THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 28 "Kado Dari Mereka"


__ADS_3

Di kamar, Arsyad di temani dengan Rayhan, Vino dan Lukman. Arsyad dari tadi hanya diam saja, entah apa yang ada di pikirannya, dia merasa sesak di dadanya.


"Maafkan aku Mira, hari ini aku akan menikah lagi, semoga kamu bahagia di surga karena aku sudah mengabulkan permintaanmu, sayang,"gumam Arsyad.


"Syad, kenapa diam, semangat dong, mau kawin lagi kok, akhirnya kesampaian kan menikah dengan Annisa, tuh doa kamu yang dulu terkabul, kan?"ucap Rayhan.


"Akhirnya menikah dengan mahasiswanya kamu,"imbuh Vino.


"Kalian apaan, sih,"ucap Arsyad.


"Belajar mencintai Annisa dong, Syad, kan dulu kamu bisa mencintai Annisa. Masa iya sekarang tidak bisa,"ucap Rayhan.


"Nanti juga seiring berjalannya waktu kalian bisa saling mencintai, kok,"ujar Lukman.


"Iya, Luk. Aku masih sangat mencintai Almira,"ucap Arsyad.


"Simpan cinta untuk Almira di paling hatimu yang dalam, Syad. Ingat kamu punya tanggung jawab baru, jangan sampai kamu menjadi suami yang durhaka, yang menjadikan istrimu nanti juga ikut durhaka kepadamu,"tutur Lukman.


"Terima kasih, kamu memang yang terbaik." Arsyad menepuk bahu Lukman.


Mereka memang sangat akrab sekali saat dulu kuliah di Kairo, Lukman satu-satunya teman dia waktu di Kairo.


"Syad, pesanku, jangan pernah kamu membanding-bandingkan Almira dengan Annisa, karena setiap manusia itu berbeda, kamu harus bisa melakukannya, aku yakin, kamu pasti bisa. Hati memang sakit, tapi berpikirlah lebih realistis lagi. Kamu punya pikiran, punya otak, jadi saat hati sakit, jangan paksa otak kamu untuk menyakiti. Cinta memang memakai hati. Tapi, tanpa pikiran, tanpa otak cinta tidak akan pernah indah. Seperti aku dan Rachel. Dulu aku sangat mencintai Almira, tapi aku yakin, Rachel lebih baik dari Almira, dan buktinya, aku bisa merelakan Mira memilih kamu, dan aku bisa mencintai Rachel hingga sekarang, dan dia menjadi pelabuhan hatiku,"jelas Lukman.


"Iya, akan aku coba,"ucap Arsyad.


"Jagan hanya di coba, lakukanlah,"imbuh Reyhan.


"Syad, kamu pasti bisa, jangan terlalu larut dalam masa lalu, kasihan Mira yang sudah tenang di sana, kasihan Arsyil juga, jika melihat kamu memperlakukan Annisa tidak seperti memperlakukan layaknya seorang istri,"tutur Vino.


"Iya, Vin. Aku akan berusaha menerima pernikahan ini, dengan atau tanpa cinta, karena cinta kami sudah untuk mereka, mereka adalah anak-anakku dan anak-anak Annisa."ucap Arsyad.


Rico masuk ke dalam kamar Arsyad, memanggil Arsyad untuk keluar karena penghulu sudah menunggu di depan.


"Syad, penghulu sudah datang, ayo keluar,"ajak Rico.


"Iya, pah,"ucap Arsyad.


"Duh, kenapa jadi tak beraturan gini detak jantungku,"gumam Arsyad.


Arsya ke luar bersama Ray, Vino dan Lukman, bersamaan dengan Annisa yang keluar dari kamarnya. Mereka saling menatap. Arsyad melihat calon istrinya menatap dengan tatapan sendu. Arsyad mengerti bagaimana perasaan Annisa saat ini.


"Nis, maafkan aku, aku memang tidak mencintaimu, tapi sebentar lagi kamu sah menjadi milikku, aku yakin kita bisa melalui ini semua walaupun tanpa cinta,"gumam aaesyad dalam hati.


Arsyad dan Annisa sudah duduk di depan penghulu. Kini saatnya Arsyad mengucapkan janji suci di depan Wali Annisa dan penghulu, serta di saksikan oleh dua saksi dan keluarga besarnya.


"Bagaimana para saksi?"tanya penghulu.


"Sah,"jawab mereka yang menyaksikan akad nikah Arsyad dan Annisa.


"Alhamdulillahirobil alaamiin,"ucap penghulu dan di ikuti dengan yang lainnya.


Setelah penghulu selesai membacakan doa pada dua mempelai, Arsyad menyematkan cincin pada jari manis An Isa dan mencium keningnya. Begitu pula sebaliknya, Annisa menyematkan cincin di jari manis Arsyad, dan mencium tangan Arsyad.


^^^^^


Akad nikah berjalan dengan lancar, Arsyad dan Annisa menemui para tamu undangan yang datang. Mereka memang tidak mengundang banyak tamu, karena pernikahan mereka di gelar sangat sederhana.


"Bunda….." Najwa, Shifa, Dio dan Raffi berlari ke arah Annisa yang sedang bersama Rere dan Vera. Mereka memeluk Annisa.


"Kalian, maaf bunda melupakan kalian dari tadi, sini cium bunda." Annisa memeluk mereka dan mencium mereka bergantian.


"Bunda ini dari kami." Najwa memberikan kado untuk Annisa.


"Apa ini?"tanya Annisa.


"Buka saja,"ucap Dio.


Annisa penasaran dengan kado yang bentuknya tipis dan lebar itu, seperti pigura. Ternyata memang itu pigura. Mereka memang jahil, setiap kali Arsyad dan Annisa bersama mereka foto. Itu semua ide dari Dio, dan Dio yang selalu diam-diam mengambil foto mereka saat mereka sedang berduaan. Entah mereka sedang makan bersama.


Mata Annisa terbelaklak, karena dia melihat fotonya bersama Arsyad saat sedang di dapur kemarin. Waktu Annisa akan jatuh karena menabrak Arsyad yang mengambil piring untuk menaruh martabak. Arsyad terlihat memeluk Annisa dan menatap Annisa dalam-dalam, begitu juga Annisa. Ya, waktu itu mereka agak lama saling bertatap wajah. Waktu itunjuga Arsyad menarik hidung Annisa. Ternyata dia memotret semua kejadian itu, hingga mereka berebut Martabak Manis pun ada di dalam pigura itu.


"Ini kalian yang melakukan?"tanya Annisa.


"Iya, siapa lagi kalau bukan kita, ya, kan , kak?"tanya Dio denga kakak-kakaknya.


"Kalian itu, ada-ada saja, siapa yang membuat ide ini?"tanya Rere.


"Nih, Dio,"ucap Najwa.


"Nakal, kamu ya,"ucap Annisa sambil menarik hidung Dio.


"Aduh sakit, bunda,"ucap Dio.


Arsyad yang mendengar Dio mengaduh, dia mendekati Dio, di ikuti dengan yang lainnya.


"Kamu kenapa, Dio?"tanya Arsyad.


"Tuh bunda, narik hidung Dio, kan sakit, Bah,"ucap Dio.


"Narik sedikit saja sakit, kamu gitu ya, sukanya mengadu,"ucap Annisa.


"Kalian malah ribut, ini apa, coba aku lihat, Nis." Arsyad mengambil pigura yang di pegang Annisa.


Mata Arsyad membulat sempurna, dia memandang Annisa, Annisa juga memandang Aesyad. Mereka mengangkat bahu dan tersenyum.

__ADS_1


"Ini ide siapa?"tanya Arsyad pada anak-anaknya.


"Dio….!"ucap mereka kompak.


"Tuh, aku lagi! Kalian kan juga ikutan, mengambil foto mereka,"ucap Dio


"Tapi ide ini kan dari kamu, Dio,"ucap Shifa.


"Iya, deh, aku salah lagi, jangan tarik hidung Dio ya, Abah, udah sakit di tarik bunda tadi,"ucap Dio.


"Kalian itu ada-ada saja ya?"ucap Arsyad.


"Sini peluk Abah, Abah dari tadi belum peluk kalian." Arsyad memeluk anak-anaknya, dia juga mencium mereka bergantian.


"Duh senangnya, beli satu dapat lima." Rayhan meledek Arsyad dan Nisa.


"Kamu itu, Ray,"ucap Arsyad.


"Kalian mau minta adek bayi lagi, tidak?"tanya Vino pada keempat keponakannya itu


"Mau dong,"ucap Dio.


"Suruh bunda dan abah buat dedek bayi lagi,oke." Vino mengajak tos pada Dio.


"Tuh dengerin, anak-anakmu minta dedek bayi, buatlah, biar ada Anisa dan Arsyad junior, buat satu apa dua,"ucpa Rayhan.


"Kalian pikir buat bayi semudah itu?"tanya Annisa.


"Mudah kok, coba saja nanti malam"ujar Vino.


"Vino, Rayhan, banyak anak kecil.


"Bundanya di peluk dong, masa cuma kita, iya gak, kak!"seru Dio.


"Iya, Abah, peluk bunda dong, peluknya kok sukanya diam-diam di dapur,"ucap Raffi.


"Raffi,!"tukas Arsyad.


"Makanya peluk bunda, dong,"ucap Najwa.


"Iya, Abah, ayo peluk bunda,"titah Shifa.


Arsyad mendekati Annisa dan memeluk Annisa juga mencium pipi Annisa.


"Gitu dong, namanya pengantin, ya gak, Dio!"seru Rayhan dengan mengajak tos keponakannya itu.


Mereka berfoto bersama dan merasakan kebahagian hari ini.


Dio dari tadi memotret bunda dan Abahnya dari kejauhan. Dia memang suka memotret sejak berada di Berlin. Kamera yang di gunakan Dio adalah kamera pemberian dari Leon saat dibdi Berlin.


"Wih, kameramu bagus sekali, Dio,"ucap Vino.


"Paman Leon baik, ya?"tanya Arsyad.


"Iya, baik, dia juga merekalan bunda dan tidak memaksa bunda untuk menikah dengannya, padahal Dio sama Kak Shifa sudah mau buat rencana untuk memisahkan paman Leon, tapi paman Leon sudah menyerah dulu,"jelas Dio.


"Maksud, Dio?"tanya Annisa


"Ya seperti itu, Dio lupa rencananya apa dengan kak Shifa, sudah lama juga, yang penting sekarang impina Dio dan Kak Shifa terwujud, kalian sudah menikah,"ucap Dio.


"Kamu itu." Annisa mencubit pipi Dio.


"Aku ingin mengambil foto bunda sama abah, yang mesra dong,"pinta Dio.


"Kamu tau mesra itu apa?"tanya Rayhan.


"Iya, peluk atau di rangkul dong bundanya,"ucap Dio.


"Ini Arsyil apa Dio ya, bisa benar-benar sama kelakuannya,"gumam Arsyad.


Hari semakin sore, semua tamu satu persatu pulang meninggalkan acara pernikahan Arsyad dan Annisa.


"Pak Arsyad, Bu Annisa, selamat menempuh hidup baru, semua bahagia,"ucap Lintang,


"Oh iya, Lin, terima kasih,"ucap Arsyad dan Annisa.


Mereka bersalaman, disusul denga Yulia dan suaminya juga karyawan yang lainnya.


Lintang berusaha kuat melihat semuany, dia berusaha menerima semuanya, dan dia sadar kalau Arsyad bukan untuknya.


^^^^^


Malam hari seusai acara pernikahannya, Arsyad dan Annisa sudah berada di dalam kamar Annisa.


Arsyad duduk di tepi ranjang, Annisa baru saja keluar dari kamar mandi memakai bathrobe warna putih dengan rambut tergerai. Wajahnya terlihat fresh. Arsyad hanya melirik saja Annisa yang baru keluar dari kamar mandinya.


"Kak, kami tidak mandi, ini handuknya." Annisa menyuruh suaminya untuk mandi.


"Iya, nanti aku mandi,"ucap Arsyad dengan nada dinginnya.


"Kakak mau makan malam apa, biar aku siapkan,"ucap Annisa.


"Nanti saja, belum lapar,"ucap Arsyad sambil menyerahkan tubuhnya.


"Kak, kamu belum mandi, mandilah, jangan terlalu malam, mandinya,"ucap Annisa.

__ADS_1


"Iya, sebentar, aku lelah sekali, Nis,"ucap Arsyad.


"Sini kakinya biar aku pijat sebentar, apa mau aku siapkan air hangat,"ucap Annisa.


"Boleh,"ucap Arsyad.


"Oke, tunggu sebentar." Annisa ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk suaminya.


Tak lama kemudian Annisa ke luar dari kamar mandi, dia masih memakai bathrobenya belum berganti pakaian.


"Duduk sini,"titah Arssyad.


Arsyad mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Annisa.


"Kamu malam hari seperti ini mandi basah, aku keringkan dulu rambutmu, nanti masuk angin,"ucap Aryad.


"Aku keringkan sendiri, kakak mandi saja, sudah aku siapkan air hangatnya." Annisa mengabil alih Hair dryer yang dipegang Arsyad.


"Oke, buruan keringkan rambutmu, lalu ganti baju,"titah Arsyad.


"Iya, bawel,"ucap Annisa.


Arsyad tersenyum sambil melangkah ke kamar mandi. Arsyad terdiam sejenak di kamar mandi, dia membayangkan wajah Annisa yang tadi baru saja selesai mandi, terlihat fresh dan bersih sekali.


"Aku harus tidur dengannya malam ini?"tanya Arsyad dalam hatinya.


Arsyad mulai mengguyur sedikit demi sedikit badannya. Setelah mandi dia keluar dengan melilitkan handuknya di pinggang dan tanpa menggunakan baju.


"Kak biar aku bantu,"ucap Annisa yang tiba-tiba di belakang Annisa.


"Ehh..pengantin baru, rambutnya sudah basah nih,"goda Shita.


"Kak Shita, apaan sih." Seketika pipi Annisa merona lagi.


"Sudah, kakak tau bagaimana rasanya pengantin baru, ya walaupun kalian menikah dua kali ini, pasti merasakan indahnya pengantin baru lagi, kan dengan orang yang berbeda"ujar Shita.


"Kak, aku belum melakukannya, akubm tadi keramas karena memang rambutku sudah lepek sekali"ucap Annisa.


"Iya, iya, makan malam dulu, yuk, panggil kakak sana,"titah Shita


"Iya, kak." Annisa kembali ke kamarnya memanggil Arsyad.


Annisa masuk ke dalam kamarnya, belum dia membuka pintu kamarnya, pintu kamar itu sudah di buka oleh Arsyad. Alhasil Annisa jatuh di pelukan Arsyad.


"Aww…kakak! Bilang dong kalau buka pintu!"seru Annisa.


"Emang hobi ya kamu nabrak aku, bilang saja mau di peluk, gak usah seperti ini,"ucaap Arsyad sambil menyentil kening Annisa.


"Apaan sih, aku mau masuk mau memanggil kakak untuk makan malam, mana aku tau kalau kakak membuka pintunya,"tukas Annisa.


"Kamu juga gak ketuk pintu, main buka langsung,"ucap Arsyad.


Rico melihat anak dan menantunya berdebat dari tadi hanya menggelengkan kepalanya saja. Rico mendekati mereka yang sedang asik berdebat.


"Kalian itu, seperti anak kecil saja, berdebat terus, lihat anak-anak kalian saja tidak pernah berdebat,"ucpa Rico yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.


"Papah, ini kak Arsyad, mau masuk malah pintunya di buka, kan Nisa jatuh, pah,"tutur Nisa pada Rico.


"Jiah, ngadu, salah sendiri gak bilang-bilang, untung saja jatuhnya aku peluk, coba kalau di lantai, sakit, kan?"ucap Arsyad.


"Syad, Syad, keterlaluan kamu, sama istri,"imbuh Vino.


"Yah, Nisa saja gak ketuk mau masuk gak ketuk pintu,"ucap Arsyad.


"Kan aku dah tau, adanya cuma kakak di dalam, mana mikir ketuk pintu, aku,"ucap Annisa gak mau kalah.


"Kalian itu, sudah ke meja makan, jangan berdebat terus,"titah Rico.


"Pengantin baru bukannya mesra-mesraan malah berantem,"ucap Vino yang jalan di smaping Arsyad.


^^^^^


Selesai makan malam, Arsyad masuk ke kamarnya, bukan ke kamar Annisa, dia duduk di tepi ranjangnya. Pikirannya sangat kalut, tidak bisa berpikir jernih. Dia tak menyangka kalau malam ini dia harus tidur dengan wanita lain selain Almira. Dia benar-benar tidak menginginkan hal ini. Tapi mau bagaiman lagi, sekarang Annisa sudah menjadi istrinya, memang dia harus tidur bersama.


"Apa sebaiknya aku mengajak Annisa ke rumahku saja. Rumah itu sama sekali belum pernah terjamah oleh aku dan Almira, karena Mira tidak mau pindah dari rumah impiannya itu,"gumam Arsyad dalam hati.


Dia merebahkan dirinya di tempat tidur yang biasanya ia tempati dengan Almira. Arsyad mencoba menepis bayang Almira yang datang, dia tidak mau mengingat lagi, yang nantinya akan membuat ia sedih dan Mira pun juga sedih di sana karena Arsyad sedih.


"Aku harus bisa, sedikit demi sedikit menerima Annisa sebagai istriku, aku tidak bisa hidup dalam bayang-bayang masa laluku itu. Benar kata Lukman tadi, aku harus bisa." Arsyad masih mencoba menjernihkan pikirannya di dalam kamarnya.


Annisa berada di kamarnya, dia merebahkan dirinya di tempat tidur sambil memeluk bantal guling kesayangannya. Annisa merenungkan nasib pernikahannya nanti, apa akan terus seperti ini tak bisa menerima Arsyad dan tak bisa mencintainya, atau malah sebaliknya, akan tumbuh cinta di kemudian hari. Annisa tidak tau harus bagaimana mengahadipanya nanti.


Sebisa mungkin, dia harus menjadi istri yang baik untuk Arsyad, walaupun dalam pernikahannya tak di landasi rasa cinta. Dia juga ingin menjadi bunda yang baik untuk anak-anaknya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2