THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 115


__ADS_3

💌Tidak ada yang namanya mantan Anak bagiku, Anak itu tetap Anak ku, walau nanti kamu menemukan sosok yang lebih baik dariku.💌


Shita meringkuk di tempat tidurnya, dia merasakan sakit yang menghujam hatinya. Air matanya terurai sangat deras di pipinya. Dia tidak menyangka suami yang sangat ia cintai berkhianat di belakangnya. Shita mencoba meredakan tangisannya. Dia ingat ada janin hasil buah cintanya dengan suaminya. Shita mengemasi semua barang-barang yang berhubungan dengan Vino. Dia melihat cincin kawin di jari manisnya, seketika air mata Shita keluar tanpa permisi dan mengalir di pipinya. Dia melepaskan cincin kawinnya, juga kalung pemberian pertama dari Vino, yang di berikan Vino saat kencan pertamanya.


"Kak, maafkan Shita, Shita melepaskan semuanya. Kak Vino tau? Hati ini sakit sekali, kak. Sungguh sakit. Mungkin memang kita harus hidup sendiri-sendiri, kak. Mungkin ini yang terbaik."ucap Shita lirih sambil menaruh cincin dan kalung pemberian Vino di kotak perhiasannya.


Shita mengumpulkan semua barang-barang pemberian Vino, dan menaruhnya ke dalam kardus besar, lalu membawanya ke gudang. Dia kembali ke kamarnya setelah menaruh kardus berisikan barang-barang Shita yang berhubungan dengan Vino. Dia melihat kotak perhiasan yang masih di atas meja. Dia menaruhnya di laci lemari pakaian paling bawah.


"Selamat tinggal, Kak Vino. Lelaki yang aku percayai, lelaki yang aku cintai setelah papah, kini kamu tega mengkhianati semuanya. Tak bisa di pungkiri dalam hatiku, walau sakit yang aku rasa, aku masih mencintaimu, kak. Tapi sakit sekali jika mengingat perbuatan mu itu."ucap Shita lirih.


"Mungkin ini nasib pernikahan ku. Tiga laki-laki yang selalu berada di sampingku adalah sosok laki-laki yang setia. Iya, papah, Kak Arsyad dan Arsyil. Mereka adalah sosok laki-laki setia dengan pasangannya. Tapi, kenapa suamiku tidak seperti mereka? Iya, semua orang berbeda-beda, tapi apa tidak sedikitpun dia mengingat ku saat bersama wanita itu? Memang aku terlalu manja dengan suamiku. Bukankah tidak salah kalau bermanja dengan suami sendiri?"gumam Shita dalam hati.


Shita mencoba tegar menghadapi masalahnya seorang diri, dia berniat menyembunyikan semuanya dari orang tuanya juga kakak dan adiknya.


Sudah 3 hari ini Shita di rumah sendirian, dia benar-benar sendiri. Andini dan Rico masih berada di rumah Annisa, karena Arsyil belum juga kembali dari luar kota. Bibi juga sudah satu Minggu pulang ke kampung halamannya. Shita benar-benar merasa kesepian setelah Vino meninggalkan rumah.


Pagi ini, dia berniat untuk pergi ke cafenya. Dia membuat susu coklat dan roti selai untuk dirinya sendiri. Sebenarnya, dia tidak bernafsu untuk sarapan. Setiap hari dia makan karena terpaksa, karena dia ingat ada janin di dalam perutnya yang membutuhkan asupan gizi setiap hari.


"Ini demi kamu, nak. Sebenarnya sulit sekali mamah menelan makanan. Sudah tidak ada rasa apapun dalam diri mamah, nak. Semoga kamu baik-baik dalam perut mamah, sehat selalu sayang."ucap Shita lirih dengan mengusap perutnya.


Shita bersiap-siap untuk pergi ke cafenya, dia memoleskan makeup tipis ke wajah cantiknya agar terlihat fresh dan terlihat tidak memilki beban hidup. Dia memakai dress selutut dengan lengan panjang. Tak lupa dia memasukan ponselnya ke dalam tas kesayangannya. Dia melihat ponselnya, ada notifikasi WhatsApp dari Vino. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan membuka chat dari Vino.


[Apa kamu baik-baik saja?]


Seperti itu isi chat dari Vino. Shita tersenyum tipis, dia masih merasa senang di perhatikan suaminya. Tapi tetap saja rasa sakit masih melekat erat pada hatinya. Bahkan sangat erat sekali tidak mau luntur dan lepas.


[Baik, sangat baik. Dengan atau tanpamu hidupku baik-baik saja.]


Shita membalas chat Vino seperti itu. Dia membiarkan kontak Vino masih ada dalam ponselnya. Karena bagaimanapun juga, ada anak dia dalam rahim Shita.


Shita mengambil mobilnya di garasi, dia mengeluarkan nya sendiri. Shita keluar dari mobilnya, dia menutup garasi juga pintu rumahnya lalu menguncinya.


Satu tahun, dia sudah tidak pernah menyetir mobilnya, selalu di antar jemput oleh Vino. Jika Vino sedang di luar kota dia memakai taxi, karena Vino tidak memperbolehkan dia menyetir sendiri. Tapi kali ini, Shita memberanikan menyetir mobil sendiri lagi seperti dulu.


"Kamu bisa Shita, tanpa suamimu kamu bisa menjalankan kehidupanmu. Masa depanmu masih panjang, ingat ada anak dalam kandunganmu yang harus kamu jaga."ucapnya dalam hati. Shita melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke cafe.


Vino merasa tertusuk hatinya melihat balasan chat dari istrinya.


"Aku tau Shita, kamu berpura-pura untuk tegar. Aku tau siapa kamu."ucap Vino dalam hatinya. Dia menaruh ponselnya di saku celananya, dia segera keluar dari rumahnya dan mengambil mobilnya. Dia melewati meja makan begitu saja yang sudah ada beberapa menu makanan tertata di atasnya. Sudah tiga hari Vino tidak sarapan. Makan siang dan makan malampun dia lewati begitu saja. Hanya kopi yang terus menemaninya.


Dia melihat mobil Shita yang berhenti di lampu merah saat dia akan pergi ke kantor. Dia berhenti di belakang mobil Shita.


"Itu mobil Shita kan? Dia mengendarai mobil sendiri lagi?"ucapnya lirih.


Vino diam-diam mengikuti mobil Shita hingga sampai di cafe. Dia melihat wanita yang ia cintai turun dari mobilnya.


"Iya itu benar Shita, dia sekarang menyetir mobil sendiri lagi ke cafenya. Maafkan aku Shita."ucapnya sambil memandangi Shita dari kejauhan di dalam mobilnya.


Vino bergegas pergi saat Shita sudah masuk ke dalam cafe. Dia langsung menuju kantornya. Sesampainya di kantor, dia langsung memulai aktivitas di kantornya. Asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan Vino dengan membawa berkas laporan di tangannya.


"Pak Vino sedang sakit? Kok pucat sekali wajahnya."ucap Andrew pada Vino.


"Tidak, aku tidak sakit."ucapnya. Padahal dia sudah merasakan sakit pada bagian ulu hatinya. Sesak sekali dadanya. Vino yang tak kuat lagi, dia menjatuhkan tubuhnya di atas meja. Dia pingsan, Andrew terkejut melihatnya. Dia menggoyang-goyangkan tubuh Vino.


"Pak, Pak Vino…Pak bangun pak…" Andrew memukul lirih pipi Vino, tapi tak sadar juga. Akhirnya Andrew membawa Vino ke rumah sakit dengan di bantu karyawan yang lainnya.


Andrew masih setia menemani bos nya yang masih terbaring lemah di bed ruangan pasien. Vino mengerjap dan membuka matanya. Dia hanya melihat Andrew yang dari tadi menemaninya.


"Syukurlah Pak Vino sudah siuman."ucapnya.

__ADS_1


"Aku di mana Andrew?"tanya Vino.


"Di rumah sakit, tadi Pak Vino pingsan, sebentar aku panggilkan dokter." Andrew pergi meninggalkan Vino, dia memanggil dokter di ruangannya.


Dokter segera memeriksa kondisi Vino.


"Pak Vino sering telat makan?"tanya dokter.


"Iya, dok. Sudah tiga hari saya hanya mengonsumsi kopi saja. Sebenarnya apa yang terjadi pada saya dok?"tanya Vino.


"Pak Vino terserang gastroesophageal reflux disease (GERD), atau bisa di sebut juga asam lambung. Ada munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung naik ke kerongkongan yang menyebabkan Pak Vino jatuh pingsan. Sebaiknya Atut pola makan dan jangan terlalu banyak mengonsumsi minuman atau makanan yang mengandung kafein dulu. Ya sudah di bawa istirahat dulu beberapa hari di sini hingga keadaan Pak Vino pulih kembali."jelas dokter tersebut.


"Iya dok terima kasih."ucap Vino.


Andrew melihat Vino sepertinya dia masih memiliki masalah yang cukup berat, Andrew mendekati bed Vino dan bertanya pada Vino, kenala selama tiga hari tidak makan dan memang terlihat seperti mempunyai beban masalah.


"Pak Vino sedang ada masalah?"tanya Andrew.


"Huh…" Vino menghembuskan nafasnya kasar.


"Pak, ada hubungannya dengan Lesy? Apa Shita tau Pak Vino dengan Lesy?"tanya Andrew.


"Yah, Shita mengetahuinya. Dia meminta pisah dariku, dan sudah tiga hari ini, aku tidak lagi dengan Shita. Kamu tau Andrew, ini sangat menyakitkan. Terlebih aku meninggalkan dua orang yang ku cinta."ucapnya.


"Maksud Pak Vino, Shita dan Lesy?"tanya Andrew.


"Bukan, Shita dan Anak yang ada di dalam kandungannya."ucap Vino dengan meneteskan air mata. Baru kali ini Vino merasakan sesakit ini. Dadanya kembali sesak, sakit sekali rasanya.


"Shita hamil?"tanya Vino.


"Iya dia hamil, dan tidak seperti biasanya tiba-tiba dia membuka ponsel ku, lalu dia mengetahui semuanya. Tolong jangan bilang aku di rumah sakit. Biarkan dia bahagia dengan caranya sendiri tanpa aku."ucapnya.


"Bagaimana Pak Vino sembuh kalau tidak mau makan? Makanlah, sedikit saja." Andrew mencoba membujuk Vino agar mau makan.


"Tidak Andrew, untuk apa kalau sembuh, lebih baik seperti ini saja."ucpanya dengan merebahkan dirinya di bed rumah sakit.


Andrew menatap Vino yang begitu lemah tidak seperti biasanya, dia begitu energik sekali.


"Ini semua salahmu, Pak Vino. Coba dulu Pak Vino mendengarkan aku, agar tidak terlalu nyaman dengan Lesy. Pasti tidak akan seperti ini."gumam Andrew dalam hati.


Andrew sudah seperti keluarga Vino, dia karyawan kepercayaan Vino dari dulu. Jadi tau semua apa yang Vino lakukan.


"Andrew, bisakah kamu mengurus rumahku yang dulu aku siapkan untuk Shita. Tolong urus semua data untuk sertifikat nya. Alihkan semua atas nama Shita, termasuk perusahaanku. Tolong lakukan secepatnya Andrew. Ada data-data Shita di laci ruangan ku. Jika butuh tanda tangan Shita bawa ke sini saja. Aku bisa menirukan tanda tangan Shita dengan pas dan benar."ucapnya.


"Baik pak, setelah Pak Vino sembuh aku akan melakukannya."ucpanya.


"Sekarang saja, aku di sini sendiri. Kalau ada perlu apa-apa biar aku minta pada perawat."tutur Vino.


"Baiklah."ucpanya dengan berat.


Andrew melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Vino. Dia segera mengurus apa yang Vino perintahkan.


Vino terdiam, dia hanya melihat langit-langit ruangan pasien dengan tatapan kosong.


"Maafkan aku Shita. Akan aku turuti apa yang kamu inginkan, aku akan menurutimu jika kamu ingin berpisah. Tapi ijinkan aku melihatmu untuk terakhir kalinya nanti."ucap Vino lirih.


Dia memandangi foto-foto Shita dalam ponselnya. Melihat setiap momen bersama istrinya. Melihat Video dia dengan Shita.


"Aku memang lelaki bodoh Shita. Tega menduakan hati dengan perempuan lain. Maafkan aku."ucpanya.

__ADS_1


Vino melihat salah satu foto dulu yang ia dapatkan dari hasil memfoto foto jadul di albumnya. Foto saat dia SMA bersama Arsyad, Rayhan, Arsyil dan tentunya Shita.


"Kamu gadis yang aku cinta waktu itu, dan aku bahagia sudah menjadikanmu sebagai istriku. Tapi keadaan membawaku sedikit berpaling hati dengan sahabatku sewaktu kuliah. Iya, Lesy, aku menjadi tertarik dengannya, dan ini adalah hukuman untuk ku. Jika kamu ingin pisah dariku, Shita. Lebih baik Tuhan mengambil nyawaku saja, jika berpisah dengan cara hukum, aku tidak kuat dengan keadaan ini. Lebih baik Tuhan yang memisahkan ku dengan cara Dia mengambil nyawaku."gumam Vino. Dia kembali meneteskan air matanya. Baru kali ini dia merasa lemah karena wanita.


Vino menelfon karyawan kantor lainnya untuk datang ke ruang sakit. Dan, setelah karyawan itu datang, dia memberikan sepucuk surat padanya, dia menyuruh karyawannya tersebut mengantarkan surat itu pada Shita, dan menyuruhnya membeli satu box cupcake favorit Shita di toko roti favoritnya. Lalu mengantarkannya ke cafe Shita. Surat yang ia tulis tadi, dia meminta selembar kertas kosong dan pulpen pada seorang perawat di rumah sakit.


*****


Di cafe Shita sibuk dengan pekerjaannya, dengan seperti ini dia bisa sedikit melupakan Vino yang masih menyesakan dadanya.


"Tok…tok…tok…"suara ketukan di pintu ruangan Shita.


Shita mempersilahkan yang mengetuk pintu masuk ke dalam. Terlihat manager Shita masuk dengan membawa kantung plastik warna pink di tangannya.


"Ada apa Jihan?"tanya Shita pada Jihan manager cafenya.


"Ini Mba, ada titipan tadi."ucpanya.


"Oh...terima kasih." Shita menerima kantung plastik warna pink itu dari Jihan, dan Jihan keluar dari ruangan Shita.


"Apa ini? Cupcake? Ini kan cupcake kesukaanku. Dan yang tau ini hanya….." Shita malas sekali melanjutkan kata-katanya. Dia menutup kembali box yang berisi Cupcake itu. Dia menemukan surat di dalam kantong plastik itu. Dia membukanya perlahan.


*Teruntuk Istriku yang sangat aku cintai.


Maafkan aku, maafkan aku. Aku membuat hidupmu menjadi kacau dan berantakan. Shita, gadis yang aku sayangi dari dulu, dan kini aku memilikinya, menjadikannya pendamping hidupku. Tapi, aku berkhianat pada Shita. Aku lelaki bodoh dan sangat bodoh. Shita, aku harap, kamu jaga dirimu baik-baik, karena kamu harus menjaga satu nyawa yang ada pada rahimmu. Dia adalah anakku, hasil buah cinta kita berdua. Aku tau kamu membenci ku, Shita. Aku tau itu. Kamu paling membenci orang pengkhianat. Dan itu sulit sekali bagimu untuk memaafkan seorang pengkhianat.


Shita, aku akan menuruti apapun permintaanmu, jika memang kamu menginginkan berpisah dariku, aku terima itu.


Shita, makanlah cupcake yang aku bawakan. Anggap saja itu aku memberikan untuk anak ku. Bukan untukmu, aku tau kamu sangat menyukainya. Ta, tidak ada mantan anak bagi ku. Anak itu tetap anakku, walau nanti kamu menemukan sosok yang lebih baik dariku. Jika kamu ingin kita berpisah nanti. Shita, Ijinkan aku menemuimu sebelum aku pergi. Walau hanya sedetik saja.


Aku mencintaimu Shita.


Vino*.


Air mata Shita berlinang membasahi pipi membaca surat dari Vino. Sejujurnya, dia masih sangat mencintainya. Mungkin hanya satu pria dari dulu yang di cintai Shita. Iya, hanya Vino pria yang dia cintai sejak dia mengenal nama Cinta.


"Aku akan memakan cupcake nya, kak. Aku juga sangat mencintaimu. Tapi hati ini sudah sangat sakit sekali. Iya, tidak ada mantan anak. Walau kita nanti akan menjadi mantan."lirih Shita sambil terisak.


Dia memakan cupcake pemberian Vino. Bayangan wajah Vino hadir melekat di dekatnya. Dia mengingat saat dulu bersama Vino menikmati cupcake yang sekarang ia makan. Dan mengingat saat bertemu Vino kembali di toko roti favoritnya.


"Semua itu hanya kenangan manis saja, sisanya menjadi pahit karena hadirnya wanita itu."ucap Shita.


Dia menyeka air matanya, dia mencoba tegar menghadapinya sendiri. Tak terasa dia menghabiskan cupcake yang Vino berikan. Dia menyimpan surat dari Vino di dalam tasnya.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


maaf satu chapter full milik Shita dan Vino. tunggu chapter selanjutnya ya...hari ini up lagi kok.


__ADS_2