
Mobil Arsyad berhenti di depan bila yang terlihat mewah dan besar itu. Annisa dan Arsyad melihat vila itu dari dalam mobil seakan tak percaya bila mewah itu milik papannya.
"Ini benar milik papah, Nis?"tanya Arsyad
"Nah, benar tidak alamatnya?" Nisa balik bertanya.
"Benar sih ini alamatnya. Papah punya vila sebesar ini, tapi papah tidak pernah memberitahu pada kami semua,"ucap Arsyad.
"Sama halnya dengan kamu, sayang. Kamu saja tidak pernah memberitahukan semuanya soal rumah baru kamu, kan? Padahal kamu beli rumah itu sudah lama,"ucap Annisa.
"Iya, karena aku menjaga perasaan Almira waktu itu, tujuan aku membeli rumah itu, untuk bersama kamu, Nis,"ucap Arsyad.
"Mungkin papah juga seperti itu, dia menjaga perasaan ibu, tidak memberitahukan ini semua, karena ini adalah kenang-kenangan papah yang tertinggal bersama mamah Dinda. Kamu tau, mungkin jika papah tak mencintai ibu, dan menceraikan ibu waktu itu, Shita dan Arsyil tidak terlahir. Dan mungkin kita tidak akan bertemu juga," jelas Arsyad.
"Kamu memang sifatnya hampir mirip dengan papah, cara bicaramu, dan cara mencintai pasangannya sama seperti papah,"ucap Annisa.
"Tapi aku beda, aku tidak poligami, aku memiliki dua istri, tapi saat istri pertamaku sudah wafat, baru aku menikah lagi," ucap Arsyad.
"Lalu, setelah itu ada niatan poligami?"tanya Annisa dengan menggoda suaminya.
"Iya,ada niatan," jawabnya singkat.
"Kakak….! Aku gak mau..!" tukas Annisa dengan meninju lengan suaminya.
"Hey, coba kamu pikirkan, betapa susahnya aku membuka hati untukmu. Gak mungkin aku mau poligami, untuk membahagiakan kamu saja aku belum bisa,"ucapnya.
"Aku kira," ucapnya lirih.
Arsyad menarik tubuh istrinya dan memeluk Annisa, dia mengusap lembut kepala Annisa dan mencium puncak kepala Annisa.
"Memang Allah menyusun skenario hidupku serumit ini dan seindah ini. Aku di jodohkan dengan Almira, wanita yang benar-benar, sabar, manja, lemah lembut, dan bisa sekejap melupakan rasa cinta dalam hatiku yang kokoh untukmu saat itu. Hingga akhirnya setelah orang yang sangat aku cintai wafat, aku di satukan kembali dengan kamu, cinta pertama dalam hidupku, dan saat kamu hadir kembali, rasa cinta itu sudah tidak ada sama sekali karena rasa cinta pada Almira masih melekat erat dalam hatiku. Dan, hari ini, aku berjanji, aku akan membahagian orang yang ada di pelukan ku ini, dan berusaha menumbuhkan rasa cintaku lagi padanya." Arsyad mengeratkan pelukannya pada Annisa.
"Kakak…." Annisa menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad dengan manja.
"Jangan menggodaku di sini, ayo turun dari mobil, kita tanya dengan penjaga vila ini, benar tidak vila ini milik papah,"ucapnya.
Arsyad dan Annisa turun dari mobil, dia bejalan beriringan menemui penjaga vila yang berada di dalam pos satpam, penjaga vila itu terlihat sedang berbincang dengan satpam dan dua orang wanita yang tidak di ketahui oleh Arsyad dan Annisa.
"Selamat siang, pak. Mau tanya, ini benar Vila milik Rico Alfarizi?"tanya Arsyad.
"Iya benar, mohon maaf anda siapa?"tanya penjaga vila tersebut.
"Saya Arsyad, putra Pak Rico,"ucap Arsyad.
"Oalah….ini Arsyad? Wah, kamu tumbuh menjadi laki-laki tampan sekali, sama seperti Pak Rico, dulu waktu ke sini kamu masih bayi dan masih di gendong Bu Dinda,"ucap penjaga Vila tersebut.
"Bapak bisa saja," ucap Arsyad.
Mereka saling berjabat tangan, dan berbincang sebentar. Setelah itu penjaga vila menyuruh dua orang wanita yang bekerja di vila Rico itu menurunkan koper dari mobil Arsyad. Penjaga vila mengajak Arsyad masuk kedalam Vila.
"Mari, tuan, nyonya, saya antar ke dalam dan saya tunjukan karnya juga,"ucap penjaga vila tersebut.
"Pak, panggil Arsyad dan Annisa saja, bapak kan seusia papah," ucap Arsyad.
"Ya sudah, saya panggil Mas Arsyad saja, sama Mba Annisa, kalian benar-benar pasangan yang cocok sekali,"ucapnya.
"Bapak biasa saja, Kalau boleh tau, bapak namanya siapa?"tanya Arsyad.
"Saya Rahman, Mas. Sudah lama saya bekerja ikut Pak Rico mengurus Vila ini, sajak dulu sebelum Pak Rico menikah dengan Bu Dinda,"ucap nya.
"Oh, berarti bapak benar seusai papah?"tanya Arsyad.
"Iya, cuma saya lebih muda dari Pak Rico,"ucapnya.
Pak Rahman menunjukan kamarnya pada Arsyad. Kamar yang sangat luas dan mewah, di samping kamar terdapat kolam denagan mata air panas yang menghadap keluar. Jadi bisa berendam sambil menikmati pemandangan sejuk dan indah.
"Silakan, pak, ini kamarnya,"ucap Pak Rahman.
"Iya, pak. Terima Kasih,"ucap Arsyad dan Annisa bersamaan.
"Ya sudah, saya tinggal ke belakang dulu, mau membantu mba-mba menyiapkan makan siang dan dinner buat kalian. Silakan nikmati bulan madunya mas, mba,"ucap Paka Rahman.
"Ah, iya pak. Terima kasih,"ucap Arsyad.
Arsyad dan Annisa masuk ke kamar. Arsyad menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Annisa menata bajunya ke dalam lemari, Arsyad memerhatikan istrinya yang tengah di sibukan dengan baju-baju mereka. Pikiran nakal menghampiri Arsyad, dia melempar bantal ke arah wajah Annisa yang sedang melipat baju-bajunya yang akan di masukan ke dalam lemari.
"Awww…kakak, jail banget sih jadi orang!"seru Annisa dengan melempar serangan balik ke Arsyad.
"Habisnya aku di cuekin,"ucapnya sambil mendekat ke arah istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang melipat baju-bajunya.
"Gak gitu caranya kali, kak. Lihat kan berantakan lagi baju-bajunya, nyebelin kamu, ih,"tukas Annisa.
"Iya, iya maaf." Arsyad tiba-tiba tidur di paha Annisa dan menenggelamkan wajahnya ke perut Annisa.
"Isshh….ada-ada saja tingkahnya kamu, kak." Annisa mendengus kesal karena Arsyad semakin manja dengannya.
"Nis,"panggil Arsyad dengan wajah masih bersembunyi di perut Annisa.
"Hmmm….ada apa?"jawab Annisa.
"Sudah belum menata bajunya?"tanya Arsyad.
"Kakak jangan mimpi deh, kakak saja seperti ini, bagaimana bisa aku menata baju, kak,"ucap Annisa.
"Oh, iya lupa," ucapnya sambil tersenyum pada Annisa.
Annisa semakin gemas dengan suaminya yang manja seperti bayi besar butuh perhatian. Dia reflek menarik hidung suaminya karena saking gemasnya, hingga Arsyad kesakitan.
"Awwhh…sakit, Annisa!" tukas Arsyad.
"Salah sendiri kamu gemesin, kak," ucapnya sambil beranjak ke arah lemari menata baju miliknya dan milik suaminya.
"Apa tadi kamu bilang? Aku gemesin?" Arsyad turun dari ranjangnya dan menghampiri Annisa.
"Iya kamu gemesin, kayak bayi tua,"ucapnya tanpa peduli suaminya sudah di belakangnya.
Annisa menutup lemari dan membalikan badannya. Ternyata Arsyad sudah mendekati dia dan jarak mereka sudah sangat dekat sekali. Arsyad menarik tubuh istrinya dan merangkul pinggang Annisa. Wajah mereka beradu pandang hingga semakin dekat sekali. Arsyad berhasil menautkan bibirnya di bibir manis Annisa. Annisa merasakan ciumannya deangan Arsyad semakin dalam. Tangan Arsyad mulai bergerilya ke setiap inci tubuh Annisa. Leguhan kecil lepas dari mulut Annisa yang membuat Arsyad semakin memanas. Mereka masih beradu dalam ciuman yang semakin panas.
"Tok…tok…tok…" suara ketukan di pintu kamar Arsyad terdengan nyaring di telinga mereka berdua.
__ADS_1
"Aiisshhh…siapa lagi yang mengganggu,"ucap Arsyad lirih.
Annisa hanya tersenyum manis dan mengangkat bahunya. Dia tak peduli ketika pintu di depan kamarnya itu. Annisa mencium lagi bibir Arsyad, seakan dia masih ingin menikmatinya. Suara ketukan pintu kembali terdengar di pintu kamar Arsyad. Annisa dan Arsyad mengembuskan napas dengan kasar, mereka seakan terganggu dengan ketukan pintu itu.
"Kakak, ada zombie lagi, kah?"tanya Annisa.
"Entahlah, kakak buka pintunya dulu,"ucap Arsyad.
Annisa yang melihat sesuatu di celana suaminya seperti sudah mengeras, dia menarik tangan Arsyad hingga Arsyad menghentikan langkahnya.
"Biar aku saja yang buka, kakak lebih baik tunggu di sini, apa kakak tidak merasa? Coba lihat celana mu." Annisa tertawa di depan suaminya, begitupun Arsyad.
Annisa membukakan pintu kamarnya, dan Arsyad segera ke kamar mandi.
"Maaf mba, mengganggu. Makan siang sudah siap, silakan ke meja makan,"ucap pelayan vila.
"Oh, iya mba. Nanti saya dan suami ke meja makan setelah sholat dhuhur,"ucap Annisa.
"Baik, mba. Terima kasih." Pelayan itu pergi dari depan kamar Annisa.
"Huh….ada-ada saja, biar lah. Biar kak Arsyad merasakan rasanya menahan hasrat yang sudah ingin di salurkan,"ucapnya lirih sambil tersenyum membayangkan suaminya yang masih menahan hasratnya.
Annisa kembali masuk ke dalam, dia melihat suaminya sedang berganti pakaian di depan lemari.
"Kakak,"panggilnya.
"Apa? Tadi siapa? Zombie lagi?"ucapnya sambil memakai baju untuk sholat.
"Bukan, tadi mba-mba pelayan vila menyuruh kita makan siang. Kakak mau makan sekarang?"tanya Annisa.
"Nanti, kita belum dhuhur, kan? Sholat dulu, yuk. Sana kamu mandi,"titah Arsyad.
"Oke, kakak sudah mandi?"tanya Annisa.
"Yang kamu lihat kakak sudah mandi, belum?"tanya Arsyad.
"Sudah," jawabnya.
"Ya sudah, sana kamu mandi, jangan buat aku macam-macam lagi, Annisa. Jangan menggodaku dulu, buruan mandi,"ucapnya yang melihat Annisa masih berdiri melihat suaminya memakai pakaian sholatnya.
"Pantas saja, dulu saat jadi dosen Kak Arsyad jadi idola di kampus, dia memang dosen tertampan di kampus, saat aku kuliah dulu. Syil, mungkin hari ini dan seterusnya aku akan menyerahkan semuanya pada kakakmu, ini kewajibanku, sayang. Maafkan aku, selalu tenang di surga, meski nantinya aku tak menemanimu. Love You, Arsyil." Annisa masih menetap suaminya, yang sekilas memang mirip dengan Arsyil kalau sedang tersenyum.
"Annisa, jangan melamun, mandilah, sudah mau jam 1,"ucap Arsyad yang membuyarkan lamunan Annisa.
"Ahhh iya, kakak tampan sih, jadi aku merhatiin kakak terus,"ucapnya.
"Kamu baru sadar kalau suamimu tampan?"tanya Arsyil.
"Dari dulu sebenarnya sudah tau, kakak. Ya sudah aku mandi dulu,"ucapnya sambil mengambil handuk.
Arsyad berjalan ke arah teras kamarnya, dia membuka jendela dan pintu belakang, dan melihat indahnya pemandangan. Walaupun sudah siang, pemandangan di sekitar vila masih terasa sangat sejuk. Dia masih membayangkan Annisa, gadis manis yang dulu dia cintai saat masih menjadi mahasiswanya. Dia sangat mencintainya, hingga pada suatu hari, dia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang ia cintai adalah kekasih adiknya yang sangat ia sayangi. Arsyad mengembuskan napasnya dengan kasar saat mengingat semua itu.
"Syil, mungkin hari ini, esok dan seterusnya. Kakak akan menjadikan Annisa benar-benar istri kakak seutuhnya. Kakak sudah janji dengan kamu, kalau kakak akan membahagiakannya, maafkan kakak Syil, kakak muali jatuh cinta pada Annisa. Dan, Almiraku sayang, walaupun aku mencintai Annisa. Cinta untukmu tak akan pernah habis, dan takkan pernah terkalahkan, kamu wanitaku, kamu istri setiaku, yang bisa menerima ku, saat hati ini belum bisa menerimamu. Love You Almira, bidadari surgaku,"gumam Arsyad dengan memandang langit yang sedikit gelap tertutup kabut di siang hari.
Annisa sudah selesai mandi, dia melihat suaminya sedang berada di depan pintu belakang kamarnya. Annisa membiarkan suaminya sedang menikmati apa yang suaminya pikirkan. Annisa tau, sebenarnya masih ada kebimbangan dalam hati suaminya. Annisa mengambil baju gantinya lalu memakainya. Setelah itu, dia bersiap sholat dhuhur. Setelah sudah mengenakan mukenah, Annisa mendekatu suaminya yang masih saja melamun bersandar di pintu.
"Kak, ayo sholat, aku sudah siap,"ucap Annisa.
Seusai sholat, Annisa mencium tangan Arsyad dan Arsyad mencium kening istrinya.
"Kita makan dulu, ya? Kakak lapar, sayang,"ucap Arsyad.
"Oke." Annisa melipat mukenahnya dan menaruh ke tempat semula. Annisa mengambilkan baju santai untuk suaminya di lemari.
"Ganti baju kakak, ini untuk sholat, kan?"tutur Annisa.
"Emm..iya, terima kasih." Arsyad mengambil baju dari tangan Annisa.
Annisa memakai jilbabnya di depan cermi. Arsyad sudah selesai memakai baju yang di ambilkan Annisa. Dia mendekati istrinya yang masih bercermin dan memakai jilbab.
"Cantik sekali, istriku,"ucap Arsyad sambil memeluk Annisa dari belakang dan mencium pipinya.
"Kakak baru tau?"tanya Annisa denagn membalikan tubuhnya menghadap Arsyad.
"Dari dulu, kamu cantik, tapi baru sekarang kakak memilikimu,"ucapnya.
"Belum, kakak belum seutuhnya memiliki ku,"ucap Annisa.
"Dan, hari ini aku pastikan, aku akan memilikimu seutuhnya,"ucap Arsyad.
"Kakak yakin?"tanya Annisa.
"Sangat yakin, sayang." Arsyad memeluk annisa dan mencium kepala Annisa. Pelukan Arsyad terasa nyaman sekali bagi Annisa, dia juga semakin mengeratkan pelukannya pada Arsyad.
"Ya sudah makan dulu, yuk. Nanti setelah makan, kita….."ucap Arsyad sengaja terhenti sambil mencium bibir Annisa
"Kita apa?"tanya Annisa dengan menggoda suaminya.
"Kita lanjutkan yang di ganggu zombie sayang,"ucap Arsyad.
"Hmm…ya sudah, ayo makan,"ajak Annisa.
Mereka menikmati makan siang bersama. Arsyad sesekali menyuapi istrinya, dia memang seperti itu, memanjakan istrinya. Dulu dengan Almira juga seperti itu.
"Kak, nanti sore jalan-jalan ya, sepetinya pemandangan sekitar tempat wisata yang ada di sana bagus, apalagi taman bunganya,"pinta Annisa.
"Iya, nanti jalan-jalan, habiskan makananmu dulu, sayang,"ucap Arsyad.
^^^^^
Annisa membawakan teh hijau untuk suaminya, setelah selesai makan Arsyad langsung ke kamar dan duduk di teras belakang kamarnya. Dia terlihat sedang memegang ponselnya yang terdengar berdering.
"Kak, itu ada telepon, kenapa tidak di angkat?"ucap Annisa sambil menaruh teh hijau di mejanya.
"Rayhan, dari tadi telepon, WhatsApp, tapi aku tak membalasnya. Biarkan saja, aku akan mengerjai dia hari ini,"ucapnya.
"Jangan seperti itu, angkat, gih!"titah Annisa.
"Ya sudah, kakak angkat ya,"ucapnya.
__ADS_1
Arsyad mengangkat telepon dari Rayhan yang dari tadi menghubungi Arsyad tapi di diamkan begitu saja.
"Hallo, Ray, assalamualaikum,"ucap Arsyad.
"Wa'alaikumsalam. Kamu kemana saja, dari tadi pagi di hubungi tidak di angkat, dan sampai sekarang tidak ke kantor,"ucap Rayhan dengan nada kesal.
"Oh…maaf Ray, aku tidak menghubungimu, aku sedang di luar kota bersama Annisa, dan mungkin dua hari nanti papah yang akan handle pekerjaanku,"jelas Arsyad.
"Kamu sedang apa di luar kota dengan Annisa, Syad?"tanya Rayhan.
"Honeymoon dong,"ucapnya singkat.
"Kamu yakin?"tanya Rayhan.
"Iya, lah yakin,"ucapnya.
"Kak, kakak lihat ponsel Annisa di mana?"tanya Annisa dari dalam kamar yang sedang sibuk mencari ponselnya.
"Di meja sebelah pojok, sayang. Dekat lampu tidur,"teriak Arsyad hingga terdengar oleh Rayhan yang ada di seberang sana.
"Oh, iya." Annisa mengambil ponselnya dan menghubungi Rere
"Hallo Syad, kamu tadi manggil Annisa, sayang?" tanya Rayhan.
"Iya, kenapa ada yang salah?" Arsyad balik bertanya pada Rayhan.
"Gak, gak salah, cuma kaget saja, ya sudah, selamat menikmati bulan madunya, buatkan Om Rico cucu lagi,"ucap Rayhan.
"Itu pasti, aku titip kantor Ray,"ucapnya.
"Siap bos ku,"ucap Rayhan.
Arsyad menutup teleponnya dari Rayhan. Dia meletakan ponselnya di atas meja dan meminum teh hijau yang di buatkan Annisa. Arsyad melihat Annisa yang sedang merebahkan diri di tempat tidur, dia mendekati istrinya dan tdiur di samping Annisa.
"Sudah selesai menelepon Kak Ray?"tanya Annisa.
"Sudah, sayang. Ambil air wudhu yuk," ajak Arsyad
Annisa tau, apa yang suaminya inginkan, dia menganggukan kepalanya dan segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Begitupun Arsyad, dia bergantian mengambil air wudhu. Annisa sudah berada di atas tempat tidurnya. Dia duduk dan mematikan ponselnya dan duduk menunggu Arsyad kelaut dari kamar mandi.
Arsyad sudah selesai mengambil air wudhu, dia mendekati istrinya yang sudah berada di tempat tidur. Arsyad melihat pintu belakang masih terbuka, dia segera menutup pintu dan menutup tirai jendelanya, serta mematikan ponsel miliknya. Iya, Annisa dan Arsyad tidak lupa, saat akan berhubungan intim dengan pasangan, dia selalu menggunakan adab yang baik, menguunci pintu, mematikan ponsel dan membuat ruangan sedikit redup.
Arsyad duduk di samping Annisa dan menarik tubuh istrinya agar dia lebih dekat dengannya. Jujur saja, kali ini Arsyad benar-benar seperti baru pertama kali akan melakukan hubungan intim. Begitu juga Annisa.
"Kamu sudah siap,sayang?"tanya Arsyad.
"Iya, lakukanlah, karena kakak adalah suamiku, lakukanlah sesuai syariat,"ucap Annisa.
"Iya." Arsyad memeluk Annisa, dia membacakan doa dan meniupkan di ubun-ubun Annisa lalu mengecup kening Annisa.
Arsyad mencium bibir Annisa dengan dalam, tangan Arsyad menyentuh setiap inci tubuh Annisa, begitu juga tangan Annisa. Mereka berdua hanyut dalam alunan napas yang semakin menderu dan terdengar lirih di telinga mereka. Arsyad melakukannya dengan penuh kelembutan, hingga Annisa berkali-kali melakukan pelepasan. Hasrat yang selama hampir tiga bulan mereka tahan, akhirnya mereka bisa melepaskan bersama hingga berkali-kali.
Arsyad merebahkan tubuhnya di samping Annisa setelah melakukan berkali-kali dengan Annisa. Arsyad memeluk Annisa dengan erat, dan mencium kening istrinya.
"Kamu milikku, sayang. Terima kasih kamu sudah bersabar selama ini, meskipun aku tak bisa lagi mengungkapkan kata cinta padamu, tapi rasa ini melebihi rasa cinta,"ucap Arsyad.
"Terima kasih, sayang. Kamu sudah melakukannya, kamu sudah melakukan kewajiban yang kamu tunda. Aku akan setia mengabdi, menjadi istri kamu, hingga Allah memanggil kita, entah siapa yang akan di panggil terlebih dahulu. Ajari aku, ajari aku menjadi istri yang Sholehah untuk kamu, dan bunda yang baik untuk anak-anakmu, anak-anakku, dan anak kita kelak,"ucap Annisa.
"Itu pasti, sayang,"ucap Arsyad sambil memeluk kembali tubuh Annisa.
Mereka kembali melakukannya. Entah apa yang membuat Arsyad ingin sekali melakukannya, lagi dan lagi.
"Kak,"panggil Annisa manja pada Arsyad yang masih saja menindih tubuh Annisa.
"Apa,sayang," jawab Arsyad sambil mengusap lembut pipi Annisa.
"Kakak mau lagi?"tanya Annisa.
"Nanti malam saja, kamu pasti capek. Maaf kakak terlalu bersemangat,"ucapnya sambil mencium bibir Annisa.
"Ya sudah, berendam, yuk," ajak Annisa.
"Boleh, kita berendam di kolam air panas ya?"pinta Arsyad.
"Oke, tapi gendong,"pinta Annisa dengan manja.
"Iya, sini kakak gendong." Arsyad menggendong tubuh Annisa ke kolam.
Mereka berendam bersama, menikmati hangatnya mata air panas di dalam kolam. Arsyad mengusap punggung Annisa denan lembut, dan mencium tengkuk Annisa.
"Jangan melakukannya di sini,"ucap Annisa.
"Iya kakak tau, sayang,"ucapnya.
Mereka berdua berendam bersama. Arsyad sesekali menyentuh lembut tubuh Annisa yang membuat gairhanya kembali muncul. Annisa sedikit menghentikan apa ganv suaminya lakukan, karena tidak mau terjadi lebih dalam. Pantang bagi mereka melakukan kegiatan intim ketika berada di kamar mandi atau di tempat selain tempat tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
please....like dan vote nya ya?
terima kasih yang masih setia menunggu...
__ADS_1
budayakan Like sebelum/sesudah membaca...😘😘😘😘