THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Ekstra Part 15 "Menghimpun Rindu" The Best Brother


__ADS_3

Hari kelulusan akhirnya tiba. Semua siswa bersorak gembira setelah menerima hasil kelulusan, begitu juga Thalia dan Arkan, mereka turut bersorak gembira dengan teman-temannya di halaman sekolah. Ada perasaan berat di antara mereka, karena dalam hitungan hari lagi mereka akan terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Ya, Arkan dan Thalia, yang akan meneruskan hubungannya mereka dengan terpisahkan oleh jarak dan waktu.


Thalia mengajak Arkan untuk ke taman yang berada di dekat perpustakaan. Mereka berjalan beriringan menuju ke taman dan duduk di bangku panjang yang berada sisi taman.


“Arkan,” panggil Thalia.


“Iya, Lia, ada apa?” sahut Arkan.


“Arkan, enggak terasa kita sudah lulus sekarang. Ternyata kita sudah sampai di penghujung waktu menikmati masa SMA,” ucap Thalia.


“Iya, rasanya baru bertemu kamu kemarin, sekarang aku harus segera pisah lagi dengan kamu, Lia,” jawab Arkan.


“Ya, memang harus seperti itu, Arkan. Kita akan belajar soal waktu dan jarak, hanya untuk sebuah cita-cita agar kelak bisa menggapai cinta di depan pintu gerbang kebahagiaan,” ucap Thalia.


“Aku bakal merindukanmu, aku bakal rindu semua hari-hari yang kita biasa kita lalui, Arkan,” ungkap Thalia


“Tidak hanya kamu, aku pun demikian. Kita harus belajar menabung rindu juga, Lia. Berdoalah ketika sedang merindukan seseorang yang benar-benar kita sayangi,” ujar Arkan.


“Iya, Arkan.”


Sejenak mereka terdiam, memikirkan waktu dan jarak yang nantinya akan menjadi penghalang mereka untuk bertemu. Tidak seperti kemarin, Arkan kali ini benar-benar berat sekali akan melepas Thalia ke Berlin dalam waktu dekat. Bukan tidak rela, tapi semua kenangan saat bersama Thalia terekam kembali dalam ingatannya, yang membuat dada Arkan sesak saat mengingat itu semua.


“Lia, kadang aku berpikir waktu itu jahat dengan kita,” ucap Arkan memecah keheningan mereka.


“Kenapa seperti itu?” tanya Thalia. “Kalau kamu seperti itu, berarti kamu tidak rela aku ke Berlin, Arkan,” sambungnya.


“Bukan seperti itu, Lia. Kadang aku merasa saat kita sedang merasakan senang atau tidak menunggu sesuatu, waktu begitu cepat berlalu. Namun, saat kita sedang menunggu, sedang merasa kesedihan, waktu begitu lambat berjalan. Sehari pun terasa seminggu, terasa sebulan, bahkan bisa terasa setahun,” jelas Arkan.


“Ya, itulah waktu, kadang juga aku merasakan seperti itu. Sekarang juga aku masih merasakannya. Rasanya begitu cepat sekali waktu ini berputar, baru tadi pagi kamu ke rumah menjemput aku ke sekolah, ini sudah hampir waktu dhuhur,” ucap Thalia.


“Kadang kita juga butuh waktu untuk mengingat semua momen indah yang terjadi pada diri kita, itu hanya semata agar waktu berjalan begitu cepat. Ya, kadang aku seperti itu, saat merindukan kamu, Lia,” ungkap Arkan.


“Jangan terlalu merindu, nanti berat, kata Bang Dilan,” ucap Thalia dengan mengurai senyumnya.


“Bukan berat, Lia. Rindu itu indah, apalagi merindukan orang yang kita cintai dan kita sayangi, tapi bagiku, rindu itu menyiksa, Lia. Menyiksa hati dan pikiran, meski merindukan orang yang kita cintai adalah hal yang paling indah,” jelas Arkan.


“Iya, memang merindukan orang yang paling kita sayang dan paling kita cinta itu menyiksa sekali, Arkan. Menyiksa pikiran, menyiksa hati, tapi rindu juga butuh logika, agar rindu bisa tersalur meski rindu tak mengharuskan kita untuk bertemu,” jelas Thalia.


Arkan merangkul Thalia dan menyandarkan kepala Thalia ke bahunya. Mungkin setelah perpisahan kelas nanti, Arkan berna-benar akan sangat merindukan sosok gadis yang ia cintai, begitu juga Thalia. Meski berat untuk meninggalkan Arkan, tapi tekadnya untuk belajar tidak bisa ia pupus. Ia yakin, suatu saat nanti akan bertemu kembali, dan kemabali bersama dengan Arkan.


^^^


Semua sudah berkumpul di Vila milik Arkan, ya sudah dua hari mereka menikmati hari-hari terakhir bersama teman sekelasnya. Semua acara berjalan dengan lancar, dan malam ini, ada acara barbeque untuk malam terakhir di Vila Arkan.


Rangga sedang mengajak Arkan dan lainnya mengobrol di teras dengan bermain gitar, sambil menunggu pelayan menyiapkan menu makan siang dan di bantu oleh anak-anak perempuan.


“Kamu jadi LDR-an nih sama Thalia, Bro?” tanya Rangga.


“Iya, seperti itu, Ngga. Memang dia inginnya seperti itu, aku harus bagaimana?” jawab Arkan.


“Iya juga sih? Apa kamu tidak takut hubungan kalian akan renggang?” tanya  Rangga lagi.


“Enggak lah, kita bisa komunikasi, dan saling percaya tentunya,” jawab Arkan.


Mereka melanjutkan mengobrol lagi dan bermain gitar sambil menyanyi. Ponsel Rangga berdering, Rangga melihat Arsyad menelepon dirinya. Dia langsung meninggalkan dan menjauh untuk mengangkat telepon Arsyad.


“Ada apa, Om?” tanya Rangga.


Rangga medengarkan apa yang Arsyad  bicarakan padanya dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


“Siap, Om. Semua sudah Rangga atur dengan yang lainnya. Iya, semua sudah di siapkan pelayan, dan teman-teman semua, tanpa Arkan dan Lia tahu,” ucap Rangga pada Arsyad.


Rangga menyudahi panggilan dari Arsyad. Arsyad akan menjalankan rencananya yang suda di setujui Leom dan Rere juga. Dia juga meminta bantuan dengan Rangga dan teman Arkan yang lainnya.


“Anaknya inginnya pada sekolah dulu, malah orang tuanya yang ngebet besanan. Kadang ada orang tua yang ingin anaknya menganyam pendidikan dulu, tapi anaknya yang justru sudah ingin mengikat hubungan resmi dengan kekasihnya. Ini malah berbeda, Om Arsyad dan Om Leon benar-benar ingin kedua anaknya bersatu, malah anak-anaknya yang ingin menganyam pendidikan dulu,” gumam Rangga dengan menatap sahabatnya itu dari kejauhan. Ya, Arkan sudah ia anggap sahabat dan seperti keluarga dia sendiri.


Rangga kembali bergabung dengan Arkan dan lainnya, sambil mengobrol dan bercerita, dia mengisntruksi teman-temannya lewat Chat agar segera menyiapkan sesuatu yang di minta Arsyad. Itu semua biar Arkan dan Thalia tidak curiga.


^^^


Rangga mengajak Arkan dan Thalia jalan-jalan mengelilingi kebun teh bersama Anya juga setelah malkan siang dan Sholat Dhuhur. Dia sengaja biar teman-temannya menyiapkan semua rencana yang akan Arsyad dan Leon lakukan untuk memberi surprise anak mereka.

__ADS_1


Arsyad benar-benar ingin mengikat Thalia untuk Arkan dulu, dengan rencana Leon dan dirinya, dia berniat akan mengadakan pesta kecil-kecilan seperti pesta pertunangan. Ya, Annisa dan Rere juga menyiapkan semuanya. Annisa juga ingin mengikat Thalia dengan Arkan agar mereka tidak melupakan komitmen mereka.


“Ayo kita balik ke Vila, aku lelah sekali,” keluh Thalia.


“Iya, Ngga, ayolah aku juga lelah, kalian ini aneh sekali, panas-panas mainnya ke kebun teh,” ujar Arkan.


“Aku ‘kan ingin foto kayak kamu dan Lia kemarin waktu di kebun teh, Arkan,” ujara Anya.


“Buruan di fotoin,” pinta Anya.


“Sini aku fotoin. Iri ya? pengen foto seperti aku dan Arkan?” tanya Thalia.


“Iya, dong, masa kamu saja yang boleh foto di hamparan hijau kebun teh ini?” jawab Anya.


“Kalau mau hasil bagus, noh minta di fotoin sama ibu-ibu yang lagi metik teh, kemarin foto-foto aku sama Thalia hasil jepretan ibu-ibu pemetik teh,” ucap Arkan.


Anya dan Rangga sibuk berfoto, begitu juga Thalia dan Arkan yang ikutan juga. Setelah mereka sudah puas berfoto, mereka berjalan lagi menuju ke gubuk yang biasa di gunakan petani teh untuk beristirahat.


“Arkan, ini kebun teh milik kamu semua?” tanya Rangga.


“Sebagian milik Oma, dan sebagian lagi milik Kakek Bayu, kakaknya Oma. Vila di sini milik keluarga Oma semua katanya, yang itu di sana milik anak-anaknya Kakek Bayu. Kalau yang kita tempati 3 Vila itu milik Oma. Untuk 3 anaknya, dan yang 1 Vila utama, milik Oma dan Opa,” jelas Arkan.


“Enak ya, punya Vila, kalau mau liburan gak butuh jauh-jauh dan sewa Vila lagi,” ujar Anya.


“Ya, gini Nya, nikmati saja lah, dan selalu bersyukur, karen itu poin paling utama,” jawab Arkan.


Mereka kembali mengobrol, hingga sore hari. Ponsel Rangga berbunyi, ada notifikasi pesan dari Arsyad. Rangga membaca pesan dari abahnya Arkan.


“Rangga, Om sudah berada di Vila, kamu ajak Arkan dan Thalia kembali ke Vila sekarang, ya?” ~Arsyad.


“Siap Om!” ~Rangga.


Rangga menaruh ponselnya kembali ke saku celananya. Dia mencoba mengajak Arkan, Thalia, dan Anya.


“Sudah sore, ya? Balik ke Vila, yuk?” ajak Rangga.


“Yuk, balik. Aku juga mau mandi,” ucap Thalia.


^^


Arkan dan Thalia kaget di halaman Vila ada mobil yang ia kenal. Ya, mobil milik Arsyad. Arkan dan Thalia saling memandang karena melihat mobil milki Arsyad.


“Arkan, ini mobil?”


“Iya, ini mobil abah, ada apa abah ke sini?”


“Mana aku tahu, Arkan...?”


Arkan dan Thalia masuk ke dalam Vila, semua teman-temannya menyambut mereka. Orang tua mereka juga menyambut Thalia dan Arkan lalu memeluknya.


“Ini ada apa, sih?” tanya Arkan.


“Iya, ini ada apa, Mah, Pah?” tanya Thalia pada eon dan Rere.


“Ehm...tidak ada apa-apa, hanya ingin memberi surprise pada kalian berdua,” jawab Leon. “ Benar kan, Syad?” tanya Leon pada Arsyad.


“Ya, abah, bunda, mamah, dan papah kalian ke sini untuk memberi kejutan pada kalian,” jawab Arsyad.


“Papah, tahu, kalian berdua akan berpisah untuk sementara waktu. Papah dan mamah akan merasa lega kalau kalian sudah mengikat ikatan resmi sebelum berpisah untuk sementara waktu. Suatu komitmen hubungan, yang sudah di ikat secara resmi lewat pertunangan juga kadang akan goyah, Nak. Apalagi kalian yang tanpa suatu ikatan. Abah tidak mau, kalian terpisah tanpa adanya ikatan,” ucap Leon.


“Tapi, pah. Thalia dan Arkan yakin, tanpa tunangan, kita bisa melewati semua, dan kita akan kembali lagi saat waktunya sudah tepat,” jelas Thalia.


“Papah paham itu, Nak,” ucap Leon.


“Om, kami memang sudah merencanakan ini sejak pertama kami memtuskan menjalin hubungan. Arkan tidak akan goyah, Om. Karena, di sini Arkan ingin mengejar mimpi Arkan untuk membahagiakan putri om, Thalia. Dan, Thalia pergi ke Berlin juga karena Thalia ingin mengejar cita-cita Thalia,” jelas Arkan.


“Iya, Om tahu itu, Arkan. Wajar Om dan tante, juga orang tua kamu khawatir, karena kami benar-benar sudah sayang dengan kaliaan,” ucap Leon.


“Abah juga tidak mau kalau kalian nantinya akan terluka karena sebuah jarak yang tanpa ikatan, Nak,” jelas Arsyad.


“Bunda dan mamah juga tidak ingin kamu seperti itu, Nak. Kami semua memikirkan ini sejak Thalia memutuskan untuk kuliah di Berlin,” imbuh Rere.

__ADS_1


“Thalia, bunda hanya ingin, kamu selalu ingat, di sini ada Arkan yang akan setia menanti kamu kembali. Kamu juga, Arkan, kamu harus tahu, Thalia di sana ingin mengejar cita-citanya. Dan, sekarang, bunda ingin Lia memakai ini, ini Bunda yang memberi, bunda ingin kamu selalu ingat, kamu memiliki Arkan yang sedang berjuang juga di sini.” Annisa mencoba mengutarakan keinginannya pada Thalia dan Arkan, dia juga memberikan cincin untuk Thalia, sebagai tanda dia sudah terikat oleh Arkan.


“Bunda, aku hanya ingin memberi cincin itu nanti saat aku bisa membeli sendiri untuk Thalia,” ucap Arkan.


“Bunda ingin memberikan ini pada Thalia, apa salahnya? Toh nanti kalau Thalia pulang, kalian akan bertunangan. Ini bunda bukan karena apa-apa memberi cincin ini pada Thalia. Bunda hanya ingin, kalian sudah ada ikatan, meski belum bisa di katakan sebagai ikatan pertunangan. Setidaknya bunda lega, jika kalian berpisah untuk sementara waktu, kalian akan selalu ingat, apa tujuan perpisahan ini, dan selalu ingat tentang mimpi kalian berdua untuk ke depannya,” jelas Annisa.


“Tapi bunda, Thalia...”


“Nak, kamu mencintai Arkan, kan?” tanya Leon.


“Iya, pah,” jawab Thalia.


“Apa salahnya kamu menerima pemberian bunda? Kalian bukan di jodohkan, kalian mengikat hubungan karena memilih sendiri. Dan, apa salahnya kami semua sebagai orang tua ingin melihat anak-anak kami  bahagia?” jelas Leon.


“Terimalah, Lia. Kalau kamu benar-benar sayang dan mencintai putra om,” ucap Arsyad.


Thalia melirik ke arah Arkan yang berdiri di sampingnya. Sejujurnya Arkan juga ingin mengikat Thalia lebih dulu, tapi Arkan merasa belum pantas di umur yang masih belum genap 20 tahun sudah memiliki ikatan serius. Meski memang dirinya akan serius dengan Thalia, tapi rasanya tidak pantas baru menginjak usia 18 tahun, dia sudah bertunangan.


Menurut Arkan dan Thalian, di usianya sekarang adalah usia yang sangat produktif untuk menganyam pendidikan untuk bekal masa depannya. Tapi, jika memang orang tua mereka berkehandak, mereka bisa apa, toh mereka berdua memang saling mencintai.


“Iya terimalah pemberian bunda, Lia,” ucap Arkan. Thalia hanya menganggukkan kepalanya.


Senyum bahagia terpancar dari wajah orang tua mereka. Thalia menyeka air matanya yang sudah lolos dari sudut matanya. Dia bahagia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya, dan memiliki calon mertua yang juga sangat menyayanginya.


“Kok nangis?” tanya Annisa.


“Bunda...” Thalia memeluk Annisa dan menangis di pelukannya.


“Kenapa nangis, harusnya kamu bahagia dong, masa nangis?” ucap Annisa dengan mengusap kepala Thalia.


“Terima kasih, Bunda sudah sayang sama Thalia,” ucapnya.


“Iya, sayang. Sudah jangan menangis.” Annisa mengusap air mata Thalia yang membasahi pipinya.


Acara yang Arsyad dan Leon rencanakan berjalan dengan lancar. Mereka lega karena Thalia mau menerima permintaan mereka. Semua teman-temannya juga turut bahagia melihat Arkan dan Thalia. Meski nantinya mereka akan kehilangan Thalia yang akan kembali ke Berlin untuk kuliah di sana.


^^^


Seminggu setelah acara perpisahan kelas di Vila Arkan, kini Thalia di sibukan untuk keberangkatannya ke Berlin. Ya, besok pagi Thalia akan berangkat ke Berlin untuk kuliah di sana dengan meninggalkan kekasihnya.


Meski berat, Thalia tetap akan berusaha agar dia selalu tabah mengarungi waktu dan jarak yang memisahkan dia dengan kekasihnya, Arkan. Begitu juga dengan Arkan, dia juga siap untuk di tinggal kekasihnya selama beberapa tahun ke depan. Dia rela melepas kekasihnya pergi untuk menganyam pendidikan demi meraih cita-citanya.


Keesokan harinya, semua sudah bersiap untuk mengantarkan Thalia ke Bandara. Arkan berada di mobil dengan Thalia dan Tita, juga ada Pak Adi sopir pribadi Tita.


“Sudah jangan sedih,” ucap Thalia pada Arkan.


“Tidak, aku tidak sedih. Aku sadar, jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Pertemuan adalah awal dari perpisahan, maka perpisahan adalah awal dari keindahan dalam pertemuan selanjutnya. Aku parcaya, pasti kita akan di pertemukan dengan indah di lain waktu,” ucap Arkan.


“Iya, Arkan. Aku tahu itu,” ucapnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.


“Kakak sih, pakai acara ke Berlin lagi, Tita kan gak ada teman jadinya,” ucap Tita yang duduk di depan di samping Pak Adi.


“Ada Kak Arkan, Kak Fajar, kamu jangan sedih, kakak kan di sana kuliah, nanti juga balik ke sini lagi, kok,” ucap Thalia.


Tita juga tidak ingin kakaknya pergi, karena dia merasa kesepian dengan kakaknya yang setiap hari dia ajak adu mulut atau berdebat.


Merka sudagh sampai di Bandara. Arkan mengantar Thalia ke dalam sebelum dia berangkat.


“Lia, aku akan merindukanmu, sebut aku dalam doamu, saat kamu merindukanku,” ucap Arkan.


“Iya, itu pasti Arkan,” jawab Thalia.


“Sekarang, lanjutkan perjuanganmu, raihlah mimpimu yang selama ini kamu ceritakan padaku, sekarang sudah tiba waktunya aku dan kamu akan menghitung waktu dan menghimpun rindu. Tabunglah rindumu untukku, dan pecahkan rindumu saat kita di pertemukan kembali di sini,” ucap Arkan.


“Iya, Arkan. Tabunglah rindumu juga, dan leburlah rindumu nanti di saat kita berjumpa lagi.” Thalia memeluk Arkan. Baru kali ini dia memeluk Arkan dengan erat, Arkan pun demikian.


“Aku mencintaimu, Lia,” ucap Arkan.


“Aku juga, aku sangat mencintaimu,” balas Thalia.


Arkan mencium kening Thalia cukup lama. Dia benar-benar akan kehilangan separuh hatinya saat ini. Memang perpisahan akan selalau ada, dan semua itu karena adanya pertemuan. Semua berawal dari pertemuan, namun dalam sebuah perpisahan akan ada keindahan dalam pertemuan selanjutnya.

__ADS_1


THE END.


__ADS_2