Annisa? tanya Rico dengan nada yang tinggi.
"Jelaskan Annisa, apa yang terjadi," teriak Shita.
__ADS_1
"A…aku...tidak tau, ada mobil yang akan menabrakku, dari arah depan, dan Kak Arsyad medorongku, tapi mobil itu malah menabrak kakak, pah. Itu yang Annisa ingat," ucap Annisa dengan sesegukan.
Semua diam tak berkata apa-apa lagi. Annisa masih duduk di bawah meratapi nasibnya. Harusnya dia pulang membawa kabar bahagia pada keluarga Alfarizi, karena kehamilannya, tapi kenyataannya, malapetaka menghampiri kebahagiaan Annisa yang baru saja di mulai.
"Annisa, aku tak akan memaafkanmu, kalau sampai Kak Arsyad kenapa-napa," tukas Shita dengan menatap tajam pada Annisa.
Annisa hanya diam tak menghiraukan Shita bicara apa. Annisa terus menangis, tak ada yang menenangkan Annisa selain Kevin yang dari tadi menenangkan dirinya. Rico, Rayhan, dan Vino juga diliputi kekalutan dalam dirinya masing-masing.
Terlihat polisi datang menemui Annisa dengan dua orang saksi, yakni pengendara sepeda motor tersebut yang berhasil menangkap pelaku tabrak lari tadi.
"Selamat siang, apa benar ini keluarga korban yang tadi mengalami tabrak lari di Jalan X?" tanya polusi tersebut.
"Iya, pak, benar. Saya istrinya korban,"jawab Annisa. Karena semuanya diam dengan perasaannya masing-masing, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka.
"Bisa ikut saya ke kantor polisi?"tanya Polisi tersebut.
"Apa harus, saya?"tanya Annisa.
"Iya, harus ibu yang karena seseorang yang menabrak sepertinya mengenali ibu dan suami ibu," jelas Polisi tersebut.
Dengan langkah gontai Annisa dan Kevin ikut ke kantor polisi, saat Annisa dan Kevin baru berapa langkah berjalan. Rico menghentikan langkah mereka.
"Silakan bapak ikut," ucap Polisi tersebut.
Mereka menuju ke kantor polisi di mana seorang yang menabrak Arsyad tadi di sana. Sesampainya di sana, mereka menemui orang yang sengaja menabrak Arsyad tadi. Annisa mendekatinya, dia begitu kenal sekali dengan orang yang menabrak suaminya. Annisa mendekatinya dan menampar orang itu.
"Plak….!" tamparan Annisa terdengar di dalam ruangan. Polisi segera melerai Annisa yang semakin murka dengan orang tersebut.
"Mau kamu apa, hah!" Aku tidak pernah mengganggu hidupmu, Farina!" teriak Annisa dengan murka. Ya, wanita yang menabrak Arsyad adalah Farina.
"Mau aku? Aku ingin kamu mati, Annisa!" tukas Farina.
"Bukan Andra yang mati, atau Pak Arsyad. Kamu yang harusnya sekarang terbaring sekarat di Rumah Sakit!" kelekar Farina.
"Sudah puas kamu Farina? Sudah puas kamu menghancurkan hidupku!" teriak Annisa. Annisa semakin murka dan menampar kembali Farina.
"Annisa sudah!" teriak Rico dan melerai menantunya itu.
"Hukum dia seberat mungkin!" titah Rico dengan polisi.
__ADS_1
Rico, Annisa, dan Kevin kembali ke Rumah Sakit. Farina kini mendekam di dalam penjara, entah sampai kapan. Namun, pihak kepolisian menduga Farina mengalami gangguan jiwa. Dan, akhirnya Farina di bawa ke Rumah Sakit Jiwa dalam pengawasan hukum.
Di dalam mobil, Rico hanya diam tak berkata apa-apa, begitu juga Annisa. Rico menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskan napasnya dengan berat.
"Kenapa harus anakku, kenapa harus anakku yang menikah dengan kamu, Annisa? Kenapa pasti anakku yang seperti ini?" ucap Rico dengan nada datar yang menusuk ke hati Annisa.
"Papah, ini semua sudah kehendak-Nya, Annisa juga tidak tau akan seperti ini,"ucap Annisa
"Apa aku akan kehilangan anak laki-lakiku lagi yang berstatus suamimu, Annisa?"
"Pah, kenapa papah bicara seperti itu?"ucap Annisa melemah.
"Kekasihmu meninggal, Arsyil juga meninggal, dan sekarang Arsyad. Apa kamu juga ingin dia meninggal juga, hah?" tukas Rico.
"Pak, Rico, jangan memojokan Annisa seperti itu. Ini semua murni kecelakaan, pak," imbuh Kevin.
"Harusnya bukan anakku Annisa, harusnya kamu,"ucap Rico.
Annisa hanya diam, dia bergelut dengan hatinya yang merasa bersalah. Dan memang seharusnya dia yang terbaring di rumah sakit, bukan Arsyad, suaminya.
"Iya, pah. Harusnya Annisa, harusnya Annisa yang di sana," ucap Annisa dengan terisak.
Rico memang terbawa emosi saat itu, hingga dia berkata seperti itu pada Annisa. Rico tidak memikirkan hati Annisa juga yang sakit melihat suaminya seperti itu. Mereka tiba kembali di Rumah Sakit. Shita langsung mendekati papahnya dan memberitahukan kalau Arsyad butuh darah banyak. Dan pembuluh darah di otaknya sudah mengering.
"Pah, Kak Arsyad." Shita memeluk papahnya dan memberitahukan keadaan Arsyad yang masih kritis.
"Ya Allah, Arsyad," lirih Rico sambil mengeratkan pelukannya pada Shita.
"Kak Vino dan Kak Ray sudah mendonorkan darahnya, pah. Tapi Kak Arsyad masih kritis," ucap Shita.
"Kak Arsyad." Annisa melemah dan duduk di bawah, dia berusaha tegar menghadapi semua ini.
Annisa tau semua akan menyalahkan dia saat ini, dan entah sampai kapan. Terlebih Shita dari awal sudah kecewa pada Annisa. Annisa hanya bisa berdoa, hanya Kevin yang peduli saat itu pada Annisa. Semua mendiami Annisa dan mengacuhkan Annisa.
"Kak Arsyad, kakak harus kuat, dengan atau tanpa Annisa di sisi kakak, kakak harus kuat," lirih Annisa sambil terisak.
"Pah, siapa yang membuat Kak Arsyad seperti ini?"tanya Shita
"Farina," ucap Rico dengan singkat.
__ADS_1
Shita tidak bisa menahan emosinya, dia berjalan ke arah Annisa yang masih duduk di bawah. Shita menarik tubuh Annisa hingga Annisa berdiri di depan Shita.