THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 37 "Kita Satu Kamar? The Best Brother.


__ADS_3

Najwa tidak tahu, semakin hari rasa cintanya untuk Dio semakin bersemi. Dia sudah berusaha menghindari selama 4 bulan setelah Dio menikah, dan setelah kejadian makan malam itu yang membuat dirinya tidak berhubungan lagi dengan Dio. Najwa kembali lagi dekat dengan Dio, karena Dio berulang kali menemuinya di butik selama hampir 5 bulan tidak tahu kabar Najwa.


Najwa yang masih mencintai Dio, akhirnya dia kembali luluh lagi hatinya, karena Dio selalu saja muncul di hadapan Najwa. Dio kembali memberikan bunga dan membuat Najwa kembali bersama Dio. Entah apa yang ada di pikiran Najwa, hingga dia tidak bisa melupakan Dio. Dan di saat Najwa sudah sedikit melupakan Dio. Dio kembali menemui Najwa dengan cintanya yang masih melekat untuk Najwa.


Najwa tidak bisa menolak permintaan Dio saat itu. Dengan hati yang masih memiliki rasa cinta, akhirnya Najwa memulai hubungannya lagi dengan Dio. Mereka memulai lagi apa yang seharusnya sudah mereka akhiri. Dio menemui Najwa tanpa sepengetahuan Rania sejak itu. Bahkan semua keluarga Najwa mengira kalau Najwa dan Dio sudah tidak berhubungan lagi.


Sejak kepulangan Dio dari luar kota, dia selalu menemui Najwa setiap hari. Bahkan Dio selalu mengantar Najwa saat Najwa ke rumah singgah atau ke rumah sakit menemui Wulan. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua, tidak peduli dengan Rania yang semakin menderita karena sudah lama menjadi seorang istri, tapi belum menjadi istri yang sesungguhnya.


Sudah dua bulan ini setelah Dio pulang dari luar kota, Dio semakin akrab dengan Rania. Dia sesekali jalan berdua, menikmati makan malam berdua. Rania hanya bisa menganggap Dio adalah temannya, karena mau bagaimana Rania mencintai Dio, dia tidak bisa meraih cinta Dio untuknya. Cinta Dio selamanya untuk Najwa. Itu yang Rania tahu.


"Ran, mau ke mana?" tanya Dio yang melihat Rania membawa kunci mobilnya, dan seperti mau pergi, padahal ini hari Minggu. Karena setiap hari Minggu Rania pasti di rumah


"Mau keluar sebentar menemui Winda," jawab Rania.


"Apa mau bahas soal reuni?" tanya Dio.


"Tidak, kan di undur acaranya. Mau jalan saja dengan Winda, jenuh hari Minggu di rumah," jawab Rania.


"Apa sudah janji mau pergi dengan Winda?" tanya Dio lagi.


"Belum sih, tapi aku bilang mau ke rumahnya," jawab Rania.


"Jalan yuk," ajak Dio yang membuat Rania mengernyitkan keningnya.


"Jalan? Kamu tidak salah ngajak aku jalan lagi? Semalam kan udah aku temani kamu nonton live musik," ucap Rania.


"Iya, aku ingin mengajak kamu jalan, sejak kita menikah kita sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, jarang kan, kita jalan berdua, paling makan malam, ke rumah Abah, atau ayah," jawab Dio.


"Bukannya kamu yang minta? Kan aku hanya menuruti apa maumu, Dio," ucap Rania.


"Iya, memang aku yang mau, tapi apa salahnya aku mengajak istriku jalan-jalan hari ini?"


Mereka memang sering keluar berdua, hanya untuk makan malam, atau menonton konser musik, atau hanya sekedar ngopi di cafe Rana. Ya, itu semua karena Dio merasa hobi yang dia miliki sama dengan hobi Rania. Sama-sama suka musik, dan sama-sama memiliki jiwa pebisnis.


"Apa kamu tidak sibuk? Tidak menemui Najwa? Eh…lupa ini hari minggu, mana mungkin kamu bisa menemui Najwa, karena Najwa di rumah, pasti tidak ada alasan untuk dia pergi dari rumah, iya kan?" ucap Rania.


Rania berkata seperti itu karena dia tahu, Dio selalu menemui Najwa. Setiap hari tanpa henti. Bahkan makan siang dia juga berdua. Dan, yang membuat Rania semakin tahu kalau mereka tidak bisa dipisahkan adalah, setiap seminggu sekali mereka ke sebuah Vila. Rania tidak tahu itu vila milik Dio atau Dio menyewanya. Karena setiap seminggu sekali, Rania memergoki mereka berada di vila itu hingga sore.


Ingin rasanya Rania masuk dan memergoki mereka. Tapi, rasanya itu percuma, dan nantinya akan menjadi adu mulut yang tanpa henti dengan Dio. Rania tidak mau, ada pertengkaran di dalam rumah dengan Dio. Karena dia hanya ingin melihat Dio selalu nyaman di rumah setelah pulang kerja. Dan bertukar pikir masalah kantor dengan dirinya.


Rania hanya bisa menjadikan Dio sebagai teman hidupnya, bukan berarti teman hidup dalam satu ranjang juga. Hanya sebatas teman. Padahal Rania adalah istri Dio. Tapi, dia belum seutuhnya menjadi seorang istri. Di usia pernikahannya yang memasuki bulan ke-8, Rania masih utuh belum tersentuh Dio. Ya, Rania masih menjadi perawan seutuhnya. Hanya kening saja yang setiap hari di cium Dio.


Seperti hari ini, Rania diajak Dio jalan lagi. Mungkin ini adalah salah satu untuk menutupi kebohongan Dio di belakang Rania yang selalu menemui Najwa setiap hari. Memang Dio sekarang sering mengajak Rania jalan. Dan, tentunya dia juga bilang dengan Najwa kalau dia sedang jalan dengan Rania. Semua mengira Rania sudah melakukan hubungan suami istri dengan Dio. Najwa pun tahunya seperti itu, Dio dan Rania sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Karena Najwa dan Dio selama balikan lagi, merahasiakan hubungannya dari siapapun. Dan, Dio juga membagi waktu untuk Najwa dan Rania. Itu mengapa Najwa selalu tidak percaya kalau Dio belum menyentuh Rania. Karena Najwa juga sering memergoki Rania jalan dengan Dio, dan mereka terlihat seperti pasangan suami istri bahagia.


"Ran, malah diam. Ayo jalan." Dio meraih pinggang Rania dengan tangannya dan membiarkan Rania berjalan di sampingnya.


"Tidak usah ke rumah Winda. Aku mau mengajak mau ke suatu tempat," ucap Dio.


"Iya, deh. Mau ke mana memangnya?" tanya Rania.


"Nanti juga kamu tahu," jawab Dio.


"Sudahlah, mau ke mana pun, asal bersama Dio hari ini. Meski aku istri yang tak di anggap, setidaknya Dio baik denganku, menganggap aku ada, dan perlu sedikit di bahagiakan tanpa menyentuhku, lagian sah-sah saja aku jalan dengan suami sendiri, mau ke mana pun, dan mau berapa hari," gumam Rania.


Dio melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat untuk refreshing dengan Rania. Dio juga merasa jenuh di rumah saja. Mau menemui Najwa pun tidak bisa, karena Najwa hari ini sedang dengan semuanya sedang pergi ke taman baca milik Almira. Dio dan Rania sebenarnya di ajak Annisa ke sana juga, tapi Dio bilang ingin jalan dengan Rania hari ini.


"Kita mau ke mana?" tanya Rania.


"Aku ingin menikmati pemandangan di tepi sungai, Ran. Katanya ada cafe yang di pinggir sungai, ya lumaya jauh, sih," jawab Dio.


"Di mana?" tanya Rania lagi.


"Di daerah W, lumayan jauh, sih," jawab Dio.

__ADS_1


"Jauh sekali Dio, kita harus menginap dong," ucap Rania.


"Ya, kalau menginap kenapa?" tanya Dio.


"Gak bawa baju ganti, Dio," jawab Rania.


"Nanti cari di sana," ucap Dio.


"Besok Senin, Dio," ucap Rania.


"Lihat kalender dong, besok tanggal merah," ucap Dio.


Rania melihat kalender di ponselnya. Ya, memang besok tanggal merah. Rania tidak sadar akan hal itu.


"Eh, iya," ucap Rania dengan tersenyum.


"Kamu gimana, sih? Seorang bos gak tau tanggal merah," ucap Dio.


"Aku kira senin depan tanggal merahnya, Dio,"


"Lalu bagaimana? Mau menginap?" tanya Dio.


"Iya, terserah kamu," jawab Rania.


"Sekali-kali lah, kamu jangan kerja terus. Kita lihat pemandangan sungai dengan air yang jernih, kamu pasti suka tempatnya," ujar Dio.


"Iya deh," ucap Rania.


Rania terdiam dan sesekali menatap suaminya. Entah ada setan apa yang merasuki suaminya, yang tiba-tiba mengajak dirinya berlibur. Ada perasaan bahagia pada diri Rania saat ini. Tapi, saat mengingat kemesraan suaminya dengan Najwa kemarin, dada Rania sesak sekali. Rania sudah lelah memberi nasihat suaminya untuk berhenti berhubungan dengan Najwa. Namun, saat Rania menasihati suaminya, yang ada sebuah pertengkaran terjadi.


Rania hanya tidak ingin bertengkar dengan suaminya. Tapi, rasa sakit terus menghinggapinya walau Dio di rumah dengan Rania bersikap baik.


"Apa aku harus bilang lagi dengan Najwa. Sebenarnya apa yang mereka lakukan di vila? Apa Najwa sudah menyerahkan semuanya pada Dio? Sehingga Dio enggan memberikan itu padaku. Ini sudah 8 bulan aku menikah. Aku juga butuh kejelasan dan kepastian dari suamiku," gumam Rania.


"Ran, buka Google maps dong," pinta Dio.


"Google maps? Kamu memang tidak tahu tempatnya?" tanya Rania.


"Tidak. Baru kali ini, aku coba-coba saja, sih. Aku tahu juga dari teguh, kemarin dia ke sini dengan pacarnya," jawab Dio.


"Aku kira kamu sering ke sini," ucap Rania.


"Ke sini dengan siapa, aku baru ke sini, kamu sudah buka google maps nya?" tanya Dio.


"Sudah," jawab Rania.


Rania menunjukan arah pada Dio. Rania kira Dio sudah pernah ke sini, dan ternyata dia baru saja ke sini bersama dirinya. Rania memerhatikan Dio yang sedang serius mengendarai mobilnya.


"Jangan lihatin aku, ini arahnya ke mana lagi, Ran?" ucap Dio yang sedikit mengagetkan Rania.


"Belok kanan, Dio. Lalu nanti ada jembatan, dan sebentar lagi sampai," ucap Rania.


"Itu sudah kelihatan tempatnya." Dio menunjukan sebuah Cafe yang berada di bawah jembatan di tepi sungai.


"Indah sekali pemandangannya," ucap Rania.


"Kamu suka?" tanya Dio.


"Suka sekali," jawab Rania.


"Sebentar aku cari tempat parkir," ucap Dio.


Setelah memarkir mobilnya Dio berjalan dan turun ke bawah, menuju cafe yang ada di tepi sungai.

__ADS_1


"Hati-hati, Ran. Ini curam sekali, pegang tanganku." Dio mengulurkan tangannya dan mengandeng Rania turun ke bawah.


Setelah sampai di sana, mereka duduk di tempat duduk yang berada persis di bebatuan tepi sungai. Suasana sejuk dan gemercik air sungai menambah suasana romantis di sore ini untuk mereka. Dio memesan minuman dan makanan. Memang Dio dan Rania akhir-akhir ini sering pergi berdua, hanya sekedar untuk ngopi saja. Mereka sering mengeksplor tempat yang enak untuk ngopi berdua.


Dio memandangi istrinya yang terlihat bahagia kala itu. Sesekali Dio melihat senyuman Rania yang sedang mengajak bicara dengannya.


"Kamu kenapa mengajak aku ke sini?" tanya Rania.


"Ya ingin saja, dapat suasana baru untuk ngopi dan santai di hari libur. Masa di rumah terus. Lagian kamu juga kalau di ajak pergi jauh-jauh tidak mau," jawab Dio.


"Bukan tidak mau Dio, aku dan kamu sama-sama sibuk, jadi kalau pergi jauh-jauh, nanti kecapean dan pekerjaan terbengkalai," ujar Rania.


"Sekali-kali kita menikmati liburan," ucap Dio.


"Dio, fotoin aku di sana," pinta Rania.


Rania ingin sekali foto di antara bebatuan yang ada di sungai. Air yang jernih membuat Rania menikmati pemandangan yang menyejukkan matanya.


"Ayo ke sana, hati-hati jalannya." Dio memegangi tangan Rania, mereka berjalan di atas bebatuan yang ada di sungai.


Rania duduk di atas batu, dan bergaya saat Dio mengambil fotonya. Dio mengambil beberapa foto Rania dengan ponselnya.


"Cantik, masih sama seperti dulu. Dia istriku, tapi aku tidak mencintainya. Aku tidak ingin menyentuhnya, karena tidak ada hasrat dalam diriku. Tapi, aku nyaman saat bersama dia. Aku nyaman saat bertukar pikir dengannya. Dia wanita hebat. Maafkan aku, Rania. Aku belum bisa mencintaimu. Bukan aku tak mau menyentuhmu. Aku tidak mau melakukan itu tanpa cinta, Ran. Dan berkali-kali aku ingin mengembalikan rasa cinta di hatiku untukmu, selalu saja tidak bisa," gumam Dio.


"Dio, sudah belum? Lama sekali, ih," ucap Rania.


"Sudah, sebentar kamu di situ saja." Dio berjalan menghampiri Rania.


"Lihat hasilnya," pinta Rania.


"Ini, bagus, kan?" Dio memperlihatkan hasil jepretannya di ponsel Dio.


"Kirim semua ke aku,"


"Iya, nanti aku kirim. Ayo foto." Dio mengajak foto bersama Rania.


Dio merangkul Rania. Rania tidak menyangka Dio mau foto bersama dirinya. Berkali-kali mereka foto bersama. Setelah puas menikmati pemandangan dan meminum kopi di tepi sungai mereka bercerita sebentar sambil menunggu Maghrib tiba. Dio duduk di depan Rania. Suasana dingin sudah mereka rasakan. Lampion-lampion, sudah menyala dan menambah keindahan malam ini.


"Ran," panggil Dio yang melihat Rania sedikit melamun.


"Hmmm …." Rania hanya berdehem saja sambil menikmati gemercik suara air sungai.


"Kamu senang hari ini?" tanya Dio.


"Iya, beban pikiranku sudah sedikit terbuang. Terima kasih sudah mengajak ke sini, dan menyenggangkan waktu sebentar untuk pergi denganku, Dio," jawab Rania.


"Iya, sama-sama, Ran," ucap Dio.


"Dio, ini jadi menginap? Atau langsung pulang saja?" tanya Rania.


"Jalanan berkabut, kita cari penginapan saja, lalu kita cari baju ganti," jawab Dio.


Mereka naik ke atas lagi, dan pulang. Hari ini Rania benar-benar di buat bahagia oleh suaminya. Meskipun dia tidak di cintai suaminya. Namun, setidaknya Dio sekarang selalu menyempatkan Quality Time bersama Rania kalau libur.


Mereka sudah membeli baju untuk ganti. Dio mencari hotel untuk bermalam dengan Rania. Baru kali ini Dio mengajak dirinya untuk menginap di hotel. Hotel dengan fasilitas Bintang Lima yang Dio pilih. Rania sebenarnya ingin memesan kamar sendiri, tapi Dio mengajaknya satu kamar bersamanya.


"Kita satu kamar?" tanya Rania.


"Iya," jawab Dio.


"Dio, pesan satu kamar lagi, masa kita satu kamar," ucap Rania.


"Sudah ayo," ajak Dio menuju kamarnya.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang begitu luas dan mewah sekali. Rania meletakan tasnya, dia melepas jilbabnya karena ingin segera mandi mumpung masih ada waktu untuk sholat Maghrib.


__ADS_2