
"Semua sudah tidak bisa di hentikan, hari ini aku akan menikah dengan Rania. Gadis yang dulu aku cintai, tapi tidak untuk sekarang," gumam Dio yang sudah duduk di depan penghulu dan para saksi.
Dio sudah bersiap-siap melakukan ijab qobul di depan penghulu dan ayah Rania. Rania keluar dari kamarnya dengan gaun yang Najwa rancang khusus untuk mengikat janji sucinya dengan Dio. Rania di gapit oleh ibunya dan Najwa, lalu dia duduk di kursi yang sudah di sediakan. Najwa dan Shifa mendamping Rania yang sedang menunggu Dio mengucapkan janji sucinya.
"Hari ini aku akan kehilangan belahan jiwaku, separuh ragaku, separuh nafasku, dan separuh hidupku. Namun, aku harus kuat, aku masih bisa berdiri di atas kakiku untuk menahan semua rasa sakit ini," gumam Najwa.
Shifa memandangi wajah Najwa yang tidak biak-baik saja. Shifa sudah tau, kalau Najwa memiliki hubungan dengan saudara kembarnya itu. Shifa melihat Najwa yang pandangannya tidak berhenti menatap Dio yang sedang mengucapkan ijab qobul di depan penghulu dan ayah Rania.
Suara lantang Dio terdengar di seluruh penjuru ruangan di rumah Reno. Najwa mendengar dengan jelas, orang yang ia cintai mengucapkan ijab qobul di depan penghulu, tapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk wanita lain, yaitu Rania, sahabatnya sendiri.
Terdengar kata "SAH" dari para saksi yang menyaksikan ijab qobul Dio saat itu. Dio dan Rania pagi ini sudah resmi menjadi suami istri. Rania memeluk ibunya, yang masih berada di sisi Rania. Dia juga memeluk Najwa dan Shifa.
"Selamat, Nak. Kamu sudah menjadi seorang istri. Berbaktilah pada suamimu. Suamimu adalah pakaianmu, begitu juga kamu adalah pakaian suamimu. Fungsi dari pakaian adalah menutup aurat. Demikian pula suami dan istri, masing-masing semestinya menutupi aib pasangannya. Tidak mengumbar kekurangan dan aib mereka pada pihak lain. Kamu mengerti, kan? Apa yang ibu katakan?" tutur Ana pada Rania.
"Iya, ibu, Rania mengerti. Rania akan menjadi istri yang baik untuk Dio." Rania memeluk ibunya dengan erat.
"Ran, selamat, ya? Semoga kalian bahagia." Najwa memeluk Rania dan memberikan selamat pada Rania. Dia tetap terlihat baik-baik saja, walaupun hatinya sangat sakit sekali saat ini.
"Iya, Najwa. Terima kasih," ucap Rania.
"Ran, aku titip adikku. Jaga dia, patuhilah dia, dan berbaktilah pada Dio. Dio suamimu sekarang. Selamat ya, Ran." Shifa memeluk Rania dan mencium pipi Rania.
"Iya, Kak Shifa. Sekarang kamu bukan sahabatku lagi, tapi kamu adalah kakak ipar ku, Shifa," ucap Rania.
"Iya, Ran. Tuh Dio menjemput kamu," ucap Shifa.
Dio terlihat berjalan di damping orang tuanya, untuk menjemput Rania yang sudah menjadi istrinya. Rania di gapit oleh kedua orang tuanya. Meraka saling berhadapan, Rania mencium tangan Dio dan Dio mencium kening Rania. Dio menyematkan cincin pada jari manis Rania, begitupun Rania, dia menyematkan cincin pada jari manis Dio.
Shifa tahu apa yang di rasakan Najwa saat ini. Shifa merangkul Najwa dan mengusap bahu Najwa. Raffi juga berada di samping Najwa dan menepuk bahu Najwa, agar Najwa kuat menghadapi semua ini. Najwa tersenyum pada mereka yang sama-sama menguatkan Najwa di pagi ini, untuk menyaksikan Dio menikah dengan Rania.
Acara akad nikah sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Mereka mempersiapkan acara untuk resepsi nanti malam di ballroom hotel berbintang. Rania dan Dio masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah di hias layaknya kamar pengantin. Dio duduk di tepi ranjang, sedangkan Rania duduk di kursi yang berada di depan meja riasnya.
Dio melepaskan jasnya dan membuang jasnya ke tempat tidur dengan sedikit kasar. Dia sesekali menatap tajam Rania yang sedang menatap dirinya juga dari depan meja Rias.
"Kita sudah menikah, dan aku harap kamu jangan merasa senang. Aku menikahi mu, bukan karena aku mencintai kamu. Cinta untukmu sudah hilang sejak lama dari hatiku," ucap Dio dengan ketus di hadapan Rania.
"Maksud kamu?" tanya Rania. Dia tahu, kejadian ini pasti akan terjadi saat sudah menikah dengan Dio.
"Ini yang kamu inginkan, bukan? Kamu kan, yang meminta perjodohan ini terjadi?" Dio semakin murka dengan Rania.
"Kalau aku yang meminta, untuk apa aku menolak saat kamu bicara dengan ayah, dan menyetujui perjodohan ini," ucap Rania.
"Itu karena aku, mencintai wanita dan tidak bisa aku nikahi. Jadi, aku tidak mau menyia-nyiakan perjodohan ini, toh kamu juga menginginkannya. Dan ingat, satu lagi. Mulai detik ini, kamu milikku, dan terserah aku mau berbuat apa dengan kamu. Tapi, aku tidak akan pernah menyentuhmu, Rania!" ucap Dio dengan nada sarkasnya.
"Apa gunanya kita menikah, Dio, dan siapa wanita yang kamu maksud itu?" Rania berkata dengan suara serak karena menahan tangisannya.
"Kamu tidak perlu tahu, siapa wanita itu. Kalaupun tahu, aku juga tidak akan menceraikan mu, enak saja, kita belum mulai drama kita, aku harus menceraikan mu? Tidak, aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu," ucap Dio dengan tegas dan kasar.
"Maksud kamu yang dulu?" tanya Rania.
__ADS_1
"Pikir saja sendiri! Selamat menikmati hidup baru dengan ku, dan ingat, setelah resepsi nanti malam. Kita langsung menempati rumah baru kita," ucap Dio.
Rania hanya terdiam dan terpaku. Dia menjatuhkan tubuhnya di lantai, dia menangis di depan Dio yang sedang mengganti bajunya. Hari ini harusnya menjadi hari bahagia untuk Rania, tapi hari ini adalah hari di mana Rania akan menjalankan hidupnya bersama suami yang mencintai wanita lain, bukan dirinya.
"Ya Allah, apa salah masa laluku? Hingga Dio membenciku seperti ini. Dia terang-terangan bilang tidak mencintaiku, dan terpaksa menikahi ku, karena dia tidak bisa menikahi wanita pilihannya. Siapa wanita itu, Ya Allah. Tunjukkanlah pada diriku, dan apa penyebab Dio begitu membenciku?" Rania terisak di lantai dengan hati bertanya-tanya.
"Ini tidak lucu Rania. Kamu harus kuat. Ingat, ini adalah hari bahagia mu, jangan biarkan orang di luar sana tahu tentang rasa ini. Tahu soal rumah tanggamu. Biarlah Allah yang menentukan jalan kedepannya. Sabar, Rania. Percayalah, hati Dio akan terbuka untukmu." Rania berkata dalam hati dam memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Jangan tampakkan wajah sendu mu ini, kalau semua tamu tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan pernikahan kita!" Dio berjongkok di hadapan Rania dengan menatapnya tajam dan berkata dengan nada marah.
Rania dengan segera bangun dari lantai. Dia berusaha kuat dan tegar untuk menjalani hari-hari selanjutnya. Rania masuk ke kamar mandi, dengan membawa baju ganti, dia menghapus make-up di wajahnya, lalu mengganti bajunya. Rania memoles wajahnya dengan make-up tipis. Sebisa mungkin Rania menutup kesedihan di wajah cantiknya itu. Rania sedikit menebalkan eyeliner nya, agar matanya tidak terlihat sembab.
Dio sudah nampak memakai kemeja yang senada dengan gaun yang membalut tubuh Rania. Rania tidak berani menatap Dio. Dia bercermin lagi di meja riasnya.
"Sudah jangan kelamaan, kita keluar!" tukas Dio.
"I--iya, Dio," ucap Rania dengan gugup dan sedikit takut.
Rania keluar dari kamarnya bersama Dio. Dio menggandeng mesra Rania keluar dari kamarnya, layaknya pengantin yang berbahagia.
"Aku akan ikuti permainan kamu, Dio. Asal kamu tidak main tangan denganku. Cukup kamu menyiksa batinku saja, asalkan tidak menyiksa raga ku ini. Karena masih banyak mimpi yang harus aku raih, bukan hanya mimpi untuk mendapat cintamu saja," gumam Rania.
Semua keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga. Mereka terlihat bahagia sekali, apalagi Reno. Reno sangat bahagia, melihat putrinya sudah menikah dengan laki-laki yang dicintainya.
"Duh, pengantin baru, lama sekali ganti bajunya, ini masih sore, jangan sekalian dong," goda Reno pada Dio dan Rania.
"Wah, berapa ronde, nih? Sampai kelaparan seperti itu. Kamu hebat, membuat Rania sampai kelaparan, Dio," ledek Reno lagi pada Rania dan Dio.
"Ayah, bisa saja. Maklum ayah, pengantin baru, masih susah, udah ah, jangan goda kami lagi. Lihat nih, istri Dio merah kan, pipinya?" ucap Dio sambil mengusap pipi Rania. Demi apa, jantung Rania seakan lolos dari persinggahannya, mendapat perlakuan Dio yang seperti ini.
"Andai saja, aku dan kamu benar-benar layaknya pengantin baru yang saling mencintai, Dio. Sayang itu semua hanya mimpi, dan mulai detik ini, aku akan mengarungi mimpi-mimpi ini setiap hari. Dan ini adalah mimpi buruk yang sedang aku alami. Iya, aku akan menjalaninya, entah itu sampai kapan. Dan, untuk hatiku, aku harap kamu baik-baik saja menerima semua ini," gumam Rania dengan senyum yang sedikit menahan sakit di hatinya.
"Sudah, kita makan, yuk," ajak Dio.
"Ah, iya Dio. Ayo kita makan," ucap Rania dengan gugup.
"Ayah sudah makan?" tanya Rania.
"Sudah sayang, sana kamu makan yang banyak, buat bekal nanti malam," ledek Reno lagi.
"Ayah, jangan seperti itu," ucap Rania dengan mengerucutkan bibirnya karena kesal dan sesak di dadanya.
"Iya, sudah jangan cemberut, sudah punya suami, jangan cengeng. Sekarang tuan putri ayah sudah punya teman di kamar, pasti ayah di cuekin sekarang, apalagi nanti kamu langsung menempati rumah baru kalian," ucap Reno sambil mengusap pipi Rania.
"Ayah, kok tahu, kalau Dio mengajak Rania langsung tinggal di rumah baru?" tanya Rania.
"Aku sudah membicarakannya jauh-jauh hari sebelum kita menikah, Rania," jawab Dio.
"Kenapa kamu tidak berbicara dulu dengan aku? Dan baru bicara tadi saat di kamar?" tanya Rania.
__ADS_1
"Itu kejutan buat kamu, Rania. Sudah kita makan dulu, lalu setalah itu kita istirahat, nanti malam pasti kamu lelah, karena harus menemui tamu," ucap Dio.
Rania hanya mengiyakan dengan membatin. Hatinya benar-benar sakit, dia tidak menyangka, sandiwara Dio di depan keluarga dia dan keluarga Rania sesempurna ini.
"Aku akan ikuti sandiwara ini, Dio. Kalau ini yang kamu mau," gumam Rania sambil mengambilkan nasi untuk Dio.
Rania memilih duduk di sofa yang jauh dari keluarganya. Dio tidak mengikutinya, dia lebih memilih bersama Najwa yang sedang duduk dengan Raffi. Rania memerhatikan kedekatan Dio dengan Najwa dari kejauhan. Mereka terlihat mesra, bukan layaknya saudara, atau kakak beradik. Dio sesekali menatap mesra wajah Najwa yang terlihat sendu di mata Rania. Dio juta tidak segan-segan bercanda sambil menyentuh pipi Najwa layaknya kekasih Najwa.
"Apa Najwa wanita yang Dio cintai? Ah … mana mungkin, Najwa? Tapi, dia bilang dia tidak bisa menikahinya. Apa mungkin benar Najwa? Karena jika dengan Najwa pasti mereka berdua tidak akan menikah. Mereka kan sepupu, dan kedudukan Najwa lebih tua dari Dio. Sudah lah, jangan memikirkan itu, mana mungkin juga Najwa," gumam Rania dengan menyendok makanannya.
Rasanya Rania tidak berselera untuk makan. Dia meletakan kembali piringnya dan meneguk air mineral yang ia ambil. Rania tau, kalau Dio belum membawa minumnya, dia berinisiatif mengambilkan minum untuk Dio. Rania membawakan air mineral ke arah Dio. Dio makan dengan begitu lahap hingga dia sedikit merasa tersendat saat akan menelan makanannya. Najwa menyadari itu, dia langsung memberikan air mineralnya pada Dio.
"Ini Dio minumnya, kamu belum mengambil minum, kan?" Najwa dan Rania bersamaan memberikan air mineral pada Dio. Dio memandangi dua wanita itu yang memberikan air mineral padanya. Dan, dengan kata yang sama.
"Terima kasih, Najwa. Rania sudah mengambilkannya," ucap Dio.
"Hmm ... kamu sih, makannya cepat-cepat. Gitu kan jadinya? Ya sudah, ini juga air mineral ku," ucap Najwa dengan sedikit sesak di dadanya. Dia terlalu bahagia bisa makan bersama dengan Dio.
"Bodoh sekali kamu, Najwa! Dio sudah menikah, dia sudah bahagia, sadarlah! Sudah tutup kenangan bersama Dio. Apa kamu tidak mendengar Dio dengan lantang dan lancar mengucapkan ijab qobul tadi?" gumam Najwa.
Dio tahu, hati Najwa bagaimana. Dia juga sama-sama sakit hati ini. Dia sudah meninggalkan Najwa. Namun, hatinya masih tertinggal pada Najwa. Dio mengajak Rania ke kamar, karena dia tidak ingin melihat Najwa yang sedih saat ini.
Rania kembali ke kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang dan di membelakangi Dio yang juga sedang duduk di tepi ranjang. Mereka sibuk dengan hatinya sendiri-sendiri. Hingga Dio merasa lelah, dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berisi bunga melati segar. Wanginya pun masih terasa segar dan menentramkan pikirannya.
"Kita di rumah baru ada 3 kamar. Kamar utama, adalah kamarku, dan nanti, kamu bisa tidur di kamar lainnya. Tapi, saat orang tua kita berkunjung kita harus satu kamar," ucapan Dio begitu menyakitkan di hati Rania.
"Iya, terserah kamu Dio," ucap Rania dengan beranjak ke sofa.
Rania memilih menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dengan gaun yang masih menempel di tubuhnya dia memejamkan matanya sejenak, sambil mengembuskan napasnya di sela-sela rasa sakit yang menghujam jantungnya.
"Inilah pernikahan, yang aku dambakan, dan yang aku nantikan? Sungguh manis sekali, bagai pemanis buatan, yang manisnya meninggalkan pahit di tenggorokan," gumam Rania.
Rania istirahat sejenak di atas sofa, saat dia sudah mendengar dengkuran halus dari Dio. Dio sudah tertidur pulas di siang ini. Hingga sore hari, mereka baru bangun dan langsung bersiap-siap untuk melanjutkan acara resepsinya di ballroom hotel berbintang.
Rania dan Dio sudah berada di dalam mobil pengantin menuju hotel. Mereka langsung menuju kamar yang sudah di siapkan untuk merias Rania dan Dio. Rania di temani dengan Shifa dan Najwa saat sedang di rias. Dio juga berada di dalam dengan Raffi, Fattah Ozil, dan Farrel. Kamar yang luas itu seketika rame, karena mereka bercanda dan menggoda Dio dan Rania.
"Kalian itu, sukanya meledek. Sudah sana keluar. Namanya juga pengantin baru, ya enaknya di kamar. Ya kan, Mas Fattah?" tanya Dio dengan bercanda.
"Ya gak etis, saja. Habis makan langsung gempur lagi, bro," ledek Ozil.
"Ya, wajar sih, kalau menurutku," imbuh Fattah.
"Kalian juga pasti akan merasakannya," ucap Dio.
"Sudah, tuh kasihan istriku, dari tadi merah merona pipinya. Sana keluar, aku dan Rania mau ganti baju," usir Dio pada Raffi, Fattah, Ozil, dan Farrel.
"Yuk, kita keluar. Jangan ganggu pengantin baru," ajak Najwa pada mereka.
Mereka keluar dari kamar Rania dan Dio. Dan langsung menuju ke ballroom bersama yang lainnya.
__ADS_1