
Arkan melajukan sepeda motornya menuju ke sekolahan. Sekarang Arkan menjadi sopir pribadi Thalia. Tidak keberatan bagi Arkan untuk mengantar jemput Thalia, mungkin hingga mereka lulus sekolah. Meski terlihat galak dan jutek, Thalia ternyata berbeda dengan cewek lainnya. Banyak cewek yang berlomba-lomba memiliki wajah yang glowing, dengan berbagai skincare mahal, tapi Thalia tetap dengan wajah aslinya dan tidak pernah mencolok penampilannya.
Arkan berjalan menuju kelasnya di samping Thalia dengan mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan saat itu. Arkan melihat siswa perempuan yang dandanannya sangat mencolok. Ya, rata-rata seperti itu, wajah putih, glowing dan memakai lipcream dengan warna yang mencolok.
“Lia, kamu sudah lama di luar negeri, malah dari kecil, kok kamu sama sekali tidak berpenampilan layaknya orang sana, yang ke barat-baratan, padahal wajahmu ke sana sekali, tidak ada yang mirip dengan Tante Rere,” ucap Arkan.
“Aku tidak pernah bergaul, Kan. Ya berteman sekedar berteman saja, sih. Dan, untuk penampilan, aku lebih suka berpenampilan apa adanya. Aku banyak belajar dari Kak Dio, saat dia kuliah di Berlin. Dia sangat sederhana sekali, meski teman-temannya sangat wah saat itu,” jawab Thalia.
“Oh, kamu tidak ingin dandan atau apa gitu, ya seperti tuh, kakak kelas kita.” Tunjuk Arkan pada kakak kelasnya yang wajahnya glowing dan bibirnya memakai pewarna bibir yang sedikit mencolok.
“Itu mau sekolah atau mau mangkal, Arkan?” ucap Thalia dengan tertawa.
“Dasar, kamu.”
“Iya kan benar, masa iya mau ke sekolah seperti itu dandanannya? Kan seperti tante-tante mau mangkal,” ucap Thalia dengan tambah melebarkan tawanya.
Baru kali ini Arkan melihat Thalia tertawa setelah sekian lama dia hanya tahu kalau Thalia itu cewek jutek dan galak yang minim tertawa. Arkan melihat wajah Thalia yang bersemu merah karena tertawa, seketika tawa Thalia pudar karena melihat Arkan yang dari tadi memandangi wajahnya.
“Apaan kamu lihat-lihat?!” ucap Thalia dengan jutek.
“Yah, baru aku lihat tawanya, sekarang jutek lagi. Dasar nenek gayung!” ucap Arkan.
“Biarin jutek, yang penting gak glowing kayak pacar kamu!” tukasnya sambil berjalan mendahului Arkan.
“Siapa pacarku?” tanya Arkan dengan mengejar Thalia.
“Yang sedang di skors!” jawabnya.
“Dia mantanku, bukan pacarku. Aku sekarang jomlo. Cariin pacar dong, biar gak boncengin cewek jutek macam kamu,” ucap Arkan.
“Oh, jadi gitu? Baru dua hari ngeboncengin, sudah seperti itu? Ya besok aku cariin, mau model seperti apa? Annabele, Valak, atau kuntilanak?” ucap Thalia.
“Sepertinya yang kayak kamu saja deh, karena masuk semua kriteria yang kamu sebutin tadi, ada pada diri kamu semua,” ledek Arkan sambil berlari mendahului Thalia.
“Arkan....!” ucap Thalia dengan geram.
Arkan hanya tertawa melihat Thalia yang menanpakan wajah lucu saat marah. Hampir mirip ke Tita kalau dia sedang marah, tapi tetap aura cantiknya lebih ke Thalia.
“Benar kata Kak Raffi, di balik juteknya Thalia ada kecantikan yang tersembunyi, dan dia berbeda dengan yang lainnya,” gumam Arkan yang masih melihat Thalia dari kejauhan.
^^^^^
Sudah hampir dua bulan Thalia sekolah di sekolahan yang sama dengan Arkan. Thalia masih tetap diantar jemput oleh Arkan saat sekolah. Mereka semakin akrab, dan baik Thalia maupun Arkan, mereka sama-sama mengagumi dalam hatinya. Meski mereka sering terlihat cekcok dan berdebat dengan hal kecil.
Arkan masih duduk di bangku Thalia dan membaca novel bergenre romance milik Thalia. Mereka memang memiliki hobi yang sama, sama-sama suka mambaca, entah membaca buku fiksi maupun non fiksi.
“Ih, sini novelnya, Arkan... aku belum kelar bacanya.” Thalia merebut novel miliknya, tapi Arkan masih kuat memeganginya.
“Sebentar, nunggu bel masuk. Aku masih ingin baca,” ucap Arkan.
“Nyebelin kamu,” ucap Thalia dengan membuka buku catatannya.
Dia melihat Arkan yang sedang serius membaca novel miliknya. Kadang seulas senyuman Arkan terlihat saat sedang membaca. Thalia tidak mau melewatkan senyuman Arkan yang manis itu.
“Ya Tuhan, manis sekali dia? baru pertama kalinya aku melihat dia tersenyum semanis ini. Arkan, kamu galak, tapi aku jatuh cinta,” gumam Thalia.
“Apa lihat-lihat, nanti jatuh cinta kamu,” ucap Arkan tanpa menoleh kearah Thalia yang masih terus membingkai wajah Arkan dalam lensa matanya.
“Apaan sih, siapa yang lihatin kamu? Pede sekali,” ucap Thalia dengan sedikit gugup dan wajah bersemu merah.
“Jangan bohong, dari tadi aku lihat kamu mencuri pandang terus. sudah jujur saja,” ujar Arkan.
“Heran saja sih sebenarnya sama kamu, di kasih novel gini suka sekali bacanya,” ucap Thalia.
“Sekali-kali baca yang romantis, biar nanti punya pacar gak di bilang kurang romantis,” jawab Arkan.
“Hmm... bisa saja cari alasannya.”
“Lia, nanti ikut ke bengkel, ya?”
“Mau apa?”
__ADS_1
“Temani aku kerja.”
“Oke, aku temani kamu, tapi aku bilang eyang dulu.”
“Hmm...terima kasih bukunya. Sudah masuk jangan baca novel terus,” ucap Arkan sambil beranjak dari bangku Thalia dan mengusap kepala Thalia.
“Kebiasaan sekali dia,” gumam Thalia.
Memang Arkan suka sekali menyentuh atau mengusap kepala Thalia. Hampir setiap hari dia seperti itu pada Thalia. Semua siswa menyangka mereka berdua berpacaran, karena mereka selalu bersama, dan kemanapun Arkan pergi, Thalia juga ada di sampingnya, kecuali kalau ke toilet.
Lily melihat Arkan yang semakin akrab dengan Thalia, bahkan dia mengira mereka ada hubungan khusus dengan Arkan. Lily sebenarnya sedikit menyesal meninggalkan Arkan. Dia memang yang memutuskan Arkan kala itu. meski Arkan masih terus mengejarnya, dia tetap saja menghindar dan mengatakan di depan kelas pada Arkan, kalau dia ingin putus. Ya, dia sempat mempermalukan Arkan dengan teman-temannya di depan kelas dengan mencemooh Arkan yang tidak punya apa-apa.
“Mereka pacaran, ya?” tanya Sisil.
“Mana aku tahu, Sil? Tanya mereka saja sana, kamu kan sudah dekat dengan Thalia,” ucap Lily.
“Iya aku dekat dan sering mengobrol dengan Thalia, tapi aku tidak berani tanya terlalu dalam. Tahu sendiri gaya pacaran mereka berbeda dengan kita,” ucap Sisil.
“Jelas bedalah,” imbuh Vanya.
“Mereka itu kalau menikahkan anak-anaknya enggak sembarangan, pasti mereka berbesanan dengan yang masih ada ikatan kekerabatan atau persahabatan. Kakak-kakaknya Arkan juga gitu, mungkin dengan relasi bisnisnya atau dengan anak sahabatnya. Nah, bisa jadi tuh, bunda nya Arkan kan sahabatnya mamahnya Thalia, mereka menjodohkan Arkan dan Thalia. Tapi, gak usah di jodohkan juga sepertinya sudah ada bau-bau kalau mereka dekat. Sekarang saja mereka berangkat bareng terus,” jelas Vanya.
“Iya, mereka berangkat bareng terus,” imbuh Angel.
“Sudah jangan di bahas, kasihan Lily, dia sepertinya menyesal memutuskan Arkan,” ucap Sisil sambil menyenggol lengan Lily.
“Siapa yang nyesel, sih. Enggak, kok,” ucap Lily dengan gugup.
“Menyesal pun tak ada gunanya, tidak mungkin juga aku kembali sama Arkan. Semua karena aku sudah terjerumus dengan pergaulan mereka, dan aku sudah menyerahkan kehormatanku pada Sandi,” gumam Lily.
Lily terdiam memikirkan masa depannya yang sudah tak jelas arahnya karena pergaulannya yang bebas. Padahal saat bersama Arkan dia tidak seperti ini. Dia cewek baik-baik sebelum mengenal Angel dan lainnya.
^^^^
Arkan sampai di bengkelnya bersama Thalia. Dia mengajak Thalia masuk ke dalam. Tidak biasanya dia mengajak Thalia ke sini. Fajar yang baru saja sampai di bengkel juga kaget melihat ada Thalia di bengkel.
“Kan, kamu sama Lia?” tanya Fajar sambil melepaskan jaketnya.
“Hai Lia, Tita tidak ikut?” tanya Fajar pada Thalia.
“Dia masih di sekolah, kan aku pulang dengan Arkan,” jawab Thalia.
“Oh, iya,” jawab Fajar.
“Bilang saja pengen lihat Tita,” ucap Arkan.
“Kamu mau di rumah atau di sini?” tanya Arkan.
“Aku di rumah aja, takut ganggu kalian kerja,” jawab Thalia.
“Oke, kamu masuk saja, aku mau ganti pakaian kerja. Kalau mau baca buku ada di perpustakaan mini nya bunda saja,” ucap Arkan.
“Iya aku sudah tahu, aku sering ke sini dengan bunda,” jawab Thalia.
“Ya sudah sana masuk, jangan nakal di dalam, aku cari uang dulu,” ucap Arkan.
“Siap, Pak Bos...!” ucapnya sambil mencubit pipi Arkan dan berlari masuk ke dalam.
“Dasar nenek gayung! Kamu bisa saja membolak balikan hatiku ini,” gumam Arkan sambil menatap Thalia yang masuk ke dalam.
Arkan mulai bekerja. Hari ini lumayan rame kata Om Doni dari tadi pagi, dan sekarang juga masih ramai pengunjung. Memang bengkel Arsyil terkenal sejak dulu. Apalagi selalu memiliki mekanik yang andal.
“Kamu jadian sama nenek gayung?” tanya Fajar.
“Masih dalam proses,” jawabnya sambil mengerjakan pekerjaannya.
“Apa ku bilang, kamu pasti jatuh cinta sama dia, dia itu berbeda dari cewek lainnya. Semangat bro...! pepet terus...!” ucap Fajar dengan semangat.
“Siap...! nanti kalau udah saatnya. Aku lagi mikir buat ke depan dulu, belum mikirin soal percintaan yang membut hati sakit. Contohlah seperti kemarin,” ucap Arkan.
“Itu mah dasar ceweknya saja yang bodoh, jangan di pikirin lah si Lily itu, sepertinya dia juga sudah brubah bentuk badannya,” ujar Fajar.
__ADS_1
“Maksudnya?” tanya Arkan.
“Ya, seperti sudah kemasukan rudalnya Sandi,” jelas Fajar dengan berkelakar.
“Maksudmu sudah tidak perawan?” tanya Arkan.
“Ya seperti itu,” jawab Fajar.
“Sama berarti seperti yang aku duga. Tidak selugu dulu,” imbuh Arkan.
“Gaya pacarannya saja seperti itu. Sudah, sama Thalia saja. Dia jelas cewek baik-baik,” ujar Fajar.
“Ya...yaa..yaa.. itu urusan nanti, yang penting setiap hari aku sama dia,” ucap Arkan.
“Tuh mantan kamu sama cowoknya,” ucap Fajar dengan menunjukkan ke depan karena ada Sandi dan Lily. Memang Sandi setiap dua bulan sekali pasti mengunjungi bengke Arkan untuk perawatan sepeda motornya.
“Ya biarin saja,” jawab Arkan sambil melihat ke arah Lily dan Sandi.
^^
Thalia merasa bosan dengan buku-buku yang ia baca. Dia ke dapur untuk mengambil minum. Dia melihat ada spageti yang masih utuh belum di masak. Karena perunya juga merasa lapar, dia membuatnya dan membuatkan untuk Arkan juga.
Dia memang seperti di rumah sendiri kalau berada di rumah Annisa. Rere sering ke sini mengajak Thalia untuk berkumpul dengan Vera dan Annisa, selama di sini, meski tidak ada Rere, Annisa sering mengajak Thalia ke rumahnya bersama Arsyad.
“Arkan, kamu sudah selesai?” tanya Thalia yang keluar dari dalam rumah Annisa dengan memakai kaos oblong milik Arkan yang ia pinjam tadi.
“Hampir, ada apa?” tanya Arkan.
“Aku membuatkan kamu spageti, ayo kita makan bareng,” ajak Thalia.
“Oke, bawa ke sini saja, makan di ruanganku,” ucap Arkan.
“Ini Arkan saja yang di buatkan?” tanya Fajar.
“Iya, adanya Cuma 2 saja, kak,” jawab Thalia.
“Yah, aku kira dapat jatah juga,” ucap Fajar.
“Kamu makan mie instan saja, itu banyak di dapur,” ujar Arkan sambil tersenyum mengejek.
Thalia masuk ke dalam mengambil Spagetinya dan menaruhnya di ruangan Arkan. Sebelum ke ruangan Arkan, dia mengambil cupcake yang ia buat juga. Cukup banyak dia membuat. Ya, selain membaca dia juga suka memasak.
Thalia ke depan membawa cupcake untuk di perlihatkan pada Arkan dan Fajar, dia juga sudah memberikan pada Doni ayahnya Fajar dan Om Wahyu. Donni melihat Arkan dan Thalia seperti Annisa dan Arsyil dulu. Dia melihat Arsyil ada di diri Arkan sekarang.
“Arkan, coba cicipi, aku buat cupcake juga,” ucap Thalia dengan menyodorkan piring yang berisi beberapa cupcake.
“Bagaimana aku bisa makan, Lia. Tanganku kotor,” ucap Arkan.
“Buka mulutmu,” pinta Thalia, dan menyuapkan Cupcake pada Arkan.
“Bagaimana enak?” tanya Thalia.
“Enak, kamu di ajari siapa bisa membuat cupcake?” tanya Arkan.
“Bunda sama mamah,” jawabnya.
“Arkan saja yang di suapi?” ledek Fajar.
“Kan aku buatin Arkan, bukan kamu,” ucap Thalia.
“Pelit kamu,” ucap Fajar.
“Nah tinggal ambil kok, tapi aku gak mau nyuapin kamu,” ucap Thalia dengan juteknya.
“Iya nanti aku ambil, setelah selesai. Sana kalian makan dulu,” ucap Fajar.
Thalia menoleh ke arah ruang tunggu, dia melihat anak SMA yang duduk di kursi tunggu dengan menghunuskan tatapan yang entah itu tatapan yang menyiratkan apa. Ya, dia adalah Lily dengan Sandi. Thalia sengaja menyuapi cupcake lagi pada Arkan lalu masuk mengajak Arkan makan, setelah selesai pekerjaannya.
Lily tidak menyangak Arkan akan sedekat itu dengan Thalia. Benar kata Vanya, keluarga Arkan memang seperti itu, apalagi Thalia anak dari sahabatnya orang tua Arkan.
“Mereka semakin dekat. Thalia juga memakai kaos Arkan, itu kan kaos favoritnya Arkan? Kok aku jadi gini? Harusnya aku yang di sana dengan Arkan, bukan dia. Tapi, ini salahku, aku lebih memilih Sandi, dan sekarang aku sudah rusak karenanya,” gumam Lily.
__ADS_1