THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 24 "Martabak Manis"


__ADS_3

Arsyad mengusap air matanya yang sudah jatuh membasahi pipi. Ternyata Almira benar-benar ingin sekali Arsyad menikah dengan Annisa.


"Almira sayang, aku akan mengabulkan permintaanmu, aku akan menikah dengan Annisa,"ucap Arsyad


Rico menepuk pundak Arsyad, dia mencoba menenangkan hati anaknya yang bemar-benar gundah.


"Kamu pasti bisa melewati semua ini, ayo masuk sudah mau maghrib, kamu juga belum mandi, kan?"tanya Rico.


"Iya, lah, ayo masuk." Arsyad dan Rico masuk ke dalam rumah.


Arsyad masuk ke kamarnya, dia masih memikirkan, apa bisa dia hidup satu atap dengan orang yang tidak mencintainya? Dalam hati ya bertanya-tanya seperti itu dari tadi.


"Apa aku bisa, hidup dengan Annisa yang tidak mencintaiku, dan aku juga tak mencintainya. Sudah ini semua demi anak-anak dan demi Almira, aku ikhals menikah dengan Annisa."gumam Arsayd dalam hati.


Di kantor Arsyad, Lintang masih menunggu Arsyad kembali ke kantornya, dari tadi dia bolak-balik bertanya pada Yulia kalau Arsyad sudah pulang apa belum, hingga Yulia agak sewot dibuatnya.


"Pak Arsyad belum pulang, kalau mau titip File taruh saja di sini, nanti aku serahkan, Lin,"tukas Yulia.


"Tidak nanti saja nunggu Pak Arsyad pulang,"ucapnya.


"Kamu mau nunggu Arsyad sampai besok? Ini sudah jam hampir jam 6 sudah usai jam kerja, gak mungkin dia balik, apa lagi sedang pergi dengan calon istrinya,"ucap Ray yang membuat Lintang semakin sakit hati. Sebenarnya Ray sangaja membuat Lintang seperti itu, biar dia tidak mengejar Arsyad terus.


"Makanya jadi cewek jangan kecentilan, kamu mah bukan level Arsyad, Lin,"gumam Rayhan


"Mba Yul, sudah selesai kan? Pulang yuk,"ajak Rayhan.


"Iya pak Ray, ini mau pulang, suami sudah jemput tuh,"ucap Yulia sambil menunjukan suaminya yang sudah berjalan mendekatinya memakai atribut lengkap, karena dia baru pulang bwrtugas.


"Duluan ya, Lin, ini kunci ruangan Pak Arsyad, Pak Ray." Yulia sengaja memberikan kunci ruangan Arsyad agar tidak di salahgunakan oleh orang lain.


"Oke, aku juga mau pulang, duluan Lin." Rayhan berjalan ke depan meninggalkan Lintang.


"Jadi Annisa calon istri Pak Arsyad?"gumam Lintang dalam hati.


^^^^^


Malam hari di ruang keluarga rumah Rico, Arsyad dan Annisa sedang duduk menunggu Papah Rico dan anak-anaknya. Ada hal penting yang ingin di sampaikan mereka papah Rico dan anak-anaknya mengenai permintaan Almira dan semuanya.


Annisa beranjak dari tempat duduknya karena menunggu Papah mertuanya tak kunjung keluar dari kamarnya, juga anak-anaknya yang masih saja belum keluar dari kamarnya.


"Mau ka mana?"tanya Arsyad.


"Mau buat coklat panas,"jawab Annisa.


"Apa tidak bisa nanti?"tanya Arsyad lagi.


"Papah juga gak keluar-keluar dari tadi, cuma sebentar saja ke dapur bikin coklat panas,"ucap Annisa.


"Ya sudah sana, buatkan aku kopi juga,"titah Arsyad.


"Hmmm,"jawab Annisa.


Annisa ke dapur membuat coklat panas untuk dirinya dan kopi untuk Arsyad. Arsyad melihat papahnya dan anak-anaknya baru masuk dari ke dalam rumah, entah mereka dari manak Arsyad tidak tahu. Rico dan cucu-cucunya masuk ke dalam menuju ke ruang keluarga, mereka melihat Arsyad yang duduk sendirian dengan memandangi mereka yang baru saja masuk dengan membawa dua kantong plastik di tangan Rico.


"Papah sama anak-anak dari mana?"tanya Arsyad.


"Dari depan sebentar, ke minimarket sekalian beli martabak manis juga,"jawab Rico.


"Kalianh ngerjain ya, aku nunggu Papah dan anak-anak dari tadi, Arsyad kira kalian masih di kamar, ehh ternyata pergi keluar,"ucap Arsyad.


"Iya, tadinya mau pamit, tapi dengar kamu sedang mengaji, papah urungkan niat papah untuk pamit,"ujar Rico.


"Kalian beli apa, Abah gak di kasih?"tanya Arsyad.


"Nih, martabak manis kesukaan Abah. Mana bunda?"tanya Najwa.


"Di belakang, ya sudah Abah ambil piring dulu ke dapur." Arsyad beranjak pergi ke dapur untuk mengambil piring.


Arsyad sampai di dapur dia melihat Annisa sedang menunggu air panas mendidih untuk membuat kopi dan coklat. Annisa duduk di kursi, dan membelakangi pintu dapur, dia duduk dengan menopang dagu. Arsyad berniat mau menjahili Annisa dengan mengageti Annisa, tapi niat itu ia urungkang setelah mendengar Annisa berbicara lirih.


"Syil, banyak sekali kenangan kita di sini, di sini kita biasa makan bersama, kamu menunggu aku memasak, dan masih banyak yang lainnya. Rasanya baru kemarin, Syil. Maafkan aku, aku akan menikah dengan kak Arsyad, ini semua Dio dan Shita yang minta, juga kak Mira, orang yang sangat aku sayangi,"ucap Annisa lirih.


Dia masih terus melamun, mengenang Arsyil yang selalu manja sekali pada Annisa, mengingat masa- masa indah dengan mendiang suaminya. Dia sesekali menyeka air matanya. Arsyad tahu, kalau Annisa menangis, dia memberanikan diri mendekati Annisa. Dia juga sudah mendengar bunyi air mendidih dari panci kecil di atas kompor. Tapi, karena Annisa asik melamun, dia tak sadar kalau air yang dia rebusnya sudah mendidih.


"Nis, airnya sudah mendidih, malah melamun,"ucap Arsayd sambil menepuk pundak Annisa dan segera berlalu mematikan kompor.


"Ah…maaf, kak. Kakak pasti lama menunggu, jadi kakak menyusul aku ke dapur,"ucap Annisa dengan gugup, dia menyeka air matanya dengan membelakangi Arsyad.


"Iya tidak apa-apa, aku tau kamu sedang apa, mengenang orang yang kita sayangi dan kita cintai itu indah, Nis, walaupun berurai air mata,"ucap Arsyad.


"Iya, kak. Sepertinya baru kemarin aku hidup bersama Arsyil, kini dia sudah meninggalkan aku dan anak-anak"ucap Annisa sambil berjalan menunu Arsyad.


Arsyad menuangkan air panas ke dalam cangkir yang berisi bubuk kopi dan bubuk coklat, setelah selesai dia mengaduknya. Annisa mendekati Arsyad, saat Arsyad membalikan tubuhnya akan mengambil nampan, dia tak sengaja menabrak Annisa yang berada di depannya.


"Awww…kakak! Hobi sekali nabrak-nabrak!"seru Annisa.


Arsyad memegangi pinggang Annisa yang akan terjatuh karena ia tabrak. Arsyad dan Annisa saling bertatapan, dan jarak mereka begitu dekat sekali. Mereka agak lama bertatap wajah.


"Dulu aku mencintai wanita ini. Ingin rasanya waktu itu aku memilikinya, dulu juga sering bermimpi bisa membangun rumah tangga dengan wanita ini. Semesta memang tidak adil. Sekarang, setelah aku tidak mencintainya, aku akan menikahinya." Arsyad berkata dalam hatinya dengan menatap lekatbwajah Annisa.


"Dosen yang dulu mengejar-ngejar aku, meminta aku menjadi istrinya, terang-terangan mengatakan mencintaiku. Aku menolaknya, karena aku lebih memilih kekasihku, Arsyil. Dia adalah adik kandung dosenku, Kak Arsyad. Sekarang, saat semua sudah berubah, dosenku sudah mencintai wanita lain. Tapi, semesta berusaha menyatukan kita, entah bagaimana nantinya, berumah tangga tanpa cinta." Annisa berkata dalam hati dan menatap wajah Arsyad.


Arsyad menyadari apa yang ia lakukan saat ini dengan Annisa, dia menarik hidung Annisa yang mancung itu, hingga Annisa merasakan sakit di bagian hidungnya.


"Yang hobi nabrak itu kamu, Annisa,"ucap Arsyad sambil menarik hidung Annisa.


"Sakit, kak!"ucap Annisa sambil melepaskan diri dari Arsyad.


"Makanya jangan suka nabrak-nabrak,"ucap Arsyad.


"Nih kopi sama coklatnya di bawa, aku mau ambil piring, Najwa beli martabak manis tadi sama papah, makanya ditungguin lama sekali, ternyata mereka jalan ke mini market sama beli martabak,"ucap Arsyad.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo ke depan, mau apa kakak di samping rak piring terus seperti itu,"tukas Annisa.


"Iya, iya, orang lagi jelasin malah seperti itu,"ucap Arsyad.


Annisa meninggalkan dapur dengan membawa coklat hangat miliknya dan kopi untuk Arsyad. Dia meletakan nampan berisi dua cangkir itu ke meja.


"Ah, bunda, kebiasaan buatnya cuma dua,"ucap Shifa.


"Iya, pasti itu punya bunda dan Abah,"imbuh Najwa.


"Kalian mau? Bunda buatkan, deh. Mau coklat atau susu?tanya Annisa.


"Em…susu saja bunda,"ucap Najwa dan Dio.


"Coklat atau vanilla?"tanya Annisa.


"Yang vanilla saja,"ucap mereka bersama.


"Papah mau teh atau kopi?"tanya Annisa.


"Papah air putih saja, sekarang papah sudah mengurangi teh dan kopi, Annisa,"jawab Rico.


"Oke." Annisa kembali ke dapur membuatkan susu untuk anak-anaknya.


Annisa berpapasan dengan Arsyad yang sedang berjalan ke ruang keluarga dengan membawa piring kosong untuk tempat martabak manis.


"Ke dapur lagi mau apa, Nis?"tanya Arsyad.


"Mau buat susu, untuk anak-anak,"jawab Annisa.


"Awas nanti pancinya terbakar,"sindir Arsyad.


"Maksud kakak?"tanya Annisa.


"Di tinggal melamun, gimana panci tidak terbakar,"ucap Arsyad.


"Iya, gak, sudah sana, piringnya sudah di tunggu Najwa tuh,"titah Annisa.


Annisa mengambil gelas dan susu bubuk, dia menyalakan kompor untuk merebus air. Setelah selesai membuat susu Annisa kembali ke depan dan memberikan susu pada anak-anaknya.


Mereka menikmati cemilan dan minumannya sambil bercanda. Annisa melihat ada kebahagiaan pada anak-anakny dan papah mertuanya malam ini.


"Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaan mereka. Wlalaupun pernikahan ini bukan keinginanku, tapi keinginan mereka. Aku ikhlas, asal kalian bahagia,"gumam Annisa dalam hati.


"Kalian adalah bahagiaku, jika dengan Abah menikah dengan bunda membuat kalian bahagia, Abah akan lakukan itu, semua demi kalian,"gumam Arsyad.


Rico membuka percakapanny, dia memastikan kembali apa Arsyad benar-benar mau menikah dengan Annisa atau tidak.


"Syad, Nis, bagaimana keputusan kalian?"tanya Papah Rico.


"Keputusannya, Arsyad tidak bisa, pah. Sayang, kalian boleh panggil pakde dengan sebutan Abah, dan Tante Nisa dengan sebutan bunda tanpa kita menikah,"ucap Arsyad.


"Iya, sayang, karena kita akan menjadi orang tua kalian, walaupun Abah dan Bunda tidak menikah,"imbuh Annisa.


"Abah, bunda, kalian jahat, tidak mengabulkan permintaan budhe,"imbuh Dio.


"Abah, bunda, please, ini demi ummi,"pinta Raffi.


"Abah, sama bunda jahat,"seru Najwa dan Shifa.


Wajah mereka seketika berubah menjadi sendu, terlihat mereka menahan air mata yang akan jatuh dari sudut matanya.


"Arsyad, Annisa, benar kalian tidak mau menikah?"tanya Rico.


"Pah, Arsyad tidak bisa,"ucap Arsyad.


"Iya,Annisa juga tidak bisa,"imbuh Annisa.


"Kalian, jahat!"tukas Raffi.


"Papah kan tadi pagi sudah janji,"ucap Raffi dengan menyeka air matanya. Dia sangat kecewa dengan apa yang dinkataka Abahnya.


"Raffi dengar sayang, iya abah mau menikah dengan Tante Nisa. Abah akan menikah dengan Tante Annisa,"ucap Arsyad.


"Sini peluk bunda, bunda akan menikah dengan Abah kalian,"ucap Annisa dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk anak-anaknya.


"Papah tidak salah dengar?"tanya Rico. Arsyad dan Annisa hanya menggelengkan kepala.


"Sini peluk, kok masih pada diam,"ucap Annisa denga menyimpulkan senyum manisnya yang meneduhkan bagi siapa yang melihatnya.


"Yeay…akhirnya, kita berhasil,"ucap mereka kompak dengan berlari ke arah Annisa dan memeluknya.


"Kok cuma bunda yang di peluk,"ucap Arsyad yang berada di samping Annisa. Semua memeluk Arsyad dan Annisa.


"Sudah, habiskan susu kalian, setelah itu kalian tidur,"titah Annisa.


"Sebentar, masih ingin bersama bunda,"ucap Najwa.


"Aku juga masih ingin bersama Abah,"sahut Dio.


Mereka masih bermanja dengan Arsyad dan Annisa. Kebahagiaan terpancar pada wajah Rico, melihat cucu-cucunya malam ini bahagia sekali.


"Almira, tinggal satu langkah lagi Abah menyatukan mereka, dengan segera Abah akan menggelar acara pernikahan mereka,"gumam Rico.


"Ih, kakak, ini buat Nisa,"tukas Annisa yang akan mengambil martabak di piring dan hanya tersisa satu potong. Tangan mereka saling memegang, karena mengambil martabak bersamaan.


"Kamu kan sudah makan, Nis,"ucap Arsyad yang masih memegang tangan Annisa.


"Kakak juga sudah, ngalah kenapa sama perempuan,"tukas Annisa.


"Kakak masih pengen, baru saja makan dua potong,"ucap Arsyad.

__ADS_1


"Sama, Nisa juga baru makan dua potong,"ucapnya tak mau kalah.


"Lepas ih,"tukas Arsyad.


"Tidak bisa, ini buat aku,"tukas Annisa.


Tanpa sadar kekonyolan mereka berebut martabak disaksikan banyak mata, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Arsyad dan Annisa seperti itu.


"Lepas,"tukas Dio dengan menepiskan tangan Arsyad dan Annisa di atas martabak yang tinggal sepotong itu.


"Kasihan martabaknya, udah kecil di tekan-tekan,"ucap Dio.


"Abah, bunda, kalau mau pegangan tangan pegangan saja, jangan alasan ambil martabak,"imbuh Dio sambil menyatukan tangan Arsyad dan Annisa. Seketika wajah mereka merah merona bagai tomat.


"Ini untuk Abah, ini untuk Bunda, adilkan?"ucap Dio sambil memberika martabak yang di belah menjadi dua. Arsyad dan Annisa masih saja terdiam, mereka merasa malu di hadapan anak-anaknya hanya karena sepotong martabak manis.


"Udah, lepasin tangannya, mau martabak tidak? Kalau tidak Dio makan, nih,"ucap Dio. Annisa dan Arsyad langsung melepaskan gengaman tangan mereka.


"Kamu ada-ada saja, Dio,"ucap Arsyad dengan mengacak-acak rambut Dio.


"Cie..lihat opa, pipi nya bunda sama Abah merah,"ucap Najwa.


"Kalian itu, ya," Annisa mencubit lirih pipi Najwa dan Shifa.


"Sudah dimakan martabaknya, kalian jangan berdebat terus, kasihan martabaknya tidak dimakan,"imbh Raffi.


Rico melihat mereka hanya senyum-senyum sendiri, sambil makan martabak di depannya yang masih ada beberapa potong.


"Syad, Nis, ini kan martabak masih ada, kenapa kalian mesti berebut? Makanya lihat ke sini, pakai alasan mau ambil martabak, benar kata Dio, kalau mau pegang tangan Annisa ya pegang saja, jangan alasannya ambil martabak,"canda Rico.


"Lagiyan papah, masih ada martabanya malah di umpetin gitu,"ucap Annisa.


"Papah senang saja melihat kalian seperti itu, seperti anak kecil,"ucap Rico dengan tertawa.


"Sini Arsyad minta lagi, ini pasti belinya di depan mini market yang sebelah Utara ya, pah?"tanya Arsyad


"Iya, kesukaan kamu dan Arsyil,"ucap Rico.


Annisa menghentikan mengunyah martabaknya mendengar nama Arsyil di sebut Rico,


"Syil, kamu ikhlas, kan? Aku menikah dengan Kak Arsyad?"tanya Annisa dalam hatinya. Dia merasakan napasnya begitu sesak sekali, dia kembali mengingat Arsyil.


Arsyad memerhatikan raut wajah Annisa yang berubah saat papahnya menyebut nama Arsyil.


"Sudah malam, kalian tidur ya, yang belum habis susunya, di habiskan,"ucap Arsyad.


"Baik, Abah,"ucap mereka.


"Ayo, ke kamar kalian, opa antar,"ajak Rico. Dia merasa Annisa menjadi diam karena tadi dia tidak sengaja menyebut nama Arsyil.


"Maafkan papah, Nis, papah tau kamu masih sangat mencintai Arsyil,"gumam Rico dalam hati.


Anak-anak sudah masuk ke kamar masing- masing, begitu juga Rico, dia masuk ke kamarnya. Annisa menta kembali gelas dan piring yang tadi di gunakan. Arsyad ikut membantunya menata di nampan. Setelah tertata semua di nampan Annisa membawanya ke dapur.


Annisa mencuci gelas dan piring kotor yang tadi di gunakan. Dia masih mengingat Arsyil, memori bersama Arsyil kembali mengisi otak Annisa. Air mata Annisa jatuh dari sudut matanya, mengalir semakin deras hingga terdengar isak tangis dan sesegukan.


"Arsyil, maafkan aku,"ucpanya lirih.


Arsyad mendengar Annisa yang sedang menangis sambil mencuci piring, dia mendekatinya dan mencoba menenangkan Annisa.


"Nis, aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, rasanya aku mengkhianati adik ku sendir, Nis,"ucap Arsyad yang sudah berada di belakang Annisa.


Annisa menaruh gelas dan piring yang sudah bersih di rwk piring. Arsyad menarik tangan Annisa dan menyuruh dia duduk di kursi.


"Minumlah," ucap Arsyad sambil memberikan segelas air putih untuk Annisa.


Annisa meminum air putih yang Arsyad berikan tadi, ada rasa sedikit lega dalam hatinya, tapi tetap saja, matanya masih mengeluarkan air mata.


"Sudah jangan menangis, Nis. Ayo tidur, sudah malam, besok kamu ke kantor, kan?"


"Iya, kak,"ucapnya sambil menahan tangis.


"Sudah jangan nangis gini,"ucap Arsyad.


"Kakak kalau mau tidur, tidur saja, Nisa masih pingin di sini,"ucap Nisa.


"Aku tinggal, ya,"pamit Arsyad.


"Iya, kak,"jawab Annisa.


Arsyad masuk ke kamarnya, Annisa masih berada di dapur, dia masih saja teringat Arsyil.


"Syil, benar kata kamu, kalau salah satu dari kita pergi, rasanya jantung ini akan berhenti. Syil, haruskah aku hidup dengan lelaki yang tidak mencintaiku?"tanya Annisa dengan lirih.


Annisa mengingat Arsyil, dia suami yang sangat humoris, jago membuat suana hati menjadi berbunga-bunag setiap hatrinya. Annisa tersenyum sendiri sambil menangis saat mengingat Arsyil yang selalu menggombal tiap harinya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.♥️happy reading♥️


__ADS_2