THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 58 " Suaraku Mahal" The Best Brother


__ADS_3

Hubungan Rania dengan Evan sudah semakin dekat. Makan malam kemarin bersama keluarga Evan, memutuskan Rania mau bertunangan dengan Evan. Ya, meskipun berat untuk Rania. Tapi, mau bagaimana lagi, dia terlalu sering menolak lamaran dari keluarga Evan. Dan, kali ini Rania memutuskan untuk mau bertunangan dengan Evan. Mengingat dia sering menolak Evan dan rasa tidak enak dengan keluarga Evan.


Namun, Rania masih belum siap untuk bertunangan dengan Evan. Dan, akhirnya, dia memutuskan mengundur pertunangannya hingga pergantian tahun. Evan menyadari kalau Rania masih memiliki rasa pada Dio. Namun, keluarga Evan terus mendesak Evan agar sesegera mungkin menikahi Rania.


Evan masih terpaku duduk di depan papahnya. Evan terus di desak oleh papahnya yang ingin sekali menguasai perusahaan milik Reno, mendiang ayah Rania. Frans, papahnya Evan, adalah seorang pengusaha, tapi dia sering bermain licik dengan rekan bisnisnya. Dan, dia adalah orang yang tamak. Evan sebenarnya tidak ingin seperti itu, karena cinta Evan memang benar-benar tulus dengan Rania. Hingga dia rela bersabar menunggu hati Rania siap untuk menikah lagi.


"Pah, Evan tidak bisa memaksa Rania." Evan masih tetap pada pendiriannya untuk menunggu Rania siap untuk menikah.


"Semakin lama kamu menunda, Dio dengan senang menikmati perusahaan mendiang ayahnya Rania, Evan. Jika kamu sudah resmi menjadi suami Rania. Semua aset perusahaan Reno menjadi milikmu, dan kamu, akan jadi pengusaha besar." Frans menyeringai membayangkan jika perusahaan Reno yang besar itu jatuh ke tangannya.


"Pah, aku tidak peduli perusahaan Om Reno di kelola Dio, aku hanya ingin Rania siap, siap mencintaiku, pah. Apalah artinya perusahaan besar kalau Rania tidak mencintaiku?" Evan sedikit berbicara dengan intonasi tinggi pada papahnya.


"Kamu jadi laki-laki jangan bodoh, Evan. Jangan karena cinta kamu rela mengorbankan sesuatu hal yang berharga, yaitu perusahaan besar milik Reno. Kamu jangan dibodohkan oleh cinta." Frans lagi-lagi mendoktrin otak Evan agar mengikuti jalannya.


"Evan tetap tidak bisa, maaf pah." Evan berkata sambil meninggalkan ruangan papahnya.


Dia mencoba menangkan diri di ruangannya. Mencoba mencerna ucapan papahnya. Tapi, dia tidak bisa untuk melakukan itu.


"Aku punya jalan sendiri, pah. Bukan soal perusahaan yang aku inginkan, tapi Rania. Aku harus bisa menaklukkan Rania, dengan itu semua, Rania pasti bisa menyerahkan semuanya. Dirinya akan seutuhnya menjadi milikku, dan perusahaan besar milik Om Reno, perlahan akan jatuh ke tanganku." Evan berkata lirih dan tersenyum licik memikirkan bagaimana caranya mendapatkan Rania.


"Dengan cara ini, pasti Rania akan segera memintaku untuk menikahinya. Kamu janda, Rania. Tidak mungkin kamu tidak menginginkan sentuhan yang lebih dari seorang lelaki," ucap Evan dengan memandangi foto Rania.


Evan mengepalkan tangannya, saat melihat Dio dan Rania berfoto berdekatan dengan teman-teman SMP nya dulu. Memang Rania sekarang sedang berkumpul bersama teman-temannya dulu untuk membahas reuni yang akan di adakan nanti akhir atau awal tahun.


"Sialan, mereka masih sedekat ini! Pantas saja Rania sama sekali tidak mau aku sentuh, bahkan aku gandeng tangannya saja dia tidak mau. Padahal dia sudah mau bertunangan dengan aku." Evan berkata dengan mengepalkan tangannya.


^^^


Rania pulang bersama Dio setelah selesai menemui teman-temannya di restoran. Dio sebenarnya ingin menanyakan hubungan Rania dengan Evan. Dio khawatir dengan Rania karena dia pernah memergoki papahnya Evan sedang berbicara dengan rekan kerjanya membahas perusahaan ayahnya Rania yang di kelolanya.


Dia mendengar dengan jelas, jika Rania sudah menikah dengan Evan, perusahaan yang di pegang Dio akan di ambil alih oleh Evan. Bagi Dio, ini bukan masalah perusahaan. Ini adalah masalah masa depan Rania. Dia takut setelah Evan menikah malah menyakiti Rania dan hanya ingin mendapatkan perusahaan Rania dan perusahaan ayah Rania.


"Ran," panggil Dio.


"Iya, ada apa?" tanya Rania.


"Kamu masih sibuk chat dengan Evan?" tanya Dio.


"Iya, dia marah, melihat foto yang aku post di story' WhatsApp," jawab Rania.


"Seperti anak kecil, dikit-dikit marah," ujar Dio.


"Mungkin dia cemburu," jawab Rania.


Dio terdiam sejenak Rania berkata seperti itu. Sepertinya Rania juga sudah mulai terbawa oleh Evan. Dia menjadi penurut denan Evan, hingga story' WhatsApp nya langsung ia hapus.


"Ran, aku mau tanya boleh?" tanya Dio.

__ADS_1


"Iya, boleh," jawab Rania.


"Ran, apa kamu mencintai Evan? Dan benar kamu sudah mantap untuk bertunangan dengan Evan, lalu menikah dengannya? Maaf aku tanya seperti ini," tanya Dio.


Rania berpikir sejenak, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Dio. Dia masih mencintai Dio, jika ada kesempatan untuknya hidup dengan Dio lagi, dia ingin hidup dengan Dio, menjadi pendamping Dio lagi. Namun, sayangnya Dio tidak mencintainya.


"Aku mencintaimu, Dio. Tapi, kamu tidak mencintaiku. Dan, aku akan belajar mencintai seseorang yang mencintaiku, karena aku tidak mau mengajari orang untuk mencintaiku, tapi ujung-ujungnya menyakitkan dan orang itu tetap pada cintanya," gumam Rania.


"Ran, kok diam?" ucapan Dio membuyarkan lamunan Rania


"Dio, aku akan belajar mencintai seseorang yang mencintaiku, karena aku tidak mau mengajari orang untuk mencintaiku," jawab Rania.


"Meski kamu tidak mencintainya?" tanya Dio.


"Iya, belajar mencintai orang yang mencintai kita memang sakit, tapi lebih sakit, mengajari seseorang untuk mencintai kita, tapi orang itu tetap pada cintanya. Itu menyakitkan Dio." Rania berkata seperti itu meski bibirnya berat untuk mengatakan itu semua.


"Ran, andai saja, orang yang kamu ajari untuk mencintaimu kini mulai mencintaimu bagaimana?" tanya Dio lagi.


Rania menoleh menatap Dio yang masih serius mengemudikan mobilnya. Rania tidak menyangka Dio akan berkata seperti itu.


"Maksud kamu?" tanya Rania.


"Sudah tidak usah di bahas. Aku tanya seandainya saja," jawab Dio.


"Nyebelin," ucap Rania sambil menyubit lengan Dio.


"Sayang? Aku tidak salah dengar? Atau kamu sedang mabok?" tanya Rania dengan menatap wajah Dio yang sedikit salah tingkah.


"Apa salahnya panggil sayang, sayang juga bukan berarti pacar, kan? Kita itu sudah seperti saudara. Kamu dengan keluargaku sudah dekat sekali. Kalau kamu keberatan, maaf, aku tarik kembali deh kata-katanya. Sakit, Rania. Jangan nyubit-nyibit, dong." Dio tersenyum manis di depan Rania yang membuat Rania ingat dengan senyuman Dio kala dulu.


Rania ingat, Dio dulu adalah teman pria yang paling kocak dan konyol. Ya, dia humoris, banyak sekali cewek yang suka dengan Dio, karena Dio orangnya supel, dan apa adanya. Dan, kali ini Rania merasa Dio yang dulu kembali lagi. Dio yang angkuh dan pendiam, kini menjadi Dio yang pertama ia kenal. Rania masih terdiam menatap Dio yang kini berubah seperti Dio yang dulu lagi. Dio yang dulu kini kembali lagi.


"Kenapa diam? Gak usah lihatin aku gitu, nanti jatuh cinta lagi," kelakar Dio dengan di iringi oleh tawa renyahnya melihat pipi Rania memerah.


"Apaan sih, gak lucu!" tukas Rania.


"Kamu yang lucu. Di panggil sayang saja udah merah gini wajahnya. Udah, kembali lagi, aku mau tanya lagi nih," ucap Dio.


"Apaan sih, kok jadi mengintrogasi aku, ya?" Ucap Rania.


"Ran, ini masalah perusahaan ayah. Jika kamu menikah otomatis perusahaan ayah akan di kelola suami kamu, kan? Aku titip pesan saja sama kamu. Aku mohon, perusahaan ayah kamu yang kelola bersama adik ayahmu. Ya paman kamu yang kemarin itu. Karena ini adalah hak kamu dan keluargamu. Aku mau mengelola perusahaan ayah, karena aku menghargai permintaan terakhir ayah, dan semua keluarga kamu juga tahu itu. Jadi setelah kamu menikah lagi, mau kamu menikah dengan Evan atau orang lain, aku akan menyerahkan semua pada pamanmu, bukan pada suamimu nanti. Kecuali, kamu menikah dengan aku lagi, mau tidak mau aku kelola milik ayah." Dio menjelaskan semua pada Rania. Dan, Rania semakin tahu, kalau Dio tidak setuju Rania menikah dengan Evan.


"Aku bukan wanita bodoh Dio, aku tahu, Evan dan Om Frans mengincar perusahaan ayah. Benar kata kamu, kalau kamu berpikiran seperti itu," gumam Rania.


"Kenapa seperti itu?" tanya Rania.


"Kamu tahu Ummi Almira? Budheku, Umminya Najwa dan Raffi," tanya Dio.

__ADS_1


"Iya, tahu. Kenapa Dio?" tanya Rania.


"Eyang Fajri, abahnya Ummi perusahaannya sangat besar, bahkan sekarang berkembang pesat karena di kelola keponakannya, dulu Abah yang di suruh mengelola, tapi setelah Ummi meninggal, perusahaan itu di kelola bersama dengan sepupu Eyang, dan akhirnya Raffi yang mengelola sekarang," jelas Dio.


"Lalu apa hubungannya dengan perusahaan ayah?" tanya Rania.


"Kamu belum paham?" tanya Dio.


"Iya," jawabnya.


"Kamu katanya pintar, aku bilang gini saja, tidak bisa menyimpulkan, payah." Dio mengusap lembut kepala Rania.


"Jadi begini, Ran. Evan sebagai seorang suami tidak berhak untuk perusahaan milik ayah kamu. Karena dalam perusahaan ayah kamu, masih ada hak untuk kamu dan saudara ayah kamu. Seperti kamu, Adik ayah kamu, dan anak kamu kelak. Sebelum kamu memiliki anak, ada baiknya kamu kelola bersama dengan paman kamu. Abah sebenarnya melarang aku mengelola perusahaan ayah kamu. Abah menyangka aku menikmatinya, padahal selama ini kamu tahu, keluar masuknya uang perusahaan dan semua pendapatan kamu bagi sesuai persentasinya dengan aku."


"Semua orang beda-beda, Ran. Kalau aku tamak soal seperti itu, mungkin ini adalah kesempatan untukku, tapi aku tidak ingin seperti itu. Jadi, aku minta, kamu temui paman kamu, dan minta paman kamu untuk membantu mengelola perusahaan ayah, sebelum kamu menikah lagi. Ini untuk masa depan kamu dan anak kamu nantinya, Ran." Dio memberi masukan pada Rania soal itu. Dia benar-benae takut kalau Evan dan papahnya akan menguasai semua milik Rania.


"Oke, nanti aku bicarakan dengan paman," jawab Rania.


"Jangan menunda-nunda. Secepatnya, Ran," ujar Dio.


"Iya, ih. Cerewet kamu." Rania mencubit lengan Dio lagi.


"Hobinya sekarang nyubit ya kamu." Dio menarik hidung Rania.


Mereka melanjutkan mengobrol yang lainnya. Berkat Rania, Dio dan abahnya sudah akur kembali. Sekarang Dio juga sudah sering ke rumah abahnya lagi. Dan, Shifa juga sudah bisa menerima Dio lagi. Hubungan semuanya bertambah baik karena Rania. Tapi, hingga detik ini, mereka belum bisa menemukan keberadaan Najwa di mana.


Dio memutar lagu di dalam mobilnya. Dia memutar lagu-lagu yang dulu sering ia nyayikan dengan Rania sewaktu SMP.


"Ran, sudah lama aku tidak mendengar kamu menyanyi," ucap Dio.


"Suaraku mahal," jawab Rania.


"Halahv… kamu itu. Nyanyi dong, Ran," pinta Dio.


"Gak bisa," jawab Rania.


"Pelit," ucap Dio dengan berdecak kesal.


"Emang," ucap Rania


"Ran, ayo nyanyi," pinta Dio lagi.


"Ih, males ah, cepat aku udah pengen sampai rumah, perasaan kamu nyetir santai banget, Dio?"


"Sengaja biar lama dengan kamu," jawab Dio.


Rania berdecak kesal. Dio semakin ke sini semakin menyebalkan menurut Rania. Apalagi tidak hanya sekali tadi Dio memanggil dia sayang. Dio berkali-kali memanggil dia sayang, yang membuat hati Rania bergelenyar.

__ADS_1


__ADS_2