
Satu Minggu setelah pernikahan Arsyad dan Mira, Arsyad masih belum juga menyalurkan nafkah batin nya pada Mira. Setiap saat ingin melakukannya, Mira selalu menangis histeris. Hingga membuat Arsyad memendam kembali hasratnya. Arsyad selalu sabar menghadapi trauma istrinya yang begitu menyayat hatinya.
Mentari pagi masuk ke dalam celah jendela kamar Arsyad dan Almira, mereka sudah di sibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Almira yang meneruskan menulis novelnya dari selesai shalat subuh, sedangkan Arsyad sibuk mengecek laporan perusahaanya yang di kirimkan Rayhan lewat Email.
Arsyad sudah selesai dengan pekerjaannya, dia mematikan laptopnya dan menutupnya. Arsyad berjalan mendekati istrinya yang masih sibuk menulis.
"Sayang, belum selesai?"tanya Arsyad.
"Belum Mas, sedikit lagi."jawabnya.
"Sayang, apa kamu butuh seorang psikiater untuk menyembuhkan trauma kamu?"
Almira seketika menghentikan mengetik di laptopnya, dia menatap Arsyad yang duduk di sampingnya.
"Mas, aku takut."ucapnya.
"Jangan takut sayang, kamu mau aku antar ke psikiater?"
Almira menggelengkan kepalanya.
"Mas, maafkan aku, aku belum memenuhi kewajibanku. aku akan coba lagi mas. Bantu aku untuk menghilangkan semua trauma ku." Almira berkata dengan meneteskan air mata.
"Sayang, kalau kamu ingin menghilangkan trauma itu, setidaknya kamu harus mencoba, hilangkan rasa takutmu sayang saat kamu akan mencobanya."
"Aku takut, aku tidak bisa mas, aku tidak bisa."
"Apa akan selamanya kamu takut dan tidak bisa Mira." Arsyad sepertinya sudah merasa ingin sekali menyalurkan hasrat nya pada istri. Dia terlihat kacau dan frustasi, setiap kali ingin menyalurkan yang ia dapatkan hanya teriakan Mira yang begitu histeris.
Almira terdiam mencerna ucapan suaminya yang menurutnya dia kecewa sekali dengannya. Arsyad bangun dari tempat duduknya dengan wajah sedikit kecewa. Tangan Almira tiba-tiba menarik lengan Arsyad. Almira menangis, dia berdiri dan memeluk suaminya dari belakang.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku, aku tau kamu kecewa, kamu marah. Aku mohon bantu aku menghilangkan rasa takut ini mas."ucap Mira sambil terisak.
"Jangan menangis sayang. Maafkan aku yang terlalu memaksamu."Arsyad memeluk Almira.
"Aku akan bersabar hingga kamu tidak takut lagi sayang, aku tak akan memintamu lagi untuk melakukannya. Aku akan menunggu kamu benar-benar siap sayang, sudah jangan menangis lagi."Arsyad mencium kening Mira dan bibir Mira.
"Maafkan aku Mas."ucap Mira sekali lagi.
"Iya sayang, sudah aku mau mandi dulu, kamu mau ke taman baca kan? Aku mau ke kantor. Sudah satu Minggu aku tidak ke kantor."
"Iya mas, oh iya besok kita pindah ke rumahku ya mas, aku ingin suasana baru di sana. Biar dekat juga dengan taman baca."
"Iya nanti malam kita bereskan barang-barang kita sayang."
"Tidak usah, yang di sini biar di sini saja. Di sana sudah ada semua, tinggal baju-baju saja yang belum ada di sana, paling beberapa saja."
"Iya nanti malam kita packing sayang, aku mandi dulu ya, sudah jam 6 tuh."
"Iya suamiku sayang."Almira mencium pipi Arsyad.
Arsyad masuk ke kamar mandi, sedangkan Almira menata tempat tidur lalu memgambilkan baju kerja Arsyad dan menaruhnya di atas tempat tidur.
♥️ Arsyad ♥️
Sudah satu minggu aku menahan hasratku ini. Almira selalu saja menangis dan berteriak histeris saat aku ingin melakukannya.
"Aku harus bagaimana Ya Allah, apa aku harus memaksanya? Aku tak tega melihat dia seperti itu."gumam ku dalam hati.
Aku redakan hasratku yang semakin membuncah di bawah guyuran air dari shower.
Aku harus bisa mengobati trauma Mira, dia pasti bisa melewatinya dan menghilangkan rasa takut itu. Mungkin dengan nanti pindah ke rumahnya dia bisa melewati rasa takutnya sedikit demi sedikit.
♥️ Almira ♥️
Aku masih saja takut untuk melakukannya dengan suami ku. Kejadian itu masih terus membayangiku, saat Arsyad ingin melakukannya, bayangan itu selalu muncul, aku sangat takut sekali.
"Maafkan aku Arsyad, aku belum bisa menunaikan kewajibanku sebagai istrimu. Aku berharap kamu mengerti keadaanku Syad. Dan, aku mohon bersabarlah, aku akan berusaha sekuat hati agar aku bisa melakukan kewajibanku sebagai istrimu." gumam ku dalam hati.
Aku duduk di tepi ranjang sambil menunggu Arsyad selesai mandi, aku masih memikirkan bagaimana caranya aku lepas dari trauma itu. Kasihan suamiku sudah satu Minggu harus menahan hasratnya.
*****
Arsyad sudah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya dan menggunakan kaos oblong yang dia bawa ke dalam kamar mandi tadi.
"Mas, baju kerjamu sudah aku siapkan, aku mandi dulu ya."
"Iya sayang."
Almira pergi ke kamar mandi, sedangkan Arsyad memakai baju kerja yang sudah di siapkan Almira.
Setelah selesai memakai baju, Arsyad kembali mengecek semua pekerjaannya. Almira keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju handuknya.
Dia mendekati suaminya yang masih membuka email lewat ponselnya. Arsyad masih memegang dasi yang akan ia kenakan, Almira mengambil dadi dari tangan Arsyad dan memakaikannya.
"Sini aku pakaikan."pinta Almira.
"Iya silahkan istriku sayang." ucap Arsyad.
Arsyad memandangi wajah Almira yang begitu cantik.
"Jangan memandangku seperti itu mas."
"Almira, aku mencintaimu, aku akan menghapus rasa takutmu itu sayang, jangan pernah takut lagi aku tak akan menyakitimu."Arsyad memeluk Almira yang belum selesai memakaikan dasinya.
"Iya mas, maafkan aku, aku akan berusaha mas agar traumaku hilang. Mas, aku belum selesai memakaikan dasi kamu."ucap Mira yang masih berada dalam pelukan Arsyad.
Arsyad melepaskan pelukan Mira, dan Mira kembali memakaikan dasi Arsyad.
__ADS_1
Almira sudah selesai memakaikan dasi Arsyad sambil memandangi wajah Arsyad.
"Sudah selesai sayang?"tanya Arsyad
"Sudah sayang."jawab Mira sambil mencium pipi Arsyad.
"Ganti baju dulu sayang, setelah itu kita turun untuk sarapan " ucap Arsyad.
Mira segera mengambil baju nya di lemari, dia memakai baju di depan suaminya.
"Tumben dia tidak ganti baju di kamar mandi, Mira, jangan bikin gejolak hasratku naik kembali dengan melihatmu seperti itu." gumam Arsyad dalam hati saat Almira sedang memakai baju.
Arsyad mengalihkan pandangannya dengan membuka ponsel miliknya.
"Ayo, lekaslah reda, jangan seperti ini, ini tidak tepat sekali."gumam Arsyad yang berusaha menahan hasratnya.
Almira sudah selesai memakai bajunya, dia mendekati Arsyad yang sedang meredakan gejolaknya.
"Ayo mas kita turun sarapan dulu."ajak Mira.
"Oh iya sayang."jawab Arsyad yang agak gugup.
Arsyad dan Mira turun untuk sarapan di meja makan bersama kedua orang tua Almira.
"Pagi Abah, ummi." sapa Mira dan Arsyad bersama.
"Pagi sayang, ayo kalian sarapan dulu, ummi dan Abah sudah menunggu dari tadi."ucap Ummi.
Arsyad mendudukan dirinya di kursi, Almira mengambilkan nasi dan lauk untuk Arsyad.
"Syad, Abah sudah tua sekarang, Abah bisa minta tolong, bisakah kamu mengurus perusahaan Abah?"tanya Abah.
"Tapi bah."jawab Arsyad.
"Syad, siapa lagi kalau bukan kamu, nak. Yang mengurus perusahaan Abah, kan sudah ada Arsyil yang menghandle perusahaan papahmu, Abah lihat kerja dia bagus kok, tidak kalah darimu."ujar Abah.
"Iya Abah, nanti Arsyad diskusikan ini semua dengan papah dan Arsyil juga Rayhan."jawab Arsyad.
"Baiklah, Abah sangat berharap padamu, nak."
Setelah selesai sarapan, Arsyad dan Mira pamit pada kedua orang tuanya untuk pergi ke tempat kerja masing-masing. Mira ke taman baca dan Arsyad ke kantornya. Mobil Arsyad masih di rumah Orang tuanya, jadi pagi ini dia berangkat ke kantor di antar oleh sopir pribadi Mira. Iya, Pak Afif yang mengantarnya.
"Pagi tuan dan nyonya, silahkan masuk."sapa Pak Afif.
"Terima kasih Pak Afif, pak, jangan panggil tuan dan nyonya ah, kesannya seperti apa gitu."ucap Mira.
"Sekarang kamu kan sudah jadi nyonya Arsyad, Mira."ucap Pak Afif
"Tapi tidak gitu juga pak."
"Ya sudah Mba Mira dan Mas Arsyad saja."
Mira memang akrab sekali dengan Pak Afif, bagaimana tidak, Pak Afif menjadi sopir pribadinya dari Almira kecil, dia juga sangat terpukul sekali saat kejadian itu menimpa Mira. Pak Afif sudah menganggap Almira seperti keponakannya bahkan anak perempuannya. Itu semua karena Pak Afif ingin sekali mempunyai anak perempuan.
Almira dan Arsyad masuk ke dalam mobil, mereka sesekali mengobrol dan bercanda, bahkan mereka tertawa saat Pak Afif mengeluarkan jurus kocaknya.
Arsyad sampai di kantornya. Dia turun dari mobilnya, Almira pun ikut turun dan mengantar Arsyad sampai dalam kantor.
"Aku ikut masuk ya?"pinta Mira.
"Iya, ayo sayang."ajak Arsyad.
Arsyad menggandeng tangan Almira masuk ke dalam kantornya. Di lobby semua karyawan memandang Arsyad dan Almira yang berjalan menuju lift.
"Pagi Pak Arsyad." sapa salah satu staf kantor.
"Pagi mas."jawab Arsyad.
Mereka masuk ke dalam lift di susul Rayhan yang juga baru berangkat, dia gugup memasuki lift.
"Eeehhh ada pengantin baru rupanya."
"Kamu baru berangkat Ray?"tanya Arsyad.
"Iya Syad, Naura sedang ngidam. Aneh-aneh ngidamnya. Tadi saja dia minta di buatkan nasi gulung telur, sudah aku buatkan tidak di makan, eeehhh dia minta di buatkan susu coklat."jelas Rayhan.
"Ray, wajar dia sedang hamil. Perlakukan lah Naura seperti ratumu Ray."
"Iya Syad, itu pasti. Ehm...gimana nih kalian, duh...senangnya pengantin baru, pasti kalau malam beronde-ronde nih."Rayhan menggoda Arsyad dan Almira
"Huuusss ....diam lah Ray, ini di tempat umum Ray."ujar Arsyad
Pintu lift terbuka dan mereka pun keluar lalu menuju ke ruangan masing-masing. Almira ikut masuk ke ruangan Arsyad. Almira duduk di sofa dan bersandar.
"Kamu tidak ke taman baca?"tanya Arsyad.
"Sebentar lagi, aku masih ingin bersamamu mas."jawab Mira.
"Ya sudah di sini saja, tidak usah ke taman baca, telfon Pak Afif suruh pulang saja, nanti kita ke rumah papah naik taxi untuk mengambil mobilku." ujar Arsyad.
"Apa aku tak merepotkan mu mas?"
"Tidak sayang, asal kamu tak jenuh di sini jika aku sedang sibuk."
"Ya sudah aku di sini saja menemanimu."
Tak lama kemudian Yulia sekertaris Arsyad masuk ke dalam ruangan Arsyad.
__ADS_1
"Maaf pak mengganggu, ada Meeting pagi ini, semua staf sudah berkumpul di ruang meeting."ucap Yulia.
"Oh iya Yulia terima kasih."
Yulia pergi meninggalkan ruangan Arsyad.
"Mas, kamu mau meeting kan? Aku ke taman baca saja ya, aku jenuh di sini sendirian."
"Oh, ya sudah, yakin mau ke taman baca? tidak mau menemaniku di sini?"ucap Arsyad sambil memegang pipi Almira.
"Iya sayang."
"Ya sudah, kamu ke taman baca, nanti aku menyusulmu ke sana, setelah itu kita ke rumah ibu."
"Oke."
"Ayo aku antar ke luar sayang, sekalian aku ke ruang meeting." Arsyad menggandeng tangan Mira, dia mengantar Mira hingga ke lobby.
"Kamu hati-hati ya? Jaga dirimu baik-baik sayang." Arsyad mencium kening Mira, semua karyawan yang berada di lobby melihat Arsyad seromantis itu dengan istrinya.
"Iya mas, aku berangkat ya." Mira mencium tangan Arsyad dan berlalu meninggalkan Arsyad untuk ke taman baca.
Arsyad kembali masuk ke dalam kantornya menuju ke ruangan meeting.
"Pak, istri bapak pasti cantik sekali."tanya salah satu staf kantor
"Iya istriku memang cantik sekali, dan kecantikannya hanya untuk saya."ucapnya sambil tersenyum.
"Ayo, kalian ikut meeting kan?"tanya Arsyad.
"Iya pak ikut."jawab mereka.
Arsyad mempercepat langkahnya untuk memenuhi ke ruang meeting dan di ikuti staf lainnya.
*****
Meeting sudah selesai, semua staf kembali ke ruangannya masing-masing. Arsyad masih bersama Ray dan Arsyil di ruang meeting.
"Kak, Arsyil kangen sekali sama kakak, sepi sekali di rumah gak ada kakak."ucap Arsyil.
"Nanti malam kakak ke rumah bersama Mira, sekalian makan malam di rumah, Kakak juga kangen kalian, terutama dengan ibu, kangen sekali masakan ibu."jelas Arsyad.
"Gimana Syad, malam pertamamu?"tanya Ray dengan menggoda Arsyad.
"Ya seperti itu."jawab Arsyad dengan suara rendah.
"Hei, kamu baik-baik saja kan? Apa kamu belum menyentuh istrimu?"tanya Ray.
"Sudah lah, tadi saja aku cium dia, masa tidak menyentuhnya."jawab Arsyad.
"Bukan itu maksud ku Syad, ya memberi nafkah batin untuk Mira."
"Sudah jangan bahas itu, yang namanya sudah menikah ya pasti sudah dong Ray, kamu bagaimana sih?" Arsyad berkata dengan tersenyum agar tak terlihat beban yang ada padanya.
"Pasti tiap malam berkali-kali nih "
"Ya kamu tau sendiri lah Ray, kalau pengantin baru itu bagaimana." Arsyad berusaha menyembunyikan permasalahannya pada Ray.
"Ah kalian mentang-mentang sudah menikah aku di kacangan, tidak di ajak ngobrol." Arsyil yang dari tadi terabaikan oleh mereka akhirnya berbicara.
"Maaf Syil, nanti kamu juga merasakan."ucap Ray
"Oh iya kak, bulan depan Kak Shita mau menikah, kemarin Kak Vino sudah ke rumah membicarakan semua dengan Papah dan Ibu. Awal bulan mereka akan menikah kak."jelas Arsyil.
"Alhamdulillah. Dan, sebulan setelah Shita menikah, kamu harus segera menikah Syil, kakak takut sama kamu, takutnya ada apa-apa dengan kalian, soalnya kamu kan sering sekali berdua dengan Nisa, kemana-mana selalu bareng, yah namanya manusia Syil, barangkali kamu khilaf dan berbuat lebih kan tidak tahu."jelas Arsyad.
"Iya kak, aku juga sudah memikirkan itu semua, benar kata kakak, kalau aku tidak tahan godaan ya mungkin lebih. Tapi, aku dan Nisa tau kak batasnya, dan selama ini juga tidak macam-macam dengannya." ujar Arsyil.
"Gak macem-macem, yakin nih." goda Rayhan.
"Iya lah kak Ray."
Mereka mengakhiri ceritanya, kalau masuk ke dalam ruangannya masing-masing dan mulai fokus dengan pekerjaan mereka.
Arsyad duduk di kursi ruang kerjanya, dia membuka file-file yang harus di kerjakan.
"Ray, maafkan aku, aku memang belum memberika. nafkah batin untuk Mira, bukan aku yang tak mau, tapi karena trauma Mira yang belum sembuh. Dan, maaf aku tak bisa menceritakan semua ini pada kamu Ray."gumam Arsyad dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
Readers : Thor, kalau up kok lama banget sih?
Author : Sengaja biar makin penasaran, dan biar tahu sih kalian bakal setia nunggu atau tidak.hehehe
__ADS_1
Maafkan Author ya sayang, lama kalau up dan sedikit-sedikit. maafkan juga kalau dalam menulis Author masih banyak kekurangan ilmunya. Tolong di bantu ya barangkali ada kesalahan dalam menulis atau menempatkan suatu kata yang kurang pas. Author mohon maaf dan mohon di ingatkan kalau Author ada salah...
Salam sehat selalu dari Author..😘😘😘😘