
Di kantor Annisa, seperti yang Annisa bilang pada Rere, kalau hari ini Alvin atau Zidane mau mengunjungi kantor. Annisa sudah berpesan pada Rere, kalau Alvin atau Zidane datang, suruh dia menunggunya di kantor, karena dia sedang rapat dengan para relasi bisnisnya.
Rere masih sibuk dengan segudang pekerjaannya. Ya, memang hari ini, pekerjaan Annisa di kerjakan oleh Rere semua, karena Annisa dari tadi sibuk mempersiapkan untuk rapat dan sebelum rapat dia juga harus meeting dengan bagian keuangan dulu.
"Akhirnya….selelsai juga. Annisa kok belum pulang? Sudah hampir jam 1 dia belum juga pulang, dan Alvin juga belum ke sini, apa dia tidak jadi ke sini?" ucap Rere sambil menata pekerjaannya yang sudah selesai dan tinggal di tandatangani oleh Annisa.
Rere mengambil sandwich yang ia bawa dari rumahnya, dia memang jarang makan siang, kadang hanya sandwich atau buah-buahan saja untuk makan siang, Rere memang sangat menjaga postur tubuhnya. Tidak heran jika tubuh Rere sangat indah dan seksi. Apalagi di kantor kadang dia memakai celana yang agak ketat, atau kadang memakai rok selutut. Membuat tubuh indahnya terlihat sempurna bagi siapa saja yang melihatnya.
Rere menaruh laporan yang ia kerjakan tadi ke dalam ruangan Annisa. Setelah itu dia kembali ke meja kerjanya untuk menikmati sandwich nya lagi. Tak lama kemudia, dua laki-laki datang menemuinya dan salah satu di antara laki-laki itu, Rere mengenalinya.
"Kenapa dia ikut ke sini? Menyebalkan sekali," gumam Rere dngan kesal.
Ya, Leon ikut ke kantor Annisa bersama Alvin. Dia mang ingin bertemu lagi dengan Rere sebelum kembali lagi ke Berlin. Leon begitu penasaran dengan Rere, karena dia seperti pernah melihat Rere, tapi dia tidak ingat di mana dia melihat Rere dan kapan dia melihat Rere.
"Pak Alvin, ya?"tanya Rere.
"Iya, Annisa belum pulang?" tanya Alvin.
"Belum, mungkin sebentar lagi, silakan duduk dulu, Pak." Rere mempersilakan Alvin duduk.
"Hai, nona, kita bertemu lagi," ucap Leon yang masih berdiri di depan Rere.
"Saya tidak punya urusan dengan anda, karena takut anda mengotori bajuku, lagi," tukas Rere.
"Wah…sudah dong jangan jutek seperti itu, nona. Ya sudah sebagai gantinya bagaimana kalau aku traktir kamu makan malam di sini, dan aku akan ganti semua baju dan sepatumu itu yang aku kotori kemarin," ucap Leon.
"Tidak perlu! Silakan duduk di sana," tukas Rere.
"Rere, jangan jutek-jutek, nanti kamu jatuh cinta sa dia," sahut Alvin yang sudah duduk di sofa depan Rere.
"Tidak mungkin, pak. Aneh, masa iya aku jatuh cinta sama pria sombong ini?" ucap Rere.
"Jangan seperti itu, nanti beneran jatuh cinta, lho Re," ucap Arsyad yang tiba-tiba datang bersama Annisa.
"Ih….Pak Arsyad, apaan sih, ikut-ikutan saja baru datang," ucap Rere yang mulai kesal.
"Pepet terus kalau kamu suka, dia memang jutek, tapi dia baik kok," bisik Nisa pada Leon.
"Benar kata Annisa, kesempatan tidak datang dua kali," bisik Arsyad juga.
"Kalian jangan menghasut dia!" tukas Rere.
"Kami tidak menghasut, Rere. Kalian memang cocok, kok. Ayo Vin masuk ke ruangan ku saja," ucap Annisa dan mengajak Albin masuk ke dalam ruangan Annisa.
"Selamat berjuang, bro," ucap Alvin sambil menepuk bahu Leon.
Leon hanya tersenyum saja, dia seperti mendapat lampu hijau dari mereka, walaupun Rere masih belum mau bicara lembut pada Leon.
"Kenapa masih di sini?" tanya Rere dengan nada cetus pada Leon.
"Aku ingin di sini, lagian aku ke sini hanya ingin liat kamu, dan minta maaf sekali lagi sama kamu soal kejadian kemarin," ucap Leon.
"Oh…aku sudah memaafkanmu, tuan Leon, jadi silakan anda masuk ke dalam, jangan menggangguku," tukas Rere.
"Tidak, aku ingin di sini, tadi aku sudah bilang, akuningin lihat kamu," ucap Leon.
__ADS_1
"Menyebalkan," ucap Rere dengan lirih, dan Leon mendengarnya.
"Awas, jangan bilang orang menyebalkan, nanti kamu jatuh cinta," ucap Leon.
"Tidak mungki," tukas Rere.
Mereka sejenak saling diam , dan hanya mencuri pandang satu sama lain. Leon kadang mencuri pandang pada Rere, dan saat Rere memandangnya Leon membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Tampan sih, tapi menyebalkan," gumam Rere.
"Huh, jutek sekali dia, aku tidak akan pergi ke Berlin sebelum aku tau siapa dia sebenarnya, karena aku benar-benar penasaran dengan dia, dan aku seperti sering melihat dia, tali aku lupa di mana,"gumam Leon.
"Ehem…" Leon berdehem dan mendekati Rere, dia menarik kursi dan duduk di depan Rere.
"Ada apa lagi?" tanya Rere dengan nada ketusnya dan tidak lepas memandangi layar monitor yang ada di depannya.
"Oh, ya, kemarin kamu di depan Sekolahan itu, mengantar siapa?"tanya Leon.
"Apa urusan kamu?" tukas Rare.
"Sudah aku tidak mau berdebat lagi, nona. Karena aku sepertinya sering melihat nona, tapi di mana aku lupa,"ucap Leon.
"Huh….." Rere membuang napasnya dengan kasar.
"Tuan Leon, saya saja baru pernah melihat anda sekarang, masa iya, anda sering melihat saya, aneh," ucap Rere.
"Kemarin saya di depan sekolah, sedang mengantar keponakan saya sekolah, lalu, anda sedang apa di sana? Pakai acara foto-foto sekolahan keponakan saya, atau jangan-jangan Anda mau menculik anak-anak di situ dan mau menjual oragan tubuh anak-anak?" ucap Rere dengan nada yang masih ketus.
"Sembarangan kamu kalau bicara," tukas Leon.
"Tuan dulu pernah sekolah di sini?"tanya Rere dengan nada yang sedikit halus
"Ya, dulu saya sekolah di sini, cuma sampai kelas 2 SMP saja, karena orang tua saya pindah ke Berlin, dan selama itu, saya baru pernah ke sini lagi. Ya ada kenangan tersendiri, saat melihat sekolah dasar itu," ucap Leon.
"Dulu juga aku sekolahnya di situ loh, waktu SD dan SMP juga, tuan," ucap Rere yanh sudah jauh lebih fleksibel mengobrol dengan Leon.
"Oh, ya…?"
"Iya," jawab Rere.
"Kamu seusia Annisa, kan?" tanya Leon.
"Iya, cuma kami mengenal waktu kamu SMA," jawab Rere.
"Oh…berarti waktu aku SMP kamu kira-kira kelas 4 atau 5 SD dong?"
"Bukannya tuan juga sama umurnya dengan Annisa?"
"Ya, cuma aku masuk SD dari kecil, karena umur 4 tahun aku sudah bisa membaca, dan akhirnya aku sekolah SD ikutbdengan Naura, ternyata memang aku pandai, dan selalu dapat peringkat 5 besar, jadi naik kelas terus," jelas Leon.
"Oh….sepeti itu, iya kalau tuan sekolah bareng sama Kak Naura ya berarti waktu itu aku kelas 4 atau kelas 5 nan lah," jawab Rere.
"Jangan panggil tuan, lebih enak kita ngobrol dengan aku-kamu saja," ucap Leon.
"Ah…iya, tapi sepertinya tidak sopan,"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kita masih seumuran,"ucap Leon.
"Ah…iya, deh," jawab Rere dengan sedikit salah tingkah.
Mereka menjadi canggung seketika, saat memutuskan berbicara layaknnya teman. Leon dan Rere saling diam sebentar. Mereka tidak tau apa yang akan mereka bicarakan lagi.
"Ehemm…" Leon bedehem dan memulai untuk mengajak Rere bwrbicaea lagi.
"Bagaimana tawaranku, nanti malam mau, kan, aku ajak makan malam? Sebagai permintaan maaf ku," ucap Leon.
"Emmm….bagaimana ya," jawab Rere bingung.
"Please….untuk merayakan pertemanan kita juga," ucap Leon.
"Pertemanan? Aku tidak bicara kita berteman," ucap Rere.
"Baiklah mulai sekarang, kita berteman." Tanpa aba-aba Leon menarik tangan Rere dan mengajaknya bersalaman sebagai tanda pertemanan mereka.
"Ih…apaan," tukas Rere.
"Sudah, mau tidak?" tanya Leon lagi.
"Mau apa?" Rere balik bertanya pada Leon.
"Makan malam denganku," jawab Leon.
"Emmm….boleh, kamu yang traktir, kan?" tanya Rere dengan bercanda.
"Bukan, biae Arsyad dan Annisa yang mentraktir," ucap Leon .
"Kok mereka?" tanya Rere.
"Lagian, kamu aneh, aku yang mengajak kamu, masa Annisa dan Arsyad yang traktir," jawab Leon.
"Aku kira," ucap Rere.
"Jadi bagaimana? Mau?" tanya Leon.
"Oke, nanti malam kamu yang jemput kan?"
"Iya, nanti malam aku pinjam Jordy atau Kevin untuk mengantar aku ke rumah kamu,"
"Memang Jordy sama Kevin barang, asal minjam saja," tukas Rere.
"Maksudnya minjam sama yang punya mandat, kan Annisa sama Arsyad yang punya mereka, jadi aku pinjam sama Annisa atau Arsyad," ucap Leon.
Mereka sudah sedikit akrab, ya mungkin karena Rere sudah lelah harus menghadapi Leon yang slow dengan kata-kata yang ketus.
"Boleh minta nomor ponselmu?" pinta Leon.
Rere menuliskannya di secarik kertas dan memberikannya pada Leon.
"Boleh, ini." Rere memberikan nomor ponselnya pada Leon.
"Makasih, aku save, nanti aku hubungi kamu, setelah isya, aku menjemputmu," ucap Leon
__ADS_1
"Oke, aku tunggu," jawab Rere.