
Rico tidak menyangka Arsyad akan semarah itu padanya. Begitu juga Shita, dia juga tidak menyangka kakaknya akan mendiami dirinya dan Najwa juga. Arsyad kali ini tidak mau sarapan bergabung dengan semuanya. Dia sendirian di dalam kamar menikmati sarapan paginya. Mau tak mau, Arsyad harus sarapan pagi, karena dia juga harus memulihkan kondisinya, demi Annisa. Ya, demi istri tercintanya, agar bisa segera bersatu kembali.
Rico masuk ke dalam kamar Arsya, terlihat Arsyad baru selesai dari sarapannya. Dia masih duduk di atas kursi rodanya dan menhadap ke arah jendela kamarnya. Rico mendekati putranya yang tadi hanya meliriknya saja tanpa menyapanya.
"Kamu sudah siap untuk terapi?"tanya Rico.
"Iya," jawabnya singkat.
"Sampai kapan kamu akan diam dengan papah?"
"Sampai Annisa kembali denganku," jawab Arsyad singkat.
"Papah akan mencari Annisa, dan akan membawa Annisa lagi ke sini," ucap Rico.
"Apa papah tidak malu? Menjilat ludah sendiri?" Arsyad berkata dengan penuh kekecwaan dalam dirinya.
Rico terdiam mendengar perkataan anaknya. Ya, dia sadar apa yang dia lakukan malah menjadi Boomerang bagi dirinya sendiri. Di diamkan oleh anak sulungnya karena mengambil keputisan yang didasari dengan emosi.
"Iya, papah sadar papah salah, papah memisahkan kamu dengan Annisa, tapi ini semua demi……"
"Demi apa? Demi Arsyad, agar Arsyad tidak bernasib seperti Andra dan Arsyi? Iya, seperti itu? Apa papah ingin mengulang lagi kejadian beberapa tahun silam? Saat papah menyalahkan ibu atas kepergian Mamah Dinda? Iya, akan mengulanginya, dan sekarang yang papah benci adalah istriku, papah mengusir istriku dan cucu papah sendiri! Papah juga menghasut cucu papah untuk membenci ibu sambungnya, yang dulu mereka bergitu dekat. Papah tudak sadar sudah menghancurkan hidupku?" Arsyad tidak peduli Rico yang sudah berlinang air mata di depannya.
Arsyad sebenarnya tidak ingin melukai hati papahnya itu. Tapi, papahnya yang menghancurkan rumah tangganya dengan seperti keegoisannya. Arsyad tidak menyangkan, papahnya yang selama ini dia anggap sangta menyayangi Annisa, tapi setelah kejadian kecelakaan kemarin dia begit sangat membencinya.
"Papah ingat? Betapa sayangnya papah dengan Annisa dulu, saat Annisa hamil papah selalu menemaninya, bergantian dengan ibu. Sampai aku cemburu, papah terlalu sayang dengan Annisa, tetapi tidak sayang dengan Almira. Almira selalu merasa dibandingkan dengan Annisa. Tapi, dengan gampangnya papah membenci Annisa, mengusir dia dari kehidupanku,"
"Apa papah tidak ingat juga? Kalau papah pernah memaksanya agar tetap berada di sampingku, saat aku tak mau menyentuhnya sebagai istriku? Papah tidak ingat itu? Papah yang selalu menginginkan Annisa, dengan gampang juga papah membuangnya." Arsyad masih saja tersulut emosi di pagi itu. Rico dari tadi hanya terdiam dan terpaku, berdiri di samping putranya.
"Iya, Syad, ini salah papah, papah mohon, maafkan papah. Papah akan berusaha mengembalikan Annisa di sisimu, papah janji itu." Dengan suara parau, Rico menyesali apa yang ia lakukan.
"Arsyad bukan anak kecil lagi, yang harus di janjikan seperti itu. Arsyad tau Annisa masih sangat kecewa, tapi tidak dengan Arsyad. Arsyad tidak mau berdebat lagi, tolong tinggalkan Arsyad,"ucap Arsyad.
__ADS_1
Sedari tadi Shita dan Najwa memang berada di depan pintu kamar Arsyad yang terbuka. Mereka mendengar semua percakapan Arsyad dan Rico. Dada Shita sesak sekali, mendengar percakapan mereka. Dia baru menyadari, kalau perbuantannya sudah merusak kebahagiaan kakaknya. Shita berkali-kali mengusap air mata di pipinya.
Rico berjalan ke luar dari kamar Arsyad. Dia melihat Shita dan Najwa yang terlihat sedang menangis. Rico mengajak mereka untik keluar dari kamar Arsyad. Shita keluar ikut dengan papahnya, sedangkan Najwa, dia masuk ke dalam kamar abahnya. Najwa ingin berpamitan untuk berangkat ke sekolah.
"Abah….." panggil Najwa dengan suara serak.
"Iya, ada apa?" tanya Arsyad dengan nada datarnya.
"Abah marah dengan Najwa?" tanya Najwa.
"Yang kamu lihat?" ucap Arsyad.
"Abah, maafkan Najwa. Najwa hanya takut Abah kenapa-napa makanya Najwa nurut apa kata Tante dan opa," jelas Najwa.
"Kamu sudah dewasa, seharusnya kamu tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana itu takdir dan mana itu perbuatan yang di sengaja,"
"Apa bunda sengaja membuat Abah seperti ini? Tidak, kan? Ini semua karena memang Abah di takdirkan untuk kecelakaan. Najwa sudah tau agama, harusnya Najwa tau seperti itu, bukan terpancing dengan lainnya," tutur Arsyad.
"Sekarang Abah tanya? Kamu benci bunda?"
"Kenapa diam? Iya, kan, Najwa benci bunda?"
"Abah, maafkan Najwa, Najwa tidak benci bunda, Najwa waktu itu hanya takut kehilangan Abah, maafkan Najwa yang sudah ikut mengusir bunda. Iya waktu itu Najwa kasar dengan bunda. Mengusir bunda dan marah dengan Bunda," jelas Najwa sambil terisak.
"Sudah siang, kamu berangkat sekolah," titah Arsyad.
Najwa mencium tangan abahnya. Dia ingin sekali memeluk abahnya, tapi abahnya sendang marah besar padanya. Najwa melangkahkan kaki untuk keluar.
"Najwa." Arsyad memanggil Najwa, dan seketika langkah kakinya berhenti.
"Iya, Abah," jawab Najwa.
__ADS_1
"Sini, mendekatkan," titah Arsyad.
Najwa mendekati lagi abahnya yang sedang marah besar dengannya. Dengan langkah yang takut, Najwa akhirnya mendekati abahnya.
"Ada apa Abah?"tanya Najwa
"Peluk Abah." Arsyad merentangkan tangannya, dan Najwa memeluknya dengan erat.
Ya, Arsyad kecewa sekali dengan Najwa. Namun, bagaimanapun Najwa masih sangat dini untuk di diamkan. Dia tidak mau anak kesayangannya itu sedih dan terganggu pikirannya karena di diamkan.
"Maafkan Najwa." Najwa terisak di pelukan abahnya dan memeluk erat abahnya.
"Iya, Abah maafkan kamu, tapi Abah minta, jangan seperti itu lagi. Abah seperti ini karena Allah yang sudah mengatur, bukan salah bunda. Coba kalau Najwa di posisi bunda? Bagaimana perasaannya. Bunda sedang hamil, Nawja. Sekarang di luar sana, Abah tidak tahu keadaannya bagaimana,"tutur Arsyad.
"Apa bunda akan kembali lagi?"tanya Arsyad.
"Abah tidak tahu, Najwa," jawab Arsya.
"Najwa yakin, bunda akan kembali, Abah," ucap Najwa.
"Iya, tapi tidak tahu kapan." Arsyad menyeka air mata Najwa, dan mencium kening putrinya.
"Sudah, sana berangkat sekolah, jangan marah lagi dengan Shifa, dia juga saudaramu, apa benar kamu pindah kelas?"
"Iya, Najwa pindah kelas, Abah," jawab Najwa.
"Siapa yang mengajari kamu seperti ini? Najwa bukan anak yang pemarah setau Abah," ucap Arsyad.
"Maafkan Najwa, Abah,"
"Iya, Abah maafkan kamu, sudah kamu ke sekolah, minta maaflah denah Shifa," titah Arsyad.
__ADS_1
"Iya, Abah." Najwa memeluk dan mencium Arsyad.
Najwa keluar dari kamar Arsyad dan berangkat sekolah di antar oleh Jordy. Arsyad masih duduk di kursi rodanya. Dia tidak habis pikir, Najwa seperti itu. Arsyad memang sangat kecewa dengan perbuatan Najwa yang seperti itu. Ya, walaupun kecewa, Arsyad masih bisa memaafkan anaknya.