
Dio melajukan mobilnya menuju ke rumah Annisa untuk menjemput Rania. Dio melajukan mobilnya dengan perlahan. Dia tidak menyangka semalam akan mengatakan hal seperti itu pada Rania. Dio memang sudah tidak ingin lagi menunda perasaannya pada Rania. Dan, semalam dia mengungkapkannya pada Rania. Namun, dia tahu, Rania masih belum bisa menerimanya. Apalagi, dulu dirinya memperlakukan Rania seperti itu.
Dio melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia mengingat seseorang yang sudah memberikan jam tangan itu pada Dio. Siapa lagi kalau bukan Najwa. Iya, Najwa memberikan jam tangan yang Dio kenakan itu saat Dio berulang tahun. Dio menepikan mobilnya, dan menghentikan laju mobilnya.
Dio melepaskan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya itu. Dia melihat setiap inci jam tersebut.
"Maaf Najwa, kita sudah berakhir. Aku tidak ingin merusak hidupmu lagi. Bahagialah kamu di sana. Dan, aku juga berhak untuk bahagia. Meraih cintaku lagi. Aku mencintai Rania. Aku tidak ingin Rania sakit lagi karena hubungan kita, Najwa. Dan, maaf aku akan membuang semua yang berhubungan tentang kamu." Dio membuang jam tangannya dari jendela mobil. Dia sudah tidak ingin mengingat Najwa lagi, dan dia sudah ingin serius dengan Rania. Mengajak Rania untuk menikah lagi.
Dio melajukan mobilnya lagi untuk ke rumah abahnya. Dio memang sengaja datang lebih pagi. Karena dia rindu dengan masakan bundanya dan ingin sarapan bersama bundanya.
Dio memarkirkan mobilnya di halaman, dia langsung bergegas turun dan masuk ke dalam rumah abahnya. Terlihat Rico sedang menikmati secangkir teh dengan membaca surat kabar di teras rumah.
"Pagi, Opa," sapa Dio.
"Pagi, kamu tumben ke sini pagi-pagi sekali?" tanya Rico.
"Kan ada pujaan hatinya di sini, Pah. Jadi ke sininya lebih awal," jawab Arsyad yang tiba-tiba keluar dari dalam.
"Ih, Abah. Dio ingin sarapan di sini, kangen masakan bunda," ucap Dio.
"Kangen Rania juga boleh, Abah sudah tahu. Semalam juga sepertinya ada yang baru saja mengungkapkan perasaannya," ledek Arsyad lagi sambil duduk di sebelah Rico.
"Abah sok tahu, ih. Emang bener Dio pingin sarapan bareng bunda, opa, dan abah." Dio berkilah, padahal memang dia ingin bertemu Rania juga. Dio selalu suka saat Rania baru saja bangun tidur di pagi hari. Wajah cantiknya yang asli sangat mengindahkan indera penglihatan Dio kala Dio menatapnya.
"Dio memang mau bertemu Rania juga, sih. Dio mau mengantar Rania ke rumah sakit, dan sekalian ke kantor," imbuh Dio.
"Sekalian kencan juga, kan? Sudah, kalian mau kucing-kucigan sampai kapan? Kalian jangan menyembunyikan perasaan kalian. Opa tahi, kalian saling membutuhkan dan saling mencintai," ujar Rico.
Dio mendekati opanya dan duduk di sebelahnya. Sebuah meja kayu bundar yang memisahkan jarak antar Dio dan opanya.
"Dio tidak tahu opa. Perasaan Dio untuk Rania muncul kembali. Rasanya seperti dulu, saat baru jatuh cinta dengan Rania. Dio yakin, Dio mencintai Rania, tapi tidak untuk Rania. Mungkin karena Dio terlalu menyakiti Rania, jadi dia tidak mempercayai Dio lagi." Dio mencoba jujur pada opa dan juga abahnya.
Arsyad beranjak dari tempat duduknya dan beralih mendekati Dio. Dia duduk di samping Dio dan menepuk pundak Dio.
"Kamu laki-laki, buktikan pada Rania, yakinkan dia. Abah tahu, Rania masih sangat mencintaimu, Dio. Dan, lupakan Najwa. Dia kakak sepupumu, dia juga saudara satu susuan dengan kamu. Abah memang sempat kecewa dengan kamu dan Najwa, tapi Abah sadar, memang cinta kadang membutakan segalanya. Jadi mulai sekarang, buka lembaran baru lagi bersama Rania. Abah yakin, Rania pasti bisa menerimamu kembali." Arsyad memberikan nasehat pada Dio.
Dio mencoba mencerna ucapan abahnya. Benar kata abahnya, dia harus segera membuka lembaran baru lagi dengan Rania. Dan melupakan semua tentang Najwa yang sudah membuat hidupnya hancur. Pernikahannya hancur hanya karena dia tidak bisa mengendalikan hatinya untuk cinta yang salah.
"Iya, Abah, Dio akan meyakinkan Rania lagi, dan Dio akan melupakan Najwa. Maafkan Dio, Abah, yang sudah membuat semuanya menjadi berantakan. Dan hingga sekarang kita tidak tahu di mana Najwa."
"Ini bukan salahmu saja. Ini juga salah Abah, yang tidak bisa tegas dengan kamu dan Najwa. Kita semua keluarga, jangan sampai keluarga ini terpecah lagi karena keegoisan. Abah juga minta maaf, memang Abah selama ini kecewa dengan kamu. Tapi, abah yakin, kamu tidak akan mengecewakan Abah lagi," ucap Arsyad.
"Dio tidak akan mengecewakan Abah lagi, Dio janji abah. Doakan Dio, agar bisa kembali lagi bersama Rania."
"Itu pasti." Arsyad menepuk pundak Dio.
^^^
Rania dan Annisa menyiapkan sarapan di meja makan. Seperti itu Annisa dan Rania saat bersama, mereka selalu kompak seperti ibu dan anaknya. Apalagi sekarang Shifa jarang di rumahnya. Shifa menginap di rumah Annisa saat Fattah sedang berada di luar kota saja. Dio melihat dari kejauhan Rania begitu akrab dengan bundanya.
Senyuman tipis menghiasai wajah Dio. Dio berjalan mendekati mereka. Dio mencium pipi Annisa. Memang seperti itu Dio, jika sedang bersama dengan Annisa dan akan sarapan pasti mencium pipi bundanya. Dulu bahkan setiap pagi saat Dio masih remaja dan belum mengenal rumitnya cinta seperti sekarang.
"Pagi bunda." Dio memeluk bundanya dan menciumnya.
"Pagi, kamu tumben sudah di sini?" tanya Annisa.
"Kangen masakan bunda," jawabnya dengan manja.
"Kangen bunda atau kangen dengan wanita di samping bunda ini?" tanya Annisa dengan meledek Dio.
"Dua-duanya," jawab Dio yang membuat Rania menoleh ke arah Dio dengan menajamkan matanya.
"Hmm … pantas ke sini pagi-pagi sekali," ujar Annisa.
"Ran, jadi kan?" tanya Dio pada Rania.
"Iya, jadi," jawabnya.
"Kalian mau ke mana?" tanya Annisa.
"Kencan dong bunda," jawab Dio.
"Ehhh … gak bunda, jangan percaya Dio. Rania minta diantar ke rumah sakit, setelah itu ke kantor." Rania menjawab dengan gugup.
"Kencan juga tidak apa-apa, Kak," ujar Arkan yang sudah bersiap-siap mau ke sekolah.
"Kamu itu, tahu apa soal kencan, Arkan?" tanya Rania.
"Jangan salah, dia ceweknya banyak," ucap Dio.
"Sama lah, kamu juga iya. Dulu siapa itu yang ngejar-ngejar kamu, Siska, Aina, Yesi, duh siapa lagi itu. Pantas saja Arkan punya banyak cewek," ledek Rania
"Halah … kayak kamu cowoknya gak banyak," ucap Dio.
"Kalian kok malah ribut?" ucap Arkan.
"Iya, malah kalian seperti anak kecil," ujar Annisa.
"Tuh Rania yang mulai duluan," ucap Dio.
"Kamu yang mulai." Rania tidak mau kalah.
"Kamu, Ran. Kan tadi kamu yang mulai,"
"Kak Dio, Kak Rania. Ribut aja, sudah Arkan yang salah. Kalian seperti anak ABG aja, dah lah, balikan lagi," ujar Arkan.
"Kak Rania tidak mau, bantuin dong." Dio berkata sambil menyenggol lengan Arkan.
"Cemen kamu, Kak. Kejar dong sendiri. Kak Raffi juga lagi ngejar cewek. Makanya gak pulang-pulang dari kemarin," ucap Arkan.
"Sok tau kamu, sudah siang, buruan sarapan." Annisa mengambilkan sarapan untuk Arkan.
"Memang Raffi di mana, bunda?" tanya Dio.
__ADS_1
"Biasa, dia di rumah Umminya. Katanya sayang sih, rumahnya kosong. Sudah 3 hari dia di sana," jawab Annisa.
"Aku tahu, pasti dia sedang dekatin Kak Alina," ucap Dio.
"Mungkin saja, biarlah. Kalau mereka cocok, bunda oke-oke saja sih, Abah juga setuju," ucap Annisa.
"Kak Alina kan 10 tahun lebih dewasa, bunda?"
"Bagi bunda sih tidak masalah, toh Abah juga sama ummi Almira lebih dewasa ummi 4 tahun dari Abah."
"Kan 4 tahun, ini hampir 10 tahun, bunda. Tapi gak apa-apa sih. Kalau mereka saling cocok, tidak ada salahnya. Lagian Kak Alina juga masih terlihat muda sekali."
"Kak Alin yang di taman baca itu, kan?" tanya Rania.
"Iya, Ran," jawab Dio.
"Dia umurnya 10 tahun lebih dewasa dari kita? Kok wajahnya sama seperti kita, masih sama seumuran kita?" Rania bertanya dengan tidak percaya. Rania mengira Alina seumuran sama dengan dirinya.
"Kan, Abah pernah bilang perasaan, pernah candain Raffi juga di depan kita," ucap Dio.
"Aku lupa Dio, atau mungkin aku tidak mendengarkan," ucap Dio.
"Sudah kita sarapan, itu Abah dan opa sudah ke sini," ujar Annisa.
Pagi ini suasana rumah Arsyad terlihat sedikit lebih ceria di banding hari-hari sebelumnya. Arsyad menemukan lagi Dio yang dulu. Dio yang selalu humoris dan menyayangi Arsyad.
^^^^
Dio mengantarkan Rania ke rumah sakit. Mereka sedikit canggung di dalam mobil, tidak seperti biasanya. Mungkin karena semalam Dio mengutarakan perasaannya pada Rania, jadi Rania sedikit salah tingkah dan canggung dengan Dio.
"Ran,"
"Iya, ada apa, Dio?"
"Kok diam saja? Ngobrol dong, biasanya ada saja yang kamu ceritakan?"
"Mau ngobrol apa, Dio?"
"Ya terserah kamu,"
Rania hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya. Ada perasaan bergemuruh dalam hatinya, saat mengingat ucapan Dio tadi malam.
"Ran, kamu gak usah konsultasi dengan dokter deh, apa kamu belum percaya soal kemarin? Evan kan juga bilang dan mengaku pada polisi belum menyentuhmu," ucap Dio.
"Tapi, Dio,"
"Tapi apa? Kalau Evan sudah menyentuh kamu, kamu harusnya merasa, Rania."
"Iya juga sih."
"Ya sudah, tidak usah ke dokter. Dokternya nanti bingung, statusmu apa tapi kamu masih perawan." Dio berbicara dengan tertawa.
"Ih, apaan sih!" Rania mencubit lengan Dio.
"Aduh …. sakit, Rania. Kamu hobi nyubit sekarang, merah ini," ucap Dio sambil mengusap lengan yang di cubit Rania.
"Ganti rugi nih,"
"Ganti rugi apa?"
"Kita jalan, yuk?" ajak Dio.
"Aku kerjaan banyak, Dio."
"Ya sudah kapan-kapan saja kita jalan. Jadi ini mau ke rumah sakit tidak?" tanya Dio.
"Tidak usah lah. Benar kata kamu, nanti dokternya bingung. Aku percaya kamu," jawab Rania.
"Oke, jadi ini mau langsung ke kantor?"
"Iya, lah, mau ke mana lagi. Nanti kamu turun dulu, aku mau nitip dokumen kemarin yang dari Astrid sudah selesai aku tanda tangani."
^^^^
Sesampainya di kantor, Dio turun dengan Rania. Dio berjalan di samping Rania menuju ke ruangan Rania. Seorang wanita berparas cantik melihat kedekatan Rania dengan Dio. Mereka memang terlihat sangat dekat sekali pagi ini. Apalagi Dio dari tadi meledek Rania karena memakai baju bundanya yang sedikit kebesaran.
"Mereka setiap hari bertambah dekat saja, padahal Mba Rani kan mau menikah dengan Pak Evan. Kok aku jadi seperti ini? Tidak, Astrid, kamu tidak boleh jatuh cinta pada Pak Dio," gumam Astrid.
Dio dan Rania menuju ke meja Astrid. Seperti biasa Dio duduk di depan Astrid dan meminta dokumen yang kemarin ia titipkan.
"Dio, aku tinggal ke dalam ruangan ku sebentar," pamit Rania.
"Iya, Ran," jawab Dio.
Dio melihat Astrid yang sedang melamun dengan tatapan kosong. Dio melambai-lambaikan tangannya di depan Astrid. Astrid tetap masih diam dan melamun.
"Astrid…" panggil Dio.
"Ah iya Pak Dio, maaf." Astrid terjingkat saat Dio memegangi tangannya untuk menyadarkan lamunan Astrid.
"Jangan melamun, ini masih pagi tidak baik, nanti kamu kesambet," ucap Dio dan dengan tangan yang masih memegang tangan Astrid.
"Siapa yang melamun, tidak kok," bantah Astrid.
"Ya sudah, ini aku ambil dokumennya aku ke dalam dulu menemui Rania." Dio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan untuk masuk ke ruangan Rania.
^^^
Rania sedikit berlari dari arah pintu menuju kursi kebesarannya. Dia sebenarnya tadi ingin keluar menemui Dio lagi, tapi dia terlanjur melihat pemandangan yang tidak mengenakkan indera penglihatannya.
Saat akan keluar dari ruangannya, dia melihat Dio sedang memegangi tangan Astrid. Dia tidak menyangka Dio seperti itu. Padahal ucapan Dio semalam masih terngiang di telinganya, saat Dio mengatakan bahwa Dio masih mencintainya dan berharap dirinya kembali lagi bersama Dio.
"Ran, dokumennya sudah aku ambil. Aku ke kantor ya?" pamit Dio.
__ADS_1
Rania masih menatap Dio dengan penuh tanda tanya. Dia merasa Dio membohonginya lagi. Dan mungkin benar, karena Najwa tidak ada, dia melampiaskannya dengan Astrid dan dirinya.
"Sudah mesra-mesraannya dengan Astrid?" Rania tiba-tiba melantunkan pertanyaan itu pada Dio, hingga Dio bingung dan hanya mengernyitkan dahinya.
"Mesra-mesraan? Maksudmu?" tanya Dio sambil mendekati Rania.
"Aku bilang kalau di kantor, jaga etikamu. Gak usah pegang-pegangan lagi. Aku tidak suka!" Rania berkata dengan begitu marahnya dengan Dio.
"Pegang-pegangan? Maksudmu?" tanya Dio lagi.
"Kamu cemburu? Tadi aku memegang tangan Astrid, karena hanya menyadarkan lamunan dia saja. Aku ngajak bicara dia, tapi dia malah melamun, ya aku pegang tangan dia. Masa iya aku pegang-pegang dia." Dio menarik kursi ke sebelah Rania dan duduk di sampingnya.
"Sudah sana pergi, jangan di sini. Nanti pacarnya cemburu kamu lama-lama di sini!" Rania mendorong Dio dan menyuruhnya untuk pergi.
"Yang cemburu itu kamu, Rania. Rania, jangan bohong dengan perasaanmu. Demi Allah aku tidak ada apa-apa dengan Astrid. Aku hanya menganggap dia sekretaris kamu, dan karena kamu baik dengan dia. Ya, aku baik juga dengan dia."
"Sudah sana pergi!" usir Rania lagi pada Dio.
"Ran, kalau kamu mengusirku aku malah gak mau ke kantor. Aku akan tetap di sini."
"Untuk apa? Untuk bersama dengan Astrid."
"Iya, kalau di bolehkan kamu."
"Kok gitu? Ternyata kamu tidak ada Najwa pelampiasannya ke wanita lain, ya?"
"Maksud kamu? Kenapa bawa Najwa? Tidak ada hubungannya dengan Najwa, Rania."
"Kamu bicara seperti semalam juga karena untuk pelampiasan saja, kan? Karena Najwa pergi?"
"Ran, aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku. Aku semalam berkata jujur, apa adanya. Dan satu lagi, tidak ada hubungannya dengan Najwa."
"Apa perlu aku tegaskan lagi? Kalau aku benar-benar mencintaimu, Rania. Aku tidak main-main dengan kata-kataku ini. Demi Allah, aku ingin kamu. Aku mencintaimu." Dio kembali meyakinkan Rania. Kali ini Rania percaya pada Dio. Pendar mata Dio, menyiratkan kalau Dio benar-benar tulus, tidak ada kebohongan dalam diri Dio.
Rania masih duduk terpaku mencerna ucapan Dio. Dia masih menatap wajah Dio, dan kali ini dia menatap mata Dio yang benar-benar menyiratkan suatu ketulusan.
"Ran, aku mencintaimu." Dio mengatakan itu sekali lagi pada Rania.
"Dio, maaf aku ….."
"Aku tidak memaksa kamu untuk membalasnya sekarang. Aku tahu, hati kamu belum siap menerimaku lagi. Aku akan menunggumu, Rania."
"Iya, aku masih belum siap, Dio."
"Ya sudah, jangan di pikirkan, siapkan hatimu dulu, Ran. Aku ke kantor," pamit Dio.
Dio berjalan untuk ke luar dari ruangan Rania. Rania mengekori Dio yang mau keluar. Dio melihat Rania yang ikut berjalan di belakang Dio.
"Kamu mau ikut ke kantor ayah, Ran?"
"Emmm…tidak."
"Lalu kenapa kamu ikut aku?"
"Aku ….."
Dio menarik Rania ke dalam pelukannya. Dia tahu, Rania masih sangat mencintai dirinya. Hanya saja, Rania pasti masih bimbang dan ragu. Dan, pasti beranggapan kalau Rania akan jadi pelampiasannya saat Najwa tidak ada.
"Jangan pernah berpikir aku bicara seperti tadi hanya untuk menjadikan kamu pelampiasan saja. Aku benar-benar ingin kembali padamu, Ran. Aku ingin kamu menjadi istriku lagi. Aku mencintaimu." Dio mengeratkan pelukannya pada Rania. Rania merasakan Dio yang benar-benar tulus mencintai dirinya.
"Aku percaya Dio, tapi aku belum bisa, aku belum siap sakit hati lagi, saat nanti Najwa pulang, dan kamu….."
"Aku tidak akan berpaling darimu. Aku tidak akan kembali pada Najwa. Aku janji. Kamu pegang janjiku, Rania."
"Jika kamu serius, aku mohon, tunggu aku siap, Dio."
"Aku akan menunggumu,"
Dio melepaskan pelukannya pada Rania. Dia mengusap air mata Rania yang sudah membasahi pipinya.
"Jangan menangis. Aku mencintaimu." Dio mencium kening Rania dengan sayang. Hati Rania bergemuruh, dia tidak bisa membohongi dirinya, kalau dirinya masih sangat mencintai Dio. Namun, dia belum siap untuk memulai lagi kisahnya dengan Dio. Dio mendekatkan wajahnya pada wajah Rania.
"Mba Rania, ma-af, ini dokumennya." Astrid memberikan dokumen pada Rania saat Dio hendak mencium bibir Rania.
"Ah … iya Astrid, terima kasih." Rania berkata gugup dan salah tingkah.
"Iya, Mba." Astrid keluar dengan menundukkan kepalanya dan dengan mata berkaca-kaca.
"Dio, Astrid menyukaimu?" tanya Rania.
"Aku tidak tahu, Ran," jawab Dio.
"Kamu peka dong jadi laki-laki. Kamu juga sih, sukanya bikin baper wanita."
"Siapa bilang tidak peka. Aku hanya peka dengan kamu saja. Dan, aku tidak pernah membuat dia baper. Dia saja yang kebaperan sendiri."
"Tuh Astrid nangis."
"Dih apa urusanku."
Rania berdecak kesal, karena Dio seperti itu. "Sudah sana berangkat." Rania menyuruh Dio ke kantornya.
"Iya, ini mau berangkat. Ciumnya mana." Dio mendekatkan pipinya di depan wajah Rania.
"Nih cium." Rania mencubit pipi Dio.
"Kan nyubit lagi." Dio mengusap pipinya yang di cubit Rania.
"Sudah, nanti pacarmu cemburu," ucap Rania dengan kesal.
"Siapa? kamu yang cemburu kali," ujar Dio.
Dio memeluk Rania lagi. Dia mencium kepala Rania. Dio semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Jangan cemburu. Percaya padaku, aku tidak akan ingkar janji." Dio meyakinkan Rania lagi. Rania hanya menganggukkan kepalanya.
Dio melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke kantor ayah Rania. Dia hanya menemui karyawan yang ada di kantor Reno, dan setelah itu dia langsung menuju ke kantornya.