THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 67 "Kapan Kamu melamarku?" The Best Brother


__ADS_3

Dio masih belum bisa memejamkan matanya. Entah apa yang ia pikirkan, hingga dia belum bisa memejamkan matanya hingga pukul 2 pagi. Raffi sudah tertidur pulas. Dengkuran kecilnya terdengar jelas di telinga Dio. Dio keluar dari kamarnya, dia menuju ke dapur untuk mengambil air minum dan mengambil rokok yang ia simpan di dapur.


Sejak berpisah dengan Rania, dia sering menghabiskan waktu sendiri di rumah dengan setumpuk pekerjaannya. Ya, sekarang dia menjadi seorang peroko semenjak kemelut masalah menimpa hidupnya. Dia membawa sebungus rokok ke teras belakang rumahnya. Sendiri berteman sepi dan sebatangt rokok yang ia sulut yang ia harapkan bisa menenangkan pikirannya dan bisa untuk segere tidur.


Di waktu yang sama, Rania keluar dari kamarnya, dia berniat untuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kamar yang di pakai Rania dan Bunda Annisa tidur memang tidak ada kamar mandi dalamnya, jadi di terpaksa harus ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Rania melihat pintu dapur yang sedikit terbuka. Padahal tadi sebelum tidur dia yang menutup pintu itu.


“Kenapa pintunya terbuka? Perasaan sebelum aku tidur sudah aku tutup?” Rania berkata lirih dan berjalan menuju ke arah pintu yang menuju ke teras belakang.


“Ada asap?” Rania berjalan sedikit mengendap dan hati-hati.


Di balik itu, Dio tahu kalau Rania akan menghampiri dirinya. Rania tidak pernah berubah, pasti pukul 2 sapai 3 pagi dai bangun untuk melaksanakan sholat malam. Dio langsung mematikan rokoknya dan berjalan mendekati pintu. Dio sengaja ingin mengagetkan Rania yang akan ke teras belakang.


“Dor...!” Dio mengagetkan Rania yang berjalan mengendap menuju ke arah pintu.


“Dio...! kamu ngagetin saja! Aku kira siapa, nyebelin kamu!” Rania meninju lengan Dio. Dia masih merasakan detak jantungnya berdentam cepat karena dikagetkan oleh Dio.


“Lagian kamu, jalan ngendap-ngendap gitu seperti mau nangkap maling,” ujar Dio.


Rania hanya mengerucutkan bibrnya karena Dio jahil seperti itu. Memang Dio yang dulu menurut Rania sudah kembali. Dio yang humoris, Dio yang jahil, sudah kembali lagi. indera penciuman Rania merasakan bau asap rokok pada badan Dio. Dia semakin yakin kalau Dio merokok. Rania memang sudah mencurigai Dio merokok sejak dirinya dan Dio berpisah.


“Aku mau tanya sama kamu, tapi jawab yang jujur!” tegas Rania.


“Tanya apa? Aku akan jawab jujur,” ucap Dio.


“Kamu merokok?” tanya Rania dengan penuh selidik.


“Ti--tidak,” jawab Dio dengan gugup.


“Jangan bohong!” sarkas Rania.


“Eng—enggak Rania....!” Dio menjawab dengan gugup dan sedikit penuh penekanan.


“Bohong kamu!” Rania mendorong Dio dan menerobos melewati Dio menuju ke arah teras belakang.


Rania melihat 2 putung rokok yang ada di dalam asbak kecil. Ada rorok dan juga korek api. Rania semakin yakin kalau Dio pasti merokok. Rania mengambil bungkus rokok yang di dalamnya masih tersisi beberpa batang rokok. Dio sudah berada di dekat Rania, dengan wajah yang menampakkan kegusarsan dia mencoba menjelaskan pada Rania.


“Ini apa, hah?!” tanya Rania dengan menunjukkan bungkus rokok tepat di depan wjah Dio.


“I--itu...itu...”

__ADS_1


“Ita...itu... jawab yang benar!” tukas Rania.


“Iya itu punyaku, Ran,” ucap Dio dengan menunduk seperti seorang pelaja SMP yang ketahuan merokok oleh gurunya.


“Sejak kapan kamu menggunakan barang ini?” tanya Rania dengan sarkastik.


“Sejak berpisah denganmu,” jawab Dio. “Tepatnya setelah kamu di luar negeri mengurus ibu, dan saat aku sendiri di sini,” imbuh Dio.


“Bagus...! habiskan semua! Aku mau lihat!” Rania memberikan bungkus rokok itu dengan kasar ke tangan Dio.


“Ran...jangan gitu, dong. Please.... aku gak akan ulangi lagi, Ran.” Dio memohon pada Rania. Rania memandang wajah Dio dengan sengit. Rania tidak menyangka Dio akan seperti itu.


“Kenapa dibuang?” tanya Rania saat Dio membuang rokoknya.


“Maafkan aku, Ran.”


Rania mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia tahu sebenarnya Dio hanya untuk menghilangkan kepenatannya saat sendirian. Dia tahu bagaimana rasanya menjadi Dio. Dia sendiri di rumah ini, di jauhi keluarganya, dirinya juga menceraikannya. Beruntung pelampiasannya hanya rokok saja, coba kalau sampai ke minuman keras atau narkoba, Rania tidak membayangkan kalai itu terjadi pada Dio.


Rania menundukkan kepalanya. Entah mengapa mendengar Dio yang dari tadi bercerita kesepiannya di rumah ini saat semua menjauhkan Dio, Rania merasa sangat iba. Rania menyeka cairan bening yang sudah menerobos keluar dari sudut matanya.


“Ran, kok kamu malah nangis?” Dio memegangi bahu Rania.


“Hai, kok tambah menangis? Ini aku yang salah, aku yang dimarahi kamu, kok kamu yang menangis?” Dio mengusap kepala Rania.


“Karena aku kamu seperti ini, karena aku kamu merokok, kamu juga di jauhi keluargamu. Harusnya aku yang dulu menjadi istri kamu bisa menutupi aib kamu. Tapi, aku tidak bisa, aku egois, aku meninggalkan kamu, aku membuat kamu sendiri dan di jauhi oleh keluargamu. Maafkan aku.” Tangis Rania semakin pecah di pelukan Dio.


“Kamu bicara apa sih, Ran? Ini bukan salah kamu, ini salahku sendiri. Aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang membuat kamu menderita seperti ini. Aku membuat Najwa pergi. Aku membuat semuanya menyalahkan Najwa. Aku sudah menyakiti hati kamu, Ran.” Dio mengeratkan pelukannya pada Rania.


“Ini salah keadaan, Dio. Kita memang tidak bisa menghindari perasaan, aku tahu kamu mencintai Najwa. Dan, aku salah juga yang mau egois menerima perjodohan kita.”


“Sudah, kita buka lembaran baru lagi, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Aku minta maaf, jika masih ada kesempatan, aku ingin memperbaiki hubungan ini dengan kamu.” Dio berkata dengan meregangkan pelukannya.


“Ran, aku bertanya dengan kamu lagi, maukah menikah denganku lagi?” tanya Dio dengan meyakinkan Rania.


Dio menatap wajah sendu Rania. Dio menyeka air mata Rania yang semakin deras menetes di pipinya.


“Ran, jangan nangis dong, jawab aku. Cengeng banget sih, kamu.”


“Kamu yang buat aku nangis kok, nyebelin kamu.” Rania memukul dada Dio.

__ADS_1


“Sudah jawab, iya atau tidak? Mau atau tidak?” Dio meyakinkan Rania lagi.


“Iya, aku mau. Aku mau menikah lagi dengan kamu,” jawab Rania dengan penuh keyakinan.


“Ran, aku tidak salah dengar?” tanya Dio dengan seakan tidak percaya menerima Dio.


“Maunya iya atau tidak?” tanya Rania dengan menggoda Dio.


“Tuh kan, malah gitu, iya gak?” ucap Dio.


“Iya, Dio. Aku mau,” jawab Rania lagi.


“Terima kasih, Ran.” Dio memeluk Rania lagi.


"Tapi Ada Syaratnya?" ucap Rania sambil melepas pelukan Dio.


"Apa Syaratnya?" tanya Dio.


"Jika Najwa kembali, aku tidak mau kamu....."


"Aku tidak akan kembali pada Najwa. Aku janji itu, pegang janji aku, Rania," ucap Dio denan sungguh-sungguh.


"Yakin?"


"Iya, sayang."


"Baiklah, aku pegang janji kamu,"


"Oke, pegang saja," ucap Dio sambil memeluk Rania dengan erat.


“Dio...Dio...aku gak bisa bernapas.” Rania memberontak di peluk Dio karena Dio terlalu kencang memeluk Rania. Dio mencium pipi Rania. Dia merasa bahagia sekali, Rania mau menerima dia kembali.


“Ehem....ternyata kalian. Sudah...kapan mau menikah lagi?” Arsyad ternyata menyaksikan mereka berdua dari tadi.


“Abah....” Rania dan Dio bersamaan menoleh ke arah Arsyad.


“Abah senang, jika kalian bisa rujuk kembali, sini peluk abah.” Arsyad merentangkan tangannya untuk memeluk Dio dan Rania.


Arsyad bersyukur, Rania dan Dio sudah mau membuka hatinya kembali dan Rania sudah membuka hatinya lagi untuk Dio.

__ADS_1


__ADS_2