THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 74 "Saling Membutuhkan"


__ADS_3

Sudah hampir 1 Minggu Leon di indonesia, dan hari ini Leon mendadak harus kembali ke Berlin karena urusan pekerjaannya. Padahal dia masih ingin di Indonesia, karena dia belum menyelesaikan urusannya dengan Rere. Ya, urusan hati lebih tepatnya. Leon diantar oleh Kevin pergi ke rumah Rere. Berhubung ini hari minggu, Rere di rumah tidak bekerja.


Mobil Leon sudah berada di halaman rumah Rere. Dia melihat wanita yang kini suda ada di dalam hatinya sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya.


"Leon, kamu ke sini tidak bilang-bilang, ini masih pagi, Le," sapa Rere.


"Aku ada urusan sebentar dengan papah dan mamahmu," ucap Leon sambil memegang kedua bahu Rere


"Papah dan mamah? Ada urusan apa dengan papah dan mamah ku?" tanya Rere.


"Sudah, nanti kamu tau, ada kan, di dalam?"


"Ada, ayo masuk," ajak Rere.


Leon masuk ke dalam rumah Rere. Rere mempersilakan Leon duduk di ruang tamu, dan Rere memanggil papah dan mamahnya yang sedang berada di dalam.


"Pah, mah, ada Leon, katanya ingin ketemu mamah dan papah," panggil Rere.


"Oh, iya, ada apa dia pagi-pagi sekali ke sini?"tanya Pak Soni.


"Rere juga gak tau, pah, katanya ada urusan dengan papah dan mamah," jawab Rere.


"Ya sudah, temui dulu, nak Leon, pah," imbuh Heni, mamah Rere.


Mereka menemui Leon yang masih setia menunggu orang tua Rere keluar menemuinya. Leon memberikan salam pada kedua orang tua Rere. Dia mencium tangan kedua orang tua Rere. Rere merasa heran sekali dengan Leon, karena kemarin juga tidak seperti ini waktu main ke rumahnya.


"Emm…Om, Tante, maaf, mungkin ini terlalu cepat Leon mengatakan semua ini, dan maaf pagi-pagi sekali Leon datang dan mengganggu aktivitas om dan tante,"ucap Leon.


"Iya, tidak apa-apa, santai saja, nak Leon," ucap Pak Soni.


"Nak Leon, tante buatkan teh, ya?"


"Emmm..nanti saja tante, karena Leon ingin membicarakan sesuatu dengan om dan tante,"


"Membicarakan apa, nak?" tanya Soni.


"Jadi seperti ini, Om. Hari ini Leon mendadak harus pulang Ke Berlin, dan Leon tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini," ucapan Leon terhenti, dia mengatur napasnya yang sudah tidak menentu, karena grogi ingin bicara serius dengan kedua ornag tua Rere.


"Om, Tante, apa Rere sudah ada yang punya? Maksud Leon, apa Rere sudah punya calon suami atau calon tunangan?"tanya Leon yang membuat mata Rere terbelaklak.


Rere tidak menyangka Leon berkata seperti itu, padahal setiap bertemu dengannya, Leon tidak pernah menyinggung soal hati kalau berbicara, hanya seputar pekerjaan atau hobi dia saja, dan cerita masa lalunya.


"Maksud nak Leon?"tanya Pak Soni.


"Maksud saya, Saya ingin melamar putri bungsu Om, jika putri Om belum memiliki kekasih atau calon suami," jawab Leon dengan tegas.


"Melamar? Secepat itu? Kamu serius? Kamu baru saja kenal Rere, Leon," ucap Pak Soni.


"Ya, memang Leon baru mengenal Rere sekarang, setelah Rere dewasa, dan baru bertemu lagi setelah berpuluh-puluh tahun Leon tidak bertemu Rere. Tapi, Leon serius untuk melamar Rere dan ingin mempersunting Rere menjadi istri Leon, om, tante," jelas Leon.


"Emmm…om tidak masalah, kamu mau melamar Rere, dan kita kembalikan pada Rere saja, apa Rere setuju dan mau di lamar kamu, bukan begitu, mah?"tanya Soni pada istrinya.


"Ya, kami kembalikan pada Rere, bagaimana sayang, Leon mau melamarmu?"tanya Heni.


"Emm…maaf Le, kita baru kenal, masa secepat itu kamu melamarku,"jawab Rere.


"Rere, kita memang baru kenal, dan pertemuan kita sangat singkat, tapi hati ini tidak bisa bohong, kalau aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku," ucap Leon.


"Pah, mah, bagaimana?"tanya Rere sambil menatap kedua orang tuanya.


Papah dan mamah Rere mengisyaratkan untuk menerima lamaran Leon yang mendadak ini.


"Re, hari ini aku ke Berlin, please, aku butuh jawaban dari kamu, dan Minggu depan aku akan meresmikan pertunangan kita di sini, dengan membawa keluargaku dari Berlin, kalau saja tidak ada urusan mendadak, aku juga tidak akan kembali ke Berlin hari ini, Alvin, Zi, dan paman Diki mereka juga masih di sini, hanya aku yang kembali ke Berlin,"ucap Leon.


"Leon, maaf, aku….em….aku….menerimamu," ucap Rere.


"Kamu yakin?" tanya Leon dengan mengembangkan senyum manisnya.


"Iya, aku yakin, Le," ucap Rere.


"Pah, mah, boleh, kan?" tanya Rere.


"Iya, nak, asal kamu bahagia, dan Leon juga bisa membahagiakan kamu, menjadi suami yang bertanggung jawab dan menyayangi kamu dan kami," jawab Pak Soni.


"Itu pasti, om," jawab Leon.


"Om, Tante, bolehkah Leon menyematkan cincin ini ke jari manis putri om?"tanya Leon.


"Silakan, nak Leon,"jawab Pak Soni.


Leon menyematkan cincin emas di jari manis Rere. Cincin itupun dia beli dadakan sebelum ke rumah Rere tadi, beruntung sudah ada toko perhiasan yang sudah buka. Dia membeli cincin seadanya karena sangat mendadak sekali.


"Re, maafkan aku, karena ini sangat mendadak, jadi aku beli cincin ini tidak sesuai pilihanmu, dan mungkin ini hanya cincin biasa saja, tapi aku memilihkan yang terbaik di toko yang tadi aku beli ini," ucap Leon.


"Aku tidak butuh cincin mewah yang bertahtakan berlian, Le, yang terpenting, kamu serius dan benar-benar ingin menikahiku," ucap Rere.


"Kalau aku tidak serius, buat apa aku ke sini langsung meminta papah dan mamahmu untuk aku jadikan pendamping hidupku, Re,"


"Iya, Le, terima kasih,"


"Sama-sama, Re,"


"Alhamdulillah, anak gadis kita akan menikah, mah,"ucap Pak Soni dengan lega, karena Rere berulang kali menolak lamaran laki-laki yang akan di jodohkan dengan Rere.


"Iya, pah, Alhamdulillah, aku kira Rere tidak suka laki-laki, mamah sudah khawatir, setiap di kenalkan dengan laki-laki selalu menolaknya," jawab Heni.

__ADS_1


"Mah, itu karena tidak ada yang cocok, makanya Rere menolak," sahut Rere.


Ya, memang Rere susah sekali kalau di kenakalan dengan laki-laki, dia sering tidak cocok kalau di kenalakan dengan laki-laki. Dan, hari ini Leon melamarnya dengan mendadak, Rere langsung menerimanya.


"Apaan ini, di lamar orang tampan sekali, dengan baju tidur dan belum mandi, mungkin hanya aku saja yang begini," gumam Rere dalam hati.


"Kamu bahagia?"tanya Leon.


"Iya, Le," jawab Rere.


"Ada ya, orang di lamar, pakai baju tidur, dan belum mandi pula," ucap Mamah Heni.


"Ih…mamah, namanya juga dadakan," sahut Rere


"Mau sudah mandi atau belum, Rere sudah cantik, tante," imbuh Leon.


"Cantik? Muka bantal kayak gitu di bilang cantik," ucap Heni.


"Mah, namanya cinta, tidak memandang fisik," imbuh Pak Soni.


"Iya, pah, iya,"


Leon mengobrol dengan kedua orang tua Rere di ruang tamu. Sedangkan Rere, dia masuk ke dalam untuk mandi dan bersiap untuk mengantar Leon ke bandara. Rere sudah selesai mandi dan berdandan dengan manis dan anggun, lalu dia keluar kembali menemui Leon.


"Sudah siap, Re?"tanya Leon.


"Sudah," jawab Rere.


"Eh…papah, mamah kok sudah rapi juga?" tanya Rere pada kedua orang tuanya.


"Papah dan mamah juga mau mengantar aku ke bandara," jawab Leon.


"Benarkah?" tanya Rere lagi.


"Iya, sayang, masa calon menantu mau pulang tidak di antar," jawab Mamah Heni


"Ya sudah yuk, kita berangkat," ajak Leon.


Leon berangkat ke bandara, sebelum ke bandara, Leon berpamitan ke rumah Arsyad dulu. Karena semua sedang berkumpul di rumah Arsyad hari ini.


Mobil Rere dan mobil Kevin sudah berada di halaman ruamh Arsyad. Leon mau berpamitan dengan mereka semua, dan memberitahukan kalau hari ini dia sudah melamar Rere dengan mendadak.


"Le, kamu jadi ke Berlin hari ini?" tanya Paman Diki yang langsung menyambut Leon.


"Iya, jadi ini mau pamitan," jawab Leon.


Rere dan keluarganya keluar dari mobil, Annisa tercengang melihat kedua orang tua Rere juga ikut ke rumahnya.


"Om, tante? Kok ikut ke sini?"tanya Annisa.


"Om akan mengantar calon menantu Om kembali ke negaranya," jawab Soni.


"Maaf, tadi aku ke rumah Rere di antar oleh Kevin, untuk melamar Rere, dan Rere menerimanya, Minggu depan aku akan kembali ke sini, akan meresmikan pertunangan ku dengan Rere," jelas Leon.


Semua terkejut dengan perkataan Leon, pasalnya Annisa yang bolak balik bertanya pada Rere perihal hubungannya dengan Leon tidak pernah ada jawaban yang menunjukan Leon menyukai Rere. Bahkan Rere sering mengeluh pada Annisa, kalau Leon menarik ulur hatinya selama hampir satu Minggu ini.


"Wiiihhh….gerak cepat nih, orang. Aku benar-benar kalah telak ini," tukas Alvin.


"Heeh…jangan asal ngomong, aku saja belum tunangan dengan Monika, kamu mau lamar wanita dulu," timpal Zidane.


"Tenang kak, aku gak akan mendahuluimu," ucap Alvin.


Leon berpamitan dengan semuanya, dan pergi ke bandara dengan di antar Rere dan orang tua Rere. Arsyad, Annisa dan anak-anaknya juga ikut mengantar Leon ke bandara. Mereka sudah sampai ke bandara, Rere dan lainnya mengantarkan Leon hingga di depan pintu keberangkatan.


"Om, tante, Leon pamit dulu ya, tunggu Leon bulan depan,", pamit Leon pada kedua orang tua Rere.


"Iya, nak. Hati-hati,"


"Re, aku ke Berlin dulu,"


"Iya, Le, kamu hati-hati, ya,"ucap Rere.


"Tunggu aku Re,"


"Itu pasti, Le," jawab Rere.


"Syad, Nis, aku pulang dulu, jaga diri kalian,"


"Iya, Leon, terima kasih sudah mau datang ke rumahku," ucap Arsyad.


"Kamu hati-hati, jangan lama-lama, kasihan Rere menunggunya," ucap Annisa.


"Satu minggu saja, kok Nis, malah sepertinya kurang dari 1 Minggu,"ucap Leon.


"Hay, anak manis, om pulang dulu, nanti minggu depan kita bertemu lagi, oke." Leon memeluk anak-anak Arsyad dan Annisa.


"Hati-hati paman," ucap Mereka.


Leon memegang bahu Rere dan menatap lekat mata Rere. Dia rasanya ingin sekali mencium kening Rere dan memeluknya, tapi, dia tidak enak denga kedua orang tua Rere. Akhirnya Leon meminta izin pada orang tua Rere untuk memeluk Rere.


"Om, tante, bolehkan Leon memeluk Rere?"tanya Leon.


"Emm…boleh,"jawab Pak Soni.


"Leon…."tukas Rere.

__ADS_1


"Aku ingin memelukmu sebentar, Re." Leon menarik Rere dalam pelukannya, dia memeluk Rere sangat erat.


"Tunggu aku kembali gadis kecilku,"


"Iya, aku tunggu, cowok nakalku," ucap Rere


Mereka terawa dan saling memandang. Leon mencium kening Rere, dan Rere melepas keberangkatan Leon ke Berlin. Denga rasa bahagia dan sedih, Rere melepas keberangkatan calon suaminya itu.


^^^^^


Sudah tiga hari Leon di Berlin, setiap hari Leon dan Rere selalu berkomunikasi secara intens, setiap detik Leon menanyakan kabar wanita yang ia cintai, dan saat waktu senggang mereka selalu menyempatkan video call. Walau waktu mereka berbeda, tak jadi penghalang bagi mereka untuk melepas rindu.


Annisa hari ini tidak berangkat ke kantor, karena ia merasa tidak enak badan. Sudah tiga hari ini, Annisa benar-bemar di sibukkan oleh pekerjaan kantor, butik dan keuangan bengkel Arsyil yang sedikit bermasalah. Annisa benar-benar harus bekerja keras sekali selama tidmga hari itu, beruntung Arsyad selalu setia menemaninya ke mana pun Annisa pergi.


"Sudah jangan bandel, kamu di rumah saja, lagian Alvin mau menggantikan kamu di kantor," ucap Arsyad.


"Kak, hari ini ada meeting dengan klien, aku harus berangkat," kekeh Annisa.


"Hei, badan kamu panas sekali, kalau kamu memaksa untuk berangkat, yang ada kamu tambah sakit, sayang. Please di rumah saja, aku sudah suruh Rere membatalkan meeting dengan klien,"ucap Arsyad.


"Kak, itu klien penting,"


"Nanti itu urusan kakak dan Alvin. Istirahatlah, kakak akan mengambilkan kamu sarapan, jangan ke mana-mana,"


Annisa hanya bisa menuruti apa kata suaminya. Dan memang Annisa memang tidak enak badan sekali, badannya panas dan lemas sekali, kepalanya juga sangat berat.


Arsyad membawakan nampan berisi sarapan untuk Annisa. Annisa mendengus lirih, melihat makanan yang ada di depannya. Dia begitu enggan memakan sarapannya.


"Kak, ada sarapan yang lain selain nasi?"tanya Annisa


"Kamu ingin sarapan apa, sayang?


"Ingin bubur Ayam," pinta Annisa.


"Aku suruh Kevin mencarikan bubur ayam, tapi kakak minta satu atau dua suap saja kamu makan sarapannya," ucap Arsyad


"Gak mau, buah saja,"pinta Annisa.


"Ya sudah kakak kupaskan apel." Arsyad mengupaskan apel untuk Annisa.


Setelah mengupaskan apel untuk Annisa, Arsyad menelepon Alvin, menyuruh dia untuk membeli bubur ayam.


"Kak, aku ingin hamil lagi, kok aku belum hamil ya?"tanya Annisa.


"Kamu jangan ngelindur, setelah kamu datang bulan kita baru melakukannya 2 kali, sayang," jawab Arsyad.


"Kan 2 kali juga kakak mintanya berkali-kali," ucap Annisa.


"Kamu seperti tidak pernah hamil saja, nanti setelah 2 Minggu kita periksa ke dokter,"


"Aku maunya minggu depan, atau malah harus secepatnya,"ucap Annisa


"Sayang, kamu yang sabar, kamu pasti hamil kok." Arsyad mengusap kepala Annisa dan mencium keningnya.


"Kak, aku takut saja, aku susah hamil, aku 2 kali keguguran, kak,"


"Jangan berkata seperti itu, makanya kamu jangan sampai kecapean, sudah, mumpung Alvin masih berada di sini, biar Alvin yang mengurus kantor kamu, aku akan membantunya, jadi kamu bisa fokus untuk hamil lagi,"


"Iya, kak," jawab Annisa.


Arsyad masih menyuapi Annisa apel hingga Kevin pulang dari membeli bubur ayam yang Annisa minta tadi. Mba Lina mengantarkan bubur ayamnya ke dalam kamar Annisa. Annisa memakan bubur ayamnya dengan lahap sekali, tak butuh waktu lama, bubur ayam itu habis.


Arsyad menyuruh Annisa meminum madu yang sudah ia siapkan tadi. Annisa melohta suaminya yang sedang memakai baju untuk ke kantor. Dia melihat suaminya yang semakin hari semakin tampan saja. Annisa tak bosan memandangi ketampanan suaminya itu, hingga Arsyad sadar istrinya dari tadi memperhatikannya.


"Ada apa lihat kakak seperti itu?" Arsyad mendekati istrinya dan mencium keningnya.


"Kakak tampan sekali," ucap Annisa.


"Kamu makin ke sini makin pintar gombal ya?" Arsyad mencubit pipi Annisa dengan gemas.


"Sakit, kak,"


"Kak, maaf ya, aku tidak menyiapakan sarapan buat kakak dan anak-anak, tidak menemani kakak sarapan, tidak mengantar anak-anak ke depan pas mau berangkat sekolah, dan ini juga tidak bisa mengantar kakak ke depan," ucap Annisa .


"Sudah, kamu istirahat saja, awas kamu kalau tiba-tiba kabur ke kantor," tegas Arsyad.


"Memang kalau aku kabur ke kantor kenapa?" tanya Annisa setengah menggoda.


"Kakak gak mau meluk kamu kalau tidur,"


"Ya sudah, kakak juga jangan minta jatah,"


"Kok gitu?" tukas Arsyad.


"Iya, lah, kan Annisa gak di peluk,"


"Ya gak boleh gitu, dosa nolak ajakan suami,"


"Kakak yang mulai, makanya kalau saling butuh tidak usah seperti itu, kak," ucap Annisa


"Iya sayang kita memang saling membutuhkan, ya sudah Kakak berangakat kamu istirahat, ya? Mau bawakan apa kalau kakak pulang kerja?"


"Aku tidak mau apa-apa, aku ingin kakak pulang cepat saja, jangan sampai malam,"


"Oke, sayang. Kakak berangkat, kamu baik-baim di rumah, aku sudah suruh Mba Lina untuk menjaga kamu,"

__ADS_1


"Gak usah lebai deh, kak. Ya sudah kakak hati-hati, ya,"


Arsyad mencium kening istrinya dan berangakat ke kantor. Rico sudah dua hari pulang ke rumahnya, karena dia juga merindukan rumahnya.


__ADS_2