THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 4 "Perjodohan" The Best Brother


__ADS_3

Malam pun tiba, keluarga Reno sudah berada di rumah Arsyad. Najwa, Shifa, dan Rania masih melepas kangen di balkon. Ya seperti biasa, balkon adalah tempat untuk mereka berkumpul. Mereka memang akrab dari dulu, tapi setelah Rania di Singapura mereka jarang lagi berkumpul. Apalagi Shifa dan Najwa juga memiliki kesibukan masing-masing yang harus ia geluti setiap harinya.


"Kapan Dio pulang, Fa?" tanya Rania.


"Katanya 2 atau 3 bulan lagi," jawab Shifa.


"Sudah kangen, ya?" ledek Najwa dengan dada yang sesak.


Ya seperti itu, tapi dia dingin sekali, entah kenapa Dio selalu seperti itu." Rania sedikit tersenyum kecut menerima kenyataan Dio yang dingin dengan dirinya.


"Coba video call saja, Ran," ucap Shifa


"Aku tidak berani, dia galak," jawab Rania.


"Galak juga kamu suka," sahut Najwa.


"Bukan suka lagi, Najwa. Aku mencintainya. Bahkan aku menolak laki-laki lain, yang jelas lebih baik dari Dio," jelas Rania.


Hati Najwa semakin merasakan tersayat berkali-kali mendengar penuturan Rania. Memang sakit menyembunyikan hubungan dengan Dio dari mereka semua. Apalagi semua orang mendukung Rania dan Dio bersatu. Dan malam ini tentunya semua akan membahas itu.


"Apa aku harus mengatakan pada Dio? Kalau malam ini semuanya sedang membicarakan dirinya dan Rania. Dio … maafkan aku, jika aku menyerah, untuk melepaskan kamu dengan Rania," gumam Najwa.


"Najwa … Najwa ... Ponselmu berdering." Rania mengagetkan Najwa yang sedang melamun saat itu.


"Ehh iya, sebentar aku angkat teleponku dulu." Najwa turun dan masuk ke kamarnya. Dia mengangkat telepon dari Dio.


Najwa memang lupa tidak membangunkan Dio tadi. Dan, Dio merasa sedikit kesal dengan Najwa karena melupakan itu.


"Sayang, kenapa gak bangunin aku." Dio langsung bilang seperti itu di balik teleponnya.


"Maaf, aku lagi bantu bunda tadi. Dio ada Rania, sama Om Reno dan Tante Ana," ucap Najwa.


"Ngapain mereka?" tanya Dio.


"Entahlah," ucap Najwa menutupi.


"Dio…." panggil Najwa.


"Hmmm…" jawabnya, yang memang masih sedikit ngambek dengan Najwa.


"Jangan ngambek ah," ucap Najwa.


"Kamu melupakanku," ucap Dio.


"Dio, aku cemburu," ucap Najwa.


"Cemburu? Cemburu kenapa?" tanya Dio.


"Rania dari tadi cerita tentang kamu, dia sepertinya sangat mencintaimu," ujar Najwa.


"Memang dia seperti itu dari dulu, Sayang. Jangan dimasukan ke hati, oke." Dio memberi kecupan lewat teleponnya dan membalasnya.


"Dio, aku dipanggil bunda," ucap Najwa.


"Oke, jaga selalu hatimu, aku yakin kita bisa bersatu, sayang. Tunggu aku pulang," ucap Dio.


Najwa mematikan ponselnya dan keluar dari kamarnya menemui bundanya.


"Kamu kok di kamar saja, ayo itu sudah di tungguin Om Reno," ucap Annisa.


"Memang ada apa, bunda? Bukannya makan malam sudah selesai?" tanya Najwa.


"Ada yang ingin di sampaikan Om Reno dan Abah, ayo keluar," ajak Annisa.


"Pasti ini soal perjodohan Dio dan Rania. Aku memang harus mengalah," gumam Najwa.


Najwa duduk di samping opanya. Dia tahu apa yang ingin mereka bicarakan. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangan Najwa. Dia benar-benar tidak ingin semua ini terjadi, tapi mau bagaimana lagi. Semua abahnya yang mengatur. Dan, entah sejak kapan Arsyad menjadi pemaksa seperti itu.


"Kita sudah berkumpul semua malam ini, hanya Dio yang belum bisa berkumpul. Sebenarnya, Abah ingin menyampaikan ini semua pada kalian. Tapi, berhubung tidak ada Dio, jadi Abah mohon, kalian rahasiakan ini. Abah tahu, Dio juga menginginkan ini, dan setelah Abah pikirkan lagi, juga karena Om Reno ingin sekali berbesanan dengan Abah. Abah menyetujui permintaan Om Reno untuk menjodohkan Rania dengan Dio," jelas Arsyad.


"Sebentar, Syad. Kamu jangan seperti ini, apa Dio mau? Ini masalah pernikahan, Syad. Tidak main-main. Kalian berdua jangan seperti ini. Dijodohkan belum tentu bahagia," ujar Rico.


"Iya benar Abah, mungkin saja Dio sudah memiliki kekasih?" imbuh Raffi.


"Kalau memiliki kekasih, Abah jelas tau, dia belum memiliki," ucap Arsyad.


"Bagaimana Abah tahu? Raffi dengar dia mau mengenalkan kekasihnya pada Abah, Abah jangan seperti ini, kalau Dio menolak bagaimana?" Raffi terus menolak abahnya menjodohkan Dio dengan Rania.


"Syad, memang benar, kita tanya pada Dio dulu, jangan asal menjodohkan begini. Ya, aku tahu, putriku menginginkan Dio, tapi kita juga harus tahu, bagaimana Dio. Apa dia sudah memiliki kekasih? Atau belum? Kalau sudah, nanti kalau menikah dengan anakku Dio masih mencintai kekasihnya, kasihan Rania," ujara Reno.


"Ya benar kata ayah, Om. Mungkin Dio sudah memiliki kekasih," ujar Rania.


"Rania memang suka dengan Dio, dari dulu, tapi kalau Dio terpaksa, Rania tidak sanggup hidup dengan orang yang tidak mencintai Rania, Om," tutur Rania.


"Lalu?" tanya Arsyad.


"Rania tidak tahu, Om," ucap Rania dengan menunduk.


"Abah, lebih baik bicarakan nanti kalau Dio sudah pulang," imbuh Annisa.


"Bunda, Abah tahu, Dio juga suka dengan Rania, tapi dia pura-pura jaim saja," ucap Arsyad.


"Abah jangan sok tau, siapa tahu, Dio sudah punya kekasih," celah Annisa lagi.


"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi, Ren. Menunggu Dio pulang dari Berlin," ucap Arsyad.


"Oke,"


Semua masih berkumpul di ruang tengah. Memang semenjak Rania dekat dengan Najwa dan Shifa, keluarga Reno dan Arsyad semakin dekat. Arsyad memang ingin sekali menjodohkan Rania dengan Dio dari dulu. Namun, karena Rania di luar negeri dan Dio juga sibuk dengan kuliahnya, jadi baru sempat sekarang Arsyad membicarakan ini.

__ADS_1


"Abah, andai Abah tau siapa kekasih Dio. Dio adalah kekasih putri Abah," gumam Raffi.


"Ya Allah bagaimana ini? Apa ini detik-detik aku akan berpisah denganmu Dio?" Najwa bertanya-tanya dalam hatinya.


Keluarga Reno sudah pamit pulang, Rico mengajak bicara dengan Arsyad. Dia tidak mengerti di mana pemikiran Arsyad yang mau asal menjodohkan anaknya. Rico tidak pernah melihat anaknya menjadi seorang pemaksa. Kali ini Arsyad memang menjadi seorang pemaksa sekali, memaksakan anaknya untuk mengikuti jalan pikirannya.


"Syad, Nis, papah mau bicara." Rico mengajak Arsyad dan Annisa berbicara di ruang tamu, seusai Reno dan keluarganya pergi.


"Bicara apa, pah?" tanya Arsyad.


"Duduklah." Rico memasang wajah serius dengan Arsyad dan annisa.


Rico duduk dan menarik napasnya dengan berat. Dia berat mau membicarakan ini semua. Dia tidak mau menyakiti cucu-cucunya karena perjodohan.


"Biarkan Dio memilih calon pendamping hidupnya sendiri, Syad, jangan dipaksa jika Dio tidak mau," tutur Rico.


"Iya benar apa kata papah, kak," imbuh Annisa


"Papah, Annisa, sebenarnya aku tidak enak dengan Reno, karena dia yang ingin semua ini, dari dulu saat Dio SMA sudah ingin sekali menjodohkan Rania dengan Dio. Aku menolaknya karena aku tahu, Dio masih kecil, dan akhirnya kita sepakat, kalau kita akan menjodohkan Dio dan Rania saat mereka selesai kuliah," jelas Arsyad.


"Papah terserah kamu, Syad. Tapi, ingat, tidak ada perjodohan yang berjalan mulus. Papah tahu, Dio tipe laki-laki seperti apa, dan dia memiliki kriteria calon pendamping seperti apa, sepertinya bukan Rania yang Dio inginkan. Ada wanita lain yang Dio inginkan, Syad," ujar Rico.


"Aku juga sependapat dengan papah, aku tahu Dio seperti apa. Yang dia idamkan adalah perempuan yang seperti budhenya," jelas Annisa.


"Maksud kamu?" tanya Arsyad.


"Seperti Kak Mira, dia mengidamkan wanita seperti Kak Mira, Kak," jawab Annisa.


"Sedangkan Kak Arsyad tahu, bagaimana Rania, kan? Apa termasuk kriteria Dio? Bukan, kan?" imbuh Annisa.


"Iya, jauh dari seorang Almira yang berhati lembut, tapi aku sudah membicarakan ini dengan Reno, aku takut dia kecewa kalau menggagalkan, terlebih Rania, dia juga menginginkan Dio dari dulu," ucap Arsyad.


"Ya sudah, jangan di bikin pusing, nanti tunggu Dio pulang, jangan gegabah masalah pernikahan, Syad. Pernikahan adalah hal yang sakral," tutur Rico.


"Iya, pah. Arsyad memang tidak memikirkan ke situ. Dan Arsyad langsung mengiyakan saja Reno," ucap Arsyad.


"Kamu sih, kak. Gak mau dirundingkan dulu dengan kita, kan gini jadinya," imbuh Annisa.


"Sudah, jangan bahas ini lagi, kita tunggu Dio pulang," ujar Rico.


"Iya, pah," ucap Arsyad.


Najwa yang dari tadi mendengarkan ucapan mereka merasa lega. Setidaknya opanya membiarkan Dio memberitahukan siapa kekasihnya. Najwa bisa mengurai senyumannya lagi, walaupun nantinya akan ada hambatan lagi dalam hubungannya dengan Dio.


"Kak, Raffi tahu apa yang kakak rasakan, kakak sabar, ya. Ini jalan yang kakak dan Dio pilih. Aku sudah ingatkan kalian berulang kali, tapi kalian masih saja menjalani hubungan kalian." Raffi tiba-tiba berada di belakang Najwa, yang membuat Najwa sedikit terjingkat


"Huh … Raffi, mengagetkan saja, kamu," ucap Najwa.


"Aku ingin bicara dengan kakak, ayo ke balkon," ajak Raffi.


Najwa mengikuti naik ke atas. Najwa tahu, kalau adiknya akan mengajak dia berbicara mengenai Dio. Najwa duduk di samping adiknya.


"Aku tidak tahu, Raf. Hubungan ini akan berlanjut atau tidak, lalu Abah dan Bunda menyetujui atau tidak. Dio bersikeras ingin membicarakan hubungan ini pada semuanya, Raf." Najwa menjelaskan semua pada Raffi.


"Hubungan kakak dengan Dio, ya hubungan sepupu, bisa dilanjutkan, banyak ulama yang memperbolehkannya, tapi di sini masalahnya Abah dan bunda menikah, masa iya akan berbesanan, itu yang sulit, kak," jelas Dio.


"Raff, aku ingin sekali menyudahi, tapi Dio yang tidak mau, Dio bersikeras untuk melanjutkan hubungan ini, Raff," ujar Najwa.


"Kuncinya ada pada kalian berdua, kalau kakak yakin, semua akan lancar, dan kalau tidak, ya sudah. Entah bagaimana nasibnya hubungan kakak dengan Dio," jelas Raffi.


"Aku hanya pasrah, jika memang Abah memaksa Dio untuk menikah dengan Rania, aku bisa apa, Raf," ucap Najwa dengan meneteskan air matanya.


"Sudah kak, jangan menangis, kakak terlalu menyiksa hati kakak, setelah mencintai Dio. Yang aku lihat setiap hari, bukan Kak Najwa yang periang lagi, tapi Kak Najwa yang selalu sendu," ujar Raffi.


"Ya, mungkin benar aku sudah menyiksa hatiku sendiri, Raff. Dan, aku susah sekali, untuk melepaskan ini semua. Bertahan selalu takut dan khawatir, kalau aku mengakhirinya hati ini akan sakit, Raff," ucap Najwa.


"Lebih baik diakhiri, Kak. Masa depan kakak masih panjang, banyak seseorang yang mungkin lebih baik dari Dio. Dan, sakit karana mengakhiri hubungan itu, akan tergantikan oleh bahagia dalam hidup kakak. Percayalah, kak. Kakak wanita hebat, wanita yang pandai, jangan lemah Karana cinta, kak. Cinta tidak hanya memakai hati saja, tapi juga memakai logika, agar cinta itu membawa bahagia dalam hidup kita. Jangan dibutakan perasaan, kak. Raffi tau kakak tersiksa dengan perasaan kakak." Raffi mencoba menasehati kakaknya, agar tidak terjerumus terlalu jauh dalam hubungannya dengan Dio, yang mungkin tidak akan bisa bersatu.


"Entahlah, Raff. Tunggu Dio pulang, nanti itu yang menjadi penentu hubungan kakak dan Dio," ucap Najwa.


"Ya sudah, Raffi hanya bilang yang terbaik saja untuk kakak. Jika kakak ingin bahagia, akhiri hubungan kakak dengan Dio. Jika kakak ingin bersedih dan membuat semua orang kecewa, kakak silakan lanjutkan dengan Dio," tutur Raffi.


Najwa hanya terdiam mencerna semua kata-kata Raffi. Memang sangat sulit sekali hubungan Najwa dengan Dio. Tapi, mau bagaimana lagi, hati Najwa tidak bisa berbohong, dia sangat mencintai adik sepupunya.


"Ada benarnya juga kata Raffi. Jika aku melanjutkan hubungan dengan Dio, mungkin semua orang akan sakit hati, terutama Rania. Tapi, jika tidak, aku dan Dio saja yang akan merasakan sakitnya. Dan, abah, aku tahu abah pasti akan melarang aku dengan Dio. Karena abah suami bunda, dan bunda adalah ibu kandung Dio," gumam Najwa.


"Kenapa aku tidak berpikir ke situ? Ya Allah, aku begitu dibutakan cinta. Dan aku semakin tak bisa melepasnya. Aku harus bagaimana? Apakah harus ku akhiri? Dan akan ku simpan saja cinta ini?" Najwa semakin bingung, banyak sekali pertanyaan terlontar di dalam hati Najwa.


Raffi terus memandangi Najwa yang tampak bingung, karena kata-katanya. Raffi hanya tidak ingin, keluarganya menjadi porak-poranda lagi, seperti saat Annisa diusir oleh opanya. Raffi berpikir akan ada kejadian itu lagi, bila Najwa dan Dio tetap untuk bersatu. Pasti akan ada salah satu yang keluar dari rumah entah ke mana, entah itu Dio, atau Najwa. Bahkan dua-duanya akan pergi bersama untuk melanjutkan hubungannya yang tanpa restu itu.


"Aku tidak ingin, kak. Keluarga kita terpisah lagi. Aku tidak ingin itu terjadi lagi, cukup dulu saat bunda diusir opa, dan jangan ada lagi hal seperti ini," ujar Raffi.


"Raf, beri aku waktu, biar Dio pulang dulu, nanti aku akan bicarakan pada Dio, soal ini semua," ucap Najwa.


Najwa dan Raffi turun dari balkon, mereka langsung masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Masalah percintaan Najwa dan Dio semakin pelik, Najwa juga tidak ingin menyakiti hati siapapun. Dan, Najwa harus rela dengan keadaan, jika memang Dio tidak bisa ia miliki.


^^^^^


Waktu terus berputar, ini adalah hari yang di nantikan oleh keluarga Alfarizi, kalau Dio akan pulang. Begitu juga hari yang sangat dinantikan Najwa. Karena kekasih hatinya akan pulang hari ini. Rania juga sangat senang, pujaan hati dia hari ini akan pulang. Rania memang sudha tidak ke Singapura lagi, dia sekarang bekerja di perusahaan ayahnya.


Rania pagi-pagi sekali sudah berada di rumah Arsyad. Ya, dia mau membantu Annisa menyiapkan makanan kesukaan Dio. Najwa hanya menggelng-gelengkan kepalanya saja melihat sahabatnya kegirangan seperti itu.


"Ran, memang kamu bisa masak?"tanya Shifa.


"Bisa, kan bunda yang ngajarin, iya kan, Bunda?" tanya Rania.


"Eh, kamu panggil apa tadi?" tanya Shifa dengan mengernyitkan dahinya.


"Bunda, bolehkan Rania panggil bunda?" tanya Rania lagi.

__ADS_1


"Iya, sayang boleh, nanti bunda ajari kamu masak kesukaan Dio," ujar Annisa.


"Terima kasih bunda," ucap Rania dengan bahagia.


"Kamu tidak ke kantor Rania?" tanya Najwa.


"Tidak, hari ini khusus untuk Dio," ucapnya dengan mengurai senyum bahagianya.


"Oke, aku tinggal ke butik," ucap Najwa.


"Wah … calon menantu Abah di sini rupanya," sapa Arsyad pada Rania dengan bahagia.


"Iya, dong. Kan Rania mau memasak khusus untuk Dio, Abah," ucap Rania dengan bahagia sekali.


"Apa tadi? Abah? Raffi gak salah dengar?" tanya Raffi.


"Emm iya, kan aku juga manggil Tante Annisa, bunda, jadi bolehkan aku panggil Om Arsyad, Abah?" tanya Rania.


"Boleh, Sayang. Ya sudah, minta ajari bunda, Abah dan Raffi mau ke kantor dulu," pamit Arsyad.


Arsyad ke kantor bersaman Raffi. Raffi tau hati kakaknya tidak baik-baik saja. Raffi merangkul kakaknya untuk ke luar dan berangkat ke butik saja.


"Ayo berangkat, Kak." Raffi menarik tangan Najwa dan merangkulnya untuk ke luar.


"Aku tahu hati kakak, sudah tenangkan hatimu, berangkat kerja, dan jangan pikirkan apa-apa. Pasti Dio akan menemui kakak dulu, kan?" tanya Raffi dengan berbisik.


"Iya, Dio akan ke butik langsung katanya," ucap Najwa.


"Ya sudah, jangan bersedih, kamu yang memenangkan hati Dio, kak," ucap Raffi.


"Iya, aku yang memenangkan hati Dio, tapi aku tak bisa memiliki raganya, Raff," ucap Najwa.


"Jangan pikirkan itu, fokus kerja, oke," tutur Raffi.


"Hmmm." Najwa hanya bergumam saja.


Arsyad dari tadi menunggu Raffi yang lama sekali jalannya, akhirnya dia menghampiri Raffi dan Najwa yang sedang berbicara bisik-bisik.


"Raffi, kok lama sekali, ini sudah siang, Nak. Kalian bicara apa, sih? Pakai bisik-bisik," ujar Arsyad.


"Ada deh. Ya sudah, Raffi berangkat dulu, Kak. Kak Najwa hati-hati. Ingat pesanku," ucap Raffi.


Najwa hanya menganggukkan kepalanya dan langsung masuk ke mobilnya. Dia ke butik menggunakan mobilnya sendiri. Najwa tersenyum pahit, melihat Annisa dekat dengan Rania, terlebih Rania memanggil Annisa panggilan bunda dan manggil Arsyad dengan panggilan Abah. Najwa semakin tidak yakin dengan hubungannya dengan Dio.


"Ah entahlah, akan seperti apa nantinya hubunganku dengan Dio, aku jalani saja," gumam Najwa sambil menyetir mobilnya.


^^^


Siang harinnya di butik Najwa merasa bahagia sekali sudah berada di depan orang yang ia sayangi. Siapa lagi kalau bukan Dio. Iya, Dio sudah berada di pelukan Najwa saat ini, dan Najwa tidak mau sedikitpun melepas pelukannya. Meraka meleburkan rindu yang terpendam selama kurang lebih 2 tahun.


"Sayang, aku tidak bisa bernapas," ucap Najwa.


"Maaf sayang, aku bahagia sekali, sudah kamu jangan sedih lagi, aku akan bicara langsung dengan abah dan bunda, hari ini juga," ucap Dio.


"Dio, ada Rania di rumah," ucap Najwa dengan wajah yang terlihat sebal.


"Rania?" tanya Dio.


"Iya, Shifa memberitahu dia, dan sekarang dia di rumah, sedang memasak dengan bunda, untuk kamu," tutur Najwa.


"Biarlah, aku tidak peduli, yang penting aku akan bilang semuanya sekarang." Dio berkata dengan tegas dan menatap intens wajah Najwa yang cantik.


"Aku merindukanmu, sayang." Dio mencium bibir Najwa.


"Emm…Dio, jangan seperti ini." Najwa melepas ciuman Dio.


"Kenapa? Tidak biasanya kamu seperti ini, Sayang? ucap Dio.


"Dio, aku…." Dio tidak peduli Najwa bicara apa, dia mencium lagi bibir Najwa dengan lembut dan penuh arti.


Setelah lama mereka melepas rindu, dan berciuman cukup lama, Dio kembali memeluk Najwa dan mencium kepala Najwa.


"Pulang, yuk?" ajak Najwa.


"Kita jalan dulu, baru kita pulang ke rumah," ucap Dio.


"Baiklah, aku akan menaruh bunga ini di vas bunga dulu." Najwa menata bunga mawar dari Dio di vas bunga.


Dio memeluk Najwa dari belakang, saat Najwa menata bunga pemberian darinya.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Najwa," bisik Dio.


"Hmm ... jangan seperti ini, Sayang. Iya, aku tak akan meninggalkanmu," ucap Najwa.


"Itu mauku, tapi entah nanti, Dio," gumam Najwa.


Najwa membalikan badannya menghadap Dio, dan menyentuh pipi Dio. Dia bahagia sekali saat ini bisa berada di depan Dio lagi.


"Ayo mau jalan ke mana?" tanya Najwa.


"Ke taman," jawab Dio.


"Taman mana?" tanya Najwa.


"Masa lupa? Taman belakang sekolah kita dulu," jawab Dio.


"Masih ingat?" tanya Najwa.


"Masih, akan selalu kuingat. Ayo berangkat sekarang," ajak Dio.

__ADS_1


Najwa dan Dio berjalan beriringan keluar dari butik Najwa. Najwa menitipkan butiknya pada Asisten pribadinya. Dio dan Najwa masuk ke dalam mobil Najwa. Sebelumnya Dio sudah mengabari rumah kalau akan terlambat pulang, karena akan menemui temannya dulu dengan Najwa. Ya, orang di rumah tahu, kalau Dio pulang ke butik Najwa dulu. Karena Arsyad dan Raffi juga sibuk tidak bisa menjemputnya. Annisa juga, dia harus menyiapkan pesta kecil untuk anaknya yang baru pulang dari Berlin. Dan, itu menjadi kesempatan Dio, untuk bisa pulang dengan Najwa.


__ADS_2