
Arsyad menunggu di bengkel Arsyil di temani oleh Mas Wahyu mereka berbincang-bincang sambil menunggu Annisa keluar dari rumahnya.
"Kak, ayo. Jadi pergi, kan?"tanya Annisa.
"Iya, jadi, Mas Wahyu, Mas Donni, pamit dulu, ya,"pamit Arsyad.
"Iya, mas, hati-hati," jawab mereka.
Annisa dan Arsyad masuk ke dalam mobilnya, Arsyad melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.
Mobil Arsyad sudah sampai di depan toko perhiasan. Mata Annisa terbelaklak melihat Arsyad menghentikan mobilnya di depan toko perhiasan.
"Mau apa, kak, ke sini?"tanya Annisa.
"Mau beli cincin untuk pernikahan kita nanti,"ucap Arsyad.
"Ayo, turun,"ajak Arsyad.
Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam toko perhiasan. Arsyad menyuruh Annisa memilih cincin pernikahan, tapi Annisa di bingung kan banyak model yang bagus-bagus dan cantik-cantik.
"Aku bingung, kak,"ucap Annisa.
"Kalau yang ini, bagaimana?" Arsyad memeprlihtakan cincin yang yang sangat cantik sekali.
"Bagus, kak,"ucap Annisa.
"Di coba dulu, Nis,"ucap Arsyad
"Bagus tidak,kak?"tanya Annisa dengan menunjukan cincinnya.
"Bagus, ambil ini saja, ya?"ucap Arsyad.
"Oke,"ucap Annisa.
Arsyad sudah membayar cincin yang ia pilih. Arsyad akan mengajak Annisa ke butiknya untuk memilih gaun pernikahannya.
"Nis, ke butik kamu, ya?"ajak Arsyad.
"Mau apa, kak?"tanya Annisa.
"Memilih gaun untuk kamu,"ucap Arsyad.
"Kak, boleh tidak aku pakai gaun aku waktu dulu menikah dengan Arsyil?"tanya Annisa.
"Boleh, tapi…"ucapan Arsyad terhenti saat melihat tubuh Annisa sekarang sudah agak gemukan di Bandung waktu masih gadis.
"Tapi, apa kak? Gak boleh, ya? Ya sudah,"ucap Annisa yang agak kecewa.
"Boleh, Nis, tapi apa masih muat ya? Dulu waktu kamu masih gadis agak kurusan dikit, ini sudah lumayan, emm…"ucapan Arsyad terhenti karena Annisa memotongnya.
"Gendut maksudnya?"potong Annisa.
"Ya seperti itu, ya sudah, kalau masih muat, pakai saja, kalau sudah tidak muat, ya cari yang lain,"ucap Arsyad.
"Oke,"ucap Annisa.
Arsyad dengan cepat melajukan mobilnya menuju butik Annisa. Memang gaun Annisa waktu menikah dengan Arsyil masih di pajang di showcase butiknya.
Mereka sampai di depan butik Annisa. Annisa dan Arsyad turun dari mobil dan berjalan beriringan masuk ke dalam butik. Vera menyambut kedatangan mereka. Perutnya terlihat sudah membuncit, tapi masih semangat untuk berkerja.
"Cie, datang beduaan,"ucap Vera.
"Iya lah berdua, masa mau bertiga, kamu sudah aku kasih cuti masih saja berangkat. Aku kan gak enak sama Donni, Ver,"ucap Annisa.
"Nanti kalau sudah masuk bulan ke-9 saja aku cuti,"jawab Vera.
"Ngomong-ngomong kalian berdua ada apa ke sini?"tanya Vera.
"Emm…mau lihat gaun ini,"ucap Annisa sambil menunjuka gaun pernikahannya dulu saat bersama Arsyil terpampang di dalam showcase.
"Gaun pengantin?"tanya Vera bingung.
"Iya, coba suruh pelayan untuk mengambilkan gaun itu,"titah Annisa.
"Kamu mau apakan gaunnya, Nis?"tanya Vera.
"Nanti kamu juga tau,"ucap Annisa.
Annisa memandangi gaun pernikahannya dulu dengan tatapan sendu, di sebelahnya ada jas milik Arsyil yang dulu juga di pakai saat pernikahannya.
"Padahal baru kemarin aku memakai ini, bersamamu, Syil,"gumam Annisa dalam hati.
"Hai, jangan melamun." Arsyad menepuk pundak Annisa yanh sedang melamun melihat gaunnya dulu di ambil dari showcase oleh karyawannya.
"Kamu yakin mau pakai itu?"tanya Arsyad.
"Iya,"jawabnya dengan lirih.
"Ya sudah di coba sana,"titah Arsyad.
"Begitu besar cintamu pada adikku, Nis, hingga kamu rapi sekali menyimpan semua kenangan bersama Arsyil,"gumam Arsyad dalam hati.
Annisa bersama Vera menunu kamar pas untuk mencoba gaun pengantinnya. Vera yang di bingungan oleh Annisa, dia memilih diam karena tiba-tiba Annisa ingin sekali mencoba gaun itu.
"Ver bantuin tarik resletingnya ke atas,"pinta Annisa.
"Oke." Vera mencoba membanti Annisa memakai gaunnya.
"Nis, gak salah? Ini gak sampe ke atas lho resletingnya, kamu gendutan ya berarti?"tanya Vera.
"Ah, iya, masa gak sampai ke atas ya, sesak sekali nafasku, tolong bantu lepaskan lagi, Ver,"ucap Annisa.
"Iya, benar kata Kak Arsyad, aku sekarang gendut, masa sudah tidak muat gaun ini?"ucap Annisa.
"Lagiyan kamu mau apa pakai coba-coba gaun ini lagi? Mau menikah lagi?"tanya Vera.
__ADS_1
"Iya,"jawabnya.
"Huss…! Yang benar kamu!"tukas Vera.
"Benar, Vera, itu calon suamiku yang di depan,"ucap Annisa sambil merapikan bajunya dan memberikan gaun itu pada Vera.
"Nis, aku tidak salah dengar, kan?"tanya Vera yang semakin bingung.
"Menurutmu, bagaimana? Apa butuh ke THT sekarang?"tanya Annisa.
"Pendengaran ku masih normal, Nisa. Cuma aku tak percaya saja, kamu mau menikah dengan Pak Arsyad,"ucap Vera.
"Ini kamu serius, Nis? Gak bercanda, kan?"tanya Vera lagi.
"Buat apa aku bercanda, sana tanya tuh sama dosen kamu,"ucap Nisa.
Vera menyuruh pelayan agar menata gaun Annisa di showcase lagi, dia berjalan di belakang Annisa. Annisa mendekati Arsyad yang sedang duduk di sofa.
"Kakak…."panggil Annisa manja.
"Hmmm,"sahut Arsyad.
"Bagaimana, tidak muat kan?"tanya Arsyad sambil menatap wajah Annisa setengah kecewa.
"Iya benar kata kakak, aku gendutan,"ucap Annisa dengan wajah kecewa
"Siapa yang bilang kamu gendut, kakak gak bilang seperti itu,"ucap Arsyad.
"Tadi waktu di mobil sih,"ucap Annisa.
"Kamu yang bilang, bukan kakak,"ucap Arsyad.
"Kamu harusnya sadar, Nis, badan kamu sekarang sama dulu beda jauh, kamu tambah sexy,"bisik Arsyad di telinga Annisa.
"Apaan sih, kakak." Annisa memukul lengan Arsyad.
"Memang kenyataannya,"ucap Arsyad sambil meneruskan membaca majalah.
Vera mendekati merek yang sedang duduk dan berbicara, wajah Annisa masih terlihat kecewa. Arsyad melirik Annisa, dia tertawa melihat wajah Annisa yang lucu saat kecewa.
"Udah jangan maju-maju terus bibirnya, nanti aku kuncir pakai karet gelang bibirmu itu,"ucap Arsyad setengah tertawa.
"Apaan sih,"ucap Annisa.
"Lalu, mau pilih gaun lagi tidak?"tanya Arsyad.
"Iya sebentar, huh." Annisa membuang napasnya kasar.
"Ehh…tolong nih jelasin sama ibu hamil, kalian benar mau menikah?"celah Vera yang tiba-tiba datang di hadapan mereka.
"Iya, kamu bawel sekali, Ver. Aku kan sudah bilang tadi di dalam,"ucap Annisa.
"Kalau gak percaya tanya sama Pak Dosen di sampingku ini,"imbuh Annisa.
"Pak Arsyad, apa benar yang di katakan Annisa, kalau kalian akan menikah?"tanya Vera.
"Tau ah, kak!"tukas Annisa.
"Sudah lah ngambeknya, itu gaun lainnya masih banyak." Arsyad berkata pada Annisa sambil menunjukan gaun pengantin lainnya.
"Ya Tuhan, dunia sesempit inikah, Annisa? Pak Arsyad? Kalian benar-benar mau menikah?"tanya Vera lagi yang masih kurang percaya.
"Iya, Vera!"jawab mereka dengan kompak.
"Yakin? Ini serius?" Vera masih belum percaya.
"Emang ya bawel sekali kamu, iya lah, Ver. Serius,"ucap Annisa.
"Ayo kakak temani kamu cari gaun lagi, dari pada kamu mengurusi Vera yang masih tidak percaya." Arsyad menarik tangan Annisa dan melihta gaun pengantin yang lainnya.
Mata Arsyad di manjakan dengan gaun pengantin yang cantik-cantik di butik Annisa. Arsyad teringat waktu dia memilihkan baju pengantin untuk Almira yang di belinya di butik Annisa.
"Dulu aku tak seribet ini memilihkan gaun untuk Almira, kenapa dengan Annisa beda sekali?"gumam Arsyad.
"Waktu Kak Arsyad memilihkan gaun untuk Kak Mira dia tak sedetail ini, kenapa dia memilih sedetail ini untuk ku? Ah..tau lah, aku cuma masih berharap memakai gaun ku dulu bersama Arsyil, tapi sayanh tidak muat lagi. Ya sudah kalau memang harus memilih lagi,"gumam Annisa.
"Nis ini bagus sepertinya, ayo coba lagi,"pinta Arsyad.
Ini gaun keempat yang di coba oleh Annisa. Annisa sebenarnya lelah bolak balik mencoba gaunnya.
"Kak, kalau ini gak pas lagi menurut kakak, sudah aku pakai gaun aku dulu!"tukas Annisa.
"Boleh, kalau kamu mau memperlihatkan tubuhmu yang sexy dan perut buncitmu." Arsyad terkekeh membayangkan Annisa memakai gaun yang kesempitan.
"Tidak usah tertawa, tidak lucu!"tukas Annisa sambil masuk ke kamar pas.
"Vera…rasanya aku ingin pulang saja, dari tadi mencoba gaun bolak-balim tidak ada yang pas di mata Kak Arsyad,"ucap Annisa dengan kesal.
"Sabar, Nis. Namanya juga ingin melihat istrinya cantik memakai gaun saat pernikahan nanti,"ucao Vera mereadakan emosi Annisa.
"Iya, tapi tidak seperti itu juga,"ucap Nisa dengan nada lirih
"Sudah keluar, aku jamin yanh ini pasti Pak Arsyad suka,"ucap Vera.
Annisa dan Vera keluar dari kamar pas. Annisa menunjukan gaun keempat yang Arsyad pilih.
"Kak, bagaimana?"tanya Annisa.
Arsyad melihat gaun yang di pakai Annisa itu dari atas hingga bawah.
"Sempurna, ambil yang ini,"ucpa Arsyad.
"Oke, baiklah,"ucap Annisa.
Annisa segera melepas baju yang ia coba, dia melihat lebih detail lagi gaun yang sedang ia pakai itu.
__ADS_1
"Gaun ini, sepertinya aku pernah lihat, modelnya sama seperti ini, cuma ini memang terkesan mewahnya. Ah, Kak Mira, gaun ini mirip gaun pernikahan Kak Mira dulu. Pantas saja Kak Arsyad suka," gumam Annisa
"Huh, ternyata seperti itu alasan Kak Arsyad,"ucap nya lirih sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Alasan Kak Arsyad bagaimana, Nis?"tanya Vera yang mendengarnya.
"Ah…gak apa-apa Ver,"ucap Annisa.
Setelah selesai berganti pakaian Annisa keluar dari kar pas, dia menghampiri Arsyad yang sedang memilih jas.
"Kak, ini bagus." Annisa memperlihatkan jas yang ia pilihkan
Arsyad mendekati Annisa dan mengambil alih jas yang Annis pegang. Arsyad melihatnya Dena detai jas Annisa pilihkan untuk Arsyad.
"Bagus, boleh aku coba?"tanya Arsyad.
"Boleh, silahkan,"ucap Annisa.
Arsyad menuju ke kamar pas mencoba jas yang dipilihkan Annisa. Dia melihat pantulian cermin yang memperlihatma dirinya.
"Bagus, pintar juga dia memilihkan jas buatku,"ucap Arsyad dengan lirih. Setelah selesai mencoba Arsyad keluar memperlihatkan pada Annisa.
"Nis, bagaimana?"tanya Arsyad.
"Bagus,"ucap Annisa.
"Oke aku ambil." Arsyad kembali berganti pakaiannya.
Setelah selesai memilih gaun dan jas untuk pernikahannya, mereka berpamita pada Vera untuk pulang. Arsyad mengajak Annisa ke kantornya terlebih dahulu, karena Ray sudah menunggunya dari tadi, ada dokumen yang harus segera di tanda tangani.
"Kamu masih ada pekerjaan di kantor, Nis?"tanya Arsyad.
"Sudah tidak ada, kenapa kak?"tanya Annisa.
"Nis, kamu ikut ke kantorku ya? Rayhan menunggu aku, ada dokumen yang harus segera aku tanda tangani.
"Oke, tidak masalah,"ucap Annisa.
Arsyad melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke kantornya. Annisa dari tadi diam, dia menyandarkan kepalanya dan melihat kearah jendela mobil di sampingnya, tatapannya kosong, matanya melihat ke sembarang arah, hingga dia terjingkat saat Arsyad menepuk bahunya.
"Jangan melamun terus, berapa kali aku bilang ke kamu, Nis. Kamu melamun terus kerjaannya," ucap Arsyad sambil menepuk bahu Annisa. Annisa terjingkat dan langsung menatap calon suaminya itu.
"Kakak mengagetkan saja,"ucapnya.
"Habis kamu melamun saja, masih memikirkan Arsyil?"tanya Arsyad.
"Kalau itu setiap hari, kak,"ucap Annisa.
"Kak,"panggil Annisa.
"Hmm." jawab Arsyad yang sedang fokus menyetir mobil.
"Gaun yang di pilihkan kakak tadi sepertinya sama dengan gaun pengantin Kak Mira dulu,"ucap Annisa.
"Masa sih?"tanya Arsyad.
"Iya, persis itu, kak. Kakak sengaja milih yang itu?"tanya Annisa.
"Tidak, kakak tidak tau kalau gaun itu mirip seperti gaun milik Almira, kakak hanya lihat bagus dan pas saja di pakai kamu, Nis,"ucap Arsyad.
"Oh, aku kira karena sama dengan gaun milik kak Mira, kakak milihnya yang itu,"ucap Annisa
"Tidak Annisa, kalau karena sama, ngapain kakak repot-repot beli untuk kamu, tidak memakai gaun Almira saja, iya, kan?"tanya Arsyad.
"Iya juga, sih."ucap Annisa.
"Gaun pernikahan kamu dan Arsyil bagus sekali ya, pantas kamu ingin memakainya lagi, sepertinya gaun yang seeperti milikmu itu jarang sekali,"ucap Arsyad.
"Iya memang bagus sekali, itu Arsyil yang pilih, dia yang pilih desainernya dan penjahitnya, aku hanya ikut saja bagaimana dan seperti apa yang Arsyil mau,"tutur Annisa.
"Dia memang sempurna sekali mencintaimu, Nis,"ucap Arsyad..
"Iya, memang dia seperti itu,"ucap Annisa.
"Sudah kak, jangan bilang seperti itu, aku jadi semakin mengingatnya,"ucap Annisa.
"Kak kalau kita menikah nanti akan tinggal di mana?"tanya Annisa.
"Terserah kamu saja inginnya di mana? Di rumah kamu? Di rumah aku? Atau di mana?" Arsyad bertanya balik pada Annisa.
"Kok malah jadi kakak yang tanya, sih,"ucap Annisa.
"Ya sudah nanti kita pikirkan lagi setelah menikah,"ucap Arsyad.
"Kalau di rumah ku, aku pasti akan semakin sedih setiap harinya, karena aku melalui hati-hari ku tak bersama Arsyil lagi, melainkan dengan Kak Arsyad, apa harus di rumah Kak Arsyad? Pastinya dia juga sama dengan apa yang aku rasakan, bukan aku melarangnya jika suami ku nanti mengingat Kak Mira, aku juga tak bisa sedetikpun tak mengingat Arsyil. Tapi keadaan sudah berubah, aku sudah menjadi istri kak Arsyad. Buka berarti tidak cinta harus melupakan kewajiban suami-istri, kita juga harus menghargai pasangan kita nanti. Ah…entahlah, nanti bagaimana aku tidak tahu,"gumam Annisa.
"Jika nanti tinggal di rumahku, kenangan bersama Almira akan selalu hadir, tinggal di rumah papah juga aku masih merasakan Almira selalu di dekatku, aplagu harus tinggal di rumah ku. Kalau di rumah Annisa, dia yang akan sedih setiap harinya. Kami menikah tidak dengan cinta, tidak ada rasa cinta sama sekali, bukan berarti kita jadi tidak menghargai pasangan kita nanti. Seperti tadi gaun Annisa, gaun itu memang mirip sekali dengan gaun Almira, tapi aku jawab tidak, aku hanya menghargai Annisa saja,"gumam Arsyad.
Arsyad sudah sampai di depan kantornya, dia memarkirkan mobilnya di samping mobil Reyhan. Arsyad mengajak Annisa turun dan masuk ke kantornya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️