
Dengan air mata berlinang Rania langsung pergi ke toilet. Dia menangis di dalam toilet. Rasa sesak semakin terasa di dadanya, meratapi nasibnya yang menikah dengan orang yang dicintainya tapi suaminya tidak mencintai dirinya.
Rania keluar dari toilet, dia bergabung dengan Dio, Arsyad, dan Rico. Dio melihat Rania yang sepertinya habis menangis. Dia tahu pasti Rania baru saja berbicara dengan Najwa, karena Najwa tadi mencarinya.
"Dio, kemarikan tasku," pinta Rania yang duduk di samping Dio.
"Tadi Evan memanggil, dan sepertinya mengirim pesan juga," ucap Dio.
"Iya, biar nanti aku hubungi lagi, paling masalah kantor," ucap Rania.
"Apa kamu bekerja sama dengan dia?" tanya Dio.
"Iya, sudah lama kami bekerja sama," jawab Rania.
"Evan putranya Frans?" tanya Arsyad.
"Iya, Abah tahu?" jawab Rania seraya bertanya.
"Abah tahu, kalau Frans nya. Kamu hati-hati saja, mereka keluarga yang licik, Rania," tutur Arsyad.
"Ya, mereka sudah terkenal seperti itu, makanya opa mewanti-wanti dengan Dio dan Raffi untuk jauh-jauh dari dia dan tidak melakukan kerja sama dengan perusahaannya. Karena dari opanya Evan saja sudah tidak baik dari dulu," imbuh Rico.
"Benarkah, Opa?" tanya Rania.
"Iya, itu yang opa tahu. Entah sekarang bagaimana, opa tidak tahu," jawab Rico.
"Tapi menurut Arsyad sih sekali orang itu licik, ya akan seperti itu terus, pah. Kamu harus lebih hati-hati Rania. Apalagi perusahaan kamu sangat maju sekali, Nak. Abah benar-benar salut dengan kamu, Ran." Arsyad memberi nasihat pada Rania.
"Tapi sepertinya Evan dengan Rania tidak seperti itu, Abah. Ya, Rania kan orang spesialnya Evan. Mana mungkin dia akan licik," celah Dio.
"Dio, apaan, sih!" tukas Rania.
"Justru itu, Dio. Dari dulu liciknya keluarga Frans seperti itu, tanya saja sama bunda mu, saat ayahnya Frans mendekati nenek kamu dulu. Ya ujung-ujungnya karena ingin menguasai saja. Makanya kamu sebagai suami Rania, kamu harus lebih ketat menjaga dia dari orang-orang seperti Evan," tutur Arsyad.
"Iya, Abah itu pasti," ucap Dio dengan tegas.
Rania melirik Dio, yang berkata seperti itu. Rania hanya tersenyum saja, karena dia tahu kalau Dio tidak serius dengan perkataannya. Karena semua adalah setingan belaka.
"Pasti apanya? Pasti menghancurkan hatiku, bukan? Ya, kamu selalu menghancurkan hatiku, Dio," gumam Rania.
Annisa manggil semuanya untuk berkumpul bersama di ruang makan, karena makan malam sudah siap. Shifa dan Fattah baru saja tiba, begitu juga dengan Raffi yang baru saja pulang dari taman baca.
Mereka berkumpul bersama di ruang makan. Rania mengambilkan nasi untuk Dio seperti biasanya kalau makan di rumah.
"Terima kasih," ucap Dio.
"Kamu mau lauk apa?" tanya Rania.
"Ayam kecapnya saja, Ran, sama tumis brokoli," punya Dio.
Rania mengambilkan lauk untuk Dio. Najwa hanya memandanginya dengan tatapan sedikit sendu, dan Dio memerhatikannya. Tidak hanya Dio saja, semua memerhatikan raut wajah Najwa yang berubah redup saat Rania mengambilkan nasi untuk Dio.
"Hmmm … sekarang ada yang mengambilkan nasinya kalau makan, enak ya?" ucap Raffi.
"Makannya nikah dong, Raf," imbuh Najwa.
"Iya, cepat lamar Kak Alina, nanti keduluan kamu, Raf," sahut Shifa.
"Shifa, kamu.…!" tukas Raffi
"Ups, maaf," ucap Shifa.
"Kak Alina? Kak Alina yang di taman baca, kan?" tanya Najwa.
"Emm … Iya," jawba Shifa.
"Wah … pantas saja, sering ke sana sekarang," ucap Najwa.
"Sebentar, kamu benar suka dengan Alina?" tanya Rico.
"Opa, jangan dengarkan Shifa," jawab Raffi.
"Gak, ini masalahnya, dulu Alina yang suka mengajak kamu bermain, mandi saja kamu maunya sama Alina. Nah, kamu malah jatuh cinta sama Alina, kan lucu," ucap Rico.
"Papah, kalau Alina nya mau, dan Raffi juga bisa mengimbangi Alina, bertanggung jawab, apa salahnya? Kalau masalah umur, papah juga tahu, dalam silsisah keluarga kita ada yang menikahi wanita umurnya lebih tua darinya," ucap Arsyad.
"Iya, kamu dan Almira, selisih 4 tahun lebih tua Almira," ucap Rico.
"Nah, kan dia berarti menuruniku, pah."
"Iya, tapi Raffi dan Alina kan 10 tahunan selisihnya,"ucap Rico.
"Sudah, kita makan, Raffi saja santai kok Abah sama Opa ribut, namanya jodoh, semua tidak tahu, Abah," lerai Annisa.
"Tuh Abah, opa, dengarkan ibu negara bicara," sahut Raffi.
"Lalu Alina?" tanya Arsyad dengan menggoda.
"Itu masalah nanti Abah, tenang saja," ucap Raffi.
"Kalau nanti kamu menikah dengan Alina, pasti Alina kaget," ucap Arsyad.
"Kaget kenapa?" tanya Raffi.
"Dulu kecil sekarang dah gede," ucap Arsyad.
__ADS_1
"Abah, bicara terus, mau makan tidak? Kalau tidak aku tidak ambilin nasi, nih," ucap Annisa dengan kesal.
"Ah, iya maaf ibu negara, ayo kita makan dulu." Arsyad mengakhiri bercanda dengan Raffi.
Arsyad tidak menyangka Raffi diam-diam menyukai Alina yang umurnya jauh lebih tua dari Raffi. Memang Alina masih terlihat muda sekali, seperti seumuran Najwa atau Shifa. Padalah jarak umurnya jauh lebih tua Alina sekitar 8 tahun dari Najwa, dan dengan Raffi mungkin 10 tahun.
"Aku tidak masalah Raffi dengan Alina. Aku sudah menganggap Alina seperti anakku sendiri, semenjak ibunya dan ayahnya meninggal, dia hidup sendiri, dan beberapa kali dia gagal menikah," gumam Arsyad.
^^^^^
Seusai makan malam, Dio tiba-tiba menarik tangan Najwa untuk pergi ke pojok halaman belakang. Dia ingin bicara dengan Najwa.
"Dio, ada apa kamu membawa aku ke sini?" tanya Najwa.
"Najwa, maafkan aku. Mungkin aku akan belajar menerima Rania menjadi istriku. Dan, maaf kalau aku sering tidak menemuimu, tapi aku janji, aku akan menemuimu seminggu dua tau tiga kali," ucap Dio.
"Dio, aku tahu itu. Memang hubungan ini sudah salah. Memang kita harus sedikit meregangkan hubungan kita ini, dan mungkin harus benar-benar berpisah, Dio," ucap Najwa.
"Aku tidak bisa Najwa." Dio mendekap tubuh Najwa dan menghujani kepala Najwa dengan banyak ciuman.
Rania melihat semua itu. Karena saat mereka ke teras belakang Rania sedang sibuk menata piring yang habis ia cuci di dapur.
"Ehem … maaf mengganggu. Dio, Najwa, aku tahu kalian saling mencintai, tapi bukan seperti ini caranya. Malam ini mumpung ada kesempatan berkumpul, bicaralah dengan semua mengenai hubungan kalian," ujar Rania yang tiba-tiba berada di belakang mereka.
"Rania, ini tidak semudah yang kamu katakan," ucap Dio.
"Iya Dio aku tahu, tapi kamu dan Najwa, kalian sudah benar-benar malampaui batas hubungannya," ucap Rania.
"Kamu jangan sok tahu, Rania!" tukas Dio.
"Itu memang kenyataan bukan?" ucap Rania sedikit dengan nada tinggi.
Dada Rania semakin sesak melihat Dio yang masih mendekap tubuh Najwa, mereka bukannya melepas pelukannya, tapi malah semakin mengeratkan pelukannya. Rania sekarang tahu, kalau mereka benar-benar saling membutuhkan raganya.
"Lalu semua foto di laptop kamua apa Dio? Dan kamu, Najwa, kamu wanita, aku tidak menyangka dengan mudahnya kamu memberikan kehormatanmu pada laki-laki yang belum menjadi suamimu," ucap Rania dengan marah.
"Diam kamu!" bentak Dio dengan menunjukan jari telunjuknya di depan wajah Rania.
"Kamu tidak tahu apa-apa soal ini," ucap Dio.
"Dio, sudah, aku yang salah. Memang seharusnya kita sudahi, kamu sudah menikah, dan kamu yang memilih Rania, cintai istrimu, Dio. Kita akhiri hubungan kita," ucap Najwa.
"Sayang, please, jangan seperti ini, aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai wanita lain selain kamu," ucap Dio dengan terang-terangan di depan Rania dan akan mencium Najwa.
"Ya Allah, mereka ini manusia macam apa?" gumam Rania.
"Dio, jangan seperti ini," ucap Najwa sambil menjauhkan tubuhnya dari Dio.
"Oke, kalau ini maumu, Najwa. Mulai malam ini aku akan menjadi suami Rania seutuhnya, dan akan melupakan, kamu." Dio yang kesal dengan Najwa karena Najwa mendorong tubuh dia saat akan mencium dan memeluknya.
Dio menatap tajam Rania. Dia mendekati Rania dengan wajah yang memerah karena marah.
"Puas kamu, Rania! Puas kamu menghancurkan hatiku!" ucap Dio dengan nada kasar tepat di depan wajah Rania.
"Ayo pulang!" Dio menarik tangan Rania dengan kasar dan masuk ke dalam rumah.
"Sa--sakit Dio!" pekik Rania sambil merasakan sakit di pergelangan tangannya karena Dio dengan keras manarik dan mencengkeram tangan Rania.
Dio tidak mendengarkan Rania yang merintih kesakitan karena perbuatannya itu. Rania menangis karena Dio masih menarik dengan kasar tangan Rania dan mencengkram dengan kuat sekali.
"Dio, lepaskan, ini sungguh sakit sekali," pekik Rania dengan suara serak.
Dio sadar karena emosinya sampai membuat Rania kesakitan dan pergelangan tangan Rania memerah.
"Rania, ma…." ucapan Dio terhenti karena Rania tiba-tiba tersenyum dan menyilangkan tangannya di lengan Dio.
Ya semua itu dia lakukan karena ada Arsyad di dapur. Rania langsung mengusap air matanya dan mengatur emosi di dadanya serta menahan tangisnya.
"Ada Abah," ucap Rania lirih dengan memberi isyarat pada Dio.
"Ya Allah, apa ini wanita hebat yang Kau sandingan denganku? Mampu menyembunyikan sakit dan sedih di depan orang lain?" gumam Dio sambil menatap wajah Rania yang berusaha menampakan senyum bahagianya di depan abahnya.
"Sakit sekali Ya Allah, Dio tega sekali, pergelangan tanganku sakit sekali, sepertinya ini terkilir," gumam Rania sambil menahan sakit di hati dan pergelangan tangannya.
Rania dan Dio pamit untuk pulang, mereka sudah berada di dalam mobil. Sebelum menyalakan mesin mobilnya Dio memandangi Rania yang dari tadi tangannya mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
"Maaf Ran, apa masih sakit tanganmu?" ucap Dio.
"Sudah, cepat nyalakan mesin mobilnya kita pulang," ucap Rania dengan suara seraknya.
Dio memang kasar sekali tadi, menarik paksa tangan Rania hingga Rania mengaduh kesakitan. Dio menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumahnya.
Dari tadi Dio memandangi Rania yang masih saja menangis dengan memegang tangannya. Rania mencoba membuka pembicaraan yang dari tadi hening karena Dio memilih diam.
"Dio," panggil Rania.
"Apa, Ran," jawab Dio.
"Kamu boleh menyakiti hatiku seumur hidupmu, tapi jangan sakiti fisik ini Dio," ucap Rania.
Dio hanya diam, tidak berkata apa-apa. Dio memandangi wajah Rania yang semakin sembab. Tangan yang tadi di tarik Dio, Rania sembunyikan di balik jilbabnya.
Dio tiba-tiba menepikan mobilnya dan menghentikan laju mobilnya. Rania menatap Dio tanpa berbicara. Dio juga menatap Rania dan melihat tangan Rania yang di sembunyikan.
"Ran, lihat tanganmu," ucap Dio.
__ADS_1
"Sudah cepat lajukan mobilnya, aku ingin cepat-cepat sampai rumah," ucap Rania dengan berlinang air mata.
Demi apa, Dio semakin tidak tega melihat Rania menangis menahan sakitnya di depan Dio. Dio menarik tangan Rania dan melihatnya. Dio membulatkan matanya melihat tangan Rania yang sudah membengkak dan merah.
"Ya Allah. Dio, kamu kejam sekali, kamu boleh sakiti hati istrimu, tapi jangan sakiti fisiknya, Dio," gumam Dio dalam hati.
Dio menyalakan mesin mobilnya kembali, dia langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Dio menuju ke apotik sebelum sampai di rumah, untuk membelikan obat Rania.
Dio menghentikan mobilnya di depan apotek. Rania hanya diam saja tidak bicara dan bertanya pada Dio. Dio turun dan masuk ke dalam apotek membeli obat untuk Rania.
Rania masih diam pada Dio, sampai Dio kembali masuk ke dalam mobil. Rania masih menahan rasa sakit di pergelangan tangannya. Mereka sampai di rumahnya. Tanpa basa-basi Rania turun dari mobil, dia langsung bergegas ke teras dan membuka pintu rumahnya.
Dio berjalan cepat menyusul Rania yang sudah masuk ke dalam rumah. Dio melihat Rania akan masuk ke dalam kamarnya.
"Ran, tunggu," ucap Dio menghentikan langkah Rania.
Rania hanya memandang Dio, tapi dia langsung masuk ke kamarnya.
"Ran ... Rania … buka pintunya." Dio mengetuk pintu kamar Rania. Rania tidak peduli Dio yang masih di luar mengetuk pintu kamarnya.
Rania menangis di depan pintu dan duduk di lantai. Rania semakin tidak tahan mendengar ketukan pintu kamarnya yang semakin keras.
"Ran, buka pintunya atau aku dobrak!" teriak Dio.
Rania beranjak dari depan pintu dan membuka pintunya, dia menatap sengit wajah Dio saat itu. Rania benar-benar marah sekali dengan Dio.
"Mau apa? Mau menambah sakit lagi, hah? Apa belum puas kamu membuat aku seperti ini, Dio? Pergi dari sini, aku mau istirahat!" ucap Rania dengan sengit.
"Izinkan aku masuk ke kamarmu, sebentar," ucap Dio.
Rania mengizinkan Dio masuk ke dalam kamarnya. Rania menyuruh Dio duduk di kursi yang ada di kamarnya.
"Ada apa?" tanya Rania.
Dio beranjak dari kursinya dan duduk di samping Rania yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Kemarikan tanganmu," pinta Dio.
"Untuk apa? Mau di sakiti lagi?" ucap Rania.
"Sudah jangan banyak bicara," ucap Dio sambil meraih tangan Rania. Dio menyentuh tangan Rania yang sudah membengkak itu.
"Ran, maafakan aku. Aku obati, ini sedikit sakit," ucap Dio.
Dio pelan-pelan membenarkan urat tangan Rania yang terkilir itu. Rania memejamkan matanya karena merasa sangat sakit sekali.
"Aww … sakit Dio, sudah." Rania mengaduh kesakitan.
"Sebentar lagi, tahan sedikit, Ran," ucap Dio.
"Sakit, Dio...," pekik Rania.
Dio mengoles obat pada tangan yang baru saja ia benarkan uratnya. Rania menangis karena masih merasa sakit pada tangannya.
"Sudah," ucap Dio sambil meletakan tangan Rania di pangkuannya.
Dio menatap wajah Rania. Matanya semakin sembab, baru kali ini Dio melihat Rania menangis hingga sembab sekali matanya. Biasanya dia bicara kasar saja Rania masih bisa menerimanya dan baik-baik saja, tanpa meneteskan air matanya.
"Maafkan aku, Ran," ucap Dio.
"Hmm … sudah sana keluar, aku mau tidur," ucap Rania.
"Iya, aku keluar," ucap Dio.
Dio melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rania. Namun, langkah kaki Dio berhenti saat Rania memanggilnya.
"Dio," panggil Rania.
"Iya, ada apa?" jawab Dio sembari bertanya.
"Terima kasih," ucap Rania.
"Iya, Ran. Sama-sama," ucap Dio.
"Istirahatlah, kalau besok masih sakit jangan ke kantor dulu," ucap Dio.
"Iya," jawab Rania.
Dio keluar dari kamar Rania. Rania menutup kamarnya kembali tanpa menguncinya. Dia berganti pakaiannya dengan piyama panjang berwarna merah hati. Setelah mencuci mukanya Rania merebahkan dirinya di tempat tidurnya.
Setelah mengobati Rania, Dio ke dapur untuk membuat kopi. Dan seusai membuat kopi dia duduk di teras belakang sambil menikmati kopinya. Dio melihat rak jemuran yang penuh dengan pakaiannya dan pakaian Rania.
"Apa Rania yang mencuci baju?" tanya Dio lirih.
Dio tidak menyangka, Rania yang di anggapnya wanita manja tidak bisa apa-apa dan dengan lelaki manapun mau. Namun, ternyata Rania jauh sekali dari pemikirannya.
"Dia mau mencuci? Dan kenapa saat aku bahas Yohan, wajahnya menjadi takut seperti itu?" gumam Dio.
Dio menghabiskan kopinya, setelah dari tadi di teras belakang berdebat dengan Najwa lewat chat. Dan akhrinya Dio dan Najwa memutuskan untuk tidak bertemu dan mengakhiri hubungannya. Entah Dio akan bertahan lama tidak berhubungan lagi dengan Najwa, atau bagaimana Dio tudak tahu. Karena Najwa adalah hidupnya.
"Apa kau harus mencoba menerima Rania?" ucap Dio lirih sambil masuk ke dalam rumahnya lagi.
Dio memastikan Rania sudah tidur atau belum. Dia membuka kamar Rania. Dio melihat Rania yang sudah tertidur pulas, dan tubuhnya tertutup selimut tebal.
"Ran, maafkan aku. Aku tidak bisa mencintaimu, aku hanya mencintai Najwa. Aku tidak peduli, aku akan tetap menjalani hubungan ini dengan Najwa, Ran." Dio berkata lirih sambil menutup pintu kamar Rania.
__ADS_1