THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 93


__ADS_3

Almira masih saja bermain di taman bunga, dia sangat menyukai indahnya pemandangan dan sejuknya alam di pagi ini. Arsyad masih memperhatikan istrinya yang masih saja tidak mau di ajak ke Villa untuk sarapan. Arsyad melepas alas kakinya dan dia jadikan untuk alas duduknya di rerumputan. Mira melihat suaminya yang sedang duduk dan memandanginya, dia berusaha jalan ke arah suaminya dan duduk di sampingnya.


"Mas, aku suka sekali di sini, rasanya begitu nyaman sekali, sejuk, indah sekali pemandangannya. Aku ingin lama di sini." ucap Mira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arsyad.


"Nanti pekerjaanku bagaimana kalau aku dan kamu tinggal di sini."ucap Arsyad.


"Iya...ya..." Almira sangat ingin tingga di Villa Arsyad lebih lama lagi, tidak hanya seminggu, selamanya menetap di sini pun mau.


"Mas janji, kalau weekend nanti kita menginap di sini sayang."ucap Arsyad sambil merebahkan dirinya dengan berbantal paha istrinya.


"Janji?"tanya Mira dengan menundukan kepalanya dan menatap lembut suaminya yang berada di pahanya.


"Iya sayang, mas janji."ucapnya dengan meyakinkan istrinya. Mira membelai lembut kepala Arsyad dan pipi Arsyad.


"Sayang, kamu tahu?"tanya Arsyad.


"Tidak." jawab Mira.


"Kamu tahu, aku hari ini menjadi orang yang paling bahagia sekali."ucap Arsyad.


"Kenapa seperti itu?"tanya Mira.


"Iya, karena aku bisa memiliki wanita yang sempurna sepertimu, sayang. Dan, ada buah cintaku di perutmu." ucap Arsyad sambil mencium perut Almira.


"Aku juga bahagia memiliki suami sepertimu. Suami yang aku idamkan dan aku impikan. Dan, mimpi itu menjadi kenyataan."ucap Mira. Suara perut Mira membuat Arsyad tertawa dan mencium perut Almira.


"Anak Abah sudah lapar ya, ayo makan, ummi sih ya dari tadi di suruh sarapan tidak mau, malah asik bermain di taman bunga." Arsyad berbicara pada perut Mira dan mengusapnya lembut.


"Kan adek yang mau bermain, Abah, bukan ummi. Kalau ini memang Adek sudah lapar."Mira berbicara menirukan nada anak kecil.


"Ya sudah ayo sarapan dulu."ajak Arsyad.


"Ayo, aku benar-benar lapar sekali mas."Mira dan Arsyad berjalan kembali ke Villa, mereka bergandengan mesra.


"Ya Allah jangan hapus kebahagiaan ini. Aku sangat mencintai Wanita yang berjalan di sampingku ini." gumam Arsyad dalam hati.


Almira dan Arsyad menikmati sarapan pagi yang sudah di buatkan oleh Bu Asih.


*****


Shita dan Vino sudah berada di Bali, mereka sudah sampai di hotel yang Rico pesankan, yang berada di kawasan pantai Nusa Dua. Iya, Rico tau kalau putrinya menyukai pantai, oleh karena itu dia sengaja memberikan hadiah honeymoon ke Bali. Mereka sudah berada di The Ritz Carlton Nusa dua. Untuk urusan pantai, The Ritz Carlton menyajikan pemandangan Samudera Hindia yang membentang tak bertepi. Ini yang di impikan Shita, bermalam bersama orang yang di cintainya dengan di suguhkan pemandangan pantai yang begitu indah.


Shita meletakan kopernya, dia mengambil bajunya dan membawanya ke kamar mandi. Dia membersihkan badannya karena sudah merasa lengket sekali. Sedangkan Vino, dia merebahkan tubuhnya di ranjang, dia merasa sangat lelah sekali. Shita keluar dari kamar mandi, dia melihat suaminya yang sedang merebahkan tubuhnya di ranjang. Shita mendekatinya dan mencium kening suaminya.


"Mandi dulu Kak."ujar Shita.


"Kamu sudah mandi?"tanya Vino.


"Sudah, sana mandi dulu kak."


"Iya sayangku."Vino bangun dari tidurnya dan mencium pipi istrinya.


Vino beranjak dari tempat tidur, dia mengambil handuknya dan pergi ke kamar mandi. Shita mengganti bajunya dengan baju tidur favoritnya. Dia suka sekali dengan baju tidur baby doll nya. Iya, seperti anak kecil kalau di lihat. Vino yang sudah selesai mandi dia melihat istrinya yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan, dia langsung menghampirinya dan memeluknya dari belakang.


"Anak siapa sih ini lucu sekali."ucap Vino sambil mencium Pipi Istrinya.


"Ini anak papah Rico istrinya Tuan Vino."ucap Shita sambil membalikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Vino. Tanpa aba-aba Shita mencium bibir Vino.

__ADS_1


"Ih...nakal cium-cium."ucap Vino sambil mencubit mesra pipi Shita.


"Sakit ih kak. Salah ya nyium suami sendiri "ucap Shita dengan memajukan bibirnya manja.


"Salah sendiri menggemas seperti ini, ya aku cubitin pipinya."Vino mencium bibir Shita dengan lembut. Shita membalas ciuman Vino yang semakin dalam.


"Kamu sudah siap?"tanya Vino.


"Siap apa kak."jawab Shita.


"Siap apa ya, masa mau di tunda lagi. Semalam di hotel kamu belum mau, ini sudah di Bali masa tidak mau lagi."ucap Vino sambil menatap sayu wajah Shita.


"Kak, lakukan saja, aku istrimu."ucap Shita yang membuat Vino tersenyum bahagia.


Vino merasa di beri lampu hijau oleh Shita, tak menunggu waktu lama, mereka menjalan kewajibannya sebagai suami istri. Iya, apalagi kalau bukan soal ranjang. Vino dan Shita menyalurkan hasrat yang terpendamnya. Vino tak peduli istrinya sudah merasa kesakitan, dia tetap melanjutkanya dengan memberi sentuhan lembut untuk istrinya.


"Sayang, terima kasih kamu sudah memberikannya kepadaku."ucap Vino sambil mengecup Kening istrinya.


"Iya Kak, sudah ya, Shita lelah."ucap Shita dengan nafas yang tak beraturan.


"Iya, ayo mandi dulu, setelah itu kita keluar untuk makan malam." Shita segera turun dari tempat tidurnya untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.


"Awww... sakit kak." Shita merasakan sakit di pangkal pahanya.


"Ayo aku gendong." Vino menggendong istrinya ke kamar mandi. Mereka membersihkan badannya bersama di kamar mandi. Setelah selesai mandi, mereka bersiap-siap untuk pergi makan malam sambil menikmati indahnya pantai di malam hari.


*****


Arsyil pulang dari kantor lebih awal, dia ingin mengajak Annisa ke rumahnya untuk menunjukan beberapa barang yang ia beli untuk mengisi rumah barunya, juga untuk menunjukan model undangannya nanti. Arsyil benar-benar mempersiapkan semuanya sendiri. Dia sudah berada di depan butik Annisa, Arsyil memarkirkan sepeda motornya dan langsung masuk ke dalam butik. Dia melihat Annisa sedang membereskan pekerjaannya, Arsyil mendekatinya dan memeluknya dari belakang.


"Arsyil, kamu mengagetkan saja. Tumben sudah datang, biasanya satu jam lagi baru datang."ucap Nisa sambil membalikan tubuhnya.


"Aku rindu kamu."ucapnya.


"Rindu itu berat, katanya di film-film itu, Syil."ujar Annisa.


"Bukan Nisa, Rindu itu indah, tapi menyiksa. Menyiksaku bila tak bertemu kamu Nisa."ucap Arsyil sambil mencium kening Nisa.


"Jiah...gombalnya keluar nih orang. Sudah jangan gombal terus, kamu mau minum apa, kopi atau teh?"tanya Nisa.


"Kopi hitam."ucap Arsyil


"Dengan sedikit gula."sahut Nisa


"Di buatkan Annisa dengan rasa cinta, seperti itu kan?"ucap Arsyil dengan mengembangkan senyum manisnya.


"Sudah hafal ya, ya sudah tunggu di sini dulu, aku mau ke dapur membuatkan kopi untuk calon suamiku."Annisa berlalu meninggalkan Arsyil untuk membuatkan kopi.


Arsyil menunggu Annisa membuatkan kopi untuknya, dan tak menunggu lama, Annisa datang dengan membawa secangkir kopi untuk Arsyil.


"Silahkan tuan Arsyil." ucap Nisa.


"Terima kasih Nona Annisa."jawabnya.


"Kami sudah selesai kan beres-beres ya?"tanya Arsyil.


"Iya sudah."

__ADS_1


"Setelah aku menghabiskan kopi ini, kita ke bengkel ya sebentar, ada yang ingin aku tunjukan denganmu di rumah kita."


"Apa?"tanya Nisa.


"Ada pokoknya, nanti aku tunjukan saja di rumah."jawab Arsyil.


"Oke, aku ambil tas ku dulu dan kunci butik."


Arsyil menghabiskan kopinya, kopi buatan Nisa memang sudah menjadi candu untuk Arsyil. Rasanya ada yang kurang kalau sehari tidak di buatkan kopi oleh Annisa. Annisa sudah bersiap-siap untuk pulang, dan Arsyil sudah menghabiskan kopinya. Annisa mengunci butiknya lalu dia memakai helmnya setelah itu membonceng Arsyil untuk menuju ke rumah mereka.


Sesampainya di rumah, Arsyil memarkirkan sepeda motornya di depan rumah karena bengkel sudah di tutup oleh Mas Wahyu. Mereka turun dari sepeda motor dan Arsyil membuka pintu rumahnya, Annisa menyalakan lampu ruang tamunya, dia melihat kursi dengan model ukiran yang klasik di ruang tamunya. Dan, sofa yang ada di ruang tengah. Annisa masih mengelilingi setiap sudut ruangan di rumahnya. Rumah yang tadinya kosong sudah terisi perabotan yang sangat komplit. Arsyil benar-benar sudah menyiapkan semua sebelum dia menikah.


"Ini yang mau kamu tunjukan, Syil?"tanya Annisa dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, bagaimana kamu suka?"tanya Arsyil.


"Kami berlebihan, Syil. Kenapa kamu sangat mempersiapkan semua ini."


"Ini untuk kamu, calon istriku. Aku wajib memenuhi semua ini Nisa."ucap Arsyil dengan memegang tangan Nisa.


"Terima kasih Syil." Annisa memeluk Arsyil sangat erat.


"Ayo duduk di sini, aku akan menunjukan beberapa model undangan pernikahan kita. Coba kamu yang memilihnya." Annisa memilih undangan pernikahannya, dia memilih undangan dengan desain warna pastel yang sangat sederhana. Dan, Arsyil menyetujuinya. Setelah agak lama mereka mengobrol di ruang tengah, akhirnya mereka pulang ke rumah karena sudah malam.


Arsyil mengendarai sepeda motornya dengan pelan, dia senagaja ingin menikmati malam bersama kekasihnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2