THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 104


__ADS_3

Arsyad sudah sampai di kantornya, Papah Rico sudah menunggunya sejak tadi di ruangan meeting bersama Rayhan. Arsyad masuk ke dalam kantor dengan gugup sekali karena yang akan dia temua adalah klien penting. Arsyad memasuki ruang meeting yang ada di kantornya. Terlihat dua orang pria dengan wajah yang cemas karena menunggu Arsyad yang tidak datang-datang.


"Maaf pah, Ray, aku lama. Tuan Antonius belum datang kan, pah?"ucap Arsyad dengan nafas yang terengah-engah.


"Kamu bikin kami semua khawatir, dari mana saja kamu, Syad."ucap Papah Rico.


"Maaf pah, Arsyad tadi mengantar Mira ke rumah Naila, tapi Naila sudah tidak ada, dan tidak tau keberadaannya sekarang di mana."jelas Arsyad.


"Naila kakak kelas kita dulu, Syad?"tanya Rayhan.


"Iya, Naila, Kak Naila yang dulu pernah mengirim surat pada ku itu."


"Memang di mana sekarang?"tanya Ray lagi.


"Entahlah, dia ikut suaminya, Mira sangat sedih, dari tadi dia menangis, aku sangat khawatir karena aku takut keadaan Mira sekarang akan berpengaruh pada janinnya."ucap Arsyad.


"Naila hanya menitipkan surat pada Almira, dan pembantunya juga tak tau di mana dia sekarang."imbuh Arsyad.


"Kalian bicara Naila, Naila itu siapa?"tanya Rico yang tidak tahu apa-apa.


"Naila, kakak kelas kami, om. Dia dulu sula dengan Arsyad, dan dia adalah sahabat Almira."jelas Rayhan.


"Dan di dalam surat itu, dia bilang, kalau dia masih mencintaiku, dan tidak mencintai suaminya. Almira semakin merasa bersalah, karena sudah membaut hidup sahabatnya hancur, pah. Almira terus menyalahkan dirinya sendiri."ucap Arsyad dengan menundukan kepalanya.


"Kamu yang sabar, ini ujian mu dan Almira, kalian harus kuat menghadapinya, apalagi Naila sudah bersuami, dia pasti bahagia bersama suaminya. Walau tak ada cinta dalam hati Naila, sekarang kamu yakinkan istrimu, ini semua bukan kesalahan dia. Semua sudah kehendaknya."jelas Rico.


"Apa kamu dulu mencintai Naila juga dan setengah memberi harapan padanya?"tanya Rico.


"Tidak, sama sekali tidak, pah. Arsyad hanya menganggap dia teman dan kakak kelas Arsyad saja."ucap Arsyad.


"Papah tau kan aku mencintai Mira saja dulu sulit, apalagi untuk menyukai Naila."imbuh Arsyad.


"Iya papah tau."ucapnya.


Tak lama kemudian, sekretaris pribadi Rico datang mengantar tuan Antonius ke ruang Meeting, mereka menyambut hangat klien mereka. Meeting di mulai, Arsyad menjelaskan secara detail apa yang tuan Antonius tanyakan. Puas dengan jawaban Arsyad yang sangat meyakinkan, akhirnya mereka bisa bekerja sama dengan perusahaan terkenal dari Jerman.


Rico semakin bangga dengan putranya, di tengah kemelut hatinya, dia masih bisa konsisten dengan pekerjaannya. Rico menatap putranya yang masih gelisah karena memikirkan istrinya yang sedang di rumah.


"Pulanglah Syad, temani istrimu di rumah, papah tau kamu sangat khawatir dengannya." Rico menepuk pundak anak sulungnya tersebut.


"Pekerjaan Arsyad belum selesai, pah."ucap Arsyad sambil mengusap kasar wajahnya.


"Ada aku dan Om Rico di sini Syad, serahkan pada kami, aku tau kamu masih khawatir dengan Mira di rumah, pulanglah." Rayhan menyuruh Arsyad pulang ke rumahnya. Arsyad menuruti apa kata mereka, dia pulang ke rumahnya. Sebelum pulang dia pergi ke kedai buah langganannya untuk membeli beberapa buah. Almira suka sekali makan buah selama hamil, jadi Arsyad membelikannya untuk dia.


Arsyad sampai di rumah nya, dia segera masuk menuju ke dapur dan menyuruh Asisten Rumah Tangganya mencuci buah yang dia beli dan memasukannya ke dalam kulkas. Arsyad menuju ke kamarnya, dia tak melihat istrinya di dalam kamarnya, Arsyad membuka pintu kamar mandi, Almira juga tidak ada di dalam kamar mandi.


"Dimana Almira, jangan bilang dia pergi sendiri mencari tahu di mana Naila berada."ucap Arsayd, dia langsung berlari keluar dari kamar dan kembali menanyakan Asistennya di rumah.


"Mba, lihat Almira?"tanya Arsyad.

__ADS_1


"Bukankan Mba Mira di kamar dari tadi, pak"jawabnya.


"Di mana dia, ini sudah sore sekali."gumam Arsyad.


"Coba tanya penjaga taman baca, pak."ucap Asistennya.


"Iya mba, terima kasih." Arsyad setengah berlari menuju Tan baca yang ada di samping rumahnya. Dia segera masuk ke dalam taman baca, dia belum menemukan istrinya. Arsyad masuk ke ruangan Almira, dan di sanalah Almira berada dengan dua anak kecil perempuan, Almira sedang mendongeng dengan menggunakan boneka jari dengan dua anak perempuan itu.


"Ya Allah, sayang…kamu aku cariin di mana-mana, ternyata di sini. Aku khawatir sekali, hai… anak cantik, nama kalian siapa?"tanya Arsyad pada dua anak kecil tersebut.


"Aku di sini, mas. Alina dan Naila mencariku tadi, di antar oleh ibunya." Almira mencium punggung tangan suaminya.


"Sayang, kenalan dulu nih sama Om, namanya Om Arsyad, suami Kak Mira, ayo…perkenalan siapa kamu sama Om Arsyad."ucap Almira pada Naila dan Alina


"Hallo Om, namaku Alina." Alina memperkenalkan diri pada Arsyad dan mencium tangan Arsyad.


"Aku Naila."Naila mendekati Arsyad dan mencium tangan Arsyad.


"Nama kalian cantik sekali, seperti kalian juga sangat cantik. Kalian suka bermain di sini?"tanya Arsyad.


"Suka sekali, om. Apalagi Kak Mira baik, cantik, pandai mendongeng, aku suka sekali."ucap Naila dengan semangat.


"Wah, om juga mau dong di bacakan dongeng sama Kak Mira. Ayo, Kak Mira mendongeng lagi." Arsyad menyuruh Almira mendongeng kembali.


"Iya kak, biar Om Arsyad mendengar."saut Alina.


Almira mulai mendongeng, Alina, Naila dan Arsyad memperhatikan Almira yang sedang mendongeng, mereka tertawa bahagia saat Almira memulai mendongeng yang lucu.


Tak lama kemudian, pintu ruangan Almira di ketuk seseorang, Arsyad membukakan pintunya, penjaga taman baca memberitahukan kalau orang tua Alina sudah menunggu di depan. Arsyad masuk ke dalam memanggil Alina dan Naila karena sudah di tunggu orang tuanya di depan.


"Sayang, ibu kalian sudah di luar menunggu kalian." Arsyad mendekati Naila memberitahukan kalau ibunya sudah menunggu di luar.


"Yah… kita pulang deh…padahal masih ingin di sini dengan Kak Mira dan Om Arsyad."ucap Alina.


"Besok kan bisa ke sini lagi, sayang. Ini juga sudah sore, kalian harus pulang, belajar di rumah ya, jangan bandel, oke."ucap Almira.


"Iya benar kata Kak Mira, ayo keluar, temui ibu kalian." Arsyad menggandeng Alina dan Almira menggandeng Naila keluar menemui ibunya.


"Mamah…." ucap mereka bersama dan memeluk mamahnya masing-masing.


"Maaf, mamah lama, sayang. Kamu sudah belajar membacanya?"tanya mamahnya Alina.


"Sudah, tadi kami belajar mendongeng dengan Kak Mira dan Om Arsyad suami nya Kak Mira."ucap Alina.


"Oh…ya… Mba Mira terima kasih, sudah merepotkan mba, kami pamit pulang dulu."ucap mamahnya Alina.


"Terima kasih mba, oh...iya, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami, kami pamit pulang dulu ya mba."mamahnya Naila memberikan oleh-oleh pada Mira.


"Wah…ibu, repot-repot sekali, terima kasih, Bu."ucap Almira.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, cuma manisan mangga saja, Mba Mira kan masih hamil muda, pasti suka yang asem-asem."


"Iya Bu, sekali lagi terima kasih."ucap Almira


Naila dan Alina sudah pulang, Almira kembali masuk ke dalam ruangannya dan menata kembali buku dongeng yang tadi ia baca. Arsyad mendekati Almira dan memeluknya dari belakang.


"Benar-benar menyebalkan kamu, membuat aku khawatir saja."ucap Arsyad lirih di telinga Almira


Almira hanya tertawa melihat ekspresi wajah suaminya yang masih terlihat khawatir sekali.


"Khawatir kenapa? Aku tidak apa-apa, mas. Untung ada Alina dan Naila, jadi aku sedikit fresh pikirannya bermain dengan mereka, kamu ke kantor, mereka datang, pas sekali, bukan?"ucap Almira sambil menatap lembut wajah suaminya.


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa, dan tidak akan kemana-mana jika tidak bersamamu, mungkin kalau mendadak, kan bisa minta tolong Pak Afif atau Abah."imbuh Almira yang mencoba menghilangkan rasa khawatir suaminya tersebut. Almira mencium kilas bibir Arsyad dan tersenyum menatap wajah suaminya. Dia membelai lembut pipi suaminya.


"Jangan menggoda aku di sini , sayang."ucap Arsyad.


"Siapa yang menggoda kamu, mas. Aku hanya melihat wajahmu yang khawatir itu, lucu sekali."ucapnya.


"Kamu bilang lucu? Awas kalau bikin aku khawatir lagi. Tolong jangan bikin aku khawatir, sayang." Arsyad memeluk erat istrinya, dia sangat takut kehilangan Mira.


"Iya, ya sudah lepasin aku tidak bisa bernafas, mas. Bagaimana meeting kamu?"tanya Almira.


"Alhamdulillah lancar semua, dan perusahaan papah bisa bekerja sama dengan perusahaan tuan Antonius."jawab Arsyad.


"Tuan Antonius yang dari Jerman itu? Perusahaannya sangat terkenal, perusahaan Abah juga bekerja sama dengan perusahaan beliau."ucap Mira.


"Iya, beliau bekerja sama dengan perusahaan Abah, dan perusahaan Om Rizal, papahnya Annisa."ucap Arsyad.


"Ya sudah, ayo ke rumah, kamu belum mandi kan? Mandilah sudah mau Maghrib, mas." Almira dan Arsyad kembali ke rumah, mereka berjalan beriringan, Arsyad menggandeng erat tangan Almira.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2