THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 34 "Langkahi Dulu Mayatku!"


__ADS_3

Lintang keluar dari ruangan Arsyad. Dia masih terngiang kata-lata Arsyad tadi, saat bilang akan berusaha mencintai Annisa lagi, dia semakin penasaran dengan Annisa, apa sebelum Annisa menikah dengam Arsyil mereka saling mencintai atau bagaimana.


"Pak Arsyad bilang, dia akan berusaha mencintai Annisa lagi seperti dulu, apa mereka dulu saling mencintai? Atau bagaimana?" Lintang bertanya-tanya dalam hatinya.


Dia memang menyukai Arsyad sejak awal dia bertemu di depan kantor dan tidak sengaja menabrak Arsyad.


^^^^^


Siang hari, setelah Annisa menemui kliennya, dia memutuskan makan siang dengan Rere di luar. Seperti biasa mereka makan siang di tempat favorit mereka. Nisa dan Rere berangakat ke restoran favoritnya itu, sebelum mereka ke restoran, Annisa dan Rere pergi menemui Vera yang baru saja melahirkan putra pertamanya.


"Kita jadi ke ruang Vera dulu kan, Nis?"tanya Rere.


"Iya dong, kita jenguk dia dulu di rumah sakit sebentar, nanti kalau ingin mengobrol lama setelah Vera pulang ke rumah saja,"ucap Annisa


"Oke." Rere melajukan mobilnya ke ruang sakit di mana Vera di rawat.


Mereka sudah sampai di rumah sakit, Rere dan Annisa segera turun dan masuk mencari ruangan Vera. Mereka sampai di depan ruangan Vera, mereka masuk ke dalam, terlihat Vera sedang menggendong baby boy nya.


"Assalamualaikum, ih kepo akan Tante jagoan." Annisa mendekati Vera dan bayinya, dai mengusal lembut pipi halus baby boy Vera.


"Ih, mirip papahnya ini,"ucap Rere.


"Kok iya, Ver. Gak ada mirip-miripnya dengan kamu, ini mah benar-benar duplikatnya kamu, Mas Donni,"imbuh Nisa.


"Sini sama Tante Nisa." Annisa menggendong baby boy Vera.


"Kalian sudah siap nama belum, nya baby boy nya?"tanya Rere.


"Sudah dong," jawab Vera dan Donni.


"Siapa namanya?"tanya Rere.


"Fajar Bramasta,"ucap Vera dan Donni.


"Fajar, nama yang bagus, jadi anak Sholeh ya, nak." Annisa mencium pipi baby Fajar dengan lembut.


"Jadi pengen punya baby lagi,"ucap Annisa.


"Nah, bukannya semalam udah buat tuh, sama Pak Dosen?" Rere mulai meledek shabatnya itu.


"Huss…jangan berisik, Fajar mau tidur,"ucap Nisa.


"Ehh..iya Nis, gimana, sudah mau buat adek buat Dio dan Shifa, kan?"tanya Vera.


"Kamu lagi, sama saja seperti Rere,"ucap Nisa.


"Gercep nih, sepertinya kamu, mba,"sahut Donni.


"Haduh, kenapa bahas aku, sih?"ucap Annisa.


"Nah, kan sekarang kamu sudah nikah lagi, tadi katanya pengen punya bayi lagi, ya sudah buat dengan Pak Dosenmu itu,"tutur Rere.


"Tenang saja, nanti kamu Tante kasih teman bermain, tuh Tante Rere di tanyain, kapan nikah, Tante?"ledek Annisa


"Gak usah deh tanya begituan,"tukas Rere.


"Nah, kan, ngambek Tante Rerenya,"ucap Annisa


"Iya Re, mau sampai kapan kamu jomblo gini, Re,"ucap Vera.


"Tau tuh, dulu mah yang punya pacar dia duluan, giliran nikah, kamu terakhir,"imbuh Annisa.


"Tuh, Nisa sudah dua kali, kamu kapan?"tanya Vera.


"Sudah jangan bahas itu, nanti juga menikah, tenang saja, sini Fajar sama Tante Rere,gantian." Rere berkata sambil meminta Fajar dari gendongan Annisa.


Mereka mengobrol sudah cukup lama, akhirnya mereka pamit karena jam besuk juga sudah habis di rumah sakit dan Vera butuh istirahat.


"Ver, kami pamit, ya?"ucap Rere.


"Iya, hati-hati,"ucap Vera.


"Tante pamit ke kantor lagi ya, sayang. Kamu jangan rewel." Annisa pamit sambil mencium pipi Fajar dan memberikan pada Vera lagi.


"Iya Tante, hati-hati ya,"ucap Vere.


"Oke, kalau sudah di rumah kabari kami, Ver"ucap Annisa sambil mencium pipi Vera.


"Oke,"ucap Vera.


"Ya sudah, kita pulang ya,"ucap Rere dan Annisa.


Annisa dan Rere keluar dari rumah sakit, mereka melanjutkan misi selanjutnya, yaitu makan siang di restoran favorit mereka.


Rere melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke restoran, karena dia merasa sangat lapar.


^^^^^


Arsyad mengajak Rayhan untuk makan siang di luar, seperti biasa tidak hanya Rayhan saja yang di ajaknya. Kebetulan Yulia juga tidak membawa bekal jadi mereka mengajak Yulia dan juga Lintang. Mereka keluar untuk makan siang di restoran yang dekat dengan kantor.


"Ray, pakai mobil kami saja, ya,"ucap Arsyad.


"Oke,"ucap Rayhan.


Mereka berangkat ke restoran, seperti biasa, jika pekerjaan sedang senggang Arsyad mengajak karyawannya itu makan siang bersama. Arsyad duduk di samping Rayhan yang sedang mengemudikan mobilnya. Dari tadi Arsyad sibuk dengan ponselnya. Dia sibuk mengirim pesan untuk istrinya.


"Annisa, bagaimana meeting dengan klien nya?" Arsyad mengirim pesan pada Annisa


"Alhamdulillah lancar, kak," balas Annisa.


"Kamu sudah makan siang, Nis?"tanya Arsyad dalam pesannya.


"Ini lagi makan dengan Rere, tadi baru saja menjenguk Vera di rumah sakit, dia sudah melahirkan," Jawab Annisa.


"Dia sudah melahirkan?"tanya Arsyad dalam pesannya.


"Iya kak, bayinya cowok, lucu sekali, rasanya ingin punya baby lagi, kak," balas Annisa dalam pesannya.


"Iya, kah? Kamu ingin punya baby lagi?"tanya Arsyad.


"Iya,"jawab Annisa.


"Nanti buat baby lagi ya?"tanya Arsyad.


"Apa kakak mau?"tanya Annisa.


"Iya, nanti buat baby lagi," balas Arsyad.


"Ah, kakak bohong,"balas Annisa.


"Tidak, nanti kalau sudah di rumah, apa mau sekarang?"tanya Arsyad.


"Sekarang kan aku mau makan, kakak,"balas Annisa.


"Ya sudah nanti malam,"balas Arsyad.


"Terserah kakak, deh,"balas Annisa.


"Kak, itu lipstiknya masih nempel di bibir," tulis Annisa dalam pesannya.


"Kan sudah di hapus kamu, tadi. Kalau pakai lipstik jangan terlalu mencolok, Nisa," balas Arsyad.


"Iya, tidak. Kakak saja yang pengen nyium, pakai alasan Nisa pakai lipstiknya tebal,"balas Nisa.


"Apa salahnya nyium pacar sekaligus istri sendiri, ya sudah kakak makan siang dulu ya, ini sudah sampai di tempat makan,"balas Arsyad.


"Oke, selamat makan siang, suamiku,"balas Annisa.


"Iya, mana ciumnya?"pinta Arsyad dalam pesannya.


"Nanti kalau di rumah,"balas Annisa.

__ADS_1


"Benar ya, jangan bohong,"balas Arsyad


"Iya, iya, sudah kakak makan dulu," balas Annisa.


"Iya, Annisa." Arsyad mengakhiri Chatnya dengan Annisa.


Arsyad seperti muda lagi, dia senyum-senyum sendiri dari tadi saat chating dengan Annisa, dia tidak sadar Rayhan memerhatikannya dari tadi.


"Senyum-senyum saja dari tadi, chat sama saiap?"tanya Rayhan.


"Chat sama siapa lagi kalau tidak sama Annisa,"ucap Arsyad.


"Seperti anak muda lagi kamu, Syad. Chat sampai senyum-senyum sendiri,"ucal Rayhan.


"Kamu itu, masa chat sama istri harus datar terus mukanya, Ray?"tanya Arsyad.


"Pak Ray, biarlah, bos kita sedang jatuh cinta lagi rupanya,"ucap Yulia yang berada di belakang mereka.


"Kalian itu sukanya meledek saja, sudah jangan meledek, kalau tetap saja meledek, kalia yang bayar semua makan siang hari ini, lagiyan apa salahnya aku jatuh cinta dengan istriku, iya kan Ray,"ucap Arsyad.


"Asik, gak ada salahnya, semangat dong,"ucap Rayhan.


"Lihat Mba Yuli, muka bos kita sednsg sumringah gini,"ucap Rayhan.


Lintang dari tadi hanya diam saja di sebelah Yulia, hatinya semakin sesak, karena melihat Arsyad semakin dekat dengan Annisa. Hatinya meronta dan sakit melihat Arsyad bahagia sekali.


"Ayo turun, Syad. Sudah sampai ini, jangan lihta ponsel terus,"titah Reyhan.


Merka turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran unik makan siang


^^^^^


Annisa dari tadi senyum-sengum sendiri melihati isi chat dari suaminya, dia membaca ulang chat dari suaminya. Annisa tidak menyangka Arsyad yang angkuh itu bisa bercanda lewat chat. Annisa merasakan jiwa mudanya muncul lagi setelah sekian lama dia terpaku dengan masa lalunya.


"Hmmm…senyam-senyum sendiri kamu, Nis. Terima chat dari siapa kamu?"tanya Rere.


"Dari dosen kamu yang GaJe, Gak Jelas, kadang baik, kadang angkuh, sombong. Eh, ini ngajakin bercanda. Lucu juga dosen kamu itu, Re." Annisa bicara sambil membayangkan saat Arsyad sedang usil padanya.


"Kamu bicara seperti ini, pasti kamu jatuh cinta nih sama Pak Arsyad. Sudah ngaku saja,"ucap Rere.


"Ya gak tau, mungkin iya, aku sudah merasa nyaman Re, dengan Kak Arsyad. Mungkin karena sering bersama kali, ya,"ucap Annisa.


"Ya, memang kalian harusnya saling mencintai, sudah lah, kasihan Kak Mira sama Arsyil di sana. Kalau kalian bahagia, mereka pasti bahagia, Annisa…"ucap Rere.


"Aku juga berpikir seperti itu, Re. Tidak tau kalau Kak Arsyad, dia sangat mencintai Almira. Padahal kamu tau sendiri, kan? Bagaimana dia dulu mengejar aku, mencintai aku, tapi sekarang, selalu saja dia masih ingat Kak Mira,"jelas Annisa.


"Kalau seperti itu, berarti kamu belum melakukan itu dong sama Pak Arsyad?"tanya Rere penasaran.


"Melakukan itu apa, maksudmu?"Annisa bertanya balik dengan Rere.


"Malah tanya, kalian sudah suami istri, pasti belum melakukan hubungan suami istri, kan?"tanya Rere lagi.


"Apaan sih kok tanya itu, rahasia dong,"ucap Annisa.


"Jujur saja, iya, belum, kan?" Rere semakin mendesak Annisa untuk mengatakannya.


"Re, namanya suami istri ya sudah lah." Annisa berbohong pada Rere, menutupi apa yang sebenarnya. Bagi Annisa menceritakan itu, sama saja mengumbar aibnya sendiri.


"Terus, kalau Pak Arsyad masih sering ingat Kak Mira, bagaimana melakukannya?" Rere membrondong pertanyaan pada Annisa.


"Ya, biasa saja, layaknya suami istri. Sudah jangan bahas itu, meskipun kami belum bisa salin mencintai, kita sudah saling memenuhi kebutuhan layaknya suami istri, Rere…"ucap Annisa.


"Maaf Re, aku sebenarnya belum di sentuh Kak Arsyad sama sekali, aku tidak tau kapan Kak Arsyad akan menjadikan aku istri yang seutuhnya, bukan pacar tapi istri,"gumam Annisa.


Annisa dan Rere sampai di depan restoran yang mereka tuju, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Annisa dan Rere mencari tempat duduk yang enak dan nyaman untuk menikmati makan siang sekalian mengobrol soal kantor dan pribadi. Mereka mengambil tempat duduk di sebelah pojok yang dekat denga jendela.


Pelayan restoran membawakan daftar menu ke meja Annisa dan Rere. Mereka sibuk memilih makanannya, setelah selesia memilih dan di tulis oleh pelayan apa yang akan mereka pesan. Mereka lanjut mengobrol soal kantor, masalah dengan kliennya tadi. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.


Mereka mulai mengeksekusi makanan yang mereka pesan, seperti biasa mereka memilih menu yang berbeda. Dan mereka bertukar menu, saling mencicipi. Kebiasaan seperti itu sudah mendarah daging bagi mereka, Rere, Annisa dan Vera.


"Enak juga menu ini, Re," ucap Annisa sambil mencicipi menu yang di pesan Rere.


"Iya, dong, ini menu yang kamu pilih juga enak kok ,Nis,"ucap Rere.


"Sayang si Vera gak ikut,"ucap Rere.


"Sudah, makan yang benar, kita lanjut ngobrolnya nanti,"ucap Annisa.


Mereka melanjutkan makan siangnya, sebelum makan Annisa mengirim chat untuk suaminya.


"Kak, sudah makan siang? Nisa sedang makan siang dengan Rere,"tulis Annisa dalam pesannya.


Arsyad belum membalasnya, Annisa tidak mempedulikan ponselnya lagi, dia kembali menikmati makan siangnya karena lapar sudah menghampiri perutnya dari tadi pagi.


^^^^^


Arsyad sedang menikmati makan siang bersama Ray, Yulia dan Lintang. Mereka duduk melingkar, Lintang melihat Annisa yang juga sedang makan siang di tempat yang sama. Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya terpisah antara dua meja saja. Entah apa yang ada di pikiran Lintang, dia mencari situasi agar bisa menyentuh Arsyad, dan Annisa juga melihatnya.


"Aww…maaf Pak Arsyad, saya tidak sengaja." Lintang menyenggol minumannya secara sengaja agar mengenai baju Arsyad.


"Lintang, hati-hati dong!'tukas Yulia.


"Maaf, saya tidak sengaja Mba Yulia,"ucap Lintang.


"Tidak apa-apa Lintang,"ucap Arsyad.


"Biar Lintang bersihkan, pak." Lintang mengelap baju Arsyad yang terkena minuman Lintang.


Annisa yang mendengar keributan di meja yang tak jauh dari dirinya, dia melihat kearah meja itu. Matanya terbelaklak melihat suaminya sedang di sentuh wanita lain. Annisa tidak sadar dengan Rere yang di depannya. Annisa menyebut nama Arsyad dengan mata yang tertuju ke arah Arsyad.


"Kak Arsyad,"ucap Annisa.


"Nis, Nisa...kamu kenapa?"tanya Rere yang bingung dengan Annisa yang wajahnya berubah menjadi datar.


Annisa menghentikan mengunyah makanannya, dia tak berselera lagi untuk makan siang. Karena melihat pemandangan yang tidak sedap di pandang oleh mata.


"Nisa, itu suami kamu, kan?"tanya Rere.


Annisa diam, dia hanya menunduk. Baru saja ia merasakan getaran hati pada suaminya, seketika runtuh karena melihat suaminya di sentuh wanita lain. Dan yang menyentuhnya itu, Lintang.


"Ini gak bisa di biarkan, Nis. Enak saja nyentuh-nyentuh dosen gue yang cakep,"ucap Rere.


Rere beranjak dari tempat duduknya ingin menghampiri Lintang yang masih menyentuh tangang Arsyad.


"Rere, biarkan!" Annisa memegang tangan Rere yang akan menghampiri Arsyad. Tapi usaha Annisa sia-sia, Rere menepis tangan Annisa dan berjalan ke arah Arsyad.


Rayhan melihat Rere berjalan dengan wajah yang geram menghampiri Arsyad. Rayhan juga melihat Annisa yang terduduk dengan wajah yang menunjukan kekecewaan pada suaminya.


"Bagus, ya! Main nyentuh suami orang! Aduh, mba…kamu ini pakaiannya rapi, tertutup, nyentuh suami orang tidak, malu!"ucap Rere dengan geram.


"Rere, kamu di sini?"tanya Arsyad.


"Iya, bersama istrimu, puas kalian membuat mood makan sahabatku jadi hilang!" tukas Rere.


Arsyad menoleh ke arah meja yang di tunjukan Rere. Dia melihat istrinya duduk di sana, dan membelakangi Arsyad. Annisa tidak berani melihat ke meja Arsyad. Dia sakit hati, namun dia malu dengan perbuatan Rere yang seperti itu.


Arsyad tak peduli Rere yang mengomel dengannya, dia berjalan ke arah Annisa, tak peduli denga Lintang, Yulia, Reyhan, dan Rere yang masih saja mengomel.


"Kalau kamu berani menggoda Pak Arsyad. Langkahi dulu mayatku, Lintang!"tukas Rere.


Rere pergi meninggalkan meja Rayhan. Dia berjalan ke arah Annisa. Arsyad mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Annisa. Annisa menutupi sakit hatinya, dia mencoba tersenyum di depan suaminya yang wajahnya panik karena merasa bersalah dengan Annisa.


"Nis, maafkan kakak, tidak seperti yang kamu lihat kejadian tadi, Nis." Arsyad mencoba menjelaskan pada Annisa.


"Iya, Nisa tau, kak. Sudah Nisa mau balik ke kantor,"ucap Annisa dengan menyunggingkan senyum pada Arsyad.


"Nisa, pulang dengan kakak,ya," pinta Arsyad.


"Aku ke sini dengan Rere, kakak dengan mereka. Aku pulang dengan Rere dan kakak dengan mereka,"ucap Annisa.


"Re, tolong bayar ini pakai uang kamu dulu, aku tunggu di mobil kamu, mana kunci mobil kamu,"pinta Annisa.

__ADS_1


Rere memberikan kunci mobilnya, dan segera membayar makanannya di kasir. Annisa mengambil kunci mobil Rere, dia bangun dari tempat duduknya dan akan meninggalkan restoran. Tangan Arsyad mencekal tangan Annisa yang akan keluar.


"Nis, jangan seperti ini, dia gak sengaja numpahin air di baju kakak, dia membersihkan ini tadi." Arsyad menunjukan bajunya yang basah.


"Kakak, kalau kotor apa kakak tidak bisa ke toilet da membersihkannya?" Annisa bertanya dengan nada agak sinis.


"Kakak menikmati kan, di sentuh dia?" Annisa menepis tangan Arsyad dan dia keluar dari retoran.


Arsyad kembali ke mejanya, dia meminta Rayhan membayar semua makanan yang mereka pesan tadi. Dan Arsyad pergi keluar mengejar istrinya. Rere sudah selesai membayar, dia berjalan menuju mobilnya. Arsyad memegang tangan Rere agar tidak masuk ke dalam mobil.


"Re, please bujuk Annisa agar mau pulang denganku." Arsyad memohon pada Rere.


"Bujuk saja sendiri, Pak Arsyad kan suaminya,"ucap Rere sambil berlalu.


Rere masuk ke dalam mobilnya, Arsyad masih saja mengetuk-ngetuk kaca mobil Rere. Memohon agar Annisa mau turun dan pulang bersamanya.


"Nis, please, turun, kita bicara, kita pulang bersama,"ucap Arsyad di balik jendela mobil Rere.


"Udah lah, Nis. Sana turun, kasihan tuh Dosenku, mohon-mohon dari tadi,"ucap Rere.


"Jalan Re, biarkan dia seperti itu,"titah Annisa


"Tidak bisa, kalian selesaikan dulu, oke. Turunlah dia bisa menjelaskan semua pada kamu, jangan seperti anak kecil kamu, Nis,"ucap Rere.


"Re, jalan, aku bilang jalan, jalan!"kelekar Annisa.


"Tidak, sekali tidak ya tidak!"tukas Rere.


"Nis, kamu itu cemburu, kamu tidak pernah secemburu ini, duku waktu Arsyil ngeboncengin Fitri juga kamu fine-fine saja, ini lihat Pak Arsyad seperti itu, kamu marah sekali, turunlah, kasihan suamimu,"ucap Rere


"Iya, kenapa dada ini sesak sekali melihat Kak Adsyad dengan Lintang seperti itu? Dulu, waktu dengan Arsyil aku biasa saja, dia memboncengkan Fitri juga aku tak masalah," Annisa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Nis, turnlah, kasihan suamimu,"titah Rere


Annisa membuka pintunya, dia turun dari mobil Rere, dan berbicara pada suaminya.


"Apa yang mau di bicarakan, kak?"tanya Annisa.


"Ikut kakak." Arsyad menarik tangan Annisa dia menyetop taxi dan membawa Annisa masuk ke dalam taxi.


Annisa hanya terdiam di dalam taxi, Arsyad dari tadi memohon pada Annisa agar dia tidak diam lagi.


"Nis, please, kakak minta maaf, tidak seperti yang kamu lohat kejadian tadi,"jelas Arsyad.


Annis hanya terdiam, memalingkan wajahnya dari Arsyad. Arsyad masih saja memohon pada Annisa.


"Maaf, pak, Bu, ini mau ke mana?"tanya sopir taxi.


"Ke jalan X, ke kantor C," ucap Annisa.


"Jangan, pak. Ke jalan Y saja, nomor 188,"ucap Arsyad.


"Pak, ikut saya saja, ke jalan yang tadi saya bilang,"tukas Annisa.


"Jangan, pak. Antarkan kami ke almat yang tadi saya bilang,"ucap Arsyad.


"Lalu, kemana ini?"tanya sopir taxi dengan bingung.


"Pak, ke alamat tadi yang aku sebut,"tukas Arsyad.


"Baik pak,"ucap sopir taxi.


"Ngapai ke rumah?"tanya Annisa.


"Sudah, ikut kakak, kita bicara di sana,"ucap Arsyad.


"Mobil kakak di kantor kan?"tanya Annisa.


"Iya, biar di kantor, nanti kalau pulang kita mampir ke kantor lagi,"ucap Arsyad.


Sopir taxi itu mengantar mereka ke rumah Arsyad yang baru, yang akan mereka tempati minggu depan. Mereka sudah sampai, Arsyad dan Annisa turun dari taxi. Annisa berjalan dengan cepat di depan Arsyad untuk masuk ke dalam rumah. Arsyad membayar taxi yang ia tumpangi tadi. Setelah itu, dia melihat istrinya berjalan cepat di depannya.


"Nisa." Arsyad memanggil Annisa, tapi dia tidak menoleh sedikitpun.


"Kamu pakai Heels, awas nanti keseleo!"seru Arsyad.


Annisa tak peduli, dia makin mempercepat langkahnya, memang dia agak sudah untu berjalan karena memakai heels.


"Ah, sialan! Halaman rumah seluas ini, aku kan jadi capek jalannya!"gumam Annisa dalam hatinya.


"Aww…!" Annisa terpeleset saat berjalan, dia jatuh tersungkur di bawah.


Arsyad yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya seperti anak ABG yang sedang cemburu. Arsyad mendekati istrinya dan berjongkok di depan istrinya.


"Makanya, dengerin kalau suami sedang bicara, sakit?"tanya Arsyad sambil menggoda istrinya.


"Sakit, sudah tau sakit pakai tanya,"tukas Annisa.


"Bangun, jalan yang lebih cepat lagi,"titah Arsyad dengan nada tinggi.


Arsyad berjalan di depan Annisa, dai membiarkan Annisa yang jatuh tersungkur di bawah. Annisa mencoba melepas heels nya, dia mencoba bangun namun kakinya terasa sangat sakit.


"Aww…! Sakit sekali!" Annisa meringis kesakitan, kakinya susah untuk berjalan.


Arsyad menoleh ke arah Annisa, dia melihat Annisa masih tersungkur di bawah, Arsyad mendekatinya. Dia berjongkok kembali di depan Annisa dan mengangkat wajah Annisa yang menunduk dan meringis kesakitan.


"Sakit? Makanya nanti lagi, dengerin kalau suami bicara,"ucap Arsyad.


" Ayo bangun." Arsyad menunda istrinya dan memapahnya


Annisa tidak bisa menggerakkan kakinya, dia meringis kesakitan. Merasakan kakinya sakit sekali.


"Kak,sakit,"rintih Annisa.


Tanpa aba-aba Arsyad menggendong Annisa masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat ada Joko yang sedang membersihkan teras rumahnya.


"Mas Joko, bukakan pintu, dan bukakan pintu kamarku juga,"pinta Arsyad.


"Ngapain ke kamar?"tanya Annisa.


"Mau bikin baby, katanya kamu pengen punya baby lagi,"bisik Arsyad di telinga istrinya.


"Gak mau!"tukas Annisa.


"Ya sudah, kakak bawa ke kolam renang, kakak jeburin kamu di sana, mau?"tanya Arsyad.


"Kejam!"tukas Annisa.


"Makanya ke kamar, kakak akan urut kaki kamu,"ucap Arsyad.


"Katanya mau bikin baby?" Annisa menggoda suaminya.


"Iya, kalau kamu mau,"ucap Arsyad.


Mas Joko membukakan pintu kamar Arsyad, Arsyad segera masuk dan merebahkan Annisa di atas tempat tidur.


"Sebentar, aku akan meminta minyak urut pada Mas Joko,"ucap Arsyad.


Annisa hanya menganggukan kepalanya, dia masih merasakan kesakitan di kakinya. Arsyad keluar dari kamar dan meminta minyak urut pada Mas Joko.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading ♥️


__ADS_2