
"Najwa, kamu ke butik hari ini?" tanya Annisa.
"Iya bunda," jawab Najwa.
"Oke, bunda akan ikut, bunda ingin lihat gaun Shifa dan baju seragam keluarga," ucap Annisa.
"Oke," jawab Najwa.
Dio yang mendengarnya sedikit ada rasa berat, bundanya mau ikut ke butik. Dio segera menghabiskan sarapannya dan mengambil tas kerjanya.
"Bunda, Abah, Dio berangkat dulu, oh ya Abah, nanti Abah jadi ke kantor Dio, kan?" tanya Dio.
"Iya jadi, tunggu saja, Dio," jawab Arsyad.
"Oke." Dio segera ke luar, dan berangkat ke kantornya.
Dio merasa ada yang kurang pagi ini, karena tidak berangkat dengan Najwa. Biasanya dia berangkat dengan Najwa, dan sebelum menurunkan Najwa di butiknya, Najwa memakaikan dasi Dio.
"Ah … bunda, pakai acara ikut Najwa ke butik lagi," ucap Dio di dalam mobil. Dia memakai dasinya yang tadi hanya di masukan ke dalam tas kerjanya.
"Aku kan jadi pakai dasi sendiri, biasanya Najwa yang memakaikan," gumam Dio sambil memakai dasinya.
Annisa dan Najwa pergi ke butik. Najwa yang menyetir mobilnya sendiri. Setelah Dio pulang dari Berlin, Najwa lebih sering ke butik bersama Dio. Dan, entah kenapa tiba-tiba bundanya ingin sekali ikut ke butik.
"Ada benarnya juga sih, bunda ikut aku. Aku semakin takut, semakin takut tidak bisa mengikhlaskan Dio untuk wanita lain. Aku tahu Abah tidak mungkin setuju aku dengan Dio. Dan semalam Dio? Ah, kenapa dia jadi seperti itu, kenapa semakin hari Dio agresif sekali dan over protektif denganku," gumam Najwa sambil menyetir mobilnya.
Ya, semalam Najwa menemui Dio di taman belakang. Mereka membicarakan hubungannya yang rumit itu. Dan, setelah Shifa menikah, Dio akan mencoba berbicara dengan abahnya. Seperti biasa, dua insan yang sedang di mabuk cinta itu, melakukan hal yang semestinya tidak ia lakukan.
Najwa mengingat semalam, betapa dirinya terbawa oleh suasana malam yang dingin itu saat bersama Dio. Dia rela sebagian tubuhnya di sentuh oleh laki-laki yang belum menjadi muhrimnya itu.
"Apa yang aku lakukan semalam, Ya Allah. Aku tidak bisa menghindar dari semua ini. Sakit rasanya bila aku harus melepas Dio. Aku tahu ini salah, dan bahkan aku berdosa. Aku tidak bisa mengendalikan dan menjaga diriku sendiri," gumam Najwa.
"Ciiiittt……!" Najwa mengerem mobilnya mendadak, karena dia melamun membayangkan apa yang ia lakukan semalam dengan Dio. Dan, tidak melihat ada mobil yang mau berhenti di depannya.
"Najwa! Jangan melamun, Nak!" Annisa teriak karena dia kaget dan takut.
"Maaf bunda, Najwa tidak konsen nyetirnya," ucap Najwa dengan gugup.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Annisa.
"Tidak apa-apa bunda," jawab Najwa.
"Apa lagi ada masalah dengan pacarmu?" tanya Annisa.
"Ah, bunda, seperti Shifa saja, bahas nya pacar, Najwa belum mikir ke situ bunda," jawab Najwa.
"Lalu apa yang kamu pikirkan? Kok sampai seperti ini, tidak konsen nyetirnya." Annisa mencoba mancing Najwa agar dia jujur siapa kekasihnya.
"Tidak mikir apa-apa bunda, cuma Najwa tidak konsen saja tadi" jawabnya
"Tidak konsen ada sebabnya lho, Na" ucap Annisa.
"Gak apa-apa bunda, maaf sudah buat bunda kaget," ucap Najwa.
"Ya sudah jangan melamun lagi," ujar Annisa.
Najwa melajukan mobilnya lagi dengan pelan, dan akhirnya sampai di butiknya. Mereka turun dari mobilnya dan masuk ke dalam butik. Annisa melihat butiknya semakin ramai semenjak di pegang Najwa. Semua baju dan gaun juga keluaran terbaru semua. Najwa memang tidak pernah berhenti membuat desain terbaru darinya.
"Butik ini kelihatan hidup sekali, Nak. Dan banyak sekali bunga mawar merah dan bunga lily di setiap sudut ruangan yang masih terlihat segar." Annisa berkeliling melihat penataan ruangan di butiknya.
"Ah iya, Najwa suka saja mawar merah bunda, dan bunga Lily, jadi setiap hari Najwa sengaja pesan untuk mengganti bunga yang sudah layu. Paling sebentar lagi tukang bunga ke sini," ucap Najwa.
"Mbak Najwa, ada kiriman bunga." Karyawan Najwa memberikan sebuket bunga mawar merah dan putih.
Najwa melihat kartu ucapan yang ada di dalam sebuket bunga itu. Najwa mengambilnya dan membacanya. Annisa masih terlihat di sudut ruangan sambil melihat gaun pengantin yang cantik dan anggun di dalam lemari. Najwa membaca kartu ucapan itu dengan senyum yang mengembang.
"Pagi ini, aku merasakan hampa sekali di dalam mobilku. Iya tidak ada wanita cantik yang berwajah teduh, yang duduk di sampingku. Namun, itu tidak masalah, karena kamu selalu ada di hatiku Najwa. Hingga maut mengambil nyawaku. Bunga mawar merah ini, untuk cintaku yang sudah mendarah daging di dalam ragaku. Cinta ini suci, seperti bunga mawar putih ini. Love you, Najwa." ~Dio.
"Love you too, Dio." Najwa berkata sambil tersenyum dan memasukan kartu ucapannya di dalam tasnya.
Najwa tersenyum bahagia membaca kartu ucapan itu. Ya, setiap pagi, Najwa selalu mendapat kiriman bunga dari Dio. Dia tidak pernah absen mengirim bunga untuk Najwa setiap hari. Annisa tau, Najwa mendapat bunga-bunga ini dari seseorang yang sangat berharga bagi dirinya. Dan, Annisa tau, pasti Dio, tidak ada yang lain lagi selain Dio.
"Putri bunda, dapat kiriman bunga dari siapa hayo? Pasti dari kekasihnya ini, tuh Senyum-senyum sendiri." Annisa meledek Najwa yang sedang sumringah di pagi ini.
"Ah, Bunda, ini bukan dari siapa-siapa. Najwa kan bilang, Najwa selalu pesan bunga setiap hari," ucap Najwa mengelaknya.
"Oh seperti itu? Ya sudah, tata bunganya, dan ganti tuh sebelah sana sudah ada yang layu," ucap Annisa.
Najwa menata bunga di vas, dia mengganti bunga yang sudah layu. Tapi, bunga yang sudah layu itu dia kumpulkan jadi satu dan tidak di buang.
"Ini bunga yang layu tidak di buang?" tanya Annisa.
"Najwa kumpulkan di vas yang sebelah sana bunda," jawab Najwa.
"Sebegitu berharganya bunga ini, sampai layu juga tidak kamu buang, Nak?" tanya Annisa.
"Sayang bunda, belinya mahal," jawab Najwa berbohong.
"Ya … ya … ya … terserah kamu deh. Oh iya, mana gaun milik Shifa?" tanya Annisa.
"Di dalam ruangan Najwa, tinggal finishing saja bunda, hari ini atau besok paling selesai," ucap Najwa.
"Boleh bunda masuk ke ruanganmu?" tanya Annisa.
"Boleh, kan ruangan itu juga milik bunda," jawab Najwa.
Najwa kembali menata bunganya di vas. Dan Annisa masuk ke ruangan Najwa. Ruangan yang dulu di tempati dirinya saat masih mengurus butiknya, sekarang di tempati Najwa dengan nuansa berbeda. Seperti di ruang depan, salalu ada mawar merah, mawar putih, dan bunga Lily di sudut ruangan. Annisa semakin yakin, ini semua adalah pemberian dari Dio.
Annisa hanya tersenyum saja melihat semua ini. Dia merasakan bagaimana besar cinta putranya itu pada Najwa, anak sambungnya. Annisa juga merasakan sesak di dadanya, karena nantinya mereka sulit untuk bersatu. Annisa duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Najwa. Annisa melihat beberapa kartu ucapan di kotak kecil warna merah. Annisa melihat dan membaca apa yang tertulis di kartu ucapan itu.
"Teruntuk wanitaku, Ainun Najwa Salsabila. Semoga selalu bahagia, merangkai mimpi besarmu di hari ini. Dan, kamu tahu, mimpi besarku adalah kelak bisa bersatu dengan wanitaku ini, hingga ajal menjemputku." ~Dio.
__ADS_1
"Pagi ini, kulukis wajahmu yang sendu di lensa mataku. Kukemas dengan cintaku yang sederhana nan indah. Tetap semangat, Sayang. Meski perjalanan ini penuh liku dan luka. Love you." ~Dio.
Annisa menyeka air matanya yang hampir jatuh dari sudut matanya. Dia tidak menyangka, cinta Dio begitu besar untuk Najwa. Dia memikirkan bagaimana bisa memisahkan mereka, tapi kalau tidak ini akan menjadi sesuatu yang rumit lagi dalam keluarganya.
"Ya Allah, bagaimana ini? Aku tidak bisa, bila harus melihat mereka berpisah. Tapi, untuk bersatu, itu juga mustahil. Benar kata Kak Arsyad, jika bersatu bagaimana bisa statusku berbesanan dengan suamiku sendiri?" Annisa terus berpikir, bagaimana menghadapi ini.
Annisa menaruh lagi beberapa kartu ucapan yang ia baca, dan meletakan ke tempat semula sebelum Najwa masuk. Annisa beranjak dari tempat duduknya, dia melihat gaun milik Shifa yang begitu cantik dan anggun. Dia sebisa mungkin meredam rasa kalut dalam pikirannya itu karena Najwa dan Dio.
^^^^^
Hari ini rumah Arsyad sudah di sulap mejadi layaknya sebuah ballroom hotel berbintang. Ya, hari ini adalah hari di mana Shifa akan mengikat janji suci dengan laki-laki pilihannya. Dia menambatkan hatinya pada seorang pria yang tampan dan shalih itu. Fattah, pemuda yang tampan itu berhasil memikat hati Shifa.
Sejak pertemuan pertamanya di acara ulang tahun pernikahan Vino dan Shita, mereka saling akrab, hingga Fattah memberanikan diri melamar Shifa setelah menyelesaikan S3 nya di Budapest Hungaria.
Shifa sudah terlihat anggun dan cantik, di balut gaun rancangan saudara sepupunya itu. Gaun yang indah itu, Njawa rancang khusus untuk Shifa. Najwa menemani Shifa dengan Rafffi, Dio, dan Arkan. Ya, harusnya Najwa yang menikah terlebih dahulu, karena dia paling tertua di sini. Tapi, Arsyad dan Annisa tidak seperti itu. Karena jodoh datang tidak bisa di tebak. Karena Shifa mendapat laki-laki yang serius terlebih dahulu, jadi Shifa yang menikah terlebih dahulu.
"Shifa … kamu cantik sekali," ucap wanita cantik dengan gaun pesta yang anggun dari depan pintu kamar Shifa.
"Rania, kamu bisa saja," ucap Shifa.
Rania masuk ke dalam dan duduk di sebelah Shifa. Seperti biasa mereka mengobrol bersama. Najwa juga ikut bergabung. Tapi, Dio menatap Rania dengan tatapan dingin dan angkuh.
"Mana kekasih kamu?" tanya Shifa.
"Kekasih siapa? Ngarang, sejak kapan aku memiliki kekasih?" jawab Rania.
"Itu yang dulu ketemu aku di caffenya Rana," ucap Shifa.
"Oh, Evan? Dia temanku, biasa ayah memaksaku menerima ajakan Evan pergi, ya sudah aku ajak ke cafe Tante Shita, kan ada kamu juga," jelas Rania.
"Kamu memang sukanya di paksa, Ran," ujar Shifa.
"Entahlah, ayah seperti itu sukanya, sudah jangan bahas itu," jawab Rania.
Najwa hanya terdiam saja, entah kenapa Najwa sekarang sedikit jauh dengan Rania, tidak seperti dulu saat dirinya belum mengetahui kalau Rania akan di jodohkan abahnya dengan dio.
"Itu yang di samping kamu saja tidak memiliki kekasih," ucap Rania.
"Siapa? Najwa?" tanya Shifa.
"Iya siapa lagi, kalau bukan Najwa. Najwa, kamu kapan nyusul?" tanya Rania.
"Nanti tenang saja, mau menikmati sendiri dulu," jawab Najwa dengan menyunggingkan senyumannya.
"Iya lah, sendiri itu bebas. Tapi kadang sepi sih. Ah…sudah jangan bahas soal pacar. Aku bahagia akhirnya sahabatku yang satu ini akan melepas masa lajangnya," ucap Rania dengan memeluk Shifa.
Dio dari tadi hanya diam saja, mendengar Rania berbicara. Dia tidak menyangka, jika Rania sendiri dia telihat dewasa, layaknya wanita karir yang mandiri. Namun, saat sedang bersaman Shifa atau Najwa selalu saja celotehan manja yang Dio dengar.
"Benar-benar bunglon dia. Aku melihat kemarin saat menemui klien tidak semanja ini ucapannya. Dia tegas, layaknya wanita karir yang benar-benar mandiri," gumam Dio.
Dio keluar dari kamar Shifa, dia bergabung denga Farrel dan Ozil yang sedang sibuk menikmati makanan.
"Wiiihh … semakin tampan kamu, Dio. Pulang dari Berlin saja sombong, gak main ke rumah," ucap Farrel.
"Sibuk, Kak," ucap Dio.
"Sibuk sama pacarnya pasti," imbuh Ozil.
"Pacar? Siapa ya pacarku?" tanya Dio dengan mengurai senyumnya.
Meraka mengobrol bersama hingga rombongan keluarga Fattah datang ke rumah. Dio segera masuk memanggil kakaknya karena keluarga Fattah dan penghulu sudah sampai. Dio menggandeng saudara perempuannya keluar dari kamarnya.
"Kakak sudah siap?" tanya Dio.
"Bismillah ... kakak siap, Dio," jawab Shifa.
Sebelum menggandeng kakaknya keluar dari kamar, Dio memeluk kakaknya dan berbicara dengan kakak perempuan dan juga saudara kembarnya.
"Kak, tidak ada harta yang paling berharga selain keluarga, jadikan keluargamu nanti selalu utuh, meski ada cobaan yang selalu menghampiri. Jadilah istri yang selalu membuat suamimu nyaman, dan tentunya istri yang Sholehah. Karena perhiasan yang paling indah adalah istri yang Sholehah. Selamat menempuh hidup baru, Kak," ucap Dio dan mencium kening Shifa.
"Iya, Dio. Semoga kamu menemukan wanita yang sholehah juga, mencintaimu, dan mengabdikan hidupnya untuk berbakti padamu," ucap Shifa
"Aamiin ... Ayo keluar, Mas Fattah sudah menunggu bidadarinya keluar," ajak Dio.
Dio menggandeng Shifa, dia memberikannya pada Opanya. Ya, Opa Rico yang menjadi walinya, menggantikan Arsyil, ayahnya. Rico bahagia bisa menyaksikan cucunya menikah pada hari ini. Shifa duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk mempelai wanita saat menunggu Fattah mengucapkan ijab qobul di depan opanya dan penghulu. Arsyad dan Annisa menyaksikan menantunya mengucapkan janji suci di depan penghulu dan Papah Rico, serta para saksi.
Ucapan kata "Sah" terdengar dari mulut para saksi yang menyaksikan Fattah mengucapkan ijab qobul. Shifa menangis bahagia karena hari ini sudah resmi menjadi istri dari Fattah.
Fattah berjalan menjemput istrinya, dan Shifa di apit Arsyad dan Annisa berjalan menemui suaminya. Shifa mencium tangan Fattah dan fattah mencium kening Shifa.
"Alhamdulillah, sudah tidak ada rasa khawatir dalam diriku, kamu sudah menjadi sosok peneduhku, Shifa," ucap Fattah.
"Bimbing aku, Fattah. Untuk menjadi istri yang Sholehah dan taat," ucap Shifa.
"Itu pasti, Sayang." Fattah baru pertama kalinya memanggil Shifa dengan kata sayang. Ya, karena mereka saling menjaga, dan merindu dalam diam dan doa.
Tidak sia-sia perjuangan mereka selama ini. Fattah hanya meminta pada Tuhannya, agar bisa di satukan dengan Shifa. Dan, ini adalah kebahagiaan untuk Fattah dan Shifa. Setiap bait Do'a yang ia rapalkan, di dengar oleh Allah, dan mereka di satukan dalam ikatan suci cinta.
^^^^^
Resepsi pernikahan Shifa berjalan dengan lancar. Masih ada tamu yang berdatangan hingga menjelang sore. Najwa berjalan ke menuju kamarnya. Dia merasa lelah sekali, karena dari semalam dia sibuk menyiapkan pernikahan Shifa. Najwa duduk di depan meja riasnya. Dia menghapus make-up nya dengan kapas yang sudah di basahi cairan pembersih wajah.
Dia melepas gaun pestanya dan memakai bathrobe untuk mandi. Najwa melepas penatnya dengan guyuran air dari shower di kamar mandinya. Hati Najwa sebenarnya sudah lelah dengan cinta yang ia geluti bersama Dio. Apalagi malam ini Dio mengajak Najwa bertemu di taman. Dia ingin menolak, karena dia merasa lelah sekali. Tapi, Dio memaksanya untuk menemuinya.
"Dio semakin ke sini semakin memaksaku saja. Aku mencintainya, tapi ini cinta yang salah. Aku tidak ingin hidup dalam cinta yang seperti ini. Aku ingin seperti mereka, yang memiliki cinta dan semua dunia tahu, cinta yang mereka miliki. Bukan seperti ku yang menyembunyikan cinta ini pada semuanya," gumam Najwa.
Najwa selesai mandi, dia mengganti bajunya dengan pakaian santai, tapi sopan untuk menemui tamu yang datang. Ya, karena masih ada tamu yang berdatangan untuk memberi ucapan selamat pada Shifa. Najwa merebahkan tubuhnya dulu sebelum keluar dari kamarnya. Dia memang sangat lelah hari ini. Hingga tanpa sadar dia memejamkan matanya dan tertidur karena lelah sekali.
^^^^^
Malam harinya, Najwa keluar dari kamarnya. Masih terlihat sisa-sisa pesta pernikahan malam ini. Pelaminan megah masih terpampang di halaman rumah Arsyad di hiasi dekorasi putih yang cantik. Najwa berpikir jika nanti dia menikah akankah seperti ini? Cintanya saja terlarang, dan apa mungkin bisa mencintai pria lain selain Dio, jika tidak menikah dengan Dio nantinya.
__ADS_1
"Apa akan ada pesta semeriah ini, jika aku menikah nanti? Dan, apakah Dio yang akan menemani aku nanti di atas pelaminan megah seperti itu?" Nawja tersenyum kecut, sambil meratapi hatinya karena memiliki cinta yang tidak pasti.
Najwa menghela napas panjang, dia masuk ke dalam mobil dan melakukannya menemui Dio yang sudah menuggu dia di taman. Dio, ke taman dengan menggunakan taksi, agar dia bisa bersama dengan Najwa memakai mobil Najwa.
Najwa sudah sampai di taman tempat mereka bertemu seperti biasanya. Najwa melihta sosok pria yang ia cintai denga kaos oblong warna putih favoritnya itu.
"Sayang." Najwa memeluk Dio dari belakang. Dia menghirup aroma khas dari tubuh Dio yang sudah membuat candu bagi dirinya.
"Kamu mengagetkan saja, sayang." Dio membalikan badannya dan mencium kening Najwa.
"Ada apa kamu ingin bertamu aku?" tanya Najwa.
"Kangen saja," ucap Dio.
"Setiap hari bertemu kangen?"tanya Najwa
"Kangen, di dalam mobil ada kamu. Sejak bunda ikut ke butik, aku selalu sendiri ke kantor, tidak melihat senyuman manismu, tidak mencium kamu saat mau ke kantor. Ah, aku rindu semua itu, Najwa," ucap Dio sambil mengusap pipi Najwa.
"Sama aku juga seperti itu, sayang." Najwa memeluk Dio dengan erat.
"Kamu bawa mobil, kan?" tanya Dio.
"Iya, kenapa?"
"Kemarikaan kunci mobilnya, ikut aku." Dio mengajak Najwa ke suatu tempat, entah kemana perginya.
Dio melajukan mobilnya entah mau ke mana ia melakukannya. Najwa hanya ikut dengan Dio. Entah kenapa rasa takut yang selalu mengecam hati Najwa hilang seluruhnya saat berada di sisi Dio. Rasa takut kehilanga, rasa takut tidak bisa memiliki, dan lainnya semua melebur dan hilang saat dia berada di samping Dio.
"Kok ke kantor kamu?" tanya Najwa.
"Ayo ikut saja," ajak Dio.
Dio masuk ke dalam kantornya yang hanya di jaga oleh satpam dan beberapa penjaga malam. Dio menggandeng tangan Najwa dan berjalan menuju Rooftop.
"Mau apa ke sini?" tanya Najwa.
"Ngobrol, ayo duduk di sana," ajak Dio.
Sebuah meja di tata sangat indah di Rooftop. Meja dengan 2 kursi dan bernuansa putih terlihat lampu warna-warni menghiasi meja itu. Sudah ada makanan dan minuman di atas meja itu.
"Ayo, kok berhenti." Dio mengaja Najwa berjalan menuju ke arah meja.
"Ini?" tanya Najwa,
"Iya, ini aku yang menyiapkan semua," jawab Dio.
Dio menyiapakan ini semua karena ini adalah hari ulang tahun Najwa. Ya, semua melupakannya, karena semua sibuk untuk menyiapkan pernikahan Shifa yang serba mendadak itu. Tidak hanya semua orang, bahkan Najwa juga lupa kalau dirinya ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Saayang," ucap Dio.
"Ini tanggal, eh…aku malah lupa," ucap Najwa.
"Aku tahu, kamu sibuk sekali, membantu menyiapkan pernikahan Shifa." Dio mencium kening Najwa.
"Terima kasih, Sayang," ucap Najwa.
Dio memberikan bunga untuk Najwa dan kotak kecil berisi cincin untuk Najwa.
"Kemarikan tanganmu," pinta Dio.
"Untuk apa?" tanya Najwa.
Najwa mengulurkan tangannya dan Dio menyematkam cincin di jari manis Najwa.
"Eh Dio ..." ucap Najwa.
"Maaf aku mandahului menyematkan cincin ini, sebelum izin ke Abah, kamu suka? Kalau tidak kamu bisa melepasnya, tapi aku ingin kamu menyimpannya," ucap Dio.
"Aku suka, Sayang. Aku akan pakai. Terima kasih," ucap Najwa.
"Sama-sama." Dio mencium tangan Najwa.
Mereka dinner romantis di Rooftop kantor Dio yang di dekorasi secantik mungkin. Selesai itu, mereka kembali pulang, karena sudah hampir pukul 11 malam, dan Najwa tidak pamit dengan orang rumah, karena masih banyak tamu dan kerabat dekat, serta keluarga.
"Sayang, aku sampai di taman saja, nanti aku pakai taksi, ya?" ucap Dio.
"Iya." Najwa masih menyandarkan kepalanya di bahu Dio.
Mereka sudah sampai di depan taman. Dio menghentikan mobilnya. Dia mencium Najwa sebelum keluar dari mobilnya.
"Love you," ucap Dio.
"Love you too," jawab Najwa dengan manja yang membuat Dio gemas dan ingin menggigit bibir Najwa.
Tak perlu aba-aba, dia mengecup bibir Najwa yang manis itu. Najwa membalas kecupan Dio, hingga mereka berciuman semakin dalam. Kecapan dan lenguhan kecil dari mulut mereka beradu merdu di telinga mereka.
Dio terus menjelajahi setiap inci bibir Najwa hingga Najwa kembali terbuat dengan suasana yang mematikan syaraf otaknya untuk berpikir logis. Najwa membiarkan tangan Dio mengusap sempurna bagian yang seharusnya tidak boleh tersentuh laki-laki. Malam kemarin kembali terjadi. Sebagian tubuh Najwa rela dia berikan untuk Dio malam ini.
Najwa terisak saat dia menyadari apa yang ia lakukan dengan Dio. Dia membenahi bajunya dan Dio hanya terdiam merangkai kembali syaraf otaknya yang telah hilang kendali itu.
"Maafkan aku, Najwa," ucap Dio.
"Lupakanlah, turun dan pulang, kamu harus sampai di rumah lebih dulu," ucap Najwa.
"Oke," ucap Dio sambil turun dari mobilnya. Dio mengecup kening Najwa sebelum dia turun.
"Sudah jangan macam-macam lagi," ucap Najwa.
Najwa menangis sejadi-jadinya di dalam mobil, saat Dio sudah mendapatkan taksi dan pulang ke rumah. Najwa tidak mengerti kenapa setiap kali dekat dengan Dio, dia hanya pasrah akan apa yang Dio lakukan. Dia benar-benar sudah di butakan oleh cinta.
"Maafakn Najwa, Abah. Najwa mencintai Dio," gumam Najwa sambol melajukan mobilnya untuk pulang.
__ADS_1