
Hari ini, hari yang sudah di nanti-nantikan oleh kedua orang tua Arsyad dan Almira, yang menantikan kelahiran cucu mereka. Mereka masih berada di depan ruang persalinan, Arsyad yang dari tadi setia menunggui Almira yang sedang kesakitan, dia membolak-balikan tubuhnya, rasa sakit menjalar di seluruh tubuh Mira, terutama di bagian pinggang dan Perut nya. Dia merintih kesakitan menahan rasa sakit itu sambil menunggu pembukaan. Arsyad mengusap peluh yang keluar pada dahi Almira, dia sesekali mencium keningnya dan memberi kekuatan pada Istrinya.
Sebenarnya dia takut dan khawatir sekali melihat istrinya seperti itu, dia hanya bisa memasrahkan semuanya pada Allah, agar istrinya di beri kemudahan untuk melakukan persalinan.
"Mas, sakit sekali, aku tidak kuat."ucap Mira dengan merintih.
"Sayang, jangan bilang seperti itu, berdoalah, Allah akan mempermudah segalanya. Kamu sayang sama aku? Sayang sama anakmu?"ucap Arsyad. Almira hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kalau sayang, bertahanlah sayang, berdoalah, sebut nama Allah, semua akan baik-baik saja. Aku akan di sini hingga anak kita lahir."tutur Arsyad. Arsyad mencium kening istrinya dan mengusap peluh yang keluar di dahi Almira berkali-kali.
Dokter Iren melihat pembukaan Almira, dan sudah ada pembukaan lagi.
"Pembukaan nya sangat cepat, Ayo ibu Mira, tarik nafas dalam-dalam, mengedan sedikit demi sedikit." Dokter Iren memberi arahan pada Almira.
"Baik ibu, ayo sedikit lagi."ucap Dokter Iren.
"Mas, sakit sekali…awww…." Almira meronta kesakitan.
"Ayo sayang, kamu pasti kuat. Kamu pasti bisa." Arsyad kembali mencium kening Almira.
Dan akhirnya perjuangan Mira tidak sia-sia, Bayi perempuan yang sangat mungil dan cantik telah lahir, Mira menangis bahagia, dia mencium tangan suaminya yang masih menggenggam tangan Almira. Arsyad pun ikut menangis bahagia.
"Terima kasih sayang, putri kita sudah lahir." Arsyad berkali-kali mencium kepala Almira.
Dokter Iren meletakan Bayi mungil itu di atas dada Almira dan menyelimutinya agar Bayi Almira mencari ****** susu ibunya dan menyusu. Almira meneteskan air mata melihat putri cantiknya berada di atas dadanya. Arsyad membelai kepala istrinya dan melihat putri kecilnya yang sedang menyusu ibunya.
Perawat mengambil bayi Almira dan membersihkannya lalu membedongnya dan memberikannya pada Arsyad.
"Subhanallah cantiknya putri Abah, selamat datang sayang di pelukan Abah dan Ummi." Arsyad mencium kening Bayi mungil yang ada di gendongannya. Dia segera mengadzani bayinya dengan lirih di telinga sebelah kanan, lalu mengucapkan iqomah di telinga kiri bayinya dan membacakan do'a,
Allâhummaj’alhu bârran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islâmi nabâtan hasanan
“ Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik.”
Lalu membaca surat al-Ikhlash pada telinga bayi sebelah kanan 3 kali, membaca surat al-Qadr pada telinga bayi sebelah kanan satu kali, dan membaca ayat Q.S. Ali Imran (3: 36) pada telinga bayinya sebelah kanan.
Setelah selesai dia memberikan kembali pada perawat dan di taruh di dalam box bayi, bayi Arsyad dan Almira sangat sehat, Almira di bawa ke ruangan pasien oleh beberapa perawat dan salah satu perawat mendorong box bayi Almira untuk di bawa ke ruangan pasien.
Semua keluarga sudah berkumpul di ruangan Almira, Rico dan Abah Fajri sangat bahagia sekali memiliki cucu pertama mereka yang sangat cantik dan mungil. Mereka berganti menggendong cucunya, begitupula Andini dan Ummi Rahma, mereka juga tak kalah denah Rico dan Abah Fajri, semuanya bahagia. Namun, kesedihan hinggap di hati Annisa, dia melihat Almira masih memiliki orang tua lengkap, sedang dirinya, dai yang sebentar lagi melahirkan juga, dia merasa tidak ada orang tua yang memperhatikannya selama hamil, walaupun Andini sering sekali ke rumah Arsyil untuk menjenguk Annisa. Dia tetap merasa sendiri tanpa kedua orang tuanya.
"Mah…pah… Nisa kangen, lihat mah, Kak Mira bahagia sekali, melahirkan di dampingi ke dua orang tuanya, Annisa sendiri mah, pah. Annisa sebentar lagi juga akan melahirkan cucu Mamah dan Papah. Iya Annisa beruntung sekali memiliki Arsyil yang sangat mencintai Annisa, mertua yang sayang dengan Annisa, seperti sayang dengan anaknya sendiri. Tapi, mah, pah, hati ini sesak, hati ini sakit sekali. Sepertinya hidup ini tidak adil sekali untuk Annisa. Maafkan Annisa mah, pah, hari ini Annisa menangis lagi untuk mamah dan papah." Annisa terdiam dan tanpa sadar dia meneteskan air matanya. Arsyil yang melihat istrinya seperti itu, dia tau kalau hati istrinya sedang tidak baik. Arsyil menarik tangan Annisa pelan dan mengajaknya ke luar ruangan, Arsyil membawa istrinya menjauh dari ruangan Almira tanpa sepengetahuan mereka yang ada di dalam ruangan Almira.
Arsyil membawa Annisa di taman rumah sakit, dia memeluk erat istrinya, dia tau apa yang Annisa rasakan.
"Menangislah sayang, aku tau kamu merindukan papah dan mamah. Aku tau apa yang kamu rasakan. Luapkan kerinduanmu pada mamah dan papahmu dalam pelukan ku." Arsyil memeluk erat istrinya, Annisa semakin terisak, air matanya jatuh semakin deras di pelukan suaminya.
"Aku merindukan mamah dan papah, Syil. Aku sangat merindukannya."ucap Annisa sambil terisak.
"Aku tau, Nisa. Aku tau itu. Tenangkan hatimu, setelah tenang baru kita masuk ke dalam lagi. Sebentar aku beli minum buat kamu." Arsyil membeli minum untuk Annisa di cafetaria yang ada di dekat taman. Dia membeli dua air mineral untuk Annisa dan untuk dirinya sendiri.
Arsyil memberikan minumannya pada Annisa, dia menyuruh istrinya untuk minum dulu. Annisa masih saja terisak, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Arsyil.
"Jangan menangis lagi, sudah, mamah dan papah mu sudah bahagia di sana melihatmu, aku tau, kamu melihat Kak Mira masih memiliki orang tua, dia juga sangat manja dengan orang tuanya. Aku tau hatimu sesak melihat itu, sayang. Kamu ada aku, aku akan menjadi suami sekaligus orang tuamu. Aku akan lakukan apa saja agar kamu bahagia." Arsyil mengangkat wajah Annisa dan menyeka sisa-sisa air matanya.
"Maafkan aku, Syil. Aku sangat lemah seperti ini, aku tidak tahu, aku sangat merindukan mamah dan papah saat melihat Kak Mira di peluk Abah dan Ummi."ucap Nisa. Dia mencoba menghentikan tangisannya, hanya Arsyil yang mampu membuatnya tenang dan nyaman. Dia benar-benar memiliki sandaran hati yang kuat untuk hatinya. Bagi Annisa, Arsyil adalah obat penenang untuk dirinya dan penghilang rasa sakit yang teramat dalam.
"Terima kasih, Syil. Kamu sudah menjadi bagian dari hidupku. Kalau tidak ada kamu, aku bisa apa. Mungkin jika tak ada kamu, aku akan menyusul orang tua ku di sana."ucap Annisa.
"Huss…jangan bicara seperti itu, semua sudah suratan dari Allah, kamu di beri cobaan yang amat dahsyat setelah kamu menuai kebahagiaan hidup bersamaku. Dan, kamu adalah wanita yang tegar. Karena kamu kuat menghadapinya, kamu menjadi wanita yang hebat, dan lihat, karirmu di perusahaan papah melejit sekali, bahkan banyak klien yang bekerjasama dengan perusahaan papah kamu, itu semua karena kamu wanita yang kuat, yang tegar dan tangguh. Jangan sedih lagi, oke."tutur Arsyil sambil membelai kepala Istrinya dan menciumnya berkali-kali.
"Jangan sedih lagi, ada aku di samping mu. Aku akan selalu menemanimu, menjagamu dan mendampingi mu sampai akhir hidupku, Annisa." Arsyil memeluk erat istrinya. Dia mencoba membuat istrinya tertawa lagi dan menghilangkan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Sudah, mau balik ke ruangan Kak Mira?"tanya Arsyil.
"Sebentar lagi, mataku masih sembab sekali. Aku tidak mau mereka melihat mataku yang sembab seperti ini."ucap Annisa.
"Ya sudah, kita di sini dulu, tapi jangan menangis lagi."
"Oke, suamiku sayang." Annisa mencium lembut pipi suaminya. Arsyil mengusap lembut perut istrinya yang makin membuncit. Dia mencium dan mengajak bicara anaknya yang masih berada di dalam perut Nisa.
"Baru mau masuk bulan ke-7 perut kamu besar sekali, sayang. Seperti sudah bulan ke-9."ucap Arsyil
"Iya, Syil. Aku juga merasakan berat sekali kalau jalan."keluh Nisa.
"Baby Twins nih anak ayah."ucap Arsyil
"Semoga saja, ayah. Kan belum USG."ucap Nisa.
"Ya sudah, nanti kita ke dokter lagi, saat jadwal check up dan USG kita tanya bayi kita kembar atau tidak. Soalnya Kak Mira yang mau lahiran saja perutnya tidak sebesar kamu ini, sayang."tutur Arsyil.
"Iya sayang, aku juga ingin memiliki bayi kembar, apalagi cowok-cewek, wah lengkap tuh."ucap Annisa.
"Iya, pasti lucu, sayang. Nanti aku kasih nama Dio dan Shifa kalau kembar cowok-cewek. Kalau cowok semua, Dio sama Dani."ucap Arsyil
"Kalau cewek semua "Shafa dan Marwa" bagus tidak?"tutur Annisa
"Bagus, semoga saja impian kita terwujud memiliki anak kembar dan sehat."ucap Arsyil.
Annisa membelai kepala suaminya yang berada di pangkuannya, dia merebahkan tubuhnya di atas bangku yang ada di taman. Dan sesekali Arsyil mengajak berbicara dengan bayi yang ada di dalam perut Nisa.
Di dalam ruangan Almira, semua baru sadar kalau Arsyil dan Annisa tidak ada di dalam. Semua saling melempar pertanyaan di mana Annisa dan Arsyil, Rico melihat keluar ruangan tapi tidak ada juga.
"Di mana mereka ya, Bu?"tanya Rico pada Andini.
"Tidak tau, coba di telfon saja, pah."jawab Andini, Rico menelfon Arsyil, dan Arsyil mengangkatnya, dia bilang pada papahnya kalau Annisa sangat lapar, dan mengajaknya ke cafetaria yang ada di rumah sakit. Rico percaya begitu saja, karena memang wanita hamil cepat sekali merasa lapar.
"Di cafetaria, Annisa katanya lapar."ucap Rico.
"Sebentar lagi dia pasti datang kok."imbuhnya.
"Wajar, pah. Wanita hamil itu sering merasa lapar, apalagi sudah hamil tua."ucap Andini.
Mereka semua masih menunggu Arsyil dan Annisa datang, dan tak lama kemudian mereka datang, mata Annisa sudah tidak sembab lagi, karena sebelum ke ruangan Almira dia mencuci muka dulu di Mushola yang ada di rumah sakit.
"Mana nih, keponakan om yang cantik sekali. Maaf ya, tantemu tadi lapar, sayang. Ayo ikut Om kamu yang ganteng maksimal ini." Arsyil memuji dirinya sendiri yang membuat semuanya tertawa.
"Jiah…ganteng dari mana, pak. Om kamu kasihan ya sayang, tidak ada yang memujinya, jadi muji diri sendiri."saut Annisa.
"Nis, kalau aku tidak ganteng, kamu gak akan mau denganku. Ya kan? Ehhh lihat tuh, nanti kamu akan punya teman main, tuh Tante perutnya udah gede sekali, teman kamu kembar nanti, sayang." Arsyil mencium keponakannya yang berada dalam gendongannya.
"Kembar?"ucap semua orang orang yang ada di dalam ruangan Almira.
"Duh….kompaknya kalian, semoga saja, lihat tuh perut Annisa, baru saja mau masuk bulan ke-7 saja sudah gede sekali, seperti perut Kak Mira yang tadi mau melahirkan."ucap Arsyil.
Andini memegang perut Annisa dan mengusapnya dengan lembut.
"Iya, gede sekali, Nisa perut kamu. Wah….benar nih Oma mau dapat cucu kembar, semoga saja. Jaga terus kesehatanmu, sayang."ucap Andini.
"Nisa, sudah di USG?"tanya Ummi Rahma.
"Belum ummi."jawabnya.
"Buruan di USG, ummi penasaran, kita mau dapat cucu kembar ya Bah."ucap Ummi dengan bahagia.
__ADS_1
"Kak, nama putrimu siapa? Sudah di kasih nama belum?"tanya Arsyil
"Sudah aku siapkan nama, namanya Ainun Najwa Salsabila."ucap Arsyad.
"Cantik kan namanya?"imbuh Arsyil yang bertanya pada semuanya
"Cantik sekali namanya."ucap Rico.
"Najwa, manggil nya,ya kak, Najwa cantik keponakan om yang ganteng ini."ucap Arsyil.
"Iya, om ganteng."saut Almira dengan tertawa, melihat adik iparnya memuji dirinya sendiri.
"Sini, gantian aku yang menggendong, Syil." Shita meminta Najwa yang masih di gendongan Arsyil.
"Ayo, ikut Tante cantik, biar tantenya ketularan punya bayi cantik seperti kamu, Najwa."ucap Arsyil sambil memberikan Najwa pada Shita.
"Aamiin, semoga saja ya, Najwa." Shita mencium lembut pipi Najwa yang kenyal.
Shita memang sangat menginginkan seorang anak, tapi Shita dan Vino tidak terlalu memikirkannya, nanti malah membuat mereka stres dan terus berharap. Mereka menikmati masa-masa berduanya dulu, karena mereka yakin, Allah pasti memberikan seorang anak pada mereka. Shita terkadang merasa sedih karena semua sudah memiliki buah hati, teman-temannya juga, sudah banyak yang memiliki anak, tapi dia segera menepis kesedihannya itu. Karena bagaimanapun, semua adalah pemberian Allah, dia percaya bahwa janji Allah itu pasti, dan dia juga melihat Rachel yang sampai sekarang juga belum hamil.
Setelah di rumah sakit satu malam, sekarang Almira sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah kata Dokter yang menanganinya, Almira menata semua barang-barang bawaannya yang ada di rumah sakit. Dia sesekali meringis kesakitan, karena payudara nya membengkak. Padahal dia sudah memberi ASI untuk Najwa banyak sekali, tapi dia masih merasa sakit. Dia bertanya pada Andini yang masih sibuk memasukan baju milik menantunya di dalam tas.
"Ibu, dulu waktu ibu melahirkan, sakit tidak payudaranya, seperti membengkak gitu."tanya Mira.
"Iya sayang, dulu ibu seperti itu, memang sakit, tapi nanti akan hilang kok, kalau kamu sudah memberi ASI untuk Najwa."ucap Andini.
"Tapi, tadi Mira sudah memberi ASI untuk Najwa, kok masih sakit ya,Bu. Sakitnya juga membuat badan Mira mriyang, Bu."keluh Mira.
"Memang seperti itu, sayang. Nanti sembuh sendiri."ucap Andini.
Almira masih menahan sakit di bagian payudaranya. Najwa yang bangun, akhirnya Mira segera memberi ASI untuk Najwa.
Benar kata ibu mertuanya, rasa sakitnya sedikit demi sedikit menghilang. Almira merasa bahagia sekali, bisa memberi ASI untuk buah hatinya, ASI nya terbilang cukup lancar sekali. Dia membelai kepala putrinya, dia tak menyangka, secepat ini dia sudah menjadi orang tua. Padahal Almira merasa, kemarin baru saja bermanja dengan orang tuanya, dan sekarang dia adalah tempat bermanja untuk anak-anaknya kelak.
"Jadi wanita Sholehah ya sayangnya, Ummi. Jangan rewel, jadi wanita yang tangguh dan pandai." Almira berkata lirih pada Najwa putrinya.
Arsyad sudah datang untuk menjemput istrinya pulang ke rumah. Dia membawakan tas milik Almira, dan Andini menggendong cucunya, Almira di dorong oleh perawat menggunakan kursi roda.
Arsyad melajukan mobilnya menuju ke rumah, Andini menemani Almira di rumahnya untuk mengurus Almira dan Bayinya, Andini bergantian dengan Ummi Rahma untuk mengurus Almira dan Najwa selama 40 hari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
__ADS_1
aku kok nangis ya, nulis di bagian Annisa tadi...huh....mewek sendiri akunya...😭😭