
Aku sudah sampai di depan kantor milik pamanku, sebenarnya ini kantor papah, perusahaan papah, tapi pamanlah yang mengelola seutihnay bersama Zidane dan Alvin. Hak ku memang masih ada di sini, tapi akubtak peduli dengan hak ku di sini, toh papah sudah memberikan aset terbesarnya padaku. Iya, perusahaan yang ada di Indonesia itu adalah hak milikku, dan lebih besar dari perusahaan papah di Berlin yang di kelola paman, Zidane dan Alvin.
Leon tak gentar untuk mendekatiku, dia mengantarkan aku hingga ke ruanganku, aku sangat risih sekali dengan semua karyawan yang melihatku.
"Leon, bisa pulang sekarang, aku tidak perlu di kawal hingga ke ruanganku, apa kau mengerti?"aku memandang dan berkata tak senang pada Leon.
"Ah…baiklah, Annisa, tapi aku pastikan, aku akan selalu seperti ini denganmu."ucapnya dengan santai.
"Apa kamu tidak mendengarkan aku Leon, aku tidka perlu kamu melakukan semua ini. Aku bisa sendiri."ucapan ku semakin meninggi.
"Oke, baiklah aku ke kantor saja. Nanti sore aku jemput."ucap Leon sambil berlalu.
"Tidak perlu."aku berkata seru pada Leon yang berlalu pergi. Dia hanya menengok dan tersenyum padaku saja. Iya, dia memang sangat manis , sangat tampan, dan kaya raya. Tak heran semua mata wanita di kantorku menatap ciptaan indah yang baru saja mengantarku ke sini.
Aku masuk ke dalam ruanganku, rasanya tidak ingin lagi aku berada di sini, tapi bagaimana lagi, ini pilihanku. Bodohnya aku memutuskan sesuatu dengan gegabah.
"Syil, maafkan aku, maafkan aku yang egois meninggalkan keluargamu yang sungguh sangat baik kepadaku."gumam ku dalam hati.
^^^^^
Annisa mendudukan dirinya kursi, dia mencoba menenangkan hatinya yang masih kacau memikirkan sikap Leon yang semakin hari semakin membuat dia resah. Ingin rasanya dia kembali ke Indonesia agar dia bisa hidup tenang dan damai lagi di sana.
"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku di sini, nanti setelah Shifa selesai belajarnya di sini, baru aku pindah pulang ke Indonesia lagi, Ya, aku harus sabar menghadapi Leon yang seperti itu. Aku takut, dia akan macam-macam denganku dan anak-anakku. Bagaimanapun kedudukan dia di sini sangat di segani oleh orang. Iya, karena dia pemuda yang kaya raya."gumam Annisa dalam hati.
Annisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat hari ini. Terlihat Alvin masuk ke dalam ruangan Annisa dengan membawa berkas-berkas yang harus di cek oleh Annisa.
"Nis, bagaimana kamu tertarik dengan Leon?"tanya Alvin dengan menaruh berkas di meja Annisa.
"Vin, aku minta tolong sekali dengan kamu, berhentilah menjodohkan aku dengan Leon, aku tidak mau, aku tdak bisa. Yang ada aku sangat takut jika Leon terus mengejarku."ucap Annisa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nis, kok kamu nangis? Kamu sepertinya takut sekali dengan Leon?"ucap Alvin yang panik melihat Annisa yang menangis.
"Aku tidak mau menikah lagi, aku tidak mau, tolong aku, Vin. Hentikan kalian menjodoh-jodohkan aku dengan siapapun itu orangnya. Aku tidak mau."ucap Annisa sambil terisak.
"Nis,maafkan aku, ini semua papah yang mau, agar Shifa dan Dio memiliki ayah lagi, mereka masih kecil. Butuh seorang ayah."ucap Alvin.
"Tidak, Vin, mereka butuh aku saja. Lihat Dio dan Shifa, bagaimana sikapnya dengan Leon? Dia acuh, cuek bahkan ketus dengan Leon. Apa kamu tidak melihatnya. Harusnya kamu tau, dengan sikap dia, dia butuh tidak seorang ayah. Coba lihat, apa kamu tega anakku punya ayah tiri yang tidak mereka inginkan!?"ucap Nisa dengan suara yang agak meninggi.
"Nis...Nis…sudah jangan seperti itu, iya nanti aku bantu kamu bilang pada Zi dan papah. Maafkan aku yang sudah ikut campur dengan hatimu dan kehidupanmu."ucap Alvin.
"Tolong bantu aku, Vin. Aku ke sini untuk menenangkan hati, bukan menambah beban di hati. Dan untuk membantu kalian, jangan hanya Karena Leon berkuasa di sini kalian takut perusahaan ini tidak maju."ucap Nisa.
"Bukankah dari dulu sebelum ada Leon perusahaan ini juga sudah maju?"imbuh Annisa.
"Iya Nis kami benar, maafkan kami, terlalu ikut campur masalah hatimu."ucap Zidane yang sudah muncul di balik pintu ruangan Annisa dan sudah mendengar semau pembicaraan Alvin dan Annisa.
"Zi, aku mohon dengan sangat, aku tidak mau Leon terus-terusan mendekatiku, aku tidak mau."ucap Annisa.
"Iya aku akan berbicara pada dia nanti. Sebenarnya dia memaksaku untuk membujukmu supaya kamu mau menikah dengan Leon. Aku menerimanya, karena dia akan memberikan lebih pada perusahaan ini. Tapi, melihat saudara Perempuanku semakin kacau hatinya, aku tidak akan menerima tawaran Leon. Terlebih ini perusahaan milik papahmu."ucap Zidane.
"Zi, tolong aku, aku ke sini untuk menenangkan pikiranku, bukan menambah beban pikiranku seperti ini. Tolong Zi, bilang pada Leon, aku tidak mau dengan dia."pinta Annisa dengan berderai air mata.
"Kamu tau rasa sakit hatiku ini, aku rasanya mengkhianati mendiang suamiku, aku meninggalkan keluarganya, dan di sini aku malah dengan laki-laki lain. Coba kalau kamu yang jadi Arsyil, atau kamu ada di posisiku."ucap Nisa.
"Iya, Nis. Kami minta maaf."ucap Zidane dan Alvin.
"Aku mau pulang sekarang, aku butuh istirahat, dan sepertinya tahun depan aku akan kembali ke Indonesia."ucap Annisa.
Annisa pulang ke rumah pamannya, hatinya sangat kacau sekali, dia sangat rapuh kali ini, tidak ada tempat untuk bersandar, tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hatinya, dia sendirian hanya dengan anak-anaknya yang menjadi penyemangat hidupnya.
Annisa sudah sampai di rumah pamannya, dia segera masuk kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Pamannya memanggil Annisa yang akan masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Nis, kamu jam segini sudah pulang?"tanya Paman Diki.
"Iya, Nisa tidak enak badan."ucapnya.
"Kamu dengan Leon?"tanya Paman Diki.
"Tolong paman, jangan bicara Leon lagi, hentikan menjodohkan Nisa dengan Leon. Nisa tidak suka.!"tukas Nisa dengan membuka pintu kamarnya kasar.
"Nis, kalau kamu menikah dengan Leon, perusahaan kita akan maju."tukas Paman Diki.
"Paman, dengan menikah atau tidak menikah dengan Leon, perusahaan paman juga sangat maju, bukan? Kalau ingin tambah maju, kenapa tidak paman saja yang menikah dengan Leon."ucap Nisa dengan marah.
"Kamu menikah dengan suami kamu dulu juga karena bisnis kan, karena orang tua kalian menjalin kerja sama baik, jadi kalian saling menguntungkan."ucap paman Diki.
"Dengar ya, paman. Aku dan Arsyil pacaran sebelum orang tua kami saling mengenal, sebelum mereka menjalin kerja sama, kalau paman tidak tau asal usulnya, jangan asal bicara. Maaf Annisa berbicara kasar dengan paman, itu semau berdasarkan kenyataan."ucap Annisa dengan masuk ke kamarnya dan sedikit membanting pintu kamarnya. Dia tidak biasanya semarah ini. Dia wanita yang lemah lembut sekali, tapi kali ini dia berontak, hatinya meronta dan sangat sakit.
Shifa melihat dari balik pintu perdebatan bundanya dengan eyang kakaungnya. Dia tau sekali perasaan bundanya bagaimana, dia segera keluar dari kamarnya setelah eyang kakaungnya masuk ke dalam kamar. Shifa mengetuk pintu kamar bundanya. Dan Annisa membukakan pintunya.
"Bunda, ini Shifa, boleh Shifa masuk?"tanya Shifa dari balik pintu kamar Annisa
"Iya, sayang sebentar." Annisa mengusap air matanya dan mencuci mukanya terlebih dahulu.
"Ada apa sayang?"tanya Annisa. Shifa masuk ke dalam kamar Annisa dan menutup pintunya.
"Bunda jangan menangis." Shifa memeluk Annisa dan menangis dalam pelukannya.
"Bunda tidak menangis."ucap Annisa.
"Ayo pulang ke Indonesia, Shifa tau, bunda di sini tidak betah, apalagi sejak kedatangan Paman Leon."ucap Shifa.
"Shifa sayang, bunda masih banyak pekerjaan yang harus bunda selesaikan, sabar ya, satu tahun lagi."ucap Annisa.
"Bunda yakin?"tanya Shifa meyakinkan bundanya.
^^^^^
Hari terus berganti, dan Annisa sudah semakin berani menghadapi ancaman Leon yang semakin menjadi.
Iya, Leon berupaya menghancurkan perusahaan Annisa karena dia menolak Leon yang ingin melamarnya. Leon selalu membujuk paman Annisa untuk meminta Annisa menjadi istrinya. Leon memang begitu tergila-gila dengan Annisa. Janda beranak dua yang mampu mengalihkan dunia Leon.
"Annisa, harus dengan cara apalagi aku mengbil hatimu?"gumam Leon dalam hati di atas kursi kebesarannya.
Leon mencari siasat baru untuk mendapatkan hati Annisa, berbagai macam cara sudah ia coba, dari mendekati Shifa dan Dio, mendekati paman Diki, mendekati Zidane bakhan Alvin, dia berupasa membesarkan perusahaan paman Diki, namun Annisa segera menolak, walau dia selalu di ancam akan menghancurkan perusahaan pamannya.
Leon terus memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan Annisa. Ya, cara yang paling tepat adalah membuat perusahaan paman Diki hancur dan diputuskan oleh beberapa relasi bisnisnya. Apa yang tidak bisa bagi seorang Leon, dia sangat berkuasa di dunia bisnis.
Siang hari seusai makan siang, Annisa begitu terkejut menerima pemutusan kerja sama dari semua relasi. Dia menelepon semua relasinya dan meminta penjelasan kenapa memutuskan kerja sama secara sepihak. Begitu juga Zidane dan Alvin, dia sangat bingung menanggapi masalah ini.
"Nis, sudah mendapat email?"tanya Zidane dengan panik.
"Iya, Zi, kita harus bagaimana kalau seperti ini, Zi." Annisa begitu panik menghadapi semua ini.
"Kalau seperti ini yang ada perusahaan kita bakalan hancur, Zi."ucap Alvin yang juga masuk ke ruangan Annisa.
"Ini tidak beres, Zi. Pasti ini ada yang tidak beres. Coba lihat, semua yang memutuskan kerja sama secara sepihak adalah perusahaan-perusahaan yang besar, Zi."ucap Annisa.
"Leon. Ini pasti ulah Leon." Annisa segera menghubungi Leon. Panggilan terhubung pada Leon.
"Hallo Annisa, sepertinya kamu sedang terkejut dengan kejadian siang ini."ucap Leon dari balik telepon Annisa dengan suara liciknya.
"Leon, maksud kamu apa melakukan semua ini, apa salah kami."suara Annisa meninggi, dia begitu marah dengan keadaan sekarang yang sedang ia hadapi.
__ADS_1
"Salah kamu adalah satu Annisa, kamu menolak lamaranku."ucap Leon tanpa basa basi.
"Leon, perusahaan tidak ada hubungannya dengan hati. Kamu licik sekali, Leon. Kamu benar-benar orang licik." Annisa teriak dan menangis berkata dengan Leon. Annisa mematikan ponselnya dan menaruh dengan kasar di atas meja.
"Ya Allah, ada lagi masalah. Aku harus bagaimana, Zi, Vin. Aku harus bagaimana? kedatanganku ke sini menambah beban kalian. Maafkan aku."ucap Annisa dengan menangis.
"Nis kita pasti bisa menghadapi semua ini, percayalah." ucap Zidane mencoba menenangkan hati Nisa.
"Maafkan aku, aku yang membongkar semua statusmu pada Leon. Maafkan aku, Nisa. Aku tak menyangka Leon akan sekejam ini pada kami." imbuh Zidane.
Tak lama kemudian Paman Diki menelepon Zidane, dia membicarakan soal pemutusan kerjasama yang secara sepihak dari relasi bisnisnya. Zidane mencoba menjelaskan, tapi papahnya tetap marah, meminta Zidane, Alvin dan Annisa pulang ke rumah. Selain itu, Leon juga mengancam paman Diki akan mengambil alih perusahaannya karena sudah diambang kebangkrutan. Paman Diki tak menyangka karena Annisa menolak lamarannya, Leon menjadi membabi buta seperti itu.
Annisa, Zidane dan Alvin segera pulang ke rumah membicaraan semua dengan Paman Diki. Sesampainya di rumah, mereka duduk melingkar di ruang kerja Diki.
"Annisa kamu tau, ini semua karena kamu menolak Leon."ucap Diki yang setengah menghardik keponakannya itu
"Iya aku tau, paman. Apa aku salah aku menolak dia, aku sudah bilang aku tak mau menikah lagi. Sampai kapanpun aku tidak mau, paman. Menerima dia untuk menggantikan Arsyil." Nisa mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
"Kamu egois Annisa, Arsyil sudah tiada, kamu harusnya bisa menerima dia, lihat sekarang, karena kamu perusahaan yang paman bangun menjadi berantakan."seru paman Diki.
"Bukan karena aku, tapi Leon, paman."tukas Annisa.
"Arsyil memang sudah tiada, tapi tetap ada dalam hidupku." Annisa sangat kecewa dengan pamannya. Dia mulai berkata dengan nada tinggi.
"Aku tidak mau tau, aku mau perusahaanku kembali seperti semula, dan kamu Annisa, kamu harus mau menerima Leon menjadi suamimu." Diki sudah geram dengan masalah yang di buat Leon.
"Tidak, aku tidak mau, selamanya aku tidak mau, aku mohon pada paman, jangan seperti ini."suara Annisa melemah, dia menangis sejadi-jadinya di depan pamannya.
"Pah, tolong jangan seperti ini, kita masih bisa cari cara lain untuk menyelesaikan semua ini."ucap Alvin.
"Cara apalagi Alvin, cara Apalagi?"tanya Diki dengan tatapan yamg tajam pada anaknya.
"Pah, pikiran kita sedang kacau, jangan gegabah memutuskan sesuatu, kasihan Annisa, pah."ucap Zidane.
"Papah tidak peduli, dia datang menambah kerumitan hidup kita, jadi dia yang harus tanggungjawab."ucap Diki.
"Aku akan pulang."ucap Annisa
"Hei…bisa-bisanya kamu bicara ingin pulang, lihat perusahaanku porak poranda seperti ini, kamu harusnya sadar, ini semua karena kamu, Annisa." tukas Diki.
"Aku akan mencari cara selain tidak menikah dengan Leon."ucpa Annisa.
"Baik, paman kasih waktu kamu satu Minggu. Paman tidak mau, perusahaan yang papah kamu titipkan pada paman, menjadi hancur karena anaknya sendiri. Ingat Annisa, paman dan papahmu susah payah mendirikan perusahaan ini, dan kamu sendiri yang menghancurkannya. Ini semua tidak lucu Annisa, jika benar-benar terjadi."ucap Diki.
"Annisa akan mencari cara paman. Percayalah."ucap Nisa.
"Kalau satu minggu kamu belum bisa membuat perusahaan paman normal kembali, terimalah Leon menjadi suamimu."ucap Paman Diki.
"Baik, Annisa bukan seseorang pengecut, Annisa terima konsekuensinya."ucap Annisa dengan berlinang air mata. Zidane dan Alvin tidak tega melihat Annisa seperti ini. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan ini, karena dia tau, Leon sangat berkuasa di bidang bisnis. Semua perusahaan bertekuk lutut pada Leon. Siapa yang tidak mengenal Leon. Dia CEO termuda dan terkaya, juga sangat licik. Apa yang ia inginkan harus ia dapatkan dengan menghalalkan segala cara.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️