THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 72 "Sekarang dan Selamanya" The Best Brother


__ADS_3

Rania masih duduk di sofa setelah kepulangan Shifa dan Fattah. Dia sepertinya enggan untuk ikut dengan Shifa dan Fattah jalan-jalan ke luar negeri. Tapi, mau bagaimana lagi, dia tidak enak mau menolaknya. Sebenarnya Rania ingin mengajak Dio pergi sendiri. Ya, tujuannya sih bukan untuk Honeymoon saja. Rania ingin saja punya Quality time bersama suaminya saja setelah menikah. Karena, seminggu setelah menikah kemarin, Rania dan Dio langsung disibukan dengan urusan kantor.


Dio melihat Rania sedang melamun dan membolak-balikan ponsel yang ada di tangannya. Dio menghampiri istrinya yang dia rasa sedang bimbang dengan ajakan Shifa dan Fattah tadi.


“Kamu kenapa melamun?” tanya Dio sambil duduk di sampingnya dan mengusap kepala istrinya.


“Bingung saja,” jawab Rania dengan tatapan mata yang kosong.


“Bingung kenapa? Soal tadi ajakan Kak Shifa dan Kak Fattah?” tanya Dio lagi. Rania hanya menganggukkan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di sofa.


“Kalau bingung gak usah ikut, sayang. Lagian aku gak maksa kamu untuk ikut kok,” ucap Dio.


“Aku gak enak sama Shifa, Sayang,” ucap Rania.


“Iya juga sih, aku juga enggak enak sama Kak Shifa dan Kak Fattah, karena semua diajak, Arkan dan Raffi juga diajak,” jawab Dio.


“Nah itu, sayang. Aku gak enaknya di situ. Tapi, aku ingin pergi berdua sama kamu, itu rencana ku kemarin. Aku ingin kita pergi berdua ke mana, tapi kan pekerjaan sulit kita tinggalkan.” Rania berkata dengan manja.


“Ya Allah, kamu ingin jalan-jalan berdua? Ya sudah gini saja, kita  besok pagi ke Villa ayah, kita ke sana. Anggap saja kita bulan madu. Kan dari kemarin aku belum dapat jatah,” ucap Dio dengan senyuman genitnya pada Rania.


“Dasar mesum!” tukas Rania.


“Nah memang seperti itu, kan? Dosa lho nolak suami,” ucap Dio.


“Dari dulu ke mana aja, Pak?” ucap Rania dengan lirih, namun Dio masih mendengar ucapan Rania.


“Dari dulu mataku masih tertutup, Ran. Makanya aku tidak menghiraukan wanita secantik, sesabar, dan  seindah kamu,” jawab Dio.


“Gombal,” ucap Rania.


“Ini kenyataan, sayang.” Dio mencium pipi Rania dengan menindih tubuh Rania.


“Dio...berat ini.” Rania mendorong tubuh Dio, namun Dio masih menindihnya.


Wajah mereka semakin dekat, hanya beberapa centimeter saja jaraknya. Dio semakin mendekatkan wajahnya pada Rania. Detak jantung Rania semakin tak beraturan. Rania semakin menikmati belaian lembut dari jari jemari Dio yang menyentuh wajahnya.


“Love You,” bisik Dio ditelinga Rania.


“Love You too,” balas Rania dengan lirih.


Dio mencium bibir Rania dengan lembut. Rania membalasnya dengan penuh kelembutan yang membuat mereka semakin nyaman melakukannya.


“Kamu sudah selesai, kan?” bisik Dio.


“Sudah,” jawab Rania dengan suara yang lirih dan parau.


“Ke kamar yuk?” ajak Dio.


“Gendong,” pinta Rania dengan manja.


Dio menggendong istrinya ke kamarnya. Kecupan lembut mendarat di kening Rania saat Dio merebahkan Rania ke tempat tidurnya. Sebenarnya Rania sedikit belum siap melakukannya dengan Dio. Dia masih sedikit teringat kejadian di Villa itu, saat dia melihat Dio dan Najwa satu ranjang bersama di dalam kamar, dengan keadaan mereka berdua polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Dan, hanya selimut tebal yang menutupi bagian bawah tubuh mereka.


“Ya Allah, aku tidak boleh mengecewakan Dio, aku tidak boleh membuat suasana seperti ini menjadi runyam. Aku harus bisa melayani Dio, dia suamiku, dan aku yakin, dia sudah tidak menginginkan Najwa. Jangankan menginginkan, mencintainya pun sudah tidak,” gumam Rania dalam hatinya sambil menenangkan hatinya.


Dio melihat cairan bening keluar dari sudut mata Rania. Dio menyekanya dan mengecup kelopak mata Rania.


“Kamu belum siap, Sayang? Jangan menangis, kalau belum siap aku tidak akan melakukannya.” Dio mengusap lembut pipi Rania dan mengecup kening Rania.


“Aku sudah siap, Dio,” jawabnya dengan suara parau.


“Lalu, kenapa menangis, sayang?” tanya Dio.


“Aku tidak menangis, Dio,” jawab Rania.


“Aku tahu, kamu ingat kejadian aku dan....”

__ADS_1


“Sudah, itu sudah berlalu, Dio. Aku istrimu, lakukanlah Dio. Aku siap,” ucap Rania dengan menyentuh bibir Dio dengan jari telunjuknya.


“Terima kasih, sayang. Boleh aku meminta hak ku malam ini?” pinta Dio. Rania mengiyakan dengan anggukannya.


Dio merengkuh tubuh Rania dan mencium setiap inci wajah Rania. Rania menikmati setiap sentuhan yang diberikan Dio. Lenguhan Rania terdengar lirih di telinga Dio yang membuat Dio semakin menikmati setiap inci tubuh Rania yang sudah ia lepaskan seluruh penutup tubuhnya.


Rania merasakan darahnya semakin naik. Sentuhan kulit Dio di sekujur tubuhnya membuat darahnya semakin mendidih.


“Ran,”


“Iya,”


“Boleh aku lakukan sekarang?”


“Iya, Dio,”


Dio menyatukan tubuhnya pada tubuh Rania. Malam ini, Rania benar-benar sudah menjadi milik Dio seutuhnya. Rania sudah benar-benar menjadi seorang istri. Rasa sakit yang baru pertama kali Rania rasakan kini menjadi rasa yang tiada tara. Rania menikmati setiap gerakan tubuh Dio, yang membuat Rania semakin menikmati pergumulan malam ini. Lenguhan mereka dan deritan suara ranjang menggema di malam yang sunyi, hingga mereka berhasil mencapai puncaknya bersama.


Dio mengusap keringat yang menempel di kening Rania, dan mengecup kening Rania. Dio merebahkan dirinya di samping Rania, dia memiringkan tubuhnya menghadap Rania. Dio meraih tangan Rania dan menciumnya.


“Terima kasih, sayang. Kamu milikku selamanya,” ucap Dio dengan menatap lembut wjaha Rania.


“Sama-sama, sayang.” Rania memeluk Dio dengan erat. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Dio.


Rania masih membayangkan jika suatu saat Dio bertemu Najwa lagi dan mencintai Najwa lagi, lalu meminta pada dirinya untuk menikahi Najwa. Namun, rasa itu mencoba Rania tepiskan dari hatinya. Dia akan mempercayai ucapan Dio. Dia percaya kalau Dio akan mencintainya dan tidak akan meninggalkannya. Tanpa terasa air mata Rania membasahi dada Dio.


“Istriku cengeng, ya? Nangis kenapa?” Dio mengusap kepala Rania.


“Sudah dong, Ran. Jangan gini. Kamu takut aku kembali dengan Najwa? Kamu takut aku akan meninggalkan kamu? Iya, kamu takut itu?” tanya Dio dengan memeluk erat Rania.


“Dio, jangan bilang seperti itu. Aku bahagia, aku bahagia bisa mendapatkan cintamu. Kamu yang aku inginkan, Dio. Hanya kamu. Aku menangis karena aku bahagia, aku memiliki kamu, dan aku sudah menjadi milikmu,” ucap Rania dengan berlinang air mata untuk menutupi ketakutannya itu


“Sudah jangan menangis. Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu. Dan, satu lagi, sudah ada benih calon anak kita di rahim kamu, Ran. Jangan berpikiran macam-macam, oke. Mau kan punya anak dariku?”


“Iyalah mau, kamu kan suami aku.” Rania mencubit pipi Dio dan menciumnya.


Malam ini, menjadi saksi cinta mereka yang tertunda sekian lama. Dio mendekap tubuh Rania setelah mereka melakukan pergumulan berkali-kali malam ini. Dio masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih memandang wajah cantik istrinya dan mngusap lembut kepalanya.


“Rania, kamu satu-satunya milikku, sekarang dan selamanya. Biarkan aku tetap mencintaimu, memiliki ragamu, menikmati embusan napsmu, menikmati perjalanan hidup kita, hingga aku menua, hingga kita bisa bermain dengan cucu-cucu kita kelak. Aku mencintaimu sepanjang hidupku. Aku janji itu,” ucap Dio lirih di depan Rania yang sudah tertidur pulas. Dio memejamkan matanya dengan memeluk Rania. Hanya selimut tebal yang menutup tubuh mereka yang polos.


^^^^^


Rania terbangun terlebih dahulu. Bagi Rania, dengan atau tidak ada alarm, lelah atau tidak lelah, jam 3 dini hari pasti dia bangun. Rania merasakan sakit di pangkal pahanya saat ia hendak turun dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi. Memang dari semalam dia ke kamar mandi dengan di gendong Dio.


“Masa aku mau minta di gendong Dio lagi,” gumam Rania.


Rania mencoba perlahan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Rania memang tidak pernah meninggalkan sholat malamnya. Setelah dia selesa Sholat, Rania bersimpuh dan berdoa. Dia bersyukur Dio sudah menjadi suaminya seutuhnya. Dan, dia sudah menyerahkan semuanya pada suaminya semalam.


Dio bangun karena merasakan istrinya tidak ada di sampingnya. Dia bangun dengan panik Rania tidak ada di kamarnya. Dia langsung bergegas menuju kamar mandi, dan Rania juga tidak ada. Dio keluar dari kamarnya. Dai bernapas lega melihat Rania di dapur sedang duduk dan meneguk air putih.


“Rania...ternyata kamu di sini, aku kira ke mana,” ucap Dio dengan panik.


“Haus, sayang. Ditinggal ambil minum saja bangun,” jawab Rania.


“Kan biasanya jam segini kamu sedang mengaji, ini tidak ada di kamar. Aku panik, Rania.” dio duduk di samping Rania dan mengangsurkan air putih di gelas Rania. Dio meneguk air putihnya.


“Mandi sana, sebentar lagi subuh,” titah Rania.


“Kamu sudah mandi?” tanya Dio.


“Sudah lah, kan tadi aku sudah sholat, sayang.” Rania mengusap pipi Dio.


“Kamu sudah tidak sakit?” tanya Dio.


“Masih sedikit, nanti juga kalau sudah terbiasa tidak sakit lagi,” jawab Rania.

__ADS_1


“Jadi, mulai sekarang dan seterusnya harus tiap hari, biar terbiasa,” ujar Dio.


‘Dihh....maunya...sudah sana mandi, sudah mau subuh,” ucap  Rania.


“Iya...iya...cerewet,” jawab Dio dengan melengkahkan kakinya menuju kamar untuk mandi.


Rania hanya tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang seperti itu. Rania merasa Dio benar-benar mencintainya, hingga ditinggal ke dapur saja mencari dirinya sepanik itu. Dulu, mana mungkin peduliin Rania seperti sekarang ini. Rania mau apa juga tidak peduli.


^^^^^


Dio mengajak Rania ke Villa milik keluarganya. Villa yang dekat dengan vila Rania juga. Dio berencana akan bermalam di sana 2 atau 3 hari. Rania sedikit berat meninggalkan pekerjaan kantornya. Tapi, Dio tidak mempedulikannya. Dio inginnya Rania tidak usah ke kantor lagi, tapi karena ini memang keinginan Rania untuk membesarkan perusahaannya. Jadi, Dio masih memperbolehkan Rania untuk bekerja.


“Dio, kamu sudah siapkan dokumen yang harus di titipkan ke Astrid, kan?” tanya Rania.


“Iya sudah. Ran, aku minta satu bulan ini, kita fokus diri kita dulu. Bukan aku tidak fokus ke kantor, tapi kita perlu waktu berdua, ya kurang lebih satu bulan. Di kantor ada Astrid, dan lainnya,” jawab Dio.


“Iya juga sih, tapi kamu jangan melarangku untuk tidak bekerja,” ucap Rania.


“Tidak sayang, kamu boleh kerja, asal kamu tidak melupakan tugas istri dan tugas ibu, saat nanti kamu sudah menjadi ibu,” jawab Dio.


“Itu pasti, sayang,” ucap Rania.


^^^


Habibi membicarakan lagi pada Nuri soal temannya dari Indonesia yang akan datang menemuinya. Karena mereka membawa saudaranya, jadi Habibi tidak mau merepotkan Nuri untuk menyuruh temannya menempati rumah Nuri. Apalagi Nuri orang yang sangat sibuk, jadi Habibi menyuruh temannya tinggal di rumahnya.


“Bagus deh, aku juga bisa terus buka butukku, soalnya akhir-akhir ini butik rame sekali, Ki,” ucap Nuri.


“Makanya, aku suruh temanku dan istrinya juga saudaranya tinggal di rumahku saja,” ucap Habibi.


“Memangnya kapan teman kamu akan datang, sayang?” tanya Ainun.


“Minggu depan mungkin,” jawab Habibi.


Ainun hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja mendapat jawaban dari Habibi. Setelah selesai membicarakan semua pada Nuri, Habibi mengajak Ainun ke teras depan. Habibi dari kemarin melihat Ainun tidak seperti biasanya. Dia melihat Ainun yang sedikit gelisah dan sedikit tidak nyambung kalau di ajak bicara.


“Sayang, kamu sedang mikirin apa? Dari kemarin kamu sepertinya terlihat gelisah?” tanya Habibi.


“Aku tidak memikirkan apa-apa, kok. Aku hanya kangen abah,” jawab Ainun.


“Yakin, hanya kangen abah?” tanya Habibi lagi.


“Iya, sayang,” jawab Ainun.


“Tidak sedang memikirkan, Dio?”  tanya Habibi lagi.


“Kok gitu tanyanya? Buat apa aku memikirkan Dio?” jawab Ainun.


“Aku kira saja, karena dari kemarin kamu berbeda sekali, Ainun.” Habibi menggenggam tangan Ainun, dia berharap Ainun jujur pada dirinya.


Sudah hampir satu minggu Ainun tidak bisa berhenti mengingat akan dosanya saat bersama Dio. Semakin dekat pernikahan dia dan Habibi dia semakin takut dan ingat akan dosanya dulu saat dengan Dio. Dai selalu terbayang dosa-dosa masa lalunya.


“Ya, sebenarnya aku ingat Dio. Aku ingat saat aku melakukan dosa dengannya. Aku takut, aku takut kamu kecewa dengan aku, Habibi,” ucap Ainun dengan memejamkan matanya karena menahan air matanya yang mau keluar.


“Kamu jangan bicara seperti itu, kalau kamu bicara seperti itu sama saja kamu tidak bisa bangkit dari masalah itu, sayang.” Habibi menyeka air mata Ainun.


“Aku selalu bilang, simpan dan kubur masa lalu kamu. Jangan ingat lagi kalau kamu tidak perlu mengingatnya. Sudah cukup, jangan gali lagi masa lalu yang sudah kamu kubur. Kalau seperti ini kamu meragukan aku juga, Ainun,” jelas Habibi.


“Maafkan aku, sayang,” ucap Ainun.


“Sudah lupakan ini, tutup masa lalu kamu lagi. jangan ingat lagi. Aku mencintaimu.” Habibi memeluk Ainun.


“Aku belum siap kalau bertemu dengan Dio dan Rania. Juga semuanya. Aku malu, aku takut, aku takut mereka akan mengusir aku lagi. aku takut abah tidak menganggap aku anaknya laggi,” ucap Ainun dengan berlinang air mata.


“Tidak ada orang tua melupakan anaknya dan tidak ada mantan anak atau mantan orang tua, sayang. Kamu harus bisa, bukan aku egois menyuruh kamu harus bisa menemui mereka. Tapi, ini demi kebaikan kita, sayang,” jelas Habibi.

__ADS_1


“Iya, aku akan berusaha agar aku bisa menemui mereka,” ucap Ainun.


Ainun tidak tahu harus bagaimana jika nanti saat dirinya pulang bertemu dengan keluarganya. Ainun malu, dan sangat malu. Terlebih jika bertemu Rania dan Dio secara langsung. Harus mengatakan apa dia dengan Rania. Yang membuat dia malu lagi adalah, saat dia harus berhadapan dengan abahnya, Raffi, dan opanya. Tiga pria yang dari dulu sangat menyayanginya. Dan, bagi Ainun, mereka adalah hidup Ainun, penyemangat Ainun, orang yang paling berharga untuk hidupnya.


__ADS_2