
Keesokan harinya, Arsyad menuruti istrinya untuk menjenguk Naila di Rumah Sakit. Dalam perjalanan Almira hanya terdiam saja, Arsyad tau, Almira sangat khawatir dengan Naila, dia begitu menyayangi sahabatnya. Arsyad melihat Almira yang terus menerus memandang jendela mobilnya. Arsyad mengusap kepala Almira, Almira menoleh suaminya, Arsyad tersenyum lembut pada istrinya.
"Jangan khawatir, Naila pasti baik-baik saja."ucap Arsyad shil mengusap pipi istrinya. Almira hanya tersenyum menatap suaminya, dia menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
"Tidurlah, perjalanan masih lama, apa kamu lapar?"tanya Arsyad.
"Iya, aku ingin makan roti, mas."ucapnya.
"Kita cari minimarket, nanti kita beli roti." Arsyad mengusap lembut kepala istrinya. Dia melajukan mobilnya perlahan dan melihat sekitar barangkali ada sebuah minimarket.
Mobil Arsyad berhenti di depan minimarket, Almira memasang cadarnya kembali dan keluar dari mobilnya, tangan Arsyad langsung meraih tangan istrinya, dia selalu menggandeng istrinya saat berjalan di tempat umum. Almira masuk ke dalam minimarket, dia langsung mengambil roti tawar dan selai coklat lalu memasukannya ke dalam keranjang belanjaan. Arsyad mengambil dua botol air mineral dan beberapa cemilan. Mereka kembali ke dalam mobil setelah selesai belanja. Arsyad membuatkan roti selai untuk istrinya dulu sebelum ia kembali melajukan mobilnya.
"Mas, dari mana kamu mendapatkan sendok itu?"tanya Almira dengan menunjuk sendok kecil yang digunakan Arsyad untuk mengoleskan selai pada roti.
"Tadi minta sama mba kasirnya di dalam."jawab Arsyad.
"Oh…kirain dapat dari mana."ucap Mira.
"Masa mau ambil di tong sampah sayang, apa tadi tidak lihat aku meminta sendok ini sama mba kasirnya?"tanya Arsyad, Almira hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Ini rotinya, sayang. Mau buat lagi apa satu saja?"tanya Arsyad.
"Sudah satu dulu, teriak kasih sayang."ucap Mira. Mira langsung memakan roti selai buatan suaminya.
Arsyad melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah sakit di mana Naila di rawat. Almira tidur pulas karena merasa sangat mengantuk.
******
Di sebuah rumah sakit, terlihat seorang pria duduk sambil menopang wajahnya dengan ke dua tangannya di depan ruang ICU. Wajahnya sangat lusuh sekali, dia melihat Almira dan Arsyad datang mendekatinya. Tatapannya menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. Iya, dia adalah Reno, suami Naila. Reno menyambut hangat kedatangan Arsyad dan Almira. Almira langsung meminta Reno untuk mengantarnya menemui Naila. Mereka memakai baju steril yang sudah di sediakan dan masuk ke dalam ruangan di mana Naila terbaring dengan alat bantu pada tubuhnya.
Almira mendekati Naila, di menatap wajah Naila dengan tatapan sendu, seketika itu Almira meneteskan air matanya dan menangis. Arsyad merangkul istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahunya. Almira lebih mendekati Naila, dia duduk di samping Naila dan memegang tangan Naila.
"Nai, kamu kenapa seperti ini, bangun Nai, aku datang dengan Arsyad, pria yang sangat kamu cintai. Bukalah matamu, Nai."ucap Almira dengan mencium tangan sahabatnya.
"Nai, bangun, kamu tidak mau sembuh, Nai? Lihatlah ada Arsyad di sini." Almira berkata di samping telinga Naila dengan lirih.
"Mas, duduklah di sini, ajak Naila berbicara, mudah-mudahan dengan kamu mengajak berbicara dia, dia bisa bangun dari komanya.."ucap Mira pada Arsyad.
Arsyad duduk di kursi yang berada di depan Almira, dia menyilangkan kedua tangannya di atas pembaringan Naila. Arsyad hanya menatap Naila, dia merasa kasihan padanya, tapi dia sama sekali tidak berfikiran kalau Naila sakit karena memendam cinta pada Arsyad.
"Ini semua sudah takdir Tuhan, Nai. Kamu terlalu berlebihan mencintai seseorang, hingga membuatmu seperti ini. Tapi, kembali lagi, semua penyakit adalah pemberian dari Tuhan, kesembuhannya juga berasal darinya."gumam Arsyad dalam hati sambil menatap wajah Naila berulang kali.
"Nai, bangunlah, apa kamu tak melihat dua orang yang sangat mencintaimu menginginkan kamu sembuh? Lihatlah, Almira istriku, dia hingga merasa bersalah kamu menjadi seperti ini, apa kamu tak kasihan dengannya? Dia sedang mengandung anak ku, tapi kamu membuat dia terpukul karena keadaanmu. Bangunlah, Naila, kembali menjadi Naila yang dahulu, Kak Naila, ketua OSIS yang sangat periang, mana Kak Naila yang dulu? Dan lihatlah, Nai. Reno suamimu, dia setia menemanimu, mencintaimu, menyayangimu, apa kamu tidak kasihan melihatnya? Dia begitu terpukul melihat kamu seperti ini. Bangunlah, bangun Nai. Demi dua orang yang sangat mencintaimu. Maafkan aku, aku tetap hanya bisa menjadi teman mu, aku hanya mencintai istriku. Tapi aku mohon, bangunlah, untuk Istriku dan suamimu."ucap Arsyad lirih pada telinga Naila. Air mata Naila terlihat menetes, seolah dia merespon apa yang di katakan Arsyad.
Almira menyeka air mata yang menetes di pipi Naila, dia mencium tangan Naila berkali-kali. Arsyad masih menatap Naila dan melihat kesedihan istrinya yang dari tadi menangis di samping Naila. Reno hanya terdiam menatap istrinya, dia mendekati Naila, memandang istrinya yang terbaring lemah.
"Sayang, bangun, lihat ada Almira dan Arsyad pria yang sangat kamu cintai. Nai, semua sudah di gariskan Tuhan, kamu harus bisa menghadapinya, jangan seperti ini, sayang."ucap Reno.
Arsyad pergi keluar dari ruangan Naila dan disusul istrinya, dia duduk di kursi tunggu di depan ICU. Reno masih setia di dalam ruangan Naila dan mengajak bicara Naila seperti biasanya.
Arsyad hanya terdiam, dia menatap ke sembarang arah, dalam hatinya, dia hanya memikirkan keadaan Almira yang masih mengandung buah cintanya.
"Mas, apa Naila akan sembuh?"tanya Mira pada suaminya.
"Jika dia ingin sembuh, pasti dia akan sembuh, sayang."ucap Arsyad sambil membelai kepala Almira
__ADS_1
"Kalau dia masih saja seperti itu, apa kamu mau…"ucapan Almira terhenti saat melihat mata Arsyad menatapnya tajam.
"Jangan menyuruhku yang tidak-tidak Almira, hilangkan ide konyol mu itu. Aku tidak suka."ucap Arsyad dengan menekankan suaranya.
"Tapi, dia menginginkan kamu, mas."ucap Mira.
"Apa kamu tidak ingin aku berada di sampingmu lagi? Hanya wanita bodoh, Almira, yang menyuruh suaminya menikah lagi. Aku tidak mau, dan tidak akan pernah mau." Arsyad kembali menekankan suaranya di depan istrinya.
Reno yang dari tadi melihat dan mendengar mereka berdebat, dia berjalan ke arah mereka, dia melihat Arsyad yang sangat mencintai istrinya.
"Aku menyuruh kalian ke sini bukan untuk berdebat, aku menyuruh kalian ke sini hanya untuk menjenguk istriku, semoga dengan kalian kesini dia menjadi lebih baik."ucap Reno yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
"Dan satu lagi, aku tidak akan pernah melepaskan istriku, walaupun dia begitu mencintai pria lain. Aku akan ikhlas, karena aku sangat mencintainya."ucap Reno sekali lagi.
Almira hanya terdiam mendengar ucapan Reno, dia duduk di samping suaminya dengan memegang perutnya yang makin membuncit.
"Bagaimana Naila?"tanya Arsyad
"Ya masih seperti itu, jika di ajak berbicara dia hanya meresponnya dengan air matanya. Maafkan saya yang sudah melibatkan kalian. Kalian mau segera pulang atau bagaimana?"ucap Reno.
"Kami menyewa hotel di sekitar rumah sakit ini."jawab Arsyad.
"Kalian pulanglah ke hotel, kasihan istrimu, dia sudah lelah. Istirahatlah dulu."ucap Reno.
"Baik aku akan ke hotel. Ayo Mira kita ke hotel dulu, nanti ke sini lagi. Lebih baik kamu istirahat dulu. Kasihan anak kita." Arsyad mengajak Istrinya untuk istirahat di hotel.
Arsyad menggandeng tangan istrinya, Almira masih saja terdiam. Dia sangat ingin sahabatnya sembuh, tapi apalah daya, Tuhan berkehendak seperti itu.
Mereka sudah sampai di hotel, mereka masuk ke kamar hotel yang sudah mereka pesan. Almira masih saja mendiami suaminya. Dia duduk di tepi ranjang sambil menatap kesal suaminya.
"Aku mau mandi."ucap Almira dengan nada yang agak cetus tidak seperti biasanya. Arsyad hanya terdiam menatap Almira yang berjalan ke kamar mandi. Arsyad merebahkan tubuhnya, dia tau Almira sedang lelah, lelah karena perjalanan jauh, lelah dengan melihat keadaan sahabatnya, dan mungkin dia lelah dengan suaminya.
Almira keluar dari kamar mandi, dia segera berganti baju, dan setelah itu dia kembali duduk di tepi ranjang. Arsyad bangun dan mengajak Almira untuk makan, namun Almira menolaknya. Arsyad bergantian untuk mandi, dia masih di buat bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah.
"Dia kenapa mendiami aku, aku salah bicara apa dengannya, aku hanya menolaknya menyuruhku menikahi Naila, apa aku salah? Almira…aku tau kamu tidak bisa tanpa aku, oke, jika kamu masih diam, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti terhadapmu."ucap Arsyad lirih sambil menikmati guyuran air dari shower yang membasahi badannya.
Arsyad keluar dari kamar mandi, seperti dugaan Arsyad, Almira masih mendiaminya, dia malah tidur dengan membelakangi suaminya. Arsyad mengajaknya makan pun di tolaknya.
"Oke, kamu marah denganku, maafkan aku, Mira. Kalau itu yang kamu mau, aku pergi, lebih baik aku pergi daripada aku menikah lagi dengan wanita yang tidak aku cintai."ucap Arsyad. Dia pergi meninggalkan istrinya sendiri di dalam kamar, dia menuju ke arah taman yang dekat dengan kamarnya, dia duduk di gazebo yang berada di taman itu, dengan duduk di sana, dia bisa mengawasi kamar hotel miliknya. Sudah 15 menit dia duduk di gazebo, tapi Almira belum juga keluar dari kamarnya.
Almira semakin bingung dengan dirinya, dia membolak-balikan tubuhnya yang tidak bisa tidur, dia bangun dan duduk di tepi ranjang, dia memandang ke arah pintu, berharap suaminya kembali masuk ke kamar.
"Arsyad ke mana? Sudah hampir setengah jam dia meninggalkan ku di sini. Iya aku salah bicara seperti itu, dan seharusnya aku tidak berkata seperti itu dan mendiami dia. Maafkan aku Ya Allah, aku sudah membuatnya marah." Almira beranjak dari ranjang, dia berganti pakaian dan memakai jilbab dan cadarnya untuk mencari suaminya di luar.
Almira keluar dari kamarnya, dia melihat sekeliling tapi dia tak mendapati suaminya, Arsyad sengaja sembunyi dari Istrinya, dia sudah melihat istrinya keluar dari kamarnya. Almira berjalan menuju lobby, Arsyad diam-diam mengikuti Almira dari jauh di belakangnya. Almira tak menyadari jika suaminya mengikuti dirinya yang sedang berjalan ke lobby.
"Di mana Arsyad, di lobby pun tidak ada."ucap nya lirih. Almira keluar menuju tempat parkir, dia melihat mobilnya masih terparkir di sana. Dia kembali ke kamarnya dengan perasaan cemas karena tak menemukan suaminya
"Kamu di mana mas, aku sendirian di sini, aku takut. Maafkan aku, handphone mu juga tidak Aktif."ucap Almira lirih di depan pintu kamarnya sambil menelfon Arsyad. Arsyad sengaja mono aktifkan handphone nya.
"Mas, kamu di mana sih, kamu benar-benar meninggalkan ku di sini."ucap Mira kembali dengan lirih.
"Aku di belakangmu, sayang. Sudah marahnya? Bagaimana di tinggal suaminya? Gelisah kan? Apalagi aku harus berbagi dengan wanita lain, di tinggal duduk di gazebo saja kamu sudah seperti ini. Coba kamu bayangkan, jika suami yang kamu cintai tidur dengan istri lainnya. Mau kamu seperti itu?" Almira langsung memeluk suaminya erat. Dia takut sekali tadi di tinggal suaminya
"Maafkan aku mas, maafkan aku. Jangan pergi lagi."ucap Mira sambil mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Ayo masuk."ajak Arsyad, dia membuka pintu kamarnya, mereka masuk ke dalam kamar. Arsyad menutup kamarnya dan Almira kembali memeluk Arsyad dengan erat.
"Jangan sok menjadi wanita yang kuat, wanita yang tegar, wanita yang bisa berbagi suami. Lihat saja, baru di tinggal belum ada satu jam kamu sudah seperti ini. Apalagi aku tinggal di kamar sebelah dengan wanita lain. Mau seperti itu?"ucap Arsyad sambil mengusap lembut kepala istrinya yang masih memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Jangan pergi, tidak enak sekali tanpa kamu,mas. Maafkan aku."ucap Mira, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Jadi bagaimana, masih menyuruhku menikah lagi?"ucap Arsyad sambil mengangkat wajah istrinya.
"Kenapa tidak di jawab? Iya, mau? Ya sudah aku akan mencari wanita lagi, toh kamu yang mau. Mau berbagi?" Arsyad semakin menggoda istrinya. Air mata Almira mengalir deras saat Arsyad berkata seperti itu. Arsyad membawa istrinya dalam pelukannya.
"Jangan menangis, aku tak akan meninggalkanmu, sayang." Arsyad memeluk erat istrinya dan mencium kepala istrinya berkali-kali.
"Maafkan aku mas, aku takut, takut kamu pergi."ucap Mira dalam Isak tangisnya.
"Aku tidak akan pergi, sudah jangan menangis lagi." Arsyad mengangkat wajah istrinya dan mencium lembut bibir Almira.
"Mas, apa kamu mencintai ku?"tanya Almira.
"Bertualang kali aku bilang, meski aku tak pernah mengatakan cinta, aku sangat mencintaimu Almira. Tak perlu banyak mengungkapkan kata cinta, dengan perlakuan pun sudah bisa di tebak orang itu cinta atau tidak terhadap pasangannya."ucap Arsyad.
"Dengar sayang, bersamamu aku belajar apa itu cinta, tanpa mengungkapkan kata cinta."imbuh Arsyad.
"Aku percaya itu, mas." Almira mencium lembut bibir suaminya.
"Ayo makan dulu, sudah sore, kalau belum makan siang kan? Kita ke restoran di sini, atau cari yang lain?"tanya Arsyad.
"Di mana saja, asal dengan kamu, mas."ucap Mira.
Ya sudah kita makan di sini saja. Setelah itu kita istirahat dan besok pagi-pagi kita pulang." Arsyad menggandeng tangan istrinya menuju ke restoran yang ada di hotel yang mereka tempati. Almira merasa bahagia memiliki suami seperti Arsyad.
"Terima kasih Ya Allah, sudah menitipkan suami yang bermutu setia seperti Arsyad. Apapun yang terjadi nanti, aku tidak akan pernah meninggalkan dia dari sisiku, kecuali Engkau yang mengambilku terlebih dahulu. Benar kata Arsyad, hanya wanita bodoh yang menginginkan suaminya untuk menikah lagi. Dan memang benar, bagaimana aku bisa berbagi dengan wanita lain, kalau di tinggal sebentar saja aku seperti ini. Maafkan aku yang terlalu terbawa emosi sesaatku. Betapa beruntungnya aku memiliki suami seperti kamu, Arsyad."ucap Mira dalam hati.
"Mira, kamu itu lucu, kamu mementingkan emosimu dengan menyuruhku menikahi wanita yang sudah bersuami. Aku tau, kamu wanita seperti apa, Mira. Mana mungkin aku bisa berpaling darimu, wanita yang sangat sempurna di hidupku. Terima kasih, Mira, sudah memberikan cinta untuk ku dan memberi warna dalam hidupku."gumam Arsyad.
Mereka makan di sebuah restoran di kawasan hotel, setelah menikamati makanannya, dia kembali ke kamar hotel. Arsyad merindukan sentuhan dari Almira begitu pula Almira, mereka menghabiskan waktu malam ini untuk menumpahkan hasratnya masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1
Nah loh.....Almira kelabakan kan, baru saja di tinggal keluar sebentar. Sok-sokan nyuruh suaminya kawin lagi....haduh.....