THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 69 "Janji Suci" The Best Brother


__ADS_3

Rania sudah memakai gaun berwarna putih. Pelaminan sudah berdiri megah di depan rumahnya. Iya, hari ini Rania akan menikah kembali dengan Dio. Arsyad tidak mau mereka menunda pernikahannya lagi. Rania dengan segera menghubungi pamannya yang ada di luar negeri. Dengan bahagia, paman Rania langsung pulang ke Indonesia.


Rania duduk di depan meja riasnya. Dia memandang wajahnya yang sudah di rias. Ini adalah kedua kalinya Rania dirias dan memakai baju pengantin. Gaun pengantin rancangan Annisa kali ini yang di gunakan Rania untuk mengikat janji suci dengan Dio yang kedua kalinya. Rania di temani Shifa, Annisa, Shita, dan Zahrana. Mereka menemani Rania yang sudah selesai dirias.


Terlihat raut wajah Rania yang sendu. Rania teringat ibu dan ayahnya. Namun, dalam hati kecilnya, dia merasa lega, karena dia sudah mewujudkan impian kedua orang tuanya walaupun terbilang terlambat. Iya, dia sudah memenuhi keinginan ibu dan ayahnya untuk hidup bersama Dio.


“Rania, kok kamu murung? Bahagia dong, kan mau jadi pengantin lagi?” ucap Zahrana.


“Iya, kenapa sedih seperti itu?” tanya Annisa.


“Bunda, aku ingat ayah sama ibu,” jawab Rania.


“Ibu dan Ayah sudah bahagia di sana, apalagi kamu sekarang memenuhi keinginan ibu dan ayah kamu, pasti mereka sangat bahagia, Nak,” ujar Annisa.


“Iya, Ran. Sudah dong jangan sedih, nanti cantikmu hilang,” imbuh Shifa.


“Rania, ibu dan ayahmu sudah bahagia di surga, sekarang kamu harus melupakan kesedihan itu. Kasihan ibu dan ayahmu kalau kamu seperti ini. Doakan beliau, dan raihlah bahagia untuk membuka lembaran baru dengan Dio,” tutur Shita.


“Iya, budhe,” jawab Rania.


Semua memeluk Rania, semua sayang dengan Rania. Bahkan sebelum Rania di tinggal kedua orang tua Rania, keluarga Dio sudah menyayanginya. Rania beruntung memiliki keluarga kedua yang menyayanginya. Jadi, dia tidak merasa hidup sebatang kara.


^^^^^


Dio sudah duduk di depan meja untuk melakukan ijab qobul dengan Rania. Dia ditemani Raffi, Fattah dan Farrel. Entah mengapa Dio merasakan gugup dan tegang saat ini. Keringat dingin keluar. Tidak seperti saat dulu pertama menikah dengan Rania. Dulu yang ia rasakan hanyalah kebencian saat menikah dengan Rania. Namun, kali ini sungguh berbeda, Dio merasa gemetar, gugup, tegang, dan lain sebagainya.


“Raf, Rel, aku kok deg-degan gini, ya?” ucap Dio.


“Wajar lah, mau menikah,” jawab Raffi.


“Tapi ini beda sekali,” jelas Dio.


“Dulu kamu menikah dengan Rania itu kamu tak ada rasa, hanya ada kebencian dalam hidup kamu. Jadi kamu mati rasa, Dio,” ujar Farrel.


“Yups, benar, Rel. Sekarang kan berbeda, kamu mencintai Rania, jadi perasaanmu campur aduk, takut gagal, takut kalau Rania kabur, atau apalah,” ujar Raffi.


“Sembarangan kamu, masa iya Rania kabur. Dia di dalam kamarnya, sedang dirias,” ucap Dio dengan meninju lengan Raffi.


“Maksudku, itu hanya perumpamaan aja, kamu itu takut sesuatu terjadi, jadi ya seperti itu, deg-degan, grogi, tegang. Nih, keringat saja samapi sebiji jagung,” ledek Raffi.


“Payah kamu. Mau ijab qobul aja grogi,” ledek Farrel.


“Kalian malah ribut, nanti kalian juga merasakan. Tenang Dio, pasti semuanya berjalan dengan lancar. Karena kamu yakin,” ujar Fattah.

__ADS_1


"Iya, Mas. Apa dulu Mas Fattah merasakan seperti ini saat mau menikah dengan Kak Shifa?" tanya Dio.


"Ya jelas aku merasakannya, Dio," jawab Fattah. "Sudah kamu yang tenang," imbuhnya.


Dio sedikit meredakan rasa gugup dan tegang. Dia dari tadi menatap lorong yang menuju ke kamar Rania. dia menunggu sang pujaan hati keluar dari kamar, dan duduk di sampingnya.


^^^^^


Arkan disuruh Arsyad memanggil Rania ke kamarnya, karena penghulu sudah datang. Arkan bergegas masuk ke dalam kamar Rania. Dia bahagia, akhirnya kakaknya bisa menikah lagi dengan Rania. Namun, dalam bahagianya terselip kesedihan, karena kakak perempuannya tidak ada satu. Iya, Najwa. Arkan sangat merindukan Najwa saat ini. Dia ingin sekali di saat seperti ini semua kumpul bersama, tapi apalah daya, Najwa pergi karena kejadian di Vila itu.


Arkan masuk ke kamar Rania. Dia memanggil Rania yang masih mengobrol dengan bundanya dan juga lainnya.


“Kak Rani, penghulu sudah datang,” ucap Arkan.


“Ayo nak, kita keluar,” ajak Annisa.


Rania di gandeng Shita dan Annisa. Air mata Rania seakan ingin lolos dari sudut matanya, mengingat dulu saat ibunya menggandeng dia yang akan menghadap penghulu.


“Ya Allah, semoga ini yang terakhir. Semoga Dio adalah yang terakhir untukku. Menemani ragaku hingga menua, dan sampai aku menutup mata,” gumam Rania.


Rania duduk di sebelah Dio, menghadap penghulu. Dio dan Rania saling menatap. Dio sudah siap untuk mengucapkan ijab qobul. Dio lancar mengucapkan ijab qobul.  Kata SAH terlontar dari para saksi dan semua yang menyaksikan akad nikah Dio dan Rania. Rasa gugup, tegang, dan takut terbayar dengan bahagia.


Rania mencium tangan Dio, dan Dio mencium kening Rania. Sungguh ini momen yang membahagiakan untuk Keluarga Alfarizi, khususnya Dio dan Rania. Rasa bimbang dan ragu Rania sudar terbayar tunai dengan kebahagiannya hari ini. Ini adalah awal kedua rumah tangga Rania dengan Dio. Semua memberikan selamat dan mendoakan Rania dan Dio.


Pernikahan kedua yang sama sekali tidak pernah terpikirkan Dio dan Rania. jodoh memang unik. Dan, seperti inilah, setelah lika-liku yang di lalu Rania dan Dio, dari hal yang menyakitkan hingga hal bahagia seperti saat ini. Mereka berhasil melaluinya.


“Kita duduk di sana, yuk?” ajak Dio.


“Kan masih banyak tamu, Dio,” jawab Rania.


“Sebentar saja,” ucap Dio.


Rania menuruti apa kata Dio. Dia berjalan di samping Dio menuju ke kursi yang ada di taman samping rumah Rania. Rania duduk di samping Dio.


“Ada apa kamu mengajak aku ke sini, Dio?” tanya Rania.


“Aku ingin saja,” jawab Dio.


Dio menggenggam tangan Rania dan menciumnya. Rania dan Dio saling menatap. Senyuman manis terurai dari wajah Rania, Dio membalas senyuman Rania dengan senyuman yang menunjukan dirinya bahagia saat ini.


“Ran, terima kasih, kamu mau menikah denganku lagi,” ucap Dio dengan menatap wjah Rania.


“Sama-sama, Dio. Akhirnya Allah menjawab doa-doaku, Allah mengembalikan kamu di sisiku.” Rania memeluk Dio tanpa Dio menyuruhnya.

__ADS_1


“Istriku ...” Dio mencium kepala Rania.


“Aku janji, tidak akan meninggalkan kamu, apa pun yang terjadi. Hanya kamu saja wanitaku, hanya kamu teman wanitaku, hanya kamu yang akan menemani aku hingga akhir hayatku. Aku janji itu, Rania.” Dio mengeratkan pelukannya.


“Buktikanlah Dio, karena janji bukan hanya ucapan saja, melainkan perlu bukti,” ucap Rania.


“Iya, akan aku buktikan.” Dio berkata sambil mengambil kotak perhiasan untuk Rania.


“Ran, bolehkan aku memasangkan kalung ini di leher kamu?” ucap Dio sambil menunjukkan kalung bertahtakan berlian untuk Rania.


“Dio, ini?” tanya Rania.


“Iya, ini buat kamu. Kalung ini yang kamu inginkan dulu, kan?” tanya Dio.


“Kamu membeli ini? Padahal kan aku sudah lama sekali ingin kalung ini,” jawab Dio.


“Waktu itu aku mengikuti kamu saat kamu memilih perhiasan dengan Evan, kamu mungkin tidak menyadari aku di toko perhiasan itu. Kamu ingin sekali kalung ini, tapi Evan tidak mau, karena ini mungkin terlalu murah, tidak seperti kalung yang Evan kasih. Tapi, aku tahu, kamu suka model yang sesederhana ini. Dan, aku langsung mengambilnya. Aku ingin memberikannya langsung, tapi aku sadar siapa diriku saat itu. Lalu aku simpan saja kalung ini, karena aku yakin, suatu saat kamu kembali lagi padaku,” jelas Dio.


“Pantas saja aku balik lagi sudah tidak ada,” ucap Rania.


“Jelas lah, ini tinggal satu-satunya, tidak ada model seperti ini lagi di sana.”


“Kamu suka, kan?” tanya Dio lagi.


“Suka sekali,” jawab Rania.


“Tapi ini harganya lebih murah dari yang Evan belikan, Ran,” ujar Dio.


“Aku butuhnya siapa yang ngasih ini, bukan harganya. Apalagi dari Evan,” ucap Rania.


“Ayo pasangkan, dong,” pinta Rania degan manja.


“Iya, sini aku pasangkan.” Dio memasangkan kalung di leher Rania.


“Terima kasih, Dio,” ucap Rania.


“Kok Dio? Aku sudah jadi suamimu, Rania.”


“Ehmm ... Terima Kasih, sayang.” Rania memeluk Dio.


“Sama-sama, ya sudah yuk ke kamar,” ajak Dio.


“Ih ... Apaan sih,” tukas Rania.

__ADS_1


“Ke dalam maksudku, itu masih banyak tamu, sayang.” Dio mencubit pipi Rania dan menciumnya.


Rania hari ini menjadi wanita paling bahagia. Dio sudah kembali berada di sisinya lagi. Dan, Dio sudah kembali menjadi Dio yang dulu, yang Rania kenal.


__ADS_2