
Dio kembali ke rumah sakit setelah menemui kliennya. Akhirnya Reno bertemu dengan menantunya yang dari tadi pagi saat ia membuka matanya ingin berbicara dengan Dio. Dio duduk di samping Rania. Hanya ada Rania dan Dio di ruangan itu. Anna sedang di luar menemui dokter yang menangani Reno.
"Dio," panggil Reno.
"Iya, Ayah," jawab Dio.
"Apa kamu mencintai Rania?" tanya Reno.
"Iya, aku mencintai Rania," jawab Dio.
"Aku memang mencintainya ayah, tapi dulu. Dan sekarang, rasa cinta itu sudah tidak ada. Namun, sejak masalah itu terjadi, aku mulai merasakan sepi tidak ada Rania di rumah. Apakah aku kembali jatuh cinta padanya, Ayah? Maafkan Dio, ayah," gumam Dio.
"Ayah titip Rania. Jangan sakiti Rania, dia anak ayah satu-satunya," ucap Reno.
"Ayah, Dio tidak pernah menyakiti Rania. Ayah jangan bicara seperti itu," celah Rania.
"Dio akan menjaga Rania dan tidak akan menyakitinya, ayah," jawab Dio.
"Maafkan Dio, ayah. Dio sudah menyakiti putri ayah. Maafkan Dio. Dio sungguh menyesal menyia-nyiakan istri yang baik dan sempurna seperti Rania," gumam Dio.
"Ayah sudah tidak sanggup lagi, mengurus semuanya. Ayah minta kamu dan Rania bisa menjaga ibu, dan bekerjasama mengurus perusahaan ayah," ucap Reno.
"Ayah pasti sembuh, ayah harus semangat untuk sembuh," ucap Rania dengan berlinang air mata.
Sudah cukup lama Reno berbicara dengan Dio dan Rania. Rania menyuruh ayahnya untuk kembali istirahat. Reno tertidur lagi. Rania dan Dio keluar dari ruangan Reno. Saat Anna sudah kembali dari ruang dokter, Dio mengajak Rania untuk ke cafetaria yang berada di rumah sakit.
"Ran, mumpung ibu sudah di sini, aku ingin bicara dengan kamu sebentar, kita ke cafetaria," ajak Dio.
"Ibu, Dio dan Rania ke cafetaria sebentar," pamit Dio pada Anna.
"Iya, nak," ucap Anna.
__ADS_1
Dio berjalan di samping Rania menuju cafetaria. Dia duduk berhadapan. Dio sebenarnya ingin membujuk Rania kembali agar tidak jadi menggugat cerai dia. Namun, semua sudah terlambat, karena Dio sudah mendapatkan undangan sidang perceraiannya dari pengadilan agama.
"Aku sudah menerima ini." Dio menunjukan undangan sidang perceraiannya pada Rania.
"Oh baguslah, aku harap kamu bisa hadir, dan tolong jangan tunda-tunda perceraian ini," ucap Rania.
"Apa kamu tidak mau merubah keputusanmu, Rania? Apa kamu tidak mau memikirkan kembali keputusan kamu itu?" tanya Dio.
"Untuk apa aku pikirkan kembali? Toh kamu tidak mencintaiku. Aku sudah memberikan kesempatan lebih untuk kamu Dio. Aku selalu memberikan kesempatan kamu untuk menyentuhku, memperlakukan aku layaknya seorang istri. Kamu tidak tahu rasanya hatiku, saat kamu menolak aku untuk berhubungan suami istri? Kamu malah menolaknya dan pergi tidak pulang hingga 2 hari. Dan dengan terang-terangan kamu tidur bersama ….." ucapan Rania terhenti karena dia menahan sesak di dadanya saat mengingat Dio dan Najwa sedang di kamar Vila.
"Sudah Dio, aku tidak mau bahas ini. Aku mohon, kabulkan permintaanku, jika kamu memiliki rasa kasihan padaku. Mau sampai kapan kamu menyiksa batinku Dio," imbuh Rania.
"Aku akan turuti permintaanmu, Rania, meskipun dengan terpaksa aku meninggalkanmu," ucap Dio.
"Aku tidak yakin dengan kata-katamu itu. Aku tahu cintamu untuk Najwa saja Dio. Maafkan aku, jika aku memutuskan ini semua. Ini demi kebahagiaan kita masing-masing Dio. Meskipun aku mencintaimu, aku tak mungkin memiliki hati kamu seutuhnya, karena hatimu hanya untuk Najwa," ucap Rania.
Dio hanya terdiam mendengar apa yang Rania katakan. Mungkin semuanya harus berakhir. Dio semakin tidak mengerti, mengapa hatinya benar-benar sakit saat Rania memutuskan untuk berpisah.
Ponsel Rania berdering memecah kesunyian yang ada di antara mereka berdua. Rania melihat nama ibunya tertera di layar ponselnya.
"Hallo ibu, ada apa?"
"Ran, ayah. Kamu ke sini, Nak," ucap Anna dengan menangis.
"Kenapa ayah, Bu." Rania bertanya dengan panik.
"Kamu ke ruangan ayah sekarang." Anna langsung mematikan ponselnya. Rania dan Dio segera menuju ke ruangan Reno.
"Dio, ayah," ucap Rania dengan berlinang air mata.
"Ayah kenapa?" tanya Dio dengan cemas.
__ADS_1
"Tidak tahu, ibu tadi menelepon aku, ibu menangis," ucap Rania.
Dio membawa Rania dalam pelukannya. Rania tidak mempedulikan Dio yang memeluknya. Dia merasa nyaman saat Dio meluknya, pelukannya terasa mendamaikan hatinya yang tidak tahu sekarang sedang tidak bisa merasakan apa-apa.
Rania dan Dio sampai di depan ruang ICU. Mata Rania terbelaklak melihat ibunya bersimpuh di lantai. Mata Rania melihat kain putih sudah menutupi sekujur badan ayahnya yang sudah dingin dan kaku.
"Ayah ….!" Rania memeluk tubuh Reno yang sudah kaku dan tertutup kain putih.
"Yah, kenapa ayah meninggalkan Rania? Hanya ayah yang menyayangi Rania. Siapa lagiyang akan sayang Rania, kecuali ayah. Ayah bangun, ayah harus sembuh. Ayah….!" Rania memeluk ayahnya, dia menangis memeluk Reno.
"Ran, ikhlaskan, ayah sudah tidak sakit lagi." Dio memeluk istrinya dan berusaha menenangkan Rania. Namun, Rania mendorong tubuh Dio dan memeluk ibunya.
"Ibu …." Rania menangis di pelukan ibunya.
"Ibu sendiri, Nak. Ibu sendiri, tidak ada ayah lagi," ucap Anna dengan suara paraunya.
"Ibu, ada Rania. Ibu harus kuat. Ibu jangan lemah. Ada Rania dan Dio, Ibu." Rania memeluk ibunya yang lemah karena kepergian ayahnya.
"Ya Allah, aku kehilangan ayah, orang yang aku cintai. Ayah adalah laki-laki pertama yang aku cintai. Dan, sebentar lagi, Dio juga akan pergi, laki-laki yang aku cintai setelah ayah," gumam Rania dengan memeluk erat tubuh Anna.
Jenazah Reno sudah di bawa pulang ke rumah. Sudah terlihat banyak sekali rekan kerjanya yang bertakziah ke rumahnya. Keluarga Dio juga sudah berada di rumah Reno. Annisa dari tadi menemani Rania yang sedang menangis di dalam kamarnya.
"Bunda, apa sesakit ini kehilangan orang yang paling Rania cintai dalam hidup Rania? Kenapa orang yang Rania cintai meninggalkan Rania?" Rania memeluk Annisa dan menumpahkan tangisannya di pelukan Annisa.
"Nak, bunda juga pernah merasakan seperti kamu, bunda di tinggal orang tua bunda dua-duanya. Kamu masih punya ibu, Nak. Punya bunda, Abah, opa. Jangan merasa sendiri, bunda dan Abah masih orang tua kamu," ucap Annisa.
"Bunda beruntung, saat orang yang bunda cintai tiada, bunda mendapatkannya ayah Arsyil yang sangat menyayangi bunda. Sedangkan Rania, Rania tidak memiliki siapa-siapa lagi, hanya ibu yang tersisa."
"Jangan bicara seperti itu. Aku sayang kamu, Ran. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Dio yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Rania.
"Aku tidak butuh omong kosong mu Dio, jangan membohongi hati kamu di saat aku seperti ini. Keluar dari kamarku!" Rania benar-benar marah dengan Dio yang berkata seperti itu.
__ADS_1
Annisa mengisyaratkan Dio untuk pergi dari kamar Rania. Annisa tahu betapa terpukulnya Rania saat ini. Dia kehilangan ayahnya dan sebentar lagi akan bercerai dengan Dio. Laki-laki yang sangat ia cintai.